Halaman

07 Maret 2026

Tak Pernah Tua


Hari ini ini saya mengganti  balljoint Colt. Posisi di roda depan, bagian bawah (pemegang roda Colt itu memang kuat, atas dan bawah, beda dengan yang lan).

“Yang terpasang sudah oblak, tapi masih bisa dipaksakan,” kata Pak Ali, sang montir. 
“Saya mau diganti saja,” kata saya, “Coba Sampeyan teleponkan ke toko, Pak, kalau ada stok, saya mau beli.”

Tampak dia menelepon ke toko pertama. Suku cadang tidak tersedia. Lalu dia menelpon lagi ke toko satunya, “Ada!” kata suara di seberang, tapi Pak Ali lupa ngasih tahu kalau yang dibutuhkan itu ada dua alias sepasang, kanan dan kiri. Benerlah. Setelah si tukang ojek yang menjemput onderdil sampai di kota, ternyata yang tersedia cuman satu saja. Waduh, mobil jadul itu memang ada acara kayak gininya segala, kadang pakai drama. Untungnya ada Fatim, tetangga saya yang kini jadi tetangga Pak Ali, yang kemudian mencarikannya ke kota, ke toko lainnya.

Menjelang Ashar, Fatim menelopn saya, “Mobilnya sudah hampir selesai, sae kalau mau diparani. Tadi saya yang beli ball jointnya,” kata dia. 

Awalnya saya tidak nyambung dengan pernyataan ini sampai akhirnya saya menjemput mobil dan Pak Ali menyampaikan rentetan kejadiannya seperti di atas. Dan begitulah akhirnya, mobil saya bawa pulang. Rasanya saya seperti sedang nyetir mobil baru, tidak ada speling sama sekali,. Stir marem seperti, dalam istilah para montir, kayak perawan lagi. 

Jadi itulah beda manusia dengan mobil. Onderdil manusia tidak bisa disubsitusi keculai dengan prosedur yang sangat rumit dan mahal, yaitu cangok. Sementara mobil bisa diganti kapan saja selagi suku cadangnya ada. Makanya, meskipun tua, ia akan terasa muda belia saja (kecuali tampang) selagi onderdilnya dirawat dan dijaga. 

02 Maret 2026

Akhlak di Jalan Raya di Acara Haul Ke-6 SUKMA

Dua malam berturut-turut di bulan Ramadan 1447 ini sangat menyenangkan bagi saya. Tadi malam dan nanti malam saya punya kesempatan untuk sosialisasi tentang penting dan mendesakknya pengetahuan Akhlak di Jalan Raya bagi komunitas masyarakat khusus, seperti komunitas sopir, komunitas santri. Tentu saja, pengetahuan dan kesadaran ini penting bagi semua orang, tapi itu tentu berat jika dilakukan sendirian. Kepolisian ambil peran di bidang ini. Saya hanya di bagian kecil dan pinggiran saja.

Pertama, Haul Ke-6 SUKMA (Supir Kiai Madura)

 


Sukma adalah sebuah paguyuban para sopir yang berkhidmah kepada kiai, khususnya yang berada di area Plat M (Madura). Mereka secara organisatoris berada di bawah SK (Sopir Kiai). Jika Sukma di Madura punya semboyan ngireng dhabu, maka di area Jatim luar-Madura semboyannya Sendiko Dawuh. Kedua frasa tersebut memiliki makna yang sama: ikut perintah (kiai). 

Kegiatan harlah SUKMA selalu diselenggarakan setiap bulan Ramadan. Lokasi dan penanggung jawabnya berpindah-pindah tempat di keempat kabupaten yang ada di Madura. Tahun ini giliran sektor Sumenep yang kebetulan diletakkan di PP Al-Ibrohimy, Sentol Daja, Pragaan, Sumenep. Mereka juga mengundang anggota SK yang lain. Untuk acara tadi malam, selain dari keempat kabupaten, ada juga anggota mereka yang datang dari Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan area Tapal Kuda secara umum. Melihat tekad yang ditunjukkan, tampaknya mereka sangat bersemangat dalam menyelenggarakan acara hari lahir paguyuban mereka ini.

Acara dimulai secara formal dan normal sejak pukul 21.00. Akan tetapi, hadirin sudah banyak yang datang sejak lepas shalawat tarawih. Rangkaian acaranya adalah sebagaimana biasa: pembukaan tahlil, dan lainnya. Lora Amam (Ali Maimun Saedi) yang memberikan kata sambutan, mewakili pengasuh utama KH Hayatul Islam yang saat ini sedang umroh. Acara berikutnya adalah talkshow Fikih Lalu Lintas bersama saya (M. Faizi) dengan pemandu Kiai Imam Sutaji (sehari-hari, beliau ini adalah pendakwah). 

Saya sangat senang karena telah diberikan keleluasaan waktu untuk bicara panjang lebar tentang pengalaman berkendara, pengalaman menjadi sopir, pengalaman perjalanan. Saya juga menyampaikan visi-misi kesopiran terkait etiket dan akhlak di jalan raya. Tentu saja, saya tidak bicara pasal demi pasal karena itu wilayah kepolisian dan saya bukan polisi. Saya lebih banyak melihat kasus demi kasus pelanggaran di jalan raya dari perspektif hukum agama atau dalam tinjauan akhlak dan muamalah. Dengan pengetahuan ini diharapkan kita, para sopir khususnya dan masyarakat pada umumnya, dapat mengurangi pelanggaran demi pelanggaran yang dapat menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. 

Setelah sesi talkshow selesai, acara berikutnya adalah ceramah agama. Meteri disampaikan oleh KH Musleh Adnan. Sebelum beliau bicara, Kiai Karror Aschal selaku penasehat Sukma, mengawalinya dengan pembacaaan shalawat bersama kelompok rebana Banjari. Beliau pula yang menutup acara ceramah agama dengan shalawat bil qiyam sekaligus potong tumpeng sebagai penanda acara hari lahir. 

Kiai Musleh menyampaikan materi ceramah seperti biasa, dipenuhi dengan humor. Akan tetapi,  khusus tadi malam memang terasa berbeda, lebih banyak ger-gerannya. Kata beliau hal itu dikarenakan para hadirin yang menuntut ketidakformalan tersebut (dalam istilah lokal = ta’ serius). Salah satunya dibuktikan oleh kostum hadirin yang nyaris semuanya adalah kaos. Hanya satu dua orang saja yang menggunakan kemeja. Namun begitu, materi tentang ketertiban di jalan, ketaatan kepada kiai, kepada pemerintah, tetap fokus dalam pembahasan beliau. 

Sukses untuk SK, Sukma, Al-Ibrohimy, dan Sukma Sumenep. 

* * * 

Adapun acara yang kedua masih nanti malam di PP Nasyatul Mutaallimin, Gapura. Saya juga acara bicara soal lalu lintas dan bagaimana kita mesti dan tertib dalam menghadapi aturan itu dalam perspektif agama, wabil khusus saya akan membuat analogi-analogi sederhana menggunakan kaidah fikih. Saya tidak menulisnya sekarang karena acaranya masih nanti malam.