09 Maret 2017

Cikal-Bakal dan Perkembangan Grup Colt T120


Dalam catatan saya, perbincangan seputar Mitsubishi Colt T-120 (klasik) mula-mula ramai dibicarakan sejak munculnya sebuah artikel pendek di sebuah blog milik Pak Yusuf R. Artikel tersebut berjudul ‘Colt T-120’, berdatum terbit 12 Juni 2007. Hanya ada dua artikel di blog tersebut, bahkan artikel satunya muncul 3 tahun berikutnya, yakni 2011. Namun, komentar demi komentar di terbitan pertamanya terus bermunculan hingga hari ini.

Saya menduga, yang membuat diskusi antar-pengunjung begitu semarak di blog tersebut adalah karena mereka memiliki keinginan yang sama: mencari referensi seputar Mitsubishi Colt T120 dan tidak menemukan data apa pun di internet hingga akhirnya muncul catatan dimaksud. Hal demikian juga saya alami. Selama beberapa waktu mencari referensi tentang Colt tetapi tidak menemukan apa-apa hingga akhirnya saya menemukan “kerumunan” orang di kolom komentar di blog itu. Maka, tak heran jika blog itu menjadi ramai sekali tamunya.

Barangkali, berdasar atas antusiasme para pengunjung di blog itu, berikutnya, Tarcisius Wintoro (informasi ini saya dapatkan dari Mas Hertanto Wibowo) kemudian membuat mailing list (tempat berdiskusi dan berbagi email) di Yahoo!Groups untuk para penggemar Colt. Alasannya adalah agar para penggemar Colt menemukan tempat diskusi yang lebih efektif dan hanya tertuju seputar “Colt T120 klasik” (keluaran dekade 1971-1980), bukan yang “Colt generasi baru” (Colt T120 SS).

Di awal-awal dibentuk milist ini, diskusinya lumayan aktif.  Sayangnya, grup yang didirikan pada 11 April 2008 ini hanya memiliki anggota 128 saja dan gairahnya pun pelan-pelan menyusut. Dugaan saya, tidak banyak anggota atau orang umum yang terbiasa mengakses email untuk berdiskusi. Puncaknya, sejak adanya ledakan Facebook di kisaran tahun 2008-2009, milist di Yahoo!Group semakin ditinggalkan.

Dan jika tidak salah, pada tahun 2009, Dede Dian, salah seorang penggemar Colt dari Jawa Barat, membuat grup khusus para penggemar Colt T120 di Facebook. Posting pertama adalah foto Colt-nya. Dan inilah grup diskusi khusus Colt T120 yang terus bertahan serta paling aktif hingga saat ini. Sayangnya, baik Bapak Yusuf (pemilik blog pertama), Pak Tarcisius (pendiri Mailinglist Colt), maupun Mas Dede Dian, semuanya sudah tidak aktif lagi. Hal ini dibuktikan dengan tidak adanya terbitan lagi di blog itu, terbengkalainya milist, serta non-aktifnya akun Dede Dian dari Facebook dan juga dari grup Colt.

Berkat adanya grup-grup di atas, saya pun pernah merasakan “kopi darat” (bertatap muka secara langsung) dengan beberapa punggawa grup meskipun secara terbatas, baik di luar Madura (tempat tinggal saya), ataupun kunjungan kawan dari luar yang datang ke kediaman saya. Lebih dari itu, saya dapat bertukar informasi dan ilmu, terutama seputar Colt T120, juga mendapatkan onderdil dan suku cadang yang (mulai) sulit ditemukan, dll, Di atas itu semua, saya merasakan betapa silaturrahmi dan persahabatan sebetulnya juga dapat dibangun dari sana.


TAMBAHAN :

Terima kasih untuk Bapak Hertanto Wibowo dan Arkadius Anggalih atas tambahan informasi
Ini adalah tautan yang terhubung ke Dede Dian (sementara, saat artikel ini ditulis, tautan tidak aktif)
Ini adalah tautan ke terbitan pertama milist Coltmania @ yahoogroups.com
Ini adalah tautan ke salah satu terbitan lawas album foto di grup Colt Facebook
Dan ini juga tautan ke salah satu terbitan Dede Dian (sementara, saat artikel ini ditulis, tautan tidak aktif)
link tidak aktif)

Semoga bermanfaat
Salam,

M. Faizi (penulis dan pemilik blog ini: titosdupolo)



Label: ,

17 Februari 2017

Klep dan Push Rod




Beberapa hari yang lalu, Colt saya tiba-tiba kehilangan daya. Di tanjakan terjal, Colt nyaris tak mampu naik. Ketika mesin idle, suaranya seperti helikopter. Saya curiga, ini busi saatnya dingati.

Maka, esok harinya, saya beli busi sebungkus, isi empat. Setelah dipasang, ternyata reaksi tetap saja. Busi dicopot dan mesin tetap hidup. Waduh, apalagi ini? Saya bingung karena tidak tahu harus berbuat apa.

Kata paman, mungkin klep harus diratakan lagi. Benar, ternyata klep sudah perlu diratakan lagi dan secara kebetulan push rod-nya sudah ceking tanda sangat lama bekerja. Saya jadi tahu sekarang, mengapa dalam waktu yang lalu, fiber yang memagari push rod itu seringkali retak. Rupanya, ini dia masalahnya. Push rod bergerak terlalu melebar sehingga kena ke fibernya.

Maka, setelah diganti push rod yang harga ecerannya Rp 20.000 per batang (butuh 8 batang kalau mau diganti semua), Colt kembali bertenaga, kembali berjaya.


Catatan: merek OSK lebih bagus, lebih keras dan lebih berat. Harga 130.000 isi 4 batang.

10 Februari 2017

Berkah TOA dan Stereotip Inferior


Sungguh sudah cukup banyak manfaat yang saya rasakan berkat memakai speaker TOA di Colt saya ini. Saya menyapa orang-orang  dengan sapaan mesra, tidak kaku seperti bunyi klakson. Sapaan "sakalangkong" (terima kasih dalam Bahasa Indonesia) tentu jauh lebih mesra daripada sapaan "tin... tin..." sambil buka kaca dan melambaikan tangan terhadap kawan atau juru parkir.

Terakhir ini, seorang juru parkir sebuah toko perkulakan di kota sering menyapa  saya dengan sangat akrab, lebih akrab daripada kepada pelanggan yang lain. Saya memperhatikannya begitu. sungguh, saya tidak baper dan tidak pula ge-er. Juru parkir itu memang sering saya sapa  kalau saya mau parkir, misalnya dengan sapaan "Bagaimana, Pak, cukup mepet bumper saya? Masih jauh?" dan sapaan lainnya. Awalnya, dia kaget, lalu tertawa.

"Cocok!" kata dia. "Bagus kalau ada TOA-nya."

Begitu pula, ketika saya akan meninggalkan areal parkir, saya menyapa lagi. "Tore, Pak. Sakalangkong, enggi! (mari, Pak. Terima kasih, ya).

Sayangnya, hanya dengan satu orang juru parkir saja yang saya kenal akrab di toko yang tergolong baru itu. Dia sudah sangat paham dengan Colt yang ada stiker besar "Pariwisata" di kaca depannya ini. Dia sangat ramah kalau mengawal mundur atau mempersilakan maju. Bahkan saya kadang pekewuh, ingin ngasih 'apa-apa' ke dia, tapi khawatir itu akan jadi dampak tidak baik terhadap juru parkir yang lain dan suasana kekeluargaan di antara mereka.

Akan tetapi, dua hari lalu, saya bertanya kepada satpam di toko perkulakan itu. Nasib yang saya terima rupanya berbeda. Satpam ini rupanya masih mengidap sindrom stereotip warisan era lama.

"Pak, gang yang tembus ke rumah sakit paru-paru itu yang ini atau yang sana?" tanya saya kepada dia sembari menunjuk arah yang saya tuju.
"Yang sebelah sana, Pak! Ada keluarga yang sakit?"
"Oh, enggak, cuma mau ke arah utara, 'kan lewatnya depan rumah sakit paru-paru, tho..."
"Kok lewat dalam? Apa ada operasi lalu lintas di depan sana?"

Nah, kan! Lagi-lagi stereotip inferior itu bekerja, kena. Kalau mobil model tua kayak ini apa memang punya bakat untuk tidak diperpanjang, mati surat-suratnya, dan sopirnya tidak punya SIM begitu, Pak?"

"Ya, endaklah. Kalau memang jalan di gang itu lebih dekat, ngapain juga saya harus memutar lewat barat?



Label: , ,

31 Januari 2017

Skizcoltmania


Ketika mobil dibawa lari 70 km / jam, terdengar dengungan dari dalam mesin. Bunyinya kira-kira seperti dengung mesin diesel yang antara kecepatan dan injakan gasnya tidak seimbang, seperti menggunakan gigi 3 pada tanjakan terjal pada saat semestinya pakai gigi 2. Pengalaman ini mungkin berlangsung agak lama tetapi tidak segera saya sadari.

Saya tanya kepada beberapa orang teman dan juga bengkel. Biasanya, kata mereka, hal itu disebabkan oleh dua hal: kampas kopling dan faktor as roda. Tentu saja, saya bersedih mengingat dua hal tersebut butuh biaya besar untuk memperbaiki/menggantinya, terlebih jika mengingat ia terjadi di bulan saat harus memperpanjang usia STNKB.

Karena dugaan lebih condong ke kampas kopling, maka yang digarap lebih dulu adalah kampas kopling dengan cara menurunkan rumah persneling. Hasilnya? Alhamdulillah, kampas kopling merek Aishin sudah saya pakai 100.000 kilometer lebih masih cukup bagus (beli tahun 2009). Ternyata, hanya baut-bautnya saja agak kedodoran. Setelah dikencengin, bak persneling dinaikkan lagi, beres sudah masalahnya.

Akan tetapi, beberapa lama kemudian, terdengar dengung lagi. Kali ini, bedanya, dengung berada di kecepatan 50 km/jam (sebelumnya 70 km/jam). Saya masih ragu, apakah ada yang salah dalam pemasangan?  Kata yang satu: “Mungkin permukaan blendes sudah tidak baik.” Tapi, saya biarkan saja, jangan-jangan dengung itu bukan suara asli, tapi hanya ilusi dan suara aneh yang sesungguhya tidak ada. Jika orang mengalami “skizofrenia”, jangan-jangan juga ada penyakit “skizcoltmania”: penyakit pemilik/colt yang mendengar suara-suara aneh dari mesin colt yang sebetulnya itu tidak ada, hihihi