Pembaca

15 November 2017

Bagaikan Naik Oven Roda Empat


Pergi ke Surabaya menjelang subuh itu dengan cara naik mobil plus menyetir sendiri di kala itu, Kamis (9/11), sama sekali tidak saya rencanakan. Alasannya, saya tidak perlu membawa banyak orang untuk kepentingan ini, cukup sendirian. Alasan lainnya adalah karena fisik saya yang sangat capek sebab hari Rabu (8/11) paginya, saya baru saja datang dari Malang, pergi-pulang secara tektok. Akan tetapi, pada akhirnya, saya bawa Colt dan mengemudikannya sendiri, didampingi dua orang manusia sebagai penggembira.

Saya bangun pukul 02.20 dan langsung menjerang air untuk membuat kopi serta memasukkannya ke termos nirkarat. Kopi ini dipersiapkan untuk saya minum sambil mengemudi, semacam pertalitenya sopir. Dua penumpang saya tersebut hanya bertugas menuangkannya. Mereka bukan kernet atau lainnya. Ya, itu saja salah satu tugas penting mereka. Tugas lainnya tidak tercapai karena mereka saya persiapkan untuk mendorong andai saja mobil mendadak mogok dan seterusnya, sebab mobil berjalan normal saja.

Rencana dadakan ini (terpaksa bawa Colt) muncul karena adanya informasi penutupan total Jembatan Sempar di Blega (Bangkalan) karena adanya pendatangan wheel crane, dan dilanjutkan pengangkatan balok girder bentang 40,6 meter sebanyak 4 unit. Durasi total ekskusi ini diperkirakan memakan waktu 6 jam dan sebab itulah jembatan Blega ditutup total. Rute saya alihkan ke pantai utara Madura yang jalannya mulus dan sepi di malam hari.


Saya meninggalkan halaman rumah dengan odomoter 626/0. Lanjut ke barat, ke Pakong, lalu ambil kanan ke Waru, ambil kiri ke arah Sotabar. Nah, dari Sotabar ini tak ada menggokan lagi. Jalanan lurus-rus-rus ke arah barat, datar, tanpa tanjakan. Tidak selebar di jalur selatan, sih, tapi mulus dan sepinya jalan dari keriuhan kendaraan dapat juga dicatat sebagai poinnya. Meskipun ketika berangkat TOA di masjid sudah mengumandangkan qiraah jelang azan, tapi saya shalat subuhnya di area Banyusokah, Ketapang. Betapa mulus dan lancarnya perjalanan saya kali ini, padahal saya memacu Colt hanya di kisaran 70 km/jam rata-rata.

Hanya ada 3 lampu lalu lintas yang saya lewati hingga mencapai Tangkel, pintu akses tol Suramadu sisi Bangkalan: pertama, lampu lalin Arosbaya. Lalu lintas sangat jarang sehingga saya heran mengapa ada lampu lalu lintas di tempat yang sepi ini; kedua, lampu lalin di sebelah barat RSUD Bangkalan, tapi saya tidak tertahan di sini karena ada aturan “belok kiri, langsung”, dan; ketiga, lampu lalin di pertigaan Junok. Ya, hanya ada 3 lalu lintas sepanjang perjalanan 134 kilometer dari halaman rumah sampai Tangkel jika kita lewat pantai utara, itupun hanya satu lampu lintas di Junoklah yang benar-benar seperti lalu lintas sungguhan. Dan ketiga lampu lalu lintas tersebut berada di (sekitar) kota Bangkalan.

Dengan rute ini, kelebihan jarak berkisar 15 kilomter. Sebab, jarak tempuh (berdasarkan odometer) dari rumah lewat Waru, Sotabar, Bangkalan, Junok dan terus ke Tangkel, itu 134 kilometer. Sementara lewat jalur selatan hanya berkisar 119 kilometer sampai Tangkel. Tapi, kalau macet di Blega sampai 3 jam, kan tidak menarik, tho?

***

“Sudah di mana?” tanya Baha’.
“Jatim Expo.”
“Anda masuk ke jalan arteri, ambil kiri...”
“Wah, kebablasan.”

Tenang, saudara-saudara. Polisi tidak akan menilang saya hanya karena saya menerima panggilan telepon di saat mobil berjalan. Sudah biasa, sebelum mobil bergerak, ponsel saya hubunggkan ke input amplifier. Profil saya atur ke auto-answer mana kala ada input headset. Jadinya, kalau ada panggilan masuk, dengan sendirinya suara penelepon akan langsung diterima dan suaranya terdengar ke seluruh penjuru kabin, sangat nyaring. Hati-hati kalau menelepon saya saat sedang mengemudi. Jangan ngomong utang dan rahasia yang lain. Semua penumpang akan mendengarnya. Pastikan dulu, rahasia atau tidak pembicaraan itu kepada saya sebelum ada pembicaraan tingkat lanjut.

Oh, ya, saya kebablasan karena saya tidak memperhatikan jalan. Dulu, kalau mau ke UINSA itu tinggal belok kiri saja, tapi kini sudah beda lagi ternyata. Jadinya, saya harus muter lagi, agak ke seletan, dan sungguh macet. Hal ini mengulur waktu jadi sangat lama, juga bikin dehidrasi karena keringat memercik meskipun kejadian ini di pagi hari. Nasib mobil tak ber AC memang kayak ini.

Tujuan saya hari itu adalah UINSA, terletak di Jalan A. Yani. Saya berdiskusi dengan teman-teman KOBAR (Komunitas Baca Rakyat).  Tema diskusi adalah buku Hadrah Kiai karya Raedu Basha. Pak rektor yang rencana hadir menjadi pembanding akhirnya gagal karena mendapatkan tugas mendadak dari Kementrian Agama untuk pergi ke India. Betapa susahnya jadi orang penting dan sibuk macam Pak Rektor itu sebab ke Indianya, kata Gus Rijal Mumazziq yang menjadi moderator dalam acara itu, beliau jelas bukan untuk syuting Bollywood.

bersama Nuril (foto milik dia)
Saya pulang setelah azan ashar meskipun acara selesai tak lama setelah masuk waktu Duhur. Tujuan berikutnya adalah Kedungdoro. Tapi, rencana itu lantas gagal, tepatnya saya gagalkan. Kemacetan menggila sejak baru keluar dari areal parkir UINSA. Jalan arteri depan Royal Plaza lumayan lancar, tapi macet lagi bahkan di atas jembatan layang depan RSI. Macet kian gila lagi saat kami melintasi Tunjungan Plaza hingga  Jalan Praban. Arus tersendat saat Colt sudah masuk Jalan Stasiun Kota dan terus ke Jalan Dukuh, tembus Nyamplungan.

Sore itu, tujuan saya mampir ke Jalan Sasak, beli kitab Risalatul Muawanah. Astaga, harganya murah banget, Rp 3250 (Pertama kali saya beli kitab itu di Cukir, Jombang, dengan harga Rp500 pada tanggal 17 Maret 1991. Selama 16 tahun, harga kitab ini naik hanya 2750 rupiah). Ini adalah acara ambil bonus agar bawa mobil itu dapat dianggap lebih menguntungkan daripada naik bis. Kalau naik mobil tapi jalur dan tugasnya sama dengan naik angkutan umum, rasanya kok rugi dan kurang baik karena buang-buang energi fosil yang banyak ke udara.

Menjelang Maghrib. Kami meninggalkan kawaan Maqbarah Sunan Ampel itu, putar balik di jalan Pegirian, tempus Kapasan, lanjut Kenjeran. Semua lalu lintas di ruas jalan itu sangat rapat, jalan tersendat. Keringat terus mengucur dari dahi, tapi jelas lebih kejam saat terjebak macet di depan RSI dan di jalan Tunjungan tadi. Sungguh, itulah momen di mana Colt ini berasa oven yang pakai roda. Namun, sebetulnya, penyebab panas ini salah satunya adalah akibat Colt saya ini sudah tidak ada cat dan tidak berdempul lagi. Semua sudah dikelupas untuk dicat ulang, tapi apa daya dana tak samapai. Ibarat kata, andai saya ini telur ayam kampung saat di UINSA, sampe di Ampel sudah ‘madun’ (setengah matang). Itu baru bicara soal panas dan keringat yang mengucur, belum lagi bicara soal betis yang sakit karena terlalu sering memainkan kopling. Berjayalah mobil-mobil matic ber-AC di situasi seperti ini.
foto oleh Ibnu Cahyani
Seperti biasa, saya selalu ambil kiri dari jauh kalau mau belok kiri ke Kedung Cowek. Soalnya, kadang ada operasi lalu lintas persis setelah perempatan itu, seperti sore ini. Sebuah mobil Innova kena jebakan, atau menjebakkan diri dengan melanggar marka. Sudah tahu kalau marka dekat dengan lampu merah itu pasti marka nyambung, ya, kok dilawan juga. Makanya, jangan asal nyebret pindah jalur. Dulu, saya pernah hampir kena tilang di situ, hampir saja, tidak jadi ditilang.

Saya naik putar balik lewat jembatan layang, persis setelah melewati pintu keluar Suramadu. Jalan di gudang senjata (arsenal) Batuporron sudah sepi saat kami melintas. Azan maghrib sudah berkumandang. Kami bertiga sudah sepakat untuk jamak ta’khir di Masjid Cendana, Kwanyar. Tapi, saat melintasi jembatan di Sukolilo, sebelum Kwanyar, mobil mendadak mati. Saya tidak kaget karena matinya tidak bretbet. Kesimpulan awal dapat langsung diambil: pasti ada arus kelistrikan yang putus.

Waduh. Hari sudah mulai gelap, keringat sudah mulai kering. Tapi, mogok ini jadi pertanda keringat bakal memercik lagi, pikir saya, harap-harap cemas kalau-kalau perkiraan saya salah. Untung, kesempatan itu membuat saya rehat sejenak dengan melaksanakan shalat di maghrib masjid yang tak jauh dari TKP sementara kedua anggota saya perintahkan untuk membuka jok depan (Ternyata, mereka banyak menolong energi saya agar tidak kerkuras semua).

Setelah shalat, suasana jadi tenang. Barulah saya periksa satu per satu. Lampu CHG mati, klakson mati, lampu depan mati. Kesimpulannya satu: strum dari aki terputus. Pengecekan pertama adalah sekring. Saya cek, tak ada yang putus. Pengecekan kedua langsung ke aki. Benul, eh, betul, kabel aki yang datang dari penyuplai dinamo ampere terlepas.

“Kok lepas ini?” tanya saja kepada Jamil, satu dari dua orang anggota
“Kurang tahu,” jawabnya polos, tanpa micin dan tanpa sambal.
“Kamu kemarin yang membersihkan aki, kan?”
“Kurang tahu juga,” makin polos jawabannya, tanpa kecap dan saos tomat.

Oh, jadi, pantesan, selama beberapa hari ini, nyala lampu depan itu sedikit buram, ini tho penyebabnya. Begitu saya menduga. Kabel cuma nempel sedikit dan dipasang tidak dengan ketat, itulah cikal-bakal mogoknya, dan copotlah. Kami pasang lagi, start dan jalan lagi.

Kaget saya. Lampu depan jadi sangat terang. Klakson jadi nyaring mendadak. Sungguh saya gagal memercikkan keringat dingin setelah tadi sudah mengucurkan keringat panas saat muterin Surabaya. Menyenangkan sekali kalau masalah dapat diselesaikan dengan cepat, kayak Perum Pegadaian.

Setiba di Kwanyar, saya langsung sowan makan Sunana Cendana. Sesudahnya, seperti biasa, saya lantas menemui keturunan juru kunci makam, Haji Syaiful, untuk ngopi-ngopi di rumahnya. Sementara kedua orang anggota saya dibiarkan shalat di masjid. Mereka menunggu saya di luar karena janji saya tidaklah lama.
 
bersama H. Syaiful Bahri (foto milik dia)
Setelah berangkat, seperti janji, tidak lama setelah saya bertamu, pukul 22.00, kami tiba di depot Arwana, Branta, Larangan Tokol. Ya, kami isi BBM untuk perut karena bensin sudah diisi banyak, 170.000, di SPBU di Kedung Cowek, tadi pagi. Lalu, kami pun lanjut lagi menuju ke rumah dan tiba dalam keadaan selamat.


Capek? Iya, tapi saya hanya tidur sebentar, hanya 1 jam karena setiba di rumah, saya masih mengetik dan menyelesaikan beberapa tugas ketikan yang belum kelar. Apa yang membuat capek perjalanan? Jarak dan suasana batin. Mengapa saya tidak capek? Karena perjalanan ini menyenangkan. Pokoknya, pekerjaan apa pun kalau kita enjoy dan senang dalam menjalaninya, sulit sekali ia akan membuat Anda capek. Jadi, pastikan untuk mencintai dulu pekerjaan Anda agar anda tidak mudah capek dibuatnya.

12 September 2017

Malam yang Menyebalkan


Saat mematikan mesin untuk mengisi premium, saya cek spion. Ada Carry di belakang, lalu Mobilio di belakangnya. Begitu saya turun, menyebut angkat, dan cocor nosel dicokokkan ke lubang tangki, saya melihat: dari sisi kanan, sebuah Gran Max menyerobot. Sopirnya sangat muda, tepatnya anak-anak. Dia menyorongkan congor bumpernya, masuk di sela-sela Carry dan Mobilio. Sopir Mobilio yang bapak-bapak 50-an memilih mundur.

“Sampeyan mau isi yang mana lebih dulu, Gran Max yang lebih dulu tapi nyerobot atau Mobilio yang ada di belakangnya tapi sesuai urutan?”
Petugas SPBU ngomong hal lain: “Orang sekarang memang begitu kelakuannya. Kadang mobilnya juga bukan miliknya, tapi kelakuannya sembarangan. Begitu rusak atau nabrak, baru dia menyesal, kadang sampe menangis.”

Setelah selesai, saya pergi dan melupakan peristiwa barusan. Di pintu keluar SPBU (sebelah utara), saya menunggu jalan sepi dulu untuk masuk ke jalan raya. Saya lihat, masih banyak seliweran mobil dari arah kanan dan kiri. Begitu sudah kosong, saya masukkan persneling dan mobil menapak aspal. Namun, di depan saya mendadak ada rintangan: seorang pengendara sepeda motor matic parkir di atas aspal sembari menunggu istrinya yang antri membeli gorengan.

Dua peristiwa yang barusan saya ceritakan di atas itu hanya berlangsung kurang dari 5 menit. Coba bayangkan, bagaimana jika waktu memperhatikan perilaku masyarakat di sana sampai  setengah jam, apa enggak bakal stres? Bagaimana catatan ini bakal penuh oleh cerita keruwetan dan kesemrawutan?

Saya menahan diri untuk memaki-maki, saya pun mengajukan pertanyaan pesimis. Apa benar-benar akan bisa, ya, masyarakat yang sudah sakit mentalnya ini disembuhkan? Saya kira kok enggak. Sepertinya, kita harus menunggu 1 atau 2 generasi lagi, itu pun jika tidak makin parah.

***

Cerita di atas adalah curhat saat pergi. Adapun perjalanan pulangnya tak kalah menyebalkan. Tapi, yang paling keren di antara yang terkeren adalah ketika ada L300 yang tarik-ulur kecepatan di depan saya, di jalan yang mengular, arah jalan pulang. Entah apa maunya, mungkin si sopir memang punya hobi mengepul-ngepulkan knalpot mobilnya karena kebetulan yang dia kemudikan adalah cyclone, L300 diesel tahun tua. Kadang dia ngebut, kadang pelan, dan saya hanya mengikutnya.

Sedang asyik-asyiknya, tiba-tiba ada lampu blitz menghajar spion: sebuah Scoopy yang hanya berlampu sore berwarna pink yang menyentrongkan lampu tembaknya. Saya kesilauan. Maki-maki lagi.

Hanya sebentar di belakang saya, dia menyalip lalu mempertantarai kami dan pikat tadi. Saya perhatikan, dia melakukan hal yang sama untuk sopir di depan: menyentrongkan lampu sorotnya ke arah spionnya. Saya tidak dapat membayangkan, betapa silau mata sopir di depan saya itu. Rasa mangkel saya ke sopir pikap kini sudah pindah haluan ke pengendara Scoopy.

Diperlakukan begitu, tampaknya sopir pikap merasa, ada orang usil di belakangnya. Dan saat Scoopy mau menyalip, tampak sopir pikat berusaha ngebut kembali, berusaha mempertahankan posisi depan. Saya tahu karena ada gumpalan asap yang menyembur mendadak dari lubang pembuangannya, mirip asap hitam kereta api India, ALCO. Akan tetapi,  Scoopy tetap berhasil menyalip karena pikap dihadang tanjakan dan tikungan. Begitulah, akhirnya, saya kembali membuntuti.

***

Pergi dan pulang malam ini sangat menyebalkan, dan perisitwa seperti itu terjadi berkali-kali. Hal yang juga tak kalah menyebalkan adalah soal lampu utama, terutama sepeda motor. Tak terhiutng kali, bahkan bisa dibilang ada 7 dari 10 kasus sepeda motor yang tetap menggunakan lampu jauh (lampu atas) meskipun kita sudah kasih kode dengan dim dan mematikan lampu. Sentrong lampu ke mata kita akan makin ruwet kalau jenisnya LED yang putih kebiruan itu, belum lagi yang HID (yang telah dilarang di beberapa negara), belum lagi yang warnahya macam-macam, seperti merah dan kuning.


Saking sebelnya, akhirnya, saya tundukkan lampu mobil saya sangat ke bawah. Saya pasrah,  menyerah. Orang-orang yang tak tahu diri itu sudah dilawan. Mending kita saja yang mengalah.  Kalau berpapasan dengan sepeda motor yang lampunya lurus ke arah muka dan tetap tidak diredupkan andai saya kasih kode dim dan sebagianya, saya menyingkir, pokoknya mengalah saja. Akan tetapi, karena saya juga manusia yang berperasaan dan bukan robot, terkadang saya membawa senter dalam perjalanan malam hari. Senter ini adalah UltraFire 80.000W. Ya, itu semacam senjata saja, buat jaga-jaga. Cuman, sejauh ini, saya masih belum pernah menyorotkannya ke mata pengendara motor atau sopir mobil yang lampunya terlampau terang dan ngotot menyerang mata saya dengan lampunya itu. Ya, saya belum tega.

Malam Sabtu, 8 September 2017

04 September 2017

Mengapa Kita Gemar Melanggar?




Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini. Lampu lalin menyala merah, bahkan masih dilengkapi juga dengan pesan “sabar menunggu: HIJAU baru jalan” (mungkin karena terlalu sering dilanggar), tapi tetap saja mereka menerobosnya.

Kejadian ini di siang hari, lho. Soalnya, sebelumnya yang selalu saya perhatikan di malam harinya saja, di tempat yang sama. Awalnya saya kaget karena tidak ada satu pun yang ikut-ikutan berhenti di samping atau belakang saya. Semua kendaraan menerobos. Lama-kelamaan, rasanya diri ini kayak orang gila karena hanya sendirian yang diam begitu saja.

Lihat dalam video ini, tidak satu pun kendaraan yang berhenti di lajur sebelah kanan saya (karena saya berada di sisi kiri). Becak, sepeda motor, semuanya menerobos. Mengapa bisa begitu? Penyebabanya adalah; 1, jalan tidak terlalu ramai, dan; 2 tidak ada petugas yang berjaga-jaga.

Ini hanya contoh yang saya ambil di persimpangan jalan Jalan Kabupaten, kota Pamekasan, Madura, pada hari Sabtu, 2 September 2017. Saya yakin, di tempat lain, banyak kejadian serupa ini.

“Lampu merah” (sebutan singkat untuk lampu pengatur lalu lintas; APILL) itu sebetulnya dibikin agar kita lebih tertib, karena kita—umumnya—egois. Kalau saja kita bisa saling mengalah, mungkin kita tidak akan pernah butuh pada lampu pengatur lalu lintas itu. Di atas mimbar, seseorang bisa mengatakan sesuatu yang tidak dilakukannya, di depan gadis, seorang duda mungkin saja mengaku perjaka, tapi orang tidak akan pernah berbohong di jalan raya. Sifat dan watak aslinya akan tampak di sana.

Saya pernah mendengar cerita tentang Kiai As’ad Syamsul Arifin (beliau baru saja diangkat sebagai pahlawan nasional) yang menegur sopirnya pada suatu saat di persimpangan jalan. Ceritanya, pak sopir menerabas lampu merah karena menurut dia jalan sudah sepi, sudah malam. Alasan Kiai As’ad tetap melarang adalah karena "melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh forum, mungkin Dishub dengan Satlantas, dll. Dan mereka yang bikin aturan itu melakluan rapat, menggunakan dana rakyat yang diambil dari pajak, punya orang banyak, mengambil anggaran negara". Makanya, agar kita tidak bersalah kepada banyak pihak, ya, sudah, ikuti saja aturan itu. Begitu kira-kira urutan pemikirannya.

Jika Anda muslim, Anda pasti pernah mendengar sebuah hadis yang menyatakan “Takutlah  kamu kepada Allah di mana pun kamu berada (dan seterusnya)”. Hadis ini menyiratkan perintah takwa di manapun tempat. Mengapa ada orang mencuri? Karena mereka merasa tidak dipantau; mengapa ada orang melakukan korupsi? Karena mereka merasa aman dan tidak ada yang tahu? Jadi, orang yang mencuri dan sedang korupsi itu sedang tidak beriman. Maka, mengapa orang-orang itu menerobos lampu APILL? Karena tidak ada polisi dan CCTV. 

Bagaikan Naik Oven Roda Empat

Pergi ke Surabaya menjelang subuh itu dengan cara naik mobil plus menyetir sendiri di kala itu, Kamis (9/11), sama sekali tidak saya renca...