Pembaca

04 November 2020

Bred...Dreb...Breb... (Situbondo - Sumenep)


SABTU, 31 OKTOBER 2020 

Hari ini, dalam buku diari saya, jadwal undangan banyak sekali. Ada undangan pernikahan Ely Sofiana; ada selamatan adiknya Fayyadl; ada undangan maulid di rumah H. Bahrus, dan semua undangna ini berlokasi di dekat rumah, di Madura, juga pada jam yang hampir bersamaan, siang. Tapi, hari ini, saya berada di Situbondo dalam rangka menghadiri pernikahan pamanda Aydi Ma’mun dengan istrinya, Ning Jayyidah binti Kiai Kholil Muhammad. 

Sebelum berangkat kondangan ke PP Sumber Bunga (baca: sombher bhunga; sumber kebahagiaan) Sletreng, saya masih sempat kembali ke Asembagus, mengambil kunci ring dan pulpen serta buku agenda yang tertinggal kemarin sore, serta main ke rumah Mukhlis untuk makan lupis dan ngopi, dll. 

ketemu sama Om Faqih dari Buleleng

Baru pukul 10.00 kurang seperampat, kami berangkat. Pergi ke acara inilah inti perjalanan ke Situbondo kali ini, meskipun bertandang ke rumah famili jauh lebih banyak memakan waktu. Intinya, menghadiri walimatul ursy pernikahan Pamanda Aydi Makmun bin Kiai Ahmad Sufyan ini punya bonus yang besar, khususnya buat saya. Mampir-mampir seperti dalam kisah di atas itu adalah di antaranya. 


Rangkaian acara pernikahan Kiai Aydi Ma’mun bin Kiai Ahmad Sufyan di PP Sumber Bunga, Sletreng, Situbondo, berarakhir setelah azan duhur berkumandang. Kiai Kholil Muhammad memungkasi acara dengan doa penutup. Ini kejadian jarang terjadi karena posisi beliau, saat itu, adalah sebagai besan yang lazimnya tidak ‘ngisi’ acara—seperti sambutan yang biasanya diwakilkan kepada orang lain, bahkan meskipun tugas itu ‘hanya’ sebagai pembaca doa. Jika ini terjadi berarti ada sesuatu yang istimewa. Barangkali karena tuan rumah memposisikan Kiai Kholil ini sangat terhormat karena putra dari Kiai Muhammad bin Imam yang notabene merupakan ‘rekan seperjuangan’-nya Kiai Ahmad Sufyan. 

Undangan berhamburan untuk pulang, siap di pintu dengan berkat, menunggu  mobil-mobil mereka datang dan melintas dari parkiran. 

Saya segera berkordinasi dengan istri agar pulang belakangan saja. Capek kalau rebutan. Undangan banyak sekali soalnya. “Sekalian ambil bonus, salam-salaman sama kenalan atau famili yang bertemu,” kata saya. Kapan lagi bisa bertemu dengan banyak orang dan banyak famili jika bukan di acara pernikahan seperti ini?

 Tiba-tiba, ada Kiai Mustofa Badri, berkata,

“Mampir rumah.”

“Terima kasih, saya sungkan!” Saya tertawa.

“Ndak apa apa. Hari ini saya tidak pergi ke mana-mana.”

“Insya Allah.”

Terus, istri beliau yang berada di belakangnya, Nyai Hafsoh, bilang; “Colt-nya mau ditukar, tah?” timpal beliau saat mau naik ke mobilnya, Velfire. Saya tahu, ini guyon asli, bukan sindiran. Maka, saya balas saja dengan guyon setimbang.

“Mmmm... masih mau saya pikir-pikir dulu!”

Beliau berdua tertawa.  

Dari lokasi, kami lanjut ke Klatakan ketika undangan sudah tinggal beberapa saja. Kami menuju ke rumah ipar sepupu daripada istri saya, rumah pertama yang kemarin kami singgahi di Situbondo. Di situ, kami mengantar dua ipar sepupu yang hendak singgah dan berencana bermalam. Mereka berdua itulah yang sebelumnya bareng mobil saya dari Madura. Jika begitu, berarti saya hanya akan pulang bertiga; dengan istri dan keponakan istri saya. Jadi, Colt yang ketika berangkat membawa penumpang lima orang akan balik dengan hanya 3 penumpang. 

Hujan deras mengguyur saat saya tiba di Klatakan. Saya mengantuk, tidur terjadi tak terencana. Dan tak terasa pula waktu menunjuk hampir asar. Saya pamit, tapi tuan rumah melarang, meminta kami agar berangkat setelah reda. Saya berkelit, “Berdasarkan warna langit yang pucat, hujan tak akan reda meskipun hingga maghrib tiba...” 

Terpaksa juga kami berangkat saat hujan masih deras-derasanya. 

Anam, sepupu saya, yang sekarang membawa kendali. Kami mengolesi kaca dengan shampo agar tidak ngembun. Berhasil, pandangan serlah ke depan meskipun hujan deras mengguyur. 

Jalan tidak sepadat biasanya. Maklum, banyak sepeda motor yang tidak berjalan kalau hujan. Jadi, ‘lawan’ kami hanya mobil kecil dan truk. Anam masih bisa membawa kendaraan hingga kecepatan 60 km/jam. Saya kira, untuk mobil Colt yang remnya masih pakai tromol, kecepatan segitu adalah batas maksimal dalam karegori aman mengingat rem kadang ngawur jikalau terkena air saat melewati genangan. 

Sementara itu, mesin relatif normal. Bredbet masih ada meskipun tak seberapa. Artinya, tutup delco itu memang bermasalah, tapi rupanya masalahnya bukan cuman di situ. Pengapian ada masalah yang lain. Saya memang sudah beli kabel busi meteran, tapi tidak dipasang. Ini cuman buat jaga-jaga saja. Selagi mobil masih bisa berjalan agak normal, biarkan saja, deh. Perbaiki di rumah saja. 

Pukul 16.16 kami tiba di PP Badridduja, Kraksaan. Kami mampir sebentar saja di rumah Kiai Mustofa. Kami bertamu secara formal, duduk-duduk, bercakap-cakap. Saya bilang kepad tuan rumah agar tidak disiapkan makanan, terus terang saja, takut tidak termakan soalnya karena di samping kami baru makan di kondangan, kami juga bawa sangu berkat  yang berisi roti dan nasi. 

Selepas azan maghrib, kami shalat, lalu berangkat. Tujuan berikutnya adalah Leces. Saya hendak menyambangi Heri, kawan di pondok, dulu. Rencana ini di luar agenda. Awal dia meminta agak memaksa untuk mampir karena tadi sempat nyambung telepon di jalan, padahal saya hanya nanya nomor ponsel kawan bersama kami, Taufik, sama dia, eh, yang terjadi malah begitu: mampir ke Heri, ke Taufik justru tidak. 

Kami tiba di sana pukul 19.00. bagi kami, perhitungan ini, satu jam perjalanan sudah dianggap cepat mengingat perjalanan dari Kraksaan sampai lokasi masih gerimis. Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa mampir ke rumah kawan yang lama tidak bertemu dan pertemuan tersebut di luar perencanaan. Sebetulnya, minggu lalu (24 Oktober), ketika saya datang dari Jember dan lewat Leces, saya memang berencana mampir, tapi gagal, dan ternyata terjadi seminggu kemudian. 

“Satu atau setengah?”

Begitulah cara Heri menyapa saya. Ini adalah sapaan kunci, ucapan yang dia biasa ajukan kepada saya saat mau makan, dulu, di pondok. Maklum, Heri adalah mantan penjaga kantin nasi milik kiai. Porsi satu adalah porsi standar. Porsi setengah ada porsi sedang. Kalau lapar, maka porsinya jadi satu-setengah. Malam itu, Heri menjamu kami dengan goreng. 

Pukul 20.30, karena tema obrolan masih ngawur dan ngalor-ngidul, saya harus potong, dan kami mesti pulang. Rumah masih jauh, masih sekitar 265 kilometer dari situ. Kami arahkan mobil masuk ke pintu tol. 

Mobil langsung masuk tol pintu tol Probolinggo Timur yang biasa diseput “Clarak” oleh penduduk sekitar, Leces. Masih tetap Anam yang bawa.

“Cukup ndak ini sampai Pandaan?” tanya dia sambil menunjukkan jarum penunjuk bensin.
“Sepertinya cukup, tapi mungkin cuman sampai Gempol.”
 

Jalan tol sepi, dan ini malam minggu, bahkan orang-orang yang biasanya pergi ngapel pun mungkin juga pilih ngumpet di rumah karena suasana yang dingin karena hujan seharian. Kami tetap kendali diri, tidak ngebut. Laju mobil masih standar saja, tidak sampai 80 km/jam. Agaknya, hujan merata ke seluruh daerah di Jawa, bahkan mungkin Indonesia. 

Sampai di Pasuruan, kami turun di Pintu Tol Kejayan. Pasalnya, saya ragu, BBM agaknya harus diisi dulu. Kami lewat—katanya daerah—Wukir sampai ke dekat pintu masuk pondok Sidogiri. Tapi ternyata ada macet. Anam turun dari kabin, melihat kondisi jalan ke arah depan. 

“Sepertinya macet panjang. Tak ada kendaraan datang dari arah barat.

Gimana? Balik, ya!”

“Wah, kita sudah jauh keluar dari tol, masak balik lagi?”

“Ya, ketimbang macet lama di sini dan tidak tahu sampai kapan?”

“Terserah kamu dah.” 

Kami putar balik, isi bahan bakar dulu di SPBU Karangketug, balik lagi ke tol Kajayan, masuk, lalu ngejos langsung Pandaan. Mungkin kami telah kehilangan jarak percuma sekitar 7 km x 2, atau kurang sedikit. Tapi, tak apa-apa ketimbang kami nunggu macet terurai dan itu entah seberapa lama. Kini, kami tenang karena bahan bakar hampir penuh setelah diisi pertamax 300.000. 


Sampai di percabangan batas akhir tol Leces-Gempol, sempat terpikir untuk lanjut ke Perak saja, pulang ke Madura, sudah mulai bosan melihat hujan terus sepanjang perjalanan. Tapi, saya lantas ingat si Agus yang dari tadi maksa-maksa agar kami ngopi dulu di kedainya, Akui Kopi, di Pandaan. Lokasinya di sebelah barat Masjid Laksamana Cheng Ho. Akhirnya, kami ambil haluan kiri, mengarah ke Malang, menuju Pandaan demi turun di pintu tol Taman Dayu.
 

Kami tiba di Akui Kopi hampir pukul 23.00. Di situ kami cuman ngopi dan makan gorengan. Waduh, kalau pakai pertimbangan waktu dan jarak serta ongkos tol, kayaknya gak cucuk. Tapi karena tuan rumahnya merasa sangat senang atas kedatanngan kami, maka nilai secangkir kopi dan sepiring gorengan sudah beda level dan kastanya, naik ke maqam tertinggi. Sungguh luar biasa apa itu yang disebut silaturahmi. 

Dari situ, setelah jam lewat pukul nol-nol, saya pulang dan giliran saya yang gantian mancal. Jalan pulangnya lewat arteri. Jalan sepi dan menurun. Saya genjot saja sampai kecepatan 80-90 km  per jam. Jalanan tak basah lagi, tak berasa basah tepatnya. Tiba tiba, mobil sudah mencapai Kejapanan. Saya lanjut terus ke utara, masuk Porong, lewat tengah kota, masuk Sidoarjo, terus ke Jalan A Yani, terus ke Ngagel hingga tiba di Kenjeran. 

Saya berpikir, andai tadi kami lewat tol, masuk di Kejapanan, mungkin durasi waktu perjalanan agak lebih singkat ditempuh. Tapi, saya lalu ragu, toh malam -malam begini tidak  ada kemactean di kota Surabaya. Lampu merahnya bahkan cuman saya jumpai beberapa kali saja, entah 3 atau 4 kali, Lagi pula, lewat tengah kota itu bisa menghemat jarak sekitar 7 kilometer jika dibandingkan dengan jalan tol yang memutar. 

Anam menggganti posisi kursi pengemudi lagi di SPBU Galis. Kabar tersiar kalau ada kemacetan di sana ternyata sudah terurai. Dua tronton yang tidak kuat menanjak di situ ternyata dalam evakulasi, dan tak ada kemacetan. 

Singkat cerita, kami mengakhiri perjalanan 838 kilometer ini di halaman musalla rumah pada pukul 04.20, masih nutut ngimami shalat subuh. Kami tiba dalam keadaan tidak kurang suatu apa, hanya jarum bensin yang kurang sedikit dari garis tengahnya.

Bred...Dreb...Breb...Breb...Bet...

KAMIS, 29 OKTOBER 2020

Naik Colt itu memang enaknya malam hari, tidak terlalu panas. Tapi, hukum ini tentu tidak berlaku bagi Colt yang sudah dipasangi AC. Bagi saya, perjalanan di malam hari untuk jarak jauh memang lebih diutamakan. Di samping karena memang suhu udara tidak begitu panas, jalanan juga tidak begitu padat.

Akan tetapi, persoalan akan berlipat jika mobilnya bermasalah: bengkel tidak ada, toko suku cadang jelas tutup. Dan itulah yang sedang saya alami dalam perjalanan kali ini, perjalanan ke Situbondo. Masalah pertama yang muncul adalah bret-bet, yaitu masalah pada sistem karburasi yang menyebabkan putaran mesin tersendat-sendat.

Ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari cerita perjalanan sebelumnya, yakni perjalanan pulang dari Jember, seminggu yang lalu. Waktu itu, gejala bret-bet sudah tampak sejak lewat Surabaya, setelah isi pertalite di sekitar Sedarum, Pasuruan.

Karena sebelum berangkat sudah saya kop (menutup-melepas karburator—sambil ngegas tinggi—dengan tangan untuk menyedot kotoran di dalamnya) dan mesin berasa normal, berani saja saya melakukan perjalanan malam itu. Akan tetapi, ia menjadi masalah serius karena perjalanan kali ini lebih jauh dari perjalanan sebelumnya, sekitar 400 kilometer sekali jalan.

Bret-bet mulai berasa sejak di Ambat, kira-kira 45 kilometer dari rumah, masih wilayah kabupaten tetangga, Pamekasan. Awalnya. saya curiga hal itu disebabkan oleh bahan bakar yang tercampur air; lalu mencurigai filter udara; lalu mencurigai koil. Dugaan-dugaan ini keluar begitu saja sembari saya mengendalikan stir.

Pukul 01.30, saya berspekulasi untuk melepas filter udara di Gunung Gigir, jarak 110-an km dari rumah. Saat itu, kami sedang kena macet karena ada kecelakaan lalu lintas di Rompeng, Paterongan, Galis, Kabupaten Bangkalan.

Sebuah mobil masuk ke ekor tronton yang sedang parkir di tengah jalan, yang mungkin mogok atau entah apa, tapi saya lihat rambu-rambunya sudah lengkap. Bisa jadi truk baru mogok atau sopir mobil yang mengantuk dan tidak sigap. Sehabis melepas filter, rasanya saja lumayan, tapi ternyata tidak begitu ngefek saat mobil kembali harus menghadapi tarikan gas panjang.

Kami berhenti lagi di masjid Al Ibrohimy, Galis. Waktu itu pukul 1 lewat seperempat. Kami parkir di halaman masjid bukan untuk tahajud, tapi untuk membuang sisa BBM di karburator; berharap akan bebas bret-bret; ternyata tetap saja. Hati mulai galau, tapi mobil tetap harus berjalan.

Sampai Suramadu pukul 02.00; terdengar letupan di bawah jok saat digas panjang dan RPM tinggi. Saat itu, saya mulai  menaruh curiga pada adanya ketidakberesan pada sistem pengapian, bukan pada sistem karburasi sebagaimana tadi. Sebab itulah, di samping memang karena cari top-up kartu tol gak dapat, akhirnya kami putuskan untuk menghindari jalan tol sama sekali. Saya pikir, jika kami nanti benar-benar macet di jalan tol, tak tahulah hendak berbuat apa, apalagi malam-malam. Andai di siang hari pun, mau cegat siapa? Masa harus panggil derek? Alangkah ribetnya untuk urusan ‘sesepele’ ini. Kami lewat jalan arteri atau Jalan Nasional saja, sehingga andaipun benar-benar mogok dan harus diperbaiki, saya pikir akan lebih mudah diatasi.

Hampir masuk kota Pasuruan, kami menepi, mencoba ngompres koil, menggunakan kain yang dibasahi. Saya berspekulasi, jangan-jangan koil lemah atau mau mati, lemah saat kepanasan, jadi harus didinginkan. Tapi, ternyata, dugaan salah lagi: bretbet tak hilang juga. Hingga pada akhirnya, kami menunaikan shalat subuh dan istirahat di masjid Raudlatul Muttaqin,Banjarsari, masjid yang minggu lalu juga saya singgahi, tiga kilometer sebelum kota Probolinggo dari arah Surabaya. Di situ, kami istriahat dan shalat sekitar 30 menit.

Sambil lalu menunggu penumpang lainnya beres, iseng-iseng saya bukan jok, cek tutup delco. Dan alamaaak! Tak sengaja, ketemulah masalahnya. Ternyata, pentilnya (yang bisa naik turun karena ada per berpilinnya [spiral], yang berfungsi menyalurkan api dari koil dan mendistribusikannya ke untuk empat) sudah aus, bahkan nyaris habis sama sekali. 

“Ini masalahnya, ketemu!” Saya bilang sama Anam, saudara saya yang ikut bantu mengemudi dalam perjalanan kali ini. “Tapi ini masih setengah lima. Toko baru buka pukul 8 atau 9.” 

Apa yang bisa dilakukan? Hanya mengamplas sisi-sisinya sehingga ia lebih muncul ke permukaan. Saya juga mengamplas ke empat sumbu penyalur distributor. Pasang, start, dan jreng. Gas panjang, normal. Wah, betapa bahagia pagi itu. 

Dari situ, lewat kota Probolinggo, lanjut ke Gending sampai Kraksaanm perjalanan normal. Saya tarik gas sampai kecepatan 80 km/jam pun tetap normal. Sesekali tersendat masih ada, tapi tidak seperti tadi. Perjalanan lancar jaya hingga kami istirahat sejenak untuk menurunkan penumpang di Klatakan, lalu lanjut lagi sampai ke Asembagus untuk menurunkan istri di rumah bibinya. Sementara itu, saya lanjut ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo (P2S3) (), untuk sowan ke Kiai Afiduddin Muhajir, salah seorang ahli usul fikih di Jawa Timur. 

“Masih ada waktu untuk cuci muka,” kata saya dalam hati karena khadam kasih waktu pukul 9 untuk pertemuan kami. 

Dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore, saya habiskan waktu di Sukorejo, berjumpa dengan Ustad Mukhlis, main ke Ustad Suwandi dan Erfah, bertandang ke Ustad Shanhaji dan Aisiyah, main ke Maulidi dan Nyai Muyassirah, bahkan setempat pula bertemu secara tak sengaja dengan Widodo (kawan saya yang berasal dari Kebumen tapi saat ini jadi panwas kecamatan) saat shalat Jumat di Masjid Sabilul Muhtadin, yang terletak di pinggir Jalan Nasional. Saya juga sempat mengunjungi rumah Pak Zainul Walid, tapi beliaunya sedang ke kota. 

Sepulang dari Sukorejo, saya membeli tutup delco di Asembagus, tapi sialnya, stok kosong. Yang ada cuman milik L300.

“Pak, sepertinya bukan kayak ini!”

“Ndak, Mas. Memang ini punya Colt.”

“Beda, kok.”

“Wis biasa kayak ini kok.” 

Saya agak heran dengan penjaga toko itu, meyakinkan saya akan suatu barang yang memang sedang saya perbaiki. Masa saya yang salah? Karena dia ngotot, saya pun memabawanya dan setelah dipasangkan, benar-benar ndak bisa masuk, kegedean, juga posisi kabel yang berbeda. Akhirnya, tutup delco saya kembalikan, tapi si penjual ngasih saran. 

 “Copot saja pentilnya, pasangkan ke tutup yang ada.”

Akhirnya, ide si penjual saya terima karena saya tidak mau berlama-lama lagi mencari sesuatu yang belum pasti ketersediannya, khawatir malah besok tidak bisa pulang ke Madura gara-gara cari suku cadang dan ternyata tidak ada (belakangan saya tahu kalau ternyata pentil tutup delco itu bisa diganti dengna arang baterai).

Setelah mobil saya ujicoba dan benar-benar kembali normal seperti sedia kala, muncul rencana bertandang ke Man Ali di Ramban juga ke rekan Colt, saudara Yudik a.k.a Ghazie Putra di Bondowoso, malam itu juga. Tapi, rupanya, tubuh tidak bisa kompromi. Saya tepar hanya setelah shalat isya.

>> cerita perjalanan pulangnya klik di sini!

03 November 2020

Sowan Guru di Jatisari, Kondangan Maulidan ke Klakah

RABU, 21 OKTOBER 

Berangkat molor dari jadwal yang direncanakan itu masih mending ketimbang gagal setelah terjadwal pasti. Itulah yang saya alami dalam agenda perjalanan kali ini. Ya, perjalanan saya molor: dari yang semula direncanakan berangkat pukul 22.00, akhirnya bocor hingga pukul 23.30. Penyebab kemoloran adalah karena ada agenda yang molor, yakni menghadiri maulid nabi di desa tetangga yang ternyata juga molor. Jadi, molor satu dapat menyebabkan kemoloran yang lain.

Akan tetapi, beberapa jam sebelumnya, bahkan sempat terlintas oleh saya untuk menggagalkan agenda perjalanan ini karena kondisi tubuh yang kurang prima. Hingga pada akhirnya, saya pastikan berangkat setelah mendapat panggilan telepon dari Kiai, “Kamu jadi yang mau ke Jember?” tanya beliau di seberang telepon. “Jadi, Pak Kiai. Insya Allah nanti malam berangkat,” jawab saya dengan pasti, tak ragu lagi.

Kali ini, saya berangkat bersama adinda Sakdi. Dia ini teman mengemudi, bukan sopir yang saya sewa. Artinya, kami sepakat untuk bergantian pegang stir, nanti. Saya percaya diri kalau bareng sama dia karena dia bisa melek lama di belakang kemudi, nyaris tidak pernah saya lihat menguap, beda dengan saya yang mudah menguap.

Kami isi bahan bakar di SPBU Violet, Larangan Tokol, lepas kota Pamekasan. Oh, ya, di sekitar Sampang dan Pamekasan, hanya SPBU ini (dan SPBU Ambat) yang buka 24 jam yang saya tahu. Untungnya, premium tersedia di sana. Tak ada antrian seperti biasanya sehingga wajar jika awalanya saya mengira tak ada.

Tadi terlanjur bilang mau ngisi 250.000 ke petugas SPBU, tapi ternyata bensin sudah mau muntah pada angka pengeluaran 36 liter. Berarti, di tangki mobil masih tersisa 9 liter karena isi tangki colt itu 45 liter (kalau L300 bensin isinya 55 liter). 

“Stop, segitu saja, Mas!” kata saya.

Petugas melepas pelatuk nosel dan berhentilah semburan bensin kuning tersebut ke dalam tangki. Di layar tertera: Rp237.000 lebih sekian, tepatnya saya lupa. 

Saya masih tetap mengemudi hingga kami mampir di Masjid Baiturrahman, Dumajah. Di situ, saya tukar posisi, sudah ngantuk dan tidak tahan lagi. Dik Sakdi yang kini mengemudi sementara saya duduk di jok sisi kiri. Saat itu, jam menunjukkan angka pukul 02.00, dua jam setengah perjalanan dari rumah. Saya perkirakan, kami akan subuhan di Leces jika lewat tol atau di sekitar Nguling jika lewat arteri. Tapi, lewat tol penuh sepertinya menjadi keputusan terbaik karena saya punya target tiba sepagi mungkin di Klakah. Demi apa? Saya berencana ngajak anak-anak dan istri merasakan naik keretaapi Probowangi dari Klakah menuju Jember.

KAMIS, 22 OKTOBER 

Ternyata, kami shalat subuh di Ranuyoso. Tujuan ini tercapai, salah satunya, sebab kami menempuh seluruh ruas jalan di atas tol, dari Perak sampai Clarak alias Probolinggo Timur, ujung akhir tol yang ada saat ini. Entah berapa dana yang tersedot dari kartu e-toll, mungkin 70-an ribu atau berapa. Saya lupa tidak mencatatnya. Tanpa target waktu tertentu, saya tidak akan lewat jalan tol karena sensasi perjalanan dengan sendirinya akan berkurang. 

Di Klakah, saya menuju rumah Aak Abdullah dan bertemu dengan Adnan. Akhirnya, kamimalah ndak jadi naik kereta api karena—kata Adnan, si kawan saya yang ngurus pembelian tiket—ribet dan harus ngurus ini itu.
“Ini syaratnya!” kata dia sambil menunjukkan foto pengumuman yang tertera di pintu stasiun yang kala itu masih tutupan. (Namun, ternyata, belakangan diketahui kalau aturan tidak seketat itu. Syaratnya  penumpang cukup pakai masker, tidak perlu rapid test; barangkali papan pengumuman sisa lama dan belum dicabut juga sehingga wajar jika ada calon penumpang yang menganggapnya masih berlaku).
Untunglah, Aak ngajak kami naik boat atau perahu mesin di Ranu Klakah. Ini cukup menghibur dan melipur kekecewaan anak-anak saya yang gagal naik kereta api. 

Kami baru bergerak lagi, meninggalkan Klakah, melewati Randu Agung, jalur tengah, saat jarum jam menunjuk angka 10. Namun, saat kami sudah tiba di Mangli, ketika hendak sein kanan ke Jatisari, Jenggawah, ternyata Kiai Maltuf, guru kami yang hendak disambangi, berkabar kalau hendak pergi ke kota dan saya diminta datang sore saja. Maka, sein kanan pun diubah ke kiri, ke Dukuhmencek. Sementara, saya geletakkan dulu tubuh di rumah Alwalid, sepupu saya, sembari menunggu. Enaknya punya banyak tempat singgah. Hamdalah. 

Menjelang asar, kami menuju Jatisari.  Dan setelah muter-muter dan nanya beberapa kali, akhirnya ketemu juga itu pondok, Pondok Pesantren Jalaluddin ar-Rumi. Kami bertamu dan sowan ke Kiai. Ini adalah kunjungan saya yang pertama setelah sejak 2017 gagal melulu, tertunda tepatnya. Kiai menyuguhi kami makanan dan cemilan. Lalu, setelah mahritb, Kiai meminta saya agar berbagi cerita tentang pengalaman saya selama menjadi santri dan penulis. 

Saya pun bercerita kepada adik-adik santri. Sungguh, ini adalah salah satu pengalaman paling membahagikan, pengalaman seorang santri yang diminta kiai untuk menuturkan pengalaman belajarnya selama dulu menjadi santri kepada santrinya saat ini. Rasanya, tak ada yang lebih bahagia daripada saya, kala itu. 
“Pada awalnya, nama Jalaluddin ar-Rumi ini adalah nama daerah di Gang A, di Pondok Pesantren Nurul Jadid sana. Sebelum diberi nama ini, tempat kita mondok dulu, sempat terbersit usul agar nama yang terpilih adalah komplek Abu Nuwas...”

Para santri tertawa...

“Mungkin karena kami ini kan lucu-lucu,” sambung saya. Saya sampaikan kepada mereka bahwa Kiai Maltuf akhirnya memilih nama yang dipakai hingga saat ini: Jalaluddin ar-Rumi yang oleh masyarakat sekitar sekarang dikenal dengan sebutan “Ar-Rumi” saja. Saya jelaskan juga siapa itu Ar-Rumi, singkat saja, karena saya yakin mereka juga pasti sudah tahu.

Begitu gayeng obrolan kami sehingga tak terasa azan isya berkumandang. Rasanya singkat sekali. Ingin saya nyerocos terus tapi rasanya tidak pantas. Santri putri di sisi kanan dan santri putra di sisi kiri akhirnya bubaran. Shalat isya berjamaah dilaksanakan dan saya pamit pulang. Pak Kiai bahkan menawari kami bermalam di Jatisari, tapi saya matur kalau kami sudah terlanjur berjanji sama bibi untuk menginap di kediamannya saja, di Dukuhmencek. 

Sebelum bermalam di Dukuhmencek, Mangli, saya masih sempat kopdar ke Kancakona. Di sana, saya bertemu dengan Qomar, seorang perancang meubelair rumah tangga dan saya dihadiadinya kotak rak mobil. Ada juga Manamo, Ivan, Adil, dan banyak yang lain. Kami di situ sampai malam, ngobrol segala macam, sampai pukul 23.00. sebelum dikandangkan, mobil saya isi pertalite 150.000. Di Jember tak ada premium.

JUMAT, 23 OKTOBER 

Pagi hari Jumat, saya menyempatkan takziyah ke rumah Mas Fadol, tak jauh dari rumah Walid, tempat saya bermalam, sekaligus nyambangi Kak Faisol, tapi beliaunya konser ke Banyuwangi.

“Faisol itu kondangan terus kalau Maulid,” kata seseorang yang ada di situ. “Tadi malam kondangan konser di Kencong, eh, pagi ini sudah berangkat lagi ke Banyuwangi.”

Sekitar pukul 10.00, kami berangkat ke rumah Hanafi, sepupu dari istri. Rumahnya berada di kaki Argopuro, kampung terakhir sebelum perkebunan. Ia bersebelahan dengan tujuan wisata baru yang lagi naik daun, Kampung Durian, berlokasi di Pakis Atas, Kecatamatan Panti. Sungguh sangat sejuk dan asri alamnya. Ada empat sungai di sekitar rumahnya, bahkan salah satunya mengalir di bawah emperan rumahnya. 
“Kalau kamu masih mau ngambil batu-batu dari sungai dan bunga-bunga, aku pergi duluan,” kata saya sama istri yang masih kerasukan ngambil batu-batu dari sungai dan bunga-bunga liar yang elok-elok. Dia mau angkut itu ke rumah, ke Madura. Perasaan saya mulai was-was. Muatkah mobil yang sudah berisi delapan kepala dan barang bejibun ini jika ditambah batu dan bunga?

Karena saya mau menghadiri pertemuan IAA di PP Lembah Arafah, diputuskan, saya berangkat sendirian ke Kedungjajang dan menghadiri maulid di rumah Hj. Fatimah, Tegalrandu, pada malamnya. Sementara istri saya dan anggota yang lain bermalam di rumah Hanafi itu. 

Jam 14 saya diantar ke Pecoro, nyegat Ladju ke Kedungjajang. Tapi, acara IAA yang dilaksanakan di rumah Kak Fauzan sudah bubar setelah saya baru tiba. Tidak apa-apa, pikir saya. Saya pun ikut Kak Fauzan ke Klakah, kerumah patobin atau rumah kesepuhan yang saat ini ditempattinggali oleh saudaranya, Shima. Di rumah itu, rumah yang berlokasi di depan Pasar Mlawang, saya bernostalgia, mengingat masa-masa mondok dulu, masa di mana  saya sering main ke situ ketika hendak pulang ke Madura atau ada liburan pendek. 

Sehabis maghrib, barulah kami geser ke Tegalrandu. Ikut acara maulidan di rumah bibi Kak Fauzan, Hj. Fatimah. Dan di tempat itu pula saya bertemu Ibu yang berangkat terpisah dari Madura. Acara Maulidan di yang terletak dekat Ranu Klakah tersebut dimeriahkan oleh shalawat Banjari, entah dari pondok mana. Ceramah diisi oleh Gus Sef alias Ayyub Syaiful Rijal, dari Jember. Sementara saya berugas mendaraskan terjemah puisi Burdah di acara itu, juga membacakan puisi karya saya sendiri. Sungguh asyik. Tampaknya, atau sepanjang saya ingat, ini adalah pengalaman pertama saya: dapat tugas baca puisi di acara maulid Nabi.
Setelah di bertemu dengan Agung Widagdo, kawan lama yang rumahnya persis dekat satsiun kereta, eh, sebelum tidur, saya bertemu lagi dengan kawan satunya, Marsudi Utomo, kawan lama yang dulu memperkenalkan lagu-lagu Obiatuary dan Bulldozer kepada saya. Saya akhirnya tidur menjelang tengah malam di rumah Aak Abdullah. 

SABTU, 24 OKTOBER 

Pagi, saya sarapan nasi pecel, bertemu Adnan di pasar, lalu diajak main ke rumah Adenun. Dua orang ini adalah sahabat saya di pondok. Dari rumah Adenun, dia yang ngantar saya ke Kedungjajang, rumahnya Kak Fauzan: yaitu orang yang pertama mengundang saya untuk acara maulid, acara yang secara rentetan sama persis dengan tadi malam, acara Maulid Nabi. Tugas saya pun persis seperti tadi malam, penceramahnya juga persis yang tadi malam. Di sini pula saya akhirnya bertemu dengan Kak Fakhri, saudara kandung dari Kak Fauzan Adhima. 

Dari Kedungjajang, kami pulang pukul 14.00. Saya masih janjian dengan Aak dan Ibu, mampir di toko rumah H. Ahmad. Di tempat itu, kami tukar-tukaran barang yang mau diangkut agar tidak penuh di satu mobil dan kosong di mobil yang lain. Aak juga ngasih bekal masker dan disenfektan. Haji Ahmad  ngasih cemilan dan minuman yang diambilkan langsung dari rak tokonya yang berada persis di utara perempatan Jalan Gunung Ringgit dan Linduboyo itu.  

Setelah melewati Ranuyoso, saya merasakan ada yang asing pada ban. Ternyata,  ban rada kempos. Kayaknya ada bocor halus. Maklum, ban yang biasa diisi 32-33 psi itu harus dicekoki tekanan jhingga 50 psi karena begitu banyaknya barang yang saya bawa, termasuk batu-batu sungai dari Argopuro itu. Ternyata, begitu saya sentuh, velg panas. 
Wah, ini pasti ada masalah dengan rem atau handrem.
Dari bengkel tembel ban, saya maju sedikit, dekat perlintasan kereta api, di Malasan, Leces, masuk bengkel yang untungnya buka. Kami cek, master rem ternyata macet. Saya menduga ia kepanasan saat tadi dibawa ngerem panjang dari Pakis Atas sampai Pecoro sejauh 11 kilometer dan dari Klakah hingga Ranuyoso. Itu dugaan saja.

Singkat cerita, hampir mahrib, acara servis selesai. Kami melanjutkan perjalanan. Per beberapa kilo, saya berhenti untuk ngecek velg, aman, tidak panas lagi. Akhirnya, mobil dilajukan lebih cepat lagi dan kami berhenti di masjid Sabilul Muttaqin, Banjarsari, masjid andalah buat persinggahan.Dan eh, tak sengaja dapat rezeki. Saya bertemu dengan putra guru saya, Gus Fayyadl yang juga baru datang dari perjalanan.

“Mari, saya foto dulu,”  kata beliau, “Mau laporan ke abah saya.”
Tentu saja saya sangat senang diajak foto bareng, apalagi mau dilaporkan kepada ayah beliau, yakni guru saya sendiri, yakni Kiai Maltuf Siraj.
Dari situ, kami pulang dan kami bergantian mengemudi dengan Dik Sakdi. Kami masuk Gempol, masuk jalan tol. Sakdi masih seperti sebelumnya, suka turun di pintu tol terakhir, Perak, di Kilometer Nol, bukan di Pasar Turi seperti biasanya saya lakukan. Entah mengapa beliaunya sudak masuk Sidotopo dulu untuk masuk ke akses jalan Kenjeran dan Suramadu. Saya juga tak paham. 

Kami tukaran nyetir lagi di Dumajah setelah makan. Lalu kami lanjutkan perjalanan pulang ke arah timur, ke rumah setelah makan. Kami sampai dalam keadaan selamat. Perjalanan menempuh 806 kilometer berarkhir di halaman rumah, pukul 1 30 dini hari.


Bred...Dreb...Breb... (Situbondo - Sumenep)

SABTU, 31 OKTOBER 2020  Hari ini, dalam buku diari saya, jadwal undangan banyak sekali. Ada undangan pernikahan Ely Sofiana; ada selamatan...