Pembaca

13 November 2019

Empat Kilometer, Limabelas Menit, Banyak Kegalauan



Ini kisah perjalanan saya beberapa tahun yang lalu, kira-kira dua tahun yang lalu mungkin. Tanggal dan bulan persisnya saya lupa, lupa tidak dicatat. Sayang kalau tulisan ini ngendon di hardisk, saya publikasikan saja.

* * *

Selepas isya, saya dan istri pergi ke Ganding. Ini adalah kota kecamatan yang setingkat lebih ramai ketimbang 'kota' saya, Guluk-Guluk. Jika di LG (begitu Pak Agus Zainal Arifin menyingkatnya) hanya ada penjual bakso setelah isya (lainnya tutup sebelum maghrib), di Ganding lebih maju: ada ATM dan penjual lalapan, lapangan futsal, dan maret-maret gitu.

Baru 10 meter keluar pagar rumah, Colt saya dihadapkan pada cekungan jalan yang andai ada sepeda motor tanpa lampu melintasinya dengan kecepatan 50 km/jam, taruhannya adalah jatuh. Kubangan ini jelas disebabkan oleh truk molen tronton yang tempo hari wira-wiri di sini, buat ngecor proyek PLN 30 Kwh di Gardu Induk Guluk-Guluk. Kok menuduh dia? Lah, soalnya, sebelumnya, jalan ini baik-baik saja. Ia rusak persis setelah si bongsor itu mewira-wirinya. Hebatnya, habis merusak begitu, dia pergi begitu saja, kayak cowok tidak bertanggung jawab.

Maju sedikit lagi, kengawuran manusia meraja lele, eh, lela. . Saya kepergok Innova yang menyalakan lampu hazard, parkir,  tapi lampu utamanya dibiarkan menyala. Kejadian seperti ini sering terjadi. Sopirnya jelas tidak tahu aturan bagaimana cara parkir yang benar di badan jalan. Saya berburuk sangka, “SIM-nya hasil nembak, hasil beli, enggak pakai ujian.” Tapi, orang seperti ini tidak bisa disalahkan, karena dia akan menyalahkan balik dengan, misalnya, “Lah, aku dulu waktu dapat SIM-nya tidak diajarin begitu, kok!”. Maka, biarkan saja dia terkubur dalam egosentrismenya.

Sampai di pertigaan Berpenang, ada gerombolan anak muda nongkrong di got. Apa salahnya nongkrong? Salah, dong, jika... Begini saja...  Meskipun tidak menghadang atau mengganggu orang yang lewat di tengah jalan raya sebagaimana polisi tidur yang dibangun suka-suka oleh masyarakat di jalan umum, tapi kehadiran mereka secara bergerombol dan nongkrong itu sangat mungkin bisa membuat cemas orang yang mau melintas, lebih-lebih jika yang melintas adalah seorang perempuan, sendirian, naik Scoopy. Pasti keder dia menghadapi serombongan anak muda bergerombol begitu. Maka, akan semakin apes lagi kalau masih digoda-goda pula.

Sampai di Gurmate, kira-kira 1900 meter perjalanan dari rumah, saya berpapasan dengan sedan Timor. Oya, saya tiba-tiba ingat sesuatu. Cowok-cowok itu biasanya suka nyari “yang putih dan tinggi”. Tapi, kalau kalau dikasih lampu sedan Timor “yang putih dan tinggi” ini, pasti mereka bersungut-sungut dan maki-maki.

Tiba di Ganding, saya parkir di seberang rumah Huzaimi. Baru keluar dari mobil, ada Pak Amin menghampiri, mengelus-elus mobil Colt saya sambil memuji, “Ndak pernah mogok, ya, mobil ini?”. Ini contoh pujian yang berlebihan, pujian yang menyakitkan. Saya agak emosi, “Ini baru saya bawa ke Jogja, ndak ada masalah. Apalagi kalau cuman dibawa ke Jawa. Jogja itu lebih jauh dari Jawa” (Orang di sekitar kami biasa menyebut Jawa itu untuk Jember atau Situbondo, area Tapal Kuda).

Percakapan berlangsung beberapa menit. Dan selama rentang waktu saya bercakap dengannya itu, saya melihat banyak peristiwa menarik yang perlu saya tulis.
  1. Di depan toko H. Huzaimi ini, ada orang jualan Martabak Bandung. Namanya “Martabak 46” (angkat 46 pakai font Serpentine, seperti font Valentino Rossi). Saya langsung tertawa mengingat Huzaimi itu penggemar berat Marc Marquez, musuh bebuyutannya. Orang terlalu benci sesuatu terkadang memang suka disamperin sama yang dibencinya itu.
  2. Ketemu sama Amin Qutbi naik bebek otomatis,  agak ngebut. Gawat, ia ngerem mendadak hanya karena melihat saya berdiri di sana. Ternyata, cuman mau salaman, lalu mencelat lagi dengan begitu cepatnya. Coba kalau ada sepeda motor yang membuntutinya, pasti sudah dia kena tabrak.
  3. Saya melihat seseorang (masih famili) yang nyopir Suzuki Carry, belok kiri. Apakah dia hendak ke Prenduan atau ke Guluk-Guluk, itu tidak saya urus. Yang saya perhatikan hanya bahwa dia tidak menyalakan lampu sein. Coba bandingkan dengan Man Iyad yang menyusulnya beberapa detik sesudahnya, datang dari arah barat. Nah, beda sekali. Beliaunya ini selalu tertib berlalu lintas. Seinnya pasti menyala.
  4. Sesudah itu, ada mobil pikap penuh stiker bernuansakan cabai melintas, ngebut.  Apakah mobil pengangkut cabai itu memang harus ngebut meskipun di pertigaan yang tanpa lampu lalu lintas seperti di Ganding ini? Andai saja ada orang yang motong jalur dari selatan, pastilah satu atau keduanya langsung masuk Puskesmas yang letaknya persis di pojok perempatan itu.
  5. Sebuah Honda Mobilio datang lalu parkir di jalan, agak ke tengah, tidak turun dari aspal. Lampu depannya menyala, tanpa hazard. Sopirnya membunyikan klakson bertubi-tubi, berkali. Saya paham, klakson ini adalah isyarat panggilan, mungkin memanggil seseorang yang rumahnya ada di dekat situ dan sudah janjian. Tapi, coba pikir, kita-kita ini kan tidak tahu dia manggil siapa? Kok kita harus terima resiko menikmati kebisingannya? Andaikan ‘suara’ klaksonnya itu seperti suara Sundari Sukoco atau Melly Goeslaw kan mendingan. Lah, ini cempreng banget. 

Saya beridiri di situ mungkin hanya sekitar limabelas menit. Sudah begitu banyak yang saya saksikan. Saya berempati, andaikan ada pak pulisi lantas di sana, betapa stres dia harus menyaksikan peristiwa-peroista yang harus ditanganinya itu hanya dalam waktu sekejap saja. Maka, untunglah saya tidak ditakdikrn menjai pulisi lantas.

Saya tidak bisa menuliskan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi setelah itu karena Pak Amin sudah pergi, Huzaimi enggak nongol-nongol, dan istri saya sudah selesai beli-beli. Kami pun pulang, kembali ke rumah, sembari saya berpikir betapa keributan yang berkecamuk di dalam pikiran barusan tadi harus dituliskan agar orang-orang pada tahu: begitu banyak hal yang menyebalkan di jalan raya ini kalau kita mau memperhatikannya.  Tapi, siapa mau peduli? Sudah bikin pening, tidak dibayar pula.


22 Agustus 2019

Diseruduk Truk Garam

Inilah laporan lengkap laka (kecelakaan) lantas (lalu lintas) yang saya alami pada Selasa, 20  Agustus 2019. Sejak saya belajar mengenali mesin sejak tahun 1987 (kelas 6 SD) dan baru dapat izin jalan ke jalan raya setelah punya SIM di tahun 1997 (sepuluh tahun kemudian), ini adalah kejadian laka pertama di jalan raya yang saya alami selama 32 tahun pegang kemudi.  Jangankan sampai nabrak, bikin kesalahan sampai ditilang pun saya tidak pernah. Saya sadar, saya manusia, bukan Dewa. Beginilah nasib, beginilah manusia.

***

Selasa siang, 19 Agustus 2019, tepatnya pukul 13.00 lewat sedikit, kami—saya dan istri; Abdullah dan istri serta kedua bayinya; dua orang penumpang lain—bertolak dari Sampang, pulang menuju Sumenep. Hari itu, kami pergi berziarah ke dua orang (kakak beradik, sama-sama bujangan) yang datang dari tanah suci  Mekkah, usai menjalankan ibadah haji. Dua orang (suami istri) yang kami ziarahi juga ada di Taddan, masih dekat kota Sampang. Kami meninggalkan Taddan pada pukul sekitar 14.40.

Mendekati warung makan Asela, sebuah rumah makan yang berada di tepi laut, saya mendahului truk bermuatan garam. Ada sepeda motor berboncengan, membawa tangga lipat. Saya bilang ke Aploh, nama panggilan Abdullah, si sepupu yang duduk di depan yang momong anaknya. “Tangga ini berbahaya, semestinya diangkut mobil pikap tapi cuma dipegang sendiri. Sangat berbahaya karena pasti dia sulit mengatur keseimbangan.”

Beberapa puluh meter mendekati warung itu, tampak lampu merah menyala, dari mobil yang ada di depan saya. Saya pun ikut ngerem perlahan sambil mendahului pengendara sepeda motor itu. Ketika mobil saya sudah berhenti, baru kelihatan oleh saya: sebuah mobil Avanza Veloz (belakangan diketahui nomor polisinya: M-1632-BR) yang berada di ujung depan, sein kanan, hendak masuk ke areal parkir warung, tapi tertahan karena menunggu arus lalu lintas yang terus berdatangan dari arah depan (dari arah timur). Di belakangnya ada Avanza hitam tipe G (M-1321-NH); di belakangnya lagi ada Xenia. Posisi Colt saya ini berada di belakang Xenia (L-1423-DB) itu.

Dalam beberapa detik kemudian, terdengar bunyi barang terjatuh, atau orang ambruk. Dan hanya dalam sepersekian detik berikutnya, saya melihat dari spion kiri: sepeda motor terjatuh, orangnya tidak kelihatan. Baru saja terbersit pikiran; ‘Duh, yang barusan bawa tangga itu!’, mungkin kurang dari sedetik sesudahnya, tiba-tiba mobil saya berguncang hebat, melonjak ke depan, diiringi bunyi benturan sangat keras. Semua penumpang kami berteriak histeris. Yang saya ingat, ada bayi di kursi belakang dan dua orang perempaun. Sedangkan ibunya duduk di tengah, bersama istri saya. Bayi yang satunya lagi dimomong ayahnya, di depan, bersama saya.

Orang-orang datang, berhamburan. Setelah saya pastikan tidak ada apa-apa, mobil mau saya pinggirkan, tapi tidak bisa memasukkan persneling karena lantai di bawah nyundul, menahan kopling. Akhirnya, saya masukkan gigi persneling lebih dulu (agak susah memang) dengan cara mematikan mesin lebih dulu, baru starter dan langsung jalan tanpa kopling, sembari mencari tempat parkir.

Kami segera turun, pintu depan agak sulit dibuka, harus dipaksa, mungkin dampak benturan keras tadi. Kaca belakang mobil saya sudah tak ada lagi. Kaca mata si Abdullah terpental entah ke mana. Peci hitam saya jatuh tidak diketahui ada di mana.

Setelah saya turun dari mobil dan cek lokasi, barulah saya tahu kalau mobil saya diseruduk truk bermuatan garam itu, sehingga mobil saya menabrak Xenia, dan Xenia nabrak Avanza, sedangkan Avanza tidak nabrak apa-apa karena Avanza Veloz silver tadi baru saja parkir ke halaman rumah makan.


Sopir truk yang ber-tagline “Putra Hidayat”, bertuliskan merek dagang “Tuan Muda”, berplat nomor M-9058-UN ini, mojok bersama entah siapa, kenalannya mungkin. Pemilik kendaraan yang lain masing-masing ngurus kendaraanya sendiri, memeriksa kerusakan. Menurut pengakuan sopir, ia mengangkut 14 ton garam dari Pangarengan (Torjun) dengan tujuan PT Budiono (Baranta, Pamekasan). Ia mengaku, truk itu bukan batangannya, ia hanya sopir wakil atau pengganti. Dia sudah ngerem (tapi menurut warga, mungkin saja terlambat mengerem karena suatu hal, seperti karena sedang kurang konsentrasi). Akan tetapi, intinya, truk Mitsubishi Canter itu tidak mampu melakukan pengereman dalam jarak dekat dengan muatan overload (yang menurut standar maksimalnya antara 7-8 ton khusus tipe Super HD). Kesimpulan pertama: “Nyeruduk karena tidak mampu mengerem bukanlah takdir karena takdir selalu bersamaan dengan ikhtiar. Adapun sengaja mengangkut muatan melebihi kapasitas adalah tindakan tidak melakukan ikhtiar, apalagi—misalnya—dia hanya sopir pengganti, lebih-lebih jika misalnya diketahui bahwa ia sedang menelepon atau melakukan aktivitas lain yang mengurangi konsentrasinya.

Ketika kami sedang menunggu kabar pertanggungjawaban dari si sopir truk yang menyatakan bahwa ia juga sedang menunggu pak bos-nya tapi tidak kunjung datang, bahkan polisi pun datang-datang juga, rasa bosan mulai datang. Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat, lalu bertanya.
“Tabrakan dengan apa?”
“Mobil saya diseruduk truk, lalu terjadilah tabrakan beruntun.”
“Oooo Panjenengan dari mana?”
“Dari arah Sampang, mau pulang.”
“Apakah Panjenengan Keh Faizi?”

Saya mengamati orang itu, merasa heran karena tidak kenal, dan tidak pernah melihatnya. Saya jawab, “Betul. Kok Anda tahu?”
“Soalnya, ini Colt-nya ada tulisan Pariwisata-nya dan ada benderanya!”

Saya merasa lucu terhadap jawaban itu. Kami tertawa.
“Anda sendiri, siapa?” Saya balik bertanya.
“Saya Faad. Teman Facebook Panjenengan.”
“Ooo, iya. Benar, ada nama Faads Maushuf dalam daftar teman. Akhirnya, kita dipertemukan di sini, gara-gara laka lantas.”

Satu per satu, kenalan dan kawan saya berdatangan. Ada Pak Jumali yang rumahnya persis di seberang jalan warung Asela itu dan kebetulan anaknya juga murid saya. Ada juga famili: Mahrus, Man Mulki, Lutfi, dll. Di antara mereka ada yang menyediakan tempat istirahat, membelikan air, dll. Saya bersyukur, meskipun tertimpa kena musibah, tapi rasanya seperti di depan rumah: tenang dan aman, lebih-lebih karena tidak ada korban jasmani serius dalam laka ini, kecuali kendaraannya.

Matahari sudah turun, hampir terbenam. Waktu sudah pukul 5 sore lewat dan saya belum shalat. Izin kepada seorang pemilik toko, saya numpang kamar kecil dan mushalla yang terletak di belakang tokonya. Seusai shalat, kedua korban laka tadi (Avanza dan Xenia) ternyata sudah bubar. Karena hari sudah mulai gelap, ketika orang-orang pada bubar (saya tidak tahu bagaimana rundingan pemilik kedua mobil dengan si perwakilan pemilik yang sudah datang karena mereka sudah pergi ketika saya shalat ashar), si Faad ini menawarkan diri untuk membantu saya meneruskan masalah ini ke Lakalantas.

Setelah dirembuk dengan si pemilik truk, kami pun sepakat untuk ke kantor Polsek Kota Sampang. Saya naik sepeda motor sementara mereka naik (mungkin) Avanza W-1266-PR. Kami sempat mampir di Masjid Nur Inka, Taddan, untuk shalat maghrib untuk selanjutnya menuju kantor Polsek Kota Sampang. Di perjalanan tadi, jalan macet karena ada kebakaran di Camplong. Terbersit pikiran, “Di atas musibah masih ada musibah,” kata saya dalam hati.

Anehnya, kantor bagian Lakalantas sepi, tidak ada orang, kecuali tiga atau empat orang si pemilik truk tadi.  Muncul lagi suara dari kedalaman batin, “Dua tahun yang lalu, di tempat ini, saya diundang Radar Madura kerjasama dengan Polres Sampang, menyelenggarakan diskusi keselamatan berkendara di aula ini, sekarang saya yang butuh bantuan mereka untuk mendapatkan keadilan, ternyata nasib saya kurang baik, sepi tak ada orang.” Saya tidak tahu, petugas yang berjaga di depan hanya menunjukkan tempat ini, tapi ternyata tidak ada orangnya, kecuali masih saja orang-orang yang itu tadi, tiga orang perwakilan perusahaan.

“Mari, kita rembukan di Pendopo Wakil Bupati Sampang saja”, ajak salah satu dari mereka. Meskipun tetap merasa aneh dengan ajakan itu, saya manut saja. Tadi saya sudah mengajukan permohonan agar sebelum ada rembukan dengan kepolisian, mestinya ada olah TKP dulu, tapi diajak ke lakalantas lebih dulu, kini malah diajak ke kantor wakil bupati. Tetap saja saya ikuti.

Singkat cerita, masalah diselesaikan di sana. Pemilik truk berkata, “Saya hanya sanggup mengganti uang 1 juta rupiah. Kalau mau silakan.”
Tentu saja saya kaget dengan nominal itu, tapi saya jawab saja begini: “Sampeyan sudah tahu kondisi mobil saya. Saya terima uang itu.” Hanya itu jawaban yang saya katakan, sebab tidak mungkin menuntut lebih tinggi lagi karena dia sudah menyatakan ‘kalau mau silakan’. Rasanya, firasat saya, percuma saya menuntut lebih tinggi lagi karena sejatinya dia tahu betul kondisi ringsek mobil saya, Xenia, serta Avanza itu, pada saat kami semua memang tidak bersalah.

Akhirnya, kami bersalaman. Orang tadi, bersama rombongannya, pergi. Tinggallah saya dan Faad dan seorang lelaki lain—yang ternyata masih ada hubungan saudara dengan si pemilik truk dan sekaligus bersaudara dengan Faad—yang ada di situ, serta beberapa petugas yang berjaga-jaga. Sambil menghisap sebatang rokok yang sangat berasa pahit karena tidak ada kopinya, saya mengingat-ingat momen lucu tadi sore, saat si pemilik truk datang bersama kawan-kawannya.

Percakapannya agak lucu. Maklum, si pemilik tampak sedikit naik pitam karena ditodong untuk bertanggung jawab oleh si pemilik Avanza (yang penumpangnya banyak) dan si pemilik Xenia (yang kayaknya cuma berdua saja). Sementara saya diam saja, menyimak pembicaraan saja. Salam satu bagian dari percakapan yang saya ingat adalah sebagai berikut:

“Jadi, gimana ini?” tanya si pemilik truk.
“Ya, kami mau minta ganti rugi,” yang menjawab bapak dan ibu, penumpang Avanza.
“Saya khawatir, sampeyan semua minta ganti ke saya!” kata si empunya truk diplomatis.
“Lah, memang iya, memang mau minta ganti ke siapa?” Yang menjawab ini seorang bapak tua dan seorang perempuan, bersamaan.
“Logikanya mesti begitu, Pak!” kata si pemilik Xenia menimpali, menjawab dengan bahasa Indonesia karena dia orang Sidoarjo, sementara yang lain sama-sama orang Madura.

Sedikit panik, si pemilik truk berkata lagi: “Sampeyan (menunjuk si pemilik Avanza) ditabrak yang ini (menunjuk kepada si pemilik Xenia). Dan yang ini ditabrak Sampeyan (menunjuk ke saya), dan terus semuanya minta ganti kerugian ke saya semua.
Memang aturannya kan begitu?” Satu suara terdengar nyeletuk.
“Terus, saya mau minta ganti ke siapa? Padahal truk saya kan juga rusak?”

Sampai di sini saja, saya langsung lemes. Bagaimana cara menalar logika si Bapak ini. Wong semua mobil sudah berhenti dan tidak ada yang berhenti mendadak. Semua saksi tahu itu. Truknya juga bermuatan overload, ditambah melaju agak kencang. Kok bisa muncul pertanyaan retoris seperti itu?

Itulah lintasan-lintasan pikiran yang datang dalam kepala saya. Capek iya, sedih iya. Makin runyam jadinya kalau percakapan tadi sore itu terus saya ingat. Makanya, saya segera ajak Faad untuk pulang saja. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang masih tersisa, saya duduk di sadel sepeda motor Faad dan pulang. Faad menurunkan saya di lokasi. Saya menjalankan mobil dengan cara menaikkan kopling lebih dulu sehingga bisa buat jalan.

Mobil saya bawa ke Masjid Al-Munawwar, ke rumah Man Mulki. Saya shalat dan istirahat di sana. Setelah agak malam, sekitar pukul 22.00, barulah jemputan datang. Adik saya bawa mobil untuk mengawal karena lampu depan Colt saya, meskipun menyala, tapi terlalu terang dan membahayakan pengendara yang datang dari arah depan. Dengan dikawal mobil di depannya, cahaya lampu mobil saya tidak kena langsung mata pengendara lawan arah, tapi kena ke belakang mobil adik saya yang selalu mengawal saya di depan. Pukul 00 kurang sedikit, mungkin lima atau dua menit, tibalah saya di rumah. Sebelum tidur, saya langsung menulis laporan ini.

Hati-hati di jalan!
Sekian dan terima kasih.

LAMPIRAN FOTO-FOTO:







06 Agustus 2019

Bersafari ke Taman Safari


Arti frase “bakda isya” itu mengambang, tapi tetap saja diucapkan dan dipercayai oleh orang-orang di sekitar saya. Yang dipahami umum, waktu itu adalah 19.00-19.30 (untuk zona WIB), tapi hingga pukul 20.00, Agus, orang yang saya tunggu, belum nongol juga. Baru pukul 20.14 dia datang.

Kok bisa? Dia nunggu saya ngajak, saya nunggu dia muncul. Itulah masalahnya. Dan semua itu pakai kata kunci bakda isya.

Malam itu, Rabu malam Kamis, 31 Juli 2019, saya pergi ke Krajan, Sukorejo, Pasuruan. Tujuan awalnya adalah ke Ampel, Surabaya. Namun, karena kebetulan si Agus ini mau pulang ke rumah mertuanya di Sukorejo, dibuatlah rencana sampingan: ikut dia ke sana. Adapun rencana menyamping di samping sampingannya adalah; pergi ke Taman Safari mengingat rumah dia, katanya, dekat dengan TKP.

Malam itu, Jalan Nasional 21 Madura sisi selatan terbilang sepi. Laju Colt bisa agak kencang sehingga pukul 21.39,  kami sudah masuk kota Sampang.  

Di perjalanan, saat parkir di sebuah toko, saya merasakan kondisi mesin kurang stasioner pada saat idle (lepas gas). Saya merasa heran, ini tumben. Baru diketahui belakangan (setelah esai ini ditulis) kalau ternyata gelang karet yang memperantarai karburator dengan tutupnya telah raib. Rupanya, tempo hari saya melepas dan lupa tidak memasangnya kembali. Celakanya, saya juga lupa telah meletakkannya di mana.

Di tempat istirahat tol Perak-Gempol, dekat Sidoarjo, saya isi premium, 70.000, dengan pertimbangan agar besok tidak perlu masuk SPBU lagi. Kami rebutan bayar ke petugas. Saya menyodorkan uang seratus ribuan, Agus menyodorkan uang 50.000 + 20.000, pas. Baik, saya mengalah saja. Petugas mengambil jumlah yang pas.

Setelah melewati Masjid Besar Al-Mukhlasin Sukorejo yang terkenal itu, kami tiba di tempat tujuan, berada di sisi barat garasi bis PO Tunas Bangsa, pada pukul 01.08. Kalau tidak salah hitung  odometer, jarak dari rumah saya ke tempat Agus ini adalah 201 kilometer. Jam segitu, penghuni rumah yang besar ini sudah pada tidur. Kami turun dari mobil dan dipersilakan naik ke lantai atas.

Pukul 08.20, esoknya, Kamis, 1 Agustus 2019, setelah sarapan pagi, kami berangkat menuju lokasi. Sempat mampir kami ini di Masjid Al-Mukhlasin, semacam setor jempol di mesin presensi tapi ini pakai jidat nempel di lantai. Hanya sebentar di sana, sekadar merampungkan shalat tahiyat dan duha, kami cus ke Taman Safari Prigen (TSP).

Sejauh ini, saya kira, lokasi Taman Safari tersebut tidak jauh dari pintu masuk utama yang gapuranya bersimbolkan dua gading gajah beton. Asumsi ini sama persis manakala saya berkunjung ke Taman Nasional Baluran, sehabis Ramadan lalu. Ternyata, jarak dari jalan raya ke pintu masuk itu berkisar 7,5 km. Jarak ini sama dengan jarak dari Jalan Nasional ke rumah saya.

Sesuai janji yang kami sepakati sebelumnya, kira-kira 4 kilometer menjelang lokasi, saya bertemu dengan Muzammal Noer, seorang sahabat yang sudah lama tidak bersua. Sudah sejak lama pula saya menyatakan ingin menyambanginya, persisnya setelah dia pernah membantu ngurus kemah siswa-siswa di Kaliandra. Keinginan itu baru terkabul sekarang. Ya, keinginan selalu terkabul, tapi terkadang kita menguburkannya sebelum ia datang hanya karena bosan menunggu pengabulan.

Jalan menuju lokasi  menanjak dan kelak-kelok.  Ada beberapa titik yang diwanti-wanti, seperti lewat plakat yang berbunyi: “Gunakan Gigi 1”. Di bawah, bahkan ada tulisan “Pastikan Kendaraan Anda Laik Jalan”. Merasa penting menanggapi ini, saya bilang, “Agus, plakat ini kayaknya nyinggung mobilku, ya?”
“Ngenyek dia,” balasnya.
“Tidak masalah kalau cuman menyinggung, yang penting yakin kalau aku tidak perlu tersinggung.”

Setelah beli tiket, saya memarkir mobil. Temperatur suhu mesin di atas setengah, ngeri. Ini kiamat kecil bagi Colt, beda dengan mobil sejenis Kijang yang kontrol suhu mesinnya memang ada di tengah dalam kondisi normal, atau seperti Grand Livina yang malah tanpa penanda di saat suhu mesin dalam status aman. Panas mesin mestinya tidak sampai 90 derajat celcius—suhu yang  sudah pas untuk memasak kopi—begitu mengingat suhu alamnya dingin. Dalam kondisi wajar, mesin Colt saya sudah teruji: dibawa lari 80-90 km/jam dalam jarak hampir 30 kilometer secara maraton, ya, normal-normal saja. Saya menduga, penyebabnya—antara lain—adalah karena pengaturan konsumsi BBM yang terlalu irit, RPM selalu tinggi  sedangkan kecepatannya sangat rendah.

Tadi sempat ada sedikit kejutan. Dua kali momen ‘dramatis’ itu terjadi. Ada saat yang mestinya saya menurunkan gigi dari 3 ke 2, tapi karena ada masalah pada percepatan—belakangan diketahui setelan persneling saja yang kurang pas—terpaksa harus masuk gigi 1. “Ya, terpaksa dilakukan meskipun ini sangat berat,” pikir saya, sebab kami harus nanjak sampai puncak.

“Petugas penjaga tiket tuh ada yang nyuting,” kata Agus lagi.
“Ah, masa?”
“Iya, dia nyuting pakai ponselnya.”
“Barusan ada yang nanya, ‘dari Madura, ya?’ Kok plat M kata dia?” terdengar suara Muzammal menimpali setelah dia memarkir sepeda motornya dan bersiap naik mobil bersama kami.

Saya melipat jok depan dan mulai memerciki air ke radiator. Mesin saya nyalakan lagi. Langkah ini adalah sejenis “kompres cepat” agar suhu mesin segera turun karena kami masih akan menghadapi banyak tanjakan lagi di dalam Taman Safari.

***
Pohon-pohon pinus menyambut di pintu masuk, berjejalan dan menjadi tumbuhan utama. Perasaan senang tiada tara terlontar dari kedua mulut anak saya yang duduk di kursi paling belakang (lantas saya ingat sama kedua anak lainnya yang tinggal di rumah, tidak ikut serta karena alasan tertentu sehingga rasa senang pun berubah sedih sebentar) manakala mulai melihat penampakan binatang-binatang khas Eropa mulai tampak di depan mata. Ada yang mendekat, ada yang bermalas-malasan.

Kami benar-benar merasa ada di alam bebas begitu melihat binatang-binatang buas yang selama ini hanya ada di gambar atau tivi atau di dalam kerangkeng di kebun binatang, kini benar-benar seperti di dalam rimba. Ada rusa, kalkun, gajah, beruang, rusa. Ada pula binatang yang terbilang asing, seperti nilgai, llama, eland, scimitar oryx, dll. Binatang Australia, kanguru, serta penguin, tidak saya lihat.

Perjalanan menempuh 6,7 km jalanan naik-turun di dalam hutan itu menghabiskan waktu satu jam lebih mengingat laju mobil hanya 5 km/jam. Adakalanya mobil-mobil berhenti, lalu jalan lagi ketika ada binatang buas yang mendekat. Memang begitu aturannya. Yang penting, jangan sampai buka kaca, khususnya di area karnivora, habislah riwayat kalau sampai mereka masuk ke kabin kita.

Tiket masuk Taman Safari Prigen ini relatif mahal. Untuk tiket “kelas rusa” (ini hanya istilah saja) adalah Rp105.000 (usia 5-10 tahun) dan 110.000 (dewasa). Jika mau nambah permainan-permainan anak, kita harus merogoh kocek lagi, 50.000, atau pesan tiket kelas “badak”, Rp135.000, yang punya fasilitas lebih banyak. Sedangkan tiket “kelas gajah” adalah 160.000 dan kelas inilah yang dapat membuat pengunjung boleh menggunakan hampir semua fasilitas di TSP. Saran: Sebisa mungkin, datanglah bukan pada hari Sabtu-Minggu, seperti yang saya lakukan ini, yaitu pada hari Kamis. Di samping tiketnya bisa dapat potongan (Rp80.000 untuk “kelas rusa”), para pengunjung pun tidak ramai. Sudah jelas, sensasi ketenangan hutan akan jauh berkurag kalau terlalu banyak orang. Dan bagaimanapun, tiket termurah pun tetap berasa mahal bagi warga masyarakat seperti saya yang untuk sampai ke tempat ini harus menunggu lama nabung dan cari kesempatan. Ia jadi murah ketika kita senggang dan ada orang yang mentraktir tiketnya, he, he, he.

Ada hal penting yang perlu dicatat: kalau mau ke Taman Safari Prigen, ada baiknya Anda mencari sejenis “Agus” atau “Muzammal”, yaitu orang yang rumahnya dekat lokasi sehingga Anda bisa bermalam di rumah mereka dan masuk ke lokasi sepagi mungkin, pukul 8. Kalau datang dari rumah dan langsung ke lokasi, khawatir Anda mampu tapi anak-anak sudah capek duluan sehingga cepat loyo untuk mengitari lokasi yang sangat luas tersebut. Saya yang masuk pukul 08.15 dan keluar hampir pukul 13.00 saja cuma mampu mengawal anak-anak bermain sekitar 10 dari 22 permaianan yang tersedia. Pasalnya, ada pertunjukan dan wahana yang tidak buka pagi, melainkan siang, seperti pertunjukan gajah (pukul 11.00) dan pertunjukan lumba-lumba (pukul 13.00). Butuh nyaris setengah hari untuk menikmatinya. Bagi Anda yang tidak mau bawa kendaraan sendiri, Anda dapat naik bis atau mobil gratis milik Taman Safari, begitu pula bagi mereka walaupun bawa mobil sendiri tapi khawatir catnya tergores manatahu ada harimau iseng yang mencakarnya.

Dalam perjalanan pulang, kami ikut Muzammal, mampir di rumahnya, sekitar 2 kilometer dari lokasi. Dana belum keluar dari kocek, eh, ini masih ada layanan makan siang gratis lagi. Tidak terbayang berapa jutanya kalau harus sewa hotel dan sarapan paginya di restoran. Secara normal, kayaknya saya, kok, enggak mampu, deh. Hamdalah, lengkap sekali kami mendapat anugerah:  sudah serba-gratis, masih diberi sehat dan sempat. Kalau ingat ini, rasanya tidak masuk akal kalau masih berani nakal-nakal beribadah.

Mestinya, dari rumah Muzammal, kami langsung pulang, menuju Surabaya, sedangkan si Agus kembali ke Sukorejo. Tapi, karena ada iming-iming es duren dari Agus dan pesanan undangan nyicipi Bakso Tetelan Cak To di Sidoarjo, rencana berubah di tengah jalan. Kami kembali ke Sukorejo, menikmati sajian es dari Resto Duren, lalu balik ke utara, pulang lewat arteri Porong, menuju kota Sidoarjo.

Senja itu, kami sekeluarga (dan Agus sekeluarga, bawa mobil sendiri), tiba di Warung Bakso Tetelan “Cak To” yang lokasinya ada di selatan GOR Delta dan sedianya baru soft opening di hari Jumat, 1 Agustus 2019. Kami diservis bakso yang bagi saya agak asing karena mi-nya model lebar dan mangkok penuh sayur, ada kacang sanghai-nya juga. Enak, ya, iyalah. Sudah gratis masa’ bilang enggak?

Tidak lama saya di sana, hanya sepeminuman kopi dan semangkok bakso. Kopi dan bakso memang enggak nyambung, tapi bisa disambung-sambungkan karena warung bakso dan kafe berdempetan. Yang pasti, kafenya berpenyekat dan ada di ruang terpisah, sehingga ketika pengunjung nyeruput kopi tak akan terpapar aroma bawang dan seledri.

Dari Sidoarjo, saya meluncur ke Pegirian, menuju makam Sunan Ampel. Karena saya turun di ujung tol Perak, Jalan Jakarta, maka setelah melewati Jalan Hang Tuah, lurus saja saya ke selatan, menuju Jalan Mas Mansyur. Saya masuk dari pintu belakang tapi tidak parkir di dalam, melainkan di Jalan Petukangan. Sementara istri tetap di mobil, menjaga anak-anak yang tertidur, saya masuk ke lokasi makam.

Di pasarean Raden Rahmat, Sunan Ampel, saya berdoa untuk kebahagian orangtua yang sudah wafat maupun ibu yang masih ada, untuk saudara-saudara, lalu mendoakan untuk teman-teman yang pernah berbuat baik ataupun (semoga) tidak, khususnya orang-orang yang paling sering berinteraksi dengan saya, termasuk para tetangga. Minta dan permohonan memang harus banyak-banyak kepada Allah sebab jika tidak maka seolah diri ini serba-berkecukupan, bukan? Kalau sama teman, janganlah minta-minta. Kalau dikasih, ya, terima.

Habis dari makam, saya menuju Jalan Sasak, membeli beberapa eksemplar kitab untuk siswa. Karena berat, saya panggil abang becak untuk mengangkut kitab dan diri saya sendiri tentunya menuju parkiran mobil. Nah, aslinya, perjalanan ke Ampel inilah tujuan pertama perjalanan saya kali ini.

Dalam perjalanan pulang dari Ampel menuju Bangkalan, mata saya sudah berasa panas. Saya taksir, saya tidak akan kuat kalau dipaksa pulang ke rumah. Istirahat di Sukorejo cuma 3 jam semalam. Jadi, setelah saya menjumpai Ibu yang sudah 15 hari lamanya tinggal di rumah adik perempuan saya, menemani cucu-cucu yang ditinggal orangtuanya pergi ke Makkah. Ternyata, ibu membuatkan saya kopi: ini peristiwa langka karena biasanya saya memang bikin kopi sendiri. Saya tidur dan bangun pukul 22.34: cuci muka, menghabiskan kopi, dan pamit pulang.

Dengan mata berbinar-binar, saya menempuh perjalanan 125 km ke timur dengan perasaan lega dan tenang. Di SPBU Tangkel, saya isi bensin 50.000 setelah tadi ngisi 100.000 di area istirahat di tol, soalnya, malam Sabtu esoknya, saya harus jalan lagi ke Pamekasan dan diperkirakan pulang tengah malam. Biar tidak repot, isi saja dulu sekarang.

Namun, di penghujung cerita, setelah berhasil menanjak ke Taman Safari, setelah meliak-liuk di jalan arteri, setelah mampir sana mampir sini, kira-kira kurang 1 kilometer dari rumah, selepas perempatan Sumber Pinang, setelah jalan menurun panjang dari Pangurai, baru saja belok kiri, tiba-tiba mobil mati. “Waduh, ini tokoh cerita bikin keki!” bisik saya di dalam hati.

Colt Pariwisata ini saya starter, tetap ngadat. Saya cabut selang, distarter, ternyata bensin tak muncrat. Diambillah postulat: membran tidak mampu menghisap. Mungkin disebabkan bensin di filter sudah asat. Kemungkinan lain adalah karena selang bocor tidak kedap sehingga pompa pun megap-megap.  Untung saja saya tenang, tidak kalap, keder juga, sih, karena tempat ini sedikit senyap, apalagi memang malam Jumat.

Di perempatan itu, terdapat rumah-toko Busiri yang jualan bensin, tapi sudah beberapa bulan ini tutup. Malam itu, lampunya pun bahkan mati. Hati saya berdesir, ini kok antiklimaks, sih. Lalu, terjadilah deus ex machina: lampu toko mendadak menyala. Sejurus lalu, sesosok bayang muncul. Alhamdulillah, si empunya toko yang keluar.

“Sampeyan, Bus?” sapa saya.
“Enggi,” jawabnya.
“Enggak tidur?”
“Belum.”
“Sampeyan ada bensin?”
“Wah, saya sudah lama tidak jualan, Keh.”
“Maksud saya, setengah cangkir saja cukup, saya minta.”
“Ada, tapi di sepeda motor. Tapi, buat apa kok cuman setengah cangkir?”

Dia mengeluarkan sepeda motornya dengan perlahan, seperti pelayan diler mengeluarkan motor baru untuk diangkut ke mobil pikap. Saya jelaskan kepadanya bahwa karburator Colt itu tidak menye-menye, tidak kayak mobil baru. Cukup dibaui bensin saja dia bisa langsung menyala, bahkan menyalak kalau digas secara sontak.

Setelah mendapatkan sekitar 25 mililiter bensin yang diperoleh dengan cara membuka baut tap karburator Honda Supra-nya dengan tadah gelas plastik, saya melakukan aksi sesuai SOP: buka tutup karburator yang menyerupai keong itu, teteskan bensin sedikit, tutup karburator dengan tangan kiri, starter, dan... jreeeeng! Nyala! Bensin langsung muncrat dari membran.

Langkah selanjutnya adalah; matikan mesin, tutup karburator kembali, starter lagi—aduh, hampir lupa, jok depan ketinggalan di luar—lalu langkah tegap maju, jalan. Kami pun tiba di pekarangan rumah menjelang pukul 2 pagi. Tidak ada yang kurang suatu apa kecuali tangan yang sedikit kotor dan berbau bensin. Namun, ini jauh lebih terhormat daripada tangan yang merampas hak orang lain dan korupsi meskipun bersih dan dan tidak bacin.


Empat Kilometer, Limabelas Menit, Banyak Kegalauan

Ini kisah perjalanan saya beberapa tahun yang lalu, kira-kira dua tahun yang lalu mungkin. Tanggal dan bulan persisnya saya lupa, lupa...