Pembaca

28 Desember 2025

Papasan di Tanjakan


Sepulang dari PP Sumber Bulu, saya kembali ke arah utara, kembali ke arah datang, yaitu Desa Klompang Timur. Saat bertamu, sempat  saya bertanya kepada tuan rumah, apakah sering ada truk atau pikap yang tidak kuat menanjak di tempat ini.

“Iya, sering, terutama kalau baru lewat di sini.”
“Betul.”
“Sekitar setengah tahun yang lalu saya juga mendengar ada truk pengangkut bata ringan mogok di sini, akhirnya harus dipindah ke pikap. Ya, jadi mahal, deh, biayanya.”

Hari itu, 26 Desember 2025, saya takziyah kepada keluarga PP Mambaul Ulum, takziyah untuk kepulangan Nyai Najihah ke alam baka. Saya terlambat karena karena waktu hari ke-5, saat saya mau singgah, saya lanjut dulu ke PP Cendana untuk hal yang sama, takziyah juga ke Nyai Ruqoyyah sekaligus Nyai Zainab lalu bermaksud takziyah kepada Nyai Najihah pada perjalanan pulangnya. Eh, ternyata, perjalanan pulang saya lewat di selatan (Kadur, Larangan), tidak kembali ke utara (Sumber Bulu). Maka, hari ini saya remidi, mengulanginya.

Saat mau pulang, dari parkiran, saya menoleh, melihat tanjakan yang ekstrim itu. Memang, lokasi pondok ini persis berada di ujung jalan menurun.  Ada rasa was-was namun sekelebatan saja. Maklum, jalan ini sudah biasa saya lalui sejak dulu, sejak dulu sekali, dan dengan Colt. Itu bukan masalah sama sekali. 
 
Ternyata, pengalaman yang saya alami kali ini mengungkapkan hal berbeda, yaitu bahwa pengetahuan mengemudi itu bukanlah semata-mata soal kemapuan kemampuan menginjak gas dan/atau menginjak rem, akselerasi dan deselerasi, namun juga harus tahu tata cara dan ‘adab’-nya. Aturannya, berpapasan di jalan menanjak itu mestinya yang datang dari arah atas-lah yang haruslah mengalah apabila jalannya sempit dan yang datang dari bawah adalah kendaraan bermuatan berat atau atau dalam kondisi darurat. Tidak perlu mencontek negara-negara berperadaban maju.

Saat saya menanjak, ada truk jungkit yang bermuatan penuh, bahkan kayaknya melebihi kapasitas (overloaded). Di belakangnya ada GranMax. Posisi saya yang terperosok serta dalam posisi menanjak plus kondisi kendaraan yang sudah tua tidak menumbuhkan empati pada sopir truk. Ia tetap berjalan turun. Setelah truk lewat, saya kasih lampu dua kali kedipan dengan harapan si GranMax tidak ikut turun.

Benar, GranMax berhenti ketika saya juga berhenti dalam posisi terperosok. Tapi, begitu tahu saya tidak segera berhasil naik, si GranMax langsung jalan lagi. Saat ia sudah lewat, saya berhasil naik dan menanjak. Dengan demikian, kedua kendaraan tadi tidak tahu nasib saya seperti apa setelah mereka lewat.

Sesampainya di jalan datar, saya katakan kepada istri saya bahwa begitulah sejatinya perilaku manusia. Seseorang tidak bisa dinilai saat ia tampil di layar ponsel atau saat berada di atas mihrab untuk khotbah, atau saat berceramah di atas podium. Semua itu bisa direkayasa. Perilaku sejati dapat dengan mudah dilihat saat mereka berinteraksi di jalan raya. Seperti apa perilakunya di jalan, ya, seperti itulah asli dan bawaan orang itu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Papasan di Tanjakan

Sepulang dari PP Sumber Bulu, saya kembali ke arah utara, kembali ke arah datang, yaitu Desa Klompang Timur. Saat bertamu, sempat  saya bert...