Mitsubishi Colt T-120 [Titosdupolo]
Pembaca
28 Desember 2025
Papasan di Tanjakan
05 Desember 2025
Rencana-Rencana di Luar Rencana
“Oreng bharas banni pas odi’, oreng sake’ banni pas mate”
Ucapan di atas dikutip oleh Kak Fadlil di hadapan Kiai Zuhri Zaini. Menurutnya, ucapan itu adalah perkataan Kiai Zuhri Zaini entah beberap tahun silam. Arti kata-kata kurang lebih; “orang yang sehat sediakala tidak berarti akan hidup normal dan demikian pula orang yang sakit belum tentu akan [segera] meninggal dunia”. Kiai Zuhri tersenyum pelan sebagaimana biasa.
Pagi itu, pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.30, kami ketibaan rezeki bisa sowan kepada pengasuh PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Kalau saya, sih, kira-kira dua bulan yang lalu sempat sowan, namun bagi Kak Fadlillah ini momen berharga. Pasalnya, menurut pengakuannya, ia sudah berniat sowan sejak beberapa tahun yang lalu tetapi selalu saja terjadi kendala. Kiai Zuhri bercerita bahwa ia adalah putra tengah dari Kiai Zaini Mun’im, menambahkan kisah bahwa kakak-kakak lelakinya serta adik-adiknya yang sudah berpulang duluan, menanggapi ‘curhat’ Kak Fadlillah tentang kewafatan istrinya yang tiba-tiba di tahun 2022 lalu saat dialah yang sebetulnya sedang sakit.
Petikan di atas adalah tentang rencana yang terkadang sudah kita persiapkan dengan matang lalu tidak terlaksana dan kita kecewa. Pada saat itu biasanya kita lupa bahwa pengetuk palu takdir adalah Allah, melupakan kata-kata manis “manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan” yang sering kita ucapkan pada saat kita melipur orang lain namun terlupa saat kekecewaan menghinggapi kita sendiri. Dan seperti ini pula yang sedang kami alami.
Pagi itu, rencana saya mengantar sowan Kak Fadlillah ke Kiai Zuhri gagal karena ternyata Kiai bepergian.
“Biasanya, kalau bawa mobil putih, beliau pergi agak jauh,” kata khadam. Kak Fadlillah agak kecewa mengingat rencana sowannya kepada Kiai sudah lama sekali, sudah 2 atau 3 tahun yang lalu tapi gagal melulu. Namun, entah bagaimana akhirnya muncul kabar susulan, bahwa Kiai hanya pergi ke Besuki dan diperkirakan pukul 10.00 sudah tiba kembali. Benar, semua terjadi sesuai perkiraan. Kami sowan kepada Kiai Zuhri dengan khidmat.
“Direncanakan berkali-kali malah gagal melulu, giliran kemarin sore diajak Sampeyan dan langsung berangkat malah bisa sowan dengan khidmat,” kata Kak Fadlillah kepada saya.
“Sebaliknya dengan saya,” balas saya kepadanya. “Acara di UNUJA ini saya atur tanggal 4 Desember supaya nanti malam bisa ke acara haul Kiai Sufyan di Situbondo, namun sepertinya saya gagal karena anak saya masih sakit.”
***
Tiba di wisma tamu, saya lihat ban depan kiri depan kurang angin. Cak Memet, yang saat ini bekerja di Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPES) Nurul Jadid mengantarkan saya ke biro umum, semacam bengkel pesantren. Saya kembalikan mobil ke parkiran lalu hadir ke acara BEM Universitas Nurul Jadid yang dilangsungkan di Aula 1. Acara bedah buku “Satu Bumi Dirusak Bersama” kali ini adalah yang pertama sejak buku ini terbit per awal Desember 2025. Panitia menghadirkan Dr Abu Khaer (sebagai pembanding) dan Ahmad Sahidah yang hadir sebagai undangan, mungkin sebagai penasehat atau entah apa namanya. Keduanya adalah dosen di UNUJA.
Acara usai dan hujan ternyata mengguyur deras. Saya pulang ke wisma tahu menggunakan payung dan mendapati keanehan beriktunya: ban kanan belakang yang sekarang gembos, padahal yang tadi ditambah anginnya adalah yang kiri depan. Drama berikutnya adalah demam anak saya bertambah hingga saya harus menggendongnya ke Klinik Azzainiyah, dipandu oleh Mas Itqon (dia juga yang mengupayakan penggantian ban serep, dikerjakan oleh sekelompok santri yang rela berhujan-hujanan, sungguh tampak heroik sekali mereka melakukannya. Saya berhutang budi dan terharu). Sementara itu, Mas Arif dan Mbak Maria Faradela serta beberapa teman BEM-nya tetap menunggu di wisma tamu sampai saya berpamitan menjelang azan Isya.
Seperti ditulis di atas, rencana-rencana banyak menyimpang dalam kesempatan kali ini. Sore itu, putri saya, Fatimah, yang sedianya mau ikut acara buku harus rela tidak hadir karena menjaga adiknya, Ahid. Rencana kami untuk hadir bersama ke acara haul Kiai Ahmad Sufyan di Panji Kidul pun gagal semua karena anak yang sakit tidak mungkin ditinggalkan dan tidak mungkin pula dibawa ke Situbondo. Yang paling mungkin adalah dibawa pulang segera ke Madura.
Setelah berjibaku melawan gerimis saat memasukkan barang-barang ke dalam mobil, akhirnya kami pulang. Pikiran masih dirundung kalut. Sisa BBM yang terakhir saya isi di SPBU Kaduara Barat ketika berangkat di malam Kamis sejumlah 25 liter itu sudah berada di strip bawah. Pandangan mata agak terganggu karena kurang tidur dan sinar lampu kendaraan yang putih tertelan oleh gelapnya aspal yang basah. Sembari mengingat bahwa pada saat itu sedang berlangsung haul Kiai Ahmad Sufyan Miftahul Arifin di Panji Kidul, saya berkirim Al Fatihah di balik kemudi.
Masuk SPBU Asembakor, pertalite kosong. Saya keluar dari SPBU dan masuk ke bengkel tambal ban yang berada di samping baratnya. Prosesnya lama karena saya antri di belakang truk dan mobil HRV sementara pekerjanya hanya seorang diri. Ia bilang kalau teman kerjanya izin karena demam. Salut, sang pekerja tunggal itu bekerja sangat cepat.
Saat mau menyalakan mesin, tiba-tiba dinamo starter tidak merespon. Ini jelas faktor kabel relay yang mungkin korsleting terkena percikan air ketika tadi melibas genangan yang agak banyak. Tidak perlu ‘ngolong’, yang tercepat di saat darurat adalah “dorooong!”. Dibantu tukang dan entah siapa lagi, mobil menyala setelah didorong. Anehnya, ketika saya mau pergantian sopir dengan Amak (dia naik dari Semampir, Kraksaan) di dekat pintu tol Gending, eh, starter berfungsi lagi. Kata saya di dalam hati: ‘Emang Colt ini kayaknya ngerjain saya, sengaja bikin malu dengan tidak menyala di tempat umum dan normal saja ketika berada di tempat yang sepi.’
Rencana lewat arteri dalam perjalanan pulang pun diubah. Kami lewat tol seperti saat berangkat. Gerimis, capek, ban gembos, korsleting elektrik adalah hal-hal yang membuat rencana berubah mendadak. Rute dibikin sama dengan ketika berangkat. 
Dalam perjalanan kemarin malam (malam Kamis, 3 Desember 2025), kami berangkat dari Pakamban pukul 22.00. Setelah menjemput Amak yang akan membantu saya dalam mengemudi, saya tetap pegang stir sampai ke pintu Tol Kejapanan.
Kak Fadlillah di kursi tengah bersama Ahid (anak ke-3) dan kursi belakang ditempati Sohib (anak ke-4). Amak ganti nyetir sampai di Masjid Siti Aminah al-Askar, Pajarakan, saat kami menunggu shalat Subuh dan Amak menunggu jemputan temannya.
Dalam perjalanan pulang, serah jabatan pengemudi, antara saya dengan Cak Amak terjadi di dekat Gerbang Tol Gending. Kak Fadlillah memang tidak mampu lagi menyetir malam karena alasan visibilitas. Daya lihatnya jauh berkurang di malam hari. Saya pindah ke jok tengah, tidur. Sementara Ahid di jok belakang dan Sohib di jok tengah bersama saya. Tiga kali si Ahid ini muntah dalam perjalanan pulang.
Bukan hanya rencana lewat arteri saja yang gagal, bahkan rencana beli kopi di Kafe Jungkir Balik Sidoarjo pun juga tidak jadi. Sempat, sih, saya diingatkan oleh Kak Fadlillah sewaktu posisi kami sudah masuk ruas tol Gempol – Perak.
“Bagaimana? Jadi mampir ke Jungkir Balik?”
“Lanjut saja!” kata saya setengah melek. “Saya tidak tahan ngantuk.”
Saya buka mata sebentar dan melihat jam di ponsel, pukul 23.46, ketika kami tiba dekat Tangkel. Kami tiba di rumah sekitar pukul 02.30 setelah menurunkan Amak di Pakamban. Dari Pakamban ke rumah, saya menjalankan mobil pelan saja karena terdengar bunyi aneh dari roda, mungkin kampas rem yang terlepas per-nya atau entah apa yang sampai tulisan ini selesai diketik masih belum saya apa-apakan. Mobil dan orangnya sama-sama capek setelah perjalanan pergi-pulang 600-an kilometer.
22 November 2025
Hadir Undangan ke Badridduja
![]() |
Trip 25-26 Oktober 2025
Menempuh perjalanan jauh sambil mengemudi mungkin biasa bagi sopir bis. Jarak 500 kilometer bahkan ada yang nyopir sendirian, baru 800 kilometer dibagi dua: sopir satu dan sopir dua. Kebiasaan dan ketangguhan membuat tubuh terlatih begitu dalam menjalani profesi berat ini, bahkan andaipun perjalanan dilakukan semalam suntuk.
Mengemudi sendirian adalah hal lain. Sekuat apa pun fisiknya, ada aturan 3 atau 4 jam harus rehat, baik sekadar memutus konsentrasi dengan duduk di teras masjid selama 10 menit, grounding (melepas alas kaki dan menyentuhkan telapaknya ke tanah secara langusng), maupun santai-santai saja sambil ngemil di tepi jalan. Intinya, yang disebut istirahat itu adalah berhenti sejenak atau lama.
Di usia 50 tahun, sementara usia mobil hanya selisih 5 tahun, yakni 45 tahun, saya tidak bisa melakukan penyetiran kendaraan secara langsung dan terus-menerus seperti 10 tahun yang lalu. Dulu, berani saja saya melanggar aturan 3 jam berhenti dengan mengemudi non-stop 9 jam kalau saja mau, misalnya. Saya memilih sikap hati-hati, mengendalikan tubuh lebih bugar demi keselamatan bersama. Dulu pun saya begitu, selalu rehat dalam perjalanan panjang.
Rencana menghadiri acara walimah Maisur putra Kiai Mustofa Badri bin Masduqi di PP Badridduja awalnya saya memilih AKAS IV tujuan Muncar jam terakhir yang basanya sampai di Kraksaan sebelum subuh. Rencana ini gagal. Rencana tinggal rencana dan berubah mendadak karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah faktor anak. Terpaksa saya mengeluarkgan Colt dari garasi untuk menganggkut empat orang ke sana.
Saya cek: ban kiri depan dalam kondisi tidak aman, tipis bagian luar bahkan sudah tampak benangnya. Maka saya memakai ban serep yang ternyata masih sangat baru meskipun usianya sudah lama, sudah hampir 4 tahun. Ganti ban, kencengin baut, cek tekanan angin, baru berangkat setelah shalat isya, pukul 19.30.
Setelah SPBU Kaduara Barat (yang sering disebut “SPBU Talang” padahal tidak terletak di Talang), saya singgah sejenak untuk beli cemilan dan lain-lain dan isi BBM. Kurang lebih 15 menit, saya berangkat lagi. Kondisi fisik terasa prima karena tidur siang sangat cukup.
Belum sampai kota Pamekasan, truk cabe Traga bikin emosi. Dia memotong mobil saya di Pasar Pagendingan, nyalip dalam kondisi mepet lalu menggunting ke kiri, tepat di depan saya dan tidak boleh tidak saya harus ngerem mendadak. Untung tidak sampai memaki di mulut, namun dalam hati saya tidak terima. Saya pun berdoa: “Ya, Allah, jika Engkau akan berikan rezeki sehat dan sempat kepada si sopir Traga, kasihkan saja itu ke saya duluan karena dia telah merampas hak saya di jalan, barusan! Biar dia belakangan saja mendapatkannya.”
Saya agak heran dengan mobil-mobil pengangkut cabe ini. Mengapa mereka cenderung
arogan, ya? Ngebut boleh, tapi jangan rusuh sama orang lain. Mengapa saya bilang “cenderung”? Ya, karena berkali-kali saya mengalami seperti itu. Di lampu merah Tambung saya menyalipnya dari kiri karena ia terjebak konvoi mobil di lampu merah sementara saya sedang dalam posisi versneling ke-3. Akan tetapi, namun di perempatan Baru Rambat, Kota Pamekasan, nah, dia bikin ulah lagi: menyalip persis saat di tikungan sehingga tentu saja ia melebar. Kalau saja saya tidak ngerem, pasti sudah adu kambing dengan kendaraan yang datang dari arah depan, dari selatan. Luar biasa IQ sopir ini! Luar biasa apanya, Pemirsa?
Saya hanya satu korban yang dirugikan. Kalau menilik cara mengemudinya, sepertinya ia selalu melakukan perbuatan onar seperti itu berkali-kali, bisa jadi per 5 menit atau bahkan kurang dari itu. Entah meggapa saya beranggapan seperti itu. Perasaan saya yang mengatakannya demikain setelah melihat cara mengemudinya saat membuntutinya dari belakang.
Kondosi seperti inilah yang sering membuat fisik menjadi lelah, bukan sekadar karena duduk lama dengan mata mendelik ke depan terus-menerus. Rasanya, energi terkuras banyak. Tenaga habis bukan ditelan kopling yang agak keras atau stir yang belum power steering. Emosi harus dijaga. Ia sering menghabiskan, bahkan bisa menghabisi. Ih, ngeri.
Saya masuk Jalan Kedung Cowek pukul 23.30. Hujan dan angin sangat deras sehingga saya harus berjalan sangat pelan saat posisi berada di atas Jembatan Suramadu. Memang, tidak ada peringatan bahaya. Jembatan masih dibuka, tapi saya berhati-hati saja.
“Aduh!” Saya berseru keras.
“Ada apa?” tanya istri spontan.
Sebelum saya menjawab, mobil yang mendadak bergoyang adalah jawabannya. Saya menabrak genangan air yang rata di semua permukaan jalan, persis setelah turun dari cause way jembatan. Kala itu, yang lebih menakutkan daripada aquaplaning (efek puntiran kemudi akibat menabrak genangan) adalah mesin mati. Hamdalah, mobil masih bisa berjalan normal dan tanpa adanya tanda-tanda ketersedatan. Artinya, delco aman, kondensor aman.
Saya segera menelpon Bemo, kawan saya, untuk menanyakan kondisi apakah jalan Soekarto-Hatta tergenang banjir. Mungkin karena sudah malam, dia mungkin sudah tidur, telepon tidak diangkat. Akhirnya, rencana diubah karena khawatir ada banjir di sana. Saya memilih masuk tol dari GT Dupak 3 saja.
Perjalanan lewat jalan Tol dari Dupak menuju Kejapanan dan Tol Gempol bahkan hingga Gending aman dan lancar saja. Saya mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata 85 - 90 km / jam. Walhasil, saya masuk lokasi PP Badridduja pada pukul 01.30, persis 6 jam dari rumah untuk rute 285 km.
* * *
Setelah usai acara siang, saya melanjutkan perjalanan ke PP Nurul Jadid untuk menyambangi anak perempuan yang mondok di sana. Sampai maghrib di sana, lalu kami pulang setelah shalat isya. Saya sempat istirahat sebentar di rumah Ustad Abdul Mannan, salah seorang kawan yang rumahnya persis berdampingan dengan rumah pengasuh PP Nurul Jadid daerah Al-Mawaddah. Istirahat 30 menit rasanya sudah puasa dan energi buat melek sampai tengah malam rasanya sudah cukup.
Dalam perjalanan pulang, saya menempuh rute yang sama persis. Durasi waktu dan kilometer pun sama. Semua rute dilalui dengan lancar tanpa kendala, tanpa ada hujan deras lagi.
Hamdalah, perjalanan kali ini seakan menjadi penanda bagi saya bahwa nyopir sendirian untuk rute agak jauh ternyata masih mampu, lebih-lebih menggunakan mobil yang kadang bikin cemas kalau sedang bret-bret-bret karburatornya. Selama kurang lebih 7 tahun terakhir, saya selalu mengemudi bersama saudara sepupu yang membantu mengganti stir manakala saya lelah. Akhir Agustus yang lalu (28-29 Agustus 2025), saya mencoba mengemudi engkel ke Jogjakata dan kini dicoba lagi ke Probolinggo, ternyata punggung saya masih mampu duduk lama dan mata saya masih kuat nanar menatap serbuan biled dan projie. Yang berubah hanya bagian betis, agak sedikit ngilu kalau terlalu lama duduk di kursi pengemudi sehiunga ketika turun dari mobil berasa linu-linu.
CATATAN: saya tidak mencatat BBM secara persis, namun berdasarkan biayanya (50 liter) untuk jarak 592 kilometer dan masih ada sedikit sisa, kira-kira konsumsinya adalah 1:12 lebih sedikit.
FOTO tidak ada sama sekali karena tidak bawa kamera dan tidak bawa HP pintar
Papasan di Tanjakan
Sepulang dari PP Sumber Bulu, saya kembali ke arah utara, kembali ke arah datang, yaitu Desa Klompang Timur. Saat bertamu, sempat saya bert...
-
Keluhan yang kerap dirasakan oleh pemilik colt T 120 adalah soal konsumsi bahan bakar. Mereka mengeluhkan ini karena soal boros. Mengapa? J...
-
Colt Gen-1, 1969, Wida Tri Bowo Colt T120 adalah varian produk Mitsubishi yang angka penjualannya—di kala itu—terbilang fenomenal....
-
Karena alasan ingin kondisi mesin colt T 120 lebih dingin, saya mengganti kipas radiator yang standar (5 daun), dengan kipas modifikasi 7...
