Pembaca

03 Oktober 2018

Mencari Harta Karun ke Ngalam



Memnag betul, tujuan utama kepergian saya ke Malang adalah untuk buku. Itu tema besarnya, yakni diskusi buku saya, Nyalasar, di arena bazar buku “Brawijaya Nyangking Buku” (FIB Universitas Brawijaya) dan di Kafe Pustaka di Universitas Negeri Malang. Kedua acara ini berdatum 1 Oktober 2018. Namun, ada sesuatu lain di balik cerita buku ini.

Sejak lama, saya memang ingin datang ke Kepanjen, ke Kedai Vespa tepatnya, kedai yang katanya  sering dibuat nyangkruk para penggemar kendaraan antik, terutama Vespa dan Colt T120. Kedai ini berada di seberang jalan Masjid Raya Kepanjen, Masjid Baiturrahman.  Jadi, kalau Anda cari tempat ini, tanpa GPS pun mudah ditemukan.

foto milik Pak Titho
Siang itu, saya diantar kawan Ali Gojek (yang untuk pertama kali saya kopdar di hari itu karena sebelumnya hanya berteman di media sosial). Heran dimulai darinya. Setelah turun dari sadelnya, dia sama sekali tidak mau dibayar. Dipaksa pun beliau tak mau. Saya tidak mengerti kok ada jenis tarif seperti ini, tarif geleng-geleng kepala. Waduh, ini kenikmatan bertubi-tubi setelah sebelum berangkat tadi dihajar pecel di rumah Bapak Sya’roni yang kediamannya arah timur daya Terminal Arjosari

Dalam perjalanan ke Kepanjen—yang jaraknya tidak saya ketahui sebelumnya kalau ternyata jauh sekali  [istilahnya “Malang tapi nyeberang laut”]—nyaris saja saya tertidur di atas sadel Supra 125-nya Mas Gojek karena tak tahan menahan kantuk. Maklum, dalam perjalanan ke Malang, saya tak dapat jarah kursi di bis AKAS karena penumpang membeludak. Begitu pula, perjalanan dari Surabaya ke Malang dengan PO Kalisari pun tak bisa tidur dengan pulas, dan hanya sekilas. Barangkali itu penyebabnya.

Setiba di kediaman Mas Wida, sungguh bahagia sekali dini karena pelindung bodi colt yang saya cari langsung didapat,  switch lampu kabin ada juga. Malah, Mas Wida ngasih saya flasher asli buatan Mitsubishi Jepun yang mungkin sudah tiada lagi di toko mana pun, bahkan termasuk di toko-toko suku cadang di sekitaran Tokyo dan Kyoto.  Yang lebih edan lagi, begitu saya mau bayar, Mas Wida juga tak mau. Kata dia, uang saya tidak laku di Malang. Heran, padahal, saya kan datang dari Madura dan Madura itu bagian dari Indonesia, kok bisa tidak laku? Lagi pula, yang saya serahkan itu kertas bernominal, uang sungguhan, bukan daun salam atau daun tembakau... heran deh

Singkat cerita, setelah mnenghabiskan soto, juga bertemu dengan Pak Titho dan Mas Yoyok dan menyelesaikan shalat duhur di musalla depan rumah Mas Wida, saya pun pamit pulang dengan keadaan sangat kenyang, baik secara lahir maupun batin. Terima kasih Mas Wida dan teman-teman Colt T120 (MRMC).

TAMBAHAN: sebetulnya, sepulang dari Kepanjen, saya langusng bergerak menuju ke Universitas Brawijaya bersama Mas Ali. Kejutan ternyata belum berakhir juga. Di UB, saya dikejutkan oleh seorang lelaki yang ternyata bernama Pak Yusuf R. Nah, Pak Yusuf ini adalah orang yang pertama kali—setidaknya yang saya tahu—memposting ceria seputar Colt T120 di blognya dan lantas menjadi trending, dikomentari ratusan orang. Itulah blog yang menjadi cikal-bakal lahirnya grup Colt di mailing list Yahoo! dan selanjutnya pindah ke Facebook.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Takziyah ke Wongsorejo

KAMIS, 2 NOVEMBER 2023  subuhan di Tanjung, Paiton  Rencana dan pelaksanaan perjalanan ke Wongsorejo, Banyuwangi, terbilang mendadak. Saya...