05 Mei 2011
Sekali Dorong, Dua-Tiga Kota Terlampaui
Ini catatan perjalanan yang lawas (11-14 Juli 2010), tetapi baru sempat saya naikkan sekarang.
* * *
“Jadi, kamu tetap mau bawa colt ke Jawa?” tanya ibu saya sambil menautkan alisnya, pagi itu.
“Iya. Memang kenapa?” Saya balik bertanya. Saya tahu, Ibu agak trauma dengan kondisi colt ini mengingat perjalanan ke Jawa dengan beliau sebelumnya sempat mogok beberapa kali. “Kan yang dulu itu kita berangkat tanpa cek kondisi kendaraan terlebih dulu, Bu,” Saya berdalih. “Perjalanan edisi kali ini tentu beda, Bu. Mobil sudah servis platina dan rodanya.” Saya memberikan penjelasan tanpa berpikir panjang, apakah ibu saya mengerti dengan penjelasan saya itu.
“Tidak takut mogok?” Ibu ragu. “Kamu bawa sendiri? Tidak ngajak sopir?”
“Tidak. Insya Allah saya bisa mengatasinya atasi sendiri.”
Pagi itu (Ahad, 11 Juli 2010), setelah berpamitan kepada ibu, saya berangkat. Bismillah. Jarum jam menunjuk angka sembilan lebih sekian. Sebetulnya, pagi itu tubuh saya sangat capek mengingat aktivitas semalam membuat tidur lebih larut dari seharusnya. Sehabis Isya’, setelah acara peringatan doa bersama 1000 hari wafat ayah, saya menghadiri undangan haflatul imtihan di desa sebelah. Tak sempat tuntas merampungkan acara, saya izin pamit kepada tuan rumah karena pada malam itu juga, satu acara lagi menunggu: diskusi epistemologi Islam bersama Dr. Samsuddin Arif dari International Islamic Universiuty (IIU), Malaysia, di aula Madrasah Aliyah Putri Annuqayah. Acara ini terpaksa dilangsungkan malam hari karena waktu yang serbamepet.
Saya menjalankan colt ini dengan perasaan yakin. Kholis di samping saya, dan Abdullah di kursi tengah. Sementara itu, saya duduk di belakang kemudi dengan angka odometer tertera 8853/4, sambil membayangkan angka-angka akan terus berputar pada kisaran 300 kilometer lebih langsung melahirkan sensasi yang berbeda. Kira-kira 45 menit perjalanan dari Guluk-Guluk, mobil transit sebentar di Bagandan (8889/8 KM) untuk menaikkan penumpang; istri dan anak saya, serta bibi dan ibu mertuanya yang hendak turut ke Jember.
“Mari, kalau sudah rampung, segera naik. Kita segera berangkat agar tidak terlalu malam tiba di Situbondo,” Saya mengajak mereka untuk bergegas. Sebetulnya, saya tidak dikejar waktu. Justru Abdullah-lah yang terburu-buru. Ya, malam nanti adalah malam final sepakbola World Cup 2010. Dia berharap, kami tiba di tempat tujuan akhir sebelum laga final pertandingan sepakbola tingkat dunia itu dilangsungkan.
“Ayo, ayo..”
Setelah mengisi penuh tangki bensin di SPBU “Violet” Tlanakan, saya mencatat odometer pada angka 8896/5 dengan uang BBM Rp 142.000 untuk 31,5 liter bensin. Mobil saya jalankan secara wajar.
Pada saat melintas di atas jembatan Suramadu, saya melirik odometer. “Hemm… 9002/5!”. Kalau dihitung, sudah lebih 100 kilometer mesin colt ini menderu tanpa henti.
“Ini perjalanan pertama saya dengan colt di siang hari. Wah, panas rasanya.” Tak terasa saya mengeluh, entah untuk siapa. Saya lirik di spion tengah, penumpang ajeg meskipun mungkin juga merasa kepanasan.
“Kalau jalan malam memang lebih enak. Jalan tidak macet dan suasana lebih dingin,” sahut sebuah suara dari belakang.
Begitu mobil hampir mencapai ujung jalan tol, saya bersiap menyalakan sein kanan menuju Porong. Saya melirik ke samping kiri (kepada Kholis) lalu membisik. “Saya trauma dengan Pasar Porong,” Saya pun bercerita kepadanya, bagaimana trauma itu muncul, yaitu karena sudah dua kali saya mengalami mogok di depan pasar Porong dalam setahun ini (ini dia kisahnya, juga ini)
Seolah-olah seperti cerita picisan dengan suspense-suspense murahan, kekhawatiran itu benar-benar terjadi.
“Kerrrr….. traaaattt….tatttata..tattat……”
Terdenganr bunyi aneh dari bawah jok depan.
“Astaghfirullah!”
Saya menepikan kendaraan, menetralkan perseneling dan menyalakan lampu hazard, lalu mematikan mesin. Tetapi, astaga. Mesin tidak mati, kunci kontak mendadak tidak berfungsi. Saya turun dan segera menekuk punggung untuk melihat barangkali ada sesuatu yang tersangkut di bawah mesin, dari sisi kanan dan kiri. Kholis pun juga turun untuk membantu melakukan pengecekan sumber bunyi. Kesimpulan: tidak ada apa-apa. Apakah tadi itu suara jin? Dugaan: ada korsleting pada dinamo stater. “Peduli amat. Ayo berangkat!”
* * *
Entah mengapa, siang itu jalan sangat ramai. Beberapa titik macet terjadi di daerah Raci. Mobil bergerak dari perseneling 1 ke 2, atau 2 ke 3. Kecepatan berkisar 30-40 km/jam, sungguh-sungguh membosankan. Akhirnya, saya memutuskan untuk shalat di sebuah masjid di daerah Gerongan, beberapa kilometer sebelum kota Pasuruan. Masjid ini memiliki keistimewaan letak, yakni berada di jalan yang menurun. Kalau nanti saya matikan mesin secara paksa (memasukkan perseneling, melepas kopling, sambil menginjak rem), mudah untuk menghidupkannya lagi. Dorong sedikit dan biarkan menggelinding.
Betul, ternyata kontak tetap tidak berfungsi. Sementara yang lain sholat, saya sibuk membuka jok (bukan kap; karena ini Colt-T, bukan Fortuner) mengecek kondisi ban kipas dan kabel, mungkin ada yang bermasalah. Tak ada. Saya tambah yakin, masalah ini adalah masalah kelistrikan pada dinamo stater dan sekitarnya.
Semua selesai berkemas. Meskipun lapar, saya mengganjal perut hanya dengan semangkok bakso karena selera sudah habis oleh bayangan “mendorong mobil di masa depan”. Brum… mobil didorong sedikit langsung menyala, bergerak, lancar, sampai di Probolinggo. Di sana, kami menurunkan bibi dan mertuanya yang menunggu bis untuk membawanya ke Jember. Perjalanan colt berlanjut ke Situbondo.
Odometer menunjukkan angka 9197/4 di SPBU Suboh. Isi penuh Rp. 122.000. Seperti sudah diduga, mobil harus didorong untuk meninggalkan SPBU itu karena petugas pompa menolak kalau saya tetap menyalakan mesin pada saat mengisi BBM. Dari Suboh, jalanan mulai sepi. Hari telah masuk waktu Maghrib. Dengan kecepatan 80-90 km/jam, begitu cepat rasanya tiba-tiba saya sudah memarkir kendaraan di rumah Paman Sibaweh, Widuri, Asembagus pada odo 9265/4 di pukul 19.25 WIB.
Sejauh 400-an kilometer perjalanan etape pertama telah selesai. Besok dilanjutkan. Hidangan kopi panas mengendorkan saraf-saraf yang tegang selama berjam-jam. Saat itu, yang saya pikirkan hanyalah bantal untuk tidur, bukan piala dunia FIFA dan tim mana yang harus memenangkan pertandingan, Spanyol ataukah Belanda.
Senin, 12 Juli 2010
Pagi itu, jadwal saya adalah mengantarkan Kholis pulang ke rumahnya di Galekan, Sidodadi, Wongsorejo (Kab.Banyuwangi). Karena harus melewati hutan Baluran, dengan bantuan Pak Imron, saya merasa penting untuk mengecek lebih dulu kondisi kelistrikan dinamo stater. Ternyata betul, ada gejala ketidakberesan instalasi kabel. Setelah selesai, saya mengajak Pak Imron untuk menemani kami pergi ke Banyuwangi. Meskipun dinamo telah diperbaiki, namun rasa cemas tetap bergelayut. Tidak terbayangkan andaikan mogok atau pecah ban di tengah hutan sepanjang 23 kilometer itu: tak ada montir, tak ada bengkel tambal ban.
“Pak, mari ikut kami ke Wongsorejo. Sampeyan duduk saja. Saya yang nyetir.”
Pak Imron tersenyum, “Yakin. Sudah beres kok dinamonya.”
“Lha, iya. Tapi, kalau pecah ban di tengah alas, bagaimana?”
Pak Imron (yang baru saya kenal pagi itu) mengangguk tanda setuju.
Perjalanan pergi-pulang hari itu saya lalui tanpa masalah sama sekali. Alhamdulillah. Jalan mulus dan lebar lengkap dengan pelengsengan yang baru membuat perjalanan ke rumah Kholis sangat menyenangkan. Mengemudi di jalan yang berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan, di antara hutan jati dan rerimbun di sana sini, sangatlah mengasyikkan.
Sepulang dari rumah Kholis, sehabis shalat ashar, kami berpamitan kepada Paman Sibaweh, pulang meninggalakan Widuri menuju Arjasa untuk selanjutnya menempuh perjalanan ke Panji Kidul demi mengikuti pengajian Malam Selasa di ndalem Kiai Sufyan. Nah, dalam perjalanan ke Situbondo ini, saat masuk pompa bensin, tiba-tiba dinamo stater bermasalah lagi. Astaga! (kisah ini saya tulis terpisah di sini. Silakan disimak).
Selasa, 13 Juli 2010
Bagun sepagi sudah saya rencanakan sejak semalam. Pukul 5 pagi kami meninggalkan Panji Kidul menuju Jember. Ruas jalan Situbondo-Bondowoso masih relatif sepi. Saya mematikan lampu fog saat masuk daerah Prajekan, hari mulai siang. Tapi dari Bondowoso ke Jember, jalan mulai padat. Anak berseragam SMA dan bapak-ibu yang hendak pergi ke kantor memenuhi lajur di kanan-kiri.
Kami tiba di Dukuh Mencek, rumah sepupu, dan bertemu dengan rombongan yang datang dari Madura sekitar pukul tujuh lewat tigapuluh. Ya, acara kami datang ke Jember kali ini adalah untuk menghadiri undangan walimah putra dari Pak Sef (alias Pak Munir alias Pak Saifullah) di Sumbersari.
Setelah isritahat, sehabis shalat Duhur di rumah Alwalid, berangkatlah iring-iringan mobil menuju tempat walimah dilangsungkan, di daerah Sumbersari. Acara berlangsung meriah. Tuan rumah berbagia. Pak Sef menyambut kami luar biasa. Pak Sef merupakan saudara jauh kami yang baru saja tahu ikatan kesaudaraan dalam bulan-bulan terakhir ini. Acara kecil tetapi cukup hangat ini akhirnya selesai setelah ashar.
Berbedea dengan rombongan dari Madura yang naik Kijang yang pulang lebih dulu karena bermaksud melaksanakan shalat Duhur-Ashar di daerah Tanggul, rombongan kami terlebih dulu bershalat di rumah si sepupu itu. Kami baru pulang pada pukul sekitar 16.30-an. Jadi aneh, saat akan berangkat, mobil normal kembali ketika distater. Colt berjalan tanpa ada gejala korsleting. Begitu pun ketika saya mengisi bensin penuh di SPBU Bangsalsari pada odo 9525, dinamo stater tetap normal. Aman.
Colt “Titos du Polo” ini bergerak cepat, menembus rembang petang yang turun menyambut Maghrib. Saya mengikat janji dengan Paman Naqib yang hendak menitipkan kardus-kardus berisi jeruk dan ransum lainnya, di alun-alun kota Tanggul. Cara ini akan mengurangi beban bawaan si paman yang hendak pulang ke Madura, besok, dengan naik bis. Barang dinaikkan ke mobil yang saya biarkan tetap menyala karena khawatir dinamo stater kumat lagi. Berangkat. Gas pada gigi satu rasanya harus diinjak lebih dalam agar mampu menarik beban yang berjibun ini.
Selepas Tanggul, mobil menyusuri jalan di tepi sungai Bondoyudo yang lebar dan lurus. Pemandangan indah terhampar di depan. Saya pasang mata secara awas, karena satu lagi ikatan janji dengan bibi yang akan pulang kembali ke Madura. Beliau bilang akan mencegat saya di daerah Batuurip, selepas tikungan setelah jembatan. Tidak ada GPS, tidak ada titik latitud. Di manakah tempat itu?
Mobil saya pelankan begitu melihat aba-aba ada orang menggubit (memanggil-manggil sambil melambaikan tangan) di kejauhan, di muka. Saya menepikan kendaraan, turun dari aspal, membuka pintu dan menyambut. Namun, kaget bukan alang-kepalang ketika saya melihat seorang lelaki tua memanggul “sahara”, sebuah koper yang besar luar biasa. Dia menyeberang jalan, mendekati saya.
“Ini bawaan bibi, Pak?”
Orang itu mengangguk.
Dug!
“Bagaimana mungkin koper raksasa ini dimasukkan ke dalam mobil yang sudah penuh dengan barang bawaan?” Saya membatin.
“Ini mau dibawa pulang, Bi?” tanyaku pada bibi, melakukan konfirmasi.
“Iya. Emang kenapa? Tanya bibiku. “Tidak cukup, ya? Kalau tidak cukup, tidak apa-apa.”
“Ya, cukup sih cukup, asalkan panjenengan mau duduk terjepit di kursi paling belakang.
“Oh, ya, tidak apa-apa. Tidak masalah.”
“Sahara dimasukkan, dan bibiku duduk desak-desakan bersama tumpukan barang.
Mobil masuk daerah Banyuputih pada saat Maghrib dan jalan padat merayap. Arus pergerakan lalu lintas ke arah Surabaya petang itu sangatlah membosankan. Mobil bergerak sangat lamban. Barangkali, jembatan rusak di Kedung Jajang, sekitar 5 kilometer setelah Klakah, menjadi salah satu penyebabnya. Bagaimana pun, untuk bermanuver, menyalip satu demi satu deretan truk dan kendaraan berat yang lain sulit dilakukan karena tenaga sudah banyak terkuras oleh muatan yang menggunung. Arus lalu lintas padat merayap hingga Ranuyoso.
Demikian pula, aktivitas kendaraan ke arah barat Probolinggo pun semakin ramai. Maunya, kami istirahat di Masjid Tongas. Namun karena ketika itu saya melihat areal parkir masjid sangat rapat, menciutlah nyali saya. Mobil saya ajak menderu ke arah barat, melintasi Nguling, dan seterusnya sampai Pasuruan. Saya sadar, karena colt ini bukanlah angkutan umum yang mengutamakan tepat waktu, juga demi menjaga keamanan berkendara karena daya penglihatan mata sudah sangat berkurang, colt berikut seluruh penumpang saya istirahatkan di sebuah masjid kota Pasuruan. Setelah shalat Maghrib-Isya, makan, tidurlah saya sampai pulas: hampir dua jam tidur pulas sepulas-pulasnya.
* * *
Saya bangun kira-kira pukul 22.40. Mobil distater tapi tidak merespon, kumat lagi. Ya, apa boleh buat: didoronglah. Mobil pun berjalan. Sambil lalu, saya meminta bantuan Abdullah untuk mengirim SMS, bertanya kepada sopir Kijang yang mungkin ketika itu sudah berada di tanah Madura, menanyakan di mana letak SPBU yang buka 24 jam di Madura. Dia membalas SMS begini: “Pom Baranta dan Larangan Tokol” (Pamekasan). Berdasarkan jawaban ini, demi menjagi rasa aman, saya isi penuh kembali colt T ini di SPBU Raci, stasiun pengisian bahan bakar yang berada di tikungan, beberapa kilometer sebelum masuk bunderan Gempol. Odometer menunjuk angka 9674 dan bensin habis 67.000. Dengan data ini, kesimpulan dihasilkan: konsumsi bensin rata-rata di jalan macet adalah 1:10.
Karena mata sudah berbinar dan jalan serlah lapang di depan, sekarang saya menjalankan kendaraan tanpa was-was lagi, meskipun rasa khawatir sempat mengganggu begitu masuk area Lapindo, deg-degan karena teringat peristiwa-peristiwa mogok di “zona menakutkan” ini. Hingga saya melintasi Suramadu tengah malam, perasaan sudah senang karena lebih kurang tiga jam-an lagi kami akan tiba di rumah.
Para penumpang telah tidur. Mereka jelas capek. Musik saya bunyikan lebih keras dari audio player untuk melawan kantuk. Demikianlah, akhirnya, kami masuk pekarangan rumah sekitar jam 3 dini hari. Meskipun capek, saya bertahan jaga sampai adzan subuh berkumandang. Setelah shalat Subuh dua rakaat, berdoa dan bersyukur telah pulang dalam keadaan selamat, kini saya meneruskan perjalanan di atas tempat tidur.
Label: catatan perjalanan, mogok, Tips dan Trik

11 Comments:
colt memang raja jalanan bos.......colt ku 1977 udah 10 PP solo - metro.........
Son: mantaap sekali. Emang jgo dan mudah perawtannya....
Tahun 2010 colt ini 6 kali ke tanah jawa. tapi tahun 2011 masih baru sekali ke Malang...
Kalo ke malang mampir lah di gubug kontraktor ane kak..
dudi: senang atas tawaran ini. makasih, Sam.bulan lalu colt saya dipinjam bibi ke malang, entah daerah mana.
nice story.... thanks for sharing :)
Titos du Polo.. biar KONA tapi KOko paraNA.. :)
@B1nz: terima kasih banyk sudah memberikan apresiasi. Saya masih punya catatan perjalanan sisa zaman dulu, "Ke Jakarta Naik Hiace". Tunggu tanggal mainnya...he..he.
@Cinta: Koko Parana = sangat kokoh dan murah meriah
Kisah menarik,
Membuat saya PD untuk tour-de-sumatera-jawa dg colt T ini
terima kasih telah membaca posting ini, Mas Baihaqi
cerita yg inspiratif...membawa kenangan sy ke th 80 -an dimana pd saat itu bapak sy punya titos du polo (pertamanya kirain "judul" mobil buatan perancis.....hahahaha) yg digunakan sbg mbl keluarga...dan benar kata anda klo T 120 nggak pernah bebas dari "cegat-an" penumpang...makanya klo pas ngelencer ma keluarga kebetulan msh ada sisa kursi kosong ya sekalian ngangkut penumpang...lumayan buat tambah-2 duit jajan.....hahahaha. Jempol deh pak... klo ke madura insyaallah sy mampir...pengin menikmati kopi madura sambil liat tongkrongan asli si "TITOS DU POLO"...hehehe, boleh kan pak ?
@Iwan: wah, bagus kalau begitu, sama-sama punya kenangan yang sama. Iya, saya memang kadang mendengar nama Titos ini kok jadi mirip dengan bahasa Portugal - Spanyol, ya. haha... Silakan kalau mampir. Siap...
Poskan Komentar
<< Home