Ambil kesempatan jika ada kesempatan, tidak menunggu waktu sempit untuk ambil kesempatan. Jika tidak ada, ciptakan kesempatan.
Itulah yang saya gunakan sewaktu ada acara Bismania di Mall Balekota Tangerang. Sehabis acara, saya tidak langsung pulang ke Madura, melainkan merencanakan tandang ke Balaraja dan Cikupa. Rencana ini sudah saya agendakan jauh hari sebelum saya berangkat.
Malam itu, saya dijemput Pak Bambang Fidelis ke lokasi. Jarak dari lokasi acara ke rumah beliau di Cikupa jauh sekali, sekitar 22 kilometer. Jarak ini dekat bagi orang dusun, tapi jauh sekali jika ditempuh di kota yang padat kendaraan bahkan walaupun sudah malam. Malam Minggu saya pun menginap di rumah beliau, di Perum Citra Raya.
Besok paginya, Minggu, 17 Mei 2026, saya diajaknya ke bengkel pribadinya di Balaraja, di Kampung Cariu, Talangsari. Jarak perjalanan kali ini setengah dari yang tadi malam, yaitu 11 kilometer. Siang itu, di "Gubuk Otak Atik", rumah Pak Bambang di Balaraja, kami bertemu dengan Mas Akbar yang datang jauh-jauh dari Bandung. Ada juga Pak Marhan yang datang dari Mauk, dekat laut. Tentu saja, setelah makan siang, kami tidak segera bubar karena janji bertemu dengan rekan-rekan Colt yang lain di rumah Pak Broto akan dilaksanakan sore hari. Sambil menunggu waktu tiba, kami ngobrol ngalor-ngidul. Segala macam dibahas, dari yang receh sampai yang serius, termasuk tema seputar rencana-rencana jangka panjang, juga touring atau rencana persahabatan lainnya. Soal bensin boros dan mesin yang panas tidak masuk ke dalam diskusi karena ia terlalu sering muncul sebagai topik di grup Colt.
Setelah Ashar berkumandang, pergilah kami ke Perumahan Citra Raya, tepatnya ke kediaman Pak Broto: Dalem Broto 2. Saya ikut mobil Akbar Rizal. Dalam perjalanan, dia bercerita macam-macam, termasuk rencananya untuk pergi ke Kilometer Nol di Pulau Weh, Sabang. Mobil yang dikendarainya tersebut terbilang legend. Sepanjang jalan kami berbincang. Konon, dia membelinya dari seseorang yang telah mengepung garasinya dengan tembok di segala penjuru. Akbar Rizal berhasil merayu si empunya agar melepasnya hingga akhirnya mobil tersebuh berpindah tangan kepada dirinya.
Dalam pada itu, sembari menunggu yang lain datang, saya berkesempatan melihat langsung mobil Delica milik Pak Broto yang berpelat merah, L-Surabaya. Mobilnya klasik sekali dan tentu saja ini built up karena ia eks BKKBN (Sebagaimana tertera dalam STNKB-nya). Pintunya sistem geser dan kaca sampingnya lebih kecil, mirip punya APV. Hingga akhirnya, kami bertemu dengan kawan-kawan yang lain di rumah Pak Broto yang asri itu. Letaknya di pojokan komplek. Tidak disangka, banyak sekali yang datang dari teman-teman Colt Mania Tangerang dan Jabodetabek, bahkan ada yang datang dari Bekasi. Obrolan berlangsung gayeng sampai malam.
Tidak terhitung berapa gelas kopi diminum dan berapa potong cemilan telah dimakan. Obrolan hanya terpotong waktu shalat Maghrib. Selanjutnya, kami bicara macam-macam di sana, termasuk rencana untuk mengadakan silaturahmi nasional yang akan mengundang teman-teman Colt dari berbagai penjuru. Yang harus dipersiapkan tentu saja rencana yang matang mengingat acara besar butuh tak sekadar dana yang besar, melainkan juga tempat yang luas namun mudah dijangkau. Maka dari itu, perlu rapat berulang-ulang sebelum pelaksanaan.
Acara di rumah Pak Broto berakhir sampai saya lupa mengecek jam berapanya, mungkin sekitar 22.00 atau lebih. Yang jelas, kami berhenti karena sudah tidak menemukan tema lagi yang akan kami gosipkan. Capek, sih, enggak, cuman karena memang sudah dianggap selesai saja, ha, ha, ha.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar