13 September 2011

Colt Angkutan Lebaran



Setiap hari lebaran, saya selalu cabis (sowan) ke rumah mertua di Pamekasan. Jarak dari rumah saya ke Pamekasan ini kira-kira 33 kilometer. Namun, di tengah perjalanan, kami mesti mampir di rumah bibi, di desa Montok (memang begini nama desanya). Penumpang penuh dan bawaan biasanya juga berjibun.

Nah, dari Montok ini, kami melanjutkan perjalanan ke Pamekasan, pergi bersilaturrahmi pada keluarga di sana.







Label: ,

3 Comments:

Blogger Edi Winarno said...

Lebaran kemarin, di Jember saya sempat naik 'taksi' jenis ini. Mudik tanpa membawa R2 memang repot. Sementara, mbakyu saya yang biasa saya pakai motornya ketika njung-unjung pada lebaran begini, belum mudik dari Bali. Jadinya langkah saya menjadi kurang lincah. Untuk ke famili di desa sebelah saja, saya harus naik 'taksi'. Lama tak naik angkutan model begini, saya buta tentang tarifnya. "1000," kata emak ketika saya tanya.
Maka, saya siapkan uang 3000 untuk 3 orang; Saya, istri saya dan si sulung. Karena si bungsu masih digendong.
"Kurang," kata si kernet. "Kena tarip lebaran."
"Berapa?"
"9000."
Buh, tiga kali lipat!

26 September 2011 11:19 
Blogger M. Faizi said...

tarip itu mungkin saja bukan karena tueslag, tetapi karena sebagai ongkos nostalgia

26 September 2011 12:36 
Blogger Titos du Polo said...

tarip lebaran yang penuh cinta dan nostalgia itu, kang Karib

26 September 2011 12:37 

Poskan Komentar

<< Home