Pembaca

09 Juli 2026

Tiga T: Tilik, Takziyah, Tes

“Takziyah ke mertuanya-pamannya-Ifa….,” jawab Ibu begitu saya bertanya kepada siapakah saya akan pergi takziyah.



Secara rangkaian hubungan kekeluargaan, tujuan rumah duka ini sudah jauh. Bayangkan saja! Ifa ini ipar saya dan dia punya paman. Nah, si paman punya mertua. Saya akan takziyah ke orang di urutan terakhir ini. Sudah jauh, bukan? Dalam kultur keluarga kami, hal semacam ini bisa saja terjadi karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah adanya perawatan hubungan sosial yang meskipun itu sudah ‘sangat jauh’ namun seringkali terhubung. Kebetulan juga, secara letak, rumah duka ini bertempat di Sumur Duko yang secara jarak juga jauh dari rumah saya, sekitar 55 kilometer.

Hari kawafatan Kiai Hasan Damiri sudah lama. Takziyah ini sudah telat karena baru hari ini ada kesempatan pergi ke sana. Alasannya adalah; pertama, hari ini kebetulan saya lowong, dan kedua; ada urusan sambang silaturahmi ke rumah keluarga lainnya yang letaknya tak jauh dari rumah duka, ketiga; ngetes pemasangan delco yang sudah lama saya copot dan baru saja diservis ulang oleh Mas Benta, delco modifikasi CDI Eterna.

Omong-omong, saya suka utak-atik kendaraan Colt T120. CDI Eterna ini sebelumnya pernah saya pakai di tahun 2020-2021. Karena kurang greget di tanjakan, akhirnya saya lepas dan saya ganti dengan TCI. Lalu, lama-kelamaan saya bosan dan saya ubah menggunakan platina kembali. Terakhir, saya menggunakan pengapian elektrik dari XP Power dari Pak Bambang. Sementara sudah bisa disebut enak. Namanya iseng, menggunakan CDI adalah coba-coba kembali setelah diperbaiki beberapa kompartemennya oleh Mas Benta yang katanya akan lebih asoy lagi.

Oleh sebab itu, demi pengujian, saya tidak melewati jalan yang sepenuhnya lurus dan normal, misalnya lewat jalan Nasional. Saya memilih jalan kelas kolektor dan residental yang bervariasi: ada jalan lurus, banyak tanjakan, dan juga penuh tikungan. Saya akan menguji, seberapa kuat tenaga CDI ini. Untuk rute berangkat, saya menempuh jalur; rumah, Bandungan, Pagantenan, Blumbungan, Angsana, Bugih (Pintu Gerbang - Dirgahayu), Proppo, Omben, Sumur Duko. Total jarak 60 km. Pulang dari Sumur Duko saya ke utara, melewati pertigaan Angsana Tlambah, terus ke Pagantenan, lewat Konyileh, tembus Pagantenan, lalu ke Bandungan menuju rumah. Jaraknya lebih pendek, yaitu 52 km.



Sebelum pergi takziyah, saya tilik bayi dulu. Bayi ini adalah keponakan istri saya di satu sisi, namun adik di jalur yang lain. Ayah si bayi adalah sepupu istri saya sedangkan ibunya adalah “bibi 4 x sepupu” bagi saya karena dia adalah “4 x sepupu” ibu saya. Dari satu Embah Wareng, sang ibu merupakan keturunan keempat sebagaimana begitu juga dengan ibu saya. Begini urutannya:  
Bayi(5) – Nuril Izzah(4) – Fathurrahman(3) – Ali Wafa(2) – Abdul Majid(1) – RUHAM
Saya(5) – Wardah(4) – Arifah(3) – Shofiyah(2) – Munawwar(1) – RUHAM.
Hubungan kekerabatan seperti ini masih sangat hidup dalam tradisi sosial di Madura. Salah satu penyebabnya mungkin karena adanya banyak pertemuan bani-bani yang terkadang membuat satu keturunan bani tersambung antara embah wareng (atau bahkan di atasnya lagi) yang satu keturunan bani yang lain.
 
Walhasil, perjalanan berangkat dari rumah pukul 07.00 bisa tiba kembali setelah azan Duhur. Kesimpulannya saya telah merasakan nyamannya CDI Eterna. Mungkin masih perlu setel sedikit lagi agar ketemu ‘nikmat’-nya. Maklum, karena saya bukan bengkel dan hanya modal pengalaman otomotif yang cetek, yang dapat saya rasakan adalah nyaman saja, belum sampai ke level nikmat yang itu butuh ‘roso’. Sampai nanti saya bosan, bisa jadi ia akan kembali ke setingan asal, yaitu platina. Gonta-ganti pengapian seperti ini bukan hal baru bagi saya, bahkan sejak awal punya Colt di tahun 2008, saya sudah pernah pakai CDI Flash dari Bapak Tamrin Ishak.

06 Juli 2026

Menyowankan Mobil

Sowan untuk memperkenalkan sesuatu kepada orang lain yang dituakan itu normal dan kaprah di Madura. Entah di tempat yang lain. Memang di Madura itu unik. Banyak kejadian yang dianggap tidak kaprah (atau setidaknya jarang-jarang) di tempat lain namun normal saja di Madura. Salah satunya adalah membawa sowan atau menyowankan sesuatu. Umumnya, yang diajak sowan itu anak, tapi kali ini adalah Colt T120.


Dua bersaudara dan satu keponakan ini datang ke saya untuk menyowankan Colt-nya. Mereka datang untuk memperkenalkan mobil yang baru dibeli. Bukan Alphard atau Palisade, meliankan mobil tua yang kebetulan mirip dengan milik saya.


Begitulah keunikan yang dimaksud.

30 Mei 2026

Silaturahmi ke Pordapor

Tidak terhitung kali saya berkunjung  ke PP Raudatul Ulum, Mengkaan atau Lamojang, satu dari tiga daerah penghasil tembakau linting terbaik di Madura. Pondok pesantren dan lembaga pendidikan ini terletak di desa Pordapor, kira-kira 6 kilometer arah barat rumah saya. Biasanya, di setiap acara Haflah Akhir Sanah, saya diundang Kiai Dalil Muntaha dan saudaranya, Kiai Anwar, untuk menemani Kiai Hasbullah bin Muhammad Syamsul Arifin yang selalu rawuh pada acara penutupannya.

Akan tetapi, sejauh ini, saya sama sekali tidak pernah bertamu ke rumah iparnya, Kiai Baqir Khairuddin, meskipun beliaulah yang biasanya menjadi penyambut tamu. Setiap tahun, sekurang-kurangnya, saya bertemu beliau di acara haflah. Selebihnya, terkadang saya berjumpa dengan beliau dalam acara walimah, maulid, atau acara lainnya di sekitar sekitar desa itu. Putranya, Warid—yang ngurus Colt ini—menemani kami berbincang di langgar kayunya. 



Hari ini, 30 Mei 2026, saya bertandang ke rumahnya. Ini adalah laga tandang yang perdana. Pemantiknya tentu saja adalah Colt T120. Berkat beliau membeli Colt berwarna hitam tersebut beberapa waktu yang lalu, saya pun terpantik untuk datang, melihat mobilnya dari dekat. Terasa sekali bagi saya bahwa punya Colt bukan sekadar punya kendaraan, tapi punya alat silaturahmi. Ia bisa mengantarkan saya pada hubungan yang lebih baik dari sekadar mobil roda empat semata.

Dalam pada itu, terjadilah obrolan macam-macam seputar Colt. Sebagai orang yang telah hampir 20 tahun mengendarai Colt, tentu saja mereka mengulik banyak informasi tentang mesin, pengapian, perkabelan, kelistrikan, dan tentu saja soal panas mesin dan keborosannya. Suka cita menjadi satu dalam ikatan silaturahmi, dipungkasi dengan makan siang dengan sayur kelor, cakalan goreng, dan lauk-pauk yang lainnya. Di terik siang yang panas itu, surga terasa tak begitu jauh tempatnya. Colt hanya wahana. Silaturahmi di atas itu semua.
 




Tiga T: Tilik, Takziyah, Tes

“Takziyah ke mertuanya-pamannya-Ifa….,” jawab Ibu begitu saya bertanya kepada siapakah saya akan pergi takziyah. Secara rangkaian hubungan k...