Pembaca

30 Mei 2026

Silaturahmi ke Pordapor

Tidak terhitung kali saya berkunjung  ke PP Raudatul Ulum, Mengkaan atau Lamojang, satu dari tiga daerah penghasil tembakau linting terbaik di Madura. Pondok pesantren dan lembaga pendidikan ini terletak di desa Pordapor, kira-kira 6 kilometer arah barat rumah saya. Biasanya, di setiap acara Haflah Akhir Sanah, saya diundang Kiai Dalil Muntaha dan saudaranya, Kiai Anwar, untuk menemani Kiai Hasbullah bin Muhammad Syamsul Arifin yang selalu rawuh pada acara penutupannya.

Akan tetapi, sejauh ini, saya sama sekali tidak pernah bertamu ke rumah iparnya, Kiai Baqir Khairuddin, meskipun beliaulah yang biasanya menjadi penyambut tamu. Setiap tahun, sekurang-kurangnya, saya bertemu beliau di acara haflah. Selebihnya, terkadang saya berjumpa dengan beliau dalam acara walimah, maulid, atau acara lainnya di sekitar sekitar desa itu. Putranya, Warid—yang ngurus Colt ini—menemani kami berbincang di langgar kayunya. 



Hari ini, 30 Mei 2026, saya bertandang ke rumahnya. Ini adalah laga tandang yang perdana. Pemantiknya tentu saja adalah Colt T120. Berkat beliau membeli Colt berwarna hitam tersebut beberapa waktu yang lalu, saya pun terpantik untuk datang, melihat mobilnya dari dekat. Terasa sekali bagi saya bahwa punya Colt bukan sekadar punya kendaraan, tapi punya alat silaturahmi. Ia bisa mengantarkan saya pada hubungan yang lebih baik dari sekadar mobil roda empat semata.

Dalam pada itu, terjadilah obrolan macam-macam seputar Colt. Sebagai orang yang telah hampir 20 tahun mengendarai Colt, tentu saja mereka mengulik banyak informasi tentang mesin, pengapian, perkabelan, kelistrikan, dan tentu saja soal panas mesin dan keborosannya. Suka cita menjadi satu dalam ikatan silaturahmi, dipungkasi dengan makan siang dengan sayur kelor, cakalan goreng, dan lauk-pauk yang lainnya. Di terik siang yang panas itu, surga terasa tak begitu jauh tempatnya. Colt hanya wahana. Silaturahmi di atas itu semua.
 




19 Mei 2026

Silaturahmi Colt Mania di Tangerang

Ambil kesempatan dalam kesempatan, tidak menunggu waktu sempit untuk ambil kesempatan. Itulah yang saya gunakan sewaktu ada acara Bismania di Mall Balekota Tangerang. Saya dijemput Pak Bambang dan saya pun menginap di rumah beliau.

Besok paginya, Minggu, 17 Mei 2026, saya diajaknya ke bengkel pribadinya di Balaraja, di Kampung Cariu, Talangsari. Siang itu, kami bertemu dengan Mas Akbar yang datang dari Bandung dan Pak Marhan. Tentu saja, setelah makan siang, kami tidak segera bubar karena janji bertemu di rumah Pak Broto akan dilaksanakan sore hari. Sambil menunggu waktu tiba, kami ngobrol ngalor-ngidul. Apalagi temanya kalau bukan rencana-rencana touring atau rencana persahabatan lainnya. Soal bensin boros dan mesin yang panas sudah selesai pembahasan itu di grup Colt.

Setelah Ashar berkumandang, pergilah kami ke Perumahan Citra Raya, tepatnya ke rumah Pak Broto: Dalem Broto 2. Saya ikut mobil Akbar Rizal. Dalam perjalanan, dia bercerita macam-macam, termasuk rencananya untuk pergi ke Kilometer Nol di Pulau Weh, Sabang. Mobilyang dikendarainya ini legend. Ini membelinya dari seseorang yang telah mengepung garasinya dengan tembok di segala penjuru. Akbar Rizal berhasil merayu si empunya agar melepasnya.

Dalam pada itu, sembari menunggu yang lain datang, saya berkesempatan melihat langsung mobil Delica milik Pak Broto yang plat merah, L, Surabaya. Mobilnya klasik sekali dan tentu saja ini built up karena ia eks BKKBN (Sebagaimana tertera dalam STNKB-nya). Hingga akhirnya, kami bertemu di rumah Pak Broto yang asri. Letaknya  di pojokan komplek. Tidak disangka, banyak sekali yang datang dari teman-teman Colt Mania Tangerang dan Jabodetabek, bahkan ada yang datang dari Bekasi. Obrolan berlangsung gayeng sampai malam.

Tidak terhitung berapa gelas kopi diminum dan berapa potong cemilan telah dimakan. Obrolan hanya terpotong waktu shalat maghrib. Selanjutnya, kami bicara macam-macam di sana, termasuk rencana untuk mengadakan silaturahmi nasional yang akan mengundang teman-teman Colt dari berbagai penjuru. Yang harus dipersiapkan tentu saja rencana yang matang mengingat ia butuh tempat yang luas. Maka dari itu, perlu rapat sebelum pelaksanaan.

Acara di rumah Pak Broto berakhir sampai saya lupa mengecek jam berapanya, mungkin sekitar 22.00 atau lebih. Yang jelas, kami berhenti karena sudah tidak menemukan tema lagi yang akan kami gosipkan. Capek, sih, enggak, cuman karena sudah dianggap selesai saja, ha, ha, ha.

31 Maret 2026

Makan Malam Nostalgia di Poreh

Masa liburan tsanawiyah saya (setara SMP) sering dihabiskan di desa Poreh, Lenteng. Saya bermain bantengan (entah bantingan, atau bentengan), semacam permainan tradisional kejar-kejaran. Mengapa harus di Poreh? Karena di desa saya, Guluk-Guluk, permainan seperti itu tidak ada. 

Saya sangat menyukai permaianan ini karena bisa lari sekencang-kencangnya. Si pemukul bilah bambu lari dari titik awal ke tiang satu dan dilanjutkan ke tiang dua. Kalau selamat kembali ke titik pertama, dia menang. Permainan ini mengutamakan kecepatan lari dan ketangkasan dalam berkelit. 

Malam ini, saya bisa ke rumah mbakyuMaltufah dan adinda Fawaid. Keduanya putra Paman Rasyid. Saya datang bersama rombongan famili dalam tiga mobil. Tentu saja saya sangat antusias datang karena undangan mereka adalah untuk makan ikan gabus yang diperoleh dari sungai yang berada di belakang rumah mereka. Sungai ini berasal dari arah barat, dari Ganding dan kecamatan Guluk-Guluk dan berakhir di Saronggi. 

Kamar depan paling timur masih ada? Tidak diubah? Tanya saya kepada mbakyu.
“Oh, tidak,” jawabnya, “Kenapa?”
“Ya, saya ingat. Di kamar itu, dulu, saya biasa menginap.” 

Beliau pun tertawa mengingat masa-masa kecil dulu. Pukul 22.00, rombongan pulang dengan perut kenyang. 




Silaturahmi ke Pordapor

Tidak terhitung kali saya berkunjung  ke PP Raudatul Ulum, Mengkaan atau Lamojang, satu dari tiga daerah penghasil tembakau linting terbaik ...