Nyiloh, dalam bahasa Madura (Sumenep), berarti linu-linu. Hari ini saya pergi ke desa Nyiloh di Sampang. Ternyata benar, jalannya bikin nyiloh pantat dan roda kendaraan. Ya, hari ini, saya menghadiri pernikahan Zain dan Nadin di PP Al-Asyhary, Tarogan, Nyiloh, Sampang. Saya tidak kenal sama sekali dengan dua pasangan berbahagian ini, bahkan area lokasi resepsinya pun baru kali ini saya kunjungi. Ini semua terjadi karena “perintah ibu”. Mempelai putri adalah sepupu dari ipar saya. Hubungannya sudah terbilang jauh, sih, sebetulnya, baik itu secara jalur kekerabatan maupun sejarak jarak perjalanan.
Di atas kertas, jarak dari rumah ke lokasi hanylah 70 km. Google Maps meramalkan durasi perjalanan hanya dua jam lebih sedikit. Praktiknya tidak demikian. Hampir 3 jam kami habis di jalan, dipotong shalat Duhur singkat saja di Masjid Ar-Rohmah, timurnya Pasar Omben. 
Sebetulnya, kontur jalan dari Guluk-Guluk sampai Omben sangat bagus, bahkan nyaris tanpa kubangan sama sekali. Akan tetapi, jalan dari Omben ke Kedungdung bukan lagi hancur, tapi juga lebur. Jalan masuknya bagus, tapi belum satu kilometer sudah rusak. Saya kena prank! Kurang lebih 5,5 kilometer rusak parah dari 9 kilometer jarak dari ujung timur di Jalan Raya Omben ke ujung barat di Jalan Raya Kedungdung. Versneling gigi Colt T120 hanya bermain antara 2 dan 3 saja, di beberapa ruas harus masuk gigi 1. Begitu juga, jalan dari Pasar Kedundung ke arah barat, ke gapura pintu masuk Desa Nyiloh yang jaraknya 6 kilometer juga rusak. Banyak bagian jalan yang hancur meskipun tidak separah rute dari timur.
Pukul 13.45 belum juga sampai. Sudah dua setengah jam perjalanan. Terik matahari masuk ke dalam kabin. Sepanjang mata melihat hanya tampak tumbuhan yang kecokelatan, tanah yang memutih karena lama tidak diguyur hujan. Ini gambaran penderitaan yang sempurna: daerahnya tandus, jarang pemukiman, jalan rusak, dan rakyatnya disuruh swadaya memperbaiki jalannya sendiri. Betapa sempurna penderitaan ini. Anda yang datang dari arah Surabaya menuju Sumenep dan hanya melewati Jalan Nasional pasti hanya akan menjumpai kemeriahan lampu warna-warni di kota Sampang di malam hari. Kegelapannya ada di tempat yang jauh darinya.
Dalam perjalanan pulang, saya putar arah, ke arah selatan, mampir lebih dulu ke Bendungan Klampis yang debit airnya sangat rendah. Tidak ada tujuan apa pun pergi ke situ kecuali hanya klangenan saja, mengingat masa-masa kecil dulu waktu kami sering bermain ke situ. Untuk lanjut ke Sampang, saya tidak kembali ke jalan masuk, melainkan mengikuti jalan lanjutan sambil bertanya kepada orang-orang yang kami temui di sepanjang jalan. Saya diarahkan melewati jalan kecil di daerah Kanjar. Kami pun (saya dan istri) melakukan shalat Ashar di masjid Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial An-Nur, lalu lanjut ke arah timur, melewati PP Hidayatul Mubtadien, dan tembus di jalan Raya Kedungdung.
Setelah mampir di rumah Hasani Usman di Kacok, kota Sampang, menunaikan shalat Maghrib di situ, menjelang azan Isya’, kami pamit dan melanjutkan perjalanan pulang ke arah timur. Kami tiba rumah sekitar pukul 20.00 lebih sedikit. Jarak pulang jauh berbeda dengan jarak ketika berangkat, 70 banding 90 kilometer. Penyebabnya adalah karena rute arah pulang memang rute menyampang, eh, menyimpang.
Mitsubishi Colt T-120 [Titosdupolo]
Pembaca
21 September 2026
Ke Nyiloh Sampai Nyiloh
31 Agustus 2026
Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yakni Kiai) Abdur Rasyid di Le-Pelle, Robatal, tapi recana selalu gagal. Jika saya siap, dia tidak. Kendala selalu ada, vice-versa. Hari Jumat, 28 Agustus 2026, saya mencoba meneleponya, siapa tahu lowong jika pergi besok, hari Sabtu-nya. Ternyata, rencana gagal lagi. Akhirnya, saya memutuskan berangkat sendiri.
Perjalanan pada hari Sabtu terakhir bulan Agusuts ini akan menjangkau banyak target, bukan hanya silaturahmi, melainkan juga walimah, takziyah, bahkan ziarah. Perjalanan semakin lengkap karena rute yang ditempuh adalah rute pertama yang saya lewati di jalur tengah, yakni melalui Palengaan – Karang Penang – Robatal – Ketapang, lalu terus ke arah barat, ke Bangkalan. Sebetulnya, saya sudah pernah ke Nongkesan, tapi belum tembus ke Robatal.
Tujuan pertama adalah PP Nurul Jadid. Letaknya berada di sebelah barat Gunung Kesan (orang setempat menyebtnya Nongkesan). Pondok pesantren ini diasuh oleh Kiai Ali Wahdi, mertua Rasyid. Terakhir kali saya pergi ke situ adalah saat saya masih menduda, silaturahmi dalam rangka mencari janda. Kini, saya ke sana bersama istri yang sudah saya temukan beberapa bulan berikutnya, beberapa bulan setelah saya ke sana.
Secara umum, jalan yang saya lalui dari rumah sampai ke Ketapang relatif jelek. Jalan dari pasar Karang Penang ke arah barat, sampai ke pertigaan Polsek Robatal, adalah yang paling buruk. Dari Pasar Jelgung ke ke utara, ke Bunten Barat, sudah dekat dengan Ketapang, jalannya bergelombang, namun rusaknya tidak begitu parah. Jika dirinci maka adalah sebagai berikut:
Ruas batas desa Guluk-Guluk ke batas kabupaten, 9,4 km, banyak rusak dan bergelombang; dari Pagantenan ke Konyileh, 5,2 km, rusak parah, ditambah polisi tidur hasil kreasi masyarakat setempat yang jumlahnya mencapai 25 gundukan, kreasi yang sungguh menyusahkan; dari Pasar Karang Penang ke Jelgung atau Polsek Robatal, 12,2 km, hancur lebur seperti hati pasangan yang baru talak tiga; dari Robatal ke Lempong (di Bunten Barat), 9 km, tidak parah, tapi banyak gelombang (padahal bukan lautan).
Banyak sekali cegatan amal, terutama di ruas jalan dari Karang Penang ke Robatal, bahkan sampai Ketapang. Ini cegatan yang oleh Islam sebetulnya tidak diperkenankan karena mengganggu orang yang melintas sebab mereka punya hak untuk itu, hak untuk lewat dengan nyaman. Tanpa harus pukul rata, umumnya cegatan seperti ini mengganggu dengan meletakkan kerucut (cone), kadang drum atau malah barrier di tengah jalan, dan omongan petugas lewat TOA yang terkadang nyelekit.
Akan tetapi, saat saya lewat, semua itu tidak ditemukan sama sekali, aman. Yang unik, di mana-mana, cegatan amal biasanya untuk pembangunan atau rehab Masjid, eh, yang ini beda. Nyaris semua adalah untuk memperbaiki jalan secara swadaya. Masyarakat mungkin sudah bosan karena pajak kendaraan yang besar itu sama sekali tidak berdampak pada… jangankan pada pelebaran, buat perawatan dan perbaikan jalan saja tidak ada. Uangnya dikemplang mafia dan bandit-bandit kerah putih bajingan tengik itu.
Setelah lewat satu jam di Garduak, di rumah Rasyid, di PP Nurul Jadid, saya pamit. Tuan rumah melarang-larang terus, mengulur waktu, seperti tim yang sudah menang 2-0 di partai final dan cukup oper-operan bola di depan kotak pinaltinya. Ngobrol sudah, nyemil sudah, makan sudah, apa lagi? Bahkan saya ditemani ngobrol oleh dua iparnya, Lora Faruq dan Abdul Haq.
“Kok buru-buru?” cegahnya.
“Lah, ini bukan buru-buru lagi. Saya nyampe di sini tadi pukul 09.10 dan sekarang sudah 10.45.”
“Iya, tapi acara di Banyuates kan masih nanti, pukul 13.00,” Tuan rumah berusaha menahan, berdiplomasi.
“Pokoknya saya izin pergi. Ada pawai Agustusan di Ketapang. Nanti kalau Duhur, jalan ditutup dan saya harus cari jalan tikus.”
Akhirnya, saya pun berangkat, meninggalkan Le-Pelle ke arah Robatal. Melihat jalan yang rusak begini, saya ingat kota Sampang yang bermandikan cahaya lampu di malam hari. Saya sering melintasinya, tapi baru tahu kalau bentang jalan penghubung antar-kecamatan di salah satu sudut kabupatennya malah mirip era kolonial.
Untuk memantau kondisi lalu lintas di Ketapang, saya menghubungi “Fauzi Beckham” (cara membacanya adalah bekam, ya, karena dia memang tenaga medis cum- pembekam, bukan pemain bola). Hasil kontak langsung dengannya, beberapa saat setelah azan Zuhur berkumandang, disimpulkan bahwa bahwa Ketapang masih bisa dilintasi, belum ditutup. Karnaval agustusan belum dimulai.
Ketika saya sudah tiba di jalan utara Pantura, saya melihat karnawal dan pawai sudah bersiap. Sound system sudah dinyalakan. Bendera-benedara sudah dikibarkan. Selamat, saya singgah di Masjid Baiturrohman, Batioh. Kebetulannya, saya berjumpa famili yang juga singgah untuk rehat dan shalat di masjid itu sembari menunggu waktu yang tepat untuk berangkat ke lokasi acara yang jaraknya hanya tersisa 5 kilometer lagi.
Acara selamatan pernikahan Sayyid Husein dan Syarifah Mahdiyah dilangsungkan di Gedung Serba Guna Arab Wings dengan pembacaan Simtudduror sampai khatam. Setelah itu, sambutan dan doa ada pada urutan berikutnya. Acara dianggap selesai setelah munculnya nasi rames dari peraduannya.
Kebanyakan famili yang datang dari Sumenep, terutama area Ganding dan Guluk-Guluk, pulang kembali ke timur, sedangkan saya mengarah ke arah barat menuju Bangkalan. Saya memacu kendaraan sampai sesekali menyentuh angka 80 km/jam karena jalan di pantai utara relatif sepi dibandingkan jalur selatan yang lebih lebar namun lalu lintasnya lebih padat. Beberapa orang melaporkan bahwa mereka selamat dari pawai Agustusan di Ketapang pada saat berangkat namun terjebak di saat pulang, sore itu. Mereka pun akhirnya lewat jalan tikus. Karnaval dan pawai di jalan raya seperti ini sebetulnya juga masalah serius yang harus dirembuk, dicarikan solusinya, agar tidak terus terjadi setiap tahun namun orang-orang menggerutu karena merasa terganggu, misalnya.
Sementara saya aman-aman saja sampai di Sebaneh, di kediaman Kiai Ahmad Imam Jazuli Makhsus di PP Al-Aziziyah 3. KLIK INI untuk mengetahui lokasinya. Tamu berjibun, hilir-mudik, datang dan pergi. Kebanyakan ibu-ibu. Ada Kiai Taib bin Hadiri yang turut menyambut dan juga ipar serta sepupu-sepunya almarhum. Putranya juga mendampingi Lora Fawwaz bin Abdullah Khon saat menyambut tamu pria. Saya pulang sebelum azan Maghrib karena setelah itu orang-orang akan datang berbondong-bondong untuk tahlilan.
Sebelum melanjutkan pulang ke Guluk-Guluk bareng ibu yang menunggu di rumah adik, istri saya ngajak santai lebih dulu.“Yuk, kita duduk-duduk dulu.”
“Di mana? Kafe? Ayo kalau mau ke kafe.”
“Boleh, tapi, mmm… dari tadi saya sudah minum kopi melulu.”
“Terus, bagaimana?”
“Kita ke Mertajasa saja, ke maqbarah Syaikhona Cholil saja.”
Akhirnya, kami pun pergi ke Mertajasa. Setelah itu, setelah berdoa di pasarean Syaikhona, kami duduk di sebuah balai-balai bambu di parkiran barat (karena parkiran timur sudah penuh, maklum malam Minggu biasa begitu). Kami pesan sate ayam dan sate kambing sekadar untuk kepantasan saja, supaya pantas numpang duduk di balai-balai milik orang yang berjualan, padahal sejatinya kami baru saja makan di Sebaneh, di kediaman almarhum Kiai Imam Makhsus.
Andai saja Mas Didit ada di Studio Kasokan yang letaknya bersisian dengan Kafe Kelud, tentu saja kami ngobrol di sana. Karena Kasokan tidak sedang rapat atau tidak sedang ngumpul untuk persiapan konser Ritmik Madura keempat yang sedianya akan digelar di Bangkalan, kami pun mengubah titik kordinat kencannya ke Makbarah Syaikhona Cholil di Mertajasa. Jadi, begitulah ceritanya.
Setelah tiba di rumah adik, di SD Assalam, Perumahan Nilam, ternyata ibu tidak jadi pulang. Beliau minta dijemput dua atau tiga hari kedepan. Kami pun pamit pulang setelah sejenak istirahat.
Pukul 22.04, kami keluar dari SD Assalam dan satu jam kemudian, 23.03, sampailah di Pasar Blega. Dari Blega ke Jalan Jingga, Pamekasan, ternyata juga butuh satu jam perjalanan, tepatnya 1 jam 7 menit. Durasi dua jam dari rumah adik yang letaknya berada di Perumahan Nilam (depan Bangkalan Plaza) ke Pamekasan terasa singkat, padahal laju mobil hanya 60-70 km/jam. Jalan yang sepi di malam Minggu ini adalah alasannya.
Hampir pukul 01.00, saya tiba di rumah dengan selamat. Jarak tempuh Colt T120 ini selama seharian kurang lebih 280 kilometer. Ngisi pertalite di SPBU Pakong, tadi sewaktu berangkat, ternyata tidak dihabiskan, bahkan masih tersisa sekitar seperempat strip, di bawah sedikit. Kesimpulannya, konsumsi mobil sedang baik-baik saja. Artinya, 1 liter dipastikan cukup untuk menempuh lebih dari 10 kilometer. Angka ini terbilang bagus untuk konsumsi mobil yang telah berusia 46 tahun, usia yang hanya selilih 5 tahun lebih muda dari sopirnya.
Rute hari itu terasa rute keliling Madura, sudah melewati 4 kabupaten yang ada. Kami memulai perjalanan via jalur tengah, lalu pindah ke jalan di pantai utara, dan pulang lewat Jalan Nasional di sisi selatan Madura. Yang terasa kurang hanyalah karena perjalanan kali ini tidak menjangkau area timur kabupaten Sumenep, seperti Bluto atau Dungkek karena memang rutenya memang bukan ka arah sana.
Jika Anda kecewa dengan judul “Keliling Madura” padahal rute saya tidak melewati area timur Kabupaten Sumenep (hanya bagian tengah-baratnya saja), bolehlah Anda ganti judulnya dengan “Kelili Madu”. Saya rela mengurangi “ng” dan “ra” pada judul itu sebagai kompensasinya.
22 Juli 2026
Belajar Ngaji ke Sampang
Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat lewat sini, deh,” begitu misalnya. Lalu, berdasarkan keyakinan tersebut, kita pun menempuh jalan itu.
Selama ini, pikiran saya mengatakan, bawah jarak terdekat dari rumah saya ke kota Sampang adalah lewat Palengaan (rute teratas dalam gampar peta). Alasannya adalah jarak yang lurus ke arah berat setelah satu kilometer keluar dari rumah. Rute ini juga sering saya lewati kalau pergi ke Palengaaan. Sementara jalan yang populer adalah melewati Prenduan. Rutenya memang harus bergerak ke arah selatan dari rumah sejauh 7,5 kilometer dan baru ke arah barat setelah tiba di jalan Nasional, menuju Sampang. Ternyata, setelah dicek di peta, selisihnya tidak sampai 1 kilometer saja. Jarak lewat Palengaan memang yang tersingkat, tapi jalannya sulit minta ampun. Sementara jika saya lewat Prenduan, jalannya mulus dan nyaris tanpa kerusakan sama sekali.
Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan untuk belajar. Saya pergi ‘nyabis’ (sowan) ke PP As-Saidiyah di bawah asuhan Kiai Aunur Rafiq untuk belajar membaca Al-Fatihah. Setiba di sana, setelah sowan kepada beliau (diantar oleh Agus Wahab yang datang jauh-jauh dari Sotabar), diketahui bahwa beliau ternyata satu almamater dengan saya di pondok pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng. Bedanya, beliau mondok sampai hafal sedangkan saya hanya belajar Juz Amma tapi langsung boyong.

Soal pertimbangan jarak ini saya lantas teringat kata-kata Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Kata beliau (jika tidak salah): “Barangsiapa menempuh thariqah (jalan) tanpa mursyid (pembimbing), maka ia butuh 100 tahun untuk 2 hari perjalanan”. Ungkapan ini terasa dalam sekali maknanya. Ia membuat saya membayangkan menempuh perjalanan hidup berdasarkan perkiraan semata, menempuh jalan yang tersingkat menurut pikiran tapi sebetulnya akan sangat lama untuk sampai.
Semua foto oleh Agus Wahab
Ke Nyiloh Sampai Nyiloh
Nyiloh, dalam bahasa Madura (Sumenep), berarti linu-linu. Hari ini saya pergi ke desa Nyiloh di Sampang. Ternyata benar, jalannya bikin nyil...
-
Colt Gen-1, 1969, Wida Tri Bowo Colt T120 adalah varian produk Mitsubishi yang angka penjualannya—di kala itu—terbilang fenomenal....
-
Keluhan yang kerap dirasakan oleh pemilik colt T 120 adalah soal konsumsi bahan bakar. Mereka mengeluhkan ini karena soal boros. Mengapa? J...
-
Karena alasan ingin kondisi mesin colt T 120 lebih dingin, saya mengganti kipas radiator yang standar (5 daun), dengan kipas modifikasi 7...




