Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat lewat sini, deh,” begitu misalnya. Lalu, berdasarkan keyakinan tersebut, kita pun menempuh jalan itu.
Selama ini, pikiran saya mengatakan, bawah jarak terdekat dari rumah saya ke kota Sampang adalah lewat Palengaan (rute teratas dalam gampar peta). Alasannya adalah jarak yang lurus ke arah berat setelah satu kilometer keluar dari rumah. Rute ini juga sering saya lewati kalau pergi ke Palengaaan. Sementara jalan yang populer adalah melewati Prenduan. Rutenya memang harus bergerak ke arah selatan dari rumah sejauh 7,5 kilometer dan baru ke arah barat setelah tiba di jalan Nasional, menuju Sampang. Ternyata, setelah dicek di peta, selisihnya tidak sampai 1 kilometer saja. Jarak lewat Palengaan memang yang tersingkat, tapi jalannya sulit minta ampun. Sementara jika saya lewat Prenduan, jalannya mulus dan nyaris tanpa kerusakan sama sekali.
Perjalanan saya kali ini adalah perjalanan untuk belajar. Saya pergi ‘nyabis’ (sowan) ke PP As-Saidiyah di bawah asuhan Kiai Aunur Rafiq untuk belajar membaca Al-Fatihah. Setiba di sana, setelah sowan kepada beliau (diantar oleh Agus Wahab yang datang jauh-jauh dari Sotabar), diketahui bahwa beliau ternyata satu almamater dengan saya di pondok pesantren Madrasatul Qur’an, Tebuireng. Bedanya, beliau mondok sampai hafal sedangkan saya hanya belajar Juz Amma tapi langsung boyong.

Soal pertimbangan jarak ini saya lantas teringat kata-kata Maulana Jalaluddin ar-Rumi. Kata beliau (jika tidak salah): “Barangsiapa menempuh thariqah (jalan) tanpa mursyid (pembimbing), maka ia butuh 100 tahun untuk 2 hari perjalanan”. Ungkapan ini terasa dalam sekali maknanya. Ia membuat saya membayangkan menempuh perjalanan hidup berdasarkan perkiraan semata, menempuh jalan yang tersingkat menurut pikiran tapi sebetulnya akan sangat lama untuk sampai.
Semua foto oleh Agus Wahab


