Pembaca

28 Juni 2021

Thermostat pada Colt


Dulu, saya pernah mendengar seorang bengkel mobil berkata jumawa. “Dulu itu,” kata dia, “yang pertama kali mencopot thermostat-nya mobil itu saya, saat di sini orang pada belum tahu soal thermostat.”

“Sekitar tahun berapa itu, Pak?”
“Mungkin tahun 1978,” jawabnya.


Saya tidak tahu, thermostat pada mobil apa yang dimaksudkannya. Tapi, karena waktu itu saya sedang mengendarai Colt ke bengkelnya, maka anggap saja beliau sedang bicara soal thermostat yang nempel pada Colt. Saya juga tidak bertanya panjang lebar, untuk apa thermo dibuka dan untuk apa pabrikan memasang thermostat jika ujung-ujungnya mau dibuka juga. Mungkin, beliau akan berdalih, bahwa suhu alam di tempat mobil dibuat dengan alam Indonesia itu berbeda. Mungkin saja beliau akan menjawab begitu, tapi tentu saja saya tidak mau berdebat soal itu. 

 



Belakangan, dari hasil pembicaraan dengan banyak orang, saya berkesimpulan—tepatnya mengoreksi pandangan saya yang selama ini saya anggap menyeleweng—bahwa mobil itu tidak seperti bayi atau manusia. Artinya, mobil tidak berarti sehat jika tidak panas. Mobil tidak seperti manusia, mobil harus ‘demam’, bahkan ‘panas’. Dengan thermostat, suhu mesin akan stabil, tidak naik turun seperti selama ini: kalau hujan dingin, kalau terik jadi naik, dan kalau jalanan macet tambah panas. Dengan thermostat, suhu mesin akan sama saja pada ketiga kondisi tersebut.


Namun, sekitar tiga hari yang lalu, tiba-tiba suhu mobil saya naik mendadak. Setelah dicek air radiator, aman; cek yang lain, aman. Baru terpikir untuk ngecek thermostat (dilakukan oleh Dayat, teman saya, seorang montir) setelah dilakukan pengecekan pada radiator: air tidak berputar, padahal mesin sudah panas. Sementara lubang-lubang pada radiator tidak ada kerak karena radiator relatif baru. Maka, tuduhan biang masalah pun segera diarahkan pada thermostat.


Benar rupanya, setelah dicopot, mesin normal kembali. Thermostat sudah rusak, padahal baru beli 6 bulan yang lalu.


Untuk melakukan pengecekan secara langsung dan bisa dilihat dengan mata biasa (sebab kalau ada di dalam mesin, kita tidak bisa melihatnya), saya memasak air. Thermo-thermo tersebut (kebetulan saya punya 3 thermostat: satu beli, dua dikasih orang) saya masukkan ke dalam panci. Setelah air bergelembung tanda hampir mendidih, ternyata thermostat milik saya tidak membuka diri, sedangkan 2 thermo yang lain membuka katupnya. Pasti, thermostat saya rusak sedangkan dua yang lainnya tidak.

 

Pada dua thermostat tersebut, terdapat kode 76,5°C; sedangkan yang saya beli 82°C. Berapa ukuran thermo untuk Colt alias berapa ukuran suhu ideal untuk mesin Colt? Itu yang saya tidak tahu. Thermo yang saya pakai dan sudah rusak ini juga tidak diketahui untuk apa karena saat saya membeli, si penjual juga tidak tahu (agaknya universal; dipakai mobil apa pun bisa) sementara dua thermo yang saya dapat secara gratisan dari orang.




thormo suhu 76,5 derajat celcius

posisi thermostat (dikolongi merah)



12 April 2021

Anjangsana ke Colt-Mania Station Jabodetabek-Banten

foto milik Sonny 
Cikupa, 10 April 2021

Saya terkadang merasa repot jika ada yang tanya ‘ke Jakarta untuk apa?’.  Sekarang masa pandemi, mepet puasa pula.  Ini pertanyaan penting. Tapi, yang rasanya harus dibuatkan podcast adalah pertanyaan yang lain:  ‘mengapa Anda tidak menggunaan WhatsApp?’ Sebab, pertanyaan ini yang paling banyak dan paling mengusik.

Okelah, itu agenda mendatang. Sekarang, saya jawab pertanyaan yang sesuai topik: untuk apa saya ke Jakarta.

 

Sebetulnya, rencana awal ke Jakarta, terus ke Cikupa, itu sejak lama. Awalnya, saya kira Cikupa itu Jakarta, ternyata Tangerang dan Tangerang bukan Jakarta meskipun oleh sebagian orang disebut Jakarta. Apakah posisinya sama dengan Wonogiri yang disebut Solo oleh orang Wonogiri di perantauan sebagaimana orang Pematang Siantar—sekadar menyebut contoh—m enyebut dirinya dari Medan jika ada di Jawa? Saya tidak tahu adakah hubungan, tapi rasanya yang ini beda kasusnya. 


Salah satu (karena ada tujuan yang lain yang tidak perlu ditulis di sini) tujuan saya melakukan perjalanan ke Cikupa adalah mengunjungi Pak Bambang. Anggap saja ini laga tandang sebab beliau sudah berkunjung ke rumah saya di Madura, akhir Desember tahun lalu, bersama rombongan Colt Mania Banten, COP Bandung dan Tasik, COBRA Blitar, MRMC Malang, dll (video bisa dilihat di sini dan sini dan juga yang ini). Supaya dapat dua atau lebih keuntungan sekaligus, saya pun nawaitu menjajal armada “27 Trans” yang lain naik daun. Ini perusahaan otobis asal Malang yang mula menerapkan armada pariwisata dan belajar menjalal trayek jauh ke Jakarta, Ciawi, dan Poris. Saya mencoba kelas presiden bis ini dari Surabaya, sejenis kasta super ekskutif bagi Lorena Karina dan banyak PO lain, atau bigtop menurut versi PO Raya.


Di Tangerang, saya tiba Sabtu pagi, 10 April 2021, langsung menuju tempat si penjemput, Yasir, si perantau Madura yang bukan kelontong di daerah Ciserah. Tak sengaja, pagi itu, Pak Bambang juga ke sana, memperbaiki radiator, di seberang RM Gumarang, Jalan Serang, Km 10, Bitung, yang notabene tak jauh dari tempat saya menuju. Maka, kami pun janji ketemuan di sana, agak siang, sekitar pukul 10.00.

 


Dari situ, saya diajak Pak Bambang pulang ke rumah beliau di Cikupa, lanjut ke workshopnya, Bengkel Ginerva, di Balajara. Pak Bambang pasang radiator yang baru diperbaiki itu di bengkelnya. Saya nunggu beliau bekerja sambil lihat-lihat bengkel hingga datanglah Mas Sonny, sore-sore. Tanya demi tanya, ternyata Pak Bambang ngundang kawan-kawan Colt di seputaran Jabodetabek-Banten untuk kopi darat di rumah Pak Broto, malam harinya.

 

Wah, saya merasa tersanjung, tidak diduga.

 

Kami bertolak dari Balajara menggunakan Colt double cabinnya Pak Broto. Wah, akhirnya kesampaian juga saya naik mobil yang memperolah berbagai penghargaan kontes ini.  Malam itu, kami bermalam mingguan di rumah Pak Broto yang konon menjadi semacam stanplat bagi komunitas penggemar Colt di area Jakarta dan Banten: Colt Mania Station.

 

Kami ngobrol gayeng di situ, tidak jelas apa yang diomongkan, ngobrol ke sana ke mari, tidak sekadar tentang Colt, tapi lebih dari itu, yakni persahabatan. Saya yakin, komunitas yang tidak didasari persahabatan maka besar kemungkinan akan makan hati para anggotanya karena adanya banyak kepentingan. Semoga komunitas yang ini tidak demikian, begitu saya berharap.

 

Selain Mas Sonny yang datang bareng saya dan Pak Bambang, hadir pula di tempat itu; Mas Makmur dari Parung,  Pak Iwah dan Pak Iman, Abah Enjat Muhtahi dan Mas Reza Sonny, serta beberapa rekan Pak Broto yang tidak saya kenal.  Ada pula kawan saya dari Cikeas, Mas Wachyu dan istrinya, Icha, juga putranya, Hanan. Mereka datang dari Cikeas sekadar ingin bertegur sapa.

 

“Jauh, Mas, Sampeyan datang ke mari,” kata saya.

“Masih jauhan kalau kami ke Madura,” katanya yang tentu saja saya iyakan.

 

Acara ngobrol akhirnya bubar setelah satu per satu merasa pulang, entah panggilan istri atau panggilan pekerjaan atau karena panggilan bantal. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.30. Sungguh, ini adalah sebuah kesempatan langka bagi saya yang patut disyukuri:  bertemu dengan teman-teman satu komunitas, pada masa pandemi pula, di tempat yang sangat jauh, bahkan menjelang puasa.  


31 Maret 2021

Ke Ponjanan Timur, ke LPDS Mambaul Ulum

 

Jarak di atas peta, dari rumah saya ke Ponjanan Timur, Batumarmar (Pamekasan), tak seberapa jauh, hanya seterlelapan tanpa mimpi jika kita naik MPV sekelas Innova, itupun dengan syarat pakai sopir pribadi. Namun, jika jarak itu ditempuh dengan Colt dan Anda mengemudikan sendiri, maka jarak 31 kilometer itu akan berasa sedikit melelahkan. Faktornya ada dua, yaitu:

1 rute jalannya berkelak-kelok, dan

2 kabin agak suam-suam kuku

Masih ada faktor lain dan sekaligus perkecualiannya, tak perlulah disebut semua, tidak penting. Faktor lain yang membuat perjalanan pendek berasa sedikit jauh itu juga disebabkan oleh rute yang kurang akrab karena jarang dilalui.

Adapun faktor yang memupus kelelahan dan mengubahnya menjadi mengenyangkan, eh, menyenangkan, adalah karena visi dan misi perjalanan. Sementara soal disuguhi prasmanan besar—yang biasanya cukup pada level nasi kotak—nah, itulah unsur yang mengenyangkan. Jika keduanya dipadukan, maka sempurnalah perjalanan.


Tujuan saya kali ini adalah untuk memberikan semangat belajar kepada siswa-siswi SMPI Mambaul Ulum dan MA Mambaul Ulum 2 selepas mereka ditahbiskan sebagai purnasiswa (nama Mambaul Ulum biasanya selalu identik dengan alumni PP Mambaul Ulum Bata-Bata, saya kira yang ini juga begitu). Tentu saja, saya tidak berposisi sebagai layaknya Mario Teguh atau Oppo, eh, (maaf, tipo melulu) Ippho Santosa, juga tidak berperan bagaikan Kiai Musleh Adnan, melainkan sebagai “tukang kompor” untuk memberikan semangat meneladan semangat belajar dan keilmuan dan kaitannya dengan literasi, tentang khazanah kecemerlangan ulama-ulama zaman dulu, dan sejenis-sejenis itu.

 

Saya berangkat dari rumah pada pukul 07.25 dan tiba di sana satu jam kemudian, bahkan lebih sedikit. Saya melaju pelan, menikmati perjalanan, menikmati pemandangan alam. Di daerah Kecamatan Waru secara umum, konon, merupakan zona Colt. Dari dulu, saya mendengar kesan itu, bahwa di situ banyak sekali pemiliki Colt. Tapi, yang saya saksikan barusan tidak terbukti. Alasannya, mungkin; pertama, semua Colt sedang diparkir di garasi masing-masing, hanya satu-dua yang ada di jalan; kedua, para pemilik Colt pikap sudah ganti ke Granmax atau L300; ketiga, saat saya melintas berketepatan dengan waktu bukan beredarnya Colt di jalanan alias tidak jodoh.

 

Dalam perjalanan ke Waru, terdapat rute yang menarik, yaitu di daerah Sana Laok. Terutama di Cok Gunung, ruas jalan berkelok-kelok dan naik turun, dan sangat mulus. Pemandangannya merupakan paduan tebing karst dan ngarai yang dalam, mirip Ngarai Sianok jika dilihat dari Goa Jepang.

Cok Gunung bermakna ujung gunung. Ia merupakan ujung barat pegunungan karst yang membujur dari timur, dari Nangger, Payudan, di tengahpulau Madura. Pegunungan iniyang sebetulnya lebih tepat disebut perbukitan”—merupakan onggokan harta karun alam. Mungkin, tapi saya yakin, ada simpanan mineral, fosfat, dan boleh jadi emas, serta harta terpendam lain di kegelapan tanahnya. Saya tidak bisa membayangkan jika tandon air raksasa itu harus hancur (maksudnya dihancurkan) hanya demi stok APBD yang mungkin bisa bertahan dalam 10-30 tahun ke depan, tapi pasti (bukan sekadar mungkin lagi) bakal menyisakan kerusakan permanen sampai hari entah kapan, sampai Hari Kiamat.

 

Kepada siswa-siswa SMPI dan MA Mambaul Ulum, saya diminta berpesan untuk melatih keterampilan menulis. Tapi, yang lebih dari itu, kata saya, adalah aktivitas dan ketahanan membaca. Untuk apa? "Sebab membaca itu sesuai perintah. Kita harus menerima pesan membaca sebagai perintah, beda dengan orang lain yang membaca karena ingin tahu, karena ingin pintar, karena ingin menulis, karena ingin ini dan itu. Kita membaca karena memang begitulah perintah yang pertama kali diturunkan. Soal kemudian kita menjadi tahu, kita tambah berwawasan, itu soal lain, akibat saja. Hal itu sama persis dengan belajar, ya, hal itu dilakukan karena menjalankan perintah belajar, sebagai bukti mencari ilmu yang dituntut oleh Nabi, sejak lahir hingga mati. Adapun naik kelas, jadi juara, atau malah tinggal kelas, itu hanya efek, bukan tujuan. Kita belajar, sekali lagi, karena ingin mendapatkan hidayah, karena menjalankan amar atau perintah."

 

Sebelum pulang, setelah menutup orasi dengan pembacaan dua puisi, saya sempat duduk di bawah terop, turut menyaksikan penganugerahan siswa terbaik dan juara. Namun, kemudian saya diajak oleh Kiai Shodiq, ayahanda daripada Amin (orang yang meminta saya menjalankan tugas ‘literer’ ini) ke rumah utara, ndalem kesepuhan pengasuh. Di sana, sebelum pamit, saya masih sempat sowan kembali dengan Kiai Mughni dan putranya, Lora Mahfudh, di mana merekalah yang menyambut saat saya baru datang, tadi.

 

Setelah berbasa-basi sebentar, kami pulang. Rencana ke Ambunten untuk ikut rapat, gagal, ingat anak dan istri yang sakit di rumah. Tubuh saya rasanya juga sedang tidak fit untuk dipaksa kerja keras. Dalam perjalanan pulang, saya mengemudi sedikit cepat daripada tadi saat berangkat, sehingga waktu tempuh menjadi sedikit lebih singkat. Ciaaat.


Thermostat pada Colt

Dulu, saya pernah mendengar seorang bengkel mobil berkata jumawa. “Dulu itu,” kata dia, “yang pertama kali mencopot thermos...