Pembaca

31 Maret 2026

Makan Malam Nostalgia di Poreh

Masa liburan tsanawiyah saya (setara SMP) sering dihabiskan di desa Poreh, Lenteng. Saya bermain bantengan (entah bantingan, atau bentengan), semacam permainan tradisional kejar-kejaran. Mengapa harus di Poreh? Karena di desa saya, Guluk-Guluk, permainan seperti itu tidak ada. 

Saya sangat menyukai permaianan ini karena bisa lari sekencang-kencangnya. Si pemukul bilah bambu lari dari titik awal ke tiang satu dan dilanjutkan ke tiang dua. Kalau selamat kembali ke titik pertama, dia menang. Permainan ini mengutamakan kecepatan lari dan ketangkasan dalam berkelit. 

Malam ini, saya bisa ke rumah mbakyuMaltufah dan adinda Fawaid. Keduanya putra Paman Rasyid. Saya datang bersama rombongan famili dalam tiga mobil. Tentu saja saya sangat antusias datang karena undangan mereka adalah untuk makan ikan gabus yang diperoleh dari sungai yang berada di belakang rumah mereka. Sungai ini berasal dari arah barat, dari Ganding dan kecamatan Guluk-Guluk dan berakhir di Saronggi. 

Kamar depan paling timur masih ada? Tidak diubah? Tanya saya kepada mbakyu.
“Oh, tidak,” jawabnya, “Kenapa?”
“Ya, saya ingat. Di kamar itu, dulu, saya biasa menginap.” 

Beliau pun tertawa mengingat masa-masa kecil dulu. Pukul 22.00, rombongan pulang dengan perut kenyang. 




24 Maret 2026

Diari Hari Ini: Walimah, Anjangsana, Takziyah

Hari ini saya pergi ke Bilapora untuk menghadiri pernikahan Haikal Firdaus dengan Ninda Ayu. Lokasinya terletak di dusun Daja Songai, di sebelah selatan Madrasah Al Islah. Saya pergi bersama ibu dan saudara perempuan ke situ. Adapun istri tidak ikut karena dia punya agenda sendiri. Saya mengantarnya ke PP Sabilul Huda, Gadu Barat, Ganding. Dia pergi ke pondok pesantren almamaternya itu untuk menghadiri acara reuni bersama teman kelasnya.

Acara walimah yang simpel kelar pukul 08.30. Kami yang dari tempat itu sedianya mau meneruskan perjalanan ke PP Nurul Islam, Karangcempaka, Bluto, untuk menghadiri acara anjangsana Bani Syarqawi pun batal. Alasannya, acara anjangsana terjadwal pukul 10. Maka, kami pulang dulu. Lagi pula,  saya masih harus angkat jemuran kering dan menggantikannya dengan jemuran basah yang dicuci tadi pagi. 

‘Masih ada selah waktu sekitar 50 menit,’ kata saya dalam hati. 

Pukul 09.40, kami berangkat lagi ke Karang Cempaka dengan lebih dulu mampir sowan ke rumah bibi dan paman di Bustanul Jadid, Rombiyah Barat. Hanya sebentar di sana, bersalam-salaman, duduk sebentar, kami meneruskan perjalanan ke Karang Cempka. 

Acara anjangsana di hari keempat bulan syawal adalah makan bakso dan cendol. Tanggal dan menu seperti ini tidak pernah berubah selama bertahun-tahun lamanya (acara di rumah saya adalah hari ketiga syawal; menunya tahu petis dan tahu walik). Acara selesai kurang lebih 90 menit karena masih ditambah sesi foto bersama demi pendataan jumlah famili yang baru. Sehabis itu, rencana pergi langsung ke Gapura untuk takziyah ke rumah duka Syaifullah Saghara yang baru saja kehilangan ibunya (tepat 13 bulan setelah kehilangan bapaknya) kembali digagalkan. Pasalnya, ibu dan adik yang pada awalnya mau bergabung dengan mobil rombongan yang lain ternyata sudah ketinggalan.

Setelah mengantar mereka pulang ke rumah, saya menunaikan shalat duhur lebih dulu. Untungnya, saya bisa mengajak istri pergi ke Gapura karena dia sudah tiba dari acara di Gadu, diantar kawannya (padahal rencana semula saya pergi sendiri karena istri tidak bisa ikut). Perjalanan ke Gapura ternyata sangat lancar, hanya satu jam lewat 14 menit. Kurang lebihnya begitu. Sebelum berangkat, saya menghubungi Naufil Istikhari yang membuat janji kencan dengan Farisi untuk serah-terima buku terbaru saya. Saya sampaikan kepadanya soal perkiraan durasi perjalanan, yakni 100 menit karena biasanya jalanan sangat ramai di siang hari. Entah mengapa siang itu jalan sangat sepi sehingga durasi waktu terpangkas banyak meskipun saya melaju pada kisaran kecepatan 50 km/jam saja. 

Setelah takziyah selesai dan kembali pulang dan sampai di rumah pukul 15.40, saya merasa tubuh sangat capek. Setelah dihitung, ternyata jarak tempuh etape pertama (rumah, Gadu, Bilapora, rumah) adalah 22,6. Adapun jarak etape kedua (rumah – Karangcempaka – rumah) adalah 29,8. Sementara etape terakhir adalah etape yang terjauh, 37,3 sekali jalan sehingga pergi-pulang menjadi 74,6. Kalau diukur dengan jarak lurus sekali jalan maka ia setara dengan jarak dari rumah saya ke Pamekasan, Sampang, Tangkel, dan berakhir simpang empat Billah, Morkepek, perempatan sebelum Jembatan Suramadu, yakni 126 kilometer.

Saya akhirnya tersadar, pantesan rada capek. Jaraknya lebih dari cepek.
  




10 Maret 2026

Menghindari Bato Guluk

Waktu pertama kali saya pergi ke Bato Guluk, saya papasan sama harimau. Saya membatin, ‘Ini harimau kok kakinya cuman tiga?’ Setelah saya amati, ternyata harimau itu sedang menyeka air mata dengan tangan/kaki depannya! Jangankan manusia, harimau pun nangis kalau harus lewat situ!

(Pak Muksir) 

 
HARI INI, 10 Maret 2025, saya pergi ke Gadu Timur. Tujuan lanjutannya adalah ke Bun Barat, Rubaru. Berdasarkan jarak, dari Darun Najah di Gadu Timur ke Pasar Sattowan (via Bato Guluk) hanya 8,6 kilometer saja. Akan tetapi, jika Anda meminta bantuan Google Maps, arah Anda akan dibelokkan ke barat terlebih dulu, ke daerah Pregi, terus ke Campaka, dan baru ke Pasar Sattowan yang total jaraknya jadi 14 kilometer. Hampir ada 6 kilometer jarak terbuang gara-gara pencitraan satelit yang tidak mampu ditangkap oleh Google Maps, padahal nyata-nyata jalan ke Pasar Sattowan via Bato Guluk itu benar-benar ada. Sudah beberapa kali saya melewatinya.

Tujuan perjalanan saya kali ini sebetulnya cuman sampai di Darun Najah, mengantar anak putri saya ke rumah Mas Jamal dan Mbak Eppang. Dia ingin bertemu temannya, Amah, putri mereka berdua. Pesan saya kepada Anak sebelum berangkat; ‘Dari Gadu, kamu ikut Amah saja ke Bun Barat. Biar keluarga mereka yang mengantar kalian. Kalau mereka harus menjemput kemari, kasihan mereka karena itu sama dengan buang-buang jarak, sangat jauh’. Ternyata, skema berubah setelah saya tiba di lokasi. Saya berubah pikiran. Saya putuskan biar saya saja yang mengatar mereka supaya tuan rumah tidak repot harus mengeluarkan mobilnya. 

“Biar saya langsung ke utara saja, lewat Bato Guluk,” kata saya pada Mas Jamal.
“Aduh, jangan! Jalannya sangat rusak.”
“Masa? Bukannya sudah diperbaiki?”
“Rusaknya sangat parah. Lewat ke barat dari sini saja, tembus di Pregi.”
“Oh, ada jalan pintas ke sana?”
“Ada.”

Baru kali ini saya cek Google Maps. Ternyata, di peta digital itu, jalan ke Bato Guluk “dianggap” terputus alias tidak ada jalan dari dusun Polay (PP Darun Najah). Ujung jalan berakhir di sebuah titik kordinat sebelum rumah Robith (As-Salam). Kok bisa? Ini disebabkan, bisa jadi, karena citra satelit tidak utuh ketika merekam yang mungkin disebabkan banyaknya rerimbunan pohon. Soalnya, jalan itu benar-benar ada dan tidak terputus. Hanya saja jalannya memang rusak parah.

Maka, kali ini adalah pengalaman pertama saya melewati Pregi tapi dari arah Gadu Barat. Ternyata, dari Gadu Barat bisa tembus ke Pregi, melewati jalan yang sangat sepi. Tidak ada rumah kecuali saling berjauhan letaknya. Ujung jalan nongol di mulut jalan di sebelah selatannya Lembana atau di utaranya Bhuju’ Pregi.

Kami pun bergerak menuju Bun Barat, Rubaru, ke Pondok Pesantren Darussalam melewati jalur biasanya: Campaka, Pasar Sattowan, Rubaru, Bun Barat. Selesai mengantar, saya langsung pulang, menempuh jalan yang biasa, namun tidak lewat Gadu Barat lagi. Saya mengarahkan mobil langsung ke Ganding, terus ke Guluk-Guluk. 

Sebetulnya, pulang dari Bun Barat, rencananya saya tetap memaksakan agar bisa lewat Bato Guluk via Basoka, ke selatan dari arah utara. Akan tetapi, atas saran dari Robith, saya gagalkan rencana ini karena katanya, “Jalan dari Basoka ke Batu Guluk itu sangat hancur, tidak terurus, seperti kekasih yang ditinggal pada saat lagi sayang-sayangnya...”

Perjalanan hari ini mengingatkan saya kejadian malam Sabtu yang lalu (6 Maret), saat saya nyambang orang tua walisantri yang terkena sambaran petir namun hamdalah tidak meninggal dunia. Saya menempuh rute yang mirip dengan hari ini. Ibarat kata, jika dianalogikan dengan jam, posisi saya yang berada di angka angka 6 harus melewati urutan angka-angka dalam jam itu untuk sampai ke tujuan yang berada di angkat 2.30, padahal mestinya saya bisa langusung berputar mundur ke arah kanan, ke angka 5, 4, 3, dan tiba di angka 2.30. karena Bato Guluk hancur, maka saya harus lewat jalan memutar. 

Saya rasa, meskipun bukan satu-satunya, Basoka dan Bato Guluk ini termasuk daerah yang paling jarang tersentuh pembangungan di daerah Sumenep Daratan. Kalau kondisi Sumenep Kepulauan, ah, jangan ditanya. Pasti lebih lebih horor daripada yang saya gambarkan di sini.

Makan Malam Nostalgia di Poreh

Masa liburan tsanawiyah saya (setara SMP) sering dihabiskan di desa Poreh, Lenteng. Saya bermain bantengan (entah bantingan, atau bentengan)...