Pembaca

15 Februari 2022

Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan Kipas Radiator Elektrik


dinamo tidak center, agak tidak kena puli
Mobil saya menggunakan kipas pendingin raditor elektrik. Yang dicangkok adalah kipas milik Suzuki Karimun. Kenapa pilih ini? Karena bentuknya paling pipih, paling ramping, dan paling gratis (he, he, he). Harga bekas di pasaran sekitar 600-700. Barunya di atas satu juta lebih sedikit. Punya Pak Joko pakai punya Camry, bentuknya mirip, sama-sama tipis.

 

Keunggulan kipas ini jelas akan mengurangi beban mesin meskipun entah seberapa kian persennya. Beban mesin berkurang karena puli-nya tidak lagi terbebani oleh baling-baling yang mengangkut angin. Jika pagi hari, kita bisa berjalan sampai 4 kilometer dan kipas elektrik belum sempat menyala juga (itu kalau Anda tidak pakai thermostat). Jadi, bunyi mesin semakin halus, tidak berisik. 

modul penetas telur untuk menghidupkan relay ke kipas
Keunggulan lainnya adalah; saya telah melepas kipas tambahan atau extra fan—yang sebelumnya dipasang di depan radiator untuk jaga-jaga dalam memberikan bantuan pendinginan buat radiator mana tahu ada kemacetan panjang dan kita ingin menyalakan AC (saya pakai AC). Kipas elektrik ternyata cukup mengatasi dalam keadaan idle. Dan inilah tujuan utama dari pemasangan kipas elektrik ini. Catatan: Tapi, ini berlaku di (kemacetan) di Madura saja, tapi saya kurang yakin kalau kemacetannya ala di Jakarta yang secara auranya sangat panas: aspalnya panas, udaranya panas, dan orang-orangnya juga mudah panas.

Adapun kelemahannya; temperatur mesin akan naik secara signifikan (bahkan hingga nyaris 90 derajat; jarumnya nyaris mencapai setengah pada Colt) jika kita injak gas secara stabil dalam kecepatan 90 km / jam selama beberapa menit, anggaplah selama 10 menit. Situasi ini akan merepotkan jika kita sering bepergian jauh dan melewati jalan tol. Kok bisa? Karena RPM mesin sangat tinggi sementara RPM kipas tetap segitu saja, beda dengan kipas bawaan Colt yang akan berputar cepat sesuai putaran RPM mesin.

Untuk mengatur pada suhu berapa kipas harus menyala, kita bisa atur pada modul yang aslinya buat penetas telur (inkubator). Bahkan, kita bisa nyetel sambil berjalan. Kalau pakai sensor panas yang biasanya dipasang di dekat thermostar, biasanya pilihannya cuman ada dua: menyala pada suhu 76,6 derajat atau 82 derat. Kalau yang ini, dan harganya cuman 60 ribu, bisa dinyalakan bahkan sejak 50 derajat (tapi tentu buat apa menyalakan kipas di suhu seperti itu?


Untuk sementara, saya masih bertahan menggunakan kipas elektrik. Alasannya; karena saya tidak terbiasa ngebut di atas 100 km / jam (rata-rata 60-70 di jalan arteri; atau 80-90 di jalan tol). Tapi, saya pun jarang lewat jalan tol panjang (kecuali ke Jakarta tempo hari dan atau ke Jogja. Tapi, bosan juga, sih, kalau terus-terusan seperti ini. Saya harus cari cara yang lain lagi.

 

kipas kondensor pakai Avanza

 

Langkah terakhir, saya menggeser plat nomor yang sebelumnya sedikit menutupi gril bumper depan. Saya juga memasang bilah karet (yang biasa buat ngepel lantai itu) di bawah labrang depan. Fungsinya adalah untuk menangkap angin yang datang dari arah depan agar bisa langsung nyembur ke radiator.

Dengan cara ini, ternyata masalah berhasil diatasi. Catatan: Saya belum mencobanya dalam kecepatan tinggi (100 km/jam) yang konstan dan lama, hingga satu jam, misalnya.


Yang perlu diingat, karena kipas kondensor AC saya menggunakan punya Avanza (strumnya lumayan besar) dan kipas radiatornya menggunakan punya Karimun (juga besar), maka benarlah ia memang meringankan beban mesin, tapi di sisi lainnya memberi beban tambahan pada dinamo ampere. Sementara dinamo ampere saya pakai punya Carry (atau mungkin Zebra, dah lupa). Supply-nya jelas kurang kalau kita gunakan pada malam hari. Nah, untuk menyiasatinya, kita harus pakai lampu LED karena lampu pijar itu benar-benar sangat boros dan sangat menyedot daya. Tapi, ya, itu, lampu LED juga punya kelemahan di bidang penerangan pada musim hujan, bahkan yang warnanya kuning sekalipun, tetap tak seberfungsi lampu pijar.


Itulah beberapa kekurangan dan keunggulan perangkat yang dipasang pada Colt dan menggunakan perangkat pabrik di luar Mitsubishi. Silakan Anda pilih yang sesuai dengan selera Anda.

13 Februari 2022

Seribu Kilometer untuk 500.000 Kilometer (Etape IV)

SENIN, 7 FEBRUARI

 

Pagi sekali, rencananya bahkan sehabis subuh, kami pulang. Tapi, saya ingat, ini hari Senin. Saya harus mulang kitab dulu (melalui sambungan telepon kalau sedang berada di tempat yang jauh). Maka, setelah pukul 06.30, setelah tugas, saya pamit. Eh, malah tak boleh sama tuan rumah. “Makan dulu,” katanya. Itu sudah saya duga dan biasanya emang begitu. Dalam hal ini, pepatah “tamu bagaikan mayat” berlaku. Artinya, tamu harus mau dititah tuan rumah.


Setelah makan, obrolan masih berlanjut. Waduh. Akhinya, saya baru bisa pamit pukul 08.30, banyak waktu molor dari yang direncanakan sejak awal. Biarlah, saya pasrah, padahal sudah saya bilang, bahwa saya buru-buru karena malam nanti ada undungan menghadiri Haul Gus Dur di Sumenep.


Meskipun masih harus mampir di Klathakan untuk ambil titipan dari Ummah untuk saudaranya di Madura, saya bawa mobil santai saja. Ruwet pikiran melihat seliweran orang begitu banyak yang serampangan. Untuk menghemat waktu, saya cuman numpang pipis saja saya di sana, tak mau disuguhi kopi, lalu melanjutkan perjalanan.


Mulai dari Bletok, barulah saya bisa melaju agak kencang, lebih cepat dari tadi, kira-kira 70-80 (padahal sebelumnya cuman 60) karena jalan sudah mulai rada lengang, mungkin karena gerimis. Di satu sisi, gerimis membuat jalan lengang, tapi jalan jadi berbahaya. Kalau terang, semuanya jadi enak, pandangan juga serlah, tapi lalu lintasnya ramai. Paling enak kalau lewat jalan tol, gerimis pun masih bisa kencang. Enak pun ternyata masih ada “tapi”-nya juga: tapi di tol itu membosankan dan harus membayar mahal. Apa-apa itu ternyata ada plus-minusnya.


Cling!


Hingga akhirnya, saya teringat sesuatu dan saya menepi di ruas jalan tempat istirahat, di atas Binor, atasnya PLTU Paiton.


Kenapa?”

Mau nyuting odometer, ini mobil mau sampai 500.000. Saya mau pinjam ponselnya,” kata saya sama Kak Fadlillah.


Akhirnya, saya mulai menjalankan mobil lagi, pelan saja. Odomter mobil bergerak dari angka 499.997/2 dan mencapai angka 500.000 saat mobil berada di sisi selatan PLTU Paiton. Horeee. Saya senang sekali, tapi senang untuk apa sebenarnya. Saya yakin, angka itu bukanlah angka sejati. Odometer pernah mengalami putus. Di kepemilikan sebelumnya, bisa jadi hal yang sama juga terjadi, bahkan bisa saja pernah direset, pernah di-nol-kan ulang. Tapi, mana saya peduli. Apa pun dan bagaimanapun, pada momen itu, saya tetap mencatatnya sebagai sebuah momen penting dalam kesejarahan mobil ini di bawah kepemilikan saya selama 13 tahun terakhir.

 

Di Pajarakan, saya dikontak Iyok Fakhrud. Dia bilang baru saja berpapasan. Saya man tahu dia naik apa. Sebelumnya juga begitu, sempat diberhentikan Subhan di Lubawang, sebelah barat Besuki. Itulah salah satu keuntungan mobil tua yang warnanya tak pernah diganti dan ada stiker khusus yang memudahkan orang mengenalnya: font besar bertulis “Pariwisata” di atas kaca depan. Semua ini tak akan terjadi andai saya naik Avanza Hitam atau mobil orang kebanyakan lainnya.


Perjalanan terus saya lanjutkan karena badan masih terasa mampu. Hujan mengguyur secara gila saat kami lewat Tongas, bahkan sampai Bangil. Mobil-mobil berjalan sangat lambat sambil menyalakan lampu utama. Kali ini, saya memang tidak lewat tol karena jalanan terbilang sepi. Eman-eman uang 80 ribu dikeluarkan untuk sesuatu yang tidak penting-penting amat (beda dengan saat berangkat karena lewat tol memanglah dibutuhkan).


Di Tangkel, sehabis adzan asar, saya berhenti sejenak untuk mengambil kiriman dari adik kandung kepada ibu di rumah (saya tidak masuk ke rumahnya karena butuh jarak 20 kilometer pergi-pulang dan itu jelas makan waktu jika dilakukan, sementara saya ngejar waktu untuk hadir ke acara di Sumenep pada malam harinya). Selagi nunggu kiriman, tiba-tiba seorang anak muda bernama Dayat menghampiri saya. Oh, rupanya dia juga punya Colt. Katanya, dia melihat Colt saya dari jarak agak jauh sedang parkir, maka dari itu ia kemudian mampir.


Jalan lagi, sebentar saja, saya shalat zuhur-asar di Masjid Baiturrohman,Dumajah. Di situ, saya ketemu dengan Kiai Fauzan Badruddin. Di mana-mana kok ketemu kenalan, kata saya dalam hati. Betapa banyaknya orang baik di dunia ini.


Tak lama di sana, kami lanjut lagi, tapi berhenti lagi di Sampang karena sudah tak tahan lapar. Depot Al-Ghozali, di Tanglok, lepas kota Sampang, adalah tempat jujukan. Kami makan rawon di sana. Tak lama juga, makan, bayar, pergi lagi. Kami lanjut ke timur.


Setelah menurunkan ‘paket’ dari Klathakan di pertigaan Sumber Anyar, masih ada waktu tersisa untuk menjamak shalat maghrib-isya di Masjid Nurul Falah, selatan SPBU dekat Talang Siring. Sama seperti sebelum-sebelumnya, setiap kami singgah hanya benar-benar sesuai waktu yang dibutuhkan, tak ada santai-santai dulu. Seperti itu pula pada persinggahan terakhir: habis shalat, langsung berangkat. Kami tiba di rumah beberapa menit setelah azan isya. Sambil menurunkan semua barang di mobil, saya menyeduh kopi. Tapi, hanya beberapa kali sesapan, Innova Reborn berwarna putih masuk ke halaman. Ini pertanda Om Mamak yang datang.


Oleh-oleh sudah masuk rumah. Mainan sudah diberikan ke anak. Cucian sudah diletakkan di tempatnya. Saatnya saya pergi lagi, menghadiri undangan haul. Kepada panitia sudah saya wanti-wanti sebelumnya, jauh hari: Saya cuman mau datang, duduk di kursi hadirin. Saya tidak mau menjalankan tugas lebih dari itu. Dan kebetulan, kala itu, saya memang capek, habis nyetir dari Situbondo. Makin kuatlah alasan saya.


Kami pergi ke Sumenep dengan Innova Reborn. Tujuannya adalah Kafe Tanean, sebuah kafe baru yang sangat besar, dekat Asta Pangeran Katandur. Di dalam kabinnya yang senyap, saya merasakan sedikit perbedaan dengan Colt yang baru saja saya rasakan. Empuknya tak seberapalah bedanya. Sini ada menangnya, sana ada menangnya juga. Sini menang senyap, sana menang murah. Terus, saya cari perbedaan-perbedaan lainnya. Apa, ya, kira-kira? Maksud saya, perbedaan prinsip antara Colt dengan Innova? Lalu, saya temukan hasilnya: Lari dengan kecepatan 80 kpj di atas Innova itu masih asyik buat ngobrol macam-macam, bahkan obrolan serius, politik kebangsaan misalnya. Tapi, dengan kecepatan yang sama, di atas Colt T120, kita tidak bisa ngobrol terlalu ngelantur karena sopir harus mikir soal kepakeman rem, kelimbungan bodi, serta kemungkinan pelimpasan stir. Itu dia bedanya.


Eh, sebentar, tapi, saya ingat cerita di atas. Sepanjang jalan naik Innova, dari Guluk-Guluk sampai Sumenep, bahkan andai dilanjutkan sampai ke Jakarta, tak ada satu pun yang menyapa, tak ada orang kasih lampu atau isyarat klakson, tak ada yang kenal. Kenapa? Ia tak ada identitas. Di jalanan, ia terlalu banyak kawan sejenisnya.


Seribu Kilometer untuk 500.000 Kilometer (Etape III)

AHAD, 6 FEBRUARI


Pagi hari Ahad tak ubahnya Sabtu malamnya, masih lanjut ngobrol, tempat yang sama, seolah-olah itu kelanjutan tadi malam yang dipisahkan oleh fase tidur sebentar. Masih di tempat Hariri, kali ini datang tambahan: Pak Muqiet dan Pak Taufiq. Mereka menemani saya ngobrol pagi itu. Betapa terhormatnya sampai-sampai saya merasa rikuh. Obrolannya tidak serius, melainkan haha dan hihi. Itulah tema kesukaan kami semua.


Setelah disuguhi sarapan yang lebih tampak sebagai prasmanan besar di malam hari atau gala dinner, saya pamit, tapi masih dicegat oleh Pak Muqiet.


Tolong mampir ke rumah meski sebentar.”

Tapi, saya agak terburu-buru,” kelit saya.

Sebentaaar saja, berdiri di depan pintu pun tidak apa-apa. Yang penting, kunjungi rumah kami, sebentar saja supaya kami juga dapat berkah yang dibawa tamu.”





Undangan dipenuhi dengan syarat tak lebih dari secangkir kopi. Sewaktu kami ngobrol (lagi) di kediaman mantan Wakil Bupati Jember tersebut, eh, ternyata, di belakang, mobil saya dicucikan. Seorang lelaki paruh baya tampak menyemprotkan air dan mengelap bodi mobil. Waduh, ini jebakan, tapi asyik juga, sih. Rupanya, begitulah cara beliau membuat kejutan.


Dari Karangharjo, saya menuju Sempolan, pertigaan jalan raya Jember-Banyuwangi. Saya ikat janji dengan Kak Fadlillah di sana. Pas! Kami bertemu dan hanya sebentar dalam selisih waktu. Sebetulnya, saya juga ingin mampir di Suren untuk bertandang ke rumah Lora Miftah, tapi kata kabar tersiar, beliau kurang sehat dan masih butuh istirahat. Jadi, rencana bertemu dengan beliau gagal ditunda.


Dari situ, kami meluncur ke timur, menuju perkebunan pinus di Garahan untuk menghadiri kopdar Triwulan Komunitas Colt Jember (JCL). Istilahnya, sekalian mampir mumpung saya memang hendak melintasi Gumitir.


Kopdar Colt JCL ini, kabarnya, dilaksanakan tiap tiga bulan sekali. Tapi, selama dua tahun terakhir kosong karena pandemi. Untuk kopdar pertama setelah lama diem-dieman, mereka buat pengumuman di Facebook. Saya menyatakan bersedia hadir karena memang ada rencana ke Jawa. Hukum “sekalian” dan “mumpung” pun berlaku. Eman-eman jika datang untuk satu kepentingan padahal bisa nambah untuk kepentingan yang lain. Maka, saya ikut pepatah: “sekali ngegas dua-tiga kota terlampaui”.


Dalam acara itu, hadir teman-teman Jogja, Kediri, Malang, juga Surabaya. Lainnya saya kurang tahu. Tapi, yang paling banyak jelaslah yang dari Jember dan Banyuwangi, kebanyakan mobil bak terbuka. Acara resminya sebetulnya tidak lama, satu jam tak sampai. Tapi, orang-orang tidak segera bubar. Sebagian menyelenggarakan rapat untuk acara mendatang, sebagian lagi mandi, atau bersepada, atau main ATV (memang ada persewaannya, termasuk anak saya ikut main). Sebagian lagi entah pada ngapain saja. Entahlah.


Sekitar pukul 13.00 lewat, saya meninggalkan lokasi, berbarengan dengan beberapa mobil yang keluar. Rombongan Jogja sudah pergi dari tadi. Saya belok kiri, yang lain belok kanan.


Tak jauh dari tempat itu, Colt langsung menghadapi tanjakan mengular, Gunung Gumitir. Ini jalan memang paling asyik suasananya. Tapi, sekarang tidak seserem dulu. Waktu kecil, saya sering lewat jalan ini, ketika kendaraan tak seramai sekarang. Dulu, kalau malam, mobil-mobil yang mau melintasi hutan ngumpul lebih dulu di Garahan. Setelah ada beberapa, baru mereka konvoi lalu mulai jalan bersama-sama. Kenapa begitu, adakah mereka takut hantu hutan atau takut perampok, wallahu a’lam.


Lepas hutan, masuk Kalibaru. Dari spion kanan, tampak ada dua Colt yang membuntuti. Saya sein kiri supaya mereka menyalip, namun mereka tetap di belakang. Akhirnya, saya paham. Rupanya, mereka mengawal, mengiringi. Dan ketika saya telah tiba di tempat persinggahan, Majlisus Sa’adah, Wadung, Glenmore, untuk menyambangi sepupu saya, tiba-tiba Colt station berhenti juga (yang pikap lanjut). Loh, ternyata, yang nongol adalah Mas Agus Supriady (beliau ini beberapa kali membeli buku sama saya). Maka, terjadilah perbincangan sekejap. Lain waktu, saya ingin bincang lebih lama dengan dia, tidak di tepi jalan, tapi di suatu tempat yang lebih nyaman. Kapan itu? Saya tidak tahu.


Cik, aku cuman mau numpang tidur sejenak, ndak usah repot-repot,” kata saya pada si sepupu yang perannya saat itu adalah sebagai tuan rumah. Itu ucapan serius, bukan basi-basi.

Iya, Kak, silakan,” jawab si Locik yang bernama asli Yazid lebih datar lagi.


Tapi setelah kurang lebih satu jam tidur, saya bangun dan tiba-tiba saya melihat makanan yang sudah disediakan. Basa-basi gagal, ternyata saya diperlakukan sebagai tamu beneran. Ya, terlanjur ada, diembatlah itu si nasi dan si ikan dan si lauk-pauk lainnya.


Dan seperti yang sudah saya sampaikan di awal kedatangan, sesuai S.O.P, saya langsung pamit pergi, melanjutkan perjalanan ke timur. Masih ada dua titik persinggahan yang harus disamperi, padahal rencana pulang ke Madura adalah malam nanti? Mungkinkah?


BustanulMakmur II itu masuk ke utara, Kak,” kata Yazid yang saya panggil Locik.

Ke utara di mana?”

Pokoknya, nanti setelah sampai Genteng, Kak Izi bakal ketemu dengan tiga lampu merah. Nah, setelah lampu merah yang ketiga itu ada jalan masuk ke utara, belok kiri. Letaknya di belakang kampus Ibrohimi.”

Baik, pasti ketemu.”


Tujuan ke Bustanul Makmur adalah untuk mengunjungi Rifki dan adiknya, Afthon Dhani. Kedua saudara ini adalah sepupu persis almarhumah istri saya (juga famili saya). Keduanya sedang menjalani guru tugas dan desainer di pondok yang didirikan oleh Kiai Saifuddin tersebut. Sore itu, Dhani sedang ngajar dan Kiki sedang keluar. Saya menunggu. Setelah bertemu Dhani, baru Kiki datang menjelang maghrib. Kejutan baru terjadi. Ternyata Kiki—panggilan Rifki—baru pulang dari Bustanul Makmur Pusat. Dia mengatakan bahwa saya sempat dirasani Gus Endi. Terpancing oleh itu, akhirnya kami pergi ke sana.


Maka, bertemulah kami di Bustanul Makmur Pusat yang ternyata memang merupakan kediaman Gus Endi. Saya bertemu beliau di Buleleng, dua tahun lalu, di rumah sepupu beliau, pamanda Ahmadul Faqih Mahfudz (yang secara nasab merupakan sepupu Gus Endi dari jalur ayahnya; merupakan paman saya dari jalur ibu saya yang nyambung melalui embah putrinya. Tapi, Gus Endi ternyata bukan paman saya karena beliau berada di jalur nasab yang berbeda). Di sana, kami juga bertemu dengan Gus Imdad dan Gus Nawal serta seorang temannya dari Jember. Pertemuan yang kurang tepat secara waktu—karena habis maghrib—itu sangat gayeng sehingga sempat membuat saya lupa diri, lupa bahwa masih ada satu titik tersisa yang harus disingghi.


Karena saya tidak menggunakan Google Maps, maka saya tidak bisa memperkirakan jarak. Makanya, saya terkaget-kaget karena ternyata rute Genteng – Banyuwangi itu sangat jauh, lebih-lebih malam itu gerimis dan jalan sangat padat, ditambah rutenya tidak akrab. Begitu membosankan, tapi saya jalani saja dengan santai. Bonusnya adalah salah jalan di Banyuwangi. Saya sempat muter-muter beberapa kali dan baru berhasil mengakses kembali Jalan Nasional ke arah Ketapang setelah buang jarak dan buang waktu kurang lebih 15 menit lamanya. Itu buang-buang jika mengingat saya sedang kejar waktu ingin sowan ke Kiai Fadlurrahman, tapi itu juga tambahan pengalaman sebab akhirnya saya jadi tahu tempat-tempat yang semua tidak pernah saya lewati.


Terus, bagaimana cara saya agar tahu jalan masuk ke pondok pesantren asuhan Kiai Fadol (panggilan masyarakat terhadap Kiai Fadlurrahman Zaini) itu sementara congap (pertigaan jalan masuk)-nya sangat tersembunyi? Yang saya lakukan adalah menelepon adik agar mengecek jarak dari Pelabuhan Ketapang ke congap yang mengarah ke pondok beliau, PP Al-Abror Ar-Robbaniyun.


18 kilometer,” katanya.

Pas?”

Iya.”


Saya pun menginjak gas tanpa ragu dan baru kembali memperhatikan pergerakan odometer mobil setelah odo mencapai 17 km. Setelahnya, barulah saya mencari jalan masuk ke arah kanan, ke timur, ke arah pondok, eh, ternyata masih larat juga. Masih untung ada tukang sate yang menyelamatkan. Saya bertanya kepadanya. Kata dia, saya kelewatan sekitar hampir satu kilometer. Barangkali, tukang sate itu sudah lama sekali tidak bertemu dengan orang yang bertanya lokasi karena orang-orang pada pakai aplikasi (setelah tiba di rumah dan menulis catatan perjalanan ini, saya cek di Google Maps melalui PC, ternyata jarak dari pintu pelabuhan Ketapang ke congap itu cuman 16 kilometer. Adik saya sepertinya salah paham karena angka 18 kilometer tersebut adalah jarak dari pintu pelabuhan ke pondok Nurul Abrorar-Robbaniyyin, bukan ke congap).


Sowan ke Kiai Fadlurrahman Zaini di malam itu gagal. Kata petugas, sepertinya waktu sudah kemaleman untuk bertamu. Jam menunjuk 21.30. Memang iya, sih. Mereka memberi saran agar kami bermalam. Saya berterima kasih karena itu tidak mungkin. Tak apa-apa, semoga lain waktu kami bisa ke situ. Sebelum pergi, sempat terlintas kenangan terakhir di tempat itu bersama mendiang istri saya, melintasi khayalan. Saya ingat sowan terakhir kami dua tahun yang lalu. Di sana, kami disambut dengan penuh kehangatan (dan ...ah, tapi saya jadi sedih).


Perjalanan diteruskan ke Arjasa setelah kami singgah sejenak di sebuah kedai, di Galekan. Menghubungi nomor Moeftin Nadzir tapi tak aktif, ya sudah, lanjut saja. Hujan lumayan deras. Sempat saya gelagapan di dalam hutan Baluran. Saya deja vu, ingat kejadian serupa 12 tahun yang lalu. Tapi, kali ini lebih mencekam karena dua kali lampu depan mati mendadak lalu hidup kembali. Kak Fadlillah mengaku cemas atas kejadian itu (tapi ia sampaikan setelah tiba di Madura). Mungkin, mati lampu dianggap isyarat kurang baik. Tapi, bagi saya tidak karena saya tahu persoalannya. Kejadian mati lampu mendadak memang sudah terjadi sebelumnya, beberapa kali, tapi belum ketemu masalahnya. Baru setiba di Asembagus lah saya tahu. Ternyata, penyakitnya adalah penjepit sekring tabung goyah, bukan relay lampu yang karatan seperti yang saya duga sebelumnya.


Akhirnya, saya tiba di Arjasa dalam keadan penat tak berdaya. Rencana mau lanjut malam itu juga digagalkan. Sebetulnya, saya bisa tidur sejenak, bangun, dan langsung berangkat. Tapi, bukan itu alasannya, bukan capeklah alasan terbesarnya, melainkan karena saya tak ingin pagi esoknya anak saya bangun dan menemukan saya tak ada lagi dari sisinya.


Besok saja, Kak,” kata saya pada Kak Fadlillah.

Keunggulan dan Kelemahan Menggunakan Kipas Radiator Elektrik

dinamo tidak center, agak tidak kena puli Mobil saya menggunakan kipas pendingin raditor elektrik. Yang dicangkok adalah kipas milik Suzu...