Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Mitsubishi Colt T120. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mitsubishi Colt T120. Tampilkan semua postingan

02 Agustus 2023

Ke Jember, Situbondo, Probolinggo Dibayar Tunai



Rencana dua bulan yang lalu, dari Jogja langsung ke Jember yang gagal, akhirnya dapat dibayar tunai sebulan setelahnya: 26 Juli 2023 

Saya berangkat pukul 21.30, malam Kamis itu, setelah mengatur ulang rencana perjalanan karena perubahan mendadak. Pasalnya, tiga anak yang sedianya mau ikutan ke Jember, kok, mendadak mengundurkan diri dan memilih masuk sekolah saja. Dua anak terakhir ikut-ikutan yang tertua. Maka, anggota rombongan pun berubah, yaitu saya, istri, anak termungil, dan seorang santri. Adapun pembantu pengemudi—yang notabene nanti bakal dominan—adalah Cak Badi.

Cak Badi ini baru kedua kalinya bareng saya. dia menggantikan Anam yang agaknya mau undur diri setelah menikah. Saya memang pilih-pilih untuk diajak tandem menggunakan Colt karena meskipun bisa mengemudi, tapi tidak semuanya punya passion untuk menjalakan Colt T120 ini. Cak Badi adalah satu di antara yang sedikit itu karena dia memang punya Colt di rumahnya.

Cak Badi bergabung dari Pakamban, dari lokasi yang dekat dengan rumahnya. Konon, pengalaman kali ini, yaitu perjalanan ke Jember, Situbondo, dan Paiton, adalah pengalaman pertamanya sejak 10 tahun terakhir. Sejauh ini, rute-rute mengemudinya rute barat, seperti ke Kediri atau Salatiga, tidak seperti pada umumnya orang Pakamban yang aksesnya cenderung ke Probolinggo-Jember mengingat banyak sekali orang Pakamban yang merantau ke area Tapal Kuda, khususunya Kraksaan dan Paiton. 

“Biar saya dulu yang nyetir,” kata saya kepada Badi, sembari tetap duduk di belakang kemudi, “sampai batas ngantuk!” 
Ketika mencapai Jrengik, saya mulai mengantuk dan saya serahkan stir kepadanya dan saya pun tidur lelap. Saya bangun persis ketika mobil masuk ke ruas Jalan Kedungcowek, selepas Jembatan Suramadu.
“Wah, dari tadi, saya enggak bangun sama sekali, ya?" tanya saya pada Cak Badi, mengonfirmasi.
"Sepertinya enggak."

Saya cek jam digital di ponsel saat kami melewati gerbang tol Dupak III, ruas tol yang dibangun paling lama, yaitu koneksi Ujung Perak-Gempol (kalau tidak salah sudah terhubung sejak tahun 1986). Sehabis menggesek kartu, saya melirik jam: pukul 01.00 percis. Dengan kata lain, sudah 3,5 jam perjalanan kami dari rumah.

Dengan berjalan santai di bawah kendali Cak Badi, Dupak III – Kejapanan, sejauh 45,3 km, ditempuh 34 menit. Lalu, dari Kejapanan ke GT Probolinggo Timur, dengan bentang jarak tol 153 km, perjalanan ditempuh kurang lebih 65 menit. Kami tiba di Leces pada pukul 02.38. Tapi, seperti dikhawatirkan, Leces ternyata macet, meskipun tipis-tipis. Untuk melewati kota kecil itu, kami buang waktu sekitar setengah jam lamanya. Kemacetan kali ini disebabkan oleh perbaikan jalan, bukan kemacetan penyerobotan yang biasanya terjadi manakali ada banyak truk pasir yang melintas dan lelet saat tanjakan. 

Sampai Jatiroto, jalanan masih lancar. Rencana semula mampir di Masjid An-Nur yang lampu-lampunya meriah pun digagalkan dan kami memilih Masjid Asasut Taqwa yang terletak tak jauh di sebelah timurnya (saya penasaran, kedua masjid yang sama-sama besar ini hanya berjarak 318 meter kalau ditarik lurus berdasarkan perhitungan satelit Wikimapia). Akan tetapi, karena azan subuh masih belum berkumandang dan hanya ada satu orang takmir yang tampak bersih-bersih di dalamnya, kami lanjutkan perjalanan ke timur. Akhirnya, kami pun parkir di halaman Masjid Al-Baiturrohman, Pecoro, subuhan di sana.
Perjalanan dilanjutkan ke Ajung, menuju rumah Paman Baidawi. Ancer-ancer dikasih tahu: “jalan dulu sampai perermpatan besar Mangli, lalu belok kanan ke arah Jenggawah.” Benar! Setelah 5,5 km, ada masjid eksotis yang letaknya tepat di jalan raya, di samping sungai pula, yaitu Masjid Baitul Ijabah Klompangan. Sudah sampai situ? Belum, dari masjid tersebut, kami ambil kanan, masuk ke jalan kecil, ke arah barat sejauh 2,3 km, menyusuri sungai yang tampak sangat rapi dan sepertinya buatan Belanda, seperti dam-dam di daerah Lumajang pada umumnya. Nah, setelah ‘ketemu’ Masjid Darussalam , maka itu tandanya lokasi tujuan tidak jauh lagi, hanya 300-an meter di selatannya, 300 meter tepatnya ke titik kordinat MI Khairiyatul Amin, titik tujuan kami di Jember. 

Dari pukul 6 sampai pukul 4 sore kami di sana. Paman Baidawi merupakan paman dari istri saya. Hari itu, kami beranjangsana. Mereka mengajak saya ke Puslit Kopi dan Kakao yang terletak tak begitu jauh dari rumah beliau. Kami naik kereta kayu, mengelilingi perkebunan kopi dan cokelat, melewati hutan karet dan tentu saja sembari membeli buah tangan untuk dibawa pulang ke Madura. 

*** 

Sore hari, setelah upacara pamitan dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. Hari itu, Kamis, 27 Juli 2023 itu (atau 9 Muharram 1445 H), saya targetkan singgah ke empat tempat. Sementara hari sudah sore dan baru satu tempat yang berhasil disambangi. Kami lanjutkan perjalanan untuk mengunjungi bibi saya, Zainah, di Dukuh Mencek, yang rumahnya bersebelahan dengan Masjid Hasanul Islam

Menjelang azan maghrib, saat sudah tarhim, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Situbondo: kunjungan takziyah ke Paman Masrur (Malung) yang wafat Selasa, 18 Juli lalu. Rencana semula, kami mau takziyah pada hari ketujuh, yaitu Senin, 24 Juli. Entah kenapa, halangan datang silih berganti sehingga saya gagal berangkat. Beruntung, akhirnya takziyah terlaksana meskipun mundur 3 hari dari rencana semula. Kami pun disambut putra almarhum dan juga istrinya, di Dawuhan, di rumah duka, yang lokasinya terletak di belakang toko Griya My Moon Store, 1 km persis utaranya lampu merah Alun-Alun Kota Situbondo. Ancer-ancernya adalah; 1000 meter dari lampu merah Alun-Alun Kota Situbonda, ke arah utara, Jalan Sucipto, lalu masuk ke kiri, melewati jembatan kecil, masuk ke gang sempit di antara dua gedung nan tinggi. Nah, di situ kita akan tiba di lokasi.
Dari kota Situbondo, kami lanjut ke Klatakan, ke rumah Ummah. Namun, sebelum itu, kami singgah sejenak di Panarukan, ke rumah Malik, ipar Man Malung. Di sana, saya nyekar di makamnya beliau (Man Malung) untuk membacakan tahlil khususon almarhum dan seluruh isi maqbarah. Oh, iya, Ummah ini istri Kak Arif (ipar Man Malung juga) yang kebetulan juga dia sepupu dua kali dengan Kak Arif dan sepupu persis dengan mendiang istri saya, Nyai Makkiyah. 

Kami tiba di sana hampir pukul 22.00. Ealah, saya masih rujakan mangga sebelum tidur demi memenuhi keinginan istri yang sejak tadi cari rujak manis tapi gak dapat-dapat. Hamdalah, empat titik dapat disinggahi semua dalam satu hari. 

JUMAT, 28 JULI 2023 

Pagi sekali, pukul 06.30, kami bergerak ke arah barat, menuju PP Nurul Jadid. Paiton adalah tujuan akhir saya, yaitu untuk menghadiri rapat wali santri karena putri kami, Fatimah, menjadi santri baru di pondok pesantren tersebut, di wilayah kepengasuhan Al-Mawaddah, asuhan Nyai Hamidah Abdul Wafie (pengarang Shalawat Nahdliyyah yang terkenal itu).

Hampir sehari penuh saya ada di Nurul Jadid, mengikuti acara pengelana tatib dan arahan pengasuh (KH Zuhri Zaini) sampai pukul 11.30, lalu shalat jumat, bercengkerama dengan putri saya, lalu ikut sesi kedua, yaitu parenting yang diampu oleh Ning Raudhlatul Aniq hingga selesai. Sebetulnya, materi inti berakhir pada 15.03, tapi sesi ini-itunya membuat acara benar-benar rampung menjelang pukul 16.00. 
Habis itu, saya antar anak ke pondoknya dan saya ajak dia takziyah ke Kiai Hefni Mahfudh yang ketika itu, secara kebetulan, putranya (Lora Roiq; pengganti beliau) sedang bepergian, sementara Nyai Nur sedang ada acara pesantren sehingga kami pun gagal bertamu. Demikianlah takdir bekerja, padahal rencana kali ini adalah kedua kalinya. Sebelumnya, pada hari raya Iduladha, saya juga hendak takziyah, padahal sudah tinggal beberapa langkah lagi ke Asrama Zaid bin Tsabit di wailayah kepengasuhan beliau itu, tapi rencana gagal karena saya balik arah sebab satu dan lain hal. 

“Sudah, ya! Ayah pulang saja.”
“Baik,” kata anak saya. 
“Nanti, kapan-kapan, dijenguk lagi. Jangan terlalu sering dijenguk. 

Anak kembali ke pondok, saya ke arah mobil yang diparkir di rumah Ustad Mannan yang lokasinya persis di pojokan Pos II, pintu gerbang akses ke PP Nurul Jadid sektor selatan. Di rumah Ustad Mannan—yang merupakan khadim Kiai Malthuf dan Nyai Hamidah Wafie di awal-awal beliau merintis pondokan santri di tahun 90-an—inilah saya berjumpa dengan Syaiful Khair yang notabene teman sepondok, dulu, dan saat itu sedang mengemudikan mobil rombongan dari Madura untuk tujuan yang sama. 

Menjelang azan maghrib, kami pulang. Jalanan ramai sekali, seperti biasanya, tapi tidak seramai tadi siang yang konon macet karena adanya kedatangan rombongan jemaah haji (tentu saja, yang bikin macet bukan yang datang dari haji, melainkan kirab atau pawainya). Kabarnya, bahkan bis-bis yang sedang menjalankan rute ke arah timur sempat tidak angkut penumpang karena dipastikan terjadi kemacetan besar di sekitar Pantai Bentar. 

Dalam pada itu, Om Washil bersama kami. beliau ikut kami dari Paiton, nyusul dari Situbondo. Beliau duduk di depan dan saya duduk di tengah. Kami mampir di RM Bu Sasmito untuk mengisi bahan bakar penumpangnya dan di SPBU Curah Sawo Gending untuk bahan bakar minyak mobilnya.  

Perjalanan berlangsung khidmat tanpa kendala.  Kami masuk tol Grati, akses jalan tol favorit kalau dari arah timur karena gerbang tol itulah yang paling dekat dengan arteri. Di Sidoarjo, kami keluar, mampir dulu—seperti sudah biasa, tak afdal rasanya kalau tidak mampir—di Warung Bakso Cak To atau Jungkir Balik yang letaknya tepat di sebelah barat Stadion Delta. Sayangnya, Mbak Lia dan Cak To sedang tidak di tempat karena Cak To sakit (semoga Allah memberikan kesembuhan untuknya). Hanya sepeminuman, eh, sepemakanan bakso, kami putar balik dan lanjut ke Madura.

Dari Sidoarjo ke Madura, mobil tidak singgah-singgah lagi. Bung Om Washil turun di Warung Asela karena sepeda motornya dititip di sana, kemudian kami lanjut ke Sumenep. Dari itu, saya menggantikan posisi pengemudi hingga tuntas perjalanan di rumah menjelang pukul 02.00, berakhir di angka 4777/1 (saat pergi 3932/3) yang artinya perjalanan kami, kali ini, adalah 844, 8 kilometer. 



21 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape VI: Purwokerto - Wonosobo - Temanggung - Semarang - Kudus)

Sejak dulu saya hanya dapat membayangkan sampai ke Purwokerto lalu makan tempe mendoan di pagi hari, ternyata keinginan tersebut kesampaian puluhan tahun kemudian meski sebatas satu poin saja, yaitu tempatnya, mendoannya tidak. Sebabnya, pagi sekali di situ, kami harus segera meninggalkan kota tersebut demi menjangkau lebih banyak tempat yang harus disinggahi dan dituju. Hal itu telah sesuai dengan rancangan perjalanan pulang.

Saya bangun sebelum azan subuh, Selasa, 5 Oktober 2021. Tumben, rasa lelah tidak membuat kami terlelap dan molor. Tidur di rumah yang tenanglah yang membuat kami cepat ngorok dan saya benar-benar mencapai target untuk beristirahat. Usai subuhan di Masjid Thalhah bin Ubaidillah, masjid yang bersebelahan dengana rumah beliau, saya kembali ke kamar, membangunkan dua anggota yang masih telentang. 

Setelah ditemui di ruang tamunya, berbincang sedikit tentang banyak hal, Bibi mempersilakan kami makan. Tentu saja, tanpa perlu ewuh-pekewuh, kami segera memanaskan perut dengan nasi dan ayam goreng dan lalapan sembari memanaskan mobil setelah mengecek oli dan air radiator.

Sebelum pukul tujuh, kami telah meniggalkan Pasirmuncang menuju Wonosobo. Akan tetapi, saat kami melintasi kota Banjarnegera, tiba-tiba saya teringat seorang kawan lama. Abdullah Haqqin Nazil namanya. Saya tepikan kendaraan di sebuah toko yang tutup, dekat Kedai Donat Cihanjuang, sembari mengeluarkan termos kopi lalu merokok dan mulai mengeluarkan ponsel, mencari nama di buku alamat.
Nama “Si Doel” ada! “Semoga dia tidak ganti nomor,” kata saya dalam hati. Pasalnya, saya sering dibikin sebal dan menyesal telah menyimpan ribuan nama dan nomor orang, dijaga, dirawat, eh, ternyata sudah ganti semua, bahkan ada yang pindah kepemilikan. Rata-rata, tak ada kawan yang bisa merawat nomor ponselnya lebih dari 10 tahun, apalagi sampai 20 tahun seperti Si Doel ini. 
Hanya beberapa menit, Si Doel—panggilan kesayangan saya untuk beliau—datang. Kaget sekali dia. Kami berpelukan, wah, seperti drama. Lalu, dia memaksa saya agar bertandang ke rumahnya, padahal dia sedang mengenakan pakaian dinas. “Saya sudah izin sebentar kepada atas. Ayo, harus ke rumah!” ajaknya. 

Kami mampir di rumah si Doel, malah ditahan-tahan agar tidak segera ke Wonosobo, padahal tadi sudah terlanjur janjian dengan Haqqi, sang tuan rumah di Wanazabe. Setelah berjuang keras, akhirnya kami diperkanankan pergi, setelah satu jam lebih bertandang di situ. Waktu sebegitu singkat sudah tergolong lama karena mampirnya tidak terencana. Tapi, jika ingat dia adalah kawan lama yang tidak dikunjungi, maka satu jam itu tidak ada apa-apanya untuk duapuluh tahun lebih tidak bertemu. Intinya, apa pun ceritanya, sebagiamana hidup ini, jalan cerita tetaplah jalan cerita, hingga kami lanjutkan perjalanan ke Wonosobo yang berasa dingin sejak beberapa kilometer sebelum tiba.

Kami mencapai lokasi Masjid Al-Manshur, Kauman, masjid legendaris dengan arsitektur lawas, pada pukul 10.40. Situasi sangat ramai. Rupanya, takmirnya  mengadaklan vaksin bersama masyarakat. Sebelum Anto Bagong datang bersama Akmal Abid yang menyatakan akan ikut menyambang setelah tahu saya datang, Haqqi Anshari juga kontak-kontak kawannya. Akhirnya, saya bisa berjumpa dengan beberapa orang yang sudah lama kenal juga orang yang kenalnya baru saja: Mbak Astin (senior saya di IAIN Sunan Kalijaga), Salman (teman di komunitas BMC) dan kawannya, Tofa), hingga akhirnya Mas Anto dan Akmal Abid datang (mereka berdua adalah kawan sesama penggemar Colt T120). 

Saya sangat terharu melihat kedatangan Mas Anto mengingat beliau, tadi sebelum tiba, menyatakan sedang berada di Temanggung lalu balik ke Wonosobo untuk menemui saya. Ternyata, yang ngasih tahu Mas Anto perihal posisi saya adalah Pak Bambang (Benar-benar kayak orangtua itu Bapak, memantau perjalana saya terus-menerus, sejak berangkat hari Kamis sampai ini sudah masuk hari Selasa). Dari Temanggung untuk satu keperluan, beliau balik arah ke Wonosobo hanya untuk menjumpai saya? Waduh. Dan ternyata, kejadian sesudahnya adalah; beliau balik lagi ke Temanggung, mengawal mobil saya.

Setelah melaksanakan rukun pertemuan kontemporer, yaitu sesi foto bersama, saya pun pamit kepada Haqqi dan teman-teman yang lain untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, kami sudah melaksanakan shalat jamak di masjid serta sowan kepada Kiai Chaedar Idris yang kediamannya bersebelahan dengan masjid. 

Cus Temanggung...

“Tolong jangan makan dulu,” pesan Mas Anto kepada saya, tadi lewat sambungan telepon, sebelum beliau tiba. “Saya mau ajak Anda ke tempat makan yang enak.” Ternyata, yang dimaksud tempat makan enak itu adalah makan entok di warung Raja Mentok, Kertek. Lokasinya tak jauh dari rumah Mas Anto. Tapi, rumah makan ini ternyata jual ayam goreng juga. Ayam memang paling ngetop sedunia.

Sembari makan, Mas Anto bilang kalau dia mau mengantar kami ke Kadilangu, Demak, ke makam Sunan Kalijaga.

“Wah, ndak usah merepotkan, Mas.”
“Bukan merepotkan, tapi kami memang yang ingin ikut ziarah, mumpung,” katanya.
“Baiklah jika alasannya memang begitu.”

Maka, naiklah saya ke mobil beliau, sebuah mobil pikap box bermata bulat, “bagong” kata orang. Sementara  Colt saya dibawa Anam dan Qudsi. Dua mobil siap bergerak menuju Demak. Namun, dalam perjalanan dari Wonosobo menuju Temanggung, kami sempat singgah di Kledung untuk sesi foto sore, foto bersama dengan latar Sindoro-Sumbing, sebelum sampai ke Tembarak.

Sebab matahari sudah turun,  kami sepakat untuk shalat maghrib di rumah Mas Akmal Abid. Pasalnya, saat tadi kami mengikuti Mas Anto ke rumah istrinya—mungkin istri yang satunya, bukan istri yang satunya lagi—beliau tidak jadi membawa bagong stationnya, lalu memutuskan untuk bawa bagong pikap box-nya yang pada saat itu diparkir di rumah Mas Akmal. Jadi, selain singgha, ke rumah Mas Akmal kami juga untuk tukar kendaraan (Mas Anto ini, konon, punya banyak Colt, tapi entah di mana saja berada). 

Kami shalat maghrib di Masjid Al-Mubarok, Tembarak Kidul, Desa Tembarak, Kec.Tembarak, Kabupaten Temanggung. Kala itu, masyarakat setempat agaknya sedang melaukan shalat daf’ul bala’ karena esoknya (Rabu, 6 Oktober, bertepatan dengan 29 Shafar) bertepatan dengan Hari  Rabu Wekasan, rabu terakhir di bulan Shafar. Kami pun berdoa agar safar kami diberi keselamatan sampai ke rumah, di Madura. 

Sehabis shalat, mobil langsung dipancal. Saya dan Mas Anto memimpin, sedangkan Colt Pariwisata, colt saya yang dikemudikan Anam, mengekor di belakang. Perjalanan dari Temanggung menuju Semarang sungguh mengesankan malam itu. Sepanjang perjalanan saya ngobrol berbagai macam hal-ihwal kehidupan, mulai dari usaha dan perdagangan hingga wiridan. 

Lampu-lampu kota, seliweran orang yang berkendara dan melintas, serta toko-toko yang masih buka dan tutup, menjadi hiasan perjalanan kami. Hidup tampak sangat dinamis dan semarak. Saya pun menikmati perjalanan, terutama perjalanan di trek atau rute yang saya lewati untuk yang pertama kali, naik Colt. Ada banyak hal yang saya pelajari.

Hingga mobil masuk area kota Semarang, kami tidak masuk jalan tol sama sekali. Saya buta peta, ikut saja, begitu saja mobil saya yang ada di belakangnya, termasuk ketika Mas Anto mengarahkan rute ke Kota Tua, Semarang, saat beliau hendak menghormat kami dengan sajian makan malam.

Lokasi yang dituju adalah Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin Berok. Kami tiba di situ pada pukul 20.30. berdasarkan penjelasan dari Mas Anto, sepertinya warung tersebut adalah warung legendaris. Bagi saya, legendaris atau tidak, yang terpenting adalah makan dan tidak kelaparan. Pasalnya, selera kuliner saya sangat rendah. Kalau ternyata makanannya enak, maka anggaplah itu bonus bagi lidah.

Acara makan lancar jaya, tapi ketika distarter, si Bagong ngambek: mobilnya nyala, tapi gas tak mau turun. Mas Anto tak kehilangan gaya. Beliau buka jok, memperhatikan kabel gas dan tak tampak ada hal yang mencurigakan. Ini aneh. Untungnya, atas bantuan Akmal (setelah ditelepon) kami tahu bahwa ada per yang patah. Ya, per pengait gas terjatuh karena patah. Di antara yang buntung, masih selalu ada hal yang untung, yakni bahwa sisa patahannya ada di kolong mobil. Tinggal tekuk ujungnya, kaitkan kembali, jreng lagi. Kedua mobil kami kembali melahap jalanan Semarang – Demak yang mulai tampak sepi di malam hari.

TIGA SUNAN DI JAWA TENGAH

Di Jawa Timur ada 5 dari 9 Walisongo: Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban. Di Jawa Barat (Cirebon) ada satu, yaitu Sunan Gunung Jati. Nah, tiga tersisa ada di Jawa Tengah dan lokasinya saling-berdekatan, yaitu di Kadilangu (Demak), Kota Kudus, dan Gunung Muria. 


Saat tiba di Kadilangu, orang-orang masih banyak yang melek. Tapi, begitu saya menyusuri koridor pertokoan, gang menuju makam, banyak sekali toko yang tutup, bahkan cenderung sepi. Saya kira, ini bukan soal karena kala itu sudah pukul sebelas malam, tapi karena pandemi. Dengan berkurangnya jumlah pengunjung, maka itu artinya peredaran uang para palaku bisnis, terutama para pedagang sovenir di lokasi makan akan turut menurun. Kasihan, sih, tapi mau bagaimana lagi? Kiranya, baik kita luangkan waktu untuk berpikir, bahwa kesehatan, kenyamanan, ketenteraman dan semua nikmat yang kita rasakan dalam rentang waktu yang lama, pada akhirnya, atau pada suatu waktu, akan hilang dan kita tidak berdaya untuk tertus menggenggamnya. 

Selepas mengaji di makam, eh, ternyata Mas Anto malah mau ikut kami, melanjutkan perjalanan dan tidak jadi balik ke Temanggung seperti rencananya sore tadi. “Tanggung,” katanya, “Saya ikut ke Sunan Muria dan ke Sunan Kudus saja,” imbuhnya.

Maka, lanjutlah kami ke Kudus, lalu naik ke atas, ke Bukit Muria. Kami mendaki jalan yang sangat tinggi. Kira-kira setengah jam lebih sedikit, pukul 1.30, kami tiba di Muria.

Hal yang sama juga juga saya lihat di Muria. Bahkan, kami yang salah jalan pun (karena tidak parkir di bawah, melainkan di atas, di ujung terakhir batas jalan) tidak ada yang segera menegur karena situasi sudah sangat sepi. Toko-toko pada tutup. Tak ada pengunjung. Petugas pada tidur. Bahkan, hanya ada satu orang yang sedang mengaji di dekat cungkup. Sisanya adalah benda-benda yang beku. 

Sambil duduk, saya membaca doa. Air mata tak terasa menggenang pada kornea. “Bisa begini, ya, kehidupan fana? Semua berubah begitu cepat. Yang dulu ramai, kini sepi. Kiranya, begitulah hidup. Dulu kami ini hidup berdua dan sekarang saya sendiri. Dan saat ini, saya datang bersama teman-teman, tinggal bersama teman-teman, bergaul dengan tetangga, bermain bersama anak, namun kelak mungkin akan seperti yang lain, yang pergi duluan, pulang ke rumah keabadian seorang diri, sendirian....”

Kami akhirnya pulang, turun ke bawah, kembali ke Kudus. Di sana, situasi sama persis. Tak banyak orang berseliweran, hanya ada beberapa yang begadang di depan toko. Saya mau menghubungi Hilman—saudara saya yang rumahnya ada di belakang menara, tapi anaknya lagi ada di Semarang. Mau menghubungi Masda—suami Ning Khilma Anis—yang rumahnya hanya sepelemparan lembing dari Menoro, di Langgar Dalem, tapi mereka berdua sedang tidak di sana. Mau menghubungi Iwan yang ada di Loram, yang sebelumnya saya hubungi, merasa tidak enak karena waktunya sudah sangat larut. Maka, jadilah saya habiskan sisa malam itu di dalam masjid saja, shalat sunnah hajat sampai kaki berasa kram, sampai azan subuh berkumandang.
Setelah pagi, barulah pintu makbarah dibuka. Seingat saya, di sinilah satu-satunya makam walisongo yang ditutup di malam hari di masa pandemi.  Oh, ya, Kanjeng Sinuhun Maulana Jakfar Shadiq Sunan Kudus itu merupakan buyut daripada Kiai Muhammad Syarqawi yang notabene merupakan pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, dan juga buyut saya. Barangkali atas dasar itulah saya merasa lebih begitu dekat dan tenang di sana. 

FOTO-FOTO LAINNYA 











18 Februari 2020

Kecanduan Bali: Kembali Lagi (Pergi)


Mau Berangkat 

Perjalanan ke Bali kali kedua ini cukup panjang. Total jarak tempuh berdasarkan odometer adalah 1.126 km. Bali bukanlah target utama, melainkan hanya ‘efek samping’, beda dengan perjalanan akhir tahun lalu yang memang dirancang ke Bali sejak berangkat dari rumah.

Tujuan terpenting pada safari Colt kali ini tak ada yang “ter” dan “paling” karena semua tujuan adalah “ter” dan “paling”, semuanya penting. Kata kunci perjalanan sudah selengkap menu warung makan kehidupan: ada takziyah, ziarah, rihlah ilmiah, dan silaturahmi. Perjalanan sudah dipersiapkan setengah bulan sebelumnya, mulai dari pengecekan rem, radiator, kabel-kabel. Yang selalu dicek tapi selalu tidak siap hanyalah isi dompet.
Masjid Raudlatul Muttaqin, Sumberasih 

Tanggal 8 Pebruari 2020, malam Ahad, kami berangkat. Bertolak pukul 22.30 dengan formasi 2-2-2 (saya dan Ca’dong di depan sebagai pengemudi; ipar sepupu perempuan dan anak kedua di tengah; istri dan anak ketiga di belakang). Ruang tersisa di dalam kabin disesaki oleh barang, mulai dari bantal, selimut, galon, oleh-oleh, dan entah apa lagi. Saya pegang kemudi sampai Jrengik, sampai di SPBU. Setelah isi premium 150.000, Ca’dong menggantikan sampai Masjid Raudatul Muttaqin di Sumberasih (dulu dikira Tongas), beberapa menit menjelang Subuh. Kami lewat Jalan A. Yani sampai ke Porong. Semua trek lewat jalan arteri. Dalam perjalanan ini, tidak semeter pun kami melintasi jalan berbayar itu. 

Rumah Tijani 
Pagi hari Ahad kami melipir dulu ke rumah Tijani, di Semampir, Kraksaan, sebelum menuju lokasi tujuan pertama, yaitu PP Badridduja, untuk takziyah kepada almarhum Kiai Muzayyan Badri. Tijani tidak peduli pada wanti-wanti saya (saat saya telpon tadi di perjalanan) agar tidak menyuguhkan apa pun selain minuman. Ternyata, kami malah disuguhi nasi pecel. Belum shalat duha, pagi-pagi sudah kenyang.

Mandi dan ganti kostum di rumah suami Yasirah ini sebetulnya merupakan salah satu teknik “bermain-main di kotak penalti” alias mengulur waktu karena kami ingin masuk ke rumah duka bersama dua rombongan lain dari Madura yang berangkat tengah malam, dengan tujuan yang sama. Tapi, pada akhirnya, saya masuk duluan ke TKP, berlagak seperti Banser atau Paspampres, untuk sisir lokasi. Kami masuk pukul 8 dan tamu dari Madura datang 45 menit kemudian.

Ruang Tamu Kiai Mustofa Badri, PP Badridduja
Parkir di Pintu Masuk PP Nurul Jadid 
Disambut oleh Kiai Maltuf Siraj 
Singgah di Kediaman Kiai Hefni Razaq 
Setelah rukun-rukun bertamu dilaksanakan, seperti ngopi, makan, dan foto-foto, rombongan bergerak bersama menuju PP Nurul Jadid. Kami berziarah ke Kiai Maltuf Siraj. Ada pertemuan Bani Syarqawi kecil di sana mengingat seluruh yang hadir adalah himpunan dari nenek-moyang yang sama, antara generasi ketiga dan keempat, dari keturunan Kiai Muhammad As Syarqawi al-Kudusi. Kiai Maltuf adalah paman kami yang diambil menantu oleh Kiai Hasan Abdul Wafi. Satunya, ada Kiai Hefni Razaq, kakak kami yang diambil menantu oleh Kiai Zuhri. Kiai Zuhri adalah pengasuh sekarang yang notabene putra pendiri (Kiai Zaini Mun’iem), sedangkan Kiai Hasan adalah iparnya.

Setelah dirasa cukup, kami bubar. Rombongan dua mobil lanjut takziyah ke Tebuireng, saya terus ke timur, ke Situbondo. Kami berpisah di Tanjung.

Sebelum masuk ke lokasi haul di Panji Kidul, saya mengarahkan mobil ke rumah Nyai Ummah, istri Kiai Arif, di Klatakan. Ummah merupakan sepupu istri saya. Dalam sambungan telepon disampaikan bahwa kami mau numpang tergeletak dulu barang satu atau dua jam. Ngantuk dan capek sudah tidak dapat ditahan.

Setelah ngaso, bakda asar, kami melanjutkan perjalanan ke PP Manbaul Hikam, di Panji Kidul, Situbondo, untuk mengikuti Haul Kiai Ahmad Sufyan Miftahul Arifin yang notabene merupakan saudara daripada Kiai Hasan Abdul Wafi dan adik kandung daripada Kiai Zainullah, ayah daripada mertua perempuan saya. 

Batu Sebagai Alat Hitung
Kami bertemu dengan banyak orang di sana. Saya sudah duduk manis sejak sebelum pukul 17.00, membaca shalawat sebanyak-banyaknya. Setelah shalat maghrib berjamaah, barulah haul dilaksanakan. Malam itu, haul ke-9, kami mengikuti “Sarwah Shamadani”: pembacaan tahlil yang diawali dengan pembacaan Shalawat Nariyah dan Surat Al-Ikhlas sejumlah 3 juta kali (dibaca beramai-ramai, menggunakan alat penghitung kerikil sungai yang disediakan oleh panitia). Di tempat itu juga, saya bertemu dengan rombongan dari berbagai tempat, termasuk dengan Ahmadul Faqih Mahfudz dari Buleleng. Dan juga untuk yang pertama kali saya bertemu dengan Kiai Aydi Makmun, putra almarhum yang lama tinggal di Mekah dan baru saja pulang ke Indonesia, di ruangan khusus, bersama saudara-saudara beliau yang lain.
  
SENIN, esoknya, 10 Pebruari 2020, setelah sempat diputuskan gagal karena suatu hal, akhirnya dipastikan: kami kembali ke Bali. Setelah sarapan di kediaman Kiai Syibawaih Sulaiman, tempat kami nginap tadi malam, pagi itu kami berangkat, pukul 8.30 kira-kira. Keputusan ke Bali ini akhirnya diekskusi karena kawan si istri memaksa-maksa kami untuk menyambanginya, padahal jarak dari Asembagus ke Seririt itu, tujuan kami di Bali, sama dengan jarak dari Arjasa Situbondo ke Ketapang Banyuwangi x 2: jauh sekali.
Ketapang 

Kami menyeberang Selat Bali dengan KMP Reny II, masuk dek pukul 10.10 WIB. Kedua anak saya sangat senang karena janji untuk naik kapal feri tertunaikan sudah. Rencana kami mau ikut KPM Prathita IV yang dimuallimi Kak Taqwim atas permintaan beliau.

“Ayo ikut saya, biar bisa sambil ngobrol-ngobrol di atas akapal,” pintanya.
Salim Foto di Kapal 
“Aduh, maaf, Kak. Ini kami masih di Wongsorejo,” kata saya dalam telepon. “Saya juga terbatas waktu di Bali. Jadi, sayang juga kalau terbuang karena menunggu,” Saya minta maaf karena kapalnya baru sandar lagi nanti pukul 12.00 di Ketapang sementara barusan saya masuk pukul 10.00 di saat Kak Taqwim sudah ada di tengah selat menuju Gilimanuk.

Perjalanan ke Seririt, di sisi barat dan utara Pulau Bali itu, sangat asyik. Berbeda dengan perjalanan  Gilimanuk – Denpasar yang sibuk, jalur utara relatif sepi dan mulus. Jaraknya kurang lebih 70 km dari pelabuhan.

Setiba di lokasi, saya langsung tidur karena mengantuk. Sementara penumpang yang lain jalan-jalan dan datang menjelang meghrib. Katanya ke Lacosta dan Krishna. Dua kali ke Seririt, saya belum juga tahu kedua tempat itu apa. Dan begitu pula dengan hari esoknya, Selasa, 11 Pebruari, semua pergi ke Tanah Lot, saya pilih mendekam di rumah saja. Ngedit tulisan yang belum rampung—kalau diniatkan rekreasi—bisa juga ‘melepaskan’, mengurai kejemuan, tidak perlu jalan-jalan ke pantai atau ke tempat hiburan.

Kecanduan Bali: Kembali Lagi (Pulang)



Rute X
Sambil menunggu rombongan yang datang, saya ngecek mobil: minyak rem, minyak gardan, tekanan angin, dan radiator. Setelah dipastikan beres, baru saya istirahat. “Semoga tidak ada masalah pada dinamo lagi,” kata saya dalam hati, seperti yang saya alami tempo hari waktu pertama kali ke Bali, 23 Desember 2019 yang lalu.

Kami pulang hampir maghrib karena ternyata perjalanan ke Tabanan (dari Seririt itu cukup jauh). Azan maghrib terdengar saat kami baru masuk Celukan Bawang. Kami berhenti di SPBU 54.811.12, stasiun pengisian BBM terakhir kalau dari arah Singaraja atau yang pertama kalau dari arah Gilimanuk. Kami tidak isi bensin, hanya jeda berpikir, ingin mampir ke rumah Man Faqih yang jalan aksesnya persis berada di seberang SBBU ini, kira-kira 500 meter ke arah utara. Tapi, apa daya, hari sudah isya. Dan malam ini kami juga harus ke Opelan, ke kediaman Kiai Qusyai.


Keluarga Zaini & Mawaddah, tuan rumah kami
Memasuki Taman Nasional Bali Barat yang jaraknya kurang lebih 25 kilometer, saya tambah kecepatan mobil. Kendaraan roda empat sangat jarang kalau malam, apalagi roda dua. Roda tiga nyaris tak dijumpa. Angkutan umum sudah rehat, dan baru beroperasi lagi menjelang tengah malam, sekitar pukul 11. kata orang setempat begitu. Jalan yang bagus, baik materi aspal maupun pemandangan, sangat menopang kenyamanan dalam mengemudi.

Pulangnya, kami masuk kapal KMP Nusa Makmur. Laut tenang kala itu. Mobil tidak banyak, sama seperti ketika berangkat. Hanya ada sekitar kurang dari selusin mobil di dalam kapal dan entah berapa sepeda motor.

Meskipun setiba di Arjasa nanti kami sedianya masih mau main ke Muqit di Opelan, tapi kami diuntungkan karena  dalam perjalanan ke barat, kita dapat surplus waktu 1 jam, dari WITA ke WIB, berkebalikan dengan ketika berangkat. Jadilah, perjalanan dari Ketapang ke Desa Lamongan di kecamatan Arjasa Situbondo yang secara jarak sama dengan dari Gilimanuk ke Seririt, kami tempuh secepat-cepatnya dan dalam waktu sesingkat singkatnya. Ca’dong yang bawa dan saya istrihat saja di sisi kirinya.

Tiba di kediaman bibinda Azizah di Desa Lamongan, kira-kira 400 meter di sebelah barat pertigaan jalan akses ke PTP Nusantara XII  Kayumas, jam menunjukkan pukul 22.22.

“Sudah tidur?”
“Belum,” jawab Muqit, “masih banyak tamu, barusan ada selamatan umroh Aba dan saya,” lanjutnya di ponsel.
“Baik, saya ke situ.”

Kami bertamu, ketemu sama Muqit dan Opang. Dua anak ini masih sangat muda, sama-sama bujangan, sama-sama santri Al-Anwar, Sarang. Mestinya, saya bertamu sama Kiai Qusyai, tapi beliau masih banyak tamu. Eh, tiba-tiba beliau masuk ke dalam rumah, sebentar, lalu keluar dan menemui saya sebelum kembali menemui tamu-tamu. Hamdalah, ada kesempatan untuk ngobrol meskipun sebentar. Per-tamu-an akhirnya bubar dan saya pulang pukul 01.35 menuju PP Is'aful Mubtadiin, Lamongan (jangan salah, ini nama desa, bukan nama Kabupaten).
.
RABU, 12 Pebruari 2020  

PP Sukorejo, pagi hari 
Pagi sekali, setelah ngaji jarak jauh, saya sowan ke Sukorejo untuk bertemu sama Kiai Azaim, ditugaskan oleh Kiai Ali Fikri. Rencananya mau ngundang beliau untuk mengisi kuliah Khittah Ke-NU-an di Guluk-Guluk, tapi ternyata beliau sedang di Nusa Tenggara Timur, safari dakwah. Jadinya, saya balik lagi ke kediaman bibinda, makan, mandi, dan berangkat menuju Paiton.

Rencana semula, saya memang diminta bibinda untuk menerima tamu calon besan dari Madura. Saya siap datang bersama keluarga, tapi karena jadwal kunjungan tiba-tiba berubah tanpa sepengetahuan saya, maka saya pun minta maaf, tidak bisa hadir di tempat pada waktu acara, yakni Rabu siang (semula dijadwalkan Rabu pagi). Jadinya, kehadiran kami diwakili oleh istri dan ipar perempuan saya karena siang itu saya terjadwal untuk menghadiri diskusi buku “Merusak Bumi dari Meja Makan” di Universitas Nurul Jadid (Paiton) dan malamnya ngisi pelatihan esai di Pondok Pesantren Sidogiri.

UNUJA
Saya naik Bison, angkutan antarkota di Situbondo, menuju kota. Naik bis ke Paiton dan tiba di lokasi pukul 12.10. Acara dimulai pukul 13.30 dan berakhir pukul 16.00. Karena masih ada sisa waktu untuk sowan pengasuh, Kiai Zuhri Zaini, yang ketika itu ada di kediaman (saya sudah tiga atau empat kali ke PP Nurul Jadid tapi selalu selisipan dengan beliau), maka kesempatan ini tak boleh disia-siakan.

Ngaji Hadis Kepada Kiai Zuhri
Menjelang Maghrib, kami berangkat, diantar oleh Fawaid dan beberapa santri, pakai mobilnya. Rencanna saya memang ngebis, tapi karena waktu yang mepet, akhirnya saya diantar. Begitu pula, untuk meringkas waktu, pihak pondok Sidogiri menjemput saya ke Probolinggo. Titik temunya adalah Waroeng Kencur pukul 08:30 WIS (waktu istiwa; pondok ini memang menggunakan ketentuan waktu shalat istiwa yang biasanya lebih maju 25-30 menit). Saya masih sempat rehat di ruang lobi hingga acara dimulai sekitar pukul 09.20 WISs (atau pukul 21.00 WIB). Acara ini diselenggarakan oleh Badan Pers Pesantren (BPP) untuk kru media yang ada di pondok pesantren Sidogiri. 

Ruang Rehat PP Sidogiri
Acara selesai tepat di titik batas (pukul 11.00 WIS). Karena Colt tidak segera berangkat dari Lamongan karena masih menyelesaikan hantaran-hantaran jajan dan penganan, ditambah Ca’dong mengalami disorientasi jalan di Kabupaten Situbondo (mungkin karena dia ingat tunangannya), akhirnya dia nyampe Sidogiri pukul 02.00 kurang beberapa menit saja.

Untungnya, saya yang sudah istrihat di ruang tamu (yang dulunya dipersiapkan pondok untuk pengajar dari Mesir) bisa langsung genjok ke Madura. Kini, dia yang duduk di kiri dan saya di belakang kemudi, apalagi dia mengaku bete karena dari tadi sendirian saja, ditemani radio, sedangkan penumpang sudah mode lelap semua.

Santri-Santri Sidogiri
Saya menjalankan Colt secara sopan, melewati Bundaran Gempol, lurus ke Porong, ambil kanan, mengikuti jalan Lapindo, nembus kota Sidoarjo. Lurus terus hingga ke Jalan A Yani. Di Surabaya, terus ke Dharmawangsa, terus ke Pacar Keling, terus nembus Suramadu. Ternytarta, dari Porong ke pertigaan Kedungcowek hanya 30 km saja, beda jauh dengan kalau lewat tol. Sip, pergi-pulang tanpa lewat jalan berbayar sama sekali.

Saya isi bensin di SPBU lepas Suramadu: kangen premium, di Jawa jarang bertemu. Hingga kami tiba di Pasar Tanah Merah, salat di masjid besarnya, An-Namirah, ketika orang-orang sudah datang ke pasar meskipun jam belum tepat menunjuk pukul 5 pagi.

Ini hari Kamis pagi. Jadwal saya mengajar Taklimul Mutaallim andai ada di rumah. Maka, agar tetap berlangsung, dengan heroik, saya bacakan kitab itu di mobil dengan sambungan telepon yang di rumah dipasangkau ke sistem tata suara. Sementara itu, Ca’dong kembali mengemudi. Perjalanan lancar, ngaji juga lancar.

Kami tiba di rumah mejelang pukul 9 pagi. Tapi, mohon tanya berapa habis bahan bakar, sudah bukan waktunya lagi. Selamat dan lancar sampai di tujuan adalah yang utama dalam perjalanan, bukan seberapa banyak (apalagi seberapa irit) bensin yang dipakai.

___________
Terima kasih untuk sakdi alias Ca'dong yang telah menemani saya, bergantian, mengemudi:
juga untuk mereka yang telah kami singgahi


Silaturahmi ke Tijani
Takziyah ke PP Badridduja
Ziarah ke Nurul Jadid (K Maltuf dan K Hefni) 
Silaturahmi ke Umamah dan Arif
Hadir di Haul K Sufyan
Silaturahmi ke K Sibawaih
Main ke Zaini & Mawaddah di Bali
Silaturahmi ke K Qusyai & Muqit
Silaturahmi ke Nyai Azizah dan K Zaini
Rihlah ilmiah ke UNUJA
Rihlah ilmiah ke PP Sidogiri



Ca'dong




22 Agustus 2019

Diseruduk Truk Garam

Inilah laporan lengkap laka (kecelakaan) lantas (lalu lintas) yang saya alami pada Selasa, 20  Agustus 2019. Sejak saya belajar mengenali mesin sejak tahun 1987 (kelas 6 SD) dan baru dapat izin jalan ke jalan raya setelah punya SIM di tahun 1997 (sepuluh tahun kemudian), ini adalah kejadian laka pertama di jalan raya yang saya alami selama 32 tahun pegang kemudi.  Jangankan sampai nabrak, bikin kesalahan sampai ditilang pun saya tidak pernah. Saya sadar, saya manusia, bukan Dewa. Beginilah nasib, beginilah manusia.

***

Selasa siang, 19 Agustus 2019, tepatnya pukul 13.00 lewat sedikit, kami—saya dan istri; Abdullah dan istri serta kedua bayinya; dua orang penumpang lain—bertolak dari Sampang, pulang menuju Sumenep. Hari itu, kami pergi berziarah ke dua orang (kakak beradik, sama-sama bujangan) yang datang dari tanah suci  Mekkah, usai menjalankan ibadah haji. Dua orang (suami istri) yang kami ziarahi juga ada di Taddan, masih dekat kota Sampang. Kami meninggalkan Taddan pada pukul sekitar 14.40.

Mendekati warung makan Asela, sebuah rumah makan yang berada di tepi laut, saya mendahului truk bermuatan garam. Ada sepeda motor berboncengan, membawa tangga lipat. Saya bilang ke Aploh, nama panggilan Abdullah, si sepupu yang duduk di depan yang momong anaknya. “Tangga ini berbahaya, semestinya diangkut mobil pikap tapi cuma dipegang sendiri. Sangat berbahaya karena pasti dia sulit mengatur keseimbangan.”

Beberapa puluh meter mendekati warung itu, tampak lampu merah menyala, dari mobil yang ada di depan saya. Saya pun ikut ngerem perlahan sambil mendahului pengendara sepeda motor itu. Ketika mobil saya sudah berhenti, baru kelihatan oleh saya: sebuah mobil Avanza Veloz (belakangan diketahui nomor polisinya: M-1632-BR) yang berada di ujung depan, sein kanan, hendak masuk ke areal parkir warung, tapi tertahan karena menunggu arus lalu lintas yang terus berdatangan dari arah depan (dari arah timur). Di belakangnya ada Avanza hitam tipe G (M-1321-NH); di belakangnya lagi ada Xenia. Posisi Colt saya ini berada di belakang Xenia (L-1423-DB) itu.

Dalam beberapa detik kemudian, terdengar bunyi barang terjatuh, atau orang ambruk. Dan hanya dalam sepersekian detik berikutnya, saya melihat dari spion kiri: sepeda motor terjatuh, orangnya tidak kelihatan. Baru saja terbersit pikiran; ‘Duh, yang barusan bawa tangga itu!’, mungkin kurang dari sedetik sesudahnya, tiba-tiba mobil saya berguncang hebat, melonjak ke depan, diiringi bunyi benturan sangat keras. Semua penumpang kami berteriak histeris. Yang saya ingat, ada bayi di kursi belakang dan dua orang perempaun. Sedangkan ibunya duduk di tengah, bersama istri saya. Bayi yang satunya lagi dimomong ayahnya, di depan, bersama saya.

Orang-orang datang, berhamburan. Setelah saya pastikan tidak ada apa-apa, mobil mau saya pinggirkan, tapi tidak bisa memasukkan persneling karena lantai di bawah nyundul, menahan kopling. Akhirnya, saya masukkan gigi persneling lebih dulu (agak susah memang) dengan cara mematikan mesin lebih dulu, baru starter dan langsung jalan tanpa kopling, sembari mencari tempat parkir.

Kami segera turun, pintu depan agak sulit dibuka, harus dipaksa, mungkin dampak benturan keras tadi. Kaca belakang mobil saya sudah tak ada lagi. Kaca mata si Abdullah terpental entah ke mana. Peci hitam saya jatuh tidak diketahui ada di mana.

Setelah saya turun dari mobil dan cek lokasi, barulah saya tahu kalau mobil saya diseruduk truk bermuatan garam itu, sehingga mobil saya menabrak Xenia, dan Xenia nabrak Avanza, sedangkan Avanza tidak nabrak apa-apa karena Avanza Veloz silver tadi baru saja parkir ke halaman rumah makan.


Sopir truk yang ber-tagline “Putra Hidayat”, bertuliskan merek dagang “Tuan Muda”, berplat nomor M-9058-UN ini, mojok bersama entah siapa, kenalannya mungkin. Pemilik kendaraan yang lain masing-masing ngurus kendaraanya sendiri, memeriksa kerusakan. Menurut pengakuan sopir, ia mengangkut 14 ton garam dari Pangarengan (Torjun) dengan tujuan PT Budiono (Baranta, Pamekasan). Ia mengaku, truk itu bukan batangannya, ia hanya sopir wakil atau pengganti. Dia sudah ngerem (tapi menurut warga, mungkin saja terlambat mengerem karena suatu hal, seperti karena sedang kurang konsentrasi). Akan tetapi, intinya, truk Mitsubishi Canter itu tidak mampu melakukan pengereman dalam jarak dekat dengan muatan overload (yang menurut standar maksimalnya antara 7-8 ton khusus tipe Super HD). Kesimpulan pertama: “Nyeruduk karena tidak mampu mengerem bukanlah takdir karena takdir selalu bersamaan dengan ikhtiar. Adapun sengaja mengangkut muatan melebihi kapasitas adalah tindakan tidak melakukan ikhtiar, apalagi—misalnya—dia hanya sopir pengganti, lebih-lebih jika misalnya diketahui bahwa ia sedang menelepon atau melakukan aktivitas lain yang mengurangi konsentrasinya.

Ketika kami sedang menunggu kabar pertanggungjawaban dari si sopir truk yang menyatakan bahwa ia juga sedang menunggu pak bos-nya tapi tidak kunjung datang, bahkan polisi pun datang-datang juga, rasa bosan mulai datang. Tiba-tiba, ada seseorang yang mendekat, lalu bertanya.
“Tabrakan dengan apa?”
“Mobil saya diseruduk truk, lalu terjadilah tabrakan beruntun.”
“Oooo Panjenengan dari mana?”
“Dari arah Sampang, mau pulang.”
“Apakah Panjenengan Keh Faizi?”

Saya mengamati orang itu, merasa heran karena tidak kenal, dan tidak pernah melihatnya. Saya jawab, “Betul. Kok Anda tahu?”
“Soalnya, ini Colt-nya ada tulisan Pariwisata-nya dan ada benderanya!”

Saya merasa lucu terhadap jawaban itu. Kami tertawa.
“Anda sendiri, siapa?” Saya balik bertanya.
“Saya Faad. Teman Facebook Panjenengan.”
“Ooo, iya. Benar, ada nama Faads Maushuf dalam daftar teman. Akhirnya, kita dipertemukan di sini, gara-gara laka lantas.”

Satu per satu, kenalan dan kawan saya berdatangan. Ada Pak Jumali yang rumahnya persis di seberang jalan warung Asela itu dan kebetulan anaknya juga murid saya. Ada juga famili: Mahrus, Man Mulki, Lutfi, dll. Di antara mereka ada yang menyediakan tempat istirahat, membelikan air, dll. Saya bersyukur, meskipun tertimpa kena musibah, tapi rasanya seperti di depan rumah: tenang dan aman, lebih-lebih karena tidak ada korban jasmani serius dalam laka ini, kecuali kendaraannya.

Matahari sudah turun, hampir terbenam. Waktu sudah pukul 5 sore lewat dan saya belum shalat. Izin kepada seorang pemilik toko, saya numpang kamar kecil dan mushalla yang terletak di belakang tokonya. Seusai shalat, kedua korban laka tadi (Avanza dan Xenia) ternyata sudah bubar. Karena hari sudah mulai gelap, ketika orang-orang pada bubar (saya tidak tahu bagaimana rundingan pemilik kedua mobil dengan si perwakilan pemilik yang sudah datang karena mereka sudah pergi ketika saya shalat ashar), si Faad ini menawarkan diri untuk membantu saya meneruskan masalah ini ke Lakalantas.

Setelah dirembuk dengan si pemilik truk, kami pun sepakat untuk ke kantor Polsek Kota Sampang. Saya naik sepeda motor sementara mereka naik (mungkin) Avanza W-1266-PR. Kami sempat mampir di Masjid Nur Inka, Taddan, untuk shalat maghrib untuk selanjutnya menuju kantor Polsek Kota Sampang. Di perjalanan tadi, jalan macet karena ada kebakaran di Camplong. Terbersit pikiran, “Di atas musibah masih ada musibah,” kata saya dalam hati.

Anehnya, kantor bagian Lakalantas sepi, tidak ada orang, kecuali tiga atau empat orang si pemilik truk tadi.  Muncul lagi suara dari kedalaman batin, “Dua tahun yang lalu, di tempat ini, saya diundang Radar Madura kerjasama dengan Polres Sampang, menyelenggarakan diskusi keselamatan berkendara di aula ini, sekarang saya yang butuh bantuan mereka untuk mendapatkan keadilan, ternyata nasib saya kurang baik, sepi tak ada orang.” Saya tidak tahu, petugas yang berjaga di depan hanya menunjukkan tempat ini, tapi ternyata tidak ada orangnya, kecuali masih saja orang-orang yang itu tadi, tiga orang perwakilan perusahaan.

“Mari, kita rembukan di Pendopo Wakil Bupati Sampang saja”, ajak salah satu dari mereka. Meskipun tetap merasa aneh dengan ajakan itu, saya manut saja. Tadi saya sudah mengajukan permohonan agar sebelum ada rembukan dengan kepolisian, mestinya ada olah TKP dulu, tapi diajak ke lakalantas lebih dulu, kini malah diajak ke kantor wakil bupati. Tetap saja saya ikuti.

Singkat cerita, masalah diselesaikan di sana. Pemilik truk berkata, “Saya hanya sanggup mengganti uang 1 juta rupiah. Kalau mau silakan.”
Tentu saja saya kaget dengan nominal itu, tapi saya jawab saja begini: “Sampeyan sudah tahu kondisi mobil saya. Saya terima uang itu.” Hanya itu jawaban yang saya katakan, sebab tidak mungkin menuntut lebih tinggi lagi karena dia sudah menyatakan ‘kalau mau silakan’. Rasanya, firasat saya, percuma saya menuntut lebih tinggi lagi karena sejatinya dia tahu betul kondisi ringsek mobil saya, Xenia, serta Avanza itu, pada saat kami semua memang tidak bersalah.

Akhirnya, kami bersalaman. Orang tadi, bersama rombongannya, pergi. Tinggallah saya dan Faad dan seorang lelaki lain—yang ternyata masih ada hubungan saudara dengan si pemilik truk dan sekaligus bersaudara dengan Faad—yang ada di situ, serta beberapa petugas yang berjaga-jaga. Sambil menghisap sebatang rokok yang sangat berasa pahit karena tidak ada kopinya, saya mengingat-ingat momen lucu tadi sore, saat si pemilik truk datang bersama kawan-kawannya.

Percakapannya agak lucu. Maklum, si pemilik tampak sedikit naik pitam karena ditodong untuk bertanggung jawab oleh si pemilik Avanza (yang penumpangnya banyak) dan si pemilik Xenia (yang kayaknya cuma berdua saja). Sementara saya diam saja, menyimak pembicaraan saja. Salam satu bagian dari percakapan yang saya ingat adalah sebagai berikut:

“Jadi, gimana ini?” tanya si pemilik truk.
“Ya, kami mau minta ganti rugi,” yang menjawab bapak dan ibu, penumpang Avanza.
“Saya khawatir, sampeyan semua minta ganti ke saya!” kata si empunya truk diplomatis.
“Lah, memang iya, memang mau minta ganti ke siapa?” Yang menjawab ini seorang bapak tua dan seorang perempuan, bersamaan.
“Logikanya mesti begitu, Pak!” kata si pemilik Xenia menimpali, menjawab dengan bahasa Indonesia karena dia orang Sidoarjo, sementara yang lain sama-sama orang Madura.

Sedikit panik, si pemilik truk berkata lagi: “Sampeyan (menunjuk si pemilik Avanza) ditabrak yang ini (menunjuk kepada si pemilik Xenia). Dan yang ini ditabrak Sampeyan (menunjuk ke saya), dan terus semuanya minta ganti kerugian ke saya semua.
Memang aturannya kan begitu?” Satu suara terdengar nyeletuk.
“Terus, saya mau minta ganti ke siapa? Padahal truk saya kan juga rusak?”

Sampai di sini saja, saya langsung lemes. Bagaimana cara menalar logika si Bapak ini. Wong semua mobil sudah berhenti dan tidak ada yang berhenti mendadak. Semua saksi tahu itu. Truknya juga bermuatan overload, ditambah melaju agak kencang. Kok bisa muncul pertanyaan retoris seperti itu?

Itulah lintasan-lintasan pikiran yang datang dalam kepala saya. Capek iya, sedih iya. Makin runyam jadinya kalau percakapan tadi sore itu terus saya ingat. Makanya, saya segera ajak Faad untuk pulang saja. Akhirnya, dengan sisa tenaga yang masih tersisa, saya duduk di sadel sepeda motor Faad dan pulang. Faad menurunkan saya di lokasi. Saya menjalankan mobil dengan cara menaikkan kopling lebih dulu sehingga bisa buat jalan.

Mobil saya bawa ke Masjid Al-Munawwar, ke rumah Man Mulki. Saya shalat dan istirahat di sana. Setelah agak malam, sekitar pukul 22.00, barulah jemputan datang. Adik saya bawa mobil untuk mengawal karena lampu depan Colt saya, meskipun menyala, tapi terlalu terang dan membahayakan pengendara yang datang dari arah depan. Dengan dikawal mobil di depannya, cahaya lampu mobil saya tidak kena langsung mata pengendara lawan arah, tapi kena ke belakang mobil adik saya yang selalu mengawal saya di depan. Pukul 00 kurang sedikit, mungkin lima atau dua menit, tibalah saya di rumah. Sebelum tidur, saya langsung menulis laporan ini.

Hati-hati di jalan!
Sekian dan terima kasih.

LAMPIRAN FOTO-FOTO:







Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...