Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Colt T120. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Colt T120. Tampilkan semua postingan

26 Oktober 2024

Ke Sobih, Kampung Colt

Jika kata Sobih disebut di hadapan Anda yang domisili di Bangkalan, imajinasi yang mungkin muncul pertama kali adalah bubur, ya, Bubur Sobih. Penganan ini dikenal punya cita rasa khas dan keunikan dalam penyajian. Bubur dimasukkan ke dalam gentong, diolah di dalam gentong, dan ia pun dijual bersama gentongnya. Biasanya, pembeli menyajikannya untuk jamuan makan besar,  semacam gala-dinner, atau prasmanan di acara-acara pernikahan yang relatif besar, di Bangkalan.


Akan tetapi, dalam pengalaman saya, Sobih sangatlah berbeda. Sobih adalah kampung Colt. Dalam lawatan saya ke sana, ke rumah Pak Mu’din, di setiap halaman dan/atau garasi orang yang saya lewati jalan di depannya, selalu tampak ada Colt-nya. Lebih-lebih ketika saya sudah tiba di rumah Pak Din. Di halamannya yang luas, banyak sekali Colt ‘berserakan’, mulai dari yang bagus, yang siap diperbaiki, yang rusak dan tinggal kabinnya saja. Colt di sana rata-rata pikap.

Kunjungan saya ke Sobih bermula dari acara Taneyan Perna yang digagas oleh Masyarakat Lumpur, Bangkalan. Saya dapat jatah memberikan materi di sesi kedua, 6 Oktober 2024 lalu. Saya membawa Colt dari rumah, ke Bangkalan. Lalu, Erwien menawarkan saya untuk berkenalan dengan salah satu montir Colt senior yang kini sudah gantung kunci, yaitu Pak Din. Rasa penasaran itulah yang mengantarkan saya ke rumah beliau, di Sobih,

Sayangnya, 7 Oktober malam, saat saya pergi ke sana untuk pertama kali, Erwien tidak ikut karena anaknya sedang sakit. Saya dijemput Mirza di Basel, keponakan Pak Din.

“Pak Din, saya mohon mobil saya disentuh,” begitulah kira-kira percakapan pembuka saya.
“Rusak apanya?”
“Tidak ada yang rusak. Mobil ini saya bawa dari rumah dalam keadaan normal, kecuali bensin yang sering banjir.”
“Oh, iya. Terus mau dibagaimanakan?”
“Pokoknya, mobil saya ini ingin disentuh oleh tangan senior, tangan yang sudah puluhan tahun memperbaiki Colt. Putar saja baut-baut klep-nya, atau delconya, terus kencangkan lagi, kenderokan dan kencangkan sesuai pengetahuan Bapak. Itu saja sudah cukup.”


Pak Din ketawa, misem-misem. Nafasnya sudah mulai memberat. Usianya yang sepuhlah penyebabnya. Ia bercerita, bahwa ia sudah ngoprek Colt sejak tahun 1974. “Sekarang anak saya yang kerja,” kata dia bermaksud putranya yang bernama Ros (Kak Ros kata Erwien, mungkin mau menirukan Upin-Ipin).

Kepada beliau saya juga bercerita bahwa cara yang saya lukan kali ini bukan yang pertama, tapi yang kesekian kali. Jika saya kenal dengan bengkel senior, seperti Pak Mawi atau Haji Fathor, saya selalu begitu. Saya bawa Colt ke dia dalam keadaan normal dan minta sentuhan tangannya, kendorkan, kencangkan, atau kendorkan lagi, diukur dan dikalibrasi berdasarkan pengetahuan dia. Begitulah cara saya mendapatkan sensasi dengan mobil tua.

Setelah dua minggu lebih ngekos di sana, mobil akhirnya saya ajak pulang, Jumat pagi, 25 Oktober 2024. saya naik bis dari rumah dan dijemput Erwien di SPBU Tangkel, lalu pergi ke Sobih bersama si Brownies-nya. Kami ngobrol lama dengan Ros dan Pak Din sampai selesai shalat jumat. Setelah itulah baru saya berpamitan.

Kami shalat jumat di Masjid Baiturrohman, Karengan, Sobih. Perjalanan ke masjid sangat berkesan. Saya dibonceng Pak Din. Alam Sobih ternyata sangat asri. Banyak pohon durian di sana. Pohon pulai yang besar dan tinggi menjulang juga banyak. Suasana desanya menenteramkan, sangat berbeda dengan kesan Bangkalan yang selama ini kering kerontang di pikiran saya.

Dari Sobih, saya mampir dulu di Kwanyar, menyambangi Haji Syaiful, bos Primavista. Dia menyuguhi saya sate Sekar Timbul, tetap disuguhi meskipun saya bilang baru saja selesai makan. Apa boleh buat, saya embat. Ke Kwanyar rasanya tak lengkap kalau tidak ziarah ke Sunan Cendana Ali Zainal Abidin—cucu Sunan Drajat.

Pukul 14.06, saya pulang sendirian. Jalanan amat sesak. Hampir maghrib saya baru tiba di rumah karena berhenti dulu untuk menunaikan shalat asar di Tentenan. Perjalanan sendirian dari dari Sobih ke Kwanyar hingga ke rumah itu relatih jauh. Jarak tempuh sekali jalan sekitar 145 km. Untungnya, membawa Colt ada sensasi sendiri, jadi relatif menyenangkan, tidak terlalu membosankan.









29 Oktober 2023

Kopdar Colt T120 Triwulan Korwil Jatim di Bangkalan

Acara kopdar triwulan Colt Jawa Timur diletakkan di Madura. Penyelenggaranya adalah MCT 120 & BMC. Saya diundang hadir oleh Mas Sugeng (Mas Erwien mengingatkannya lagi tadi malam). Acaranya adalah hari ini, 29 Oktober 2023, yang sayangnya, kegiatan saya di hari Ahad ini  ada empat, berjauhan pula tempatnya: walimah Maulidia & Wardani, Rizal dan Rofi di Payudan dan Nangger (Guluk-Guluk), acara seminar  IAA di Hotel Elmi (Surabaya), dan kopdar triwulan di Warung Pote (Poter, Bangkalan). Dan semua acara itu terjadwal pukul 08.00 WIB.


Selesai menghadiri dua acara pertama, saya pulang duluan, tidak bareng ibu dan saudara yang juga hadir. Saya sudah mewanti-wanti dengan cara membawa sepeda motor agar bisa segera berangkat ke Bangkalan. Pukul 09.52 saya baru bisa keluar dari pekarangan rumah dan menghampiri Anam dan Cak Badi di Pakamban. Habis itu, kami cus ke barat.

Di jalanan yang lumayan padat, kami melaju santai, biasa saja, tidak ngoyo, karena sudah yakin tidak bakal nututi acara, lebih-lebih ada aral perbaikan Jembatan Klampis. Kemacetan di sana minimal 30 menit, atau satu jam kalau apes, bahkan bisa lebih.


Benar ternyata, kami kena macet 30 menitan lebih. Rasanya, matahari berada di ketinggian sepenggalah saja di atas kepala, sejenis pengantar imajinasi untuk membayangkan suhu di Padang Mahsyar, kelak. Ngeri sekali dampak perubahan iklim ini, Kawan. Tigapuluh menit itu tergolong lumayan lama ketimbang satu jam, yakan?

Di Galis, saya berpapasan dengan Kuryadi dan tak jauh di belakangnya ada Ainur Rofiqi. Kuryadi kasih aba-aba lampu proji-nya, Ainur pakai isyarat klakson.

"Wah!" saya berseru, "ini pertanda bahwa banyak kawan yang sudah meninggalkan lokasi, termasuk Pak Benta dan Mas Fadli."
"Apa sudah selesai?" tanya Anam yang berperan sebagai pengemudi."Sepertinya sudah." Saya menduga-duga.  "Tidak apa-apa, lanjut kita."

Akhirnya, kami tiba di sana pada saat orang tidak sedikit. Kami bertemu dengan kawan-kawan panitia dari Bangkalan, makan, basa-basi. tidak perlu berlama-lama di sana karena urusan sudah selesai, paling hanya 25 menit saja kami di Warung Pote. Setelah itu, kami pamit pulang. 

Kami melaksanakan shalat asar dan duhur di Masjid Baiturrahman, Dumajah, supaya pulang ke timur sudah lepas dari tanggungan kewajiban paling prinsip ini. Masjid ini tak berada jauh di timur Warung Pote. Malam Sabtu kemarin, 27 Oktober 2023, saya juga mampir shalat di sana.


Saya membawakan pulang titipan Khatir, berupa 5 kursi lipat buatan mebel Sunan Kalijaga Ngawi dan juga batu-batu Merapi yang dibawa oleh Pak Benta untuk saya letakkan di halaman rumah. Semua itu masih terangkut di dalam kabin dan tanpa perlu menaikkannya ke rak atas. Atas pertimbangan ini pula, rasanya melanjutkan perjalanan ke Surabaya demi setor muka kepada kawan-kawan IAA (Ikatan Alumni Annuqayah) yang berkongres dan berseminar di Hotel Elmi hari ini sudah tidak memungkinkan lagi.


Saat pulang, di jembatan Jrengik, kami kena macet lagi, pake acara dua tahap pula, duh. Antrian dari timur alamaaaak panjangnya. Ekor antrian sampai di pertigaan Torjun arah Pangarengan, sekitar 3 kilometer. Saya merenung, jika bukan karena alasan silaturahmi dan menyambut baik undangan mereka, maka perjalanan sejauh 118 km x 2, berjibaku dengan suhu udara yang teriknya masya Allah, serta kemacetan panjang di Jembatan Klampis Jrengik akan terasa percuma saja.

02 Agustus 2023

Ke Jember, Situbondo, Probolinggo Dibayar Tunai



Rencana dua bulan yang lalu, dari Jogja langsung ke Jember yang gagal, akhirnya dapat dibayar tunai sebulan setelahnya: 26 Juli 2023 

Saya berangkat pukul 21.30, malam Kamis itu, setelah mengatur ulang rencana perjalanan karena perubahan mendadak. Pasalnya, tiga anak yang sedianya mau ikutan ke Jember, kok, mendadak mengundurkan diri dan memilih masuk sekolah saja. Dua anak terakhir ikut-ikutan yang tertua. Maka, anggota rombongan pun berubah, yaitu saya, istri, anak termungil, dan seorang santri. Adapun pembantu pengemudi—yang notabene nanti bakal dominan—adalah Cak Badi.

Cak Badi ini baru kedua kalinya bareng saya. dia menggantikan Anam yang agaknya mau undur diri setelah menikah. Saya memang pilih-pilih untuk diajak tandem menggunakan Colt karena meskipun bisa mengemudi, tapi tidak semuanya punya passion untuk menjalakan Colt T120 ini. Cak Badi adalah satu di antara yang sedikit itu karena dia memang punya Colt di rumahnya.

Cak Badi bergabung dari Pakamban, dari lokasi yang dekat dengan rumahnya. Konon, pengalaman kali ini, yaitu perjalanan ke Jember, Situbondo, dan Paiton, adalah pengalaman pertamanya sejak 10 tahun terakhir. Sejauh ini, rute-rute mengemudinya rute barat, seperti ke Kediri atau Salatiga, tidak seperti pada umumnya orang Pakamban yang aksesnya cenderung ke Probolinggo-Jember mengingat banyak sekali orang Pakamban yang merantau ke area Tapal Kuda, khususunya Kraksaan dan Paiton. 

“Biar saya dulu yang nyetir,” kata saya kepada Badi, sembari tetap duduk di belakang kemudi, “sampai batas ngantuk!” 
Ketika mencapai Jrengik, saya mulai mengantuk dan saya serahkan stir kepadanya dan saya pun tidur lelap. Saya bangun persis ketika mobil masuk ke ruas Jalan Kedungcowek, selepas Jembatan Suramadu.
“Wah, dari tadi, saya enggak bangun sama sekali, ya?" tanya saya pada Cak Badi, mengonfirmasi.
"Sepertinya enggak."

Saya cek jam digital di ponsel saat kami melewati gerbang tol Dupak III, ruas tol yang dibangun paling lama, yaitu koneksi Ujung Perak-Gempol (kalau tidak salah sudah terhubung sejak tahun 1986). Sehabis menggesek kartu, saya melirik jam: pukul 01.00 percis. Dengan kata lain, sudah 3,5 jam perjalanan kami dari rumah.

Dengan berjalan santai di bawah kendali Cak Badi, Dupak III – Kejapanan, sejauh 45,3 km, ditempuh 34 menit. Lalu, dari Kejapanan ke GT Probolinggo Timur, dengan bentang jarak tol 153 km, perjalanan ditempuh kurang lebih 65 menit. Kami tiba di Leces pada pukul 02.38. Tapi, seperti dikhawatirkan, Leces ternyata macet, meskipun tipis-tipis. Untuk melewati kota kecil itu, kami buang waktu sekitar setengah jam lamanya. Kemacetan kali ini disebabkan oleh perbaikan jalan, bukan kemacetan penyerobotan yang biasanya terjadi manakali ada banyak truk pasir yang melintas dan lelet saat tanjakan. 

Sampai Jatiroto, jalanan masih lancar. Rencana semula mampir di Masjid An-Nur yang lampu-lampunya meriah pun digagalkan dan kami memilih Masjid Asasut Taqwa yang terletak tak jauh di sebelah timurnya (saya penasaran, kedua masjid yang sama-sama besar ini hanya berjarak 318 meter kalau ditarik lurus berdasarkan perhitungan satelit Wikimapia). Akan tetapi, karena azan subuh masih belum berkumandang dan hanya ada satu orang takmir yang tampak bersih-bersih di dalamnya, kami lanjutkan perjalanan ke timur. Akhirnya, kami pun parkir di halaman Masjid Al-Baiturrohman, Pecoro, subuhan di sana.
Perjalanan dilanjutkan ke Ajung, menuju rumah Paman Baidawi. Ancer-ancer dikasih tahu: “jalan dulu sampai perermpatan besar Mangli, lalu belok kanan ke arah Jenggawah.” Benar! Setelah 5,5 km, ada masjid eksotis yang letaknya tepat di jalan raya, di samping sungai pula, yaitu Masjid Baitul Ijabah Klompangan. Sudah sampai situ? Belum, dari masjid tersebut, kami ambil kanan, masuk ke jalan kecil, ke arah barat sejauh 2,3 km, menyusuri sungai yang tampak sangat rapi dan sepertinya buatan Belanda, seperti dam-dam di daerah Lumajang pada umumnya. Nah, setelah ‘ketemu’ Masjid Darussalam , maka itu tandanya lokasi tujuan tidak jauh lagi, hanya 300-an meter di selatannya, 300 meter tepatnya ke titik kordinat MI Khairiyatul Amin, titik tujuan kami di Jember. 

Dari pukul 6 sampai pukul 4 sore kami di sana. Paman Baidawi merupakan paman dari istri saya. Hari itu, kami beranjangsana. Mereka mengajak saya ke Puslit Kopi dan Kakao yang terletak tak begitu jauh dari rumah beliau. Kami naik kereta kayu, mengelilingi perkebunan kopi dan cokelat, melewati hutan karet dan tentu saja sembari membeli buah tangan untuk dibawa pulang ke Madura. 

*** 

Sore hari, setelah upacara pamitan dan foto-foto, kami melanjutkan perjalanan. Hari itu, Kamis, 27 Juli 2023 itu (atau 9 Muharram 1445 H), saya targetkan singgah ke empat tempat. Sementara hari sudah sore dan baru satu tempat yang berhasil disambangi. Kami lanjutkan perjalanan untuk mengunjungi bibi saya, Zainah, di Dukuh Mencek, yang rumahnya bersebelahan dengan Masjid Hasanul Islam

Menjelang azan maghrib, saat sudah tarhim, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke Situbondo: kunjungan takziyah ke Paman Masrur (Malung) yang wafat Selasa, 18 Juli lalu. Rencana semula, kami mau takziyah pada hari ketujuh, yaitu Senin, 24 Juli. Entah kenapa, halangan datang silih berganti sehingga saya gagal berangkat. Beruntung, akhirnya takziyah terlaksana meskipun mundur 3 hari dari rencana semula. Kami pun disambut putra almarhum dan juga istrinya, di Dawuhan, di rumah duka, yang lokasinya terletak di belakang toko Griya My Moon Store, 1 km persis utaranya lampu merah Alun-Alun Kota Situbondo. Ancer-ancernya adalah; 1000 meter dari lampu merah Alun-Alun Kota Situbonda, ke arah utara, Jalan Sucipto, lalu masuk ke kiri, melewati jembatan kecil, masuk ke gang sempit di antara dua gedung nan tinggi. Nah, di situ kita akan tiba di lokasi.
Dari kota Situbondo, kami lanjut ke Klatakan, ke rumah Ummah. Namun, sebelum itu, kami singgah sejenak di Panarukan, ke rumah Malik, ipar Man Malung. Di sana, saya nyekar di makamnya beliau (Man Malung) untuk membacakan tahlil khususon almarhum dan seluruh isi maqbarah. Oh, iya, Ummah ini istri Kak Arif (ipar Man Malung juga) yang kebetulan juga dia sepupu dua kali dengan Kak Arif dan sepupu persis dengan mendiang istri saya, Nyai Makkiyah. 

Kami tiba di sana hampir pukul 22.00. Ealah, saya masih rujakan mangga sebelum tidur demi memenuhi keinginan istri yang sejak tadi cari rujak manis tapi gak dapat-dapat. Hamdalah, empat titik dapat disinggahi semua dalam satu hari. 

JUMAT, 28 JULI 2023 

Pagi sekali, pukul 06.30, kami bergerak ke arah barat, menuju PP Nurul Jadid. Paiton adalah tujuan akhir saya, yaitu untuk menghadiri rapat wali santri karena putri kami, Fatimah, menjadi santri baru di pondok pesantren tersebut, di wilayah kepengasuhan Al-Mawaddah, asuhan Nyai Hamidah Abdul Wafie (pengarang Shalawat Nahdliyyah yang terkenal itu).

Hampir sehari penuh saya ada di Nurul Jadid, mengikuti acara pengelana tatib dan arahan pengasuh (KH Zuhri Zaini) sampai pukul 11.30, lalu shalat jumat, bercengkerama dengan putri saya, lalu ikut sesi kedua, yaitu parenting yang diampu oleh Ning Raudhlatul Aniq hingga selesai. Sebetulnya, materi inti berakhir pada 15.03, tapi sesi ini-itunya membuat acara benar-benar rampung menjelang pukul 16.00. 
Habis itu, saya antar anak ke pondoknya dan saya ajak dia takziyah ke Kiai Hefni Mahfudh yang ketika itu, secara kebetulan, putranya (Lora Roiq; pengganti beliau) sedang bepergian, sementara Nyai Nur sedang ada acara pesantren sehingga kami pun gagal bertamu. Demikianlah takdir bekerja, padahal rencana kali ini adalah kedua kalinya. Sebelumnya, pada hari raya Iduladha, saya juga hendak takziyah, padahal sudah tinggal beberapa langkah lagi ke Asrama Zaid bin Tsabit di wailayah kepengasuhan beliau itu, tapi rencana gagal karena saya balik arah sebab satu dan lain hal. 

“Sudah, ya! Ayah pulang saja.”
“Baik,” kata anak saya. 
“Nanti, kapan-kapan, dijenguk lagi. Jangan terlalu sering dijenguk. 

Anak kembali ke pondok, saya ke arah mobil yang diparkir di rumah Ustad Mannan yang lokasinya persis di pojokan Pos II, pintu gerbang akses ke PP Nurul Jadid sektor selatan. Di rumah Ustad Mannan—yang merupakan khadim Kiai Malthuf dan Nyai Hamidah Wafie di awal-awal beliau merintis pondokan santri di tahun 90-an—inilah saya berjumpa dengan Syaiful Khair yang notabene teman sepondok, dulu, dan saat itu sedang mengemudikan mobil rombongan dari Madura untuk tujuan yang sama. 

Menjelang azan maghrib, kami pulang. Jalanan ramai sekali, seperti biasanya, tapi tidak seramai tadi siang yang konon macet karena adanya kedatangan rombongan jemaah haji (tentu saja, yang bikin macet bukan yang datang dari haji, melainkan kirab atau pawainya). Kabarnya, bahkan bis-bis yang sedang menjalankan rute ke arah timur sempat tidak angkut penumpang karena dipastikan terjadi kemacetan besar di sekitar Pantai Bentar. 

Dalam pada itu, Om Washil bersama kami. beliau ikut kami dari Paiton, nyusul dari Situbondo. Beliau duduk di depan dan saya duduk di tengah. Kami mampir di RM Bu Sasmito untuk mengisi bahan bakar penumpangnya dan di SPBU Curah Sawo Gending untuk bahan bakar minyak mobilnya.  

Perjalanan berlangsung khidmat tanpa kendala.  Kami masuk tol Grati, akses jalan tol favorit kalau dari arah timur karena gerbang tol itulah yang paling dekat dengan arteri. Di Sidoarjo, kami keluar, mampir dulu—seperti sudah biasa, tak afdal rasanya kalau tidak mampir—di Warung Bakso Cak To atau Jungkir Balik yang letaknya tepat di sebelah barat Stadion Delta. Sayangnya, Mbak Lia dan Cak To sedang tidak di tempat karena Cak To sakit (semoga Allah memberikan kesembuhan untuknya). Hanya sepeminuman, eh, sepemakanan bakso, kami putar balik dan lanjut ke Madura.

Dari Sidoarjo ke Madura, mobil tidak singgah-singgah lagi. Bung Om Washil turun di Warung Asela karena sepeda motornya dititip di sana, kemudian kami lanjut ke Sumenep. Dari itu, saya menggantikan posisi pengemudi hingga tuntas perjalanan di rumah menjelang pukul 02.00, berakhir di angka 4777/1 (saat pergi 3932/3) yang artinya perjalanan kami, kali ini, adalah 844, 8 kilometer. 



01 Agustus 2023

Semalam di Jogja

Catatan Perjalanan ke Jogja, 22-23 Mei 2023


Perjalanan ke Jogja kali ini terbilang buru-buru. pasalnya, meskipun perjalanan telah lama dirancang, tapi digagalkan dua hari menjelang hari H. Yang menjadi sebabnya adalah; anak saya mendadak demam dan ibunya keberatan kalau ikutan berangkat. Maka, saya putuskan untuk ngebis saja. Akan tetapi, menjelang malam keberangkatan, si ibu mengambil keputusan untuk ikut karena suhu tubuh putranya mendingan. 

“Besok pagi tidak apa-apa kalau mau berangkat,” katanya.

Terburu-buru membuat saya lupa ngecek merata (pengecekan inti sudah), dan ternyata knalpotnya agaknya sedikit bocor sehingga kalau lepas gas, terdengar letupan. Begitu juga, Cak Badi—yang akan menyetir, menggantikan Cak Anam yang biasa bareng saya dan sekarang uzur karena persiapan menikah—harus dihubungi mendadak. Untung saja bisa. Selamatlah rencana perjalanan ini dari kegagalan.

Pagi itu, Kamis, pukul 09.30, kami bertolak dari rumah, jos langsung menuju masjid Baiturrohman di Dumajah, pukul 12.40 Pada beberapa kali trip, titik ini memang sengaja dibuat persinggahan saya, persinggahan pertama ketika berangkat. Pasalnya, letaknya yang dekat dengan akses Suramadu dan secara waktu telah mencapai perjalanan 2,5 atau 3 jam dari rumah dalam kecepatan 70-80 km jam. Jadi, secara teori mengemudi, posisi ini memang tepat untuk dibuat tempat rehat. 

Sedianya, sesuai rencana awal, andaikan kami bisa berangkat bakda subuh persis, maka rencananya adalah mampir ke Masjid Raya Syeikh Zayed di Surakarta alias Solo dengan perkiraan shalat jamak duhur-ashar di sana. Akan tetapi, berangkat bakda subuh persis memang cenderung tidak persis, bahkan cenderung sampai matahari terbit (sebab itu, banyak dari keluarga besar saya yang suka menjadwalkan keberangkatan beberapa menit sebelum azan subuh dalam keadaan sudah punya wudu). Penjadwalan seperti ini ternyata lebih efektif untuk menghindari molor. Dan kali ini, berangkat bakda subuh tidak mungkin karena persiapan kami belum selesai. Perjalanan dimulai pukul 10.00.  

Perjalanan di terik siang membuat hati kacau di Surabaya. Macet jalanan minta ampun, entah kenapa sebabnya. Pendingin kabin hasil rangkaian sendiri tidak mampu menenteramkan tubuh, hanya sekadar mampu membuat tidak keringatan. Ya, maklum, banyak kebocoran di sela-sela pintu dan membuat suhu udara luar (yang mungkin bisa mencapai 35-376 derajat celcius masuk ke dalam) dan juga faktor evaporator AC yang tunggal, hanya di depan, sementara untuk sampai ke kursi belakang saya menggunakan kipas angin yang dipasang di plafon tengah.

Sebelum masuk tol Dupak, saya melipir di masjid Nurul Yaqien (pukul 14.10) yang jaraknya hanya berapa puluh meter ke akses pintu masuk. Si bontot mau pipis. Harus diakui, bahwa keberadaan masjid-masjid di tepi jalan itu, salah satunya, adalah untuk orang singgah buat air kecil karena kalau menunggu SPBU belum tentu rimbanya, apalagi di jalan tol. Yang juga harus diakui juga adalah; ada pula yang benar-benar hanya singgah untuk pipis, jangankan sampai shalat tahiyatal masjid, ngasih uang ke kotaknya saja tidak. 

Karena keberangkatan berubah, maka jadwal lain-lain juga berubah. Perjalanan sepenuhnya lewat tol sampai Colomadu (Kartasura), padahal sebelumnya dirancang keluar-masuk: masuk Warugungun, keluar Bandar; masuk Caruban, keluar Sragen, lalu lewat arteri, lewat kota Solo, ke Masjid Zayed). Di tol, kami hanya singgah satu kali di tempat istirahat di Saradan, Madiun (jika tidak salah 627). Sebagai hiburannya, saya bawa rombongan yang untuk pertama kalinya ke Jogja itu—kecuali dua anak saya yang lain—ke masjid Al-Aqsha, Klaten. Pukul 19.50, kami bertolak menuju Jogja, ke Kafe Main-Main untuk makan malam dan tiba pukul 20.45.

Dipandu oleh GPS oleh Mas Mukhlas, kakak sepupu Zulfa (istri saya), Colt ini kembali menapaki jalan 
Lingkar selatan (ringroad) setelah terakhir Agustus tahun lalu, 2022, saat menghadiri kopdar ICJ di Pantai Cemara.  Sepertinya, Colt ini sudah akrab dengan aspal Jogja sehingga tidak perlu ragu-ragu, bahkan andai tanpa GPS, seakan ia sudah dapat mengendus jejak dan tapaknya di jalan-jalan kota Jogja. 

Setelah masuk lewat Jalan Imogiri Timur, belok kanan di Perempatan Jejeran, kami pun tiba di rumah Kak Mukhlas yang beruntung bisa menempati kediaman Mbah Juned (karena istri beliau merupakan cucunya) yang letaknya berada di belakang masjid  At-Taawun, Kanggotan, Plered, Bantul. 

Pagi Jumat, acara kami adalah silaturahmi, tidak lebih. Istri maunya istri adalah diantar ke Malioboro, tapi ternyata gagal karena si kecil rewel. Maka, setelah jumatan di Masjid At Ta’awun  yang terletak persis di timur rumah Mas Mukhlas ini, saya pun berangkat ke lokasi acara tanpa rombongan karena kerewelan tersebut masih berlanjut. Tak apalah, ia harus diterima sebagai takdir karena kita sudah ikhtiar.

Dalam perjalanan ke desa Pulesari di Sleman, kami menyusuri jalan terdekat menurut GPS. Saya tidak tahu menahu jalan itu karena ia adalah pertama kalinya. Akan tetapi, sebelum mencapai lokasi yang ditargetkan pukul 16.00, saya manfaatkan waktu untuk singgah-singgah lebih dulu, antara lain ke Pak Benta di Gamping yang baru buka kedai angkringan SGS dan lapangan futsal, di belakang rumahnya. Habis itu, persinggahan kedua adalah pool PO Putra Remaja, menjumpai Mas Hanif yang janji ngasih suvenir (kami terhubungan kembali dengannya saat saya dalam perjalanan naik bis ini dari Jambi tujuan Solo, awal bulan Mei lalu). 

Saya menghadiri undangan anak-akan IAA (Ikatan Alumni Annuqayah) yang mengadakan Kemah Literasi Nasional. acaranya ditempatkan di balai desa Pulesari, Sleman. Sesi sore itu, saya datang bersama Puthut E.A. Kami ngobrol bergantian: saya dulu, baru dia. Tapi, saya tidak langsung pulang sehabis acara, malainkan menunggu Mas Puthut sampai rampung bicara. Eh, gak tahunya, tiba-tiba ada Gus Syukron Maksum datang. Maka, pulang pun gagal, jadilah kami ngobrol sampai menjelang isya. 

“Ayo mampir ke rumah saya dulu,” kata Gus Syukron menawarkan kami mampir ke rumah mertuanya, mengingat dia dari Jambi—yang tempo hari pondok pesantrennya (PP Jari Nabi) itu—baru saya kunjungi. 
“Makasih, tidak mungkin rasanya, Gus, karena saya harus pulang malam ini.”

Turun dari Pulesari, saya mencari jalan akses ke Jalan Magelang yang paling dekat. Meskipun dengan begitu jaraknya sedikit memutar, tapi jalannya lebih terang dan lebih bagus. Maka, saya tidur di jok tengah, sementara Anta—yang ikut kami sejak dari Plered—duduk di depan bersama Cak Badi sang pengemudi. Tertidur lelap karena kelelahan, saya terbangun setelah mobil sudah parkir di halaman rumah Mas Mukhlas. Saya pulas sepanjang 40 km. Jarak segitu adalah jarak total ring-road Jogja yang pernah saya hitung melalui odometer Honda Aastrea Prima di tahun—jika tidak salah—2002 yang silam. 

“Loh, kok sudah mau pulang?” tanya Mas Mukhlas. 
“Serius mau pulang?” Mbak Aini menambahkan. 
“Iya, kami ini masih mau lanjut ke Karangharjo untuk acara besok malam. Besok siangnya masih rencana mampir di Ajung, di Paman Baidawi.” 

Diiringi suasana hari, kami meninggalkan Kanggotan malam itu, menuju Jember. Masih ada 530 kilometer di depan yang harus kami tuntaskan untuk titik persinggahan berikutnya. Tapi, kami singgah sebentar di Kafe Main-Main sekadar untuk ngisi termos dengan kopi, baru lanjut lagi pada pukul 10.00. Kami bertemu dengan Pak Edi dan Imam Rofiie, tapi tidak ada Kang Din yang sedianya mau jumpa saya pula di sana.  
 
Sementara itu, si kecil nangis terus. Suasana menjadi kacau balau saat istri saya berkata.
“Sepertinya saya tidak sanggup kalau harus ke Jember.”
“Ya, tidak apa-apa, kita putar haluan.”
“Terus, bagaimana dengan janjian orang Jember?”
“Pikir saja nanti di perjalanan, toh kita masih punya kesempatan waktu. Siapa tahu Aqil—anak kami yang bontot—jadi mendingan dan kita lanjut.”
“Iya, amin, semoga saja.”

Mobil bergerak dan Cak Badi tetap mengemudi hingga SPBU Kertonatan, Kartasura. Kini, giliran saya yang mengemudi. Masuk GT Colomadu pukul 23.44 dan sengaja saya bawa berlari konstan antara 85-90 km / jam hingga masuk GT Warugunung pada pukul 03.13. Dengan kecepatan rata-rata begitu, yang tentu saja terbilang lambat untuk mobil MPV yang berjalan di jalan tol, jarak 253 kilometer ternyata bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 29 menit tanpa rehat sama sekali. 

Mobil terus bergerak tanpa henti hingga akhirnya  saya ngisi BBM lagi di SPBU Tangkel bukan karena habis, melainkan sekadar untuk kalibrasi konsumsi BBM. Hasilnya adalah 1 liter untuk 12,7 km. Data ini masih saya ragukan (karena terlalu irit) mengingat mobil terbilang bermuatan berat karena membawa 6 orang dan barang berjibun serta RPM selalu tinggi. Entah tadi ngisinya kurang penuh atau bagaimana, saya tidak mencermatinya lagi. Yang pasti, jarak dari Kertonatan ke Tangkel itu 294 kilometer, sedangkan pertalite yang dihabiskan adalah 232.000. Suatu saat, kalibrasi harus dilakukan berkali-kali untuk mendpatkan angka yang lebih pasti.  

Kami tiba di Masjid Baiturrohman, Dumajah, masjid yang kami singgahi pertama saat berangkat, untuk shalat subuh. Mobil dan anggota rombongan terus pulang ke timur, sedangkan saya kembali ke barat, naik bis untuk melanjutkan perjalanan ke Jember. 











13 Februari 2022

Seribu Kilometer untuk 500.000 Kilometer (Etape IV)

SENIN, 7 FEBRUARI

 

Pagi sekali, rencananya bahkan sehabis subuh, kami pulang. Tapi, saya ingat, ini hari Senin. Saya harus mulang kitab dulu (melalui sambungan telepon kalau sedang berada di tempat yang jauh). Maka, setelah pukul 06.30, setelah tugas, saya pamit. Eh, malah tak boleh sama tuan rumah. “Makan dulu,” katanya. Itu sudah saya duga dan biasanya emang begitu. Dalam hal ini, pepatah “tamu bagaikan mayat” berlaku. Artinya, tamu harus mau dititah tuan rumah.


Setelah makan, obrolan masih berlanjut. Waduh. Akhinya, saya baru bisa pamit pukul 08.30, banyak waktu molor dari yang direncanakan sejak awal. Biarlah, saya pasrah, padahal sudah saya bilang, bahwa saya buru-buru karena malam nanti ada undungan menghadiri Haul Gus Dur di Sumenep.


Meskipun masih harus mampir di Klathakan untuk ambil titipan dari Ummah untuk saudaranya di Madura, saya bawa mobil santai saja. Ruwet pikiran melihat seliweran orang begitu banyak yang serampangan. Untuk menghemat waktu, saya cuman numpang pipis saja saya di sana, tak mau disuguhi kopi, lalu melanjutkan perjalanan.


Mulai dari Bletok, barulah saya bisa melaju agak kencang, lebih cepat dari tadi, kira-kira 70-80 (padahal sebelumnya cuman 60) karena jalan sudah mulai rada lengang, mungkin karena gerimis. Di satu sisi, gerimis membuat jalan lengang, tapi jalan jadi berbahaya. Kalau terang, semuanya jadi enak, pandangan juga serlah, tapi lalu lintasnya ramai. Paling enak kalau lewat jalan tol, gerimis pun masih bisa kencang. Enak pun ternyata masih ada “tapi”-nya juga: tapi di tol itu membosankan dan harus membayar mahal. Apa-apa itu ternyata ada plus-minusnya.


Cling!


Hingga akhirnya, saya teringat sesuatu dan saya menepi di ruas jalan tempat istirahat, di atas Binor, atasnya PLTU Paiton.


Kenapa?”

Mau nyuting odometer, ini mobil mau sampai 500.000. Saya mau pinjam ponselnya,” kata saya sama Kak Fadlillah.


Akhirnya, saya mulai menjalankan mobil lagi, pelan saja. Odomter mobil bergerak dari angka 499.997/2 dan mencapai angka 500.000 saat mobil berada di sisi selatan PLTU Paiton. Horeee. Saya senang sekali, tapi senang untuk apa sebenarnya. Saya yakin, angka itu bukanlah angka sejati. Odometer pernah mengalami putus. Di kepemilikan sebelumnya, bisa jadi hal yang sama juga terjadi, bahkan bisa saja pernah direset, pernah di-nol-kan ulang. Tapi, mana saya peduli. Apa pun dan bagaimanapun, pada momen itu, saya tetap mencatatnya sebagai sebuah momen penting dalam kesejarahan mobil ini di bawah kepemilikan saya selama 13 tahun terakhir.

 

Di Pajarakan, saya dikontak Iyok Fakhrud. Dia bilang baru saja berpapasan. Saya man tahu dia naik apa. Sebelumnya juga begitu, sempat diberhentikan Subhan di Lubawang, sebelah barat Besuki. Itulah salah satu keuntungan mobil tua yang warnanya tak pernah diganti dan ada stiker khusus yang memudahkan orang mengenalnya: font besar bertulis “Pariwisata” di atas kaca depan. Semua ini tak akan terjadi andai saya naik Avanza Hitam atau mobil orang kebanyakan lainnya.


Perjalanan terus saya lanjutkan karena badan masih terasa mampu. Hujan mengguyur secara gila saat kami lewat Tongas, bahkan sampai Bangil. Mobil-mobil berjalan sangat lambat sambil menyalakan lampu utama. Kali ini, saya memang tidak lewat tol karena jalanan terbilang sepi. Eman-eman uang 80 ribu dikeluarkan untuk sesuatu yang tidak penting-penting amat (beda dengan saat berangkat karena lewat tol memanglah dibutuhkan).


Di Tangkel, sehabis adzan asar, saya berhenti sejenak untuk mengambil kiriman dari adik kandung kepada ibu di rumah (saya tidak masuk ke rumahnya karena butuh jarak 20 kilometer pergi-pulang dan itu jelas makan waktu jika dilakukan, sementara saya ngejar waktu untuk hadir ke acara di Sumenep pada malam harinya). Selagi nunggu kiriman, tiba-tiba seorang anak muda bernama Dayat menghampiri saya. Oh, rupanya dia juga punya Colt. Katanya, dia melihat Colt saya dari jarak agak jauh sedang parkir, maka dari itu ia kemudian mampir.


Jalan lagi, sebentar saja, saya shalat zuhur-asar di Masjid Baiturrohman,Dumajah. Di situ, saya ketemu dengan Kiai Fauzan Badruddin. Di mana-mana kok ketemu kenalan, kata saya dalam hati. Betapa banyaknya orang baik di dunia ini.


Tak lama di sana, kami lanjut lagi, tapi berhenti lagi di Sampang karena sudah tak tahan lapar. Depot Al-Ghozali, di Tanglok, lepas kota Sampang, adalah tempat jujukan. Kami makan rawon di sana. Tak lama juga, makan, bayar, pergi lagi. Kami lanjut ke timur.


Setelah menurunkan ‘paket’ dari Klathakan di pertigaan Sumber Anyar, masih ada waktu tersisa untuk menjamak shalat maghrib-isya di Masjid Nurul Falah, selatan SPBU dekat Talang Siring. Sama seperti sebelum-sebelumnya, setiap kami singgah hanya benar-benar sesuai waktu yang dibutuhkan, tak ada santai-santai dulu. Seperti itu pula pada persinggahan terakhir: habis shalat, langsung berangkat. Kami tiba di rumah beberapa menit setelah azan isya. Sambil menurunkan semua barang di mobil, saya menyeduh kopi. Tapi, hanya beberapa kali sesapan, Innova Reborn berwarna putih masuk ke halaman. Ini pertanda Om Mamak yang datang.


Oleh-oleh sudah masuk rumah. Mainan sudah diberikan ke anak. Cucian sudah diletakkan di tempatnya. Saatnya saya pergi lagi, menghadiri undangan haul. Kepada panitia sudah saya wanti-wanti sebelumnya, jauh hari: Saya cuman mau datang, duduk di kursi hadirin. Saya tidak mau menjalankan tugas lebih dari itu. Dan kebetulan, kala itu, saya memang capek, habis nyetir dari Situbondo. Makin kuatlah alasan saya.


Kami pergi ke Sumenep dengan Innova Reborn. Tujuannya adalah Kafe Tanean, sebuah kafe baru yang sangat besar, dekat Asta Pangeran Katandur. Di dalam kabinnya yang senyap, saya merasakan sedikit perbedaan dengan Colt yang baru saja saya rasakan. Empuknya tak seberapalah bedanya. Sini ada menangnya, sana ada menangnya juga. Sini menang senyap, sana menang murah. Terus, saya cari perbedaan-perbedaan lainnya. Apa, ya, kira-kira? Maksud saya, perbedaan prinsip antara Colt dengan Innova? Lalu, saya temukan hasilnya: Lari dengan kecepatan 80 kpj di atas Innova itu masih asyik buat ngobrol macam-macam, bahkan obrolan serius, politik kebangsaan misalnya. Tapi, dengan kecepatan yang sama, di atas Colt T120, kita tidak bisa ngobrol terlalu ngelantur karena sopir harus mikir soal kepakeman rem, kelimbungan bodi, serta kemungkinan pelimpasan stir. Itu dia bedanya.


Eh, sebentar, tapi, saya ingat cerita di atas. Sepanjang jalan naik Innova, dari Guluk-Guluk sampai Sumenep, bahkan andai dilanjutkan sampai ke Jakarta, tak ada satu pun yang menyapa, tak ada orang kasih lampu atau isyarat klakson, tak ada yang kenal. Kenapa? Ia tak ada identitas. Di jalanan, ia terlalu banyak kawan sejenisnya.


Seribu Kilometer untuk 500.000 Kilometer (Etape III)

AHAD, 6 FEBRUARI


Pagi hari Ahad tak ubahnya Sabtu malamnya, masih lanjut ngobrol, tempat yang sama, seolah-olah itu kelanjutan tadi malam yang dipisahkan oleh fase tidur sebentar. Masih di tempat Hariri, kali ini datang tambahan: Pak Muqiet dan Pak Taufiq. Mereka menemani saya ngobrol pagi itu. Betapa terhormatnya sampai-sampai saya merasa rikuh. Obrolannya tidak serius, melainkan haha dan hihi. Itulah tema kesukaan kami semua.


Setelah disuguhi sarapan yang lebih tampak sebagai prasmanan besar di malam hari atau gala dinner, saya pamit, tapi masih dicegat oleh Pak Muqiet.


Tolong mampir ke rumah meski sebentar.”

Tapi, saya agak terburu-buru,” kelit saya.

Sebentaaar saja, berdiri di depan pintu pun tidak apa-apa. Yang penting, kunjungi rumah kami, sebentar saja supaya kami juga dapat berkah yang dibawa tamu.”





Undangan dipenuhi dengan syarat tak lebih dari secangkir kopi. Sewaktu kami ngobrol (lagi) di kediaman mantan Wakil Bupati Jember tersebut, eh, ternyata, di belakang, mobil saya dicucikan. Seorang lelaki paruh baya tampak menyemprotkan air dan mengelap bodi mobil. Waduh, ini jebakan, tapi asyik juga, sih. Rupanya, begitulah cara beliau membuat kejutan.


Dari Karangharjo, saya menuju Sempolan, pertigaan jalan raya Jember-Banyuwangi. Saya ikat janji dengan Kak Fadlillah di sana. Pas! Kami bertemu dan hanya sebentar dalam selisih waktu. Sebetulnya, saya juga ingin mampir di Suren untuk bertandang ke rumah Lora Miftah, tapi kata kabar tersiar, beliau kurang sehat dan masih butuh istirahat. Jadi, rencana bertemu dengan beliau gagal ditunda.


Dari situ, kami meluncur ke timur, menuju perkebunan pinus di Garahan untuk menghadiri kopdar Triwulan Komunitas Colt Jember (JCL). Istilahnya, sekalian mampir mumpung saya memang hendak melintasi Gumitir.


Kopdar Colt JCL ini, kabarnya, dilaksanakan tiap tiga bulan sekali. Tapi, selama dua tahun terakhir kosong karena pandemi. Untuk kopdar pertama setelah lama diem-dieman, mereka buat pengumuman di Facebook. Saya menyatakan bersedia hadir karena memang ada rencana ke Jawa. Hukum “sekalian” dan “mumpung” pun berlaku. Eman-eman jika datang untuk satu kepentingan padahal bisa nambah untuk kepentingan yang lain. Maka, saya ikut pepatah: “sekali ngegas dua-tiga kota terlampaui”.


Dalam acara itu, hadir teman-teman Jogja, Kediri, Malang, juga Surabaya. Lainnya saya kurang tahu. Tapi, yang paling banyak jelaslah yang dari Jember dan Banyuwangi, kebanyakan mobil bak terbuka. Acara resminya sebetulnya tidak lama, satu jam tak sampai. Tapi, orang-orang tidak segera bubar. Sebagian menyelenggarakan rapat untuk acara mendatang, sebagian lagi mandi, atau bersepada, atau main ATV (memang ada persewaannya, termasuk anak saya ikut main). Sebagian lagi entah pada ngapain saja. Entahlah.


Sekitar pukul 13.00 lewat, saya meninggalkan lokasi, berbarengan dengan beberapa mobil yang keluar. Rombongan Jogja sudah pergi dari tadi. Saya belok kiri, yang lain belok kanan.


Tak jauh dari tempat itu, Colt langsung menghadapi tanjakan mengular, Gunung Gumitir. Ini jalan memang paling asyik suasananya. Tapi, sekarang tidak seserem dulu. Waktu kecil, saya sering lewat jalan ini, ketika kendaraan tak seramai sekarang. Dulu, kalau malam, mobil-mobil yang mau melintasi hutan ngumpul lebih dulu di Garahan. Setelah ada beberapa, baru mereka konvoi lalu mulai jalan bersama-sama. Kenapa begitu, adakah mereka takut hantu hutan atau takut perampok, wallahu a’lam.


Lepas hutan, masuk Kalibaru. Dari spion kanan, tampak ada dua Colt yang membuntuti. Saya sein kiri supaya mereka menyalip, namun mereka tetap di belakang. Akhirnya, saya paham. Rupanya, mereka mengawal, mengiringi. Dan ketika saya telah tiba di tempat persinggahan, Majlisus Sa’adah, Wadung, Glenmore, untuk menyambangi sepupu saya, tiba-tiba Colt station berhenti juga (yang pikap lanjut). Loh, ternyata, yang nongol adalah Mas Agus Supriady (beliau ini beberapa kali membeli buku sama saya). Maka, terjadilah perbincangan sekejap. Lain waktu, saya ingin bincang lebih lama dengan dia, tidak di tepi jalan, tapi di suatu tempat yang lebih nyaman. Kapan itu? Saya tidak tahu.


Cik, aku cuman mau numpang tidur sejenak, ndak usah repot-repot,” kata saya pada si sepupu yang perannya saat itu adalah sebagai tuan rumah. Itu ucapan serius, bukan basi-basi.

Iya, Kak, silakan,” jawab si Locik yang bernama asli Yazid lebih datar lagi.


Tapi setelah kurang lebih satu jam tidur, saya bangun dan tiba-tiba saya melihat makanan yang sudah disediakan. Basa-basi gagal, ternyata saya diperlakukan sebagai tamu beneran. Ya, terlanjur ada, diembatlah itu si nasi dan si ikan dan si lauk-pauk lainnya.


Dan seperti yang sudah saya sampaikan di awal kedatangan, sesuai S.O.P, saya langsung pamit pergi, melanjutkan perjalanan ke timur. Masih ada dua titik persinggahan yang harus disamperi, padahal rencana pulang ke Madura adalah malam nanti? Mungkinkah?


BustanulMakmur II itu masuk ke utara, Kak,” kata Yazid yang saya panggil Locik.

Ke utara di mana?”

Pokoknya, nanti setelah sampai Genteng, Kak Izi bakal ketemu dengan tiga lampu merah. Nah, setelah lampu merah yang ketiga itu ada jalan masuk ke utara, belok kiri. Letaknya di belakang kampus Ibrohimi.”

Baik, pasti ketemu.”


Tujuan ke Bustanul Makmur adalah untuk mengunjungi Rifki dan adiknya, Afthon Dhani. Kedua saudara ini adalah sepupu persis almarhumah istri saya (juga famili saya). Keduanya sedang menjalani guru tugas dan desainer di pondok yang didirikan oleh Kiai Saifuddin tersebut. Sore itu, Dhani sedang ngajar dan Kiki sedang keluar. Saya menunggu. Setelah bertemu Dhani, baru Kiki datang menjelang maghrib. Kejutan baru terjadi. Ternyata Kiki—panggilan Rifki—baru pulang dari Bustanul Makmur Pusat. Dia mengatakan bahwa saya sempat dirasani Gus Endi. Terpancing oleh itu, akhirnya kami pergi ke sana.


Maka, bertemulah kami di Bustanul Makmur Pusat yang ternyata memang merupakan kediaman Gus Endi. Saya bertemu beliau di Buleleng, dua tahun lalu, di rumah sepupu beliau, pamanda Ahmadul Faqih Mahfudz (yang secara nasab merupakan sepupu Gus Endi dari jalur ayahnya; merupakan paman saya dari jalur ibu saya yang nyambung melalui embah putrinya. Tapi, Gus Endi ternyata bukan paman saya karena beliau berada di jalur nasab yang berbeda). Di sana, kami juga bertemu dengan Gus Imdad dan Gus Nawal serta seorang temannya dari Jember. Pertemuan yang kurang tepat secara waktu—karena habis maghrib—itu sangat gayeng sehingga sempat membuat saya lupa diri, lupa bahwa masih ada satu titik tersisa yang harus disingghi.


Karena saya tidak menggunakan Google Maps, maka saya tidak bisa memperkirakan jarak. Makanya, saya terkaget-kaget karena ternyata rute Genteng – Banyuwangi itu sangat jauh, lebih-lebih malam itu gerimis dan jalan sangat padat, ditambah rutenya tidak akrab. Begitu membosankan, tapi saya jalani saja dengan santai. Bonusnya adalah salah jalan di Banyuwangi. Saya sempat muter-muter beberapa kali dan baru berhasil mengakses kembali Jalan Nasional ke arah Ketapang setelah buang jarak dan buang waktu kurang lebih 15 menit lamanya. Itu buang-buang jika mengingat saya sedang kejar waktu ingin sowan ke Kiai Fadlurrahman, tapi itu juga tambahan pengalaman sebab akhirnya saya jadi tahu tempat-tempat yang semua tidak pernah saya lewati.


Terus, bagaimana cara saya agar tahu jalan masuk ke pondok pesantren asuhan Kiai Fadol (panggilan masyarakat terhadap Kiai Fadlurrahman Zaini) itu sementara congap (pertigaan jalan masuk)-nya sangat tersembunyi? Yang saya lakukan adalah menelepon adik agar mengecek jarak dari Pelabuhan Ketapang ke congap yang mengarah ke pondok beliau, PP Al-Abror Ar-Robbaniyun.


18 kilometer,” katanya.

Pas?”

Iya.”


Saya pun menginjak gas tanpa ragu dan baru kembali memperhatikan pergerakan odometer mobil setelah odo mencapai 17 km. Setelahnya, barulah saya mencari jalan masuk ke arah kanan, ke timur, ke arah pondok, eh, ternyata masih larat juga. Masih untung ada tukang sate yang menyelamatkan. Saya bertanya kepadanya. Kata dia, saya kelewatan sekitar hampir satu kilometer. Barangkali, tukang sate itu sudah lama sekali tidak bertemu dengan orang yang bertanya lokasi karena orang-orang pada pakai aplikasi (setelah tiba di rumah dan menulis catatan perjalanan ini, saya cek di Google Maps melalui PC, ternyata jarak dari pintu pelabuhan Ketapang ke congap itu cuman 16 kilometer. Adik saya sepertinya salah paham karena angka 18 kilometer tersebut adalah jarak dari pintu pelabuhan ke pondok Nurul Abrorar-Robbaniyyin, bukan ke congap).


Sowan ke Kiai Fadlurrahman Zaini di malam itu gagal. Kata petugas, sepertinya waktu sudah kemaleman untuk bertamu. Jam menunjuk 21.30. Memang iya, sih. Mereka memberi saran agar kami bermalam. Saya berterima kasih karena itu tidak mungkin. Tak apa-apa, semoga lain waktu kami bisa ke situ. Sebelum pergi, sempat terlintas kenangan terakhir di tempat itu bersama mendiang istri saya, melintasi khayalan. Saya ingat sowan terakhir kami dua tahun yang lalu. Di sana, kami disambut dengan penuh kehangatan (dan ...ah, tapi saya jadi sedih).


Perjalanan diteruskan ke Arjasa setelah kami singgah sejenak di sebuah kedai, di Galekan. Menghubungi nomor Moeftin Nadzir tapi tak aktif, ya sudah, lanjut saja. Hujan lumayan deras. Sempat saya gelagapan di dalam hutan Baluran. Saya deja vu, ingat kejadian serupa 12 tahun yang lalu. Tapi, kali ini lebih mencekam karena dua kali lampu depan mati mendadak lalu hidup kembali. Kak Fadlillah mengaku cemas atas kejadian itu (tapi ia sampaikan setelah tiba di Madura). Mungkin, mati lampu dianggap isyarat kurang baik. Tapi, bagi saya tidak karena saya tahu persoalannya. Kejadian mati lampu mendadak memang sudah terjadi sebelumnya, beberapa kali, tapi belum ketemu masalahnya. Baru setiba di Asembagus lah saya tahu. Ternyata, penyakitnya adalah penjepit sekring tabung goyah, bukan relay lampu yang karatan seperti yang saya duga sebelumnya.


Akhirnya, saya tiba di Arjasa dalam keadan penat tak berdaya. Rencana mau lanjut malam itu juga digagalkan. Sebetulnya, saya bisa tidur sejenak, bangun, dan langsung berangkat. Tapi, bukan itu alasannya, bukan capeklah alasan terbesarnya, melainkan karena saya tak ingin pagi esoknya anak saya bangun dan menemukan saya tak ada lagi dari sisinya.


Besok saja, Kak,” kata saya pada Kak Fadlillah.

Seribu Kilometer untuk 500.000 Kilometer (Etape II)

SABTU, 5 FEBRUARI


Ra Nuriz ada, ya?”

Insya Allah ada.”

Ndalemnya yang sebelah mana?”

Yang paling timur.”

Terus, saya mau parkir di mana?”

Di situ!”


Santri petugas parkir menunjukkan arah yang saya perkirakan 100 atau 150 meter di depan. Tapi, sebelum mesin mobil saya matikan, saya bilang pada mereka, “Sebentar, saya mau menghadap dulu...”

Pintu utama PP Walisongo di Panji memang tutup, tapi saya tahu, saya bisa masuk lewat pintu samping. Begitu kata orang yang saya tanya lebih dulu. Saya mau ketemu Pamanda Nuriz, menantu Kiai Cholil As’ad. Pagi itu, saya mau bersilaturahmi sekaligus belajar ilmu arudl kepada beliau, tak apa-apa meskipun sebentar. Dan benar, Man Nuriz muncul lalu bertanya.


Bawa Pariwisata?” tanyanya seraya tersenyum. Beliau paham, maksudnya adalah Colt T120 milik saya yang di kaca depannya tertempel stiker “Pariwisata” dan sudah terpasang kurang lebih 12 tahun yang lalu.

Iya, parkir di luar.”

Wah, jaaaangan, masuk saja, dibawa masuk ke sini.”


Astaga, terpaksa, mobil saya dimasukkan. Wah, mobil kurang ajar ini, he, he, he. Mobil tamu mestinya parkir di tempat yang disediakan, tapi karena mendaapat perintah tuan rumah, jadilah mobil dibawa masuk oleh Kak Fadlillah dan diparkir persis di depan pintunya tuan rumah, gaya sekali!


Itulah kegiatan pertama saya di Sabtu pagi. Setelah makan dan pamit kepada bibinda di Arjasa, saya minta izin bawa anak saya jalan-jalan ke Jember. Beliau membolehkan. Hitung-hitung, supaya dia belajar kenal dan tahu famili serta teman-teman ayahnya.


Di rumah Man Nuriz, terjadilah percakapan asyik, makin asyik setelah secara tiba-tiba datanglah Zainal Asyikin, makin asyik sajalah. Kami dijamu makan enak dan dibawakan buah tangan kopi ketika pamit pulang. Pagi itu, kami dapat ganjaran silaturahmi, dapat ilmu, dapat buku, dapat ini dan itu.


Di luar, kami berpencar. Zainal pulang ke Corasale, saya belok kanan, menuju Bondowoso. Di tengah perjalanan, area sekitar Wonosari, saya sempat tidur sekejap di tepi jalan karena tak tahan kantuk. Tidur semalam rasanya belum tuntas. Kucek mata, kami lanjutkan perjalanan ke Jelbuk, ke dusun Palalangan, Sukowiryo. Saya mengantarkan Kak Fadlillah untuk menjumpai tetangga rumahnya yang kini mukim di sana.


***


Sepertinya Colt Pariwisata beredar di area Jelbuk, Keh?”

Iya Benar. Dari siapa, ya?”

Saya Sabil.”

Ooo... kok Anda tahu?”

Tadi saya sempat nguntit di belakang mobil Sampeyan.”

Di atas ini adalah sebagian percakapan saya dengan Sabil melalui telepon, sesaat sebelum mencapai lokasi rumah Pak Abdul Hayyi, tempat tujuan kami. Lokasi rumah beliau rada terpencil, masuk ke jalan kecil yang rimbun. Situasi jalannya malah seperti dalam dongeng. Suasana rumahnya membawa saya pada nostalgia suasana kampung di awal tahun 90-an: sepi.


Habis asar, kami pulang. Arahnya beda dengan jalan ketika kami datang yang mulutnya berada di selatan Puskesmas Jelbuk. Tuan rumah mengarahkan kami supaya belok kiri, nanti, setibanya di jalan masuk ke dusun Pelalangan. Saya mengarahkan mobil sein kiri, ke arah timur, menuju pertigaan Sumber Kalong untuk selanjutnya belok kanan, menuju Kalisat. Inilah rute paling singkat menurut Pak Hayyi, bukan menurut Google Maps (karena kami berdua memang tidak pakai peta digital).


Tujuan kami ke Kalisat ada dua: Kak Fadlillah demi mengunjungi cucunya (putranya diambil menantu K. Muzammil), sementara saya mau jumpa sama Isom, putra Kiai Rasyidi. Ternyata, saya gagal bertemu karena si calon tuan rumah tidak dapat dihubungi. Akhirnya, saya lanjutkan perjalanan ke Kancakona Kopi Jember (lokasinya berdampingan dengan BLK Jember di Tegal Besar), untuk mengikuti diskusi yang diselenggarakan oleh Lesbumi NU Jember, bincang-bincang dengan cerpenis Muna Masyari. Saya pergi berdua dengan Salim, anak saya. Sementara Kak Fadlillah nginap di Kalisat. Kami janji ketemuan lagi esok paginya.


Malam Ahad itu, saya menutup rangkaian silaturahmi hari kedua di Karangharjo, di rumah Nur Hariri. Senang tak terkira saya rasakan karena hal ini ibarat pengabulan atas keinginan yang saya sampaikan pada tuan rumah, kira-kira sebulan yang lalu (semoga kedatangan saya tidak mengganggu mereka dan andai saja mereka direpotkan, semoga mendapatkan ganti kebahagiaan dari Allah swt). Di sana, kami ngobrol sampai larut dengan Mamat, Oling, Manamo, dll. Saya juga diajak melihat unit usaha pondok Al-Falah yang baru, yaitu mesin sangrai (roasting) kopi produk lokal Jember. Dan saya disuguhi kopi dari hasil kerja mereka.

Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...