Pembaca

Tampilkan postingan dengan label karburator. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label karburator. Tampilkan semua postingan

09 September 2025

Sambil Menyambang, Ngetes Karburator

Hanya karena berkisar-kisar di area kabupaten Sumenep, perjalanan saya tadi siang dengan Colt seolah pendek saja. Setelah mencari tahu di Google Maps dan dicocokkan dengan odometer, ternyata 100 kilometer lebih juga akhirnya. Pantesan, setelah diisi penuh pertalite kembali di SPBU Ganding, SPBU tempat saya ngisi penuh sebelum berangkat, uang yang dibayarkan ke kasir adalah 105.000 alias 10,5 liter. Jadi, wajar saja kalau saya berasa capek setelah tiba di rumah, beberapa menit setelah azan Ashar. 

Perjalanan saya dimulai pukul 08.45 dan melaju ke arah kota Sumenep. Dari kota, saya melewati Paberrasan, terus Parsanga, dan tiba di Gapura sekitar pukul 09.27. Perjalanan dilanjutkan ke timur sampai masuk kecamatan Dungkek. Rombenguna adalah salah satu desa di kecamatan itu dan berjarak kira-kira 4 kilometer ke Pelabuhan Dungkek. Pelabuhan ini duganakan orang untuk menyeberang ke Sepudi dengan kapal tradisional, juga ke Gili Iyang, pulang dengan oksigen terbaik di dunia (nomor urut dua).

Dalam pada itu, saya menelepon orang-orang yang saya kenal yang kebetulan rumahnya saya lewati. Dipikirnya, saya ada perlu sama dia, padahal sekadar ingat karena kebetulan saya lewat depan rumahnya: Mawaidi di Rombenrana, Sofyan di Jenagger, dan telepon dari Mamber yang rumahnya di Grujugan yang dia tahu saya lewat dari salah satu orang yang saya telepon itu.

Setelah selesai acara di Desa Rombenguna, saya lanjut ke Nyabakan Barat. Saya melalui rute yang tidak disarankan oleh Google Maps (dalam gambar saya pilih wahana sepeda motor karena kalau pilih mobil, rute seperti dalam gambar tidak akan ditampilkan) namun dianjurkan oleh warga lokal (kebetulan saya juga pernah lewat di jalan itu kira kira 4 tahun yang lalu). Dari SMP 1 Dungkek, mobil saya arahkan ke utara, melewati jalan beraspal kasta terendah (mungkin kelas III-C) yang kalau berpapasan pastilah salah satunya turun ke tanah dan berhenti dulu. Ujung jalan ini adalah jalan kolektor Candi-Tamansari-Dungkek, sebelah barat kantor MWC NU Dungkek.

Dengan kecepatan kira-kira 50-60 km/jam, tempat tujuan dapat dicapai sebelum pukul 12, waktu yang ditentukan anak-anak KKN untuk dimulainya acara. Saya melewati pasar Candi, terus ke barat, lewat di depan rumah Pak D. Zawawi Imron, dan baru belok kanan di pasar Batang-Batang dan menuju arah Legung.

Tiba di lokasi, di Balai desa Nyabakan Barat, pukul 12.00 kurang 10 menit. Saya langsung melaksanakan shalat Duhur lebih dulu supaya nanti setelah selesai acara bisa langsung cus pulang.

Baik di Rombenguna maupun di Nyabakan Barat, tema pertemuan tersebut sama, yaitu pembahasan seputar sampah dan pengendaliannya. Maklum, KKN Universitas Annuqayah kali ini adalah KKN Tematik Lingkungan. Saya fokus pada pembahasan pada pengendalian sampah dapur dan sampah makanan, tentu saja juga menyinggung soal sampah plastik-sekali-pakai. Di kedua posko (Posko 31 Rombenguna dan Posko 10 Nyabakan Barat) yang secara kebetulan, para peserta KKN Universitas Annuqyaah di adalah peserta putri dan kebetulan juga kepala desa di kedua desa itu sama-sama perempuan, yaitu Ibu Yunni dan Ibu Riskiyah.

Seperti tadi saat berangkat, seperti itu pula saat pulang: saya mengisi penuh BBM di SPBU Ganding. Ini bukan kebiasaan saya karena sangat jarang saya mengisi penuh tangki mobil. Pengisian penuh ini dilakukan hanya untuk menguji konsumsi BBM setelah mencoba ngampak karburator Kijang 4K dipadukan dengan karburator L300 bensin. Hasilnya ternyata cuman 1:10. Angka ini belum aman, namun sudah lumayan ketimbang yang terjadi minggu lalu saat saya bawa Colt ini ke Jogja yang konsumsinya lebih boros lagi karena ternyata jarum jetnya macet.

Hamdalah, perjalanan 112 km ditempuh tanpa kendala.


30 Januari 2014

Karburator dan Isinya


Setelah beberapa kali membersihkan karburator sendiri dengan bantuan teman, akhirnya saya berhasil membersihkan karburator dengan tangan sendiri dan sendirian. Awalnya, sempat saya alami bongkar pasang karburator milik Colt T-120 ini dan dianggap gagal karena ada beberapa item yang tidak terpasang. Hal ini membuat saya kendor dan capek karena tidak terbiasa. Ini adalah pengalaman yang, kalau tak salah, keempat atau kelima kalinya.

SPUYER
Awalnya, saya membongkar karburator karena merasa konsumsi BBM Colt saya ini terlalu boros. Ditemukanlah penyebabnya, yakni adanya kombinasi spuyer yang terlalu besar, 95-162. Padahal, sebelumnya sudah sering kali mencoba kombinasi spuyer, mulai dari 80-90, 85-90, hingga yang terakhir 85-95. entah mengapa dan kapan saya pasang spuyer gede itu, mungkinkah orang lain? Mungkinkah paman saya yang menggantinya sewaktu membawa Colt ini ke Jember tempo hari? Namun, yang saya pasang dalam kali terakhir ini adalah kombinasi 95-98. Selain spuyer berbentu pipih, ada lagi spuyer yang bentuknya panjang, entah apa ini fungsinya. Posisinya tegak dan batangnya seperti batang lidi. Ternyata, nomor spuyer yang ini juga beragam. Yang saya temukan dalam karburator bernomor 4.4.
Spuyer pipih, seperti mur, yang kombinasinya saya sebut di atas, banyak sekali ragamnya.  Saya memang sering membeli spuyer untuk koleksi, tepatnya untuk persiapan dan coba-coba. Toh, harganya berkisar 3-5 ribu rupiah saja. Dari sekian banyak spuyer, saya membaginya jadi dua jenis: ada yang berwarna kuning emas dan jenis lainnya kuning kehitaman. Yang kuning seperti emas, nomornya jelek, seperti ditulis tangan. Semetnara yang kuning kehitaman cap nomornya seperti dari cetakan. Saya berasumsi, spuyer yang warna kehitaman ini adalah yang nomornya lebih valid. Soalnya, saya pernah membandingkan lubang spuyer itu tidak sama;
lubang spuyer kuning bernomor 90 ternayta lebih besar dibandingkan spuyer kehitaman yang bernomor 95. Saya bandingkan pula dengan nomor yang lain.

MEMBERSIHKAN KARBURATOR
Untuk membersihkan karburato, sekarang tak perlu repot lagi. Kini, sudah tersedia cairan pembersih berbentuk semprotan (spray). Ia dapat membersihkan lubang-lubang di karburator dengan hanya cukup disemprotkan. Namun ingat, jika karburator berisisi kotoran padat, seperti serpihan pasir/debu, saya tidak yakin dapat dibersihkan dengan semprotan itu. Saya lebih yakin jika dibersihkan dengan kompresor.

PACK-SET/TOOL KIT
Pak set yang dimaksud di sini adalah sekumpulan item/onderdil dalaman karburator, berisi spuyer, packing, dll. Baru-baru ini saya membeli sebuah pack set dengan harga 60.000. Ternyata, beberapa yang saya temukan tidaklah benar-benar memuaskan/lengkap. Ada beberapa item yang tidak ada di dalamnya, seperti gotri dan kuningannya. Terus, masalah muncul karena batang besi penahan gotri itu ternyata terlalu panjang dari yang saya gunakan (yang kebetulan dibuat sendiri dari ruji sepeda karena yang aslinya hilang saat dibongkar). Akhirnya, saya potong dengan mesin gerinda dan disesuaikan.

Saya pernah mengalami kelepaaan tidak memasang batang goti dan kuningan itu di dalam karburator. Anehya, karburator tetap berfungsi dan mesin tidak pincang. Makanya saya tidak curiga sama sekali kalau ada beberapa item yang lupa dipasang. Saya baru curiga setelah diketahui konsumsi BBM diperkirakan menjadi gila, yakni 1:8 atau bahkan kurang. Ini diketahui setelah saya gunakan dalam perjalanan jauh, ke Banyuwangi (dari Sumenep).






12 April 2009

Cerita Hari Ini Bersama Titos


Tadi siang, saya mencoba memacu si Titos ini di jalanan Prenduan-Pamekasan. Bukan kejar setoran, cuma karena sedikit gemas pada bunyi mesin Isuzu Elf 2,8 (yang kalao sedang diblayer kayak nantang gulat) yang melenggang bergoyang-goyang membokongiku.



Microbus (kata orang setempat, “bis mini”), ini tampaknya berpenumpang lumayan. Sedangkan Titos-ku berpenunmpang 4 orang. Kukejar terus ia sampe lewat Talang Siring, pas di track lurus. Rupanya, ada Kijang LGX yang juga didahuluinya. Kini, jarak kami telah terhalang seratusan meter, ya, gara-gara si Kijang ini. Kupacu dan gak kena juga.


Aku kasihan pada bunyi mesin, aku kasihan pada bunyi gardan, aku kasihan pada bunyi sirine buzzer yang bercicit-cicit di balik speedometer. Suaranya mirip sepatu anak-anak yang terinjak kaki orang dewasa, karena kecepatan sudah di atas 80 KM /jam. Kutambah lagi menuju 100 Km / jam sambil pura-pura lupa kalau remku bukanlah Brembo: Gak kenak juga..


Sampai di TKP, kumatikan mesin.


Singkat cerita, saat mau pulang, pas distater, tak mau jalan tuh mesin. Toleh kanan, toleh kiri, cari orang: minta bantuan. Tak ada. Aku kehabisan akal, sementara peluh telah membasahi kening, leher, dan punggungku. Wah, celaka! Setelah kucek, tak ada bensin sama sekali di karburator. Rupanya, saat dipacu, antara pasokan bensin ke karburator dan konsumsi bensin ke mesin tidaklah seimbang. Harusnya, kata kawanku kemudian, biarkan mesin dalam keadaan stasioner/idle selama beberapa saat agar bensin kembali siap teguk di karburator. Untunglah ada orang berbaik hati menyedekahkan kira-kira 40 mL bensin sepeda motornya dan langsung pula kutuang ke dalam karburator bernasib malang itu…


Start, dan greeeng… greng…greng…..


Itulah pengalamanku hari ini bersama Si Titos…

Cup, ah, buatmu, kawan setia tukang antarku!!


Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...