Pembaca

Tampilkan postingan dengan label coltkebali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label coltkebali. Tampilkan semua postingan

28 Desember 2019

Perjalanan ke Bali (Etape IV: Seririt - Sumenep)


Setelah sepagian saya mengecek roda, oli, dan air radiator dan semua dipastikan semua beres, pukul 09.30 kami bertolak di Sririt. Pada roda depan tampak ada lelehan gemuk (stemplet). Mungkin karena stempletnya pakai yang murahan dan gampang meleleh kalau panas. Maklum, berjalan turun sejauh 40-an kilometer dari Bedugul itu jelas bikin roda panas sekali.
Setelah isi premium 150.000 di SPBU setempat, kami langsung jos ke barat. Muatan bertambah berat karena bawa oleh-oleh. Duren dari tuan rumah, anggur dari Om Faqih, dan juga ada beberapa makanan. Jalan yang panjang dan lurus, tidak ada gelombang, diselingi pemandangan yang menarik, satu jam perjalanan tak terasa. Tiba-tiba kami sudah sampai di SPBU 54.811.12, stasiun pengisian bahan bakar yang dekat ke rumah Man Faqih di Pemuteran.

Dari SPBU itu, Gilimanuk tinggal 29 km lagi. Dan kira-kira ¾ dari jarak itu adalah Taman Nasional Bali Barat. Kalau lewat di sana, pastikan ban tidak kurang angin, tidak kekurangan bensin, karena setelah SPBU itu, setahu saya, tak ada SPBU lagi dan tukang tambal ban. Jarak segitu bisa ditempuh dalam waktu 30 menitan lebih sedikit, karena jalan sangat bagus dan tak ada perkampungan penduduk.

Meskipun hari ini adalah Natal, 25 Desember 2019, penyeberangan dari arah Bali maupun Ketapang normal saja. Sayangnya, saya kebagian naik feri Dharma Kencana III. Feri ini besar. Jalannya lemot, beda dengan yang kemarin malam kami ikuti (lupa namanya). Akan tetapi, meskipun menyeberangnya satu jam lebih, tapi kami dapat bonus selisih waktu satu jam, antara WITA ke WIB, berkebalikan dengan saat nyeberang ke Bali yang 'tercuri' waktu satu jam. Namun, ternyata, meskipun kami dapat untung satu jam, waktu kapal kapal mau sandar, eh, jembatannya macet, tidak bisa dibuka. Mobil-mobil sudah menyalakan mesin. Ada sebuah truk FUSO Fighter yang asapnya bergulung. Lantai kapal pun bau solar.

Dicoba-coba tetap tak bisa, akhirnya kapal mundur, putar haluan, dan masuk ke dermaga 3 (tadinya mau sandar di dermaga 2) dengan cara mundur. Jadinya. semua kendaraan akhirnya putar balik di dalam kapal untuk bisa keluar dari geladak belakang. Adapun truk tidak bisa, ia harus jalan mundur.

Dari Ketapang, kami sein kanan, ke arah utara. Loka pertama yang kita bakal jumpa adalah Bangsring, Bengkak, terus Alasbuluh. Nah, tepat di balai desa nama terakhir ini kami belok kanan, masuk ke jalan kelas III c, menuju PP Nurul Abror Al-Robbaniyyin. Kami sowan ke KH Fadlurrahman Zaini (biasa disebut Kiai Fadol). Saya merasa berasalah karena sowan tidak tepat waktu, yaitu lepas shalat duhur. Kiai sedang istiharat, tapi dibangunkan oleh nyai karena dengar kabar ada tamu dari Madura, padahal saya hanya singgah dan mampir saja. Astaga.

Kiai Fadol adalah putra daripada Kiai Zaini Mun’im, pendiri PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Beliau pindah ke Alasbuluh dan mendirikan pondok pesantren di sana. Istri beliau adalah Nyai Hasbiyah, sesaudara dengan Kiai Abdul Hamid bin Mahfud, pengasuh PP Bata-Bata (Miftahul Ulum) saat ini. Anda kalau sowan kepada beliau akan auto-tenteram, melihat betapa tawaduknya beliau itu.

Dari Alasbuluh, ganti saya yang bawa. Ada kejadian menarik saat saya masuk Galekan. Habis jembatan, agak menikung, ada Panther warna emas membunyikan klakson di seberang jalan. Posisinya sedang parkir. Saya melambatkan laju mobil lalu menepi di depan sebuah toko. Saya menoleh ke belakang: Panther putar balik, kembali, menuju ke arah kami. Eladalah, ternyata Moefti Nadzir. Ya Allah, ayahnya wafat tempo hari dan saya belum takziyah. Ketemunya malah di pinggir jalan.
“Dari mana?” tanyanya.
“Barusan dari Kiai Fadol.”
“Mari mampir,” ajaknya.
Terima kasih, saya memang ingin, tapi kali ini sangat mendesak. Mohon maaf. Semoga masih ada waktu, lain kali,” Saya berkelit. Lalu, saya tanya, mengapa dia bisa melihat saya dan mobil saya, padahal jarak dari rumah saya ke tempat kami bertemu ini jauh sekali, 420-an kilometer.

"Tidak pangling, ada Colt pakai stiker PARIWISATA, ha, ha, ha," katanya. Ternyata, pasang stiker itu ada manfaat yang lain, meskipun tujuan saya yang pertama malah tidak tercapai, yaitu agar mobil saya tidak dicegat orang karena dianggap angkutan pedesaan, dan ternyata masih sering dicegat juga di jalan.

Kami tiba menjelang asar di Sukorejo. Kami takziyah ke kediaman Nyai Isya'iyah binti As’ad bin Syamsul Arifin (biasa dipanggil Nyai Isya’ atau Nyai Sa’. Suami beliau, Kiai Muzakki Ridwan, wafat beberapa waktu yang lalu. Sebetulnya, masih ada beberapa orang yang harus ditakziyahi, di antaranya adalah Pamanda Abdul Karim di Panarukan, dll. Namun, apa daya, waktu tak cukup adalah alasan. Saya hanya berdoa di dalam hati, semoga doa yang saya panjatkan dapat cukup mewakili meskipun suatu saat saya bisa datang ke sana, entah kapan, di suatu hari nanti.

Di Sukorejo, tanpa sengaja, kami bertemu dengan banyak orang. Di antaranya dengan Junaedi Salat, Ali Romzi, dan bu dosen Nurainiyah. Karena saya duduk di tepi jalan, banyak juga santri yang rupanya kenal dengan saya, ada yang malah tahu kalau ada saya karena ada mobil Colt T Pariwisata parkir di dekat komplek Nurul Qoni’. Saya melihat mereka dari jauh, ngobrol dengan Warid yang ada di mobil, dan saya melihat mereka dari kejauhan.

Kami pulang dari Sukorejo pukul 17.05. Mampir dulu di SPBU, mimik premium lagi, 100 ribu saja. Di tangki masih ada banyak, cuma untuk jaga-jaga saja. Habis itu, kami lanjut ke kediaman Pamanda Syibawaih untuk shalat maghrib dan ambil bantal dan tertinggal. Selepas itu, kami lanjut ke rumah Pamanda Zaini, di PP Is’aful Mubtadiin, desa Lamongan, Kec. Arjasa, Kab. Situbondo. Sempat istrihat sebentar di sana, ngecas ponsel, ngecas kamera, dan ngecas perut, dan ngecas tulang belakang sebab dari tadi pagi duduk terus dan tidak telentang sama sekali.

Pukul 21.00, kami bertolak. Warid kembali mengemudi. Dia memang insomnia di jalan, jadi saya sama sekali tidak khawatir akan ngantuk. Belum sekali pun saya lihat dia menguap ketika menyetir mobil, beda dengan saya. Jalanan tidak begitu ramai, tapi tidak sepi pula. Makanya, pukul 21.15, kami sudah masuk Besuki meskipun laju kendaraan wajar-wajar saja, 60-70 km/jam.

Namun, lancarnya perjalanan dari timur ternyata dibayar lunas dua kali: menjelang kota dan sesudah kota Probolinggo, dengan durasi antrian yang relatif sama lamanya, yakni 30 menitan. Antri pertama adalah di lampu merah Randu Pangger, lampu merah ujung timur kota. Antrian terjadi karena ada perbaikan yang berdampak pada arus lalu lintas dan jalan, dari dua jalur ke satu jalur, menggunakan sistem buka-tutup. Antrian yang kedua adalah antri kopi saat kami rehat di Warung Kencur, dekat Bayeman, kira-kira 2 kilometer dari Ketapang, lampu merah paling barat kota Probolinggo. Walhasil, kami sampai Randu Pangger pukul 23.25, masuk kota, ngopi—dan hanya ngopi saja—dan baru keluar dari pelataran parkir warung itu pukul 01.00: satu jam setengah untuk lewat kota dan ngopi. Lama benar, kan?

Untunglah, kekalutan karena lamanya menunggu pesanan yang menyebabkan selera ngopi menjadi hilang dapat bandingan permenungan: seorang bapak tua dengan beberapa anak (mungkin cucu) yang habis kena tabrak di Gratis. Belakangnya ringsek, kaca pecah. Kata dia, mobilnya habis kena seruduk truk di Grati. Di samping mengenainya, truk juga nabrak empat sepeda motor. Bapaknya tampak mencari orang untuk curhat, maka saya mendengarkan curhatnya. Supaya juga bisa menghiburnya, saya juga berbagi cerita, bahwa belum lama ini, mobil saya juga kena seruduk truk. Bedanya, truk yang nabrak mobil si bapak itu kosongan, sedangkan yang nabrak mobil saya bermuatan melebihi kapasitas. Tapi, kecurigaan penyebabnya sama: hilangnya konsentrasi di saat mengemudi yang salah satunya disebabkan adalah menelpon. 

Pukul 02.10, kami mencapai Bangil dan sepuluh menit berikutnya sudah masuk Bundaran Gempol. Kalau dari arah timur (Probolinggo; Bangil), anggaplah kita masuk dari angka “6”, maka untuk langsung naik ke tol tujuan Sidoarjo atau Surabaya, kita harus mengitari ¾ bundaran lebih dulu karena pintu aksesnya ada di angka “3”, sedangkan untuk ke Gempol cukup setengah lingkaran saja, yaitu di angka “12”. Bagi pelalu lintas yang baru pertama kali lewat di situ, papan petunjuk tersebut—menurut saya—agaknya kurang lengkap karena papan petunjuk di akses angka “12” hanya terpampang tulisan “Gempol” (dengan penunjuk kiri) “Porong” (dengan penunjuk jalur kanan), padahal papan penunjuk yang bertuliskan “Surabaya” ada di akses masuk angka “3”. Semoga enggak bingung. He, he, he.
Kami lanjut menuju Suramadu lewat jalan yang biasa, yang terdekat, yakni Pasar Turi, Tugu Pahlawan, Jalan Kenjeran. Kami masuk Suramadu dan terdengar shalawat mualik ketika isi premium 100.000 di SPBU Suramadu. 53.691.10. saya hitung, waktu shalat subuh masih sangat leluasa andai kami shalat di Blega. Maka, mobil pun dipacu ke arah timur, berkejaran dengan matahari terbit. Hingga akhirnya, 50 menit kemudian, 04.40, kami sudah parkir di halaman masjid Al Falah, sebelah barat lapangan Blega.

Tiba-tiba, mobil tidak bisa distarter. Waduh, kumat lagi ini. Saya tidak mau ambil pusing ngolong di bawah mesin karena saya sudah tinggal satu kalai trip lagi sudah sampai di rumah dan tidak perlu berhenti lagi di tengah jalan. Saya pikir, nanti saya dicek kalau sampai di rumah kemungkinan-kemungkinan penyebabnya: ban kipas dinamo amper yang kendor, soket dinamonya yang longgar; atau kul-nya yang aus. Adapun kemungkinan paling kecil lainnya adalah; kabel plus (+) ke dinamo starter yang kurang kenceng. Hanya ada empat kemungkinan itu dalam taksiran saya, tapi tak satu pun masalah yang saya periksa di lokasi mengingat hanya tinggal satu kali perjalanan: dari Blega mesin tidak perlu dimatikan lagi.

Memang, kami sempat berhenti di Camplong untuk beli nasi kobal (nasi bungkus yang terdiri dari nasi, srundeng kelapa, tahu, sekerat cakalan goreng, dan sambal cabai). Nasi kobal memang banyak ditemukan di area Sampang. Harganya ada di kisaran Rp 5000 – 10.000, bergantung banyaknya nasi. Langsung saya makan nasi itu saat itu pula karena perut agak lapar sementara Warid yang menjalankan mobil. Hamdalah, tidak kurang suatu apa, kami tiba dengan selamat di rumah pada saat anak-anak baru saja berangkat ke madrasah.
___________________________
Guluk-Guluk - Ketapang: 460 km
Gilimanuk - Seririt - Bedugul: 106 km
data ini berdasarkan Googlemaps karena odometer Colt sedang bermasalah
Biaya premium kira-kira: 700.000
Penyeberangan: 159.000 x 2 (300.000)

Perjalanan ke Bali (Etape III: Gerokgak - Bedugul)



Esoknya, kami keluar tidak jadi pagi-pagi, melainkan pukul 09.00. Rencana awalnya, tujuan saya hanya sampai di sini, lalu kembali, tapi istri ngajak main ke rumah temannya yang mengaku tinggal di Singaraja. Saya nanya, lokasi tepatnya ada di mana dan seberapa jauh ke tempat dia. Setelah terhubung sambungan telepon, diputuskan untuk main ke sana. Menurut si tuan rumah, perjalanan akan kami tempuh satu jam kurang-lebih menuju Seririt, tempat tinggal dia. Satu jam itu setara jarak 40 km di jalan padat atau 55 km di jalan lurus dan sepi. Pengalaman saya begitu.

Karena ke Seririt ini adalah agenda istri saya, maka saya pasrahkan maunya dia apa saja, mau ke mana saja silakan, asal jangan minta duit karena sangu saya sudah habis, sudah tinggal 300.000 (saya tenang saja karena nanti setelah pulang, saya akan ambil uang pembelian buku di Asembagus, Situbondo). Tapi untuk di Bali, mohon ampun, jangan cam-macam dulu. Tugas saya "mengantar" saja, beda dengan tujuan-tujuan yang sebelumnya yang memang inisiatif dan merupakan ajakan saja.

Kami tiba di Seririt menjelang duhur karena dari kediaman Om Faqih, kami masih singgah di rumah Rofiqi dan Kafi, kira-kira 2 km setelah SPBU Pemuteran. Mereka berdua adalah alumni PP Nurul Jadid, juga mengelola lembaga pendidikan bernama Nurul Jadid. Konon, lembaga itu didirikan oleh Kiai Mahfudz Amiruddin atas dukungan dari Kiai Zaini Mun’iem, pendiri PP Nurul Jadid Paiton. Rencananya, kami hanya mau salaman, tapi ternyata malah ngopi dan ngobrol panjang karena kebetulan ada Gus Endy, sepupu Om Faqih, dari Genteng, Banyuwangi.

Tuan rumah kami bernama Zaini dan Mawaddah. Pasangan suami istri ini sudah menikah 17 tahun tapi belum dikaruniai putra. Rupanya, di kawasan itu, banyak sekali warga Madura yang jualan ayam potong. Saya kira, warga Madura cuma numpuk di Denpasar dan Jembrana atau Bali selatan dan barat, ternyata di daerah Buleleng (Bali bagian utara) juga ada, tapi tak sebanyak di selatan.

Sehabis shalat duhur dan makan, Zaini lalu mengajak kami ke Bedugul.
“Aslinya, saya lebih suka duduk-duduk di sini sambil bercakap-cakap,” kata saya kepada mereka, “tapi karena ini adalah waktunya istri saya, maka saya manut saja.”
mereka tertawa lalu menjelaskan eksotika danau Bedugul. Tapi saya tetap tidak tertarik. Saya baru tertarik ketika mereka katakan bahwa rute ke sana sepenuhnya menanjak dan berliku-liku, melewati perkebunan cengkeh, kopi, dan durian. Wow, fantastis agaknya, pikir saya. Maka, tak ada alasan lagi untuk tidak setuju.

"Bawa mobil saya saja, Ra!" kata Zaini begitu saya masuk ke kabin Colt.
"Wah, saya kadung niat bawa Colt ke Bali, jadi biarlah."
"Wah, jangan, tidak perlu. Ini kita sudah bawa dua mobil," katanya. Saya lihat, memang ada dua mobil yang parkir: dua Innova beda generasi. Tapi, saya terlanjur masuk dan memundurkan Colt, jadi tidak ada yang dapat menghentikan saya, baik itu Pak Jokowi ataupun Pak Prabowo.
“Hanya kematian yang dapat menghentikan niat saya,” kata saya kepada mereka, “baik itu kematian orangnya ataupun kematian dinamo starter.”
Mereka tertawa lagi, meskipun ada rasa sedikit kecewa. Dan supaya mereka tidak terlalu kecewa dan saya juga tidak kecewa, saya ambil jangan tengah saja. “Sudah, biar Sampeyan bawa mobil Innova-nya bersama istri Sampeyan dan istri saya, saya naik Colt saja bersama Warid dan Muafi.” "Jalannya menanjak, lho, dan panjang."
"Sampeyan kayak ndak tahu Colt saja,” kata saya agak menantang. “Tanjakan itu bukan masalah bagi Colt sejauh cuma naik jalan beraspal, bukan naik tangga. Mobil saya sudah teruji melewati berbagai medan. Yang jadi masalah bagi Colt saya ini adalah kalau mau beli bensin tapi ternyata enggak ada duit-nya.”
Lagi-lagi mereka tertawa, terbahak bersama-sama.

Rute Seririt-Bedugul memang terjal, setidaknya di luar bayangan saya karena menurut Om Faqih hanyalah mirip dengan tanjakan dari Prenduan ke Guluk-Guluk. Jalan ke sana bisa ditempuh dari tiga pintu: dari Seririt, dari Singaraja, dari Denpasa. Betul ternyata, jalan menanjak langsung menghadang dari bawah, nyaris hanya ada beberapa ratus meter saja jalan datar, lainnya tanjakan dan tikungan. Saya mulai keder. Betul jalannya banyak mirip rute Prenduan ke utara, tapi masalahnya ini sangat panjang, lebih dari 30 kilometer agaknya.
Kira-kira 3/4 perjalanan, hati saya mulai cemas mengingat Colt saya ini tidak sedang sempurna tenaganya karena ada satu klep yang bocor sehingga busi tidak berfungsi pada posisi mesin lamsam/idle. Entah kalau pada putaran tinggi, anggaplah di status RPM 3000-3500. Yang pasti, tenaganya tidak seperti biasanya, sementara tanjakan tidak berhenti juga sejauh 30-an km yang lalu. Masih ada sepuluhan km lagi di depan. Ada 2 spot di mana gigi harus nanjak masuk 1, dan ada banyak sekali ruas jalan yang harus dilalui dengan persneling tertahan di posisi 2. Meskipun jarum suhu mesin sudah naik di posisi tengah bahkan terkadang naik ke atasnya lagi jika tanjakan terjalnya sangat panjang, saya tetap berani karena medan seperti ini sudah pernah saya lewati di rute menuju Taman Safari Prigen. Bedanya, kali ini treknya sangat panjang.


Namun, begitu tiba di puncak, seluruh ketegangan dan rasa khawatir terobati. Panorama surgawi terhampar di depan mata: danau, hutan, kabut, gerimis. Saya menikmati puncak kenikmatan secara sekaligus: kenikmatan sempat, sehat, serta kenikmatan lain yang tak terhitung oleh jari-jemari, semua ada di sini. Saya manut saja, mengekor dua Innova yang ada di depan saya.

Rupanya mereka membawa saya ke Taman Bunga, semacam Bukit Cinta kalau di Pamekasan, Madura. Ngapain di sini? Tidak makan, tidak ngopi, melainkan melakukan kegiatan paling tidak esensial, alih-alih eksistensial, bagi umat manusia, tapi dianggap paling tepat untuk menjalani "hidup eksis". Orang-orang pada selfie: sebuah tindakan 'egosentris' yang oleh Søren Kierkegaard, dulu, pernah dicaci-maki. Sayang beliaunya sudah tiada, tidak sempat tahu ada kamera nirlensa dan tidak tahu juga ada Bedugul. Sekarang, kenyataannya memang begini. Mau apa lagi? Saya pupuskan imajinasi ini dengan dua rumus melakoni hidup sosial: jalani dan nikmati.

Kami terus ke Kebun Raya, gelar tikar dan bersantai. Pulang dari sana, kami nyambangi Masrur yang rumahnya tepat berada di 15 meter sebelum pintu masuk/keluar. Dia lagi sakit asam lambung akut. Kasihan sekali. Ada Faridah, ibunya, yang mendampingi.
“Kapan tiba di sini?” kata saya
“Kemarin, soalnya anak saya sakit,” jawabnya lirih.

Masih begitu, dia sempat menyuguhi kami makan. Meskipun merantau ke Bali, gayanya dalam menyambut tamu masih tetap ala Madura. Sebetulnya, saya tidak tahu kalau Masrur ada di Bedugul. Yang saya tahu, dia kerja di Bali, begitu juga dengan Pak Ali, ayah Budiawan yang tinggal di Seririt. Saya kira, yang tinggal di sana hanya Pak Khotib karena dulu kakek saya pernah beli sedan miliknya dan ternyata, secara kebetulan juga, yang ngurus perpanjangan pajaknya dulu itu Pak Muafi, yang saat ini menemani saya di mobil ini.

"Habis ini kita langsung pulang?" tanya saya.
"Ke danau dulu," sela Pak Khotib.
"Tapi ini sudah pukul 6 lewat, sudah mau maghrib, apa tidak terlalu gelap?"
"Oh, tidak, masih bisa."

Tampaknya, kami adalah rombongan terakhir yang naik perahu cepat mengitari danau ini. Alam mulai gelap. Kabut menyelimuti gunung. Dingin udara bagai jarum-jarum akupunktur menusuk kulit. Pengemudi perahu cepat ini agaknya rada 'teler'. Gas ditarik dan tahu-tahu, di ujung timur danau, pak nakoda bermanuver, kemudi dibanting mendadak, untung kamera tidak terlepas. Manuver seperti ini ia lakukan beberapa kali. Yang terakhir, saat perahu sudah dekat dermaga, lajunya dihentikan mendadak dengan cara menurunkan gas secara serta-merta dan membanting kemudi sehingga bodi perahu melintang, terjadilah pengereman secara alami.

Kami turun dari perahu pas ikamah sedang dikumandangkan dari masjid Al-Hidayah, masjid yang berada di ketinggian, di seberang jalan, di selatan Danau Beratan. Bergegas saya ke sana untuk nunut jamaah maghrib. Rombongan Pak Zaini bersama istrinya dan istri saya pulang duluan.


Dari informasi Om Mamak, salah satu pengurus masjid ini bernama H. Sujono, alumni PP Annuqayah. Sayang saya tidak bertemu dengannya, lagi pula saya tidak kenal karena belum pernah bertatap muka. Sebagai kata pengantar, saya kira kunjungan kali ini sudah cukup. Kami pun pulang dan saya duduk di kursi belakang, Pak Khotib di tengah, sementara Pak Muafi menemani Warid di depan yang bertugas mengemudi dan dia sebagai penunjuk jalan.

Setiba di Seririt, saya rehat, duduk-duduk saja sambil ngetik cerita perjalanan ini di ponsel BlackBerry 9700. Sementara istri saya (bersama istrinya Pak Zaini) pergi ke suatu tempat yang entah apa namanya, saya tidak tahu. Tapi, dugaan saya, pastilah tempat itu tempat wisata atau tempat belanja, tak bakal salah lagi.

Perjalanan ke Bali (Etape II: Asembagus - Gerokgak)


Kami meninggalkan rumah paman pada pukul 14.00 lewat beberapa menit. Saya si bensin di SPBU 54.683.11. SPBU ini mungkin milik pondok (atau setidaknya milik keluarga pengasuh pondok pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo) jika ditilik dari 'aura'-nya. Menarik, ada ‘hiburan’ di siang hari: dua orang bertengkar dalam antrian, mereka rebutan. Untungnya, yang bertengkar hanyalah sopir CRV vs Granmax, bukan sopir Alphard yang tadi ikut antri mau isi premium tapi tak jadi (mungkin sopirnya keburu tersadar kalau mesin 2500cc [apalagi kalau versi 3500 cc] berbahan bakar bensin itu agak anomali kalau mimik premium. Enggak di SPBU, enggak di pertigaan jalan, orang bertengkar bisa saja selalu terjadi.

Tiba di Gelakan, kami takziyah ke paman Muhammad Naji, sepupu ayah saya. Terakhir saya mengunjungi tempat ini pada 8 syawal tahun ini, 12 Juni 2019. Waktu itu beliau memang sudah sakit. Tidak disangka, hari ini saya mengunjungi beliau dalam wujud yang lain, hanya bertemu arwah dan kuburnya.

Perjalanan berlanjut ke arah selatan, menuju Wongsorejo. Ini adalah trip pertama saya naik Colt ke Bali. Kami masuk area Pelabuhan Ketapang pada pukul 18.00, maghrib, sudah gelap, tapi cahaya lampu yang begitu banyak sangat gemerlap. Untungnya, ketika saya telepon, Kak Taqwim tidak sedang dinas di KMP Pratitha IV, dan ada di rumah. Rencana awal, saya memang tidak mau mampir, hanya kebetulan keinginan itu muncul sekonyong-konyong.

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa mampir ke rumah beliau dengan latar belakang masalah-nya adalah kesenjangan pemahaman dan silaturahmi yang menjadi salah satu pemicu kesenjangan dan kerenggangan sosial. Adapun rumusan masalahnya adalah silaturahmi dan problematikanya. Sedangkan tujuan penelitian adalah; seberapa besar tantangan makan gulai kepala kambing bagi penaikan trigeselda dan lemak jenuh di dalam tubuh. Kak Taqwim memaksa kami bermalam. Saya minta maaf karena sudah terlanjur janjian dengan Man Faqih untuk nginap di Pemuteran.
Akhirnya, kami nyeberang selat bali dan kaget alang kepalang karena ternyata tiketnya harus pakai emoney alias uang-tak-kasat-mata, harus diisi pula di depan pintu masuk karena saldo saya tinggal 155.000 sementara tarip penyeberangan adalah 159.000 (kurang 4400 rupiah). Sungguh, ini termasuk di luar persiapan mental saya karena setahu saya di penyeberangan Ujung – Kamal hanya sekitar 35.000-an saja, padahal lebar selatnya relatif sama. Meskipun penyeberangan Ketapang-Gilimanuk tidak menghitung jumlah penumpang, tapi selisih harganya berasa sekali menggetarkan dompet.

Rencananya, saya mau nanya begini sama petugas: 'Apa tidak ada potongan harga bagi pengguna mobil tua?', tapi pertanyaan tersebut gagal saya lontarkan setelah membayangkan si petugas akan menjawab; 'justru mestinya Anda harus bayar lebih untuk jaminan beli jamu bagi ABK, manatahu mobil Anda tidak bisa distarter di atas kapal dan kami harus mendorongnya!'. 

Kami tiba di kediaman Ahmadul Faqih, di dusun Sumberwangi, desa Pemuteran, kecamatan Gerokgak (baca: gero’ga’) sekitar pukul 22.00 WITA. Awalnya, kami merencanakan tiba isya, tapi begini kenyataannya. Tertahan di rumah Kak Taqwim di Ketapang dan tertahan saat hendak sandar di Gilimanuk adalah penyebabnya. Kami ngobrol dulu, masih disuguhi makan juga padahal saya sampaikan bahwa kami masih kenyang namun tuan rumah tak mau tahu. Hidangan makan keluar juga.

Nyaris tak percaya, tapi ternyata Colt T 120 ini sampai juga di tempat ini.

Perjalanan ke Bali (Etape I: Guluk-Guluk - Asembagus)


Saya akhirnya berangkat pukul 22.00 kurang sedikit. Banyak perubahan rencana mendadak di perjalanan kali ini. Di antaranya adalah penumpang dan ‘pe
ngikut’. Takdir menentukan kami berangkat bertiga saja. Yang positif ikut malah menggagalkan, yang mau diajak mendadak tidak bisa. Yang ingin ikut malah terlupa.


"Tangki bensin masih di bawah strip tengah, masih aman bahkan hingga Bangkalan," tebak saya kepada Warid yang menemani saya malam itu, Ahad, 22 Desember 2019. Namun, karena demi jaga aman, kami ada rencana isi BBM di Blega. Belum sampai kami ke lokasi, malah disuguhi pemandangan mengerikan, pemandangan yang sejatinya disebut-sebut di dalam doa perjalanan agar kita semua terhindar: Ada tabrakan berantai rupanya. Satu pikap Grandmax sudah ada di atas truk derek; sebuah mikrobus ELF tampak posisi serong kiri, menghadap sawah. Yang lain saya tidak lihat secara pasti, tapi korban agaknya masih ada lagi.

Jadi, begini: Dari tadi, tepatnya dari Pamekasan, seusai menaikkan dua kardus titipan ke Situbondo di Larangan Tokol, saya tidur, tak tahan melawan kantuk karena sorenya saya mencuci pakaian banyak sekali. Saya terbangun di sebuah jalan lurus, lepas Lomaer, oleh bunyi klakson panjang dari mobil sendiri. "Ada apa?" tanya saya pada si pengemudi yang saya tahu sangat hemat dalam membunyikan tuter.
"Barusan ada Avanza parkir, lalu naik ke aspal dan putar balik seenaknya. Jarak kami sangat dekat."
"Oh, saya kira apa." "Yang bikin saya mangkel karena saya langsung ingat kejadian yang menimpa (Warid menyebut nama seseorang, tetangganya). Dia menabrak sepeda motor yang mecungul mendadak dari tepi, langsung motong jalan. Si tertabrak malah tidak apa-apa, hanya sepeda motornya yang rusak."
"Tetangga kamu yang nabrak itu, bagaimana?"
"Dia wafat, pendarahan dari hidung, luka dalam. Malam ini adalah hari tahlilan yang keempat."

Sedih setiap kali kita mendengar berita seperti ini, tapi kenapa ia selalu terjadi. Ada kebiasaan orang berdalih: “sudah takdirnya begitu”. Saya kira, masih banyak orang yang tidak tahu bedanya “takdir sesudah berusaha atau ikhtiar” dan “apa pun yang terjadi tanpa berusaha”. Jadi, orang semacam ini Sunni tapi cara pandangnya ‘jabari’: pasrah pada suratan tapi tanpa usaha apa pun, seperti tanpa usaha menjaga keselamatan diri sendiri dan orang lain di jalan. Tanpa usaha, maka takdir itu adalah takdir KW.

Nah, baru saja kami mengalami kejutan barusan, tak jauh dari situ, kecelakaan beruntun terjadi. Makanya, kita mesti memahami psikologi sopir. Betapa mahalnya konsentrsi dan daya tahan tubuh. Mengemudi bukanlah urusan kaleng-kaleng, bukan pekerjaan main-main. Sekali bikin kesalahan, taruhannya nyawa: jika bukan nyawaaanyaa sendiri, ya, nyawa orang lain; kalau tidak bikin celaka, ya, sekurang-kurangnnya ujicoba kecelakaan.

Di SPBU Penyepen, selepas Gunung Gigir, kami ngisi bensin, 190.000, nyaris meluap. Begitu mau distarter, eh, malah mogok.
"Ayo dorong," kata saya yang langsung ambil inisiatif pegang kemudi. Sekali ayun, karena jalan keluar SPBU memang agak menurun, mobil langsung nyala. Alhamdulilah, mobil Colt ini tak jadi bikin malu di tempat umum.

Sambil jalan, saya bercerita kepada si Warid (yang kini duduk di sisi kiri) bahwa pada hari Kamis yang lalu, Colt ini mengalami kasus pada dinamo starter. Makanya, sepagi tadi, sebelum berangkat, saya minta bantuan orang untuk ngantar mobil ke bengkel. Salah satunya agar ban kipas dinamo ampere dikencangkan dan kabel dinamo starter dikontrol. Laporan yang saya terima; semunya baik-baik saja. Kok bisa starter tidak kuat? Saya menduga, montir tidak memeriksa ujung kabel plus (+), tidak benar-benar dikontrol, mungkin hanya dilihat sekilas. Saya yakin, masalah ada di situ.

Saya terus nyetir Colt, masuk Surabaya, lewat tol dan turun di Gempol. Situasi jalan yang sepi bikin kami pilih jalan arteri. Dengan kecepatan 70-80, ternyata cukup satu jam saja dari Gempol ke Probolinggo. Maklum, jalan sepi dan kecepatan stabil. Biasanya, di siang hari, jarak 90-an km itu harus ditempuh 2 jam. Pernah saya naik Patas dari Probolinggo. Jarak tempuh dari Terminal Bayuangga ke Terminal Purabaya di Surabaya persis satu jam jika semuanya ditempuh lewat jalan tol.

Pukul 03.30, saya pindah posisi ke tengah, beberapa puluh meter menjelang tikungan Pantai Bentar, di Dringu, timurnya kota Probolinggo. Saya tidur-tidur ayam dan bangun saat kami masuk Jabung. Subuh kami pilih Masjid Raudatut Tohirin (koreksi jika salah), di Sukodadi, Paiton, persis ketika jamaah masjid baru turun shalat. Rencana semula, subuhannya di masjid Tanjung, timur jalan akses ke PP Nurul Jadid. Namun, karena ia sedang dikerubungi banyak penggemar (ada sekitar 4 bis yang parkir), maka kami lanjut saja.

Setelah menikmati ketan urap di warung dekat masjid (ketan urap berbumbu kedelai ini penganan kesukaan saya yang wajib dibeli ketika saya pergi ke Asembagus, Paiton, atau Cukir dan yang sedaerah dengan Jombang), semua naik ke mobil dan alamaaak! Dinamo starter kumat lagi. Saya makin curiga ke dinamo starter yang bermasalah karena nyala lampu tetap terang, artinya tak ada masalah pada sistem kinerja suplai dinamo ampere ke aki. ‘Pasti hanya masalah sepele,’ kata saya dalam hati, ‘entah kabel tidak kencang atau lainnya’.

Alhamdulillah, pagi kami diawali dengan olah jasmani: Warid yang mendorong, saya di belakang kemudi. Belum nyala, tidak mengapa, coba lagi. Ujian Nasional memang dihapus oleh pak menteri, tapi ujian di perjalanan tetap ada sebab ia merupakan dari perjalanan itu sendiri. Tapi, ujian sejati di pagi itu bukanlah karena kami mogok, bukan pula ketika saya menyadari bahwa salah satu klep tidak berfungsi di putaran rendah dan itu saya temukan hanya beberapa jam sebelum berangkat. Ujian perjalanan itu adalah ketika kami tak mampu mendorong mobil dan ada seseorang yang hanya diam saja, hanya menyaksikan kejadian ini seperti orang yang sedang nonton televisi, bukan di dunia nyata, berlangsung di hadapannya. Itulah ujian kemanusiaan yang sebenar-benarnya.

Saya pikir, kok bisa ada orang begitu cuek seperti ini? Semoga saya tak salah menilai, dia adalah orang yang ditugaskan untuk menguji mental dan rasa curiga. Sebaiknya saya berbaik sangka saja. Untunglah, datang seorang lelaki lelaki tegap yang bantu mendorong dan hiduplah Colt kami untuk Indonesia Raya!

Saat asyik-asyiknya menikmati pemandangan pagi hari mendekati PLTU Paiton, tiba-tiba ada sedan berwarna kuning dodol jagung menyalip. Kaca kiri dibuka dan dia dada-dada. Oh, ternyata Sabiq. Hampir 300-an km meninggalkan rumah, ternyata masih ada orang yang mengenali mobil ini: mengesankan!

Pukul 07.10, kami tiba di kota Asembagus. Di hadapan ada mobil pikap yang lajunya kayak orang menari poco-poco. Sepertinya, sopir ini sedang mabuk darat atau mabuk kantuk. Begitu ia kami salip karena menyalakan sein kiri, waduh, tampak sekilas, kelopak mata si sopir nyaris tak kuat menyangga, ngantuk sekali rupanya. Pesan saya: Lawanlah kezaliman dengan cara apa pun yang kamu bisa, tapi kalau mengantuk, janganlah, menyerahlah sajalah, istirahat dan tidurlah.

Kami bertemu paman dan saudara-saudara di Widuri, utara PG Asembagoes, akses jalan ke Banongan, lokasi tempat latihan tempur TNI. Di sana kami istirahat dan menunaikan tujuan yang utama: silaturahmi.


Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...