Pembaca

Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

09 Juli 2026

Tiga T: Tilik, Takziyah, Tes

“Takziyah ke mertuanya-pamannya-Ifa….,” jawab Ibu begitu saya bertanya kepada siapakah saya akan pergi takziyah.



Secara rangkaian hubungan kekeluargaan, tujuan rumah duka ini sudah jauh. Bayangkan saja! Ifa ini ipar saya dan dia punya paman. Nah, si paman punya mertua. Saya akan takziyah ke orang di urutan terakhir ini. Sudah jauh, bukan? Dalam kultur keluarga kami, hal semacam ini bisa saja terjadi karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah adanya perawatan hubungan sosial yang meskipun itu sudah ‘sangat jauh’ namun seringkali terhubung. Kebetulan juga, secara letak, rumah duka ini bertempat di Sumur Duko yang secara jarak juga jauh dari rumah saya, sekitar 55 kilometer.

Hari kawafatan Kiai Hasan Damiri sudah lama. Takziyah ini sudah telat karena baru hari ini ada kesempatan pergi ke sana. Alasannya adalah; pertama, hari ini kebetulan saya lowong, dan kedua; ada urusan sambang silaturahmi ke rumah keluarga lainnya yang letaknya tak jauh dari rumah duka, ketiga; ngetes pemasangan delco yang sudah lama saya copot dan baru saja diservis ulang oleh Mas Benta, delco modifikasi CDI Eterna.

Omong-omong, saya suka utak-atik kendaraan Colt T120. CDI Eterna ini sebelumnya pernah saya pakai di tahun 2020-2021. Karena kurang greget di tanjakan, akhirnya saya lepas dan saya ganti dengan TCI. Lalu, lama-kelamaan saya bosan dan saya ubah menggunakan platina kembali. Terakhir, saya menggunakan pengapian elektrik dari XP Power dari Pak Bambang. Sementara sudah bisa disebut enak. Namanya iseng, menggunakan CDI adalah coba-coba kembali setelah diperbaiki beberapa kompartemennya oleh Mas Benta yang katanya akan lebih asoy lagi.

Oleh sebab itu, demi pengujian, saya tidak melewati jalan yang sepenuhnya lurus dan normal, misalnya lewat jalan Nasional. Saya memilih jalan kelas kolektor dan residental yang bervariasi: ada jalan lurus, banyak tanjakan, dan juga penuh tikungan. Saya akan menguji, seberapa kuat tenaga CDI ini. Untuk rute berangkat, saya menempuh jalur; rumah, Bandungan, Pagantenan, Blumbungan, Angsana, Bugih (Pintu Gerbang - Dirgahayu), Proppo, Omben, Sumur Duko. Total jarak 60 km. Pulang dari Sumur Duko saya ke utara, melewati pertigaan Angsana Tlambah, terus ke Pagantenan, lewat Konyileh, tembus Pagantenan, lalu ke Bandungan menuju rumah. Jaraknya lebih pendek, yaitu 52 km.



Sebelum pergi takziyah, saya tilik bayi dulu. Bayi ini adalah keponakan istri saya di satu sisi, namun adik di jalur yang lain. Ayah si bayi adalah sepupu istri saya sedangkan ibunya adalah “bibi 4 x sepupu” bagi saya karena dia adalah “4 x sepupu” ibu saya. Dari satu Embah Wareng, sang ibu merupakan keturunan keempat sebagaimana begitu juga dengan ibu saya. Begini urutannya:  
Bayi(5) – Nuril Izzah(4) – Fathurrahman(3) – Ali Wafa(2) – Abdul Majid(1) – RUHAM
Saya(5) – Wardah(4) – Arifah(3) – Shofiyah(2) – Munawwar(1) – RUHAM.
Hubungan kekerabatan seperti ini masih sangat hidup dalam tradisi sosial di Madura. Salah satu penyebabnya mungkin karena adanya banyak pertemuan bani-bani yang terkadang membuat satu keturunan bani tersambung antara embah wareng (atau bahkan di atasnya lagi) yang satu keturunan bani yang lain.
 
Walhasil, perjalanan berangkat dari rumah pukul 07.00 bisa tiba kembali setelah azan Duhur. Kesimpulannya saya telah merasakan nyamannya CDI Eterna. Mungkin masih perlu setel sedikit lagi agar ketemu ‘nikmat’-nya. Maklum, karena saya bukan bengkel dan hanya modal pengalaman otomotif yang cetek, yang dapat saya rasakan adalah nyaman saja, belum sampai ke level nikmat yang itu butuh ‘roso’. Sampai nanti saya bosan, bisa jadi ia akan kembali ke setingan asal, yaitu platina. Gonta-ganti pengapian seperti ini bukan hal baru bagi saya, bahkan sejak awal punya Colt di tahun 2008, saya sudah pernah pakai CDI Flash dari Bapak Tamrin Ishak.

24 Maret 2026

Diari Hari Ini: Walimah, Anjangsana, Takziyah

Hari ini saya pergi ke Bilapora untuk menghadiri pernikahan Haikal Firdaus dengan Ninda Ayu. Lokasinya terletak di dusun Daja Songai, di sebelah selatan Madrasah Al Islah. Saya pergi bersama ibu dan saudara perempuan ke situ. Adapun istri tidak ikut karena dia punya agenda sendiri. Saya mengantarnya ke PP Sabilul Huda, Gadu Barat, Ganding. Dia pergi ke pondok pesantren almamaternya itu untuk menghadiri acara reuni bersama teman kelasnya.

Acara walimah yang simpel kelar pukul 08.30. Kami yang dari tempat itu sedianya mau meneruskan perjalanan ke PP Nurul Islam, Karangcempaka, Bluto, untuk menghadiri acara anjangsana Bani Syarqawi pun batal. Alasannya, acara anjangsana terjadwal pukul 10. Maka, kami pulang dulu. Lagi pula,  saya masih harus angkat jemuran kering dan menggantikannya dengan jemuran basah yang dicuci tadi pagi. 

‘Masih ada selah waktu sekitar 50 menit,’ kata saya dalam hati. 

Pukul 09.40, kami berangkat lagi ke Karang Cempaka dengan lebih dulu mampir sowan ke rumah bibi dan paman di Bustanul Jadid, Rombiyah Barat. Hanya sebentar di sana, bersalam-salaman, duduk sebentar, kami meneruskan perjalanan ke Karang Cempka. 

Acara anjangsana di hari keempat bulan syawal adalah makan bakso dan cendol. Tanggal dan menu seperti ini tidak pernah berubah selama bertahun-tahun lamanya (acara di rumah saya adalah hari ketiga syawal; menunya tahu petis dan tahu walik). Acara selesai kurang lebih 90 menit karena masih ditambah sesi foto bersama demi pendataan jumlah famili yang baru. Sehabis itu, rencana pergi langsung ke Gapura untuk takziyah ke rumah duka Syaifullah Saghara yang baru saja kehilangan ibunya (tepat 13 bulan setelah kehilangan bapaknya) kembali digagalkan. Pasalnya, ibu dan adik yang pada awalnya mau bergabung dengan mobil rombongan yang lain ternyata sudah ketinggalan.

Setelah mengantar mereka pulang ke rumah, saya menunaikan shalat duhur lebih dulu. Untungnya, saya bisa mengajak istri pergi ke Gapura karena dia sudah tiba dari acara di Gadu, diantar kawannya (padahal rencana semula saya pergi sendiri karena istri tidak bisa ikut). Perjalanan ke Gapura ternyata sangat lancar, hanya satu jam lewat 14 menit. Kurang lebihnya begitu. Sebelum berangkat, saya menghubungi Naufil Istikhari yang membuat janji kencan dengan Farisi untuk serah-terima buku terbaru saya. Saya sampaikan kepadanya soal perkiraan durasi perjalanan, yakni 100 menit karena biasanya jalanan sangat ramai di siang hari. Entah mengapa siang itu jalan sangat sepi sehingga durasi waktu terpangkas banyak meskipun saya melaju pada kisaran kecepatan 50 km/jam saja. 

Setelah takziyah selesai dan kembali pulang dan sampai di rumah pukul 15.40, saya merasa tubuh sangat capek. Setelah dihitung, ternyata jarak tempuh etape pertama (rumah, Gadu, Bilapora, rumah) adalah 22,6. Adapun jarak etape kedua (rumah – Karangcempaka – rumah) adalah 29,8. Sementara etape terakhir adalah etape yang terjauh, 37,3 sekali jalan sehingga pergi-pulang menjadi 74,6. Kalau diukur dengan jarak lurus sekali jalan maka ia setara dengan jarak dari rumah saya ke Pamekasan, Sampang, Tangkel, dan berakhir simpang empat Billah, Morkepek, perempatan sebelum Jembatan Suramadu, yakni 126 kilometer.

Saya akhirnya tersadar, pantesan rada capek. Jaraknya lebih dari cepek.
  




10 Maret 2026

Menghindari Bato Guluk

Waktu pertama kali saya pergi ke Bato Guluk, saya papasan sama harimau. Saya membatin, ‘Ini harimau kok kakinya cuman tiga?’ Setelah saya amati, ternyata harimau itu sedang menyeka air mata dengan tangan/kaki depannya! Jangankan manusia, harimau pun nangis kalau harus lewat situ!

(Pak Muksir) 

 
HARI INI, 10 Maret 2025, saya pergi ke Gadu Timur. Tujuan lanjutannya adalah ke Bun Barat, Rubaru. Berdasarkan jarak, dari Darun Najah di Gadu Timur ke Pasar Sattowan (via Bato Guluk) hanya 8,6 kilometer saja. Akan tetapi, jika Anda meminta bantuan Google Maps, arah Anda akan dibelokkan ke barat terlebih dulu, ke daerah Pregi, terus ke Campaka, dan baru ke Pasar Sattowan yang total jaraknya jadi 14 kilometer. Hampir ada 6 kilometer jarak terbuang gara-gara pencitraan satelit yang tidak mampu ditangkap oleh Google Maps, padahal nyata-nyata jalan ke Pasar Sattowan via Bato Guluk itu benar-benar ada. Sudah beberapa kali saya melewatinya.

Tujuan perjalanan saya kali ini sebetulnya cuman sampai di Darun Najah, mengantar anak putri saya ke rumah Mas Jamal dan Mbak Eppang. Dia ingin bertemu temannya, Amah, putri mereka berdua. Pesan saya kepada Anak sebelum berangkat; ‘Dari Gadu, kamu ikut Amah saja ke Bun Barat. Biar keluarga mereka yang mengantar kalian. Kalau mereka harus menjemput kemari, kasihan mereka karena itu sama dengan buang-buang jarak, sangat jauh’. Ternyata, skema berubah setelah saya tiba di lokasi. Saya berubah pikiran. Saya putuskan biar saya saja yang mengatar mereka supaya tuan rumah tidak repot harus mengeluarkan mobilnya. 

“Biar saya langsung ke utara saja, lewat Bato Guluk,” kata saya pada Mas Jamal.
“Aduh, jangan! Jalannya sangat rusak.”
“Masa? Bukannya sudah diperbaiki?”
“Rusaknya sangat parah. Lewat ke barat dari sini saja, tembus di Pregi.”
“Oh, ada jalan pintas ke sana?”
“Ada.”

Baru kali ini saya cek Google Maps. Ternyata, di peta digital itu, jalan ke Bato Guluk “dianggap” terputus alias tidak ada jalan dari dusun Polay (PP Darun Najah). Ujung jalan berakhir di sebuah titik kordinat sebelum rumah Robith (As-Salam). Kok bisa? Ini disebabkan, bisa jadi, karena citra satelit tidak utuh ketika merekam yang mungkin disebabkan banyaknya rerimbunan pohon. Soalnya, jalan itu benar-benar ada dan tidak terputus. Hanya saja jalannya memang rusak parah.

Maka, kali ini adalah pengalaman pertama saya melewati Pregi tapi dari arah Gadu Barat. Ternyata, dari Gadu Barat bisa tembus ke Pregi, melewati jalan yang sangat sepi. Tidak ada rumah kecuali saling berjauhan letaknya. Ujung jalan nongol di mulut jalan di sebelah selatannya Lembana atau di utaranya Bhuju’ Pregi.

Kami pun bergerak menuju Bun Barat, Rubaru, ke Pondok Pesantren Darussalam melewati jalur biasanya: Campaka, Pasar Sattowan, Rubaru, Bun Barat. Selesai mengantar, saya langsung pulang, menempuh jalan yang biasa, namun tidak lewat Gadu Barat lagi. Saya mengarahkan mobil langsung ke Ganding, terus ke Guluk-Guluk. 

Sebetulnya, pulang dari Bun Barat, rencananya saya tetap memaksakan agar bisa lewat Bato Guluk via Basoka, ke selatan dari arah utara. Akan tetapi, atas saran dari Robith, saya gagalkan rencana ini karena katanya, “Jalan dari Basoka ke Batu Guluk itu sangat hancur, tidak terurus, seperti kekasih yang ditinggal pada saat lagi sayang-sayangnya...”

Perjalanan hari ini mengingatkan saya kejadian malam Sabtu yang lalu (6 Maret), saat saya nyambang orang tua walisantri yang terkena sambaran petir namun hamdalah tidak meninggal dunia. Saya menempuh rute yang mirip dengan hari ini. Ibarat kata, jika dianalogikan dengan jam, posisi saya yang berada di angka angka 6 harus melewati urutan angka-angka dalam jam itu untuk sampai ke tujuan yang berada di angkat 2.30, padahal mestinya saya bisa langusung berputar mundur ke arah kanan, ke angka 5, 4, 3, dan tiba di angka 2.30. karena Bato Guluk hancur, maka saya harus lewat jalan memutar. 

Saya rasa, meskipun bukan satu-satunya, Basoka dan Bato Guluk ini termasuk daerah yang paling jarang tersentuh pembangungan di daerah Sumenep Daratan. Kalau kondisi Sumenep Kepulauan, ah, jangan ditanya. Pasti lebih lebih horor daripada yang saya gambarkan di sini.

31 Januari 2026

Takziyah Hari Ini: Karang Penang, Sampang


Perjalanan hari ini adalah 100 kilometer lebih pergi-pulang. Temanya adalah takziyah. Ya, saya pergi takziyah ke Karang Penang, tepatnya ke PP Kebun Sari (As-Syafiieyah) di dusun Gunong Kesan (yang secara enteng-entengan disebut Nongkesan oleh warga lokal).. Saya takziyah untuk kewafatan Nyai Karimah binti Basyirah, orangtua dari ipar sepupu dua kali saya, Kiai Abdul Jalil. 

Saya pergi lewat Pagantenan, Palengaan, terus ke Karang Penang hingga tiba di lokasi. Saya berangkat sekitar pukul 9.30 dan sampai di tempat pukul 13.00. Menjadi lama begitu untuk waktu normal biasanya dua jam saja adalah karena ada dua kali mampir dalam perjalanan berangkat. 

Rute di saat berangkat dan di saat pulang sedikit berbeda. Saat berangkat, saya mampir dulu di rumah bapak Kepala Desa Palalang, yaitu Syaifurrahman. Ada sedikit keperluan saya dengannya. Dari Palalang, saya bawa Colt terus ke Pasar Pakong, tembus di pertigaan Polsek, lalu ngisi pertalite di SPBU 54.693.06, lewat Lebbek dan Tebbul lalu tembus di Pagantenan, turun lewat desa Palesanggar yang rimbun, punya banyak ngarai, dengan jalan miring dan banyak retakan.

Saya memilih muncul di pertigaan Konyileh alih-alih di Polsek Pagentenan karena ada kepentingan mampir dulu di PP Sekar Anyar yang letaknya berada selatan Pasar Palengaan. Dengan lewat Konyileh, berarti saya akan melintas di depan PP Kebun Baru. 

Dari Palengaan, rute ke lokasi tinggal 20-an kilometer lagi. Saya masih melakukan shalat Duhur dulu di PP Sekar Anyar karena waktu Duhur sudah dekat. Setelah shalat, barulah kami berangkat.

Saya tidak menggunaan GPS untuk tiba di PP Kebun Sari. Seperti  kebiasaan saya, sebelum berangkat, saya mengecek rute di Google Maps melalui komputer (PC). Setelah itu, saya akan mencari titik kordinat perempatan dan pertigaan hingga tujuan akhir. Contoh: Saat belok kiri di perempatan Pasar Karang Penang, saya tidak titen pada titik arah masuk ke pondok tersebut karena tempatnya yang sedikit tersembunyi. Untuk memastikannya, saya cek di odometer (setelah tadi malam ngecek di Maps) bahwa percabangan jalan masuk itu ada di titik 2,2 km dari pasar. Maka, ketika sampai di Pasar Karang Penang, saya cek odometer. Setelah angkanya mencapai 2 kilometer, barulah laju kendaraan saya perlambat. Ternyata, pas, tanpa harus bertanya kepada orang, saya bisa pastikan arah jalan masuk ke pondok. 

Jalan masuk ke PP Kebun Sari amat terjadal. Mobil berpenggerak depan tidak dianjurkan lewat di sana, apalagi sedan. Meskipun bisa masuk, tapi yakin pasti harus pakai keringat dingin dulu sebelum sampai. Mungkin kita bisa melintasi trek tapi harus pakai drama “ban muyer” (ban berputar tapi tidak bisa membawa bodi kendaraan) atau bumper gasruk (nyangkut di tanah). Arah jalan masuknya pun pun lumayan, sejauh 1,5 meter. Jarak ini akan terasa sangat jauh apalagi jika ada mobil selip (seperti tamu yang datang setelah saya) di depan kendaraan kita atau berpapasan dengan kendaraan lain yang membuat kita harus mundur jauh karena jalannya pas untuk satu mobil.

Setelah takziyah, saya pulang di rute yang sama. Kami mampir dulu membeli durian di daerah yang bernama Karang Durin (Durin dibaca “dhurin”, yang artinya memang durian). Setelah memebeli buah yang aromanya memenuhi kabin, mengalahkan aroma bensin hijau yang menjadi ciri khas Colt, kami langsung jos pulang tanpa mampir lagi di Sekar Anyar dan Palalang. Dari Pagantenan, kami lurus ke timur, lewat Bandungan Pakong dan tiba di rumah jam 16.00, turun dari mobil langsung shalat berjamaah dengan sisa wudu yang masih saya bawa dari Sekar Anyar. 

Perjalanan kali ini menyadarkan saya tentang nama-nama pondok di sekitar Palengaan dan Karang Penang yang banyak sekali menggunakan nama unik, tepatnya namanya bunga dan kebun. Mari kita sebut: PP Kebun Bunga, PP Kebun Sari, PP Sekar Anyar, PP Kebun Baru, PP Taman Sari, PP Sekar Anom. Sepertinya, perlu ada penelitan tingkat lanjut tentang model penamaan seperti ini.




DATA JARAK
pergi berdasarkan Google Maps = 53,6
pulang versi Google Maps = 49,5
pulang versi odometer = 50,8

05 Desember 2025

Rencana-Rencana di Luar Rencana


“Oreng bharas banni pas odi’, oreng sake’ banni pas mate”

Ucapan di atas dikutip oleh Kak Fadlil di hadapan Kiai Zuhri Zaini. Menurutnya, ucapan itu adalah perkataan Kiai Zuhri Zaini entah beberap tahun silam. Arti kata-kata kurang lebih;  “orang yang sehat sediakala tidak berarti akan hidup normal dan demikian pula orang yang sakit belum tentu akan [segera] meninggal dunia”. Kiai Zuhri tersenyum pelan sebagaimana biasa.

Pagi itu, pagi menjelang siang, sekitar pukul 10.30, kami ketibaan rezeki bisa sowan kepada pengasuh PP Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Kalau saya, sih, kira-kira dua bulan yang lalu sempat sowan, namun bagi Kak Fadlillah ini momen berharga. Pasalnya, menurut pengakuannya, ia sudah berniat sowan sejak beberapa tahun yang lalu tetapi selalu saja terjadi kendala. Kiai Zuhri bercerita bahwa ia adalah putra tengah dari Kiai Zaini Mun’im, menambahkan kisah bahwa kakak-kakak lelakinya serta adik-adiknya yang sudah berpulang duluan, menanggapi ‘curhat’ Kak Fadlillah tentang kewafatan istrinya yang tiba-tiba di tahun 2022 lalu saat dialah yang sebetulnya sedang sakit.

Petikan di atas adalah tentang rencana yang terkadang sudah kita persiapkan dengan matang lalu tidak terlaksana dan kita kecewa. Pada saat itu biasanya kita lupa bahwa pengetuk palu takdir adalah Allah, melupakan kata-kata manis “manusia hanya berencana, Tuhan yang menentukan” yang sering kita ucapkan pada saat kita melipur orang lain namun terlupa saat kekecewaan menghinggapi kita sendiri. Dan seperti ini pula yang sedang kami alami.

Pagi itu, rencana saya mengantar sowan Kak Fadlillah ke Kiai Zuhri gagal karena ternyata Kiai bepergian.

“Biasanya, kalau bawa mobil putih, beliau pergi agak jauh,” kata khadam. Kak Fadlillah agak kecewa mengingat rencana sowannya kepada Kiai sudah lama sekali, sudah 2 atau 3 tahun yang lalu tapi gagal melulu. Namun, entah bagaimana akhirnya muncul kabar susulan, bahwa Kiai hanya pergi ke Besuki dan diperkirakan pukul 10.00 sudah tiba kembali. Benar, semua terjadi sesuai perkiraan. Kami sowan kepada Kiai Zuhri dengan khidmat.
“Direncanakan berkali-kali malah gagal melulu, giliran kemarin sore diajak Sampeyan dan langsung berangkat malah bisa sowan dengan khidmat,” kata Kak Fadlillah kepada saya.
“Sebaliknya dengan saya,” balas saya kepadanya. “Acara di UNUJA ini saya atur tanggal 4 Desember supaya nanti malam bisa ke acara haul Kiai Sufyan di Situbondo, namun sepertinya saya gagal karena anak saya masih sakit.”


***


Tiba di wisma tamu, saya lihat ban depan kiri depan kurang angin. Cak Memet, yang saat ini bekerja di Badan Usaha Milik Pesantren (BUMPES) Nurul Jadid mengantarkan saya ke biro umum, semacam bengkel pesantren. Saya kembalikan mobil ke parkiran lalu hadir ke acara BEM Universitas Nurul Jadid yang dilangsungkan di Aula 1. Acara bedah buku “Satu Bumi Dirusak Bersama” kali ini adalah yang pertama sejak buku ini terbit per awal Desember 2025. Panitia menghadirkan Dr Abu Khaer (sebagai pembanding) dan Ahmad Sahidah yang hadir sebagai undangan, mungkin sebagai penasehat atau entah apa namanya. Keduanya adalah dosen di UNUJA.

Acara usai dan hujan ternyata mengguyur deras. Saya pulang ke wisma tahu menggunakan payung dan mendapati keanehan beriktunya: ban kanan belakang yang sekarang gembos, padahal yang tadi ditambah anginnya adalah yang kiri depan. Drama berikutnya adalah demam anak saya bertambah hingga saya harus menggendongnya ke Klinik Azzainiyah, dipandu oleh Mas Itqon (dia juga yang mengupayakan penggantian ban serep, dikerjakan oleh sekelompok santri yang rela berhujan-hujanan, sungguh tampak heroik sekali mereka melakukannya. Saya berhutang budi dan terharu). Sementara itu, Mas Arif dan Mbak Maria Faradela serta beberapa teman BEM-nya tetap menunggu di wisma tamu sampai saya berpamitan menjelang azan Isya.

Seperti ditulis di atas, rencana-rencana banyak menyimpang dalam kesempatan kali ini. Sore itu, putri saya, Fatimah, yang sedianya mau ikut acara buku harus rela tidak hadir karena menjaga adiknya, Ahid. Rencana kami untuk hadir bersama ke acara haul Kiai Ahmad Sufyan di Panji Kidul pun gagal semua karena anak yang sakit tidak mungkin ditinggalkan dan tidak mungkin pula dibawa ke Situbondo. Yang paling mungkin adalah dibawa pulang segera ke Madura.

Setelah berjibaku melawan gerimis saat memasukkan barang-barang ke dalam mobil, akhirnya kami pulang. Pikiran masih dirundung kalut. Sisa BBM yang terakhir saya isi di SPBU Kaduara Barat ketika berangkat di malam Kamis sejumlah 25 liter itu sudah berada di strip bawah. Pandangan mata agak terganggu karena kurang tidur dan sinar lampu kendaraan yang putih tertelan oleh gelapnya aspal yang basah. Sembari mengingat bahwa pada saat itu sedang berlangsung haul Kiai Ahmad Sufyan Miftahul Arifin di Panji Kidul, saya berkirim Al Fatihah di balik kemudi.

Masuk SPBU Asembakor, pertalite kosong. Saya keluar dari SPBU dan masuk ke bengkel tambal ban yang berada di samping baratnya. Prosesnya lama karena saya antri di belakang truk dan mobil HRV sementara pekerjanya hanya seorang diri. Ia bilang kalau teman kerjanya izin karena demam. Salut, sang pekerja tunggal itu bekerja sangat cepat.

Saat mau menyalakan mesin, tiba-tiba dinamo starter tidak merespon. Ini jelas faktor kabel relay yang mungkin korsleting terkena percikan air ketika tadi melibas genangan yang agak banyak. Tidak perlu ‘ngolong’, yang tercepat di saat darurat adalah “dorooong!”. Dibantu tukang dan entah siapa lagi, mobil menyala setelah didorong. Anehnya, ketika saya mau pergantian sopir dengan Amak (dia naik dari Semampir, Kraksaan) di dekat pintu tol Gending, eh, starter berfungsi lagi. Kata saya di dalam hati: ‘Emang Colt ini kayaknya ngerjain saya, sengaja bikin malu dengan tidak menyala di tempat umum dan normal saja ketika berada di tempat yang sepi.’

Rencana lewat arteri dalam perjalanan pulang pun diubah. Kami lewat tol seperti saat berangkat. Gerimis, capek, ban gembos, korsleting elektrik adalah hal-hal yang membuat rencana berubah mendadak. Rute dibikin sama dengan ketika berangkat.

Dalam perjalanan kemarin malam (malam Kamis, 3 Desember 2025), kami berangkat dari Pakamban pukul 22.00. Setelah menjemput Amak yang akan membantu saya dalam mengemudi, saya tetap pegang stir sampai ke pintu Tol Kejapanan. Kak Fadlillah di kursi tengah bersama Ahid (anak ke-3) dan kursi belakang ditempati Sohib (anak ke-4). Amak ganti nyetir sampai di Masjid Siti Aminah al-Askar, Pajarakan, saat kami menunggu shalat Subuh dan Amak menunggu jemputan temannya.


Dalam perjalanan berangkat, saya pilih lewat tengah kota Surabaya karena kala itu sudah lewat tengah malam. Saya bawa mobil lurus dari Kedungcowek, lewat Putro Agung, Jalan Moestopo, lalu belok kiri setelah lewat depan Plaza Surabaya. Saya menikmati kota yang mulai lengang. Inilah asyiknya Surabaya, masih ada waktu kosongnya kalau tengah malam, beda dengan Jakarta. Akhirnya, saya masuk tol setelah berputar setengah lingkaran di Bundaran Waru. Secara jarak, ini jalan terpendek ketimbang masuk tol lewat Dupak 3, meskipun secara durasi waktu bisa jadi akan lebih lama kalau siang hari.

Dalam perjalanan pulang, serah jabatan pengemudi, antara saya dengan Cak Amak terjadi di dekat Gerbang Tol Gending. Kak Fadlillah memang tidak mampu lagi menyetir malam karena alasan visibilitas. Daya lihatnya jauh berkurang di malam hari. Saya pindah ke jok tengah, tidur. Sementara Ahid di jok belakang dan Sohib di jok tengah bersama saya. Tiga kali si Ahid ini muntah dalam perjalanan pulang.

Bukan hanya rencana lewat arteri saja yang gagal, bahkan rencana beli kopi di Kafe Jungkir Balik Sidoarjo pun juga tidak jadi. Sempat, sih, saya diingatkan oleh Kak Fadlillah sewaktu posisi kami sudah masuk ruas tol Gempol – Perak.
“Bagaimana? Jadi mampir ke Jungkir Balik?”
“Lanjut saja!” kata saya setengah melek. “Saya tidak tahan ngantuk.”

Saya buka mata sebentar dan melihat jam di ponsel, pukul 23.46, ketika kami tiba dekat Tangkel. Kami tiba di rumah sekitar pukul 02.30 setelah menurunkan Amak di Pakamban. Dari Pakamban ke rumah, saya menjalankan mobil pelan saja karena terdengar bunyi aneh dari roda, mungkin kampas rem yang terlepas per-nya atau entah apa yang sampai tulisan ini selesai diketik masih belum saya apa-apakan. Mobil dan orangnya sama-sama capek setelah perjalanan pergi-pulang 600-an kilometer.



22 November 2025

Hadir Undangan ke Badridduja


 

Trip 25-26 Oktober 2025

Menempuh perjalanan jauh sambil mengemudi mungkin biasa bagi sopir bis. Jarak 500 kilometer bahkan ada yang nyopir sendirian, baru 800 kilometer dibagi dua: sopir satu dan sopir dua. Kebiasaan dan ketangguhan membuat tubuh terlatih begitu dalam menjalani profesi berat ini, bahkan andaipun perjalanan dilakukan semalam suntuk.

Mengemudi sendirian adalah hal lain. Sekuat apa pun fisiknya, ada aturan 3 atau 4 jam harus rehat, baik sekadar memutus konsentrasi dengan duduk di teras masjid selama 10 menit, grounding (melepas alas kaki dan menyentuhkan telapaknya ke tanah secara langusng), maupun santai-santai saja sambil ngemil di tepi jalan. Intinya, yang disebut istirahat itu adalah berhenti sejenak atau lama.

Di usia 50 tahun, sementara usia mobil hanya selisih 5 tahun, yakni 45 tahun, saya tidak bisa melakukan penyetiran kendaraan secara langsung dan terus-menerus seperti 10 tahun yang lalu. Dulu, berani saja saya melanggar aturan 3 jam berhenti dengan mengemudi non-stop 9 jam kalau saja mau, misalnya. Saya memilih sikap hati-hati, mengendalikan tubuh lebih bugar demi keselamatan bersama. Dulu pun saya begitu, selalu rehat dalam perjalanan panjang.

Rencana menghadiri acara walimah Maisur putra Kiai Mustofa Badri bin Masduqi di PP Badridduja awalnya saya memilih AKAS IV tujuan Muncar jam terakhir yang basanya sampai di Kraksaan sebelum subuh. Rencana ini gagal. Rencana tinggal rencana dan berubah mendadak karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah faktor anak. Terpaksa saya mengeluarkgan Colt dari garasi untuk menganggkut empat orang ke sana.

Saya cek: ban kiri depan dalam kondisi tidak aman, tipis bagian luar bahkan sudah tampak benangnya. Maka saya memakai ban serep yang ternyata masih sangat baru meskipun usianya sudah lama, sudah hampir 4 tahun. Ganti ban, kencengin baut, cek tekanan angin, baru berangkat setelah shalat isya, pukul 19.30.

Setelah SPBU Kaduara Barat (yang sering disebut “SPBU Talang” padahal tidak terletak di Talang), saya singgah sejenak untuk beli cemilan dan lain-lain dan isi BBM. Kurang lebih 15 menit, saya berangkat lagi. Kondisi fisik terasa prima karena tidur siang sangat cukup.

Belum sampai kota Pamekasan, truk cabe Traga bikin emosi. Dia memotong mobil saya di Pasar Pagendingan, nyalip dalam kondisi mepet lalu menggunting ke kiri, tepat di depan saya dan tidak boleh tidak saya harus ngerem mendadak. Untung tidak sampai memaki di mulut, namun dalam hati saya tidak terima. Saya pun berdoa: “Ya, Allah, jika Engkau akan berikan rezeki sehat dan sempat kepada si sopir Traga, kasihkan saja itu ke saya duluan karena dia telah merampas hak saya di jalan, barusan! Biar dia belakangan saja mendapatkannya.”

Saya agak heran dengan mobil-mobil pengangkut cabe ini. Mengapa mereka cenderung
arogan, ya? Ngebut boleh, tapi jangan rusuh sama orang lain. Mengapa saya bilang “cenderung”? Ya, karena berkali-kali saya mengalami seperti itu. Di lampu merah Tambung saya menyalipnya dari kiri karena ia terjebak konvoi mobil di lampu merah sementara saya sedang dalam posisi versneling ke-3. Akan tetapi, namun di perempatan Baru Rambat, Kota Pamekasan, nah, dia bikin ulah lagi: menyalip persis saat di tikungan sehingga tentu saja ia melebar. Kalau saja saya tidak ngerem, pasti sudah adu kambing dengan kendaraan yang datang dari arah depan, dari selatan. Luar biasa IQ sopir ini! Luar biasa apanya, Pemirsa?

Saya hanya satu korban yang dirugikan. Kalau menilik cara mengemudinya, sepertinya ia selalu melakukan perbuatan onar seperti itu berkali-kali, bisa jadi per 5 menit atau bahkan kurang dari itu. Entah meggapa saya beranggapan seperti itu. Perasaan saya yang mengatakannya demikain setelah melihat cara mengemudinya saat membuntutinya dari belakang.
 
Kondosi seperti inilah yang sering membuat fisik menjadi lelah, bukan sekadar karena duduk lama dengan mata mendelik ke depan terus-menerus. Rasanya, energi terkuras banyak. Tenaga habis bukan ditelan kopling yang agak keras atau stir yang belum power steering. Emosi harus dijaga. Ia sering menghabiskan, bahkan bisa menghabisi. Ih, ngeri.

Saya masuk Jalan Kedung Cowek pukul 23.30. Hujan dan angin sangat deras sehingga saya harus berjalan sangat pelan saat posisi berada di atas Jembatan Suramadu. Memang, tidak ada peringatan bahaya. Jembatan masih dibuka, tapi saya berhati-hati saja.

“Aduh!” Saya berseru keras.
“Ada apa?” tanya istri spontan.

Sebelum saya menjawab, mobil yang mendadak bergoyang adalah jawabannya. Saya menabrak genangan air yang rata di semua permukaan jalan, persis setelah turun dari cause way jembatan. Kala itu, yang lebih menakutkan daripada aquaplaning (efek puntiran kemudi akibat menabrak genangan) adalah mesin mati. Hamdalah, mobil masih bisa berjalan normal dan tanpa adanya tanda-tanda ketersedatan. Artinya, delco aman, kondensor aman.

Saya segera menelpon Bemo, kawan saya, untuk menanyakan kondisi apakah jalan Soekarto-Hatta tergenang banjir. Mungkin karena sudah malam, dia mungkin sudah tidur, telepon tidak diangkat. Akhirnya, rencana diubah karena khawatir ada banjir di sana. Saya memilih masuk tol dari GT Dupak 3 saja.

Perjalanan lewat jalan Tol dari Dupak menuju Kejapanan dan Tol Gempol bahkan hingga Gending aman dan lancar saja. Saya mengemudikan mobil dengan kecepatan rata-rata 85 - 90 km / jam. Walhasil, saya masuk lokasi PP Badridduja pada pukul 01.30, persis 6 jam dari rumah untuk rute 285 km.

* * *

Setelah usai acara siang, saya melanjutkan perjalanan ke PP Nurul Jadid untuk menyambangi anak perempuan yang mondok di sana. Sampai maghrib di sana, lalu kami pulang setelah shalat isya. Saya sempat istirahat sebentar di rumah Ustad Abdul Mannan, salah seorang kawan yang rumahnya persis berdampingan dengan rumah pengasuh PP Nurul Jadid daerah Al-Mawaddah. Istirahat 30 menit rasanya sudah puasa dan energi buat melek sampai tengah malam rasanya sudah cukup.

Dalam perjalanan pulang, saya menempuh rute yang sama persis. Durasi waktu dan kilometer pun sama. Semua rute dilalui dengan lancar tanpa kendala, tanpa ada hujan deras lagi.

Hamdalah, perjalanan kali ini seakan menjadi penanda bagi saya bahwa nyopir sendirian untuk rute agak jauh ternyata masih mampu, lebih-lebih menggunakan mobil yang kadang bikin cemas kalau sedang bret-bret-bret karburatornya. Selama kurang lebih 7 tahun terakhir, saya selalu mengemudi bersama saudara sepupu yang membantu mengganti stir manakala saya lelah. Akhir Agustus yang lalu (28-29 Agustus 2025), saya mencoba mengemudi engkel ke Jogjakata dan kini dicoba lagi ke Probolinggo, ternyata punggung saya masih mampu duduk lama dan mata saya masih kuat nanar menatap serbuan biled dan projie. Yang berubah hanya bagian betis, agak sedikit ngilu kalau terlalu lama duduk di kursi pengemudi sehiunga ketika turun dari mobil berasa linu-linu.

CATATAN: saya tidak mencatat BBM secara persis, namun berdasarkan biayanya (50 liter) untuk jarak 592 kilometer dan masih ada sedikit sisa, kira-kira konsumsinya adalah 1:12 lebih sedikit.

FOTO tidak ada sama sekali karena tidak bawa kamera dan tidak bawa HP pintar


09 September 2025

Sambil Menyambang, Ngetes Karburator

Hanya karena berkisar-kisar di area kabupaten Sumenep, perjalanan saya tadi siang dengan Colt seolah pendek saja. Setelah mencari tahu di Google Maps dan dicocokkan dengan odometer, ternyata 100 kilometer lebih juga akhirnya. Pantesan, setelah diisi penuh pertalite kembali di SPBU Ganding, SPBU tempat saya ngisi penuh sebelum berangkat, uang yang dibayarkan ke kasir adalah 105.000 alias 10,5 liter. Jadi, wajar saja kalau saya berasa capek setelah tiba di rumah, beberapa menit setelah azan Ashar. 

Perjalanan saya dimulai pukul 08.45 dan melaju ke arah kota Sumenep. Dari kota, saya melewati Paberrasan, terus Parsanga, dan tiba di Gapura sekitar pukul 09.27. Perjalanan dilanjutkan ke timur sampai masuk kecamatan Dungkek. Rombenguna adalah salah satu desa di kecamatan itu dan berjarak kira-kira 4 kilometer ke Pelabuhan Dungkek. Pelabuhan ini duganakan orang untuk menyeberang ke Sepudi dengan kapal tradisional, juga ke Gili Iyang, pulang dengan oksigen terbaik di dunia (nomor urut dua).

Dalam pada itu, saya menelepon orang-orang yang saya kenal yang kebetulan rumahnya saya lewati. Dipikirnya, saya ada perlu sama dia, padahal sekadar ingat karena kebetulan saya lewat depan rumahnya: Mawaidi di Rombenrana, Sofyan di Jenagger, dan telepon dari Mamber yang rumahnya di Grujugan yang dia tahu saya lewat dari salah satu orang yang saya telepon itu.

Setelah selesai acara di Desa Rombenguna, saya lanjut ke Nyabakan Barat. Saya melalui rute yang tidak disarankan oleh Google Maps (dalam gambar saya pilih wahana sepeda motor karena kalau pilih mobil, rute seperti dalam gambar tidak akan ditampilkan) namun dianjurkan oleh warga lokal (kebetulan saya juga pernah lewat di jalan itu kira kira 4 tahun yang lalu). Dari SMP 1 Dungkek, mobil saya arahkan ke utara, melewati jalan beraspal kasta terendah (mungkin kelas III-C) yang kalau berpapasan pastilah salah satunya turun ke tanah dan berhenti dulu. Ujung jalan ini adalah jalan kolektor Candi-Tamansari-Dungkek, sebelah barat kantor MWC NU Dungkek.

Dengan kecepatan kira-kira 50-60 km/jam, tempat tujuan dapat dicapai sebelum pukul 12, waktu yang ditentukan anak-anak KKN untuk dimulainya acara. Saya melewati pasar Candi, terus ke barat, lewat di depan rumah Pak D. Zawawi Imron, dan baru belok kanan di pasar Batang-Batang dan menuju arah Legung.

Tiba di lokasi, di Balai desa Nyabakan Barat, pukul 12.00 kurang 10 menit. Saya langsung melaksanakan shalat Duhur lebih dulu supaya nanti setelah selesai acara bisa langsung cus pulang.

Baik di Rombenguna maupun di Nyabakan Barat, tema pertemuan tersebut sama, yaitu pembahasan seputar sampah dan pengendaliannya. Maklum, KKN Universitas Annuqayah kali ini adalah KKN Tematik Lingkungan. Saya fokus pada pembahasan pada pengendalian sampah dapur dan sampah makanan, tentu saja juga menyinggung soal sampah plastik-sekali-pakai. Di kedua posko (Posko 31 Rombenguna dan Posko 10 Nyabakan Barat) yang secara kebetulan, para peserta KKN Universitas Annuqyaah di adalah peserta putri dan kebetulan juga kepala desa di kedua desa itu sama-sama perempuan, yaitu Ibu Yunni dan Ibu Riskiyah.

Seperti tadi saat berangkat, seperti itu pula saat pulang: saya mengisi penuh BBM di SPBU Ganding. Ini bukan kebiasaan saya karena sangat jarang saya mengisi penuh tangki mobil. Pengisian penuh ini dilakukan hanya untuk menguji konsumsi BBM setelah mencoba ngampak karburator Kijang 4K dipadukan dengan karburator L300 bensin. Hasilnya ternyata cuman 1:10. Angka ini belum aman, namun sudah lumayan ketimbang yang terjadi minggu lalu saat saya bawa Colt ini ke Jogja yang konsumsinya lebih boros lagi karena ternyata jarum jetnya macet.

Hamdalah, perjalanan 112 km ditempuh tanpa kendala.


01 September 2025

Menghadiri 1 Dekade Colt Jogja Istimewa di Pasar Seni Gabusan

 

Pergi ke Jogja untuk menghadiri acara 1 Dekade CJI bukan masalah mudah bagi saya, terutama karena persiapan karburator Colt yang baru dirakit. Saya (melalui bantuan bengkel) baru saja selesai ngoprek tiga karburator menjadi satu: ruang bawahnya kijang, tutup atasnya L300 bensin, daleman Colt T120). Mengujicoba karburator rakitan untuk rute hampir 500 km sekali jalan adalah sejenis kengawuran juga, sih, kalau dipikir-pikir. Persiapan lain yang tak kalah tak siapnya adalah persiapan pendanaan. Walhasil, karbu bisa bekerja, tapi kurang baik pada konsumsinya (diperkirakan kurang dari 1:10, harus diperbaiki lagi).

Kami berangkat dari rumah pukul pada pukul 21.37. Meskipun bersama tiga pemuda jomblo, tapi saya hanya yang menyetir sendirian. Maka, saya tidak mampu lagi mengemudi secara solo dan tepar di masjid Baiturrahman, Dumajah, setelah menempuh perjalanan hampir 3 jam. Satu jam lebih saya tidur di sana dan baru berangkat lagi pukul 01.44.

Mobil saya arahkan mobil lewat Tugu Pahlawan. Jejak kerusuhan masih tampak secara kasat mata. Hamburan sampah tempak di jalanan. Ada sebuah tenda Polisi yang rubuh.

Kami masuk tol Warugunung lalu rehat di tempat istirahat Km 626. Dari situ, setelah subuhan, kami bergerak lagi ke Ngawi, mampir di rumah Sidqi terletak dekat sekali dengan jalan akses Ngawi – Caruban via Karangjati. Eh, habis makan suguhan pecel pincuk berbungkus daun jati, saya tidur lagi dan baru kami baru bisa berangkat pukul 9.37 (sempat ganti filter udara di sana karena tarikan terasa sangat mampet).


“Kalian sudah tahu Solo?”
“Belum,” jawab dua orang. Jay diam saja karena dia sudah pernah ke sana.
“Baik, saya akan ajak kamu masuk lewat kota Solo.” kata saya pada mereka dengan maksud supaya mereka tahu Masjid Syekh Zayed juga Museum Lokananta meskipun hanya melintas mengingat kedua tempat tersebut berada di lintasan yang akan kami lewati. Akan tetapi, atas pertimbangan ini dan itu, saya berubah pikir. Setelah menempuh rute perjalanan arteri dari Ngawi – Mantingan – Sragen, saya pun masuk tol lagi dari Palur dan keluar di Delanggu.

Dari Delangu, kami menyusuri jalan arteri dan berkali-kali emosi oleh saking banyaknya lampu merah. Konon, kata Mas Rahmat, ada 33 lampu bangjo dari Kartasura ke Janti (dia sempat menghitungnya, dulu). Benar atau salah, saya kira jumlahnya tidak seberapa meleset. Dari angka itu dapat dibayangkan betapa ruwetnya lalu lintas dan pemodelan jalan di jalur ini mengingat jaraknya hanya ada 50 kilometeran saja. Setelah ambil buku di Kafe Mainmain, kami langsung ke rumah inap Ndalem Hartono di Cabeyan, Panggungharjo, sesuai arahan Pak Bambang Legowo. Lokasi ini tak jauh dari Pasar Seni Gabusan yang menjadi tempat acara CJI yang ke-10 ini.



Malam hari Minggu, 30 Agustus 2025, menjadi sangat spesial bagi saya karena bisa hadir dalam acara diskusi buku yang diselenggarakan oleh panitia CJI, yaitu Tirakat Jalanan. Ini adalah momentum pertama karena tidak pernah ada sesi semacam ini sebelumnya. Para anggota komunitas yang sudah datang lebih dulu di malam itu ikut hadir dan nimbrung. Sebagian lagi tampak menyiapkan persiapan kontes dan pernak-pernik acara lainnya. Sisanya ada yang tiduran saja.

AHAD, 31 AGUSTUS 2025

Seperti sebelum-sebelumnya, acara CJI Jogjakarta selalu meriah. Tanpa membandingkan dengan kegiatan korwil yang lain, acara CJI sangat ramai karena banyak sekali sub-acaranya, seperti permaianan BMX, nyanyi Koes Ploes-an. Selain itu, door prize-nya juga setumpuk, banyak sekali. Yang terbesar adalah mobil Colt T120 wagon.

Dalam pada itu, saya bertemu dengan banyak sekali teman lama. Dalam urusan Colt, yang paling lama saya tahu mungkin adalah Arkadius Anggalih (Angga) karena dialah yang buat mailing list coltmania di YahooGroups, cikal-bakal tempat diskusi para penggemar Colt. Tentu saja, saya juga bertemu dengan Pak Bambang Fidelis dan Pak Broto yang sering berinteraksi di blog ini sejak dulu (terutama Pak Bambang), namun saya baru jumpa pertama di tahun 2019, di Jakarta. Teman-teman lama ini mengingatkan saya pada masa awal punya Colt yang masih sering bertemu masalah dan kami saling berdiskusi, berbagi ilmu dan pengalaman. Dalam momentum acara seperti ini, pertemuan seperti ini tak kalah pentingnya karena sejatinya Colt itu hanya wahana, sedangkan tujuan utamanya adalah persahabatan.

Saya pulang, meninggalkan lokasi pukul 14.00. Rencana pulang lewat Wonosari – Pacitan – Madiun pun digagalkan, begitu juga  saran dari Pak Doel Mulyadi agar menempuh rute Wonogiri – Ponorogo – Trenggalek – Tulunggagung pun tidak jadi, padahal baru saja kami obrolkan. Pasalnya adalah karena ada saudara mindoan, Mas Aak, yang bilang mau nunut ke Madura. Rencana berubah total. Kedua rencana perjalanan di atas pun dihapus.

“Tapi  mobil saya tidak ada AC.”
“Tidak masalah.”
“Saya mau masuk tol dan turun di Sragen Timur, lewat arteri sampai Nganjuk, terus masuk lagi dari Tol Bandar, Kertosono.”
“Kok begitu?”
“Soalnya saya masih mau mampir di Nganjuk, masih nunggu kabar dari Nganjuk.”
“Kenapa tidak tol langsung Nganjuk?”
“Saldo tidak cukup.”
“Pake etoll saya!”

Demikianlah percakapan saya dengan Aak selalu tawar-menawar rute. Ah, rute berubah lagi dan ini adalah rute terakhir yang kami pilih. Kami pun berangkat menjelang azan Ashar, menuju Novi di Boyolali. Aak ada perlu dengannya. Dia adalah teman kami, teman bersama. Kami pun disuguhi gorengan dan kopi di situ. Saya mandi dan shalat di rumahnya, di rumah yang dulu berjaya sebagai tempat produksi keju premium Indrakila sebelum adanya pandemi.

Dari rumah Novi, kami langsung pulang, namun singgah dulu di Soto Mbok Giyem. Selesai makan berbarengan dengan azan Maghrib dan barulah kami berangkat, pulang.

Perjalanan tanpa henti membutuhkan waktu 4 jam, dari Boyolali ke Warugunung. Waktu terpotong rehat di Rest Area 626 untuk merokok dan pipis. Kami berjalan lagi dengan kecepatan rata-rata 85 km /jam, lebih dari 80 tapi kurang dari 90. Rehat dilakukan lagi di Masjid Dumajah, pukul 23.15, masjid tempat kami rehat pertama dalam perjalanan berangkat. Kami menunaikan shalat Maghrib dan Isya di sana, makan bakso dan santai pula, hingga akhirnya melangsungkan perjalanan kembali ke timur dan tiba pada menjelang pukul 02.00.

Dalam perjalanan kali ini, ada dua kejadian nyaris yang saya alami: pertama, ban tiba-tiba kempes persis setelah mobil parkir di penginapan. Ketika dibawa ke tukang ban, tidak ada bocor apa pun (dan terbukti aman digunakan pulang ke Madura), kedua; mobil mati mendadak saat keluar dari rumah Novi, baru samapi di tepi jalan, belum juga naik ke aspal. Masalah ada pada kabel kondensor terlepas. Perbaikan dilakukan kurang dari 2 menit. Yang terakhir, selang bensin patah (mungkin karena sudah sangat tua sehingga kaku, persis setelah mobil diparkir di saat baru tiba di Karduluk, di rumah tujuaan Aak.

Semua kejutan di atas ini membuat sensasi kecil yang justru mewarnai perjalanan kami dengan mobil tua, mobil yang sudah luntang-luntung di muka bumi ini kurang lebih 45 tahun lamanya.
 

17 Juli 2025

Menempuh Rute Tidak Populer

Perjalanan hari Rabu, 12 Juli 2015

 

“Pergi ke Omben melewati rute tidak biasa akan sangat menyenangkan,” kata saya dalam hati. Maka, diputuskanlah saya untuk memilih rute lewat Bandungan Pakong, Pegantenan, Palesanggar dan tembus di depan Polsek Pelengaan yang jaraknya terbukukan 55 kilometer saja. Namun, saya berubah pikiran saat sampai di Palesanggar, memilih rute lewat Kacok, yang dengan begitu jaraknya bertambah 2 kilometer, dari 55 kilometer di rute awal menjadi 57 kilometer di rute yang dilewati. Jika kita lewat jalan populer maka jaraknya menjadi 57 kilometer, yaitu dengan lewat Prenduan via Proppo. Rute memutar bisa lewat Sampang kota, namun jaraknya malah menjadi 75 kilometer ke tempat tujuan saja, Masjid Nurul Mustaqim, Napo, Omben, Sampang.

Menempuh rute tidak populer bukan semata-mata untuk melayani hasrat ingin cepat sampai karena alasan jarak terpendek. Jika itu adalah bagian dari target, maka rute populer biasanya malah lebih cepat ditempuh karena jalannya lebih mulus, lebih lebar. Jika kita minta petunjuk rute kepada GoogleMaps, maka yang disarankan adalah yang terpendek, bukan yang terbaik atau ternyaman. Sampai hari ini yang saya tahu, GoogleMaps masih belum bisa mendeskripsikan Kelas Jalan khusus, seperti  residental dan kolektor, apalagi yang lebih spesifik, seperti mana yang kelas IIIc dan mana yang kelas IIIa, misalnya.

Bagi saya, menempuh rute tidak populer (seperti yang kemarin saya lakukan untuk menghadiri undangan haul Kiai Syaifiuddin di Napo) salah satunya adalah agar tidak sering bertemu dengan kendaraan. Dengan tidak sering bertemu atau berpapasan dengan kendaraan, maka tidak sering pula saya melihat penyerobotan. Makanya, kadang saya memilih rute yang jalannya lebih banyak rusak asalkan tidak terlalu sering berpapasan dengan para pembangkang jalanan itu yang ulahnya bikin mual itu.

Walhasil, dalam perjalanan ke Napo, dari rumah sampai di perempatan Panaguan, saya nyaris tidak berpapasan atau melihat orang-orang yang melanggar rambu serta menyerobot jalur. Namun, begitu saya lewat jalan Proppo-Omben, maka yang nyalip di tikungan, yang parkir sembarangan, yang menyerobot antrian, langsung tinggal sendok di hadapan, macam hidangan prasmanan saja, banyak sekali. Begitu pula saat saya pulang lewat selatan, lewat Kota Sampang dan via Camplong, sajian pelanggarannya lebih berupa-rupa.


Saya kasih contoh misalnya saat masuk kota Pamekasan. Mulai dari depan UIN Madura sampai makam Panglegur, yang jaraknya pendek saja saya bertemu dengan tiga gangguan pada saat hendak menyalip dari sisi kiri (karena ruas jalannya memang lebar sehingga ia terdiri dari dua lajur: 1) ada orang beli (mungkin pentol) di kios tenda. Dipikirnya dia hanya sebentar saja maka boleh saja ia parkir sepeda motornya di badan jalan, akibatnya saat saya ambil kiri untuk menyalip, diurungkanlah rencana itu karena mendadak tampak ada sepeda motor di depan. Rintangan model seperti ini terjadi sampai tiga kali di tiga tempat yang kurang dari 1,5 km; 2) di dekat kantor imigrasi, ada kios yang pasang iklan tripleksnya dan posisinya makan jalan. Ya, tentu saja benda itu tidak perlu ditabrak meskipun hanya tripleks, dan karena makan jalan maka pastilah mengganggu arus lalu lintas, dan 3) ada orang memasang cone (kerucut yang terlalu dekat dengan badan jalan, yang artinya meskipun itu terbuat dari plastik, tetap saja akan menghalangi orang yang melintas, membuat saya yang hendak menyalip kendaraan yang klunak-klunuk dan berjalan di lajur dalam harus kecewa.

Itulah beberapa keunggulan menempuh rute tidak populer, tapi tentu ini tidak akan menarik bagi yang suka kecepatan dan tidak suka tantangan.  

25 Januari 2025

Takziyah ke Batuputih, Bedah Buku di Gapura


Hari ini, saya melakukan perjalanan ke Gapura. Tujuannya adalah menghadiri acara bedah buku yang diselenggarakan oleh TKSCI dan Kedai ZWZ. Kegiatan ini menarik karena bedah buku yang biasanya diselenggarakan oleh pondok pesantran atau kampus atau komunitas literasi, namun yang ini adalah komunitas Toyota Kijang Super Community Indonesia, chapter Sumenep.

Perjalanan dari Guluk-Guluk (rumah saya) ke Gapura nyatanya bisa ditempuh langsung lewat jalur utama. Tapi, kali ini, rute saya memutar, lewat Manding, Batuputih, Tengedan, dan baru ke Gapura. Saya pergi takziyah ke rumah Ustad Rusdi yang istrinya (Fitri Amalia) wafat dua bulan yang lalu dan saya belum sempat menyambang ke sana. Kami melakukan tahlil bersama usai shalat duhur di mushallanya. Selepas itu, saya juga pergi takziyah ke PP Al-Iftitahiyah untuk kewafatan Fairuzah el Faradis, putri Kiai Baqir yang tinggal di Somber Tombet, Batu Putih.

Selesai dua kali takziyah itu, saya melanjutkan perjalanan ke timur hingga tiba di Balai Desa Tengedan, lalu ikut jalan ke selatan. Jalannya kecil tapi bagus dan mulus, juga sepi. Nyaris tak ada bagian jalan yang rusak ditemui. Pemandangan alamnya juga bagus. Aspalnya seperti masih baru. Perjalanan lancar sampai ke lokasi saat azan asar belum berkumandang.

Komunitas TKSCI ini, dalam pada itu, bekerja sama dengan Mas Faisal, si pemilik kedai, yang kebetulan juga anggota komunitas. Mereka tidak sedang kopi darat, melainkan memang sengaja menyelenggarakan kegiatan bedah buku yang kebetulan buku itu adalah karya saya (Tirakat Jalanan). Mereka juga mengundang banyak komunitas yang kebetulan berterabaran di sekitar Gapura. Antara lain yang hadir adalah perwakilan Isuzu Panther Community Indonesia (IPCI) Madura Raya, DSTD (Driver Sumenep Timur Daja), HCS (Honda Civic Sumenep). Selain komunitas kendaraan, yang unik, mereka juga mengundang unsur yang lain, seperti GP Ansor, Komunitas Pejinak Unggas, dan entah komunitas apa lagi.

Yang tak kalah menariknya, acara yang dimulai setelah azan ashar itu dihadiri juga oleh tokoh-tokoh agama setempat, seperti Kiai Hafidi, Kiai Muhaimin, dan juga Kiai Dardiri Zubairi. Hadirin putra ditempatkan secara terpisah dengan hadirin putri meskipun rata-rata mereka adalah anggota keluarganya. Ada juga satu dua orang yang merupakan peserta umum, seperti ibu bidan Rini. Acara tadi sore itu 'rancak bana', gado-gado sekali.

Dalam acara tersebut, saya menyampaikan pokok-pokok penting pemikiran saya tentang ketertiban di jalan raya yang sejatinya memang ada landasannya di dalam Islam. Bagaimana kita dapat dengan mudah menemukan hadis pendukungnya jika memang mau. Akan tetapi, untuk bisa menjelaskan secara detil, dalam buku itu, saya harus menawarkan tata tertib berlaku lintas dari sudut pandang akhlak dan juga berlandaskan pijakan hukum yang diadopsi dari qawaidul fiqhiyah.

 

Acara selesai sekitar pukul 16.45 dan hadirin bubar setelah shalat di tempat dan/atau sebagian lainnya segera pulang karena hendak shalat di rumah. Saya pulang setelah lewat pukul 17.00 dan mampir di rumah mertua di Giring, Manding. Setelah maghrib, barulah saya melanjutkan perjalanan pulang ke Guluk-Guluk bersama adek bayi dan istri.




18 September 2024

Kebenderan ka Benderan

Arti daripada judul di atas adalah kebetulan pergi ke Benderan

Berdua saja dengan Dalil, perjalanan saya ke Sreseh untuk menghadiri acara Maulid Puisi yang diselenggarakan oleh Komunitas Sastra Sreseh menjadi asyik saja. Tak ada rasa bosan karna kami saling berbincang. Tanpanya, bisa jadi saya tidak akan pergi naik mobil, paling ngebis.

“Yang menghubungi saya untuk bicara tema Nabi di dalam puisi dalam sesi diskusi kali ini adalah Tajullail. Kamu kenal dia?”
“Tidak,” jawab Dalil tanpa dalil.
“Tapi dia teman Nuris, lho!”


“Oh, mungkin teman pondoknya dulu, karena Nuris mondok di Paramaian sebelum ke Sidogiri lalu kenal saya.”

Jadi paham sekarang, bahwa Dalil kenal Nuris dan Nuris kenal Tajul tapi Dalil tidak kenal Tajul karena seperti inilah skema hubungan pertemanannya. Gara-gara acara ini, kami berempat sama mengenal satu sama lain. Inilah salah satu hal yang paling saya suka dari kegiatan sastra. Saya bertemu dengan orang baru adalah sebuah kebahagiaan, meskipun pada saat yang sama, dalam setiap pertemanan akan hadir masalah baru juga.

Perjalanan menjadi seru ketika Nuris bergabung dari Camplong. Rencana naik bis pun gagal dan akhirnya saya bawa Colt. Hitung-hitung, ini saat yang tepat menguji temperatur mesin yang selama beberapa hari ini bermasalah. Sejauh ini, saya sudah terlanjur berburuk sangka kepada cylinder head sebagai biang masalahnya. Ternyata, masalahnya ada di Pegadaian, eh, di radiator (saya tidak menduganya karena tampak baik-baik saja). Setelah dikorok, panas hilang. Suhu mesin menjadi normal.

Menjelan azan maghrib, kami tiba di Benderan, desa Labang, kab. Sampang. Ini desa unik karena masuknya harus lewat akses Blega yang notabnene Kabupaten Bangkalan. Sreseh ini, secara administratif, masuk area Sampang. Perjalanan kami dari rumah kira-kira 3 jam lebih sedikit, dengan jarak 94 km (berdasarkan Google Maps karena spidometer saya putus) dan mestinya tidak sampai segitu bahkan dengan lari pelan saja, dengan kecepatan rata-rata 60-70 km/jam misalnya. Pertama, salah satu penundanya adalah rehat di warung karena saya kelaparan; yang kedua adalah rusaknya jalan akses dari Blega ke Benderan (termasuk juga ke Modung) yang mirip “polisi tidur semua, itu pun polisinya sudah pada bangun”, sehingga versneling alias percepatan mobil hanya bisa digunakan antara 1 dan 2 saja.

ACARA DI BRAGA, BENDERAN

Acara Komunitas Sastra Sreseh diselenggarakan dengan berpindah-pindah tempat. Akan tetapi, selama tiga tahun terakhir ia selalu ditempatkan di rumah Pak Ubaidillah dan Masu’di Said. Tempat dan seting lokasi sepertinya memang mendukung untuk acara sastra: ada kobhung, halaman luas, dan rumah yang asri. Tidak dinyana pula acara bakal dihadiri banyak orang. Menimbang penduduk desa setempat yang hanya dihuni 1700 orang (dengan DPT sekitar seribu lebih sedikit), desa Labang tampak lengang. Namun, ketika acara akan dimulai, bahkan saat sedang berlangsung, hadirin terus berdatangan. Saya bertanya dalam hati: Kok bisa mereka banyak sekali? Apakah mereka makhluk halus yang tiba-tiba muncul tanpa diketahui ataukah mereka makhluk istimewa yang turun dari langit tanpa menapak jalan bergunduk-gunduk pelosok desa?

Suasana jadi istimewa sekali karena ternyata ada paduan suara dan pembacaan Syaraful Anam sebelum acara, didahului pembacaan puisi oleh beberapa orang santri yang datang dari Lanbunlan (yang dua kiainya [kiai Ghozali dan Kiai Barizi merupakan kiai paling produktif menulis kitab di Indonesia] dan juga datang dari pondok pesantren Paramaian, sebuah pondok sangat tua yang ada di Sresesh.  

Dalam pada itu, saya bicara soal sosok Nabi Muhammad saw di pelbagai puisi, baik itu di dalam Burdah, Barzanji, Daybai, serta yang lain. Saya juga menjelaskan bahwa Nabi Muhammad juga disanjung oleh Rainer Maria Rilke dan beberapa penyair non-muslim lainnya. Mengapa? Kok bisa? Karena ibarat kata, kita punya banyak ‘otang tengka’ kepada beliau saw yang sulit sekali dapat ditebus karena begitu besar jasanya pada keadilan dan kemanusiaan. Untuk ini, saya menyebut conton soal perbudakan, human trafficking, adanya perintah zakat, dan sebagainya. Tak lupa saya menyebut Wulidal Huda, puisi karya Ahmad Syauqi sang raja penyair yang sedang saya terjemahkan.

Acara bubar pukul 23.00 dan saya pun pamit pulang beberapa menit sesudah itu. Perjalanan ke timur relatif lancar dan suhu mesin saya kira malah tidak efektif karena terlalu dingin. Saya cek di panel digital hanya bergerak di kisaran angka 65-72, tidak sampai ke suhu ideal, 82 derajat celcisu. Sementara di panel manual, jarum temperatur hanya berada di bawahnya strip terbawah. Wah, payah juga, nih!

“Sepertinya, saya harus pasang thermostat lagi, nih!” kata saya pada Dalil yang memang tidak bertanya, cuman mengisi waktu kosong dan kebosanan saja.

Dalam perjalanan pulang, jalan sudah lengang. Suasana sangat syahdu. Jibril, putra Nuris, relatif mereda batuknya ketimbang tadi saat berangkat. Masalah tinggal satu: yaitu mobil-mobil yang menggunakan lampu sangat terang, jauh melebihi yang butuhkan mata pengemudinya.
“Mereka menggunakan ini karena pertimbangan wattnya rendah dan mereka ada duit untuk membeli, padahal kan rumusnya tidak begitu!” kata saya berceramah kepada Dalil disertai rasa mangkel karena sering kesilauan.
“Betapa ruwetnya mereka-mereka yang semaunya saja menyalakan lampu utamanya ini, disorot ke muka lawan arah serta merta mereka seakan tidak merasa berdosa telah menyakiti mata-mata silinder dan si rabun ayam yang terkena paparan cahaya berlebihan itu…”

Jalan kian sepi. Laju mobil tetap biasa. Meskipun saya mengatakannya secara serius, tapi kami pura-pura tertawa. Toh begitu, kan, suka-suka manusia: sulit melibatkan tindakan berpikir untuk hal-hal yang remeh dan sederhana.


24 Juni 2024

Takziah dan Silaturahmi: Lumajang, Jember, Situbondo

JUMAT, 21 JUNI 2024

Perjalanan selalu dihitung dari alasan roda bergerak. Jika niatnya adalah untuk maksiat, jangankan pahala, bahkan rukhsah safar pun tak boleh. Begitu juga sebaliknya, kita akan dapat pahala dan manfaat jika dari awal sudah dibetulkan niat.

Berangkat pukul 15.34 di hari Jumat, perjalanan kami benar-benar terasa melambat karena butuh waktu 30 menit hanya untuk sampe ke Batujaran, rute yang biasanya 15 menit saja dari rumah. Tapi, hal itu saya maklumi mengingat sopir yang saya ajak kali ini adalah baru pertama kali membawa Colt ini. Jadi, kata saya, wajarlah dia berlaku begitu, mungkin sedang ‘berkenalan’ dengan mobil tua.

Akan tetapi, perjalanan ternyata tetap begitu-begitu saja hingga Tanah Merah. Jalan benar-benar sangat ramai. Entah karena masih tersisa aroma lebaran atau entah karena mau libur Sabtu-Ahad. Maklum, hari itu adalah tanggal 14 Dzulhijjah yang artinya baru empat hari lebaran Iduladha berlalu. Pukul 19.15 kami masih di Tanah Merah, padahal hitungan normalnya, hanya butuh 3 jam dari rumah ke akses Suramadu dengan kecepatan kisaran 70 km/jam.

Supaya tidak perlu memandu arah jalan bagi sopir yang baru atau sangat jarang melintasi kota Surabaya, biasanya, jika datang dari arah Madura, saya mengarahkannya lewat MERR, lewat Jalan Soekarno-Hatta. Meskipun jarak melewati rute ini lebih jauh sekitar 4 kilometer ketimbang lewat Tugu Pahlawan, saya tetap memilihnya karena pertimbangan mudah: belok kiri di perempatan Jalan Kenjeran; belok kanan di lampu merah pertama, sudah deh, sudah sampe pintu tol Tambak Sumur.
 
Dengan rute seperti itu dan kecepatan seperti itu, kami mencapai desa Sembon Lor, Jatiroto, Lumajang, sekitar pukul 23.00. Kusnan menyambut kami dengan bakso, padahal saya bilang sebelumnya agar tidak perlu disiapkan apa pun kecuali bantal karena saya sangat capek dan memang sudah makan bekal yang dibawa.

SABTU, 22 JUNI 2024

“Aduh, Nan. Kok sebanyak ini?” kata saya padanya melihat ikan dan makanan yang tersaji, besok paginya.
“Ini hasil tangkapan saya tadi malam.”
“Masa iya?”
“Iya, saya tiap hari nangkap ikan di sungai.”

Kusnan dan keluarganya beruntung tinggal di situ, dekat sungai besar yang ikannya masih banyak. Airnya muncrat sendiri dari perut bumi, tanpa perlu menggunakan mesin untuk mengeluarkannya. Tanah di sekeliling subur sekali. Inilah keindahan surgawi itu.

Pagi itu di Jatiroto, saya sudah menyelesaikan empat rumah tangga untuk disambangi. Ada yang didasari takziyah, ada yang sekadar silaturahmi. Pukul 9, saya pamit, bergerak ke selatan, menuju ke Krai. Saya takziyah ke pamanda Kiai Sambah Baqis Muhtadi di PP Bustanul Ulum. Di sana, saya disambut putranya, Ubet dan Faruk, dan juga Paman Naufal dan Paman Abdul Adhim.

Sempat tidur karena mengantuk, tiga jam lamanya di sana, kami pun bergerak ke timur, menuju Rambipuji. Jalanan di sisi selatan (tapi bukan Jalur Lintas Selatan, ya), yaitu ruas Lumajang-Jember via Yosowilangun memang relatif lebih kecil daripada jalan Nasional di Lumajang – Tanggul – Jember. Pantas saja kalau jalannya berasa lebih ramai meskipun volume kendaraannya tidak sebanyak di jalan nasional.

Tiba-tiba, di Rawatamtu, terdengar bunyi ledakan: Dhuwaaas! (sengaja memang ditulis begitu, bukan ‘dhar’ atau ‘dhuwar’ karena yang terdengar di telinga saya memang begitu). Dikira ban, ternyata selang bawah radiator—yang masuk ke waterpump—yang lepas. Ditunggulah beberapa jenak supaya suhu radiator tidak terlalu panas ketika saya tuangi air. Caranya, saya tuang sedikit demi sedikit agar mesin/radiator tidak rusak diakibatkan oleh perubahan suhu permukaan yang sontak berubah, dari panas ke dingin. Dengan cara bertahap, radiator dan mesin aman.

Meskipun hanya 40 menitan, tapi gangguan seperti ini jelas memangkas waktu tempuh. Makanya, rencana saya yang semula mampir dulu ke bibinda di Dukuhmencek, harus ditunda ke besok. Sore itu, kami lanjut ke Karangharjo agar acara malam harinya saya sudah siap, tidak terlalu capek. Kami tiba di sana pukul 17.00 kurang sedikit. Itupun terbilang singkat karena kami dipandu lewat Seputih, lewat perkebunan, bukan lewat Sempolan.  

Bebeda dengan dua titik persinggahan sebelumnya, acara saya ke Karangharjo berbeda. Malam hari, saya bermalam di PP Al Falah, Karangharjo, Silo, Jember. Bersama kiai-kiai setempat, saya menghadiri acara malam tutup tahun pelajaran alias Imtihan Al Falah. Panitia mendapuk saya berbicara tentang posisi anak muda dalam fase perubahan mentalitasnya, serta  acaman trans-nasional yang akhirakhir ini begitu getol masuk ke Nusantara. Saya hanya mengantarkan ke permasalahan saja, karena Kiai Hodri Ariev-lah yang pakar di bidang ini. Makanya, beliualah yang saya persilakan berbicara panjang lebar.

AHAD, 23 JUNI 2024

Setelah terlanjur pamit pulang kira-kira pukul 9 pagi, sementara oleh-oleh sekarung sudah masuk ke bagasi, termasuk pisang dan kopi, eh, gak jadi. Gangguan datang tiba-tiba. Kunci kontak bermasalah. Awalnya, terputusnya arus diperkirakan berhulu di soket ke relay, ternyata memang soket relaynya yang bermasalah dan juga kunci kontaknya. 


Gara-gara ini, ada tambahan waktu sayajam hingga azan duhur berkumandang hingga akhirnya kami bisa pulang. Semua itu tak luput bantuan Pak Fauzi, seorang montir yang rumahnya dekat pondok, yang mengaku pernah melihat Colt Pariwisata milik saya ini di YouTube. Wah, tidak disangka! Kata saya. Saat dia bekerja, saya bisa meneruskan leyeh-leyeh dengan tuan rumah, enak sekali.


Dari Karangharjo, mobil bergerak kembali ke kota Jember, ke Dukuhmencek, nyambangi bibi kami di sana, bertemu sepupu (putranya), dan juga shalat duhur-asar di masjidnya, Masjid Hasanul Islam. Meskipun sebentar, tapi semua tugas terlaksana. Tepat pukul 13.30, kami pamit pulang, lanjutkan perjalanan ke Besuki via Arak-Arak Bondowoso. Hamdalah, perjalanan pulang lancar jaya.

Tujaun kami adalah Pondok Pesantren Al Ishlah. Lokasinya ke utara alun-alun Besuki, tidak begitu jauh. Ke situ, kami takziyah ke Fahrurrozy. Dia adalah saudara sepupu tiga kali saya yang jarang sekali bertemu setelah kami sama-sama lepas dari pondok.

Mampir di PP Nurul Jadid untuk nyambangi anak wedok yang ditagetkan sebentar, dari maghrib ternyata saya baru bisa pulang pukul 21.00 Akhirnya, kami pulang lewat Gerbang Tol Gending, padahal semula direncanakan lewat arteri saja. Pertimbangannya adalah kejar waktu tayang karena Senin pagi kami sudah harus sampai di rumah, istrihat sebentar sebelum kembali mengajar.

Dalam perjalanan pulang, kami masih singgah di Bakso Cak To, yang lokasinya kumpul dengan kafe Jungkir Balik, tepat perisi di sebelah barat Gelora Delta Sidoarjo. Benar-benar sebatas makan bakso, kami lanjutkan perjalanan pulang ke Madura lewat Pasar Turi, Kapasan, Kenjeran, Suramadu.

Hamdalah, kami tiba di rumah menjelang subuh. Perjalanan melelahkan ini tercatat menempuh 875 kilometer. Jika bensin 1:10, berarti tinggal hitung kasar saja angkanya, pasti mirip-mirip dengan itu. Jika lebih irit lagi, dan iritnya pasti tak seberapa, berarti sekitar 800 ribuan.

Momen mengesankan bawa Colt itu adalah adanya sapaan orang-orang yang masih mengenali mobil saya, antara lain Faruk yang melaporkan papasan di Jember dan Puger yang menyatakan melihat Colt saya melintas di depan Utama Raya, Banyuglugur. Nah, jika saja saya naik Avanza putih, mana mungkin mereka tahu kalau saya ada di dalamnya? Itulah salah satu keunggulan naik Colt yang warna dan stikernya tidak pernah berubah selama 16 tahun lamanya. 

04 November 2023

Takziyah ke Wongsorejo


KAMIS, 2 NOVEMBER 2023 

subuhan di Tanjung, Paiton
 Rencana dan pelaksanaan perjalanan ke Wongsorejo, Banyuwangi, terbilang mendadak. Saya tidak mempersiapkan apa pun kecuali karena ada uang buat membeli pertalite. Cek ban dan rem masih oke, sekarang tinggal cari sopir pendamping saja. Dan setelah Cak Badi—atas saran Anam—menyatakan siap, keputusan pun diambil: malam Jumat, berangkat!




Pukul 20.30 persis, saya barangkat dari rumah dan mampir di rumah bibi di Pakamaban, tempat di situ pula saya janjian dengan Cak Badi. Walhasil, kami mancal 21.00 lewat sedikit dari sana, beragarak ke barat.

“Katanya ke sana itu 419 km,” kata Cak Badi.
“Kok kamu tahu?”
“Saya dikasih tahu Cak Anam” (yang kebetulan berangkat pagi tadi ke Galekan, Wongsorejo)
“Mayan jauh itu.” Saya menghela napas. 

Alhamdulillah, kami tidak terkendala kemacetan sebab perbaikan Jembatan Klampis. Yang biasanya macet mengular, malam itu tidak terjadi, bahkan hanya tersendat 3-5 mobil saja. Sebab itu, kami perhitungkan, perjalanan bakalan terlalu cepat tiba di tujuan: akan sampai di Nurul Jadid sebelum subuh, padahal saya membawa bekal untuk anak di pondok tersebut dan tentu saja saya baru bisa masuk setelah shalat subuh. Sebab itu, saya ajak Cak Badi lewat tengah kota Surabaya saja, itung-itung nyantai, menikmati panorama kota dan lampu-lampu serta tamannya, juga mengulur waktu, dan menghemat etoll pula.

Dari peretmpatan Jalan Kenjeran (Masjid Al Islah), rute yang biasa adalah kami belok kanan menuju GT Dupak, atau ke kiri, masuk Jalan Soekarno-Hatta dan masuk lewat Tol Tambak Sumur, kali ini, kami memilih untuk melaju secara lurus saja hingga ketemu perempatan besar setelah RS Husada Utama, belok kanan (ke Jalan Dr. Moestopo), tetap di sisi kanan (lewat jembatan; karena kalau lewat yang kiri itu ke Gubeng) sampai mentok lagi (karena ada sungai dan Museum Kapal Selam), lalu belok kiri, mentok lagi dan belok kanan ke jalan Pemuda, lalu belok kiri menuju Darmo, A. Yani, dan masuk Bundaran Waru. Inilah rute terpendek menuju KM 745 atau Simpang Susun Jambangan Waru, akses ke Malang, Probolinggo, atau ke Mojokerto dan Solo.


“Terus tol atau jalan biasa"

“Biasa saja!”
“Baik, turun Gempol!” kata saya.


Kami masuk tol dari KM 745 hanya sampai Gempol saja. Setelah itu, kami turun lewat jalan arteri, jalan Nasional sampai Tongas. Maklum, malam-malam begitu nyaris gak ada bedanya kami lewat di jalan tol dan lewat arteri yang kecepatan rata-rata mobil hanyalah 70-80 km / jam, kecepatan yang bisa dan biasa dilajukan di jalan tol maupun jalan arteri. 


Mengingat masalah jarak, kami yang berangkat dari Sumenep (Madura), ketika sudah melewati Suramadu (atau penyeberangan Kamal-Tanjung Perak tempo dulu) merasa seolah sudah sampai di Jawa, padahal tidak. Contoh, jika saya dari Guluk-Guluk hendak ke PP Nurul Jadid, Paiton, maka jarak tengahnya adalah di Pasar Loak (atau di Ujung/Tanjung Perak jika lewat Kamal). Jika tujuannya adalah PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, maka titik tengahnya adalah di SPBU 54.671.03, Cangkrin, Beji, Pasuruan. Itu baru saya sadari setelah saya ukur menggunakan peta digital dan odometer. 


Perjalanan sedikit tersendat di Bangil. Baru setelah itu, kami masuk Tol Tiongas karena gerbang tol inilah yang paling dekat dari jalan utama. Dan dari sana, kami masuk tol sampai GT Gending yang baru saja dibuka lagi setelah sempat ditutup karena kecelakaan lalu lintas waktu Hari Raya Idulfitri lalu. 



Kami subuhan di masjid Baitis Salam, di Tanjung, dekat akses jalan masuk ke Nurul Jadid. Aturan-aturan di masjid ini menerapkan aturan ala-ala militeristik, pake polisi shof segala, yaitu petugas yang menertibakan shaf jamaah dan biasanya takbir paling akhir di rakaat pertama. Ih, ada saja ide orang.


Setelah masuk ke pondok Nurul Jadid, saya bisa menjemput putri saya di pondok dan dia (serta saudara sepersusuannya) ngotor mau ikut ke Banyuwangi untuk turut serta takziyah. Proses izin selesai dan cus, kami lanjut, jalan lagi. Saat itulah terasa, bahwa Colt ini terasa sesak setelah ada 9 kepala di dalam mobil. Sepertinya saya harus punya Pregio atau L300.


Kami sarapan nasi pecel di Besuki. Bibi saya mau mentraktri, tapi saya menolak. Dia memaksa, saya ngotot bilang tidak. Akhirnya, saya pun membayar, hanya 85.000. Setelah itu, kami jalan lagi. Dan di kota Situbondo, saat saya yang mengemudi, tiba-tiba ada sepeda motor yang menyejajari kami.
“Keh Faizi?” tanya dia saat posisi kami sudah sejajar: dia di atas sepeda motor, saya di mobil.
“Iya.”


Langsung saya menepi. Kami bersalaman dan sebentar saja, kami berpisah setelah dia nitip duit, menggantikan uang nasi pecel yang saya beli barusan. Ya, Allah, belum salat duha saja sudah dibeginikan hamba ini. Terima kasih, ya, Allah. 


***

Kami mengikat janji dengan Paman Baidawi yang datang dari Jember. Rencananya, kami mau takziyah bersama, masuk ke lokasi bersama. Dibuatlah janjian di ‘rest area’ (dikasih tanda petik karena tidak resmi, hanya tumpukan warung dan lahan parkir di bahu jalan) Alas Baluran. Bertepatan di kordinat yang dijanjikan, begitu saya bersiah karena tampak Paman Baidawi menggubit di depan, nah, dari arah depan, sebuah Innova juga datang dalam waktu bersamaan, sein kanan, menepi ke kiri, sejajar dengan kami. Eh, ternyata yang datang Anam. Dia baru datang takziyah dan saat itu mau pulang. Kami tidak janjian dengan Anam tapi dia titen saja sama kendaraan saya dan sebab itu dia berhenti di sana, di tempat yang sama.  
Tiba di PP As-Syafaah, Galekan, Wongsorejo, Banyuwangi, jam menunjuk pukul 10.00. Tak terduga, di sana ternyata sudah ada Mbak Ateng dan Bi Mahmudah, yang rupanya menggunakan mobil yang tadi menyalip kami di dekat Paiton dan sudah saya curigai sebelumnya.  


Sore kami pulang. Tidak ada catatan dalam perjalanan pulang ini karena pasti sudah seperti biasanya. kami berhenti di pasar Blega untuk beli buah sebagai oleh-oleh. 

beli buah di Blega




Hanya ada satu momen menegangkan di Pademawu, yaitu di daerah Sumedangan, titik timur daya kota Pamekasan. Saat itu jam 3 pagi, setelah saya ngantar bibi di Jarin, ada sepeda motor yang ngebut dan oleng lalu nyaris menabrak saya. Rem paku, mendadak, dan semua penumpang bangun, terkejut lalu bertanya, ‘ada apa?’. Saya bilang, ‘mungkin ada anak mabok.’


Ternyata, kecurigaan saya terjawab setelah kami melewati Tambung dan kembali masuk  ke jalan Nasional 21, ruas Pamekasan-Sumenep di daerah Somber Nyamplong. Ada tiga orang ada duduk berjongkok dengan tangan di belakang leher. Beberapa orang polisi tampak mengepung mereka. Saya menduga, mereka baru saja main balap liar. Dan mungkin saja, satu di antara mereka itulah yang tadi nyaris menabrak saya, saat melaju kencang dari arah depan, tiba-tiba serong kanan, menjurus ke arah mobil saya. Untunglah, saya tiba di rumah dalam keadaan selamat, beberapa menit setelah azan subuh.

03 September 2023

Dikira Dekat, Ternyata Jauh

Hari ini saya pergi ke rumah Kiai Badri. Saya datang untuk menghadiri undangan beliau, menyambut calon besan yang datangnya dari omben, sampang. Adapun acaranya adalah acara pertunangan putranya, Mahas, dengan putra Kiai Fathor, Nuril.

Saya berangkat dari rumah selepas shalat duhur. Perjalanan molor karena jalan penuh sesak. Sulit sekali menjalankan lebih dari 50 km / jam. Entah kenapa kok lalu lintas sangat ramai tadi siang. Akhirnya, berangkat dari dusun saya Sabajarin (Guluk-Guluk, Sumenep, saya tiba di Jarin (Larangan Tokol, Pamekasan) pukul 13.25. jarak 37 km ditempuh nyaris satu jam setengah. Oh, lelah.

Selepas acara, pukul 16.00, saya pulang, tapi ada paman dan bibi serta mertua yang menumpang. Lanjutlah saya ke Giring, kecamatan Manding, dan tiba pukul 18.00 di sana. Setelah shalat maghrib, saya langsung putar balik, pulang, karena ada acara undangan tahlil atas kewafatan H. Rofiq, teman kecil saya yang wafat 100 hari yang lalu.

Bersyukur karena ternyata saya masih bisa nututi acara meskipun sebetulnya sudah pesimis. Tak terasa, tubuh kok terasa lelah. Iseng-iseng saya hitung, ternyata jarak tempuh saya dari siang sampai isya ke dua tempat hingga tiba kembali di rumah adalah 132 kilometer. Setelah saya hitung  dengan jarak lurus, eh, ternyata sama dengan perjalanan dari rumah saya ke pintu jembatan Suramadu, pantas saja cepek. Wira-wiri jarak dekat tak terasa jauh, tapi tetap terasa capek.




Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...