Pembaca

Tampilkan postingan dengan label 2345 Km. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label 2345 Km. Tampilkan semua postingan

23 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape VII: Kudus - Tuban - Lamongan - Gresik - Sumenep)

Rabu-Kamis, 6-7 Oktober 2021

Karena tidak perlu berurusan lagi dengan tuan rumah ataupun costumer service hotel, maka kami bisa dengan mudah meniggalkan pelataran Masjid Al-Aqsha, Kudus, untuk melanjutkan perjalanan pulang, menuju Tuban, ke Sunan Bonang. Sebetulnya, pagi ini saya juga ingin sowan ke Jekulo, menjumpai Bapak Haji Haryanto. Seorang kawan menyarankan agar saya subuhan di sana, di garasi PO Haryanto, karena Pak Haji biasanya ngimami subuh. Tapi, itu jelas sulit bagi saya karena tujuan utama saya adalah berziarah ke Sunan Jakfar Shadiq, dan saya sudah berada di tempat tersebut sejak semalam.


Senyampang kami melakukan perjalanan pulang, sambil lalu saya tetap menjalin kontak dengan si kawan, menanyakan apakah Pak Haji masih di rumah atau sudah berangkat ke Jakarta. Ternyata, saat mobil kami melintasi Jekulo, Pak Haji sudah pergi. Maka, dengan begitu, poin tambahan tidak dapat diambil. “Biar kapan-kapan kita ulangi, kita mampir ke sini,” kata saya pada yang lain, menghibur diri.


Di tengah perjalanan, kami sempat mampir di sebuah warung pinggir jalan untuk membeli air panas dan beberapa centong nasi putih di daerah Pati. Kami memang membawa sangu bubuk kopi dan lauk-pauk. Beberapa kali kali dibawain lontong dan nasi oleh kawan dan kami makan di atas kendaraan. Pagi itu, kami cukup beli nasinya lalu di makan di atas mobil.


Sesudah membuat kopi sambil berjalan, saya pun tidur. Maklum, sedari kemarin malamnya, sejak berangkat dari Purwokerto, saya tidak tidur sama sekali. Sementara Qudsi dan Anam masih lumayan, bisa sekejap terlelap waktu di Kudus.


Pagi itu, suasana alam belum panas. Saya tidak menyalakan AC meskipun di mobil sudah terpasang, hanya sesekali saja jika benar-benar dibutuhkan dan jalanan tidak begitu macet. Soalnya, ada dua kompartemen yang belum dilengkapi, yaitu (1) vacum penarik gas saat AC dinyalakan, dan (2) kipas tambahan jika ada kemacetan. Sejatinya, dalam kondisi mesin panas, gas mobil tidak terlalu kendor meskipun AC dinyalakan, namun temperatur akan naik secara signifikan jika macetnya lama (kalau cuman 10 menit masih mampu karena radiator mobil saya sudah mengadopsi tiga lapis).


Kami sempat ngetem sejenak di sebuah SPBU selepas kota Rembang. Eh, waktu itu saya melakukan siaran langsung di Facebook. Dan berkat siaran inilah, salah satu penontonnya adalah Gus Nadhief Shidqi, kemenkan Gus Mus, langsung menghubungi saya karena beliau tahu kalau saya mengakhiri siaran langung saat masuk SPBU.


Betul, kami ke SPBU di ujung timur kota Rembang tersebut bukan untuk isi bensin, tapi untuk bersih-bersih tubuh dan ganti pakaian dan karena gerah sekali. Agak lama kami di situ hingga Gus Nadhief datang bersama tiga putranya yang cantik dan ganteng. Kami berbasa basi dan foto-foto saja.


“Loh, kok tahu saya di sini?”

“Tadi saya lihat melintas di kota Rembang. Oh. Iya. Gak mau mampir tah?”

“Oh, tidak, terima kasih, Gus. Kami masih mau lanjut, mau pulang. Sudah lama, nih. Saya kangen rumah.”

“Tunggu, ya. Saya mau ke situ.”

“Tahu Sampeyan SPBU-nya?”

“Iya, tahulah. Kiri jalan kalau dari sini.”

Begitulah kronologi ceritanya sehingga kami bertemu. Kalau tak salah, SPBU tersebut adalah SPBU 44.592.15. Pertemuan singkat itu sangat berkesan.


Setelah itu, mobil berjalan lagi dan saya tidak nyopir. Saya tidur dengan berselonjor kaki, di jok tengah, tidur benar dan tidak bangun-bangun. Lasem, Sarang, Sluke... kota-kota tersebut terlewati tanpa sepengetahuan saya. Saya baru bangun beberapa saat sebelum Jenu, hingga kami akhirnya parkir di depan masjid Tuban, sebelah barat alun-alun, pada pukul 10.35.

Suasana di Sunan Bonang lebih hidup daripada tiga tempat makam wali sebelumnya yang kami singgahi. Entah karena siang hari atau karena memang di situ lebih ramai, wallahu a’lam. Toko tenda banyak yang buka. Para pengunjung, tampaknya juga lebih banyak. Ada catatan khusus: ada orang yang suka maksa-maksa jualan minyak—atau peminta-minta di tempat lainnya—adalah termasuk hal yang bikin peziarah kurang enak, kurang pling, termasuk di tempat ini, sangat berbeda dengan di Ampel, Syaikhona Kholil, dan di Maulana Malik Ibrahim.


Cuman, saya kadang khawatir saat menghadapi mereka: kalau menolak, khawatir satu di antara mereka adalah bukan orang sembarang, tepatnya orang istimewa yang menyamar jadi jelata. Makanya, pekewuh kalau menghadapi situasi seperti ini. Sebab, alam sadar kita akan selalu bekerja untuk melihat fenomena empiris, yang nyata, yang kasat mata, yang seperti pada umumnya. Tapi, sungguh ada orang yang bahkan sama sekali tidak mempercayai hal macam itu, yang tidak pernah tahu ada tarekat Mulamatiyah, juga tidak ngeri ada orang yang sedang uji nyali sebelum menjadi wali. Namun, ada pula yang baru percaya setelah berpikir lama, padahal mengambil keputusan dalam situasi seperti itu tidak butuh waktu lama, harus spontan.

Perjalanan siang hari dari Tuban ke Sunan Drajat melewati Jalan Deandels, melewati pesisir utara. Karena sudah melaksanakan shalat duhur-asar di Sunan Bonang, kami lebih santai dalam menempuh ruas pantura yang panas dan terik. Kami sempat berhenti di Brondong untuk menukar receh karena persiapan uang receh sejumalah 80.000-an selama perjalanan sudah habis.



Perjalanan dilanjutkan lagi menuju Sunan Drajat, di Lamongan, dan tiba di sana pada pukul 13.15. Setelah masuk makam dan mengaji, pulangnlah kami. Saat turun dari makam, tiba-tiba saya berpapasan dengan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip dengan almarhumah istri saya. Hati saya berdecak, antara rindu dan deja vu.


“Ndak mampir ke Maulana Ishak dulu?” tanya Gus Ahmad Jauhari saat saya kabarkan kalau kami telah bergerak dari Sunan Drajat ke Panceng, menuju kediamannya, di komplek Madrasah Tabiyatul Wathon, Campurejo.

“Pengennya saya banyak, waktunya yang sedikit,” balas saya.


Perjalanan dari Drajat ke Tarbiyatul Wathon, tempat tujuan kami di Gresik, sangat singkat. Jaraknya juga tidak jauh, hanya 10 kilometeran. Meskipun kabupaten Gresik, tapi rumah Jauhari ini mepet perbatasan Lamongan. Sementara Sunan Drajat secara administratif ada di Kabupaten Lamogan meskipun mepet timur, dekat Gresik. Dan dalam waktu 15 atau 20 menit kemudian, kami pun masuk dan parkir di halaman masjid Tarbiyatul Wathon. Di sana, kami bertemu Jauhari, Lukman, dan beberapa.

Saya sudah berkali-kali tiba di tempat ini, terhitung sejak tahun 2010 yang lalu untuk yang pertama kali. Entah kenapa saya selalu ditakdirkan main ke tempat ini. Barangkali adalah karena di situ ada kawan akrab saya sekaligus adanya magnet dari Mbah Kalbakal (yang menurut KH Abu Bakar—info melalui Jauhari—diduga bernama Sayyid Ali Rihdo). Masa beliau diperkirakan sebelum Walisongo, dan bisa jadi selisipan dengan zaman Fatimah binti Maimun.

Setelah berha-ha-hi-hi, santai, tiduran, kami pun sowan ke Makam Mbah Kalbakal yang letaknya berada di sebelah barat mihrab masjid, dekat sekali. Dari situ, kami balik lagi ke tempat istirahat untuk makan secara lahap. Maklum, siangnya kami tak makan, hanya tadi pagi menjelang siang.


Menjelang mahrib, sekitar pukul lima lewat dikit, kami bergerak ke Gresik. Lagi-lagi, tidur lagi. Istirahat di mobil sejauh ini selalu tidak cukup. Peta digital diarahkan ke Muhajirin Center, Gresik. Tujuan kami selanjutnya, dan ini yang terakhir, adalah menjumpai Ihdal Minan, keponakan saya yang menjadi imam di masjid Muhajirin.

Kami shalat mahrib-isya di sana semabari menunggu Nanang, nama panggilannya, untuk menunaikan tugasnya menjadi imam shalat isya di masjid. Setelah itu, Nanang mengantar kami ke makan Maulana Muhammad Ainul Yaqin atau Sunan Giri dan kami akhiri ziarah Walisongo ini di Makam Maulana Malik Ibrahim.


“Ke mana kita duluan?” tanya saya.

“Terserah.”

“Kita dari awal sudah tidak sesuai presedur. Kalau mau dimulai dari yang paling sepuh, mestinya kita mulai dari Maulana Malik Ibrahim. Tapi, yang kita kunjungi pertama adalah Sunan Ampel karena tempat itu berada di rute paling awal serta mudah dijangkau di awal perjalanan.”

“Jadi?”

“Kita tutup safar ini di Maulana Malik.”

“Yang artinya? Beliau yang paling sepuh tapi dikunjungi terkahir kali?”

“Anggap saja beliau itu ngalah, biasanya kalau yang sepuh selalu ngalah, he, he, he, ...”


Setelah dua kunjungan ke makam Walisongo itu dipungkasi, maka selesai pula tujuan kami keliling Jawa, ke makam wali-wali, khususnya Walisongo. Kini, saatnya kita pulang.


“Tunggu dulu, saya mau nyervis,” Nanang menahan.

“Apa lagi ini?”

“Kita makan di tempat yang enak.”

“Di mana itu?”

"Ade, deh, pokoknya kita makan."


Nanang lalu mengantar kami dengan sedannya. Mobil saya diparkir di depan Muhajirin Centre. Kami bergerak ke sebuah warung bernama Pawon Cabe. Kami semua dihormatinya dengan makan penutup malam. Dan kami pula yang menjadi tamu terakhir di warung itu. Pasalnya, belum lagi kami habiskan sebatang rokok, lampu-lampu di dalam warung sudah mulai dipadakam. Saya cek, jam menujukkan pukul 21.00. Kami kembali ke Muhajirin Centre, bercakap sebentar, lalu pamit pulang.


Perjalanan Colt dari Gresik ke Surabaya dikemudikan oleh Anam. Ia lalu turun di Kedinding, mau nginap di sana karena besoknya dia akan kembali ke tempat tugas mengajarnya di Malang Selatan. Setelah itu, saya melanjutkan perjalanan pulang ke arah timur, berdua saja dengana Qudsi. Dia yang mengemudi dan saya duduk di jok sebelah kiri.

Perjalanan pulang, melintasi ruas Jalan Nasional Rute 21 Madura, berasa sangat biasa. Mungkin, karena rute ini terlalu sering dilewati, beda dengan saat kami berangkat yang memilih jalan pantai utara Madura. Tidak ada cerita lebih dalam perjalanan pulang kecuali rasa bahagia yang muncul dan meletup-letup di antara tubuh yang capek luar biasa. Kami pun tiba di halaman rumah pada hari Kamis, 7 Oktober 2021, pukul 02.40.

DATA-DATA

Berangkat Kamis 30 September, sampai Kamis 7 Oktober (2021)

7 hari

163 jam

2346 kilometer

2 x makan di warung

27 tempat persinggahan

Bahan bakar tidak dihitung






21 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape VI: Purwokerto - Wonosobo - Temanggung - Semarang - Kudus)

Sejak dulu saya hanya dapat membayangkan sampai ke Purwokerto lalu makan tempe mendoan di pagi hari, ternyata keinginan tersebut kesampaian puluhan tahun kemudian meski sebatas satu poin saja, yaitu tempatnya, mendoannya tidak. Sebabnya, pagi sekali di situ, kami harus segera meninggalkan kota tersebut demi menjangkau lebih banyak tempat yang harus disinggahi dan dituju. Hal itu telah sesuai dengan rancangan perjalanan pulang.

Saya bangun sebelum azan subuh, Selasa, 5 Oktober 2021. Tumben, rasa lelah tidak membuat kami terlelap dan molor. Tidur di rumah yang tenanglah yang membuat kami cepat ngorok dan saya benar-benar mencapai target untuk beristirahat. Usai subuhan di Masjid Thalhah bin Ubaidillah, masjid yang bersebelahan dengana rumah beliau, saya kembali ke kamar, membangunkan dua anggota yang masih telentang. 

Setelah ditemui di ruang tamunya, berbincang sedikit tentang banyak hal, Bibi mempersilakan kami makan. Tentu saja, tanpa perlu ewuh-pekewuh, kami segera memanaskan perut dengan nasi dan ayam goreng dan lalapan sembari memanaskan mobil setelah mengecek oli dan air radiator.

Sebelum pukul tujuh, kami telah meniggalkan Pasirmuncang menuju Wonosobo. Akan tetapi, saat kami melintasi kota Banjarnegera, tiba-tiba saya teringat seorang kawan lama. Abdullah Haqqin Nazil namanya. Saya tepikan kendaraan di sebuah toko yang tutup, dekat Kedai Donat Cihanjuang, sembari mengeluarkan termos kopi lalu merokok dan mulai mengeluarkan ponsel, mencari nama di buku alamat.
Nama “Si Doel” ada! “Semoga dia tidak ganti nomor,” kata saya dalam hati. Pasalnya, saya sering dibikin sebal dan menyesal telah menyimpan ribuan nama dan nomor orang, dijaga, dirawat, eh, ternyata sudah ganti semua, bahkan ada yang pindah kepemilikan. Rata-rata, tak ada kawan yang bisa merawat nomor ponselnya lebih dari 10 tahun, apalagi sampai 20 tahun seperti Si Doel ini. 
Hanya beberapa menit, Si Doel—panggilan kesayangan saya untuk beliau—datang. Kaget sekali dia. Kami berpelukan, wah, seperti drama. Lalu, dia memaksa saya agar bertandang ke rumahnya, padahal dia sedang mengenakan pakaian dinas. “Saya sudah izin sebentar kepada atas. Ayo, harus ke rumah!” ajaknya. 

Kami mampir di rumah si Doel, malah ditahan-tahan agar tidak segera ke Wonosobo, padahal tadi sudah terlanjur janjian dengan Haqqi, sang tuan rumah di Wanazabe. Setelah berjuang keras, akhirnya kami diperkanankan pergi, setelah satu jam lebih bertandang di situ. Waktu sebegitu singkat sudah tergolong lama karena mampirnya tidak terencana. Tapi, jika ingat dia adalah kawan lama yang tidak dikunjungi, maka satu jam itu tidak ada apa-apanya untuk duapuluh tahun lebih tidak bertemu. Intinya, apa pun ceritanya, sebagiamana hidup ini, jalan cerita tetaplah jalan cerita, hingga kami lanjutkan perjalanan ke Wonosobo yang berasa dingin sejak beberapa kilometer sebelum tiba.

Kami mencapai lokasi Masjid Al-Manshur, Kauman, masjid legendaris dengan arsitektur lawas, pada pukul 10.40. Situasi sangat ramai. Rupanya, takmirnya  mengadaklan vaksin bersama masyarakat. Sebelum Anto Bagong datang bersama Akmal Abid yang menyatakan akan ikut menyambang setelah tahu saya datang, Haqqi Anshari juga kontak-kontak kawannya. Akhirnya, saya bisa berjumpa dengan beberapa orang yang sudah lama kenal juga orang yang kenalnya baru saja: Mbak Astin (senior saya di IAIN Sunan Kalijaga), Salman (teman di komunitas BMC) dan kawannya, Tofa), hingga akhirnya Mas Anto dan Akmal Abid datang (mereka berdua adalah kawan sesama penggemar Colt T120). 

Saya sangat terharu melihat kedatangan Mas Anto mengingat beliau, tadi sebelum tiba, menyatakan sedang berada di Temanggung lalu balik ke Wonosobo untuk menemui saya. Ternyata, yang ngasih tahu Mas Anto perihal posisi saya adalah Pak Bambang (Benar-benar kayak orangtua itu Bapak, memantau perjalana saya terus-menerus, sejak berangkat hari Kamis sampai ini sudah masuk hari Selasa). Dari Temanggung untuk satu keperluan, beliau balik arah ke Wonosobo hanya untuk menjumpai saya? Waduh. Dan ternyata, kejadian sesudahnya adalah; beliau balik lagi ke Temanggung, mengawal mobil saya.

Setelah melaksanakan rukun pertemuan kontemporer, yaitu sesi foto bersama, saya pun pamit kepada Haqqi dan teman-teman yang lain untuk melanjutkan perjalanan. Sebelum itu, kami sudah melaksanakan shalat jamak di masjid serta sowan kepada Kiai Chaedar Idris yang kediamannya bersebelahan dengan masjid. 

Cus Temanggung...

“Tolong jangan makan dulu,” pesan Mas Anto kepada saya, tadi lewat sambungan telepon, sebelum beliau tiba. “Saya mau ajak Anda ke tempat makan yang enak.” Ternyata, yang dimaksud tempat makan enak itu adalah makan entok di warung Raja Mentok, Kertek. Lokasinya tak jauh dari rumah Mas Anto. Tapi, rumah makan ini ternyata jual ayam goreng juga. Ayam memang paling ngetop sedunia.

Sembari makan, Mas Anto bilang kalau dia mau mengantar kami ke Kadilangu, Demak, ke makam Sunan Kalijaga.

“Wah, ndak usah merepotkan, Mas.”
“Bukan merepotkan, tapi kami memang yang ingin ikut ziarah, mumpung,” katanya.
“Baiklah jika alasannya memang begitu.”

Maka, naiklah saya ke mobil beliau, sebuah mobil pikap box bermata bulat, “bagong” kata orang. Sementara  Colt saya dibawa Anam dan Qudsi. Dua mobil siap bergerak menuju Demak. Namun, dalam perjalanan dari Wonosobo menuju Temanggung, kami sempat singgah di Kledung untuk sesi foto sore, foto bersama dengan latar Sindoro-Sumbing, sebelum sampai ke Tembarak.

Sebab matahari sudah turun,  kami sepakat untuk shalat maghrib di rumah Mas Akmal Abid. Pasalnya, saat tadi kami mengikuti Mas Anto ke rumah istrinya—mungkin istri yang satunya, bukan istri yang satunya lagi—beliau tidak jadi membawa bagong stationnya, lalu memutuskan untuk bawa bagong pikap box-nya yang pada saat itu diparkir di rumah Mas Akmal. Jadi, selain singgha, ke rumah Mas Akmal kami juga untuk tukar kendaraan (Mas Anto ini, konon, punya banyak Colt, tapi entah di mana saja berada). 

Kami shalat maghrib di Masjid Al-Mubarok, Tembarak Kidul, Desa Tembarak, Kec.Tembarak, Kabupaten Temanggung. Kala itu, masyarakat setempat agaknya sedang melaukan shalat daf’ul bala’ karena esoknya (Rabu, 6 Oktober, bertepatan dengan 29 Shafar) bertepatan dengan Hari  Rabu Wekasan, rabu terakhir di bulan Shafar. Kami pun berdoa agar safar kami diberi keselamatan sampai ke rumah, di Madura. 

Sehabis shalat, mobil langsung dipancal. Saya dan Mas Anto memimpin, sedangkan Colt Pariwisata, colt saya yang dikemudikan Anam, mengekor di belakang. Perjalanan dari Temanggung menuju Semarang sungguh mengesankan malam itu. Sepanjang perjalanan saya ngobrol berbagai macam hal-ihwal kehidupan, mulai dari usaha dan perdagangan hingga wiridan. 

Lampu-lampu kota, seliweran orang yang berkendara dan melintas, serta toko-toko yang masih buka dan tutup, menjadi hiasan perjalanan kami. Hidup tampak sangat dinamis dan semarak. Saya pun menikmati perjalanan, terutama perjalanan di trek atau rute yang saya lewati untuk yang pertama kali, naik Colt. Ada banyak hal yang saya pelajari.

Hingga mobil masuk area kota Semarang, kami tidak masuk jalan tol sama sekali. Saya buta peta, ikut saja, begitu saja mobil saya yang ada di belakangnya, termasuk ketika Mas Anto mengarahkan rute ke Kota Tua, Semarang, saat beliau hendak menghormat kami dengan sajian makan malam.

Lokasi yang dituju adalah Warung Nasi Goreng Babat Pak Karmin Berok. Kami tiba di situ pada pukul 20.30. berdasarkan penjelasan dari Mas Anto, sepertinya warung tersebut adalah warung legendaris. Bagi saya, legendaris atau tidak, yang terpenting adalah makan dan tidak kelaparan. Pasalnya, selera kuliner saya sangat rendah. Kalau ternyata makanannya enak, maka anggaplah itu bonus bagi lidah.

Acara makan lancar jaya, tapi ketika distarter, si Bagong ngambek: mobilnya nyala, tapi gas tak mau turun. Mas Anto tak kehilangan gaya. Beliau buka jok, memperhatikan kabel gas dan tak tampak ada hal yang mencurigakan. Ini aneh. Untungnya, atas bantuan Akmal (setelah ditelepon) kami tahu bahwa ada per yang patah. Ya, per pengait gas terjatuh karena patah. Di antara yang buntung, masih selalu ada hal yang untung, yakni bahwa sisa patahannya ada di kolong mobil. Tinggal tekuk ujungnya, kaitkan kembali, jreng lagi. Kedua mobil kami kembali melahap jalanan Semarang – Demak yang mulai tampak sepi di malam hari.

TIGA SUNAN DI JAWA TENGAH

Di Jawa Timur ada 5 dari 9 Walisongo: Sunan Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Drajat di Lamongan, Sunan Bonang di Tuban. Di Jawa Barat (Cirebon) ada satu, yaitu Sunan Gunung Jati. Nah, tiga tersisa ada di Jawa Tengah dan lokasinya saling-berdekatan, yaitu di Kadilangu (Demak), Kota Kudus, dan Gunung Muria. 


Saat tiba di Kadilangu, orang-orang masih banyak yang melek. Tapi, begitu saya menyusuri koridor pertokoan, gang menuju makam, banyak sekali toko yang tutup, bahkan cenderung sepi. Saya kira, ini bukan soal karena kala itu sudah pukul sebelas malam, tapi karena pandemi. Dengan berkurangnya jumlah pengunjung, maka itu artinya peredaran uang para palaku bisnis, terutama para pedagang sovenir di lokasi makan akan turut menurun. Kasihan, sih, tapi mau bagaimana lagi? Kiranya, baik kita luangkan waktu untuk berpikir, bahwa kesehatan, kenyamanan, ketenteraman dan semua nikmat yang kita rasakan dalam rentang waktu yang lama, pada akhirnya, atau pada suatu waktu, akan hilang dan kita tidak berdaya untuk tertus menggenggamnya. 

Selepas mengaji di makam, eh, ternyata Mas Anto malah mau ikut kami, melanjutkan perjalanan dan tidak jadi balik ke Temanggung seperti rencananya sore tadi. “Tanggung,” katanya, “Saya ikut ke Sunan Muria dan ke Sunan Kudus saja,” imbuhnya.

Maka, lanjutlah kami ke Kudus, lalu naik ke atas, ke Bukit Muria. Kami mendaki jalan yang sangat tinggi. Kira-kira setengah jam lebih sedikit, pukul 1.30, kami tiba di Muria.

Hal yang sama juga juga saya lihat di Muria. Bahkan, kami yang salah jalan pun (karena tidak parkir di bawah, melainkan di atas, di ujung terakhir batas jalan) tidak ada yang segera menegur karena situasi sudah sangat sepi. Toko-toko pada tutup. Tak ada pengunjung. Petugas pada tidur. Bahkan, hanya ada satu orang yang sedang mengaji di dekat cungkup. Sisanya adalah benda-benda yang beku. 

Sambil duduk, saya membaca doa. Air mata tak terasa menggenang pada kornea. “Bisa begini, ya, kehidupan fana? Semua berubah begitu cepat. Yang dulu ramai, kini sepi. Kiranya, begitulah hidup. Dulu kami ini hidup berdua dan sekarang saya sendiri. Dan saat ini, saya datang bersama teman-teman, tinggal bersama teman-teman, bergaul dengan tetangga, bermain bersama anak, namun kelak mungkin akan seperti yang lain, yang pergi duluan, pulang ke rumah keabadian seorang diri, sendirian....”

Kami akhirnya pulang, turun ke bawah, kembali ke Kudus. Di sana, situasi sama persis. Tak banyak orang berseliweran, hanya ada beberapa yang begadang di depan toko. Saya mau menghubungi Hilman—saudara saya yang rumahnya ada di belakang menara, tapi anaknya lagi ada di Semarang. Mau menghubungi Masda—suami Ning Khilma Anis—yang rumahnya hanya sepelemparan lembing dari Menoro, di Langgar Dalem, tapi mereka berdua sedang tidak di sana. Mau menghubungi Iwan yang ada di Loram, yang sebelumnya saya hubungi, merasa tidak enak karena waktunya sudah sangat larut. Maka, jadilah saya habiskan sisa malam itu di dalam masjid saja, shalat sunnah hajat sampai kaki berasa kram, sampai azan subuh berkumandang.
Setelah pagi, barulah pintu makbarah dibuka. Seingat saya, di sinilah satu-satunya makam walisongo yang ditutup di malam hari di masa pandemi.  Oh, ya, Kanjeng Sinuhun Maulana Jakfar Shadiq Sunan Kudus itu merupakan buyut daripada Kiai Muhammad Syarqawi yang notabene merupakan pendiri Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, dan juga buyut saya. Barangkali atas dasar itulah saya merasa lebih begitu dekat dan tenang di sana. 

FOTO-FOTO LAINNYA 











19 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape V: Lembang - Ciawi - Ciamis - Purwokerto)

Pagi sekali, tapi bagi saya rada terlambat, kami meninggalkan Lembang. Hari ini adalah hari Senin (4 Oktober 2021), ramainya jalan sudah pasti. Orang-orang mulai masuk kantor.

Keterlambatan ini disebabkan oleh ‘penahanan’ tuan rumah: ditahan agar tidak segera pergi berikut alasan yang sama dengan tuan-tuan rumah yang lain, yaitu “makan dulu” atau “sarapan dulu”. Peristiwa macam ini akan tidak terjadi kalau kita tidur di hotel. Kita bisa tinggal dan pergi kapan pun, itu untungnya. Tapi minusnya, ya, juga ada: bayar dulu, baru pergi.

Kami pulang melewati jalan tikus. Ini kerjaan peta digital yang seoalah sengaja memandu kami ke jalan yang tersesat, jalan yang tidak layak dilalui mobil tua. Jalannya sempit nan terjal, bahkan di satu titik kami nyaris melorot, padahal dalam kondisi percepatan di gigi kesatu, itu saking terjalnya. Pasalnya, kami salah mengambil langkah, tidak ambil ancang-ancang mengingat tanjakannya berbentuk “v”, menekuk, dan patah.

Kala itu, Mizan Asrori ikut bersama kami. Awalnya, saya kira dia naik sepeda motor, ternyata tidak. Dia ngojek dan tadi malam turut mengingap di rumah Pak Hendro. Dia turun dari mobil kami di tempat sebelum mobil masuk tol, entah jalan apa namanya.

Selanjutnya, kami mengarah ke Tol Pasteur dan isi bahan bakar di salah satu SPBU-nya. Tujuan kami adalah ujung kilometer Tol Bandung – Cileunyi yang tak seberapa jauhnya.

Lepas dari pintu tol,  kami kembali berhadapan dengan jalan arteri, jalan sesungguhnya bagi perjalanan kami di area selatan Jawa. Ini sangat menyenangkan. Semuanya serbabaru: alamnya, hawanya, auranya, jalannya, semuanya. Apakah semua yang baru itu selalu menarik hati? Banyak dijumpai alis dan hidung di tempat ini, tapi barangkali tak satu pun yang berjodoh dengan hati.

“Saya sangat senang kalau melewati medan-medan jalan seperti ini,” kata Qudsi menanggapi pemandangan jalan yang berkelak-kelok dan naik-turun, “Benar-benar berasa perjalanan sungguhan,” susulnya disertai tawa.

“Ya, senang saja kalau tidak sambil nyopir,” Anam menanggapi, sedikit nada bergurau dalam intonasi.

Melalui pesan, saya bertanya kepada Aliorang yang akan saya sambangi pada etape ke-V kali ini—untuk memastikan kondisi dan posisi rumahnya. Dan begitu kami masuk area Nagreg, setelah melewati Cicalengka, Qudsi berkomentar lagi.


Nah, ini jalan yang ngetop banget,” katanya,ngetop dalam hal macetnya di musim mudik.”

“Ya, pantas saja, wong jalannya menanjak panjang seperti ini. Truk berat akan megap-megap.”

Setelah Malangbong, mobil kami sempat mengalami kendala. Sering ada kemacetan di tanjakan, jalan tersendat, beberapa kali menahan kopling dengan posisi gigi masuk; adalah beberapa faktor yang diduga menjadi penyebabab lemasnya per kopling. Hal ini membuat percepatan susah untuk masuk gigi 1, harus langsung masuk gigi 2, padahal itu sangat berat jika posisi bukan di jalan datar dan menurun. Mungkin ada onderdil yang harus diganti atau karena yang terpasang bukan yang asli, entahlah. Yang jelas, saya segera menghubungi Kang Akbar Rizal agar dihubungkan dengan bala bantuan di Ciawi atau Ciamis nanti untuk melakukan pengecekan. Terbayanglah ketertundaan perjalanan. Duh!

 

Sebetulnya, mobil masih bisa dibuat jalan asal diistirahatkan dulu, didinginkan, tapi masak iya mau begitu melulu jika ternyata dalam perjalanan pulang nanti akan kami temukan banyak kemacetan di jalan? Kita kan gak tahu. Maka, diperbaiki adalah cara yang lebih aman daripada menyiksa diri, eh, menyiksa mesin, kalau harus selalu start dari gigi-2 di tanjakan. 

Selagi saya bertamu sama Ali yang tinggal di rumah istrinya yang tak jauh dari Puskesmas Ciawi, tiba-tiba bala bantuan datang. Mas Akbar rupanya mengordiansi bantuan dengan Kang Nana. Walhasil, masalahnya sepele, ternyata hanya stelan kopling saja kurang stud, padahal saya sudah setel sendiri, tadi, sebelum berangkat. Rupanya, masih ada stelan lagi yang harus dikencangkan. Posisinya berada di bawah dek, stelan kabel kopling. Ini pengetahuan baru bagi saya.

Puncaknya, sama kejadian dengana hari kedua saat saya menghadapi Mas Sikut (Kuhdiyanto), tim bengkel Mas Nana tidak mau dikasih imbalan apa pun, sama sekali. Waduh, Colt mania kok gitu, sih. Jadi ewuh pekewuh saya ini. Kapan saya bisa membalasnya? Ayo, tandanglah ke Madura! Kata saya.

Setelah makan siang dengan lalapan dan beberapa jenis ikan air tawar, kami shalat duhur bersama. Saya diminta menjadi imam, padahal penduduk lokal adalah yang utama. Akan tetapi, Uwak Empon—paman mertua Bang Ali ini—tetap ngotot, mendaulat saya untuk mengekskusi posisi pimpinan sembahyang. Habis itu, bahkan beliau juga meminta saya memimpin tahlil untuk mendiang istri tercintanya, almahumah Romlah, yang wafat 8 hari yang lalu. Saya lantas teringat istri saya yang wafat 55 hari yang lalu.

Bang Ali lalu memandu kami menuju ke utara, ke Suryalaya. Tiba di sana, kami langsung menuju patapan Suryalaya, berdoa di komplek pemakaman Abah Sepuh dan Abah Anom. Hingga asar berkumandang dan kami shalat lalu mengikuti rutinan khataman hari Senin. Bersyukur pula, kami sempat bertemu dengan Ajengan Baban, putra Abah Anom, di halaman masjid. 

Jika di saat berangkat kami melewati Sukaresik dan Pasar Panumbangan menuju ke Pondok Pesantren Suryalaya, pulangnya kami belok kiri di Pasar Panumbangan, lewat jalan pintas menuju Cihaurbeti, lalu belok kiri lagi menuju Ciamis. Jalan ini, konon, lebih menghemat jarak tempuh ke tujuan kami berikutnya: rumah Kang Godi Suwarna.

Sore itu, kami berhasil mengunjungi rumahnya yang berada persis di sebelah stasiun kereta api Ciamis. Tapi, karena mobil tidak bisa masuk di halaman rumah yang diapit oleh sawah dan kolam, kami memarkirnya di depan SMA 1 Negeri CiamisDipandu oleh Toni Lesmana, ipar Kang Godi yang tadi menjemput saya di Alun-Alun Ciamis, kami naik sepeda motor ke dalam, melewati gang kecil.


Waduh, bahagia sekali saya jumapa Kang Godi. Maklum, kami tak pernah berjumpa selama 10 tahun. Dan Kang Godi bercerita, bahwa selama musim pandemi ini, dua tahun lamanya dia tinggal di rumah, “Ke Bandung pun saya tidak pergi sama sekali,” desisnya diselai tawanya yang lepas. “Untung makan kami masih ada, sayur tinggal petik, ikan tinggal tangkap.”

Wajar beliau bilang begitu mengingat kampungnya, Lembur Balong, merupakan daerah yang subur, banyak kolam, banyak air, dan persawahan. Di sana, ia membangun studio tari untuk sang istri. Namanya studio Titik Dua.

Tapi, apa daya, sehabis shalat maghrib berjamaah di musholla dekat rumahnya, kami harus pamit. Oh, ya, mushalla itu, kata Kang Godi, dulu jadi mushalla-nya orang-orang stasiun. Tapi, sejak adanya kebijakan penutupan stasiun, ia menjadi terpisah karena staisun membangun tembok yang kini tidak bisa dilintasi.

Malam itu kami ditahan untuk mengingap oleh Kang Godi, tapi saya ngotot tetap pergi. Sebetulnya, saya mau jadi tahanan semalam, ditahan di Ciamis. Ini pasti asyik jika dibuatkan lagu “Malam Manis di Ciamis” (sebagai tandingan daripada lagu “Semalam di Cianjur”), kata saya dalam hati. Tapi, apa daya, jika keinginan tersebut dituruti, pastilah jadwal kedatangan saya di Madura akan lebih terlambat lagi. Kami akhirnya berangkat setelah lebih dulu menghabiskan sajian menu masakan khas Ciamis yang luar biasa: nasinya, sambelnya, guraminya, pepesnya, dan entah jenis sajian apa lagi namanya.

Dalam perjalanan ke arah timur laut dari Ciamis, menuju Purwokerto, sebetulnya saya punya banyak rencana pilihan tempat untuk mengingap. Tapi, pilihan jatuh pada rumah Bibi Naqiyah, bibi yang satu kali pun tidak pernah saya jumpai. Bibi ini adalah sepupu dua kali dari jalur ibu, cuman beliau memang tinggal di Purwokerto bersama suami dan putra-putrinya, meninggalkan Madura sejak lepas sekolah ibtidaiyah.

Sambil berkordinasi dengan sepupu dua kali saya, Husnan, yang merupakan kemenakan dari Bibi Naqiyah, akhirnya saya terhubung dengan beliau lewat sambungan telepon. Beliau menyatakan senang jika kami bermalam di sana. Menurut Husnan, beliau ini mempunyai beberapa kamar kososng di belakang rumahnya. Itu artinya bikin kami lebih tenang dan bisa tidur tanpa mengganggu tuan rumah. “Silakan datang kapan saja, saya tunggu!” kata beliau lewat pesan pendek.

Saat kami mencapi Lumbir, Google Maps mengarakan kami belok kiri. Tapi, begitu seratus meteran kami masuk, saya tidak yakin lalu memutar haluan, putar balik.

“Nam, saya tidak yakin,” kata saya yang sedang berada di belakang kemudi kepada Anam yang duduk di samping kiri. “Kita balik saja, lewat jalan utama. Lebih jauh tidak apa-apa daripada dekat tapi malah ketemu yang aneh-aneh.”

Dalam perjalanan, kami—saya tepatnya—memang nyaris tidak pernah menggunakan peta digital. Kami hanya pakai Google Maps hanya kalau sedang dengan orang yang sedang menggunakannya. Sementara saya hanya mengandalkan ATLAS cetak andalan yang saya beli di tahun 2011 dengan harga sepuluh ribu rupiah. Atlas ini sngat membantu karena tetap bisa dipakai tanpa harus ada paket data dan butuh suntikan baterai.

Menurut kalkulasi peta, lewat jalan kecil itu dapat menghemat jarak lebih dari 10 kilometer, tapi saya tetap tidak tergoda, tetap pilih jalan umum, jalan utama. Akhirnya, kami lanjut perjalanan ke arah timur itu namun dengan sedikit membuang arah sedikit ke timur daya, melewati Wangon, Jatilawang, Rawalo, dan baru ke utara dari Patikraja.


Kami tiba di Purwokerto, di kediaman Bibi, kira-kira pukul 23.00, atau lewat lima menit. Pintu depan sudah ditutup, tapi ternyata beliau belum istirahat. Bukan cuman disambut, tapi kami masih dibuatkan teh dan hidangan pengganjal perut, semacam martabak tapi bukan martabak. Mungkin makanan khas Purwokerto, atau sebetulnya itu makanan populer yang menjadi asing karena kami semua belum pernah mencicipinya sama sekali.

 

 



 














 

 


13 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape IV: Cipanas - Lembang)


Di hari ke-4, Ahad tanggal 3 Oktober, saya memang tidak merencanakan pergi pagi-pagi ke ke Bandung, tujuan kami setelah dari Cipanas. Pasalnya, semalam suntuk tidak tidur, langsung cus dari rumah Pak Bambang setelah kopdar di rumah Pak Broto, masa tiba di Cipanas cuman duduk sebentar terus berangkat lagi? Kurang elok rasanya, baik bagi tuan rumah maupun bagi tubuh sendiri.  
Kejutan belum berakhir. Tidak disangka, kediaman Didin alias Amin ini berdekatatan dengan rumah Firdaus. Hal ini baru saya ketahui setelah utak-atik ponsel android yang sengaja saya pinjam ke Ummul demi perjalanan ini. Awalnya, saya terhubung dengan Eko Cahyono, teman si Firdaus. Dari si Eko ini barulah saya terhubung si Daus (Oh, ya, Daus ini anak band, timnya D’Masiv. Mungkin Anda kenal nama band ini).

Singkat cerita, ternyata, rumah Firdaus berada di seberang jalan masuk ke rumah Amin, depan pasar Cigombong yang saat itu sedang diperbaiki. Hal ini saya ketahui setelah saya diantar Amin untuk bertandang ke rumahnya. Sementara Anam tidur karena dia bakal ambil jatah nyopir ke Bandung setelah ini, saya main ke rumah Firdaus.

Benarlah, kaget sekali si Daus karena saya benar-benar mendatanginya, padahal yang saya rencanakan sebelumnya adalah berjumpa dengan Eko lebih dulu dan Daus nomor berikutnya. Itulah rahasia takdir: yang dirancang tidak tercapai, tujuan sampingann malah disambangi duluan. 

Tak labih kaget daripada Firdaus, saya melotot ketika tidak dipersilakan duduk di serambi rumahnya, melainkan masuk ke kamar dalam, dan... astaga, langsung dihidangi soto, oh, sotodio. Rupanya, Firdaus ini membuat studio pribadi di kamar tengah rumahnya.

“Loh, kamu punya studio sendiri di dalam?”
“Ada lah, tapi sempit.”
“Iya, tapi kan studio meskipun sempit?”
“Hah, ha,ha ha.”


Tak terbayang betapa bahagianya kami. Disuguhi makanan, minuman, juga pemandangan alat-alat musik yang banyak sekali, tertata rapi. Merokok di studio itu pantangan, tapi di sini justru dipersilakan. Akhirnya, saya, Firdaus, kakak iparnya—yang ternyata temannya Amin—mencoba tuk memegang alat-alat itu sendiri-sendiri. Lalu, kami memainkannya sendiri-sendiri, improvisasi. Setelah itu, kami bersepakat menyatukannya ke dalam satu konsep yang bernama “harmoni”.

Setelah satu jam lebih, saya pamit. Firdaus dan teteh melarang, tapi saya tidak lupa diri, bahwa saya dalam perjalanan panjang. Bandung masih jauh, Ciamis apalagi, dan ke situ saya hanya mampir. Maka, saya pun pamit kepadanya. 

“Maaf, ya, saya harus ke Bandung hari ini. Lagi pula, ini kan cuman mampir, juga kunjungan yang pertama. Saya harus ngirit waktu agar Kamis depan sudah tiba di rumah soalnya saya harus mengajar SMA dan Aliyah.”
“Tunggu dululah..” tahannya.
“Sungguh maaf, saya harus berangkat lagi. Kita autrt waktu saja, saya mau kemblai ke sini untuk beberapa lagi. Siap?”
“Ashiap!” 

Pulang ke rumah Amin, eh, kami disuguhi makan lagi oleh si istrinya, Ainur (yang secara kekerabatan masih ada hubungan famili dengan saya, tapi seperti terputus karena begitu lama tidak berjumpa sebab tempat dia—ya, Cipanas ini—sangat jauh dari rumah kami). Setelah makan, Amin ngajak saya ke lokasi lembaga pendidikan yang saya kelola. Saya terharu, sangat bahagia. Bisnis jalan, pendidkan jalan, pertanian: sungguh itu merupakan idaman bagi santri. Amin—yang juga dikenal dengana nama Didin Wahidin ini—mengelola lembaga pendidikan Jamiatul Kurnia juga majlis taklim bernama Al-Badar. 
Kami berangkat dan matahari sudah siang. Berdasarkan peta digital, kami diarahkan menuju tujuan selanjutnya, Imah Noong, melalui Tol Pasteur karena posisi Lembang, tempat Imah Noong berada, adalah di utara Bandung tapi secara administratif berada di Kabupaten Bandung Barat. Untunglah, setelah komunikasi dengan teman COP (Colt Owner Parahyangan), Mas Akbar Rizal, saya dianjurkan lewat Cisarua saja. Barangkali dia ingin saya mendapatkan pengalaman baru dalam menjajaki trek yang indah dan tidak ditemukan di Madura.  

Perjalanan dari Cipanas ke Padalarang sungguh amboi, ya treknya, ya, pemandangannya. Jalannya berkelak-kelok, naik-turun. Kalau dlihat dari citra satelit, treknya mirip cacing yang sedang mengkeret. Meskipun naik turun, tapi suhu udara di luar membuat mesin 4G41 yang mudaha panas ini aman-aman saja.

 

Anam dan Qudsi tampak bahagia sekalai bisa merasakan pengalaman mengemudian mobil plat M di area plat F. Kami melintasi daerah bernama Cipatat—yang semula saya kira Ciputat dalam versi salah ketik. Setelah itu, ada nama Cibogo, Citatah, hingga akhirnya kami tiba di pasar Padalarang saat matahari sudah mulai condong ke barat. Kami lewat di bawah jembatan tol Cipularang (Cikampek – Purwakarta – Padalarang), menyeberang ke arah Ciasarua. 

Nah, pada trek berikutnya ini, jalannya kian seru. Kelak-keloknya tidak berakhir, malah bertambah, bahkan kami dikasih bonus: tanjakan panjang. Tapi, seperti dikatakan, suhu mesin dan temperatur sama sekalai tidak ada maslaah sebab kondisi alamnya yang sejuk. 

Rasa was-was menggelayut justru karena hal lain. Mengingat jalan yang sangat padat dan sering kali kami jumpai kemacetan di jalan, saya khawatir kalau setelah tiba di Lembang, kami tidak bisa pergi ke mana-mana. Maka, saya ragu untuk singgah-singgah lagi ke rumah teman yang ada di sekitar Bandung yang sebetulnya saya rancang sejak di Madura, misalnya pergi ke Ciparay di Soreang, rumah Kang Faisal Imron. Tidak terbayang sebelumnya kalau situasi jalanan di kota Bandung telah sebegitu macetnya. Entah memang seperti ini keadaaanya setiap hari ataukah kondisi ini terjadi karena Bandung baru saja membuka diri untuk dikunjungi setelah tertutup karena pandemi?

Sore hari, kami tiba di Lembang dengan selamat setelah lebih dulu tersesat saat masuk ke laboratorim Bosscha. Di Imah Noong, tempat Mas Hendro Setyanto, saat itu ada sekleompok orang yang sedang berkunjung untuk belajar falak dan astronomi. Kabarnya, mereka kabarnya dari Papua. Mereka hendak membuat suatu bangunan multifungsi seperti yang pernah dibuat pak Hendro, yaitu mushollatorium, musholla sekaligus planetarium.

Akhirnya diputuskan; , malam itu kami bermalam di Lembang. Saya dikunjungi Mas Akbar Rizal dan Kang Obeh beserta keluarganya. Saya juga disambangi oleh Mizan Asrori dan beberapa santri alumni: Khairul Umam Yudi Rahman Hasanuddin. Tak dinyana, saya juga bisa berjumpa dengan Komeng atau Qomaruddin, kawan di Jogja dulu yang entah sudah berapa tahun tidak berjumpa. 

Setelah menyimak presentasi Mas Hendro Setyanto di dalam musholla, sembari melihat peta langit di bawah kubahnya, saya tutup kegiatan malam itu dengan makan malam dan ngobrol, seru sekali.  























11 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus (Etape III: Bekasi - Balaraja - Cipanas)

Sabtu Pagi ini, 9 Oktober 2021, di Bekasi, suasana alam berasa sangat bersahabat. Dulu, saya sempat menikmati perumahan ini yang lumayan sepi, lalu mulai ramai pada tahun berikutnya karena penduduk kian bertambah, dan kini kembali sepi karena situasi pandemi.

 

Siangnya, saat kami mau pergi, tiba-tiba datanglah Adi, adiknya Mas Moko. Keberangkatan pun ditunda sejenak, sejenak untuk berbasa-basi. Kami ngobrol sebentar dan setelah itu pamitan.

 

“Jangan pergi dulu, Mas. Jalan masih ramai. Summarecon sangat macet.”

“Masa?”

“Iya, barusan saya lewat di sana.”

 

Tapi, karena dorongan rasa khawatir datang terlambat di Balaraja—tujuan transit kami berikutnya—maka dengan berat hati kami tetap bergerak juga. Dan benar, “penyesalan” selalu ada di belakang (karena yang ada di depan itu—kata orang—adalah “pendaftaran”). Macet luar biasa terjadi di hadapan. Duh, kok baru berangkat sudah macet begini, padahal hari ini adalah hari libur. Anak-anak tidak sekolah dan bapak-bapak tidak ke kantor. Pada mau ke mana orang-orang ini? Mbok kalau mau pergi-pergi itu tidak bersamaan.

 

Perjalanan melewati kota Jakarta dengan mobil tua bikin saya dag-dig-dug, soalnya ini adalah pengalaman pertama kalinya naik Colt T120. Dulu, kami pernah muterin Jakarta naik Toyota Hiace. Tapi, peristiwa itu terjadi tahun 1989 dan Toyoya Hiace-nya lungsuran tahun 1982. Jadi, ia terkesan mobil jadul kalau terbaca sekarang tapi tidak pada saat peristiwa itu terjadi. Hal ini berbeda sekali dengan naik Colt buatan 1981 pada  tahun 2021.

 

Benar ternyata, saat-saat menghadapi macet, saya mengalami ketegangan luar biasa: khawatir mogoklah, apa nya macetlah, takut kampasnya gosong lah, dan sejenis-sejenis itu. Memasang AC pada Colt ini, tapi tidak dilengkapi dengan kipas tambahan di depan radiator—karena radiator yang saya gunakan sudah mengadopsi 3 lapis dan sejauh ini masih aman di kota-kota kecil di Madura—menjadi tidak berguna saat menghadapi kemacetan kota Jakarta. Menyalakan AC saat macet, temperatur langsung naik dan ogah sesera turun meskipun sudah jalan kembali. Lah, mau turun bagaimana wong jalannya pelan saja. Bahkan, panasnya aspal jalan serasa menembus lantai kabin.

 

Menempuh jarak kurang lebih 80 km butuh 4 jam untuk mencapai pintu tol Balaraja Timur. Kami tiba di sana pada menjelang mahrib, sekitar pukul 17.00. Hari sudah sore dan kami langsung menuju Bengkel Pak Tuo-nya Pak Bambang untuk istirahat dan makan. Tidak lama di sana, setelah duduk santai, mandi-mandi, kami berangkat kembali ke Cikupa, kediaman Pak Broto.

 

Di markas Colt Mania Station yang terletak di Perum Citra Raya, mobil-mobil milik tuan rumah, Mas Rezam Haji Uing, Mas Bayu, dan Buya Enjat, sudah terparkir rapi. Pak Iwah datang belakang, membawa mobil Plat M, mobil yang dulunya berwarna tosca dan sempat saya taksir saat masih ada di Kwanyar, Bangkalan, Madura, yang entah bagaimana ceritanya bisa ada di Banten.

 

Kami ngobrol dan makan di sana. Persahabatan dan persaudaran terpancar. Sungguh sebentar rasanya kami bertemu karena pada pukul 22.00, satu per satu, orang-orang pada pergi. Saya pun begitu, kembali ke Balaraja demi menghemat tenaga yang akan digunakan untuk perjalanan selanjutnya.

 

Tapi, saya bingung, mau nginap atau lanjut. Kalau mau terus ke Bogor untuk menjumpai Eko dan Sohib, berarti saya tidak bisa ke Cipanas karena pada hari Ahad pagi, jalan akses ke Puncak sudah ditutup. Kalau lewat Sukabumi, berarti ada kemungkinan bisa jumpa dengan kawan saya, Pras di Cikeas, Sohib di IPB, dan Eko di Bogor, bahkan juga dengan Kang Hendy di Sukabumi, tapi kami harus melupakan Cipanas dan keindahan trek menuju Puncak yang dibayangkan sejak bertahun-tahun yang lalu.

 

Akhirnya, palu diketuk: keputusna diambil. Kami lewat Puncak saja, dan harus melintas sebelum subuh supaya tidak terperangkap dalam sistem buka-tutup jalan aksesnya. Alasan lewat Puncak lebih diprioritaskan karena banyak hal: 1 rute lebih menantang, 2 tujuan Cipanas memang sudah lama diagendakan, 3 lebih dekat ke Bandung (sebagai tujuan lanjutan). Sementara target ke Cikeas dan ke IPB kita lupakan dulu karena; ke Cikeas sudah pernah sampai; ke IPB biarlah di lain waktu.

 

Anam dan Qudsi langsung istirahat begitu sampai di Balaraja. Saya duduk-duduk saja, menemani Pak Bambang, bercakap-cakap tentang banyak hal. Saya melek  karena khawatir kalau sekali tidur hanya dalam durasi satu jam tidak akan mampu dibangunkan oleh alarm ponsel sementara keadaan tubuh sangatlah capek. Maka, pukul 01.30, saya bangunkan mereka dan saya pamit pulang.

 

Jarak dari Balaraja ke Bogor kurang lebih 100 km, lebih jauh dari Tambun Utara ke Balajara yang kami tempuh di siang harinya.  Akan tetapi, karena menempuh Tol Dalam Kota, lanjut Kebun Jeruk dan Cawang, kami bisa menghemat waktu. Kami terus berjalan hingga jumpa percabangan jalan:

lurus ke Cikampek; kiri Priok, dan satunya ke Jagorawi. Kita pilih yang ini.

 

Dalam perjalanan tersebut, saya tidur di jok tengah. Sementara Anam dan Qudsi mengemudi.
“Sudah sampai ini, mau ke mana?” Tiba-tiba terdengar suara yang membangunkan saya. Saya pun melihat alam sekitar dan bertanya, tempat apa ini.

“Loh, kok Istana Bogor?” tanya saya.

“Lah, katanya Istana Presiden.”

“Bukan, bukan Istana Bogor, tapi Istana Kepresidenan yang di Cipanas. Kita kan mau ke Cipanas.”

“Oh, beda, ya?”

“Ayo, lanjut, pancal lagi mumpung belum Subuh.”

 

Kami putar arah, balik lagi, meneruskan perjalanan menuju Cipanas, naik ke Puncak.  Dalam pada itu, waktu menunjukkan pukul 04 lewat sekian. Azan subuh berkumandang di tengah berjalanan. Kami menyusuri ruas jalan kelak-kelok yang terus menanjak dan tak ada habisnya. Jarum temperatur seperti mati, padahal jalan menanjak. Dingin luar biasa.

 

Akan tetapi, yang aneh, di malam minggu itu, padahal hari menjelang Subuh, arus lalu-lintas masih sangat ramai. Saya tidak tahu, mereka mau liburan atau pulang dari menginap atau sekadar melintas. Yang pasti, di jam-jam menjelang subuh, suasana tetap sangat ramai, lebih ramai dari malam Minggu sehabis isya, di kota saya.

Menjelang Masjid At-Taawun, masjid keren yang ada di Puncak, tujuan kami rehat dan melaksanakan shalat Subuh, tak satu pun petak parkir yang kami temukan. Semua parkiran terisi, dari yang parkir serong maupun yang paralel di bahu jalan. Kami kecewa, akhirnya lanjut saja.

“Orang-orang ini pada ngapain, ya?” tanya saya, iseng.

“Mereka mungkin mau subuhan berjamaah semua di masjid At-Taawun,” kata Qudsi, ngomong seceplos-ceplosnya, se ndul-ndulnya.

 

Bahkan untuk parkir sejenak untuk sesi foto di tebing “Puncak Pass” saja kami gak bisa. Akhirnya, kami terus turun hingga akhirnya menjumpai Masjid Al-Ihsan, Ciloto. Cipanas tak jauh lagi.

 

Sehabis subuh, kami duduk-duduk dulu, menikmati pemandangan alam yang sungguh indah. Dalam hati saya bertanya, mengapa suasana dingin itu dicurahkan semua di sini, kok tidak sebagiannya dibagi-bagi dengan tanah kami di Madura? Ya Allah, saya tidak tahu jawabannya. Berilah kami kebahagian dalam menerima.


Semmbari mengabari Amin, tuan rumah kami berikutnya, saya pun bergerak menuju Cipnas. Jalan terus menurun akhirnya kami tiba di rumah Amin yang mengelola lembaga pendidikan, berdampingan dengan Balithi (Balai Latihan Tanaman Hias), Ciloto. Saya senang, tapi sedih karena teringat almarhumah istri saya yang sangat menyukai tanaman hias.

 

“Andai saya tahu kalau rumah kamu itu dekat dengan tempat pertanian tanaman hias ini, Min, mungkin saya ajak istri saya main ke sini, sejak dulu.”

“Iya, sayang sekali...” balas Amin.

“Duh, saya jadi terharu, nih. Semoga beliau senang di sana, di taman yang lebih indah dari taman yang ada di dunia,” Saya membatin di dalam hati, mendoakannya.

 

Kami segera menggeletakkan di diri di ruang pembelajaran yang tampaknya digunakan untuk anak PAUD. Suhu udara membuat kami sangat nyaman. Indah sekali tempat ini, kata saya tak henti-henti. Urat syaraf yang nyaris semalam suntuk dibuat memelototi lampu-lampu dan hitamnya aspal jalan raya saatnya diregangkan. Begitu pula sebaliknya, mata ini, mata yang digunakan untuk menyaksikan cahaya hidayah pada muka orang-orang yang bershalat jamaah dan juga gelap hati mereka yang tidur seranjang bersama orang yang bukan pasangannya entah di villa mana, sebaiknya segera direspon agar menghidupkan akal pikiran.

 
































Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...