Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Colt T-120. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Colt T-120. Tampilkan semua postingan

19 Maret 2021

Sumenep - Jogja Lewat Transjawa

 

SABTU 13 MARET 2021, saya berangkat ke Jogja, pagi sekali, pukul 07.00 dari rumah karena mau mampir di Sampang untuk menghadiri undangan. Kami mau hadir di acara akad nikah sekaligus pesta pernikahan putri daripada adik ipar lelaki saya (nah, ini gimana cara menjelaskannya, rada mbulet). Pukul 08.32, kami sudah sampai di lokasi, Panggung, Sampang. Pukul 9 lewat beberapa menit, saya masuk terop meskipun hadirin dapat diitung pakai jari.

 

Usai acara, saya ketemuan dengan para penumpang di Masjid Jamik Sampang. Maklum, yang mau ikut saya ke Jogja (Mat Umam [sepupu], Sakdi [sepupu tiga kali], Khatir [sepupu tiga kali]) tidak diundang di acara itu, jadi mereka berangkat belakangan. Sedangkan para penumpang saya (sepupu perempuan dan istrinya, paman dan istrinya) justru tidak mau ke Jogja. Jadi, kami tukar mobil di sana.

 

Tepatnya tidak ingat, sepertinya pukul 13.00 lewat sedikit, kami bertolak dari kota Sampang. Saya yang pegang kemudi. Kami sepakat, kami mau shalat jamak di Jogja atau entah di mana.

 

Masuk kota Surabaya, saya masuk SPBU Kedinding untuk isi pertalite, Rp212.000, tidak penuh. Kenapa saya isi sejumlah itu?

“Biar kayak Wiro Sableng, Mbak,” kata saya kepada petugas SPBU begitu dia narik nosel pompa dan mengarahkannya ke mulut tangki. Alasan lainnya adalah; dana saya memang tipis sebab saya memang tidak bawa duit. Ongkos sudah dijanjikan bakal diganti penyelenggara diskusi buku Joko Pinurbo, di Kafe Main-Main, Sorowajan.

 

Hujan menadadak deras manakala kami keluar dari SPBU. Genangan air bahkan mampu menutupi permukaan jalan. Hujannya ternyata tidak main-main meskipun tujuan pertama kami ke Jogja adalah berdiskusi di Kafe Main-Main. Pasti, hingga berani menempuh perjalanan ke Jogja, kira-kira 500 kilometer sekali jalan, baik penyelenggara dan lebih-lebih kami, sungguhlah tidak niat main-main.

 

Hujan makin gila saat kami sampai di ujung jalan Kapasan. Jarak pandang sangat pendek. Dan kami—saya tepatnya—mengalami sial. Begitu putar balik ke jalan Gembong dan bersiap masuk ke Jalan Wasada dengan cera nyisir kiri, eh, malah terperosok ke Pasar Atom, salah masuk ke pintu parkiran. Sempat mutar-muter di dalam karena cari jalan keluar, akhirnya saya bisa keluar ke pintu barat.

 

“Rp10,000,” kata petugas. Kata-katanya terdengar tidak jelas karena hujan sangat deras, mungkin juga karena itu adalah bayaran untuk orang bingung dan salah masuk, dan sama sekali saya tidka parkir. 

“Tapi, saya tidak parkir, Bu, cuman salah masuk,” kata saya berkelit, namun tetap menyerahkan uang.

 

Begitulah, saya ikuti jalan ke barat, ke Jalan Demak, lalu masuk tol, ke arah selatan.  Singkat cerita—karena kisah perjalanan di tol itu memang harus singkat-singkat sebab nyaris tidak memberikan nuansa apa-apa—saya pun ambil kiri di Bundaran Tol Waru (bundaran tol yang percabangan jalannya sangat banyak dan ruwet, sering bikin orang salah jalan), lalu turun dari belakang setir begitu keluar dari pintu masuk tol Waru Gunung, akses masuk ke Tol TransJawa.

 

Kini Khatir yang ambil kemudi. Jam menunjukkan pukul 4 sore lebih. Mobil berjalan dalam kecepatan antara 75 km/jam dan hanya sesekali melewati 80 km/jam. Tujuannya adalah agar alaram kecepatan tidak cerewet.

Ini adalah pengalaman keempat saya naik Colt dari Sumenep ke Jogja, tapi merupakan pengalaman pertama untuk perjalanan yang sepenuhnya lewat Tol TransJawa (Pertama di awal tahun 2018, kedua pertengahan 2019, dan yang ketiga di akhir tahun 2019). Perjalanan kali ini memakan biaya paling mahal karena harus bayar tol sebesar Rp252.000 (untuk rute Warugunung - Colomadu dan tarif serupa untuk rute Kebakkramat - Pasar Turi: sama jaraknya, kira-kira 250 kilometer). Yang berasa ‘naif’, meskipun perjalanan memang menjadi lebih singkat, tapi saya tak punya cerita apa-apa selama di perjalanan.

Apa yang mau diceritakan? Hanya tegalan, padi, gedung-gedung dan gudang di kejauhan. Itu saja pemandangannya.

 

Dengan kecepatan 80 km/jam, mobil dan kendaraan lain nyaris semua menyalip kami secara was-wis- wus. Hanya sekelas tronton atau truk gandeng yang mampu kami salip. Saya tidak minder karena kami tidak sedang balapan. Saya sayang sama mesin yang sudah berputar di atas bumi selama 40 tahun ini untuk digeber lebih cepat dari itu, meskipun jelas masih sangat mampu.

 

Di tempat istirahat 575 B (Paron, Ngawi), kami melipir untuk pipis dan shalat. Di situ, kami makan bekal. Di situ pula, saya sempat ngobrol dengan seorang bapak (yang sayangnya saya lupa namya). Beliau, menurut pengakuannya, langsung teringat masa nostalgianya semasa dulu menjadi guru di sebuah pelosok di kabupaten Sampang, di mana akses ke tempat itu ditempuh dengan angkutan pedesaan Colt T120.

 

“Angkutannya seperti ini...” kata beliau sambil ngelus-ngelus mobil saya.

 

Sakdi ambil alih kemudi. Kami pun melanjutkan perjalanan dan satu jam berikutnya kami sudah tiba di gerbang tol Colomadu, Kartasura, suatu hal yang pasti sulit dilakukan andai lewat jalan arteri. Ini saja keunggulannya. Lalu, kami isi bensin di SPBU Wirogunan, dekat dengan pertigaan Kartasura, yang sebetulnya mungkin masih mampu dibuat jalan sampai ke Klaten atau bahkan Jogja. Kami masuk Janti pada 21.39 dan tiba di Sorowajan, Jogjakarta, pada pukul 21.48.

 

Selama di Jogjakarta

 

Secara penanggalan Masehi, saya berada tiga hari di Jogja, yakni sejak Sabtu tanggal 13 Maret hingga Senin tanggal 15 Maret. Tapi, praktiknya, aktivitas utama saya dimulai sejak Ahad pagi dan berakhir senin siang, jadi hitungannya cuman sehari setengah. Malam Ahad itu, tak lama setelah saya tiba, saya disambangi Mas Puthut EA. Kami ngobrol asyik di kafe, sampai larut, sampai yang punya kafe pulang duluan.

AHAD pagi, saya nyantai di kafe Main-Main, lalu makan di Leha-Leha yang lokasinya berdampingan. Agaknya, kedua kafe yang dimiliki oleh orang yang sama ini, meskipun berdampingan, tapi punya segmen pasar tersendiri. Kafe kedua (Leha-Leha) merupakan perpaduan kafe dan rumah makan karena hidangan beratnya prasmanan. Sepertinya, yang leha-Leha diperuntukkan buat keluarga, yang jomblo di Main-Main saja. Saya, kami tepatnya, diberi kekuasaan “keleluasaan untuk ngapain aja” di kedua kafe tersebut, mau makan atau minum atau kedua-keduanya oleh Imam Rofiie. Apakah Imam adalah pemilik kafe? Bukan, dia hanya operatornya. Yang punya bernama Pak Edi. Dan dialah yang ngundang saya datang ke kafe ini untuk suatu acara. Di kafe itu, saya bertemu Munir, suami Vebri. Nah, Vebri ini merupakan cucu ibu kost saya di purbakala dulu.


 

Sesudah pergi ke toko kain yang ternyata tutup—saya tidak ingat kalau hari itu adalah hari Minggu dan toko-toko pada tutup—siang kami kembali ke kafe. Orang-orang mulai berdatangan. Kami pun mengikuti acara bedah buku Joko Pinurbo yang berjudul “Sepotong Hati di Angkringan”, buku yang berisi refleksi hidup keseharian di masa pandemi dalam bentuk potongan-potongan kisah pendek puisi.

 

Hadirin tidak banyak. Pengunjung tidak membeludak, masih terkendali. Saya bertemu dengan beberapa kawan lama di sana: ada Jumaldi Alfi, Rusmansyah Khameswara, Mas Hairus Salim, Iqbal Aji Daryono, Usman Arrumy, dan banyak yang lain. Kami ngobrol gayeng bahkan hingga usai acaranya.

 

Magrib datang dan gerimis turun. Malamnya, selepas makan dan bertemu dengan Prof Abdul Gaffar Karim beserta istri, saya pergi ke rumah Pak Farid Mustofa di Rejodani. Di situ saya bertemu Irul. Kami ngobrol sampai malam. Sungguh, hari Ahad ini sangat menyenangkan bagi kami.

 

SENIN PAGI, 15 Maret, kami mulai aktivitas dengan kembali ke toko Niagara di Jalan Kusumanegara dan lanjut ke toko Maju Jaya di dekat Pojok Beteng. Cuman itu saja pergerakan jasmaniahnya. Selebihnya, kami berkemas, kembali ke penginapan yang terletak persis di samping kafe. Saya sempat ngajak istri saya ke kontrakan Imam untuk rehat karena dia kurang sehat.

Siang, pukul 13.00, kami berangkat ke Sate Kambing Sor Talok, Trirenggo, Bantul. Pak Edi yang ngajak saya ke sana. Kami bawa dua mobil karena dari sana, nantinya, kami akan lanjut pulang. Warung ini ternyata istimewa. Lokasinya pinggir jalan, pinggir sawah. Makanannya sangat berat: sate, gule, tongseng, tapi semua bahan saya cek daging kambing muda yang segar.

 

Kejutan datang sebelum pulang: saya ketemuan dengan Pak Milan, santri Kiai Faruq yang entah beberapa kali kami janjian tapi tidak pernah bertemu. Saya juga sempat bertemu dengan Om Pangapora yang baaaaru saja datang dari Madura, langsung ke Sor Talok juga. 

 

Sekitar pukul 16.00, kami meninggalkan Bantul, menyusuri Jalan Parangtritis, beda dengan saat datang karena kami masuk dari Jalan Imogiri Timur. Sampai di ringroad selatan, terpikir untuk melipir ke Gamping. Andai terjadi, saya bakal ketemu dengan Mas Benta, Pak Joni, juga pak herbalis Tomy. Tapi, sayang seribu sayang, waktu tak memungkinkan. Saya berdoa agar harapan ini dikabulkan di lain kesempatan.

 

Kami lanjut pulang. Titik persinggahan pertama adalah ke Sanggir, Paulan, Colomadu, tempat Mbah Darmo. Dia minta saya agar mampir, padahal sudah saya bilang kalau saya keburu pulang.

 

“Enggak apa-apa, bentar saja,” kata dia di telepon.

“Tapi, enggak usah makan, ya, Om.”

“Tenang, ngobrol saja.”

“Iya, sepeminuman teh saja, soalnya kami habis makan, nih.”

“Oke, ditunggu.”

 

Kami tiba di sana menjelang maghrib, ngobrol seperlunya, foto-foto sepuasnya. Mas Darmo menyediakan gitar dan bas, tapi saya malas memainkannya, hanya sesuai petunjuknya, sepukul dua pukul saja. Kami malah lebih tertarik pada stop kontak, buat ngecas.

 

Begitu kami hendak pulang, tiba-tiba saya ingat Mas Sosiawan Leak yang 10 hari yang lampau baru datang dari ke rumah saya, di Madura. Saya ingat kata beliau, “Saya sudah 4 kali ke sini, Panjenengan belum sama sekali ke rumah saya di Solo. Mampirlah kalau sedang ke Jogja”. Terngiang-ngingat oleh ucapan itu, mumpung posisi kami sedang di Solo, akhirnya saya putuskan singgah di kediamannya, di Mojosongo.

 

Kami masuk lewat lewat persimpangan Kerten, serong kanan ke Jalan Letjen Suprapto, terus ke Jalan Pelangi Utara 2. Trek ke rumah Mas Sosiawan Leak agak sulit karena masuk gang rada sempit dan kontur jalannya menurun, curam. Saya bahkan sempat ragu untuk naik, di perjalanan pulang.  

 

Istri saya mendadak ngedrop di rumah beliau. Sementara, tuan rumah masih belum keluar. Pintunya tertutup. Seorang ibu yang rumahnya berada persis di samping Mas Sosiawan mempersilakan kami. Ia “sangat Solo”: mempersilakan duduk dengan bahasa sangat lembut, menyediakan teh, bahkan ngasih obat untuk istri saya yang asam lambungnya naik. Belakangan, saya tahu, beliau adalah Bu Joko yang dengan begitu suaminya bernama Pak Joko.

 

Setelah kami semua bertamu sekadar setengah jam, kami pamit. Dan seperti biasa, tuan rumah tidak segera memperbolehkan.

 

“Maaf, Mas, maaf, Bu. Kami ini mau hadir ke undangan walimah, besok pagi. Jadi, kami harus pulang. Semoga lain waktu bisa kemari lagi.”

“Saya kira mau bermalam,” balas mereka.

“Terima kasih atas penawaran.”

 

Kami pun pulang. Sakdi yang membawa mobil, menyusuri Jalan Mayor Achmadi, tembus ke jalan lingkar, dan akhirnya kami masuk ke akses Jalan Raya Solo Sragen, belok kiri di Kebak Kramat. Kami isi bahan bakar dulu Rp150.000 supaya nanti tidak perlu isi lagi di perjalanan karena bakal repot kalau kehabisan BBM di jalan tol. Tahu sendiri, kan? Di sepanjang 250-an kilometer dari Karanganyar ke Pasar Turi itu tidak setiap tempat istirahatnya tersedia SPBU.

 

Begitulah, seperti pada kisah perjalanan berangkat, perjalanan lewat jalan tol ini tidak menorehkan cerita apa-apa, lebih-lebih jika dilalui di malam hari. Semua pemandangan menjadi gelap, bahkan sawah dan ladang pun nyaris tidak kelihatan. Yang tampak hanyalah lampu ekor kendaraan yang berwana merah atau bias cahaya kendaraan lawan arah dari ruas seberang.

 

Sebetulnya, sempat terlintas untuk mampir ke rumah Mas Fadli dan Mas Alwi di Ngawi, tapi karena kondisi istri yang tidak memungkinkan, juga waktu yang kurang tepat karena tengah malam, serta tuntutan waktu tiba sepagi mungkin di Madura, akhirnya saya putuskan untuk lewat tol saja. Kami melakukan rehat di tempat istirahat 678 A (area Kabupaten Jombang) hanya sekadar melepas jenuh dan pipis. Tidak lama, kami lanjut lagi menuju Surabaya. 

 

Dari situ, Khatir mengemudi hingga Dumajah, Bangkalan. Kami shalat mabrib-isya di Masjid Baiturrahman, lalu berangkat lagi pukul 03.00 (lebih beberapa menit). Saya ambil kemudi dari sana karena saya sangat malas mengemudi di jalan lurus mulus seperti jalan tol itu. Biasanya saya cepat mengantuk, karena itulah saya ambil ruas jalan arteri saja.

 

Azan subuh berkumandang saat kami isi bensin di Camplong. Sebetulnya, tangki BBM masih cukup sampai Pamekasan, tetap langkah ini saya ambil buat jaga-jaga karena SPBU 24 jam di Madura itu tidak benar-benar 24 jam. Kadang, meskipun ada petugasnya, kalau malas, mereka tidak melayani, seperti yang sebelumnya kami alami di SPBU Banyuanyar, Kota Sampang.

 

Kami subuhan di Trasak, pada pukul 04.50, sudah agak terang tanah. Kami lanjut lagi setelah itu, menuju rumah dan tiba dalam keadaan tak kurang suatu apa. Hamdalah ala nikmatillah wa ala nikmatil iman wal Islam wal Colt wal tanpa mogok.

 

Catatan: saya tidak menghitung konsumsi bahan bakar. Tapi, berdasarkan perkiraan, sepertinya hampir 100 liter karena jarak sekitar 1000 kilomer pergi-pulang. Anggaplah 1:10, biaya pertalite sekitar 750.000. Lewat tol sepertinya lebih boros.


20 Maret 2020

Menurunkan Panas Mesin Tanpa Modal

Masalah panas mesin pada mesin kolong merupakan hal lumrah. Mulai L300 bahkan sampai Mazda E2000 juga begitu problemnya. Lebih-lebih Mitsubishi Colt T120, panasnya suhu mesin merupakan masalah yang banyak dikeluhkan penggunanya, tentu saja salah satu faktornya karena keuzuran usianya.

Panas mesin—sebagaimana kita tahu—disebabkan oleh banyak faktor. Yang umum dibicarakan ada dua; permasalahan kelistrikan (seperti busi, stelan kerenggangan platina [jika masih menggunakan platina], dll) dan juga permasalahan mesin (stelan kerenggangan klep, konsumsi bahan bakar, radiator mampet, dll). Suhu yang panas yang berlebihan (overheat) akan sangat mengganggu stabilitas mesin. Suhu wajar maksimal mungkin ada di kisaran 90 derajat (garis tengah) dan sudah harus berhenti ketika mencapai suhu 100 derajat (garis nomor 2 dari atas). Selain berdampak pada mesin, panasnya mesin akan berdampak pada suhu kabin (jika tanpa AC).

Sebetulnya, ada satu faktor lagi terkait penyebab panas mesin ini, yaitu sirkulasi udara pada radiator. Mesin tengah atau mesin kolong punya permasalahan ini dan tidak ada masalah serupa bagi mesin depan (seperti Kijang, Avanza, dll) karena radiatornya langsung berhadapan dengan semburan angin dari luar manakala ia berjalan. Mesin tengah/kolong hanya mengandalkan sedotan angin kipas ketika idle dan dibantu dengan semburan angin dari depan pada saat berjalan. Sebab itu, ada beberapa rekan yang memasang kipas tambahan (extra fan) dan diletakkan di depan radiator untuk membantu sirkulasi angin ini dan/atau dengan mengubah radiator menjadi tiga lapis (standar Colt hanya 2 lapis) dan atau juga dengan mengubah kipas radiator menjadi 7 bilah (biasanya 5 bilah).


Saya mencoba memasang plat nomor bekas (atau bilah apa pun untuk menggantikannya; lihat foto) di as balok depan. Posisinya miring sekitar 45 derajat. Tujuannya adalah untuk ‘menangkap’ angin yang datang dari depan agar langsung mengarah ke bagian bawah radiator. Hasilnya lumayan, sangat berdampak langsung manfaatnya. Ia akan semakin baik fungsinya jika diletakkan lebih tepat lagi, lebih lebar, atau posisi yang lebih pas.

Tentu saja, ini hanya ujicoba sementara yang saya jalani sendiri.  Anda mungkin juga pernah mencobanya dengan cara yang mirip atau malah sama. Akan tetapi, cara ini digunakan buat yang punya permasalahan mesin panas yang disebabkan oleh radiator yang sudah kawak atau karena masalah lain. Suhu mesin yang masih normal atau wajar tidak perlu sibuk memasang apa pun. Mari berbagi pengalaman.




03 April 2019

Sejarah Mitsubishi Colt T120 (Delica)



Colt Gen-1, 1969, Wida Tri Bowo
Colt T120 adalah varian produk Mitsubishi yang angka penjualannya—di kala itu—terbilang fenomenal. Bagaimana tidak, kehadiran Colt mampu menggantikan posisi Opelet (yang kebanyakan berbasis Opel, Austin, Morris) yang ketika itu sudah menguasai pangsa pasar angkutan umum. Bahkan, karena kepopuleran Colt sebagai angkutan umum pada masa berikutnya, tak jarang sebutan “Colt” itu digunakan masyarakat sebagai metonimia daripada mobil ‘stesen’ (station wagon) atau angkutan umum itu sendiri. Salah satu buktinya, sampai hari ini pun kita dapat melihat jejaknya.

Masa produksi Colt hanya 12 tahun, sejak pertama kali diproduksi pada tahun 1968 (sebagian versi menyatakan 1969) dan berakhir di tahun 1980 (namun penjualan/pemakaian hingga tahun 1981). Nyatanya, fakta di lapangan, produk Jepang itu baru bisa tiba di Indonesia pada tahun 1969 dan mulai beredar di jalanan tanah air—secara umum—pada tahun 1970-1971. Kalaupun ada yang beredar di tahun pertama dan tahun kedua produksi, mungkin juga tidak banyak.

Colt Delica, built-up, funjapan.com
Generasi pertama si Kuda Nippon (colt = anak kuda) ini memiliki tampilan polos dan lugu jika dilihat sekarang, tapi dulu mungkin dinamis dan progresif. Ia menggunakan lampu mata bulat dengan cekungan ke dalam (berbeda dengan VW combi yang lampu bulat gandanya rata dengan plat). Gara-gara tampilan ini, Colt lantas masyhur disebut orang dengan sebutan “Bagong” (di Jawa) atau “Dolak” (di Jabar), dan mungkin ada istilah lain di daerah yang berbeda. Spion bercagak mirip tanduk tidak berubah sampai akhir produksi, hanya beda lengkungan saja. Generasi pertama ini, pada bagian bawah mukanya, tidak menggunakan gril, tapi sudah menggunakan lubang angin buka-tutup.

Adapun generasi pertama varian kedua dibukukan pada tahun 1971. Yang membedakannya adalah; lampu sein model rata beralur dan dibungkus gril sederhana, berbentuk memanjang (Masyarakat kita kadang menyebut “gril” dengan sebutan “kumis”). Adapun pada generasi pertama varian pertama, lampu seinnya lebih kecil dan menonjol, sedikit menyudut di kanan dan kiri pojok kabin. Perbedaan lainnya tidak kentara.

Di negeri asalnya, Colt disebut Delica (kependekan dari “delivery car”) dengan dua varian, pick-up dan station wagon. Namun, Delica station wagon (orang Indonesia menyebutnya stesen) yang diimpor utuh (CBU) ke Indonesia ketika itu jumlahnya tidak banyak. Di antara yang sedikit itu umumnya digunakan oleh BKKBN untuk kampanye KB keliling desa demi desa (juga digunakan kendaraan dinas Camat, bersanding dengan VW Safari, warnanya identik oranye). Namun, Colt yang digunakan Camat umumnya generasi kedua varian kedua alias edisi terakhir).

Delica CBU berbeda dengan kebanyakan Colt stesen yang ada di tanah air yang notabene merupakan hasil karya garapan pabrik karoseri yang dibangun dari sasis pick-up. Delica jenis ini menggunakan pintu geser di samping dan hatch-back di pintu belakang. Mekanik sliding (geser) dan engsel hatch-back-nya persis VW Combi. Kaca kabinnya tidak begitu lebar (juga mirip Combi). Sedangkan lampu stopnya memanjang ke bawah dan berada di pojokan (mirip Chevrolet Trooper/LUV), berbeda sama sekali dengan seluruh varian & generasi Colt T100 maupun T120. Namun, sejak turunnya Surat Keputusan nomor 25/74, tertanggal 22 Januari 1974, mobil CBU—menurut Arkadius Anggalih, tahun 1974, di BPKB Colt masih ada yang terbukukan sebagai CBU—jenis sedang dan station wagon dilarang masuk kecuali dalam wujud wajib CKD (Completely Knock Down). Sebab itulah, Colt Delica kadang disebut juga sebagai “Combi Jepang”. 

Colt milik Bambang Legowo di Jiexpo 2019
Generasi pertama Colt disebut Colt T (Colt T100), menggunakan mesin KE44 dengan isi silinder 1100cc (tepatnya 1,088 cc). Baru pada tahun 1971 (mungkin di pertengahan tahun), varian keduanya muncul dengan perubahan minor pada tampilan depan (gril dan lampu sein), namun ada perubahan prinsip pada mesin, yakni berganti tipe: 4G41 Neptune 86 yang berkapasitas 1378cc. Mesin Neptune adalah mesin Mitsubishi terakhir yang masih menggunakan teknologi OHV dengan blok mesin yang terbuat dari biji besi tuang (cast iron).

Kiranya, kehadiran Colt pick-up (“pikap” atau “bak terbuka”) inilah yang menjadi ladang pengembangan kreasi perusahaan-perusahaan karoseri di Indonesia untuk seterusnya dibentuk menjadi stesen. Adapun karoseri yang membidik pangsa pasar ini cukup banyak, di antaranya adalah: Internasional (yang paling populer, tapi sekarang perusahaannya sudah tidak ada), Podo Joyo, Adi Putro, Indonesia Jaya, Langgeng, ABC, New Armada, Raden, Dwi Bhakti, Tanaking, Sumber Mulya (Bandung), Darma Karya, Berlian Indah Motor, Morning Star (ketiganya di Jakarta). Karoseri Permorin, konon, pernah membuat stesen berbasis  Colt ‘Bagong’ (dan Minicab) dengan dua pintu geser (sliding).

Colt Double Cabin (Pak Broto) & Bagong Ijo (Pak Iman)

Beberapa bengkel karoseri mencoba kreasi dengan tidak hanya membuat bagian kaca samping dan belakang, melainkan “lebih berani”, yakni merombak bagian depan. Di antarana adalah dengan mengganti gril dengan milik Toyota Corona, berikut lampu kotaknya. Ada juga yang menggunakan lampu Mercy Tiger. Umumnya, pemakaian seperti ini sepaket dengan lampu belakangnya. 

Bagian eksterior Colt, terutama buritan, banyak mengadopsi lampu dan bemper Corona, Corolla, dan Honda Civic (yang sesuai dengan masanya, tahun 1978-1980). Karoseri Internasional, yang paling ngetop di kala itu, menggunakan lampu ekor milik Mazda 808, sampai-sampai ada orang yang beranggapan bahwa itulah lampu ‘asli’ dari Colt T120 stesen. Pelanggan karoseri Podojoyo dan Adiputro yang lampu ekornya minta dipasangi milik MercyTiger—di zaman itu—harus merogoh kocek Rp250.000 lagi karena harga suku cadang yang memang lebih mahal. 

Sementara pada bagian kaca samping dan belakang, ada yang menggunakan dua pilar, tapi yang umum satu saja, yakni pilar sekaligus penyangga pintu tengah. Bentuk kacanya melengkung meskipun ada juga yang menggunakan kaca datar. Adapun kaca belakang relatif sama, tapi ada juga yang menggunakan kaca depan. Jadi, kaca depan dan belakang sama persis.

Sedangkan interior generasi pertama dan generasi kedua Colt T120 relatif sama. Dasbor dan panel meter sewarna hitam dengan panel ganda bermodel bulat untuk spidometer dan kontrol  temperatur, bensin, cas batere/aki, dan oli. Pedal kopling dan rem model injak (mirip truk Mercedes-Benz 911 atau VW Kodok). Varian berikutnya ada perubahan pada panel, yakni berbentuk kotak ganda namun tetap berwarna hitam. 

Colt Pak De Budiono, a/n tangan pertama
Bagian eksterior juga berubah. Sejak tahun 1975, lampu Colt menggunakan empat lampu (tidak lagi menggunakan lampu bulat ganda).  Bemper depan menggunakan lampu fog berwarna kuning dengan dua varian (bergantung tahun): ada yang disematkan di balik bemper yang dibolongi; ada yang menggunakan bemper utuh dan posisi lampu fog ada di luar, dan ini model yang terakhir. Sementara lampu utama sudah menggunakan empat lampu, tapi pedal masih injak untuk pengeluaran hingga tahun 1974. Sesudah itu, Colt menggunakan pedal gantung hingga edisi terakhir, 1981.

Baru pada tahun 1978 ada perubahan lagi. Sejak tahun itu, generasi kedua varian kedua ini mengalami perubahan final hingga pemutusan rantai produksi di tahun 1981 dengan beberapa perubahan. Perubahan itu di antaranya adalah; lampu fog warna kuning dipasang di luar bemper; odometer berbentuk kotak ganda berwarna cokelat; tujuh digit angka pada odometer (enam angka untuk ratusan; satu angka untuk puluhan meter [untuk suku cadang asli menggunakan total enam digit untuk odometer dan tanpa buzzer alarm untuk kecepatan 80 km/jam]); pedal rem dan kopling menggunakan model gantung; ada penambahan pilar dan penambahan kaca segitiga.

Colt Pariwisata "Titosdupolo", milik saya :D 
Dengan produksi varian terakhir yang berakhir di tahun 1981 (tapi sebagian masih dipasarkan tahun 1981 dengan tahun produksi 1980, ketika Mitsubishi mulai menyiapkan L300 bensin), Colt T120 telah mengalami puncak penjualan yang fantastis, yaitu angka penjualan lebih dari 500.000 unit. Modelnya juga beragam, mulai dari stesen (untuk penumpang), pikap (untuk angkutan barang), krakap (untuk angkutan umum [model bak belakang masih utuh hanya dipasangi kursi hadap-hadapan atau dikosongkan untuk angkutan barang dengan penutup dari besi), serta kabin ganda atau double cabin (untuk angkutan orang sekaligus barang). Dengan kejayaan ini,  terutama pada penjualan model pikap-nya, wajar jika Mitsubishi punya slogan: “Yang terbesar untuk ‘truk kecil’ di jalan raya” atau “raja jalanan”.

Sekian dan terima kasih. Koreksi jika salah.
Esai saya yang lain tentang Colt, yang rada beda, klik di sini 

M. Faizi (admin blog)

Sumber:

1.      James Luhulima, Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri ini, Buku KOMPAS,  2012
2.      PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Buku Petunjuk Bagi Pemilik Mitsubishi Colt T120, tanpa tahun
3.      http://wikipedia.com
5.      Wawancara dengan Bambang Legowo, Arkadius Anggalih, Wida Tri Bowo, Hertanto Wibowo, H. Fathor, dll.

07 April 2018

Colturer Sumenep - Jogjakarta



Selepas tahlilian, malam Selasa 19 Peb 2018, roda-roda Colt T120 ini menggelinding dari halaman rumah, tepatnya di angka 21.10 WIB. Saya mampir ke SPBU Talang dan langsung ngisi pertamax hingga nyaris penuh (sesekalilah). Uang terbayar 270.000.


Tiga jam persis, kami melintasi Suramadu. Kecepatan mobil saya atur sedemikian rupa, antara 60-75 km/jam (soalnya kalau lari 80 jadi berisik oleh buzzer-nya). Ketiga saya ragu membawa colt ini ke Jogja tempo hari, melalui SMS, Mas Alwi berpesan, bahwa Colt yang biasa dipakai tiap hari lebih meyakinkan daripada Colt yang sehat tetapi jarang dipakai. Maksud dia, kalau jarang dipakai, kita tidak dapat mengira-ngira, komponen atau onderdil yang mana yang akan bermasalah, beda dengan jika menggunakannya secara harian. Untuk itulah, saya berusaha agar tidak ngoyo bawa mobil ini tapi tetap stabil.
 
Ketika sudah melewati pintu tol Dupak dan berjalan jauh mendekati keluar-Medaeng, saya tawarkan.
“Mau lewat Krian atau tol?”
“Coba tol baru, Sumo (Surabaya-Mojokerto) saja,” kata suara dari belakang. Maka, kami pun melintasi tol yang masih baru tersebut.
Rencana nyopir sampai Pamekasan ternyata kebablasan sampai ke Braan, Kertosono. Anggota Colturer (saya, Khatir, Warid, dan Fatih, ingin nyangkruk sejenak sembari melihat Sumber - Eka - Mira menunjukkan kekuasaannya di jalan raya. Tepat pukul 02.00 kami tiba di sana.

Sebetulnya, saya sudah mulai mengantuk, tapi melek mendadak gara-gara harus membayar tol Rp82.000 yang semula saya taksir cuman 30 ribuan saja atau lebih sedikit. Enggak menyangka, sisa e-Toll tidak cukup sehingga kami harus bayar pakai uang ‘beneran’, uang kertas, bukan uang digital. 
Setelah ngopi sekitar 40 menitan, kami lanjut lagi, melaju sampai Ngawi. Masjid Baitul Islam, sebuah masjid di tepi jalan, di Padas, dipilih untuk subuhan. Lokasinya berada di area di lintasan Karangjati, sebelum kota. Masih Warid yang bawa, menggantikan saya. Colt lantas diarahkan ke kiri, persis setelah sub-terminal Gendingan, ke arah Walikukun. Kami mau bertamu ke 'saudara baru': Alwi Tri Nugroho. Tujuan kami adalah Widodaren.

Sebetulnya, saya sudah mewanti-wanti calon tuan rumah agar tidak disiapkan sarapan sebab kami sudah melibas rawon di RM Duta sepagi ini. Adalah Sidqi yang menghadang kami untuk kemudian membawanya ke sana, ke rumah makan itu. Katanya, kami hendak dijamu (bukan diberi jamu untuk diminum, lho).

"Emang cuma patas EKA yang bisa mampir ke RM Duta? Kami pun bisa."

Pukul 07.10 kami sudah duduk manis sebagai tamu di rumah bapak Maksum Hadi Santoso (MHS), ayahanda Mas Alwi dan Mas Fadli. Semua sudah sangat mirip dengan rumah sendiri: makan, mandi, tiduran, dlsb. Yang membedakan hanyalah bahwa kami tak perlu cuci piring setelah sarapan.

“Rumah Sampeyan itu tepi jalan atau masih masuk lagi, Mas?” tanya saya sebelum berangkat.

“Masih masuk ke selatan, sekitar 6 kilometer, dari jalan utama. Tapi, kalau Anda mau mampir ke rumah, saya janji, dari Ngawi sampai Jogja, saya yang akan mengemudi.”
“Wah, menarik ini,” balas saya.

Seperti janjinya, Mas Alwi yang pegang kemudi kali ini. Pukul 11.15, kami bertolak. Perhentian pertama adalah masjid di Pilangsari, Masjid Ukhuwah Islamiyah namanya. Masjid ini sangat enak buat disinggahi sebab airnya melimpah, bersih pula, lengkap dengan kantinnya.










Kami berangkat lagi seusai shalat, lewat 'by-pass' Sroyo, langsung Kartosuro dan ngisi BBM 200 ribu lebih di SPBU milik PO Rosalia Indah. Belum habis, sih, tapi buat jaga-jaga saja supaya janganlah mobil dibiarkan jadi bahan tontonan orang karena tanpa cat dan tanpa dempul, karena lebih mirip tong kotak beroda empat, masih pula harus menanggung malu sebab disorong karena kehabisan bahan bakar (banyak sekali 'karena'-nya).

Setelah singgah lagi di warung "Soto Segeer Boyolali Hj Sugiyarti" di dekat terminal Kartasura, kami tutup acara singgah-singgah di perjalanan berangkat ini di rumah Ncus alias Darmawan Budi Suseno yang terletak di Sanggir, Paulan, Colomadu. Berbeda dengan sebelumnya, hidangan di rumah kawan gendut ini adalah bass dan gitar dan kopi lengkap dengan amplifiernya. 

Ini anaknya Dharmo
Satu jam kami di sana sebelum akhirnya memutuskan lanjut ke Jogja. Kami tak mampir-mampir lagi karena—terutama saya—harus istirahat sejenak sebab mau cuap-cuap setelah isya. Kami tiba di Kafe Basabasi, Sorowajan Baru, setelah sinar matahari mulai terhalang daun-daun di sisi barat, menuju surup, mendekati maghrib (ini videonya). 

ACARA DISKUSI BUKU

Sebetulnya, acara inti saya di Jogja itu adalah menghadiri diskusi buku yang ditempatkan di Kafe Basabasi, Sorowajan Baru. Bawa Colt bukanlah target karena sebetulnya saya terbiasa naik bis. Nah, karena saya bawa Colt, maka saya ngajak-ngajak, sekalian pergi-pergi dan mampir-mampir. Itulah dia. Ketika saya membawa Colt, maka saya harus melakukan sesuatu yang susah dilakukan andai saja saya naik bis. Ketika saya naik bis, maka saya harus bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan ketika naik Colt. Impas, deh, kalau begitu namanya.

Sungguh menyenangkan dan tak terkira! Itulah kesan saya untuk acara ini, diskusi buku saya, "Beauty & the Bis". Saya tandem dengan Odhie (ex. sopir PO Sumber Selamat/Sugeng Rahayu yang makin keren anaknya karena dia juga masih tercatat sebagai mahasiswa S2 FKM UNAIR). Dipandu oleh Prima Sulistya, petinggi Mojok Dotco yang kocak, acara sangat gayeng. Dua jam rasanya singkat sekali. Dan sebab sesi foto dan sesi tanda tanganlah saya jadi tahu, betapa banyak rekan komunitas "bismania" yang hadir, dari Semarang, Solo, Wonosobo, dan Jakarta.

Ada beberapa kejutan di sana. salah satunya adalah penampakan Plentong, lelaki bertato di sekujur tubuh yang salah satu tatonya adalah gambar bis sedang parkir di lengan kanannya. Heroik sekali orang ini kalau soal bis-bisan. Banyak kejutan pokoknya, juga kehadiran orang-orang yang tidak terduga, termasuk Mas Noviyanto, warga Boyolali yang justru baru saja saya kenal kurang dari seminggu, di rumah saya, di Madura, eh, kini sudah ketemu lagi di Jogja. Satu-satunya hal yang membuat saya deg-degan adalah karena harus tampil menyanyi, bukan tampil tahlilan atau orasi. Deg-degan itu tidak enak, beda dengan degan apalagi kopyor.

FOTO-FOTO DARI ACARA DISKUSI BUKU























Malam itu kami tidur di markas IAA (Ikatan Alumni Annuqayah), di Perum Polri, Gowok. Tentu tidak ada dana untuk tidur di hotel. Sebetulnya, panitian menyediakan kamar di kafe, tapi tak satu pun anggota saya yang mau. Mereka mau ikut saya, ya, naik Colt-nya, ya, nginapnya. Hanya Mas Alwi yang ngingap di Gamping.

RABU pagi, 21 Pebruari, esoknya, saya sowan ke rumah Mas Benta di Gamping. Selaku 'elite' CJI (Colt Jogja Istimewa), saya datang ke sana semacam membawa amanah untuk titip jempol sebagaimana PNS harus titip 'finger-print' di kantornya. Sambutannya luar daripada biasa. Kenapa? Suguhannya adalah kopi dan cemilan plus kunci ring 17/14 untuk mengontrol kerenggangan templar: servis yang sebenar-benar servis; ya orangnya, ya, mesinnya. Ternyata, ada dua pelatuk yang renggang sehingga bunyi mesin agak kasar. Mas Benta merapatkannya, dibikin sama dengan enam pelatuk yang lainnya: 10/15. Walhasil, mobil jadi enak. Andaikan bunyi mesin itu sejenis makanan, rasanya pengen saya makan, deh. 





Sebelum balik ke kafe demi memenuhi janji kencan dengan beberapa kawan yang tak sempat hadir di acara tadi malam, kami main ke rumah Mbah Tomy Aditama. Saya minta diterapi 'zamathera' agar tulang belakang saya kembali tepat ke posisinya, agar jangan mesin saja yang diurus dan diperbaiki, orangnya juga.

Sesi terakhir di Jogja adalah bertemu dengan kawan-kawan lama di Kafe Basabasi: Fitri, Yadi dari Kalsel, Mas Prast, dan mas bro Edi Mulyono. Banyak juga yang lain. Ada kawan yang harus disambangi tapi tidak semuanya mampu disinggahi. Itulah keterbatasan. Mau dilawan? Enggak bisa.

Kami meninggalkan Jogja menjelang pukul 17.00, mampir sejenak di rumah mbak Abidah el Khalieqy di Sambilegi, di kediamannya yang masih sangat bernuansa 'ndeso' meskipun berjarak hanya sepelemparan batu ketapel ke RS Hermina dan Lottemart. Seusai duduk-duduk dan seterusnya, ngeteh Turki dan seterusnya, shalat dan seterusnya, kami pun pamit pulang. Mas Alwi kembali yang mancal, seperti janjinya.





Perjalanan rombongan Colturer ini lancar jaya. Saya pilih duduk di kursi belakang, tidur-tiduran, kadang tidur beneran. Soalnya, Colt ini nyaris dipenuhi dengan bantal. Kami memang niat untuk itu.

Mungkin supaya kami tidak sombong, akhirnya Colt harus menunjukkan tanda-tanda ke-fana-annya di Masaran, dekat kota Sragen. Mobil mati mendadak akibat melabrak genangan air yang tingginya mampu menyelinap ke dalam kokpit. Mungkin businya sempat basah, atau delco kena percikan, itu dugaannya. Tak lama (katanya cuma 5 menit saja; saya tidur waktu itu) dan mobil sudah bisa menyala lagi, kembali menunjukkan ke-keladi-annya meskipun TOA, eh, tua. Kami bergerak kembali menuju Ngawi.

Kami istirahat sejenak di kediaman Mas Alwi, pipis-pipis, nyantai-nyantai sekitar satu jam, barulah kami lanjutkan perjalanan lagi. Kapan makan? Tadi, di Kafe Basabasi sebelum berangkat dan baru lalu di Warung Mbah Asih, beberapa kilometer saja sesudah Gontor Putri II, Mantingan, sekitar Pasar Kedungmiri.


Baru dari Widodaren inilah, kendali kemudi dipegang oleh Khatir. Saya berharap dia tidak ngantuk karena saya nawaitu mau tidur saja. Kami bertolak pukul 12.40 dari rumah Mas Alwi. Hujan sepanjang malam membuat kami harus berjalan pelan saja, ngesot bagaikan keong. Lampu tak mampu melawan kegelapan. Sempat berhenti sejenak di Caruban, saya nyari toko yang ada relief Colt-nya, tapi tidak ketemu. Belakangan saya sadar, saya mencari di tempat yang salah. Hal ini mirip dengan orang yang mencari-cari 'kebenaran' di tempat 'kekeliruan', pantas saja enggak ketemu.


Sewaktu saya berjalan kaki, saat melewati SPBU samping RSUD Caruban, saya pergoki sebuah mobil “plat M”, bergambar kakbah: PPP Pamekasan. Seketika itu pula saya membayangkan ada Ustad Muhsin Salim di dalamnya. Saya kenal beliau, dulu, sebagai aktivis literasi, bukan sebagai politisi. Mobil itu berlalu meskipun saya sempat melongokkan kepala ke dekat kacanya. 

Di tengah perjalanan, saya sempat berkirim pesan kepada Mas Muhsin, “Apakah Anda sedang melakukan perjalanan ke area Jawa Tengah?”
Sungguh kaget saya. Ternyata dia tahu terhadap pertanyaan atau pernyataan yang akan diajukan sesudah ini. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan foto, ya, foto Colt kami ini yang dijepret dari belakang. Itu pertanda, selepas mereka isi bahan bakar di Ngawi, mungkin sejenak mereka berhenti sehingga berada di belakang kami.

Subuh hari Kamis, 22 Pebruari, kami niatkan bershalat di Corogo, Peterongan, Jombang. Adapun bonus daripada shalat ini, sudah dapat pahala silaturrahim, masih pula dapat kopi dan sarapan. Akhirnya, kami baru bertolak berbarengan dengan tuan rumah, Haris, yang berangkat 'nyambut gawe' ke KUA.

Demikianlah perjalanan Colturer kali ini. Setelah rencana mampir lagi di Lomaer dan Sumber Anyar gagal karena alasan teknis, kami sempat mampir ke bengkel H. Fathor di Larangan Tokol, numpang pipis dan berbasa-basi dengan cara tanya-tanya soal mesin, soal ini dan itu-nya. Hatta perjalanan kami lanjutkan pulang, Colturer nambah soto dulu di Pasar Keppo supaya perut tidak kepo.





DATA-DATA PERJALANAN:

Jarak tempuh: 973 km
Total lama perjalanan: 88 jam
Bahan bakar: 680.000 (sekitar 79 liter)

Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...