Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tips dan Trik. Tampilkan semua postingan

16 Mei 2016

Mengukur Konsumsi BBM dengan Penyetelan Spuyer Colt dari Luar


Tadi sore, saya berkesempatan lagi mengukur konsumsi BBM Colt dengan sepresisi mungkin. Operjalanan dilakukan pergi-pulang hingga akhirnya saya temukan hasil jarak tempuh 11,3 kilometer (versi wikimapia beda sedikit dengan versi odometer). Sebelum berangkat, selang bensin dari filter saya copot dan digantikan selang besin yang langsung saya cocorkan langsung ke galon bekas kemasan oli literan.

Untuk memastikan kapasitas satu liter persis, saya beli 2 botol bensin eceran, lalu saya tuangkan ke dalam galon bekas wadah oli literan itu hingga batas garis paling atas (1 liter). Saya nyalakan mesin dan dibiarkan dalam keadaan idle sehingga bensin tersedot beberapa mililiter. Setelah itu, saya tambahkan lagi bensin agar kembali berada pada batas garis atas, yakni 1 liter persis. Setelah siap, mulailah saya berangkat.

Sebelumnya, lama sekali saya melalukan “penyetelan spuyer dari luar”. Ini inti dari posting ini. Anda dapat membaca dan melihat foto-foto di blog saya. Silakan cari dengan kata kunci "mengatur spuyer dari luar"). Saya ulir baut jarum yang menyumbat spuyer jalan hingga nyaris mentok (karena saya menggunakan spuyer besar: ukuran 162). Ketika mesin dinyalakan, normal saja kedengarannya. Namun, saat persenleling masuk dan kopling dilepas, mesin mati. Saya yakin, ini pertanda kekurangan bensin. Saya buka sedikit, dicoba lagi, mati lagi. Uji coba ini berlangsung hingga beberapa kali hingga akhirnya saya menemukan komposisi yang pas. Memang, ada sedikit brebet kalau diinjak spontan, namun karena saya bisa mengatur pedal gas dengan alus, semua itu bisa diatasi dan mobil berjalan normal. Setelah dirasa siap, barulah ujicoba siap dilaksanakan.

Sebelum kali ini, saya sudah pernah mencoba hal serupa pada tanggal 08 Desember 2014 silam dan hasilnya 1 liter cukup 12 kilometer. Kali ini, dengan kondisi jalan normal dan datar, beban 1 sopir dua penumpang, kecepatan 50-60 km / jam, konsumsi bensin untuk jarak 11,3 kilometer itu tak sampai menghabiskan 1 liter (masih tersisa beberapa mili liter seperti dalam gambar). Kalau dibawa ngebut, sepengalaman saya, dengan konsumsi seperti itu, kecepatan mentok 80 km/jam, tidak bisa lebih dari itu.

Silakan kalau mau mencoba.

09 Oktober 2015

Persiapan Pergi Jauh


Jika mobil baru biasanya menjalani servis rutin ke bengkel resmi, Colt dan mobil-mobil tua yang lain punya kecenderungan berbeda: servisnya “berkala”, yakni “kala” sudah mogok atau hampir mogok. Mengapa ini bisa terjadi? Karena pada umumnya, jarak tempuh Colt itu tidak jauh-jauh amat dalam kesehariannya. Mungkin saja ia dibawa pergi menempuh perjalanan jauh, namun itupun hanya pada saat tertentu saja.

Berdasarkan pengalaman saya selama beberapa kali melakukan perjalanan jarak jauh dengan Colt T-120 (pergi-pulang 800-an kilometer hingga di atas 1000 km), saya berkesimpulan bahwa item/barang berikut ini sangat vital dan perlu dipersiapkan sebelum melakukan perjalanan sebagai antisipasi mogok di tengah jalan. Tentunya, item-item di bawah ini di luar perlengkapan wajib, seperti dongkrak, kunci roda, kunci 10-17 (pas dan ring), dll:

1.    kabel berserabut bagus (yang panjang): antisipasi kabel korslet dan lain sebagainatau  sebaga(u
2.    gunting/alat pemotong
3.    senter atau alat penerangan lainnya, antisipasi mogok malam
4.    ban kipas/dinamo ampere
5.    karet master rem
6.    filter bensin (jika filternya bukan filter bensin bawaan)
7.    pompa bensin cadangan (jika Anda menggunakan pompa bensin elektrik)

Suku cadang lain, seperti busi atau platina dll, tidak dicantumkan di dalam “daftar barang bawaan” ini karena umumnya sebelum berangkat, sopir akan mengecek atau merasakan seberapa sehat item tersebut sebab ia tidak rusak mendadak melainkan bisa diperkirakan saja. Tentu, ada beberapa item lain yang juga disarankan untuk dibawa namun jelas tidak bisa dipasang di sini karena kalau nanti terlalu banyak, Colt Anda bakal seperti toko onderdil berjalan.

11 September 2012

Jika Aliran Bensin Terganggu

Pompa bensin dari filter bensin ke karburator menggunakan membran. Jika membran lemah, biasanya colt dicirikan dengan tidak kuatnya saat menghadapi tanjakan karena kekurangan bensin. Biasanya, membran tidak serta-merta langsung rusak, melainkan berstatus lemah terlebih dahulu.

Untuk aliran bensin kendaraan baru umumnya menggunakan pompa elektrik. Sayangnya, jika pompa elektrik tersebut rusak sementara kita sedang berada di tengah perjalanan, situasi ini akan mengharuskan kita membeli suku cadang yang baru, saat itu juga, atau mengganti elemen elektrik pada perangkat itu jika masih bisa diperbaiki. Namun, jika kita terpaksa pergi atau pulang dalam keadaan jauh dari toko atau tengah malam, cara paling memungkinkan adalah dengan memasukkan selang langsung ke karburator yang dituang dari jeriken/botol yang berisi bensin. Letak jeriken/botol bensin harus lebih tinggi daripada karburator.

Saya mendapatkan cerita unik dari seseorang tentang pengalamannya yang kala itu tidak bisa nanjak di sebuah tanjakan terjal karena membran colt-nya sudah lemah. Apa yang dia lakukan? Katanya, ia menggunakan perseneling R (mundur) untuk menanjak ke atas. Apakah ini masuk akal? Entahlah, saya belum pernah mengalaminya.

31 Desember 2011

Penghemat BBM: antara Spuyer dan Pengapian

Keluhan yang kerap dirasakan oleh pemilik colt T 120 adalah soal konsumsi bahan bakar. Mereka mengeluhkan ini karena soal boros. Mengapa? Jawaban untuk ini ada beberapa hal; pertama, sebelum punya colt, mungkin mereka terbiasa menggunakan Suzuki Carry; kedua, sebelumnya mereka naik sepeda motor; ketiga, mereka yang punya colt tersebut pernah hidup dalam dua zaman, yakni masa ketika bensin masih murah dan sekarang ketika sudah mahal. Karena itu, konsumsi BBM terasa boros.

Cara hemat yang paling mudah dilakukan adalah dengan mengganti spuyer. Pengalaman saya, menggunakan pasangan spuyer ukuran 85 untuk bawah dan 95 untuk atas/balap) adalah formasi paling ideal. Dengan pasangan seperti ini, konsumsi BBM menjadi standar, yakni kisaran 1:10. Namun ketika saya menggantinya menjadi 80 (untuk bawah) dan 85 (untuk atas/balap), konsumsi bahan bensin memang betul semakin irit, bahkan sangat irit. Sayangnya, suhu mesin jadi naik, yakni berkisar pada 80-90 derajat celsius (jarum menunjukka pada tanda nomor 2 dari bawah atau lebih sedikit hampir setengah).

Karena saya merasa sayang kepada mesin dan saya suka dengan ungkapan “biar pun tua asal di tanjakan tetap bertenaga”, saya kembalikan pada formasi semula, yaitu 85-95. Di samping itu, saya berpikir, barangkali, andai mesin colt ini bisa mengeluh, mungkin ia akan mengeluh saat melenguh. Dan ini akan terjadi jika spuyer dibikin terlalu kecil.

Saran lain untuk membuat lebih irit BBM (bensin) yang pernah saya dapatkan adalah dengan cara mengganti sistem pengapian, dari platina ke CDI (maksudnya CDI trigger; saya beli merek FLASH, rakitan alm. Pak Tamrin Ishak). Saya sudah melakukannya. Pendapat saya, cara ini tidak beirtu berpengaruh pada konsumsi BBM. Barangkali, memang ada pengaruhnya, tetapi saya tidak melihatnya begitu signifikan.

Pemasangan CDI hanya membuat performa dan akselerasi mesin lebih mantap. Kalau ini pasti. Tarikannya lebih bertenaga. Dan satu lagi, tidak perlu gonta-ganti platina. Soal CDI membuat lebih hemat, saya tidak begitu memperhatikannya.
Seorang montir spesialis mobil tua pernah menyampaikan pendapat pada saya, bahwa dia pernah mengganti karburator colt T dengan yang baru, juga merek Keihin. Ia juga pernah memasang karburator Toyota Kijang Super pada colt yang secara kebetulan memiliki dudukan yang sama. Hasilnya? Tetap saja. Konsumsi BBM tetaplah rata-rata, yakni 1:10 atau 1:-11 paling untung. Hal ini disebabakan, mungkin, karena sistem kerja mesin Neptune buatan Mitsubishi tidak diseting buat hemat, tapi untuk bertenanga.

Namun, jika colt T 120 Anda mengkonsumsi bahan bakar 1:8 atau bahkan kurang dalam situasi jalan yang normal, maka ini baru masalah namanya.

05 Mei 2011

Sekali Dorong, Dua-Tiga Kota Terlampaui


Catatan Perjalanan ke Situbondo – Banyuwangi – Jember

“Jadi, kamu tetap mau bawa Titos ke Jawa?” tanya ibu saya sambil menautkan alisnya, pagi itu.
“Iya, memang kenapa?” Saya balik bertanya. Saya tahu, Ibu agak trauma dengan kondisi “Titos”—nama panggilan kesayangan saya untuk Colt—ini mengingat perjalanan ke Jawa dengan beliau sebelumnya sempat mogok beberapa kali (kisahnya ditulis dalam bagian lain di buku ini). “Kan yang dulu itu kita berangkat tanpa cek kondisi kendaraan lebih dulu, Bu,” Saya berdalih. “Perjalanan kali ini tentu beda, Bu. Platina dan kaki-kakinya sudah dikontrol.” Saya memberikan penjelasan tanpa berpikir panjang, apakah ibu saya mengerti dengan penjelasan saya atau tidak.
“Tidak takut mogok?” Ibu ragu. “Kamu bawa sendiri? Tidak ngajak sopir?”
“Tidak. Insya Allah saya bisa mengatasinya sendiri.”

Ahad, 11 Juli 2010: Berangkat

Tubuh saya masih sangat capek. Semalam saya tidur lebih larut dari seharusnya. Sehabis Isya’, setelah acara peringatan doa bersama 1000 hari wafat ayah, saya masih menghadiri undangan haflatul imtihan, perayaan tutup tahun pelajaran di Madrasah At-Tarbiyah, di desa sebelah. Tak sempat tuntas merampungkan acara tersebut, saya izin pamit kepada tuan rumah karena pada malam itu juga satu acara lagi menunggu: diskusi epistemologi Islam bersama Dr. Samsuddin Arif dari International Islamic University (IIU), Malaysia, di aula Madrasah Aliyah Putri Annuqayah. Acara ini terpaksa dilangsungkan di malam hari karena waktu yang serbamepet. Semua acara di atas itu saya hadiri dalam keadaan persiapan mengemudi ke Jawa.


Pagi itu, setelah pamit ke Ibu, kira-kira pukul 9 lewat sekian, saya mulai menjalankan Colt dengan perasaan yakin. Kholis di samping kiri saya dan Abdullah di kursi tengah. Sementara itu, saya duduk di belakang kemudi dengan angka odometer tertera 8853/4. Bayangan pergerakan angka-angka yang akan terus berputar hingga kisaran 300 kilometer lebih langsung melahirkan sensasi awal yang berbeda di dalam hati.
 
Kira-kira 45 menit perjalanan dari Guluk-Guluk, mobil transit sebentar di Bagandan (8889/8 KM), Pamekasan, untuk menaikkan penumpang; istri dan anak saya, juga bibi dan ibu mertuanya, hendak turut serta pulang ke Jember.

“Mari, kalau sudah rampung, segera naik. Kita segera berangkat agar tidak terlalu malam tiba di Situbondo,” saya mengajak mereka untuk bergegas.

Tujuan pertama kami dalam perjalanan kali ini adalah Widuri, Asembagus (Situbondo). Sebetulnya, saya tidak dikejar waktu. Justru Abdullah-lah yang terburu-buru. Ya, malam nanti adalah malam final sepakbola World Cup 2010. Dia berharap, kami tiba di tempat tujuan sebelum laga final pertandingan sepakbola tingkat dunia itu disiarkan oleh stasiun televisi.

“Ayo, ayo..”

Setelah mengisi penuh tangki bensin di SPBU “Violet” Tlanakan, saya mencatat odometer pada angka 8896/5 dengan uang premium Rp 142.000 untuk 31,5 liter. Mobil saya jalankan secara wajar.

Sekitar tiga jam kemudian, pada saat kami melintas di atas Jembatan Suramadu, saya melirik odometer.
“Hemm… 9002/5!”. Kalau dihitung, sudah lebih 100 kilometer mesin 1300 cc ini menderu tanpa henti.
“Ini perjalanan pertama saya dengan Colt di siang hari. Wah, panas rasanya.” Tak terasa saya mengeluh, ngomong sendiri, entah untuk siapa. Saya melirik spion tengah, penumpang ajeg tanpa respon meskipun mereka mungkin juga merasa gerah. “Kalau jalan di malam hari memang lebih enak. Lalu lintas tidak macet dan cuaca lebih dingin,” sahut sebuah suara dari belakang.

Puluhan kilometer jalan lebar bebas hambatan telah kami lalui. Inilah jalan tol terpanjang yang saya tahu, yakni Perak-Gempol, 41 kilometer, yang pernah saya lalui dengan Colt T-120. Kapan, ya, bisa menjajal ruas jalan tol Jakarta-Cikampek atau Cipularang dengan mobil ini? Batin saya dalam hati.

Begitu mobil hampir mencapai ujung jalan tol yang diputus karena bencana Lumpur Lapindo, saya bersiap menyalakan sein kanan menuju Porong. Saya melirik ke samping kiri (kepada Kholis) lalu membisik. “Saya trauma dengan Pasar Porong,” Saya pun bercerita kepadanya, bagaimana trauma itu muncul, yaitu karena sudah dua kali mengalami mogok di depan pasar Porong dalam setahun ini.

Seolah-olah cerita picisan dengan suspense-suspense murahan, kekhawatiran itu benar-benar terjadi.
“Kerrrr….. traaaattt….tatttata..tattat……”
Terdenganr bunyi aneh dari bawah jok depan.
“Astaghfirullah!”

Saya menepikan kendaraan, menetralkan perseneling dan menyalakan lampu hazard, lalu mematikan mesin. Tetapi, astaga, mesin tidak mau mati. Kunci kontak mendadak tidak berfungsi. Saya turun dan segera menekuk punggung untuk melihat keadaan di bagian bawah mobil, barangkali ada sesuatu yang tersangkut mesin atau apa lah.

Tengok dari sisi kanan, tengok dari sisi kiri, tak ditemukan tanda-tanda kerusakan. Kholis pun juga turun untuk membantu melakukan pengecekan sumber bunyi. Kesimpulan: tidak ada apa-apa. Apakah tadi itu suara jin? Dugaan sementara; ada korsleting pada dinamo starter.

“Peduli amat. Ayo berangkat!”
Mobil masih tetap dalam keadaan menyala. Saya masukkan gigi satu, tancap gas, melewati Jempatan Porong dan sein kiri menuju Bundaran Gempol. Cemas berkurang karena ternyata mobil masih dapat berjalan normal. Bahkan, diajak ngebut pun, Colt tetap mampu meladeni tantangan.

* * *

Entah mengapa, siang itu jalan raya sangat ramai. Beberapa titik kemacetan terjadi di daerah Raci, Pasuruan. Mobil bergerak dari perseneling 1 ke 2, atau 2 ke 3. Kecepatan berkisar 30-40 km/jam saja, sungguh-sungguh gerakan beringsut yang membosankan. Karena tak tahan melawan jemu, akhirnya kami putuskan untuk shalat di Masjid Al-Mustaqim, di daerah Gerongan, beberapa kilometer sebelum kota Pasuruan.

Saya memilih masjid ini sebagai tempat istirahat karena beberapa alasan. Yang terpenting adalah karena ia memiliki keistimewaan letak, yakni berada di jalan yang agak menurun. Kalau nanti saya matikan mesin secara paksa dengan cara memasukkan perseneling, melepas kopling, sambil menginjak rem (sebab kunci kontak sudah tidak berfungsi lagi), mudah untuk menghidupkannya lagi. Dorong sedikit, biarkan menggelinding, lepas kopling, sesudah itu Colt pasti langsung brum, brum, brum dan menyala kembali. Jadi, saya pilih tempat ini bukan karena areal parkir yang luas atau pula karena ketersediaan airnya yang melimpah.

Betul, ternyata kontak tetap tidak berfungsi. Sementara penumpang menunaikan sholat, saya justru sibuk membuka jok depan untuk mengecek kondisi ban kipas (van belt) dan kabel, mungkin ada yang bermasalah. Tak ada. Saya makin yakin, masalah ini adalah masalah kelistrikan pada dinamo starter dan sekitarnya. Karena itu, meskipun nyatanya saya sangat lapar, saya mengganjal perut hanya dengan semangkok bakso karena selera sudah habis oleh bayangan “mendorong mobil di masa-masa yang akan datang”.

Setelah semua anggota rombongan perjalanan selesai shalat dan berkemas, Abdullah dan Kholis mendorong mobil. Sedikit saja, Colt menggelinding, mesin langsung menyala, direm, penumpang naik, dan saya pun lantas memacu kendaraan ke arah timur. Kepadatan arus lalu lintas mulai terurai. Pasuruan, Ngopak, Grati, Nguling, Tongas, relatif lancar.

Tiba di Probolinggo, di pertigaan Ketapang, saya ambil kanan lalu berhenti untuk menurunkan bibi dan mertuanya. Saya tidak berani mematikan mesin karena yakin kami akan repot dorong-dorongan lagi jika itu dilakukan. Menunggu bis tak muncul-muncul, akhirnya saya berpesan pada seorang abang becak agar dua orang perempuan penumpang kami ini dibantu, dicegatkan bis ke arah Jember untuk mereka. Saya pamit dan putar balik, melanjutkan perjalanan ke Situbondo.

* * *

“Boleh kalau saya tidak matikan mesin?”
“Wah, matikan saja, Pak!”

Maka, petugas SPBU Suboh itu mencekoki corong tangki bensin sampai penuh. Odometer menunjukkan angka 9197/4 di sini. Isi penuh tangki setara Rp. 122.000. Dengan demikian, konsumsi BBM didapat; 1 banding 11 kilometer. Perbandingan ini terbilang lumayan untuk ukuran konsumsi mobil tua plus banyak beban di jalan yang macet.

Seperti sudah diduga, mobil harus didorong untuk meninggalkan SPBU itu karena petugas pompa SPBU tadi menolak kalau saya tetap menyalakan mesin pada saat pengisian BBM.

Dari Suboh, jalanan semakin sepi. Hari telah masuk waktu Maghrib. Beruntung, di tengah perjalanan, sekitar daerah Mlandingan, sebuah Avanza penuh penumpang menyalip. “Nah, ini dia teman seperjalanan,” batin saya seraya menginjak pedal gas lebih dalam.  Lubang spuyer 95 pun menyembur. Karburator bakal lebih banyak menenggak premium.

Saya mengejar, membuntuti lebih tepatnya, dengan selah kira-kira 15 meteren, secara konstan hingga Panarukan. Bukan hendak mengadu mesin, ini sekadar membunuh bosan. Sama isi silinder mesin namun beda teknologi dan tahun produksi jelas tak layak untuk diperbandingkan.

Dengan kecepatan rata-rata 80-90 km/jam, begitu pendek rasanya jarak perjalanan ini. Tiba-tiba, seolah tanpa sadar, saya sudah memarkir Colt di halaman rumah Paman Sibaweh, Widuri, Asembagus pada odo 9265/4, pukul 19.25 WIB.

Sejauh 400-an kilometer perjalanan etape pertama telah selesai. Besok adalah perjalanan lanjutan. Sebagai sopir engkel, saya harus segera istirahat agar tenaga pulih kembali. Hidangan kopi panas mengendorkan saraf-saraf yang tegang selama berjam-jam. Saat itu, yang saya pikirkan hanyalah bantal untuk tidur, bukan tontonan final piala dunia FIFA dan tim mana yang harus memenangkan pertandingan, Spanyol ataukah Belanda. Bagi saya, tidur adalah final dari kerja keras seharian di atas lintasan aspal Sumenep-Situbondo.

Senin, 12 Juli 2010: Situbondo – Banyuwangi

Jadwal saya hari ini adalah mengantarkan Kholis pulang ke rumahnya di Galekan, Sidodadi, Wongsorejo (Banyuwangi). Karena harus melewati hutan Baluran, dengan bantuan Pak Imron (tetangga Paman Sibaweh), saya merasa penting untuk mengecek lebih dulu kondisi kelistrikan dinamo stater.

“Ada gejala ketidakberesan pada instalasi kabel,” kata Pak Imron seraya membereskannya.
Saya mengajak Pak Imron menemani kami pergi ke Banyuwangi. Meskipun dinamo telah diperbaiki, namun rasa cemas tetap bergelayut. Tidak terbayangkan andaikan Colt kami mogok atau pecah ban di tengah Hutan Baluran sepanjang 23 kilometer itu: tak ada montir, tak ada bengkel tambal ban, tak ada sinyal untuk menelepon bala bantuan.

“Pak, ikut kami ke Wongsorejo. Sampeyan duduk saja. Saya yang nyetir.”
Pak Imron tersenyum, “Sudah beres kok dinamonya.”
“Iya. Tapi, kalau pecah ban di tengah alas, bagaimana?”
Pak Imron (yang baru saya kenal pagi itu) mengangguk tanda setuju.

Perjalanan pergi ke Banyuwangi hari itu dimulai tanpa ada gangguan pada starter. Alhamdulillah. Jalan mulus dan lebar lengkap dengan bahu jalan yang baru, membuat perjalanan ke rumah Kholis sangat menyenangkan. Mengemudi di jalan yang berkelok-kelok, penuh tanjakan dan turunan, di antara hutan jati dan rerimbun pohon di sana sini, sangatlah mengasyikkan. Touring benar-benar terasa nikmatnya.

Sekadar bertamu di rumah Kholis, saya bahagia karena bisa bersilaturrahmi dengan keluarganya di sana. Makan-makan dan minum-minum pun usai. Tak lama setelah itu, urutan acara sesudahnya adalah pamit pulang.

Sepulang dari rumah Kholis dan kembali ke Asembagus, sehabis shalat ashar, kami minta izin kepada Paman Sibaweh, meninggalakan Widuri menuju Arjasa untuk selanjutnya menempuh perjalanan ke Panji Kidul demi mengikuti pengajian Layliyahan Malam Selasa di kediaman Kiai Sufyan Miftahul Arifin. Pamanda memberikan izin kepada kami setelah makan-makan.

Nah, dalam perjalanan ke Kota Situbondo, Colt kami membuntuti sebuah Espass berwarna biru. Mobil 1600 cc buatan Daihatsu keluaran akhir 90-an tersebut larinya ngacir sampai 100 km / jam. Saya berusaha mengikutinya dari jarak aman. Maklum, jalan sepanjang Asembagus-Kota Situbondo itu lurus, datar, lebar. Rupanya, mobil tersebut juga hendak pergi ke Panji Kidul, dan juga kebetulan mampir isi bensin di SPBU dekat kota.

Espass parkir di sisi mesin pompa ke-3. Saya pun masuk dan memarkir Colt di mesin pompa ke-4.
“Bensin kosong, Pak, ke sini saja!” kata petugas pada saya sembari menunjuk ke pompa mesin ke-3.
Saya berpikir, bersamaan saat masuk, harus bersamaan pula saat keluar.
“Pertamax!”
“O, kalau Pertamax-nya ada. Berapa?”
“Limapuluh ribu.”
Dengan percaya diri, saya isi tangki bensin premium itu dengan pertamax. Namun, apes, switch dinamo starter tiba-tiba tidak merespon kunci kontak. Kembali, mobil tidak bisa dinyalakan. Apa boleh buat, biarpun pertamax, tapi dorong lagi.
“Nggak biasa diisi pertamax kamu isi pertamax. Ya, kaget mesinnya!” kata sebuah sumber suara dari belakang, meledek saya.

Selasa, 13 Juli 2010: Jember

Bangun sepagi mungkin sudah saya rencanakan sejak semalam. Pukul 5 pagi, kami meninggalkan Panji Kidul menuju Jember. Ruas jalan Situbondo-Bondowoso masih relatif sepi kala itu. Saya baru mematikan lampu fog saat kami masuk daerah Prajekan karena hari mulai siang. Selepas Kota Bondowoso ke arah Jember, barulah jalan mulai padat. Anak-anak berseragam SMA dan bapak-ibu yang hendak pergi ke kantor memenuhi lajur di kanan-kiri jalan raya.

Kami tiba di Dukuh Mencek, rumah sepupu, dan bertemu dengan rombongan yang datang dari Madura sekitar pukul 7.30. Kedatangan kami ke Jember kali ini adalah untuk menghadiri undangan walimah putra dari Pak Sef (alias Pak Munir alias Pak Saifullah).

Setelah cukup isritahat, sehabis shalat Duhur, dari rumah Alwalid, iring-iringan mobil bergerak menuju tempat walimah akan dilangsungkan, di daerah Sumbersari. Pak Sef menyambut kami luar biasa. Pak Sef merupakan saudara jauh kami yang baru saja tahu ikatan kesaudaraan dalam bulan-bulan terakhir ini. Pesta pernikahan ini akhirnya selesai setelah ashar. Acara berlangsung meriah. Tuan rumah berbahagia. Bahkan, dari saking bahagia, Pak Sef mengganti uang bensin kami, berlipatlah senang itu.
 

Rombongan dengan mobil Kijang pulang lebih dulu karena bermaksud untuk melaksanakan shalat Duhur-Ashar di daerah Tanggul. Rombongan saya memilih shalat Ashar di rumah si sepupu. Kami baru pulang pada pukul 16.30-an.

Aneh, atau ajaib, saat akan berangkat, dinamo starter normal kembali. Dalam, hati saya bertanya, jika awal mula dinamo starter macet dan saya duga itu suara jin, nah, apakah normal ini merupakan efek uang ganti bensin? Saya tersenyum-senyum sendiri.

Colt berjalan tanpa ada gejala korsleting. Begitu pun ketika saya mengisi bensin penuh di SPBU Bangsalsari pada odo 9525, dinamo starter tetap normal, aman. Sore itu, tak ada acara dorong-mendorong lagi. Colt ‘Titosdupolo’ bergerak cepat, menembus rembang petang yang turun menyambut Maghrib.

Sebelum berangkat tadi, saya engikat janji denagn Paman Naqib. Kala itu, beliau sedang mudik ke rumah mertuanya di Tanggul. Kabarnya, Paman Naqib hendak menitipkan kardus-kardus berisi jeruk dan ransum lainnya. Kami janjian kencan di alun-alun kota. Cara ini dianggapnya dapat mengurangi beban bawaan sang paman yang hendak pulang ke Madura, besok, dengan bis.

“Saya sudah hampir sampai Tanggul, Om.”
“Ya, saya sudah menunggu di alun-alun.”
“Posisi tepatnya di mana?”
“Setelah lampu merah, menepi ke kanan, lalu parkir.”

Betul, rupanya Paman Naqib sudah menunggu di situ bersama iparnya. Kami bertemu di dekat alun-alun Kota Tanggul. Sementara kardus-kardus berisi jeruk itu dinaikkan ke mobil, mesin terbiar menyala karena khawatir dinamo starter kumat lagi. Sebab, akan sangat berat urusan kalau harus mendorong mobil yang sudah dipenuhi barang berjibun.

Berangkat.

Gas pada gigi satu rasanya harus diinjak lebih dalam agar mampu menarik beban berat ini. Tugas mesin terasa lebih ringan ketika perseneling telah mentok di gigi 4 dan menapak aspal mulus dan jalan yang datar. Selepas Tanggul, mobil menyusuri jalan di tepi sungai Bondoyudo yang lebar. Pemandangan indah terhampar di depan. Kiranya, inilah lintasan paling indah yang saya lewati selama ini.

Tugas Colt belum selesai. Masih ada satu penumpang lagi yang harus saya bawa, yaitu Bibi yang sebelumnya berangkat bersama dari Madura dan berpisah di Probolinggo itu. Saya pasang mata secara awas. Beliau bilang akan mencegat saya di daerah Batu Urip, selepas tikungan, setelah jembatan. Tidak ada GPS, tidak ada titik kordinat. Di manakah tempat itu?

Laju mobil saya turunkan begitu melihat aba-aba dari seseorang yang menggubit di kejauhan, di muka. Saya lalu menepikan kendaraan, turun dari aspal, membuka pintu untuk menyambutnya. Namun, kaget bukan alang-kepalang ketika saya melihat seorang lelaki tua yang memanggul “sahara”, sebuah koper yang besarnya luar biasa. Dia menyeberang jalan, mendekati saya.

“Ini bawaan bibi, Pak?”
Orang itu mengangguk.
Dug!
“Bagaimana mungkin koper raksasa ini dimasukkan ke dalam mobil yang sudah penuh dengan barang bawaan?” Saya membatin.
“Ini mau dibawa pulang, Bi?” tanya saya pada Bibi, melakukan konfirmasi.
“Iya. Emang kenapa?” tanya Bibi. “Tidak cukup, ya? Kalau tidak cukup, tidak apa-apa.”
“Ya, cukup sih cukup, asalkan Panjenengan mau duduk terjepit di kursi paling belakang.”
“Oh, ya, tidak apa-apa. Tidak masalah.”

Sahara dimasukkan, dan Bibi pun duduk desak-desakan bersama tumpukan barang di jok belakang.
Selesai, dan mobil kembali berjalan. Namun, sekitar 1 kilometer kemudian, terdengar bunyi mendenging. Hati pun mulai ragu. Masalah apa lagi ini? Mobil diberhentikan. Cek, tidak ada apa-apa. Mobil berjalan namun denging tetap terdengar.

“Kenapa?” tanya salah seorang penumpang dari belakang seusai melihat gelagat saya yang mungkin dianggapnya mencurigakan.
“Ada bunyi denging. Saya khawatir ada masalah lagi dengan mesin.”
“Bunyi denging yang mana?”
“Itu lho, coba perhatikan!”
Dan kami pun pasang telinga bersama-sama.
“O, denging itu, tho,” sambung Bibi. “Itu sih suara belalang yang ada di ladang tebu.”

Saya tertawa mendengar jawaban itu. Perasaan jadi plong. Gigi dinaikkan, gas ditambah. Colt masuk daerah Banyuputih pada saat Maghrib. Mobil-mobil padat merayap. Pergerakan lalu lintas ke arah Surabaya petang itu sangatlah membosankan. Mobil bergerak sangat lamban. Barangkali, jembatan rusak di Kedung Jajang, sekitar 5 kilometer setelah Klakah, menjadi salah satu penyebabnya. Bagaimana pun, untuk bermanuver, menyalip satu demi satu deretan truk dan kendaraan berat yang lain sulit dilakukan karena tenaga sudah banyak terkuras oleh muatan yang menggunung. Laju lalu lintas terus tersendat hingga Ranuyoso.

Bahkan, saat kami telah mengarah ke barat selepas kota Probolinggo, jalanan semakin padat merayap. Maunya, kami istirahat di Masjid Tongas. Namun karena ketika melintas di sana dan saya lihat areal parkir masjid sudah sangat padat dan rapat, ciutlah keinginan. Mobil terus menderu, melewati Nguling, Karanganyar, Ngopak, Gratis, hingga tibalah kami di Pasuruan.

Saya sadar, Colt ini bukanlah angkutan umum yang mengutamakan tepat waktu. Saya pun mengambil keputusan untuk istirahat. Di samping itu, cara ini juga demi menjaga keamanan berkendara karena daya penglihatan sudah sangat berkurang. Kami pun istirahat di sebuah masjid di Kota Pasuruan. Setelah shalat Maghrib-Isya, makan, saya tidur di sana dengan pulasnya, hampir dua jam. Tidur di mana pun, jika tubuh dalam keadaan penat, serasa di rumah sendiri, nikmat rasanya.

* * *

Saya bangun kira-kira pukul 22.40, ambil wudu, dan mengaba-aba semua penumpang untuk melanjutkan perjalanan. Namun, saat mobil hendak dinyalakan, tak ada respon. Dinamo kumat lagi. Apa boleh buat, mobil harus didorong kembali.

“Dorong, dorong, dorong…!”
Dan para perempuan pun mendorong Colt.
“Brum, brum, brum….”
Stasioner, penumpang naik, kami berangkat.

Mobil berjalan meninggalkan Kota Pasuruan. Sambil lalu, saya meminta bantuan Abdullah untuk mengirim SMS, bertanya kepada sopir Kijang yang ketika itu barangkali sudah berada di Madura, untuk menanyakan di mana letak SPBU yang buka 24 jam di Madura. Dia membalas SMS begini: “Pom Baranta dan Larangan Tokol” (Pamekasan). Berdasarkan jawaban ini, demi aman, saya isi penuh kembali tangki bensin di SPBU Raci, stasiun pengisian bahan bakar yang berada di beberapa kilometer sebelum masuk bunderan Gempol. Odometer menunjuk angka 9674 dan bensin habis Rp 67.000. Dengan perhitungan ini, kesimpulan dihasilkan: konsumsi bensin rata-rata kala itu adalah 1:10.

Karena mata sudah berbinar dan jalan serlah lapang di depan, sekarang saya menjalankan kendaraan tanpa was-was lagi. Rasa khawatir sempat mengganggu benak begitu kami masuk area Lapindo, deg-degan karena teringat peristiwa-peristiwa mogok di “zona trauma” ini pada saat berangkat.

Tengah malam itu, saat kami melintasi Jembatan Suramadu, perasaan saya senang sekali karena lebih kurang tiga jam-an lagi akan tiba di rumah. Para penumpang telah tidur. Mereka jelas capek. Musik saya bunyikan lebih keras untuk melawan kantuk.

Demikianlah, akhirnya, kami masuk pekarangan rumah sekitar jam 3 dini hari. Meskipun penat dan tubuh begitu letih, saya bertahan jaga hingga adzan berkumandang. Setelah shalat dua rakaat, berdoa dan bersyukur telah kembali dalam keadaan selamat, saya lantas meneruskan perjalanan di atas tempat tidur.

15 Januari 2011

Delco



Salah satu penyebeb sering berubahnya setelan platina pada colt T-120 yang saya tahu diakibatkan goyahnya batang delco. Batang delco (entah apa istilah mekaniknya, pokoknya batang panjang yang berujung di mesin pompa oli itu) tersebut diperkuat oleh bos atau cincin (bearing/bushing) yang bergunan mengurangi aus karena gesekan. Nah, jika batang itu sudah aus, maka otomatis ia akan goser (bergoyang sedikit) saat berputar terus-menerus. Akibatnya, setelan tidak akan awet.

Kita bisa mengganti bos/cincin itu. Belilah di toko. Harganya berkisar 12.000 rupiah hingga 20.000 untuk kualitas yang lebih bagus. Bahkan, kita bisa memasukkan dua bos/cincin sekaligus itu ke dalam tabung delco itu jika memang sudah sangat goyah.

Nah, yang perlu juga diperhatikan, apakah otomat delco colt kita masih berfungsi apa perlu juga diganti? Jika tidak berfungsi, masin panas dapat mengakibatkan mobil sulit di-start. Pengecekannya mudah. Tiuplah lubang udara di otomat tersebut. Jika tidak ada reaksi, berarti otomat itu minta diganti. Harga berkisar 30.000-40.000 an.

Catatan: semua informasi ini saya dapatkan dari Paman Farhan yang menolong saya memperbaiki colt tadi malam, sampai larut, dengan kopi dan jagung bakar.

11 Oktober 2010

Tips & Trik Colt T 120 (Bersama Paman Farhan)



Hampir semua ruas jalan di tempatku diaspal, dan mungkin lebih 80% di antaranya sudah menggunakan aspal hotmix. Mengutip perihal kemajuan infrastruktur ini, orang kampungku memiliki ungkapannya sendiri: “jalan aspal sudah masuk hingga ke depan beranda dapur kami”.

Jumat sore itu gerimis turun. Saya, bersama bibi, anak, dan dua orang sepupuku, pergi ke rumah Pamanda Farhan di Patapan. Sayangnya, jalan ke rumah Paman tersebut, meskipun dekat, masih masuk ke dalam kategori jalan yang diperkecualikan dari pernyataan di atas, yakni belum semuanya diaspal. Ada beberapa puluh meter jalan yang berlumpur jika hujan turun.

Sore itu, Pamanda menyuguhkan kopi yang panas. Dugaanku, kopi ini dibikin dari bubuk hasil ditumbuk di loyang besi, bukan dihaluskan oleh penggilis elektrik. Dugaan ini saya dasarkan pada aromanya yang benar-benar menggoda selera.

Sore itu, perbincangan dengan Pamanda telah melambungkan ingatanku pada sebuah nostalgia. Ya, pamanda ini merupakan salah seorang yang telah berhasil mempengaruhi untuk memiliki dan lalu mencitai Colt T-120. Nah, kesempatan itu juga kugunakan untuk mengorek pengalamannya seputar mobil ini. Maka, diapun bertutur panjang dengan suka-dukanya. Dari kisah itu, aku menemukan beberapa tips mengatasi persoalan di jalan raya, saat Anda jauh dari rumah dan jauh dari bengkel. Ini di antaranya:

  1. suatu kali ia kehabisan minyak rem. Dia bilang, saat itu, saya beli segelas teh manis. Saya minum seteguk. Sisanya saya masukkan ke galon minyak rem yang terletak di sisi kiri batang kemudi. Hasilnya? Rem mobil kembali pakem dan bisa ia gunakan pulang ke rumah sejauh 300-an kilometer (Ada kisah yang mengatakan agar memakai minyak goreng)
  2. jika lampu depan (headlamp) mati mendadak di tengah malam sementara Anda tak ingin bermalam di jalan, bukalah cover lampu sein itu. Cahanya cukup membantu menerangi jalan di depan.
  3. pernah suatu saat dia mengalami putus kabel gas di malam hari saat toko sukucadang tetah tutup. Pesannya, “Jika seperti itu yang Anda alami, buatlah jalan pintas dari karburator lewat belakang jok depan, lalu copot kulit kabel di ujung, lalu ikatkan ia ke kaki. Aman!” Jadi, saat kita menginjak pedal gas, itu hanyalah langkah simulasi. Karena sejatinya, yang menarik kabel gas tersebut adalah kaki kita, bukan pedal gasnya
  4. jika mobil pick-up Anda selip di tanah licin atau karena muatan kosong, kemposkanalah sedikit ban belakangnya dengan tekanan udara seminimal mungkin. Tujuannya, agar semua permukaan ban menyentuh tanah sehingga gerigi ban dapat berfungi dengan maksimal
Semoga tips ini bermanfaat.

31 Januari 2009

Enambelas Jam Bersama Titos du Polo



Awal tahun 2005, saya pergi ke Surabaya. Saya bawa Colt T-120 pick up untuk mengangkut barang, dari di Bulak Banteng ke Guluk-Guluk. Saat itu, saya bersama Man Farhan. Beliaulah yang mendampingi saya, lengkap dengan peralatan tempurnya yang diletakkan di bak belakang mobil. Sejenak, mobil ini kelihatan sebagai “bengkel berjalan”.

Dalam perjalanan ini, kami tidak membawa STNKB karena sebelumnya sudah kena tilang dan tinggal nunggu panggilan pengadilan: kena tilang karena di mobil itu tidak ada sabuk pengaman.

Kami berangkat dari Guluk-Guluk habis shalat subuh. Ini adalah cerita menarik, karena suspense telah dipasang pada paragraf pertama:

Seperti lazimnya, sebelum dibawa pergi, mesin mobil dipanaskan. Sambil lalu kami shalat subuh dulu. Tapi, tiba-tiba mesin mobil terdengar “pincang” (tidak stationer). Begitu aku mendekat, aku terkejut. Bau bensin tiba-tiba menyeruak. Kulihat, di bawah mobil bagian depan, ada tumpahan “air”. Ough! Itu bensin, bukan air. Rupanya, baut tap bensin di karburator copot dan entah jatuh di mana, tumpahlah bensin di tangki. Kulihat di indikator bensin; di bawah strip separo. Payah! Tak kehilangan akal, karena ini memang mobil gendeng, Man Farhan menyumbatnya dengan baut sembarang, plus ganjal kardus. Aman, kami pun berangkat.

Benar seperti dibilang, cerita “Enambelas Jam Bersama T-120” ini memang akan menjadi cerpen yang menarik. Kejutan demi kejutan pun terus terjadi menemani perjalanan kami:

Sampai di Prenduan, tiba-tiba lampu depan (head lamp) mati. Utak-atik sebentar, nyala kembali. Sampai di Camplong, kami mengisi bensin: full tank. Tapi, lagi-lagi sial! Bagian atas tangki bensin bocor. Bensin pun menetes. Sekarang jadi ketahuan: mobil pick up ini tidak pernah beli bensin full tank, melainkan eceran di sepanjang jalan, atau di sepanjang hidupnya. Baru keluar dari pom bensin, eh, ganti rem yang nyeped. Macet. Om Farhan beraksi: utak-atik sebentar, semua berjalan normal. Memasuki daerah administratif Bangkalan, hujan mengguyur dan tiba-tiba wiper kaca depan (karena ini mobil bukan tipe LGX, meskipun tunggangannya serupa Nissan Serena, tidak punya wiper untuk kaca belakang), macet. Cukup menggoyang saklar wiper sedikit, hup! Simsalabim, beres. Wiper berjalan lagi: ketahuan kalau instalasi kabel di mobil ini “ga-oga kabbi” (semrawut).

Mobil T-120 kami, yang rupanya belum merasa capek setelah melakukan perjalanan nonstop sejauh 145-an KM, kini berisitirahat di atas ferry. Mesin dimatikan. Kami turun dan naik ke geladak, menikmati angin deras di atas laut, sambil mengisap rokok dan menyeruput “kopi-yang-selalu-hangat” (meskipun ndak pakai termos, tetapi diletakkan di belakang jok, di atas mesin). Tetapi, saat ferry mau bersandar, kejutan terjadi lagi. Mobil tidak mau distater. Saya tegang. Keringat memercik. Di depan truk, belakang truk, kanan mobil box, waduh! Untunglah, Man atawa Om Farhan menghibur,

“Kalau naik T-120 ndak boleh tegang, semua pasti bisa diatasi! Ntar distater, ya, setelah saya beri aba-aba!” katanya sambil tersenyum.

Man Farhan menghilang, berjongkok di bawah bak. "Tok..tok.tok…" Saya mendengar dia mengetuk-ngetukkan benda keras dengan benda yang juga tak kalah keras. Dinamo stater diketuk dengan kunci ban! Ajaib, setelah itu, stater normal kembali. Kami keluar dari ferry dengan tampang seorang calon idol yang baru selesai audisi tanpa kesalahan.

Itulah kisah saya bersama Man Farhan naik colt-T120. Perlu diketahui, mobil yang saya bawa ini awalnya station wagon tahun 1977 yang dibeli dengan harga 11 juta. Barangnya jelek. Setelah bodi dipotong dan diganti dengan bak pick up, dicat ulang, dipermak, mobil jadi cakep. Total biaya keseluruhan Rp 23 juta. Maunya, pick up ini dijual dalam keadaan bagus, tetapi karena kebutuhan angkut-angkut bahan material, ya, dipakai juga akhirnya. Karena mungkn kurang terawat, ring sekernya patah karena—ini juga mungkin dan secara kayak-nya—terlalu sering buat dorong di pagi hari. Nah, setelah mangkrak kurang lebih 4 bulan lamanya, ganti ring seker, pick up ini kemudian kami bawa ke Surabaya (seperti cerita di atas itu), tanpa lebih dulu dicek lampu, rem, dan perlengkapan lainnya. Entahlah, ada di mana mobil itu sekarang, sudah dijual. Oh, T-120…

Eh, masih ada lagi…

Kami pulang dari surabaya dengan senang. Karena semua barang bawaan terangkut dan mobil berjalan normal. Temperatur mesin hanya satu strip: kondisi stabil. Hanya saja, tiba-tiba di Baranta, saya lihat indikator temperatur mesin naik. Kukira itu karena ada tanjakan panjang mendekati Larangan Tokol.

"Man, ini kontrol panasnya naik," kulaporkan pada Om Farhan.
“Biasa itu, ntar turun lagi!”
Tetapi, saat tiba di jalan datar dan indikator terus menanjak, "Tapi, ini terus naik, man. Ini sudah menunjuk setengah!"
Dengan tenang, man Farhan berkata, “Nah, kalau begitu, ini baru masalah namanya. Parkir!”

Mobil kuparkir, bersiah ke kiri, di bawah pohon asam besar, seberang masjid At-Taqwa Larangan Tokol (Belakangan saya tahu, bahwa tepat di samping masjid At-Taqwa itu terdapat bengkel Haji Fathor yang memang sering mengerjakan perbaikan mesin Colt T-120). Setelah jok dibuka, kelihatanlah “air mancur”! Rupanya, lower hose (selang bawah radiator) sobek terkenal kipas. Apa boleh buat, sementara Man Farhan membuka mur-baut kelam selang, saya berangkat ikut angkudes ke toko onderdil di kota Pamekasan. Sudah sore memang, tapi untung masih ada yang buka. Selesai adzan maghrib semuanya berhasil dikerjakan. Alhamdulillah.

Sekali lagi!

Demikianlah, akhirnya kami pulang ke rumah dengan hati yang lapang. T-120 telah memberikan pengalaman menarik dan berharga bagi saya dalam hal berkendara dan bersabar. Sejak saat itu, saya dapat mengurangi sedikit demi sedikit rasa kekagetannku. Setelah kisah itu, saya pernah mengalami: kehabisan bensin tengah malam, ban pecah dan tidak ada dongkrak dan kunci roda; ban kipas dinamo ampere putus di terik siang dan jauh dari toko; ah, masih banyak cerita yang lain. Saya terima apa adanya (Menggerundel? Ya, menggerundel sih iya, tapi gerundelan itu saya klik-kanan>properties>hidden; saya simpan saja dalam catatan kaki :-D).


Anda juga punya pengalaman menarik? Mari berbagi cerita…

Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...