Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Titosdupolo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Titosdupolo. Tampilkan semua postingan

01 Agustus 2023

Semalam di Jogja

Catatan Perjalanan ke Jogja, 22-23 Mei 2023


Perjalanan ke Jogja kali ini terbilang buru-buru. pasalnya, meskipun perjalanan telah lama dirancang, tapi digagalkan dua hari menjelang hari H. Yang menjadi sebabnya adalah; anak saya mendadak demam dan ibunya keberatan kalau ikutan berangkat. Maka, saya putuskan untuk ngebis saja. Akan tetapi, menjelang malam keberangkatan, si ibu mengambil keputusan untuk ikut karena suhu tubuh putranya mendingan. 

“Besok pagi tidak apa-apa kalau mau berangkat,” katanya.

Terburu-buru membuat saya lupa ngecek merata (pengecekan inti sudah), dan ternyata knalpotnya agaknya sedikit bocor sehingga kalau lepas gas, terdengar letupan. Begitu juga, Cak Badi—yang akan menyetir, menggantikan Cak Anam yang biasa bareng saya dan sekarang uzur karena persiapan menikah—harus dihubungi mendadak. Untung saja bisa. Selamatlah rencana perjalanan ini dari kegagalan.

Pagi itu, Kamis, pukul 09.30, kami bertolak dari rumah, jos langsung menuju masjid Baiturrohman di Dumajah, pukul 12.40 Pada beberapa kali trip, titik ini memang sengaja dibuat persinggahan saya, persinggahan pertama ketika berangkat. Pasalnya, letaknya yang dekat dengan akses Suramadu dan secara waktu telah mencapai perjalanan 2,5 atau 3 jam dari rumah dalam kecepatan 70-80 km jam. Jadi, secara teori mengemudi, posisi ini memang tepat untuk dibuat tempat rehat. 

Sedianya, sesuai rencana awal, andaikan kami bisa berangkat bakda subuh persis, maka rencananya adalah mampir ke Masjid Raya Syeikh Zayed di Surakarta alias Solo dengan perkiraan shalat jamak duhur-ashar di sana. Akan tetapi, berangkat bakda subuh persis memang cenderung tidak persis, bahkan cenderung sampai matahari terbit (sebab itu, banyak dari keluarga besar saya yang suka menjadwalkan keberangkatan beberapa menit sebelum azan subuh dalam keadaan sudah punya wudu). Penjadwalan seperti ini ternyata lebih efektif untuk menghindari molor. Dan kali ini, berangkat bakda subuh tidak mungkin karena persiapan kami belum selesai. Perjalanan dimulai pukul 10.00.  

Perjalanan di terik siang membuat hati kacau di Surabaya. Macet jalanan minta ampun, entah kenapa sebabnya. Pendingin kabin hasil rangkaian sendiri tidak mampu menenteramkan tubuh, hanya sekadar mampu membuat tidak keringatan. Ya, maklum, banyak kebocoran di sela-sela pintu dan membuat suhu udara luar (yang mungkin bisa mencapai 35-376 derajat celcius masuk ke dalam) dan juga faktor evaporator AC yang tunggal, hanya di depan, sementara untuk sampai ke kursi belakang saya menggunakan kipas angin yang dipasang di plafon tengah.

Sebelum masuk tol Dupak, saya melipir di masjid Nurul Yaqien (pukul 14.10) yang jaraknya hanya berapa puluh meter ke akses pintu masuk. Si bontot mau pipis. Harus diakui, bahwa keberadaan masjid-masjid di tepi jalan itu, salah satunya, adalah untuk orang singgah buat air kecil karena kalau menunggu SPBU belum tentu rimbanya, apalagi di jalan tol. Yang juga harus diakui juga adalah; ada pula yang benar-benar hanya singgah untuk pipis, jangankan sampai shalat tahiyatal masjid, ngasih uang ke kotaknya saja tidak. 

Karena keberangkatan berubah, maka jadwal lain-lain juga berubah. Perjalanan sepenuhnya lewat tol sampai Colomadu (Kartasura), padahal sebelumnya dirancang keluar-masuk: masuk Warugungun, keluar Bandar; masuk Caruban, keluar Sragen, lalu lewat arteri, lewat kota Solo, ke Masjid Zayed). Di tol, kami hanya singgah satu kali di tempat istirahat di Saradan, Madiun (jika tidak salah 627). Sebagai hiburannya, saya bawa rombongan yang untuk pertama kalinya ke Jogja itu—kecuali dua anak saya yang lain—ke masjid Al-Aqsha, Klaten. Pukul 19.50, kami bertolak menuju Jogja, ke Kafe Main-Main untuk makan malam dan tiba pukul 20.45.

Dipandu oleh GPS oleh Mas Mukhlas, kakak sepupu Zulfa (istri saya), Colt ini kembali menapaki jalan 
Lingkar selatan (ringroad) setelah terakhir Agustus tahun lalu, 2022, saat menghadiri kopdar ICJ di Pantai Cemara.  Sepertinya, Colt ini sudah akrab dengan aspal Jogja sehingga tidak perlu ragu-ragu, bahkan andai tanpa GPS, seakan ia sudah dapat mengendus jejak dan tapaknya di jalan-jalan kota Jogja. 

Setelah masuk lewat Jalan Imogiri Timur, belok kanan di Perempatan Jejeran, kami pun tiba di rumah Kak Mukhlas yang beruntung bisa menempati kediaman Mbah Juned (karena istri beliau merupakan cucunya) yang letaknya berada di belakang masjid  At-Taawun, Kanggotan, Plered, Bantul. 

Pagi Jumat, acara kami adalah silaturahmi, tidak lebih. Istri maunya istri adalah diantar ke Malioboro, tapi ternyata gagal karena si kecil rewel. Maka, setelah jumatan di Masjid At Ta’awun  yang terletak persis di timur rumah Mas Mukhlas ini, saya pun berangkat ke lokasi acara tanpa rombongan karena kerewelan tersebut masih berlanjut. Tak apalah, ia harus diterima sebagai takdir karena kita sudah ikhtiar.

Dalam perjalanan ke desa Pulesari di Sleman, kami menyusuri jalan terdekat menurut GPS. Saya tidak tahu menahu jalan itu karena ia adalah pertama kalinya. Akan tetapi, sebelum mencapai lokasi yang ditargetkan pukul 16.00, saya manfaatkan waktu untuk singgah-singgah lebih dulu, antara lain ke Pak Benta di Gamping yang baru buka kedai angkringan SGS dan lapangan futsal, di belakang rumahnya. Habis itu, persinggahan kedua adalah pool PO Putra Remaja, menjumpai Mas Hanif yang janji ngasih suvenir (kami terhubungan kembali dengannya saat saya dalam perjalanan naik bis ini dari Jambi tujuan Solo, awal bulan Mei lalu). 

Saya menghadiri undangan anak-akan IAA (Ikatan Alumni Annuqayah) yang mengadakan Kemah Literasi Nasional. acaranya ditempatkan di balai desa Pulesari, Sleman. Sesi sore itu, saya datang bersama Puthut E.A. Kami ngobrol bergantian: saya dulu, baru dia. Tapi, saya tidak langsung pulang sehabis acara, malainkan menunggu Mas Puthut sampai rampung bicara. Eh, gak tahunya, tiba-tiba ada Gus Syukron Maksum datang. Maka, pulang pun gagal, jadilah kami ngobrol sampai menjelang isya. 

“Ayo mampir ke rumah saya dulu,” kata Gus Syukron menawarkan kami mampir ke rumah mertuanya, mengingat dia dari Jambi—yang tempo hari pondok pesantrennya (PP Jari Nabi) itu—baru saya kunjungi. 
“Makasih, tidak mungkin rasanya, Gus, karena saya harus pulang malam ini.”

Turun dari Pulesari, saya mencari jalan akses ke Jalan Magelang yang paling dekat. Meskipun dengan begitu jaraknya sedikit memutar, tapi jalannya lebih terang dan lebih bagus. Maka, saya tidur di jok tengah, sementara Anta—yang ikut kami sejak dari Plered—duduk di depan bersama Cak Badi sang pengemudi. Tertidur lelap karena kelelahan, saya terbangun setelah mobil sudah parkir di halaman rumah Mas Mukhlas. Saya pulas sepanjang 40 km. Jarak segitu adalah jarak total ring-road Jogja yang pernah saya hitung melalui odometer Honda Aastrea Prima di tahun—jika tidak salah—2002 yang silam. 

“Loh, kok sudah mau pulang?” tanya Mas Mukhlas. 
“Serius mau pulang?” Mbak Aini menambahkan. 
“Iya, kami ini masih mau lanjut ke Karangharjo untuk acara besok malam. Besok siangnya masih rencana mampir di Ajung, di Paman Baidawi.” 

Diiringi suasana hari, kami meninggalkan Kanggotan malam itu, menuju Jember. Masih ada 530 kilometer di depan yang harus kami tuntaskan untuk titik persinggahan berikutnya. Tapi, kami singgah sebentar di Kafe Main-Main sekadar untuk ngisi termos dengan kopi, baru lanjut lagi pada pukul 10.00. Kami bertemu dengan Pak Edi dan Imam Rofiie, tapi tidak ada Kang Din yang sedianya mau jumpa saya pula di sana.  
 
Sementara itu, si kecil nangis terus. Suasana menjadi kacau balau saat istri saya berkata.
“Sepertinya saya tidak sanggup kalau harus ke Jember.”
“Ya, tidak apa-apa, kita putar haluan.”
“Terus, bagaimana dengan janjian orang Jember?”
“Pikir saja nanti di perjalanan, toh kita masih punya kesempatan waktu. Siapa tahu Aqil—anak kami yang bontot—jadi mendingan dan kita lanjut.”
“Iya, amin, semoga saja.”

Mobil bergerak dan Cak Badi tetap mengemudi hingga SPBU Kertonatan, Kartasura. Kini, giliran saya yang mengemudi. Masuk GT Colomadu pukul 23.44 dan sengaja saya bawa berlari konstan antara 85-90 km / jam hingga masuk GT Warugunung pada pukul 03.13. Dengan kecepatan rata-rata begitu, yang tentu saja terbilang lambat untuk mobil MPV yang berjalan di jalan tol, jarak 253 kilometer ternyata bisa ditempuh dalam waktu 3 jam 29 menit tanpa rehat sama sekali. 

Mobil terus bergerak tanpa henti hingga akhirnya  saya ngisi BBM lagi di SPBU Tangkel bukan karena habis, melainkan sekadar untuk kalibrasi konsumsi BBM. Hasilnya adalah 1 liter untuk 12,7 km. Data ini masih saya ragukan (karena terlalu irit) mengingat mobil terbilang bermuatan berat karena membawa 6 orang dan barang berjibun serta RPM selalu tinggi. Entah tadi ngisinya kurang penuh atau bagaimana, saya tidak mencermatinya lagi. Yang pasti, jarak dari Kertonatan ke Tangkel itu 294 kilometer, sedangkan pertalite yang dihabiskan adalah 232.000. Suatu saat, kalibrasi harus dilakukan berkali-kali untuk mendpatkan angka yang lebih pasti.  

Kami tiba di Masjid Baiturrohman, Dumajah, masjid yang kami singgahi pertama saat berangkat, untuk shalat subuh. Mobil dan anggota rombongan terus pulang ke timur, sedangkan saya kembali ke barat, naik bis untuk melanjutkan perjalanan ke Jember. 











08 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus Naik Colt (Etape I : Sumenep - Semarang)

Kamis, 30 September  - 1 Oktober 2021

Melakukan perjalanan hampir 1000 km, seperti dari Sumenep ke Poris (Tangerang), bukanlah perjalanan jauh bagi yang tiap hari melakukannya, bahkan terasa biasa saja bagi bis-bis yang memang rutenya ulang-alik ke/dari sana, tiap hari pula. Akan tetapi, bagi saya, perjalanan dari Guluk-Guluk ke Pekalongan, akan menguras ketegangan dan keletihan sebab yang saya naiki adalah mobil tua, Colt T120, bukan Venturer atau Elgrand atau Caravelle, dan untuk pertama kalinya.

 

Hari Kamis pagi, 30 September 2021, saya berangkat menuju Sunan Ampel, Surabaya, via jalur utara pulau utara Madura. Mengapa lewat utara? Sebab saya menghampiri Qudsi, salah satu penumpang yang mendadak mau ikut karena menggantikan penumpang yang gagal berangkat. Qudsi sebetulnya juga tidak bisa ikut karena belum siap. Saya kasih pilihan, sambil dia berkemas, saya akan berangkat lewat utara. Cara ini akhirnya disepakati.

Dari Rubaru, kami berangkat bertiga (saya, Qudsi, dan Habib) ke arah barat, melewati Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Arosbaya, dan bergabung dengan Jalan Nasional 21 di Tangkel, akses ke jalan Suramadu. Kami bertemu dengan Anam di parkiran Sunan Ampel, Jalan Pegirian, parkiran sebelah timur.

Judul perjalanan kami kali ini adalah “Ziarah Walisongo ++” (baca plus-plus; artinya, perjalanan ziarah Walisongo ditambah sowan dan juga ziarah ke makam yang lain serta berkunjung ke rumah teman-teman untuk silaturahmi). Secara adab, tujuan pertama mestinya ke Maulana Malik Ibrahim sebagai wali tertua di antara sembilan lainnya. Tapi, karena secara teknis agak ribet, saya akhirnya memilih Raden Rahmatullah Sunan Ampel untuk menandai ziarah yang oertama.

Ziarah ini sudah lama terencana, tapi makin kuat pada saat mendiang istri saya, Almarhumah Makkiyah binti Ashim yang wafat 52 hari sebelum keberangkatan ini, menyatakan ingin ziarah walisongo bersama saya kalau saja masih diberi umur panjang. Tapi, takdir berkata lain. Ia wafat 10 Agustus yang lalu, bertepatan dengan malam hari Tahun Baru Hijriyah, 1443. Setelah mengatur jadwal dan mempersiapkan dana serta mobil, akhirnya, perjalanan ini baru terlaksana di penghujung September 2021


Perjalanan lewat tol Trans-Jawa kali ini adalah yang terjauh. Jika sebelumnya saya pernah masuk Waru Gunung dan turun di Colomadu, kali ini lebih jauh lagi, yaitu di Gerbang Tol Krapyak Semarang. Tujuannya adalah Marwini yang tinggal di Permata Puri, Ngaliyan. Beliau ada dosen di UNDIP dan istrinya dosen UIN Walisongo, pasangan yang pas.

 

Daerah Ungaran, jalan menanjak yang sangat panjang membuat saya sadar, sepertinya, kampas kopling Colt ini tidak sempurna. Derum mesin lebih besar daripada tenaga yang dihasilkan. Dari tadi, dari Sidoarjo, di trek yang lurus, mobil masih bisa lari kencang, tapi rata-rata kecepatan 80 kilometer per jam dan hanya sesekali mencapai 90 atau 100.


Kepada Anam yang tadi kebetulan ambil jatah mengemudi dari Surabaya sampai tempat peristirahatan 519-B di Ngawi, saya selalu mewanti-wanti agar kecepatan tidak lebih dari 80 km per jam saya, “Sayang, disayang-sayang, dieman-eman mobilnya. Saya masih mau pakai mobil ini lebih lama supaya tidak perlu membeli Venturer,” kata saya berkelakar.

 

“Jangan-jangan kampas kopling sudah aus,” kata saya

“Bisa jadi,” jawab Anam. “Kayaknya kalau sampai rumah, ini harus segera diganti, eman-eman.”

“Wajar, sih, sudah sangat lama dipakai melulu. Dan sialnya, saya lupa tidak dicek sebelum berangkat, soalnya saya tidak menyangka kita bakal menghadapai tanjakan-tanjaka panjang seperti ini,” balas saya memberikan alasan.

 

Tujuan di Semarang adalah rumah Marwini. Kepadanya, saya berpesan, pesan yang bersyarat.

“Saya mau mampir ke rumahmu asal kamu pijetin saya, kata saya bergurau, sehari sebelum berangkat.
Dan Marwini pun bersemangat, berjanji untuk menunaikannya, tapi mungkin karena pertemuan yang tidak diduga itu, bahagia luar biasa membuat dia maupun saya melupakan pijat-memijat tubuh. Kami sibuk pada urusan yang lain, santap-menyantap makanan.

Supaya sama-sama bisa dikunjungi, saya harap Jenengan bisa bermalam di rumah saya, kata Syamsul yang mengaku lebih dekat dengan jalan tol daripada Marwini. Maka, setelah mandi dan makan malam, kami pamit kepada tuan rumah dan bermalam di rumah Pak Syamsul yang tinggal di Beringin, Ngaliyan. Benar memang, rumahnya bersebelahan dengan jalan tol, bukan dengna pintu tol. Jadi, sama saja jauhnya dengan pintu tol. Ah, ada-ada saja guyunan mereka itu.

Malam itu, kami kecapekan. Habib dan Anam sudah tidur. Saya menyusul. Syamsul dan Munir masih menemani Qudsi bercakap-cakap. “Jangan keasyikan, kita harus punya energi untuk perjalanan besok pagi, ke Pekalongan dan lanjut Bekasi, kata saya mengingatkan.


25 Juni 2019

Tujuan ke Besuki, Jelimpat ke Baluran

SENIN, 10 Juni 2019

Kami berangkat pukul 9 malam lewat beberapa menit. Hamdalah, jalanan lancar, tidak seperti yang diceritakan orang-orang yang melintas di malam-malam sebelumnya. Saya dengar, macet parah terjadi di beberapa titik, terutama di pasar-pasar area Bangkalan, seperti Blega dan Tanah Merah. Entah mengapa malam ini sepi atau memang karena sudah lewat tengah malam? Yang jelas, hingga masuk Sampang, sekitar dua jam perjalanan, ruas “Jalan Nasional 21” yang ditandai dengan marka bercat kuning itu terbilang lengang.

Masih tersimpan tanya dalam pikiran, mengapa pasar-pasar di area Bangkalan nyaris semuanya “bermasalah”, seperti dua pasar yang saya sebut di atas, yang hari pasarannya hari Jumat dan Senin (Blega) serta Sabtu dan Rabu (Tanah Merah). Sejak zaman Orde Baru hingga sudah beberapa kali ganti bupati, tetap saja begitu. Apakah karena kedua pasar itu memang lebih ramai dibandingkan dengan pasar-pasar lainnya di pulau Madura yang juga macet pada hari pasaran tapi tidak separah keduanya?

Tujuan perjalanan kali ini adalah menghadiri Haul Kiai Muhammad as Syarqawi (pendiri PP Annuqayah, leluhur kami, asal Kudus, wafat di Guluk-Guluk, Sumenep, 1911), yang akan dilaksanakan pada Kamis siang, 13 Juni 2019, di pondok Al-Munir, Kalianget, Banyuglugur, Besuki, Situbondo. Karena masih banyak tujuan sampingan (mampir-mampir, silaturahmi, takziyah, jengukan, dan lain sebagainya), makanya kami berangkat H-3. Kebetulan pula: sekolahan belum masuk; santri belum kembali, dan; para guru belum mengajar. Resikonya, ya, sisa arus balik pastilah ada. Tapi kesempatan ini tak boleh terbuang begitu saja.

Malam itu, kami berangkat dalam dua rombongan. Mobil saya mengangkut anggota keluarga, sedangkan Ibu mengajak sebagian saudara saya dan anak mantunya dengan naik Mitsubishi Kuda. Saat akan mencapai Tanah Merah, baru lewat pergantian hari, masuk 11 Juni pagi, tiba-tiba Warid—yang ketika itu pegang kemudi—berkata.
“Ini kabel gasnya melorot!”
“Masa?” sontak saya rada cemas. Untung saya segera paham, “Tenang, itu pasti jepitan kabel gasnya lepas.”

Setelah saya periksa, dugaan benar. Baut penjepit kabel gas (ujung kabel gas) kendor sehingga kabel gas pun melorot. Hanya butuh waktu 5 menit kurang sedikit, masalah teratasi. Sayangnya, saya tidak bisa mengencangkannya dengan baik karena obeng yang saya pakai terlalu panjang. Yang dapat saya lakukan hanya memutar dengan dua jari karena ruangnya sempit sementara obengnya terlalu panjang kalau dipasang dengan pegangannya (saat pulang lepas lagi di tol Porong-Perak, bisa diatasi lagi, dan sekarang saya sudah punya obeng pendek buat jaga-jaga).

Mendekati Jembatan Suramadu, tiba-tiba ada yang menyejajari kami sembari membunyikan klakson. Saya cek di kaca belakang Grand Livina yang barusan menyalip itu tidak ada satu pun indikasi stiker yang menunjukkan tanda-tanda kenal. Akhirnya, karena ia melambat dan ambil sisi kiri, kami menyalipnya. Baru tahu kalau ternyata Darori.

“Woi, kamu toh!” panggil saya dengan keras. “Kemana?”
Dia menjawab tapi saya tidak mendengarnya. Baru tahu belakangan kalau dia hendak ke Tulungagung.

Mobil yang dinaiki ibu dan rombongan adik-adik mampir di masjid tepi jalan, Kalilom Lor, Kedungcowek. Entah, mereka mampir untuk apa. Kami tadinya memang berangkat bersama. Tapi, saya putuskan untuk lanjut saja karena yakin pasti mereka dapat mengejar kami, nanti.

Kami menyeberangi kota Surabaya—untuk mencapai tol Perak Timur—dengan cara lewat Sidotopo ke Hang Tuah Jl. Jakarta, Tanjung Perak Timur, Putar ke Tanjung Perat Barat, Laksda M Nazir (Depannya Taman Barunawati), masuk ke bundaran patung buaya dan ambil kiri ke tol Perak – Satelit, dari KM Nol. Biasanya, saya lewat Kenjeran, Kapasan, Stasiun Kota, Pahlawan, Dupak, dan masuk tol. Tujuan saya dengan cara menyisir rute utara kali ini adalah untuk memperkenalkan salah satu rute alternatif kepada penumpang yang saya ajak (nanti pulangnya lewat Pahlawan).

Saat masuk gerbang tol otomtis, tertera saldo di layar: Rp 27,000. Saya kira, saldo ini memang cukup untuk sampai ke Gempol/Kejapanan, tapi tidak mungkin bisa dipakai sampai Grati, apalagi Probolinggo. Adapun turun tol di Raci (depan Pondok Pesantren DALWA) sangat tidak masuk akal: akses keluar tolnya sangat jauh dan jalannya tidak bagus. Dan atas pertimbangan pantauan kondisi jalan raya yang relatif bersahabat, tidak padat dan tidak longgar, diputuskanlah untuk tetap tidak lewat tol, lewat Jalan Nasional saja.

Sesuai dugaan, menjelang pintu keluar Tol Gunungsari, mobil ibu menyalip. Maklum, kecepatan Colt saya hanya tertahan di angka 70-80 km/jam, tidak lebih dari itu demi menjaga “ke-mobil-iawian” kendaraan, makin uzur harus makin santai. Nyatanya, setelah kami keluar dari bundaran Gempol, arus lalin ke arah timur tidaklah ramai. Jadi, di tol maupun di jalan nasional, laju mobil kami sama saja, tetap berkisar di kecepatan segitu, hanya mungkin beda-beda sedikit ketika tersendat atau ada lampu merah. Pantas dan wajar saja ketika mobil ibu keluar di Probolinggo Timur (arah Leces) pada saat kami melintasi Nguling. Selisihnya masih rasional.

SELASA, 11 Juni 2019

Atas permintaan tuan rumah yang mendadak menelepon saya saat akan berangkat, terpaksa kami mampir di Kraksaan (padahal dua bulan yang lalu kami baru saja dari situ, juga bawa Colt CEK TAUTAN AKTIF). Bindara Muzanni (yang ditugaskan Kiai Mustofa) mempersilakan kami istrihat di rumah kayu Kia Mustofa Badri. Subuh masih satu jam lagi. Makanya, kami nunggu waktu azan, lalu tidur setelah itu karena semalam suntuk kami melek melihat kegelapan: hitamnya aspal dan cahaya-cahaya lampu kendaraan.

Setelah ada pesan dari Kiai, “Mampir sebentar saja tidak apa-apa, sepeminuman kopi saja”, kami bangun pukul 07.30, makan lontong yang sudah disiapkan, dan ngeteh di kediaman kasepuhan kiai sekitar 15 menitan lamanya. Habis itu, perjalanan dilanjutkan, perjalanan yang masih panjang, masih sekitar 100 kilometer lagi.

Tengah hari, sampailah kami di rumah bibinda Azizah, di Lamongan, Arjasa, Situbondo. Colt ini sudah berkali-kali tiba di tempat ini. Kami bongkar muatan dan tidur siang, tentu saja setelah makan dengan lahap. Sorenya, kami bertolak ke Widuri, Asembagus, ke rumah bibinda satunya, nyambangi Pamanda Syibawaih Sulaiman yang habis operasi. Beliau sakit dan menjalani operasi menjelang puasa. Karena tidak mungkin kami pergi sambang menjelang Ramadan, maka kami akhirkan saja kunjungannya, yakni saat ini. Setelah isya, agak malam sedikit, barulah kami kembali ke Arjasa, nginap di sana. Sisa capek masih belum sepenuhnya sirna.

RABU, 12 Juni 2019


Pagi ini adalah hari kedua di Situbondo. Agenda saya adalah ke Galekan, Wongsorejo, Banyuwangi. Tujuan utamanya adalah nyambangi paman (sepupu almarhum ayah) yang hijrah dan tinggal di sana. Ini adalah kunjungan yang entah keberapa kalinya, tetapi merupakan kunjungan yang ketiga dengan mobil ini, Colt T120. Kunjungan yang pertama tahun 2010, yang kedua tahun 2011, yang ketiga sekarang, 2019.

“Ada yang mau ikut pergi ke hutan?”
“Saya... “ jawab anak-anak serempak.

Saya kira, istri saya tidak akan ikut, memilih tinggal bersama bibinya. Rupanya, dia ingin ikut bersama kami karena tujuannya bukan wisata, melainkan sambang famili alias silaturahmi. Pergi ke rumah teman orangtua, atau ke orang-orang yang pernah berhubungan dengan orangtua kita, apalagi masih ada ikatan saudara, adalah sunah. Adapun janji pergi ke Taman Nasional Baluran adalah bonusnya.

Sehabis sarapan, berangkatlah kami ke arah timur, melewati Asembagus, Sukorejo, Banyuputih, dan mulai masuk Alas Baluran. Perjalanan ke Wongsorejo pasti mengasyikkan karena kami akan melewati Alas Baluran sepanjang kira-kira 23 kilometer. Jalannya berkelak-kelok, menanjak dan menurun. Seperti biasa, di tengah hutan jati, kita akan selalu melihat pemandangan truk-truk besar yang mogok atau berjalan terseok. Kita sering melihat pemandangan semacam ini dengan perasaan santai dan datar, padahal mereka menjalaninya dengan situasi tegang. Inilah ironi manusia, dan persis begitu saat kita melihat sirkus: kita bayar untuk menyaksikan binatang-binatang itu sebagai hiburan padahal semestinya mereka bebas harus hidup di luar kurungan.

Setelah minum kopi dan seterusnya, basa-basi dan seterusnya, kami pamit pulang. Hari baru beranjak siang, baru lingsir tengah hari. Tinggal satu lagi. Keinginan yang saya simpan sejak dulu harus dikabulkan hari ini: pergi ke Taman Nasional Baluran.

Wisata Taman Nasional Baluran berada di ujung timur Alas Baluran. Areanya masih masuk wilayah administratif Situbondo dan bersebelahan batas dengan Kabupaten Banyuwangi karena Wongsorejo—kediaman paman saya—memanglah masuk wilayah Banyuwangi timur laut (timur-utara). Dari dulu, jalan masuk ke hutan ini saya kira berada tidak jauh dari pintu masuk yang berlokasi di Batangan. Ternyata, kami masih harus menembus hutan sejauh 8 kilometer ke sabana Bekol atau nambah 4 kilometer lagi untuk tiba di Bama, bibir pantainya.

Sabana (atau savana) bekol adalah padang rumput yang sangat luas. Ia adalah ‘rumah makan’ spesies-spesies yang ada di sana. Sayangnya, karena saya datang di siang hari, tidak ada penampakan binatang-binatang yang dimaksud, seperti rusa dan badak. Hanya monyet yang banyak, juga manusia yang selfie atau berlagak di depan kamera.  Menurut penuturan sesama pelancong, waktu terbaik untuk berkunjung adalah sore hari. Sepintas, sabana luas ini akan semakin tampak seperti Afrika, atau taman Zanzibar dengan latar Kilimanjaro yang di sana bernama Gunung Baluran.

Sementara pantai Bama hanyalah pantai biasa. Yang membedakan dengan lainnya adalah adanya pohon-pohon besar di sekitar pantai yang membuatnya teduh. Jadi, pantai ini berbatas langsung dengan hutan.

Dari Baluran, kami balik ke Asembagus, tapi sebelumnya singgah ke PP Salafiyah Syafiiyah Sukorejo. Di pesantren ini, kami melakukan takziyah yang tertunda , ke keluarga mendiang Kiai Abdul Wasik. Beliau wafat 17 Sya’ban alias hampir dua bulan yang lalu (23 April). Apa daya, karena baru sekarang kami ada waktu, maka baru kali itu kami melakukannya. Bahkan, rencana kepergian saya ke Jawa kali ini yang sebelumnya juga diarahkan ke Krai, Yosowolangun, untuk sekalian takziyah ke Nyai Azimah (20 Mei) harus terpangkas karena di hari pemberangkatan (Senin, 10 Juni) masih ada undangan walimah, yang semestinya kami sudah bertolak pada Ahad malamnya.


Di Sukorejo, saya kembali bertemu Ibu yang datang dari arah Bondowoso. Kami takziyah bersama. Dikawal oleh Nabil, putra Kak Rifai, habis takziyah kami ambil bonus silaturahmi ke kediaman saudara kami yang lain, ke rumah Erfah dan Suwandi serta ke rumah Nabil sendiri.


Belum berakhir di situ, silaturahmi masih berlanjut: mobil kami dan mobil ibu bersama pergi ke Sletreng, ke pondok pesantren Sumber Bunga, menyambangi mbahanda Nyai Rauhanah (beliau adalah sepupu mbah putri saya), janda mendiang Kiai Ahmad Sufyan. Saat ibu dan rombongan putri masuk ke dalam. Hamdalah, saya sempat bertemu dengan pengasuh, Kiai Syainuri Sufyan yang selama ini tersiar kabar sakit. Meskipun masih tampak lelah, sempatklah kami bertegur sapa walau sebentar.

Agak malam, kami keluar dan kami pun berpencar. Rombongan Ibu ke arah Besuki, saya kembali ke Arjasa. Besok kami akan bertemu lagi, juga dengan saudara-saudara yang lain, dari berbagai penjuru arah, di PP Al-Munir.


KAMIS, 13 Juni 2019

Sebelum diputuskan berangkat ke barat, ke Besuki, pada pukul 10.00, saya masih sempat disambangi oleh Masuki M Astro (beliau adalah wartawan Antara) bersama kedua rekannya, Imam dan Diana, yang berencana sowan ke makbarah Sukorejo. Sempat kami bertamu di rumah paman, dalam status saya yang juga sebagai tamu di sana. Tentu saja, sebagai tamu, saya minta izin terlebih dulu kepada paman karena harus menerima tamu di kediamannya.

Dan seperti yang dijanjikan, berangkatlah kami ke Besuki pada pukul 10 lewat sedikit. Kami melajukan mobil dengan wajar. Warid yang pegang kemudi. Kami tiba di lokasi sehabis azan duhur, langsung shalat dan bergabung dengan para hadirin yang lain.

Acara berlangsung lancar. Maklum, acara silaturahim Bani Syarqawi ini tidak punya agenda tahunan. Sejauh didirikan, ia baru dilaksanakan beberapa kali. Pertama kali di awal 90-an. Agenda keduanya tahun 1999. yang ketiga tahun 2012. yang keempat—dan yang pertama kali dilaksanakan di luar pondok pesantren Annuqayah—dilaksanakan di Al-Munir, Besuki. Keluarga dan famili datang dari berbagai penjuru. Seluruh hadirin datang dan langsung dipersilakan makan secara prasmanan duluan. Menunya sangat lengkap, mengundang selera. Acara selesai pada pukul 16.00.

sekitar pukul 16.40, saya keluar dari Al-Munir. Sebagian besar sudah pergi, tapi masih ada juga yang belum pulang dari lokasi. Namun, saya mampir  dulu di SPBU Utama Raya, stasiun pengisian bahan bakar yang berada kira-kira 5 kilometer di barat tempat acara, merupakan SPBU paling barat di Kabupaten Situbondo. Kami tidak isi BBM, tapi justru mengantar anak-anak main di pantainya.

Memang, SPBU nomor 54.683.10  ini tergolong SPBU besar, memiliki 80 toilet (memecahkan rekor MURI sebelumnya yang dipegang SPBU 44.521.08 Tegal dengan 67-an toilet). Ada banyak kamar penginapan dan restorannya. Ia juga menyediakan wahana permainan air laut, berupa jetski, mancing, snorkeling, dll., dengan tarif yang bersahabat, mulai dari hingga 400 ribu/5 jam (untuk mancing di tengah laut, dengan fasilitas kapal pemancing). Mungkin karena akses masuk ke pantai yang dibikin gratis inilah yang membuat SPBU ini ramai sekali, juga karena tarif menginapnya yang relatif terjangkau yang membuat bis-bis yang hendak ke Bali singgah dan menginap di sini. Kalau agak capek mau jalan kaki ke pantai yang berjarak sekitar 300 meter, disediakan pula mobil golf dengan tarif 3000/orang.

Sayangnya, kami datang terlambat, pukul 17.00 lewat. Wahana air sudah ditepikan dan diikat. Anak-anak saya kecewa. Untungnya, pengelola hotel memperbolehkan bermain wahana itu asal di tepian saja, tetap terikat, dan tentu saja gratis. Kecewa mereka terobat. Syukur pula, di sana, tanpa sengaja, saya bertemu dengan kawan lama, Memet Miftahus Surur, yang rumahnya memang tidak jauh dari tempat ini.

Menjelang isya, kami baru keluar dari SPBU tersebut, bergerak ke arah barat, menuju Probolinggo, pulang. Perhentian kami selanjutnya adalah Masjid Sabilul Muttaqin, Sumbersari, kira-kira 2,5 kilometer di barat kota Probolinggo. Masjid ini ‘legendaris’ bagi saya. Bersama ayah saya, pertama kali menyinggahinya sekitar tahun 1998 atau 1999, saat masjid masih berlantai tanah dan hanya bagian dalamnya yang berlantai lepa. Alasan mendiang ayah saya berhenti di situ adalah karena air masjid yang sangat melimpah. Biasanya, tiap kali saya mampir di sini, pasti selalu bertemu dengan kenalan dari Madura. Tak terkecuali saat itu, saya bertemu dengan beberapa rombongan yang pulang dari acara yang sama, haul Kiai Syarqawi.


Setelah makan, mandi, dan shalat, telentang-telentang barang sebentar, barulah kami mulai lagi perjalanan panjang kami ke Madura. Jalananan normal malam ini. Hamdalah, tidak ada kemacetan. Bahkan jalan tersendat pun nyaris tak ada. Kami masih lewat jalan nasional, tidak lewat tol, sama seperti ketika berangkat.

Kejutan terjadi hanya di ruas jalan Porong-Perak. Kabel gas lepas lagi. Yang bikin gregetan saya adalah ketika obeng yang saya gunakan untuk mengencangkannya terjadi, nyangkut di tengah pelindung mesin. Mau saya ambil tentu saja tidak berani karena posisinya dekat sekali dengan knalpot, panas sekali. Untungnya, dikorek-korek pakai batang kayu, jatuh juga akhirnya dan dapat dipergunakan sebagaimana mestinya.

Saya pribadi memang kurang enjoy lewat di jalan tol (bukan antipati, lho) jika tidak ada alasan mendesak. Bepergian dengan lewat jalan tol itu rasanya sedang berjalan di tengah sawah tapi dengan kesan ‘alienasi’, bukan nuansa asri. Entah mengapa kok bisa begini. Jika jalanan diperkirakan macet dan kami rada buru-buru, barulah saya putuskan lewat jalan tol.

Masuk kota Surabaya dengan turun di Dupak, lewat Pasar Turi, masuk Pahlawan, lanjut Kapasan, kami melipir di SPBU Jalan Kenjeran, selepas perlintasan rel sepur Kalimas. Kami isi pertalite 150.000 di sana. Jarum indikator bahan bakar pun naik ke atas separuh. Akhirnya, kami tiba di rumah satu jam menjelang subuh. Alhamdulillah.

TAMBAHAN DATA:

1. Berdasarkan data Google Maps (karena saya lupa tidak mencatat odometer), jarak tempuh perjalanan kali ini adalah 435 km x 2 (dari rumah ke titik Wongsorejo) = 870. Jika ditambah dengan jarak masuk ke rumah paman, masuk ke Taman Nasional Baluran, nambah lagi ke Banongan, totalnya saya taksir  900 kilometer. Jarak tersebut lebih jauh daripada jarak dari Sumenep ke Cikampek (untuk sekali jalan)
2. Bahan bakar yang dihabiskan sekitar 80 liter (premium 76 liter, pertalite 19 liter), lebih boros sedikit daripada perjalanan Sumenep-Jogja tahun lalu yang sepenuhnya menggunakan pertamax.
3. Rekaman gambar dan video perjalanan menggunakan GoPro HeroBlack 5 yang dipasang di atas rak atas dan juga kamera ponsel.

03 April 2019

Sejarah Mitsubishi Colt T120 (Delica)



Colt Gen-1, 1969, Wida Tri Bowo
Colt T120 adalah varian produk Mitsubishi yang angka penjualannya—di kala itu—terbilang fenomenal. Bagaimana tidak, kehadiran Colt mampu menggantikan posisi Opelet (yang kebanyakan berbasis Opel, Austin, Morris) yang ketika itu sudah menguasai pangsa pasar angkutan umum. Bahkan, karena kepopuleran Colt sebagai angkutan umum pada masa berikutnya, tak jarang sebutan “Colt” itu digunakan masyarakat sebagai metonimia daripada mobil ‘stesen’ (station wagon) atau angkutan umum itu sendiri. Salah satu buktinya, sampai hari ini pun kita dapat melihat jejaknya.

Masa produksi Colt hanya 12 tahun, sejak pertama kali diproduksi pada tahun 1968 (sebagian versi menyatakan 1969) dan berakhir di tahun 1980 (namun penjualan/pemakaian hingga tahun 1981). Nyatanya, fakta di lapangan, produk Jepang itu baru bisa tiba di Indonesia pada tahun 1969 dan mulai beredar di jalanan tanah air—secara umum—pada tahun 1970-1971. Kalaupun ada yang beredar di tahun pertama dan tahun kedua produksi, mungkin juga tidak banyak.

Colt Delica, built-up, funjapan.com
Generasi pertama si Kuda Nippon (colt = anak kuda) ini memiliki tampilan polos dan lugu jika dilihat sekarang, tapi dulu mungkin dinamis dan progresif. Ia menggunakan lampu mata bulat dengan cekungan ke dalam (berbeda dengan VW combi yang lampu bulat gandanya rata dengan plat). Gara-gara tampilan ini, Colt lantas masyhur disebut orang dengan sebutan “Bagong” (di Jawa) atau “Dolak” (di Jabar), dan mungkin ada istilah lain di daerah yang berbeda. Spion bercagak mirip tanduk tidak berubah sampai akhir produksi, hanya beda lengkungan saja. Generasi pertama ini, pada bagian bawah mukanya, tidak menggunakan gril, tapi sudah menggunakan lubang angin buka-tutup.

Adapun generasi pertama varian kedua dibukukan pada tahun 1971. Yang membedakannya adalah; lampu sein model rata beralur dan dibungkus gril sederhana, berbentuk memanjang (Masyarakat kita kadang menyebut “gril” dengan sebutan “kumis”). Adapun pada generasi pertama varian pertama, lampu seinnya lebih kecil dan menonjol, sedikit menyudut di kanan dan kiri pojok kabin. Perbedaan lainnya tidak kentara.

Di negeri asalnya, Colt disebut Delica (kependekan dari “delivery car”) dengan dua varian, pick-up dan station wagon. Namun, Delica station wagon (orang Indonesia menyebutnya stesen) yang diimpor utuh (CBU) ke Indonesia ketika itu jumlahnya tidak banyak. Di antara yang sedikit itu umumnya digunakan oleh BKKBN untuk kampanye KB keliling desa demi desa (juga digunakan kendaraan dinas Camat, bersanding dengan VW Safari, warnanya identik oranye). Namun, Colt yang digunakan Camat umumnya generasi kedua varian kedua alias edisi terakhir).

Delica CBU berbeda dengan kebanyakan Colt stesen yang ada di tanah air yang notabene merupakan hasil karya garapan pabrik karoseri yang dibangun dari sasis pick-up. Delica jenis ini menggunakan pintu geser di samping dan hatch-back di pintu belakang. Mekanik sliding (geser) dan engsel hatch-back-nya persis VW Combi. Kaca kabinnya tidak begitu lebar (juga mirip Combi). Sedangkan lampu stopnya memanjang ke bawah dan berada di pojokan (mirip Chevrolet Trooper/LUV), berbeda sama sekali dengan seluruh varian & generasi Colt T100 maupun T120. Namun, sejak turunnya Surat Keputusan nomor 25/74, tertanggal 22 Januari 1974, mobil CBU—menurut Arkadius Anggalih, tahun 1974, di BPKB Colt masih ada yang terbukukan sebagai CBU—jenis sedang dan station wagon dilarang masuk kecuali dalam wujud wajib CKD (Completely Knock Down). Sebab itulah, Colt Delica kadang disebut juga sebagai “Combi Jepang”. 

Colt milik Bambang Legowo di Jiexpo 2019
Generasi pertama Colt disebut Colt T (Colt T100), menggunakan mesin KE44 dengan isi silinder 1100cc (tepatnya 1,088 cc). Baru pada tahun 1971 (mungkin di pertengahan tahun), varian keduanya muncul dengan perubahan minor pada tampilan depan (gril dan lampu sein), namun ada perubahan prinsip pada mesin, yakni berganti tipe: 4G41 Neptune 86 yang berkapasitas 1378cc. Mesin Neptune adalah mesin Mitsubishi terakhir yang masih menggunakan teknologi OHV dengan blok mesin yang terbuat dari biji besi tuang (cast iron).

Kiranya, kehadiran Colt pick-up (“pikap” atau “bak terbuka”) inilah yang menjadi ladang pengembangan kreasi perusahaan-perusahaan karoseri di Indonesia untuk seterusnya dibentuk menjadi stesen. Adapun karoseri yang membidik pangsa pasar ini cukup banyak, di antaranya adalah: Internasional (yang paling populer, tapi sekarang perusahaannya sudah tidak ada), Podo Joyo, Adi Putro, Indonesia Jaya, Langgeng, ABC, New Armada, Raden, Dwi Bhakti, Tanaking, Sumber Mulya (Bandung), Darma Karya, Berlian Indah Motor, Morning Star (ketiganya di Jakarta). Karoseri Permorin, konon, pernah membuat stesen berbasis  Colt ‘Bagong’ (dan Minicab) dengan dua pintu geser (sliding).

Colt Double Cabin (Pak Broto) & Bagong Ijo (Pak Iman)

Beberapa bengkel karoseri mencoba kreasi dengan tidak hanya membuat bagian kaca samping dan belakang, melainkan “lebih berani”, yakni merombak bagian depan. Di antarana adalah dengan mengganti gril dengan milik Toyota Corona, berikut lampu kotaknya. Ada juga yang menggunakan lampu Mercy Tiger. Umumnya, pemakaian seperti ini sepaket dengan lampu belakangnya. 

Bagian eksterior Colt, terutama buritan, banyak mengadopsi lampu dan bemper Corona, Corolla, dan Honda Civic (yang sesuai dengan masanya, tahun 1978-1980). Karoseri Internasional, yang paling ngetop di kala itu, menggunakan lampu ekor milik Mazda 808, sampai-sampai ada orang yang beranggapan bahwa itulah lampu ‘asli’ dari Colt T120 stesen. Pelanggan karoseri Podojoyo dan Adiputro yang lampu ekornya minta dipasangi milik MercyTiger—di zaman itu—harus merogoh kocek Rp250.000 lagi karena harga suku cadang yang memang lebih mahal. 

Sementara pada bagian kaca samping dan belakang, ada yang menggunakan dua pilar, tapi yang umum satu saja, yakni pilar sekaligus penyangga pintu tengah. Bentuk kacanya melengkung meskipun ada juga yang menggunakan kaca datar. Adapun kaca belakang relatif sama, tapi ada juga yang menggunakan kaca depan. Jadi, kaca depan dan belakang sama persis.

Sedangkan interior generasi pertama dan generasi kedua Colt T120 relatif sama. Dasbor dan panel meter sewarna hitam dengan panel ganda bermodel bulat untuk spidometer dan kontrol  temperatur, bensin, cas batere/aki, dan oli. Pedal kopling dan rem model injak (mirip truk Mercedes-Benz 911 atau VW Kodok). Varian berikutnya ada perubahan pada panel, yakni berbentuk kotak ganda namun tetap berwarna hitam. 

Colt Pak De Budiono, a/n tangan pertama
Bagian eksterior juga berubah. Sejak tahun 1975, lampu Colt menggunakan empat lampu (tidak lagi menggunakan lampu bulat ganda).  Bemper depan menggunakan lampu fog berwarna kuning dengan dua varian (bergantung tahun): ada yang disematkan di balik bemper yang dibolongi; ada yang menggunakan bemper utuh dan posisi lampu fog ada di luar, dan ini model yang terakhir. Sementara lampu utama sudah menggunakan empat lampu, tapi pedal masih injak untuk pengeluaran hingga tahun 1974. Sesudah itu, Colt menggunakan pedal gantung hingga edisi terakhir, 1981.

Baru pada tahun 1978 ada perubahan lagi. Sejak tahun itu, generasi kedua varian kedua ini mengalami perubahan final hingga pemutusan rantai produksi di tahun 1981 dengan beberapa perubahan. Perubahan itu di antaranya adalah; lampu fog warna kuning dipasang di luar bemper; odometer berbentuk kotak ganda berwarna cokelat; tujuh digit angka pada odometer (enam angka untuk ratusan; satu angka untuk puluhan meter [untuk suku cadang asli menggunakan total enam digit untuk odometer dan tanpa buzzer alarm untuk kecepatan 80 km/jam]); pedal rem dan kopling menggunakan model gantung; ada penambahan pilar dan penambahan kaca segitiga.

Colt Pariwisata "Titosdupolo", milik saya :D 
Dengan produksi varian terakhir yang berakhir di tahun 1981 (tapi sebagian masih dipasarkan tahun 1981 dengan tahun produksi 1980, ketika Mitsubishi mulai menyiapkan L300 bensin), Colt T120 telah mengalami puncak penjualan yang fantastis, yaitu angka penjualan lebih dari 500.000 unit. Modelnya juga beragam, mulai dari stesen (untuk penumpang), pikap (untuk angkutan barang), krakap (untuk angkutan umum [model bak belakang masih utuh hanya dipasangi kursi hadap-hadapan atau dikosongkan untuk angkutan barang dengan penutup dari besi), serta kabin ganda atau double cabin (untuk angkutan orang sekaligus barang). Dengan kejayaan ini,  terutama pada penjualan model pikap-nya, wajar jika Mitsubishi punya slogan: “Yang terbesar untuk ‘truk kecil’ di jalan raya” atau “raja jalanan”.

Sekian dan terima kasih. Koreksi jika salah.
Esai saya yang lain tentang Colt, yang rada beda, klik di sini 

M. Faizi (admin blog)

Sumber:

1.      James Luhulima, Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri ini, Buku KOMPAS,  2012
2.      PT Krama Yudha Tiga Berlian Motors, Buku Petunjuk Bagi Pemilik Mitsubishi Colt T120, tanpa tahun
3.      http://wikipedia.com
5.      Wawancara dengan Bambang Legowo, Arkadius Anggalih, Wida Tri Bowo, Hertanto Wibowo, H. Fathor, dll.

Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...