Pembaca

Tampilkan postingan dengan label masalah colt. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label masalah colt. Tampilkan semua postingan

10 Desember 2014

Mengatur Spuyer dari Luar (Hemat BBM)


Masalah berat yang selalu dikeluhkan oleh pemilik Colt adalah konsumsi BBM, apalagi seperti sekarang dengan harga premiun mencapai Rp8500 per liter. Konsumsi BBM Colt yang umumnya dipatok standar 1:10 km pun terasa berat. Oleh karena itu, harus dicarikan banyak siasat agar konsumsi BBM Colt lebih hemat.

Memang, menurut penuturan salah seorang pemilik Colt yang pernah membeli Colt dari baru (1972) dan masih digunakan sampai sekarang (2014), Colt itu memang tergolong boros, bahkan andaipun diganti karburator yang baru sekali pun; atau dengan mencangkok karburator milik Kijang Super, misalnya. Hematnya sih tak seberapa signifikan, bahkan nyaris tidak kentara. H. Fathor, orang yang saya maksud itu, menyatakan bahwa salah satu cara menghemat BBM adalah dengan cara “hemat dari kaki”, yakni dengan cara mengemudi: tidak menginjak gas terlalu dalam dan permainan kecepatannya berkisar 50-60 km./jam saja.

Cara hemat atau irit BBM yang lain dan pernah saya bahas di blog ini adalah dengan cara memperbaiki pengapian, yaitu dengan mengganti platina dengan CDI atau trigger CDI. Saya sudah menggunakannya selama beberapa tahun namun hingga kini tidak pernah mengukur efektivitasnya secara secara pasti, maksudnya dengan mengukur secara presisi.

Nah, beberapa waktu lalu, seorang bengkel lainnya, H. Hisyam namanya, mengajukan ide untuk menghemat BBM dengan cara “menakar konsumsi BBM secara pasti ke dalam/lewat spuyer”. Cara ini disebut dengan “pengaturan spuyer dari luar”. Terdengar aneh, bukan? Bagaimana mungkin kita dapat nyetel (mengatur) spuyer dari luar sementara spuyer itu ada di dalam? (Tenteng spuyer dan kombinasinya, saya juga pernah membahasnya di blog ini)

wadah oli bekas untuk tempat bensin
Baiklah, begini yang saya maksud.

pemandangan tutup tap oli yang dipasangi jarum pengatur spuyer
Pertama: tutup tap karburator (baut tempat membuang sisa bensin dalam karburator) itu dibor bagian tengahnya. Setelah itu, masukkan baut lebih kecil berulir dengan ukuran (kira-kira) 7’. Ujung dari baut kecil ini dipasangi jarum baja, buatlah model lancip (seperti jarum). Masukkan baut tap dengan pelan-pelan sekitaranya ujung jarum baja yang lancip tersebut masuk dan menutup lubang spuyer. Biarkan baut dalam keadaan agak longgar.


pengatur spuyer tampak dari dekat

Kedua: setelah itu, nyalakan mesin dan mulailah mengencangkan baut drat (baut kecil ukuran 7’ itu) sambil memainkan gas. Apabila gas mulai tersendat ketika diinjak secarta langsung, hentikan. Itu tandanya ukuran  sudah pas, pertanda bahwa pasokan bensin yang lewat spuyer samping itu sudah pas meskipun saya pasang spuyer yang paling besar, yakni ukuran 160-an. (perhatikan gambar-gambar)

Untuk mengujicobanya, saya menggunakan wahana bekas oli 1 literan sebagai tempat bensin. Dari situ, terhubung selang ke filter. Mengapa ke filter dan tidak langsung ke karburator? Memasukkan selang dari wadah oli bekas langsung ke karburator sangat mungkin akan menyebabkan masuknya kotoran, dan ini akan membuat masalah baru.

Adapun cara mencobanya adalah sebagai berikut:
Pertama. Saya nyalakan mesin dan saya tuang besin hingga garis paling atas (tanda 1 liter ) lalu mesin dijalanakan dalam berbagai medan.
1. pada jalan lurus di pagi hari, lalu lintas ramai, permainan perseneling 3 dan 4, satu botol habis untuk 10 kilometer.
2. diujicoba pada medan tanjakan dan turunan, bensin habis 1 : 9,6
3. diujicoba pada jalan datar tanpa rintangan, dengan perseneling nyaris rata pada gigi 4 dan kecepatan rata-rata hanya 50 km/jam, saya isi botol itu 1 liter dan ternyata, konsumsi BBM adalah 1:11 dan bahkan mendekati 1:12 (ketika saya sampai kembali di rumah, odometer menujukkan jarak perjalanan menunjukkna 11 kilometer persis namun masih tersisa bensin di botol itu)

FOTO-FOTO UJICOBA

kecepatan rata-rata 50 km / jam

BERANGKAT: odo 949/5 = besin 1 liter penuh

TIBA: odo 960/5 = bensin masih tersisa (tampak dalam gambar)




CATATAN

sebetulnya, teknik pengaturan spuyer dari luar ini sudah alma saya gunakan, hanya baru hari ini saya mengukurnya secara pasti.

Saya perlu bagikan pula pengalamannya, bahwa dengan cara ini, tarikan mesin jelas kurang kontan, terutama setelah lepas gas dan hendak berakselerasi kembali. Kalau Anda tidak puas, Anda dapat langsung mengurangi kerapatan jarum itu (melonggarkannya) agar bensin lebih banyak yang dikonsumsi. Dengan cara ini, Anda tidak perlu membuka karburator untuk mengganti spuyer dan menggantinya dengan yang lebih kecil karena sekarang sudah bisa diatur dari luar.

Pengalaman saya, dengan menggunakan jarum spuyer seperti itu, mobil masih bisa digeber hingga 90/km per jam. Akan tetapi, untuk mencapai kecepatan seperti itu tentu jadi lebih lama dibandingkan sebelumnya.

Itulah pengalaman yang saya alami. Barangkali ini ada manfaat buat Anda. Namun, saya tidak menjamin pengalaman saya akan sama persis dengan pengalaman Anda mengingat banyak faktor lain yang saya pikir juga turut menetukan, misalnya seperti cara memainkan gas dan memindah perseneling, tekanan angin ban, kesehatan coil dan pengapian, busi, dll. Jika Anda tertarik, silakan mencoba. Salam.

FOTO DARI JARAK YANG LEBIH DEKAT:



13 November 2012

Stel Delco


Selama ini, saya tidak pernah nyetel delco sendiri. Saya akan menyuruh orang yang biasa, seperti bengkel, untuk melakukannya. Namun, pada suatu waktu saya harus melakukan itu sendiri. Saya mencobanya dan tidak berhasil.

Saya melakukan ini karena mesin mobil pincang, tidak bisa stasioner dengan baik. Bunyi mesin tidak mulus. Saya pun penasaran. Maka, setelah konsultasi kepada seorang ahli, saya mencoba melonggarkan baut setelan delco itu.

“Bagaimana cara bahwa mesin itu sudah top?” tanya saya.
“Nyalakan mesin dalam keadaan stasioner alias lepas gas. Setelah itu, injaklah gas sekaligus. Jika mesin tidak tersendat, maka berarti setelan Anda sudah bagus.”

Saya melaklukan perintahnya, berhasil. Maka, saya pun mematikan mesin dan mulai mengencangkan baut setelan delco. Saya nyalakan lagi. Eh, mesin tetap pincang/tidak stasioner. Bunyinya tersendat-sendat. Maka, saya konsulasi lagi. Hasilnya: meneyetel delco colt T itu harus dalam keadaan mesin menyala. Hal ini mungkin karena ada aus pada mur/baut delco yang telah berumur puluhan tahun itulah yang jadi penyebabnya.

Dengan cara ini, menyetel delco dalam keadaan mesinya menyala, akhirnya saya mendapatkan hasil yang saya inginkan.

Entri terkait delco ada di sini: KLIK.

04 Maret 2012

Dinamo Starter dan Nostalgia


Lama sekali saya mengalami masalah dengan dinamo starter. Puncaknya, dinamo starter tidak bisa berfungsi lagi ketika masin dalam keadaan panas. Ini merupakan tanda bahwa dinamo starter “asli” milik Colt T 120 ini tidak dapat dipakai lagi. Setelah dibongkar, ternyata benar. Keadaan dinamo sudah penuh dengan solderan dan tampaknya sangat sulit diperbaiki. Akhirnya, saya putuskan untuk membeli yang baru saja. Akan tetapi, mencari suku cadang “asli” milik colt tentu minta ampun sulitnya. Sementara kalau saya harus mencari dinamo bekas di pasar loak, bisa jadi nanti tidak akan bertahan lama seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.

Sebelum mengganti dengan yang baru ini, dari seseorang saya mendapatkan info bahwa dinamo starter Toyota Hiace bisa dipasangkan pada colt. Namun, setelah saya minta pendapat, diperoleh kesimpulan bahwa sebaiknya saya membeli dinamo starter baru “untuk colt” saja, meskipun tidak “asli”, yakni dinamo starter yang menggunakan klaher dan gerigi 8. Dinamo bergerigi 8 ini akan menghasilkan putaran lebih cepat sehingga mesin bisa lebih cepat menyala.

“Berapa harga?”
“Rp.350.000!”
“Wow, kok mahal?” keluh saya.
Si “konsultan” itu menjawab, “Jangan tukar harga diri colt dengan Rp.350.000. Biar tua, sekali start sekiranya langusng nyala, cek-greng, gak usah pake uwek-uwek-uwek lebih dulu,” jawabnya sambil tertawa.

Betul apa yang dikatakannya. Sekarang, saat saya menyalakan dinamo starter, mesin akan langsung menjawab, langsung menyala, seperti starter pada Suzuki Carry yang terdengar gahar itu. Hanya saja, ada satu hal yang kini hilang. Ya, bunyi starter. Bunyi dinamo starter khas Colt T 120 yang mirip ringkikan kuda belia itu kini tidak dapat saya dengarkan lagi.

Terkadang, saya menyesal telah mengganti dinamo starter lawas dengan yang baru. Mengapa? Tak ada lagi alasan selain karena suara khas dinamo starter colt itu membawa kesan nostalgia. Betapa mahal harga nostalgia itu. Demi hal ini, nanti setelah saya punya uang, saya akan berusaha memperbaiki ulang dinamo starter yang rusak itu hingga ia benar-benar bisa digunakan kembali secara aman dan tahan panas. Sungguh, nostalgia tidak dapat tergantikan, juga tidak dapat dibeli.



11 Oktober 2011

Pompa Oli



Pompa oli merupakan urat nadi setiap kendaraan. Setiap kendaraan berbahan bakar minyak selalu menggunakan oli sebagai pelumas mesinnya.
Nah, ini pengalaman yang mungkin Anda perlukan.

Suatu saat, saya menjalankan kendaraan saya. Mobil ini baru saya ganti pelumasnya. Tiba-tiba, saat belum jauh dari rumah, lampu merah “Oil” menyala. Saya tetap menjalankan kendaraan tersebut sambil menganggap: pertama, filter oli minta digarti; kedua, switch oli rusak.

Namun, tak sampai semenit, suara mesin tiba-tiba berubah, agak terdengar kasar. Nah, karena lampu merah tetap menyala, segera saya mematikan mesin. Untunglah. Ternyata, oli dari bawah (calter) tidak bisa sampai ke atas mesin dengan dua alasan:

1. filter oli kotor
2. pompa oli macet

Kami membuka calter atau wadah oli itu, mencopot pompa olinya, lalu menyekur (meratakan permukaannya) dengan amrin. Selesai. Pasang. Tapi, lampu tetap menyala dan mesin tetap kasar. Astaga. Oli belum naik juga.

Akhirnya, paman saya (karena kebetulan yang memperbaiki Colt T ini paman saya), berpikir keras. “Ini pasti ada penyumbatan. Pompa oli? Tak mungkin. Filter oli? Lebih tidak mungkin.” Katanya bicara sendiri.

Akhirnya, kami menemukannya. Ada penyumbatan di saluran ujung belakang silinderkop. Setelah mendatangkan kompresor dan menyemprotnya, mengalirlah oli itu, normal kembali. Dicurigai, kotoran berasal dari remah-remah lem karet yang dipasang secara tidak rapi.

04 Oktober 2010

Ampere Meter



Apakah ada ampere meter (AM) di Colt T-120 Anda? Jika AM itu merupakan rekayasa sendiri dengan memotong arus (dari) dinamo ampere ke batere/aki, dan bukan AM dengan kabel min-plus, saya sarankan untuk dicopot saja!

Awalnya, di Colt T- saya juga ada. Namun, sejak 19 September yang lalu, sepulang perjalanan ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, AM itu telah hangus terbakar karena korsleting di sekitar jembatan Burneh, Bangkalan. Percikan api terlihat dengan jelas. Setelah itu, asap mengepul, semua penumpang panik karena mencium bau angus di dalam kabin. Mereka melompat keluar, menjauh dari mobil.

Kepanikan juga membuat saya bodoh. Tindakan pertama yang dilakukan adalah mematikan kunci kontak, lalu menarik paksa kabel arus ampere itu, lalu memereteli semua sekring, tetapi api terus memercik. Untunglah, dengan sigap saya turunkan jok sopir, dan secepat kilat pula saya buka kabel aki. Baru beres, aman!

Sejak saat itu, ampere meter dilepas dari mobil berikut lilitan kabelnya yang telah gosong. Dan sejak saat itu pula, cahaya lampu jadi lebih cerah, stater pun lebih bertenaga. Alasannya mungkin karena kabel AM itu cukup mengganggu arus suplai kelistrikan. Sebab, AM menjadi “terminal bayangan”. Arus dari dinamo ampere yang seharusnya langsung menyuntikkan strum ke batere (aki), masih mampir terlebih dahulu di ampere meter. Sekarang, status pengisian batere saya percayakan sepenuhnya pada kontrol “CHG” (charge) yang berwarna merah ketika dikontak dan terpampang di panel mobil itu.

Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...