Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Kanzus Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kanzus Sholawat. Tampilkan semua postingan

28 Mei 2022

Syawalan ke Pekalongan (Pergi)


4 Mei 2022

Syawalan tahun ini (1443H/2022M) dipenuhi keharuan. Ia adalah fase hidup saya yang untuk pertama kalinya menjalani puasa-lebaran-syawal hanya dengan anak-anak, tanpa istri, setelah 18 tahun kami hidup bersama. Agar tidak terlalu larut dalam kegalauan, akhirnya saya merancang bepergian pada saat-saat mestinya ada di rumah, yaitu pada tanggal muda bulan Syawal. Anggap saja ia “syawalan”: bertandang, silaturahmi, dari satu pintu ke pintu rumah teman lainnya.

Saya memilih Pekalongan. Wow, kok jauh?

Jawab; harapannya adalah agar saya bisa singgah di beberapa titik, ke rumah/orang yang lokasinya berada di jalur Pantura, jalur yang sangat jarang saya lewati naik mobil, juga agar bisa sowan ke Kanzus Sholawat, ke Habib Luthfi bin Yahya. Saya bahkan merancang untuk larat ke barat, mentok di Tegal atau Losari lalu pulang lewat selatan, lewat Kebumen, dst. Tetapi, karena satu target utamanya (yaitu sowan Abah Habib Luthfi bin Yahya) tidak belum kesampaian (saya sempat sowan pada dua kunjungan sebelumnya), rencana menambah rute perjalanan pun gagal. Saya (dan yang lain) memilih untuk putar haluan, balik kanan, pulang, meskipun sebelum berangkat kami memang sudah sepakat untuk menerima kenyataana yang dihadapi, seperti apa pun itu.

Saya bersyukur karena perjalanan kali ini masih menyimpan banyak alhamdulillah-alhamdulillahnya, seperti bertemu dengan kawan-kawan yang sama sekali tidak diperkirakan sebelumnya. Pada akhirnya, saya sadar, bahwa bepergian di tanggal muda bulan Syawal itu sangat mungkin akan bernasib begitu. Banyak kawan yang ternyata pulang kampung atau mudik ke rumah istrinya, atau entah ke mana. Saya kira, orang mudik itu hanya orang Jakarta, ternyata tidak.

“Kamu, sih, yang berpikiran bahwa orang itu di rumah saja kalau lebaran, soalnya kamu cuman melihat kamu sendiri yang selalu begitu, gak kemana-mana,” tegur salah seorang paman saya, menyalahkan timing dalam melakukan perjalanan saat saya berkisah kepadanya sepulang dari Pekalongan.

***

Berangkat berlima (Anam, Miftah, Abdullah—dipanggil Cak Badi, dan seorang santri, Atiq), saya keluar dari pekarangan rumah pukul 22.00, 4 Mei 2022 (malam Kamis, 4 Syawal). Mobil tercatat telah bertolak dari pekarangan rumah Anam—yang jaraknya 9 kilometer dari rumah saya; dia juga pernah bareng saya keliling Jawa di bulan Oktober 2021 yang lalu—pada pukul 22.30. Mobil cus sampai Sampang di bawah kendali saya sendiri.

Selepas Sampang, saya tidur dan Anam yang mengganti. Saya tidak tahu apa saja yang terjadi di perjalanan kecuali terbangun saat mobil berasa pelan. Dari bangku belakang, saya perkirakan, lajunya sekitar 60 km / jam saja, sangat jarang menyentuh 80 km per jam (sebab hal itu bisa diketahui tanpa harus melihat speedometer karena buzzer-nya akan berbunyi nit-nit-nit). Yang ajaib, begitu lowongnya jalan raya hingga nyaris membuat saya tak percaya kalau kami sedang melintasi Jalan Nasional yang biasanya ruwet oleh seliweran kendaraan-kendaraan besar.

“Ini di mana?”
“Lamongan.”
“Oh, sepi sekali, saya kira di hutan apa gitu.”
“Iya, dari tadi memang seperti ini.”

Seperti itulah percakaan yang terjadi di antara kami, hanya sesekali saja, kecuali Anam dan Cak Badi yang ngobrol sepanjang jalan karena mereka berdua duduk di depan, bertandem. Yang lain di tengah dan di belakang, tidur atau main ponsel.

Memilih ruas jalan arteri di saat jalanan sepi adalah keberuntungan. Tak ayal, perjalanan malam itu terasa sangat menyenangkan. Kami tak perlu merogoh kocek buat membayar tol, lebih-lebih karena saya mengingat tanggal 22 Syakban yang lalu (seminggu sebelum Ramadan [25 Maret 2022]) waktu menghadiri Jumat Kliwonan di Kanzus Sholawat, di Pekalongan. Kala itu, nyaris semua rute yang kami lewati adalah tol Trans-Jawa. Top up 800.000 ribu tak cukup untuk pergi-pulangnya. Saya merasa, betapa besar biaya untuk membayar ongkos “rasa nyaman di perjalanan”, padahal itu pun juga membosankan.

Azan subuh sudah lewat setengah jam ketika kami melipir ke Masjid An-Nur, di Bancar, dekat perbatasan provinsi, untuk shalat. Rencana singgah ke rumah kemenakan (Fawaid) yang kebetulan mudik ke Jenu pun digagalkan karena waktunya tidak pas, masih kepagian saat kami melintasi kota Tuban.



Sementara yang lain meregangkan otot dengan telentang, saya meminta Atiq membeli air panas di warung seberang jalan karena bubuk kopi dan lain-lainnya kami bawa sendiri dari rumah. Jujur, saya ogah membeli kopi di warung makan, kecuali memang jika tidak benar-benar terdesak. Kasusnya, sering dijumpai hanya kopi sesat yang tersedia, kopi yang bahan bakunya hanya sedikit persen biji asli, selebihnya adalah daun dan kulit buah kopinya. Jadinya, ia sejenis “kopi jadi-jadian”, kopi hantu-lah!

Sebetulnya, saya membawa pemanas air DC 12 Volt, tapi butuh durasi lama untuk memanaskan air hingga 75 derajat celcius (apalagi lebih dari itu, sampai 85 derajat misalnya [standar panas air kopi menyeduh kopi], pasti lebih lama lagi). Saya bahkan juga bawa inverter, dari DC 12v ke AC 220v. Tapi, ia saya gunakan untuk hal lain. Makanya, saya cenderung memilih beli di warung saja. Bekal makanan pokok pun bahkan kami bawa sendiri, terutama abon, serundeng, dan lauk-pauk lainnya. Air minum satu galon. Lontong juga kami bawa, tapi tak seberapa.

Itulah salah satu tips berhemat biaya perjalanan. Jatah anggaran singgah di warung makan bisa lebih besar daripada biaya BBM, lho, jika kita pergi bersama rombongan. Cobalah sesekali dihitung, pasti bengkak dananya. Masalah berikutnya, saya berkomitmen untuk tidak sembarangan mampir di warung makan sebelum memastikan (atau memperkirakan) bahwa si pengelola warung itu tidak jorok, paham najis-mutanajjis, ngerti masalah-masalah seputaran kehalalan makanan. Bagi saya, ini prinsip sebagai bentuk ikhtiar (upaya untuk berhati-hati). Maka, daripada repot mencari warung yang spesifikasinya begitu, saya putuskan untuk membawa sendiri saja dari rumah: aman dan murah. Tentu saja,

Catatan: Tentu saja, Anda tidak perlu sama dengan saya. Ini cuman komitmen dan sikap.

Setelah singgah di sebuah mushala kecil di tepi jalan, di Pati, untuk makan, kami menuju Kerjasan, Kudus, untuk nyambangi kakak sepupu yang sedang mudik. Ini tak terhitung kali bagi saya. Ada satu hal penting di sana.

Di Kerjasan, terdapat sebuah rumah bersejarah. Posisinya berada di belakang SD Muhammadiyah 1 Kudus, atau sebelah utaranya Madrasah Tsanawiyah NU Banat, atau di sebelah baratnya Madrasah Aliyah Qudsiyyah. Itulah rumah asal (‘patobin’ menurut istilah [sebagian] Kiai Muhammad Syarqawi, pendiri PP Annuqayah, Guluk-Guluk, Suemenp. Beliau asli Kudus, namun hijrah ke Madura. Saat ini, yang menempatinya adalah salah satu keturunannya, kerabat kami juga. Kakak sepupu saya berjodoh di sana. Dengan begitu, beliau menjadi perekat hubungan kekerabatan kami yang entah berapa puluh tahun lamanya terpisah dan bahkan sempat tidak diketahui.

Selesai mandi dan sepeminuman teh, kami melanjutkan perjalanan. Nah, di situlah kemacetan mengular. AC mobil yang hanya engkel di depan dan menyala sesekali saja terpaksa harus menyala besar dan terus-terusan. Rupanya, begitulah cara menguras bahan bakar, he, he, he… Dari Demak hingga Semarang, kondisinya jalan begitu saja. Kalau enggak macet, ya, tersendat. Singkat cerita, kami baru tiba di Pekalongan sekitar pukul 14.00. kami tetap memilih rute arteri, non-tol, bahkan sempat pula mencoba jalan lingkar alas Roban yang biasa dilewati truk-truk berat itu.

Duapuluh Empat Jam di Pekolongan

Tiba di Pekalongan, kami disambut oleh Wisnu dan Robin. Mereka mengajak saya ke kediaman Habib Bidin (menantu Habib Luthfi, pimpinan Az-Zahir) untuk rehat dan/atau mandi. Saat itulah, saat membongkar isi tas untuk mencari sabun, barulah saya sadar bahwa ponsel NOKIA 8118 (reborn) saya tak ada.

“Waduh! Ketinggalan di Kudus!”

Meskipun ponsel pasti aman, tapi ini mengkhawatirkan. Pasalnya, hampir semua nomor kontak teman-teman—yang rencana mau saya sambangi dalam perjalanan pulang nanti—ada di sana. Masih untung saya sempat login ke Facebook di ponsel android-nya Anam (karena verifikasi kode login dikirim ke ponsel via SMS) sehingga saya masih bisa menggunakan Messenger untuk berkomunikasi.

“Kalian sudah dapat izin, kok, enak saja nyelonong?”
“Iya, tidak apa-apa, memang diperkenankan.”

Di Az-Zahir, ada banyak tamu juga di situ. Sepertinya, mereka mau syawalan, sowan, atau entah apa. Tapi, kami tak lama di sana, segera pindah ke Kanzus untuk melihat situasi, lalu lanjut ke ndalem tengah (utama), siapa tahu Habib Luthfi muncul dan kami bisa sowan kepadanya. Akan tetapi, melihat banyaknya tamu yang ‘keleleran’ di lantai bawah, ciut juga nyali ini. Rasa pesimis muncul. Satu-satunya harapan tersisa adalah modal pengalaman pertama saya di bulan Oktober tahun lalu: pertama kali nyampe, tapi langsung bisa sowan dua kali di dalam satu hari.

Demikianlah pengalaman saya (kami) selama 24 jam di Pekalongan: Kamis jelang asar tiba, Jumat jelang asar pulang. Seperti tamu-tamu yang lain (kalau tidak salah juga ada dua orang menteri), kami belum ketibaan rezeki berjumpa dengan Habib Luthfi. Tapi, ia tak membuat kami berkecil hati. Bulan depan, atau entah kapan, insya Allah kami kembali lagi, di acara Jumat Kliwonan, atau Maulidan, atau tidak dalam rangka apa pun selain sowan.

Catatan: Oh, iya. Saat sedang rehat di gedung Kanzus Sholawat, saya sempat dikunjungi Fauzi Amrullah, kawan lama yang sekian waktu tidak pernah bersua. Katanya, dia mengetahui bahwa saya berada di situ berkat komentar-komentar saya di Facebook. Ini menyenangkan sekali. Media sosial yang cenderung hanya buat main dan buang-buang waktu terasa sekali manfaatnya. Dia membawa serta dua orang putranya. Satu di antaranya telah mondok di Kediri.


Syawalan ke Pekalongan (Pulang)


Jumat, 6 Mei 2022


Dalam perjalanan pulang, kami putuskan untuk lewat di jalur yang sama dengan saat kami datang. Rencana awalnya, saya akan melebar sedikit ke selatan, melipir ke Kediri. Bahkan, ada pula ide lewat Cepu/Blora untuk mengobati rasa penasaran karena gagal dilewati saat berangkat. Tapi, semua jadwal banyak berubah gara-gara dua hal: pertama karena tujuan sowan akhirnya tertunda dan ponsel saya yang ketinggalan di Kudus. Dua hal ini membuat gairah turun drastis dan akhirnya rencana tersebut kami gagalkan tunda.

“Lain waktu saja,” kata saya pada semua!

Semula, saya memang merancang rute lewat Bojonegoro. Jadi, rute Babat ke utara dicoret, ganti ke Babat ke barat, lewat Cepu. Kisah-kisah mistis di sepanjang jalan itu juga saya kantongi, termasuk kisah tentang keanehan Todanan dan kendaraan yang tersesat—atau disorientasi dalam istilah lainnya yang meskipun tidak benar-benar sepadan—masih kuat melekat dalam ingatan. Andaipun kami gagal lewat di rute itu manakala berangkat, mungkin akan dilewati di saat pulang. Ternyata, rencana itu tidak jadi.

Pulang bakda ashar dari Pekalongan, kami lewati arteri. Sebetulnya, saldo etoll masih cukup bahkan hingga Warugunung, Sidoarjo. Tetapi, tapi kami pilih jalan Pantura saja, jalan Deandels, jalan panjang 1000km yang punya penuh cerita.

Saya mengamati kota-kota kecil yang dulu sangat akrab saat masih sering naik bis malam dan belum ada Trans-Jawa. Rumah-makan yang besar, yang dulu terkenal, baik persinggahan bis ataupun truk, masih ada yang bertahan dan sebagiannya sudah gulung tikar. Tol panjang yang membuat seluruh pulau Jawa nyaris bersambung dari Anyer hingga Probolinggo (saat ini—dan mungkin terus berlanjut sampai Banyuwangi) adalah satu aktor dari sekian banyak yang berdampak pada perubahan besar sosial-ekonomi ini, bahkan perubahan psikologis manusia juga mungkin.

Semua itu telah berubah, dan mungkin memang gilirannya berubah. Tapi, saya melihatnya sebagai perubahan non-alamiah, tidak seperti batang pohon pisang yang tumbang karena telah berbuah, melainkan perubahan yang sengaja diciptakan oleh manusia. Barangkali, perubahan itu disengaja untuk mencapai target tertentu meskipun—bisa jadi—dampaknya tidak setimpal dengan yang dibayangkan atau direncanakan sebelumnya. Apalah daya kita? Kita menjadi bagian dari perubahan meskipun tidak bisa ikut mengubah. Sebab itu, maka kita harus mengambil sikap dan berkomitmen dalam posisi ini, harus punya sikap.

Dengan modal kontak melalui Messenger, di luar dugaan, gayung bersambut. Hari itu, Jumat sore, 6 Mei 2022, saya bisa singgah di rumah Rifqie Fairuz di Pegandon. Rumahnya sedikit masuk dari Pantura, pertigaan Petebon, kira-kira 4 kilometer ke selatan. Dengan jarak yang sama, dari rumah Fairuz, jika diarahkan ke selatan lagi maka akan kita jumpai—kata dia—pintu Tol Kendal. Tapi, tetap seperti tadi, kami tetap lewat arteri. 



Tak lama di sana, hanya seseruputan kopi dan secuil cemilan yang dilumat di dalam mulut dalam keadaan tergesa-gesa, kami gas lagi menuju perumahan Permata Puri, tepatnya di rumah Marwini yang berlokasi Jalan Watuwila V DX (baca: D sepuluh), nomor 12-A (wah, repot sekali, ya, banyak kode dan nomor-nomornya), Ngaliyan, Semarang. Saya tidak ingat, kala itu, kami masuk dari Kalikangkung atau dari Krapyak.
 
Setelah dijamu bakso dan mandi, kami berangkat lagi. Tujuan berikutnya—yang semula adalah cus Madura—kini bertambah, yaitu rumah Mas Gunawan. Orang ini saya kenal di Jogja, di Kafe Basabasi, dan bermula dari komen-komenan di Facebook. Rumah beliau ada di Manyaran yang secara jarak sangat dekat dari Ngaliyan. Ketersesatan oleh Google Maps-lah yang membuatnya jauh. Sejauh ini, saya memang nyaris tidak menggunakan aplikasi tersebut kecuali bersama orang yang sedang menggunakannya, dan sejauh ini—sesuai keterbatasan pengalaman saya—Google Maps masih belum bisa membedakan kelas jalan di tingkat bawah, seperti di kelas residental atau kelas kolektor, atau seperti III, apalagi subkelas-nya, seperti IIIa, IIIc, dll. Entah lebar jalan itu 2,1 meter atau 2,5 meter, misalnya, kita enggak tahu.


Kami dipandunya blusukan ke jalan-jalan yang sangat sempit, menanjak curam, nurun terjal. Intinya, saya sempat cemas, khawatir mobil tidak kuat. Semarang adalah kota yang kontur jalannya dipenuhi naik-turun seperti itu.

Kami rumah beliau, kami duduk dijamu tempe kemul. Masih banyak sekali toples cemilan sisa lebaran di atas meja. Setelah ngeteh dan ngopi dan berfoto bersama, barulah kami lanjut pulang, eh, setelah dikasih oleh-oleh segepok juga ding. Oleh beliau, kami diarahkan pulang lewat sisi utara kota Semarang, sepertinya area pelabuhan Tanjung Mas. Soalnya, saya melihat banyak sekali genangan air.

‘Ini kota pantas kalau rawan banjir,’ kata saya dalam hati. Letaknya—konon—sangat mirip dengan Amsterdam yang posisinya lebih rendah dari laut. Jika tanggul tidak kokoh, bencana pasti mudah mengancam. Rob pasti datang saat laut pasang.

Dalam perjalanan ke Kudus, saya menjalin komunikasi dengan Mas Fawzy Agus. Karena sudah malam, maka akhirnya kami janjian bertemu di dekat Menara saja, di sebuah jalan tempat mangkal gerobak kuliner agaknya, tidak di rumah beliau, di Jekulo. Kami diajak makan tahu khas Kudus, entah tahu apa namanya, tahu-tahu enaaak aja di mulut. Yang pasti, tahu tersebut berasa manis dan banyak bumbunya. Saya perkirakan, kemampuannya bisa nyetok energi kami sampai Madura atau Surabaya.

Dan sama seperti saat ketemu Mas Gunawan, pertemuan dengan mas Fazwy Agus pun tak begitu lama, sebatas makan dan ngobrol sewajarnya. Sebetulnya, rencana pertemuan ini sudah dirancang tahun lalu, di Tangerang, saat saya bertandang ke rumah Pak Bambang dan Pak Broto. Tapi, karena ada hal penting yang tak dapat ditinggalkan, kata beliau, pertemuan saya dengan Mas Fawzy akhirnya gagal, tapi sukses setahun berikutnya.

Selepas Kudus, saya tidur. Kalau tak salah ingat, kami keluar dari Jekulo pada saat pukul 23.00 lebih. Entah siapa yang mengemudi, saya tidak tahu. Sepertinya Anam dan mungkin sesekali diganti Cak Badi (Abdullah). Mobil berjalan ke arah timur dan suasana jalan tidak ramai. Barangkali, orang-orang sudah banyak yang kembali ke Jakarta karena mereka memanfaatkan semua ruas jalan tol Trans-Jawa yang pada malam itu telah diterapkan untuk penggunaan 4 lajur: semuanya ke arah barat.

Menjelang Subuh, kami masuk Babat, lewat depan pondok tua yang legendaris, PP Langitan. Kami masih lanjut terus ke timur, lewat Lamongan, dan baru shalat Subuh di daerah Gresik, sebelum masuk Tol Kebomas. Sialnya, si Agus minta jemput. Dia ingin ikut ke Madura tapi nginap di Sidoarjo.

“Ini kalau ke Sidoarjo bukan mampir lagi namanya, tapi sengaja pergi ke...”
“Kan cuman dekat?”
“Dekat-dekat apanya? Dari Kebomas biasanya di Dupak lanjut Kenjeran, lha, ini harus nambah lagi 30 kilometer ke selatan. Jauh, lho, belum lagi nanti baliknya, tambah 30 kilometer lagi.”
“Ya, tak apa-apa, kan cuman lewat tol.”
“Masalahnya, kita ngejar waktu pagi agar bisa lewat Tanah Merah karena hari ini adalah hari Sabtu. Tahu sendiri, kan? Sabtu itu jadwalnya pasar Tanah Merah, pasar paling macet di Madura.”

Percakapan ini terjadi setelah shalat subuh. Tapi, saya lantas tertidur lagi dan saat itu Anam yang mengemudi. Rupanya, percakapan si Agus berlanjut dengan si Anam dan tahu-tahu saya dibangunkan saat mobil hanya berjarak duaratusan meter menjelang di pintu Tol Sidoarjo. Wah, ya, sudah, lanjut saja.

Pasar Tanah Merah memang menakutkan di hari Sabtu, tapi tidak bisa disebut sebagai Black Sabbath, lho. Kalau lagi apes karena kita melintas di pada pukul 8 pagi, misalnya, bisa saja kita terjebak satu jam, bahkan lebih. Aneh sekali karena pasar ini sudah punya jalan lingkar. Entahlah, pasar Tanah Merah memang punya misteri tersendiri. Beberapa kali periode bupati di bangkalan terlewati, kemacetan di pasar ini tetap tak bisa teruraikan. Makanya, untuk menghindarinya, kami berencana lewat Sukolilo (“Klelah” kata orang Bangkalan), lewat arsenal Batu Porron, tembus Kwanyar, lanjut terus ke timur, lewat Modung, dan barulah nongol dari arah selatan Pasar Blega.

Secara jarak, rute yang saya sebut di atas hanya menghemat 2 kilometer, tapi setidaknya diuntungkan karena aman dari kemacetan. Namun, rencana itu gagal setelah dikasih tahu oleh H. Syaiful Bahri, si kawan dari Kwanyar yang kami singgahi, bahwa jalan ke Modung sangat rusak dan hancur. Durasi waktu bakal impas kalau lewat di sana.

Kami langsung sein kiri begitu mobil lepas dari ruas Jembatan Suramadu, lewat Sukolilo, Labang, dan tembus di Pasaw Kwanyar. Ternyata, pasar juga sedang ramai-ramainya, awut-awutan juga.

“Jangan parkir di sini, gak bisa!” kata H. Syakur, salah seorang penderek H, Syaiful, orang yang hendak kami tuju, memandu mobil. “Ke dalam saja,” lanjutnya. Ia mengarahkan kami parkir ke rumah tuannya itu, masuk gang. Akibatnya? Tahu kan akibatnya? Kami pun jadi rehat, telentang-telentang, tidur-tiduran, dan bangun-bangun sudah disiapkan hidangan, “waduh” tapi campur “waw”! Terjadilah efek depan, perut jadi kenyang, efek yang gak ada samping-sampingnya sama sekali. “Pinter benar ini orang,” kata saya dalam hati, “Tahu kalau kami memang niat mau sarapan di jalan pulang, nanti, tapi ternyata disiapkan lebih dulu sebelum kami tiba di warung makan...”

Di hari ke-6 bulan Syawal itu (7 Mei 2022), jalanan Madura ramai sekali, lebih-lebih di pasar yang hari pasarannya jatuh satu hari sebelum Hari Raya Ketupat, ya, seperti hari itu di Tanah Merah. AC mobil —yang biasanya menyala sesekali saja—pun dengan ‘terpaksa’ harus nyala terus-menerus, dari Sidoarjo tadi bahkan hingga kami sampai tiba di rumah. Itulah tiga kata kunci: lancar, nyaman, selamat, tiga hal yang telah mampu melupakan kami akan jauhnya jarak yang sudah ditempuh dengan mobil yang sepuh, sertanya juga melupakan banyaknya liter bahan bakar yang kami beli...





09 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-PLus (Etape II: Semarang - Pekalongan - Cirebon - Bekasi)

Pagi hari Jumat, kami Jumat Kliwon, 1 Oktober, saya bangun pagi sekali, segera berkemas dan menggugah ketiga anggota yang lain: Habib,  Anam, Qudsi—berdasarkan ngoroknya, dia ini sepertinya begadang dan tidak segera tidur. Rencana pergi pagi sekali, tapi apa daya tuan rumah tidak mengizinkan: “pantang pulang sebelum makan”, begitu agaknya dia berpegang pesan. Akhirnya, saya putuskan untuk menyerah, menikmati sarapan yang tidak perlu bayar. 

Kami meninggalkan Beringin, Kecamatan Ngaliyan, itungannya masih relatif pagi. Peta digital Google Maps mengarahkan kami ke pintu tol Krapyak, tapi kami tolak. Kami pilih jalan arteri saja, yaitu Jalan Pantura, jalan yang penuh kenangan. Kami melintasi ruas jalan raya Mangkang. 


Perjalanan sejauh 75 km ke kota Pekalongan ditempuh kurang lebih satu jam lebih sedikit melalui jalan tol. Kami sudah tiba di sana sebelum pukul 9 pagi. Dalam perjalanan, saya sempat menjalin komunikasi dengan Bapak Bambang, menyampaikan kekhawatiran kampas kopling, kuat-tidaknya untuk bertahan dipakai sampai kembali pulang ke Madura. Pasalnya, perasaan cemas menggelayut sejak tadi malam, sejak kami melahap tanjakan panjang Ungaran ke arah Semarang.


“Buka saja di sini, nanti kalau sudah sampai Banten.”

“Ah, jangan begitu, Pak. Kami ini mau bertamu ke Banten, bukan untuk memperbaiki mobil.”

“Enggak apa-apa. Itu pekerjaan paling sebentar saja dikerjakan.  Atau, saya hubungi Pak Sikut saja, ya?” 

“Siapa beliau?”

“Kawan kita, sekitar Batang rumahnya.”

“Nah, itu lebih masuk akal. Senyampang beliau ngecek kopling mobil, sementara saya sowan ke Ndalem Habib Lutfi, ide yang cemerlang.”

Seperti permainan bola tika-tiki, oper-operan pendek nan singkat tapi cepat diekskusi, kami tiba di area sekitar Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, berbarengan dengan kedatangan Pak Sikut. Setelah salaman dan sesi foto, mobil kami langsung dibawanya dan kami berempat berjalan kami ke kediaman Habib Lutfi bin Yahya. 



* * *


Saya sama sekali tidak menyangka bahwa pada hari itu ada acara Jumat Kliwonan. Apa itu Jumat Kliwonan, saya juga bahkan tidak tahu. Orang-orang tumpek blek, banyak sekali, ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu, mungkin 10 atau bahkan 20 ribu. Entahlah, pokoknya ramai sekali. Hati langsung kecut, perasaan menciut. Bagaimana mungkin kami bisa sowan Habib—wabil khusus saya sendiri yang ingin—menyampaikan kepentingan khusus jika begitu banyaknya orang yang semuanya pasti ingin bersalaman juga?


Menurut informasi yang saya terima dari Anam, Habib tidak ada ada di rumah. Sementara Habib Bidin (Ali Zainal Abidin, menantu Habib Lutfi yang merupakan pimpinan kelompok Shalawat Azzahir yang notabene putra mutrib [penyanyi & pemain oud] nan masyhur Habib Seggaf As-Seggaf) malah tidak muncul sedari pagi. Informasi ini diperoleh Anam dari khadam Habib yang memang tinggal di situ. Pagi yang cerah rasanya sedikit murung. Perasaan mulai gundah.


“Yang penting niat kita sudah sampai di sini, perkara nanti tidak bisa sowan, harus kita terima. Perjalanan kita lanjutkan saja sampai Sunan Gunung Jati Cirebon, setelah itu kita ‘putar kepala’, pulang kembali ke Madura.” Demikian usul saya kepada rombongan. Tidak ada respon, agaknya semua anggota juga rada kecewa. 


Hamdalah, rombongan kami ternyata masih bisa sowan Habib Lutfi di Kanzus Sholawat setelah acara Kliwonan usai. Saya bisa salaman, dapat jatah dua atau entah tiga detik saja karena keburu didorong oleh orang yang ada di belakang saya yang jelas juga mau salaman.  


Di situ, saya dapat kejutan, bertemu dengan orang yang bernama Mahfud dan Andri Wikono yang konon tahu keberadaan saya di sana karena sebelumnya melihat penampakan Colt T120: mobilnya lebih ngetop daripada orangnya, kata saya dalam hati. Kejutan berikutnya, ternyata saya punya kesempatan ‘moy-tamoyan’ (bertamu dengan santai dengan Habib Soleh dan Habib Bidin (keduanya menantu Habib Lutfi) di rumah beliau masing-masing. Kejutan ketiganya, Habib Bidin menyarankan agar saya sowan kembali kepada Habib untuk menyampaikan maksud khusus tersebut, yakni minta ijazah Dalailul Khairat. Benarlah, habis Jumatan, kami dapat sowan lagi, dan kali ini lebih eksklusif karena peristiwanya berlangsung di kamar beliau sendiri. Kami datang bersama rombongan tamu yang lain. 


Sudah, ah, jangan terlalu detil tentang yang ini. Kita pindah tema, ke mobil, ke perjalanan...


Habis sowan, saya duduk-duduk santai sembari menanyakan kondisi kampas kopling Colt melalui pesan pendek. Kata Pak Sikut, “Sudah selesai dikontrol: kampas tebal, kuku macan yang tipis, dan sekarang sudah beres.” 


Bahagia sekali mendengarnya, akhirnya kami merapat tempat Mas Amin (kurang jelas, di mana alamatnya, nanti saya cari tahu dulu), rumah yang digunakan Mas Sikut untuk memperbaiki mobil saya karena rumah Mas Sikut (nama aslinya Kuhdiyono), konon, jauh dari tempat itu. Kami bertamu di situ, santai-santai, ngeteh dan ngopi sampai maghrib. Dan yang paling tidak masuk akal, sungguh bikin malu dan pekewuh, Mas Sikut sama sekali menolak semua pemberian saya, baik untuk ongkos maupun untuk membayar suku cadang. Beliau hanya  menerima buat tangan saya, berupa gula merah dan sejumput tembakau rajangan yang saya bawa.

 

Wah, kejutan macam apa pula ini? 

 

Habis Maghriban berjamaah di mushalla kampung, kami pamit, berangkat meneruskan perjalanan. Kali ini, tujuan berikutnya adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Habib—lengkapnya Habiburrahman—salah satu anggota kami, sudah pulang duluan ke Madura, naik bis. Sepertinya, dia sudah puas karena sudah bertemu Habib Lutfi dan tidak perlu ikut kami ke tempat-tempat berikutnya (“Habib” yang pertama adalah nama orang, “Habib” yang kedua adalah gelar: jangan salah paham, ya! He-he-he). 


Dalam perjalanan ke Cirebon, lagi-lagi kami masuk tol. Maka, rencana mampir ke rumah Shafei Pahlevi di Tegal, juga Peppi, gagal sudah, padahal rencana ini saya rencakan jauh hari sebelum berangkat. Pertama, gagal mampir karena kami tidak lewat Pantura; yang kedua gagal karena kami terlalu lama di Pekalongan, di luar perkiraan. Sepertinya, kedua orang ini harus disambangi di lain waktu, Desember tahun ini siapa tahu. 


Dalam perjalanan itu, melalui media sosial Facebook, saya minta tolong agar bisa bertemu kawan atau orang yang sudi mengantar saya ke makam Syekh Tolhah di Cirebon (karena kalau Sunan Gunung Jati kan sudah masyhur). Hamdalah, gayung bersambut. Tiba di parkiran komplek Makam Sunan Gunung Jati, jam menunjukkan pukul 21.30. Sambil menunggu Mas Jamal, Mas Baequni, dan Habib Bagir (yang datang bersama Fathan), saya makan nasi goreng di dekat parkiran. Ini adalah makan di warung untuk kedua kalinya (yang pertama tadi, di Pekalongan) sekaligus menjadi makan yang terakhir di warung dalam perjalanan satu minggu ini. Setelah makan di warung itu, kami tak pernah makan di warung lagi, melainkan dari suguhan-suguhan teman juga bekal yang kami bawa, dlsb. 

Setelah nyekar ke makam Syarif Hidayatullah, kami pindah ke Syekh Tolhah. Jaraknya tidak jauh, hanya berada di seberang jalan, di bukit sebelah. Dari situ, barulah kami pindah tempat, ngopi cantik di Kedai Perjuangan atau apalah namanya. Sepertinya, kedai ini digunakan aktivis atau orang-orang yang ngopinya adalah sampingan dan diskusinya lebih banyak menyita waktu, sepertinya, sih. Saya, Qudsi, Anam, juga Mas Jamal, Mas Baequni, Mas Fathan, serta Habib Bagir dan tuan rumah atau pemilik kedainya terlibat dalam percakapan aneka rupa, dari soal gitar, sastra, dan entah apa lagi. 

Rencana semula untuk menginap di Cirebon (meskipun saya belum tahu entah di mana tempatnya) pun gagal. Kami akhirnya mancal, lanjut ke barat, masuk tol lagi. Saya yang pegang kemudi sampai di KM 101 Cipali. Karena mata sudah sepat banget, ngantuk luar biasa, saya turun dan meregangkan otot dan syaraf. Kami ngopi di situ dan sebentar kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Mas Moko di Tambun Utara, tepatnya di perumahan Griya Kota Bekasi II.


Tiba di rumah Mas Moko, azan subuh baru berkumandang. Kami shalat, lalu duduk-duduk, ngopi-ngopi. Mau ketawa-ketawa tidak plong rasanya karena meskipun saya sudah mandi air hangat, kantuknya tak tuntas juga. Akhirnya, saya tidur dulu, merehatkan tubuh di atas kasur berpegas, bawah hembusan sejuk pendingin ruangan. Sungguh ini Sabtu sempurna dari hari sebelumnya yang memang sudah sempurna.

 

Teman-teman, kalian semua, semuanya, sungguh luar biasa! 


Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...