Pembaca
04 Desember 2018
Mengantar Pengantin
13 Mei 2016
Perjalanan Colt: dari Kematian ke Kelahiran
Colt saya ini hanya dibawa pergi ke kondangan, takziyah, silaturrahmi. Ya, hanya itu saja kayaknya pergerakan roda-rodanya. Pernah, sih, beberapa kali dipinjam famili lain, tapi saya yakin Colt tidak dibawa ke tempat wisata atau berbelanja ke mal. Pernah juga menyiksa paman karena membran yang tidak bekerja dengan baik padahal dalam suasana liburan panjang, dan dalam perjalanan sangat jauh. Kasihan saya kalau ingat kisah itu, saih itu.
Saat pertama beli dari paman (yang satunya lagi), nenek bilang agar pergerakan roda pertama mobil harus ke tempat yang senang-menyenangkan, sebut misal pergi silaturrahmi atau ke mantenan. Saya pun menurutinya. Mobil ini diakad pada malam 16 dzulhijjah 1429 dengan harga 17,5 juta, tapi dibawa pindah garasi pada tanggal 18-nya, bertepatan dengan Rabu, 17 Desember 2008. Perintah pindah garasi ini ditunjuk langsung oleh si paman. Kata beliau, tanggal 18 merupakan hari keren. Sebagaimana seorang cowok nembak cewek pada momen tertentu, pindah mobil pun pilih-pilih waktu.
Cerita hari ini begitu juga
Hari ini saya pergi takziyah ke rumah seseorang di Poreh, Lenteng. Ya, takziyah atau pergi melayat adalah bagian dari aktivitas saya, begitu juga tilik bayi. Pagi ini, apa daya, jalan ke lokasi ternyata tidak bisa dijangkau dengan mobil, padahal saya sedang mengantar ibu saya yang sudah mulai sulit untuk berjalan kaki agak jauh. Tidak apa-apa, lalui saja.
Perjalanan kami melewati barisan rumpun bambu, asri sekali. Kami hendak menyeberang jembatan bambu tapi ibu tidak berani, gamang. Akhirnya, kami terus maju, mencari jembatan beton. Kami harus lewat di sana karena alasan itu meskipun rute jadi memutar, lebih jauh sedikit.Tuan rumah menyuguhi teh dan campor, sebuah kuliner khas Lenteng-Poreh yang berupa soto daging dengan campuran kacang goreng yang dilarutkan bersama kuah. Isi utamanya adalah ketupat. Jadi, jelaslah kalau campor ini mengenyangkan.
Setelah takziyah ke mendiang Rumma, kami pulang dan menuju Lenteng. Di sana, kami takziyah lagi ke rumah Jufri. Kakeknya, Enik, sudah wafat 3 jumat yang lalu. Saya baru berkesempatan di hari ini. Kalau ditanya, pastilah kami akan berbasa-basi, sibuk dan entah alasan lain. Sebelum disuguhi kopi, kami sudah berpesan dulu agar tidak disuguhi makanan berat lagi, sejenis campor atau lainnya. “Kami baru saja makan di Poreh,” begitu kata saya. Begitulah, ada satu kebiasaan di masyarakat Madura tertentu: kalau tamu tidak segera ngomong, tuan rumah akan menyuguhkan makanan lagi.

Hari itu kami agak terburu-buru. Pukul 10.30 kami sudah meninggalkan rumah Jufri, melewati jalan yang sungguh sangat sempit dan saya tidak bisa membayangkan kalau saja terjadi papasan dengan mobil lain. Jika itu terjadi, pastilah salah satu mobil harus mundur sejauh-jauhnya untuk mencari tempat memutar atau menyisi. Jalan berbatasan langsung dengan tegalan.
Pukul 11.10, saya tiba di rumah dan bersiap pergi ke Jumatan. Sorenya, saya kembali pergi, tilik bayi ke rumah Muallifah yang entah sudah berapa waktu melahirkan. Sehari ini, Colt saya sudah menyambangi orang mati dan orang yang baru lahir ke muka bumi.

Begitulah adat kami, sibuk ke sana ke mari untuk kematian dan kelahiran atau sesuatu yang berada di antaranya: pernikahan. Ya, Allah. Engkau adalah Mahapengampun. Maka, ampuni hamba bila lalai sebab kami, hamba-Mu, adalah makhluk Mahasibuk.
12 Mei 2016
Curhat Seorang Sopir Colt
Selama mengemudi, saya tidak pernah melakukan pelanggaran lalu lintas yang menyebabkan keluar duit untuk tilang. Kalaupun pernah terjadi pelanggaran, maka itu terjadi pada saat saya menjadi penumpang atau ketika saya mengemudi namun kesalahan berasal dari penumpang (seperti tidak pakai sabuk keselamatan, dll). Dalam hal mengemudi, saya kira saya sudah sangat berhati-hati. Saya kira, lho.
Belakangan ini, saya mulai bosan mengemudi. Terkadang, saya ingin bepergian dan ada sopir yang mengemudikan kendaraan sedangkan saya duduk di tengah atau di sisi kiri. Sayangnya, saya merasa belum mencapai level untuk menjadi seperti itu. salah satu alasannya adalah karena mobilnya adalah Colt T120 yang tidak sembarang orang mau atau mampu dan atau mau-dan-mampu mengemudikannya. Mobil lawas itu perlu perlakuan khusus dan pemahaman mendalam: rem tidak boleh diinjak mendadak, nariknya harus pelan-relan, dan banyak aturan ini-itu lainnya. Akan tetapi, saya masih ragu, apakah rasa bosan itu muncul karena yang saya kemudikan hanyalah Colt T120 atau karena semakin banyaknya lalu lintas di jalan raya yang kian serampangan dalam berkendara? Rasanya, setiap kali pergi, saya selalu sumpek melihat fenomena masyarakat dalam berlalu lintas di jalan raya.
Jika harus bepergian, biasanya saya akan memilih angkutan umum selama itu memungkinkan. Seperti diajukan di atas, semakain tua, saya ini bukannya semakin bijak, tetapi semakin tidak sabaran kalau harus menonton kesemrawutan pikiran orang-orang yang diejawantahkan dalam kesemrawutan mereka dalam membawa dan menjalankan tubuh dan mesin di jalan raya: orang-orang yang menyerobot tanpa rasa bersalah, orang-orang yang tidak bisa menahan diri di lampu merah; orang-orang yang terburu-buru hingga tak bisa sabar meskipun sebentar saat ada orang menyebarang atau memotong jalur, orang-orang yang dalam mengalah pun ia harus dalam keadaan terpaksa. Sesungguhnya, kecelakaan lalu lintas itu tidak semata-mata karena adanya pelanggaran, melainkan juga karena faktor-faktor seperti ini pula.
Potret tradisi, kebudayaan, bahkan mentalitas sebuah bangsa itu dapat dilihat dari bagaimana mereka berinteraksi dan berkomunikasi di jalan raya. Potret jalan raya adalah representasi watak masyarakat. Saya, kok, berkeyakinan kalau orang-orang yang bisa berlaku beres di jalan akan juga beres dalam dalam sisi kehidupan lainnya. Mengapa? Sebab, jika di tempat tempat lain orang bisa bermuka dua, di jalanan tidak. Orang-orang pasti “jujur” di jalananan, menampilkan tampang dan watak aslinya. Jika di jalan mereka berperilaku baik, maka dengan demikian, di tempat lain, bahkan di tempat-tempat yang tersembunyi sekali pun, besar kemungkinan mereka juga akan berlaku baik dan lebih berhati-hati.
Maka dari itu, jika saya menjadi presiden di sebuah negara yang elemen sosial, politik, bahkan spiritualnya sudah nggak karu-karuan, yang pertama kali akan saya bereskan adalah perilaku tertib dan penghargaan kepada orang lain di jalan raya. Setelah itu, barulah saya akan membenahi persoalan bahasa.
05 Desember 2013
Mobil pun Punya Buku Diary
Pada mulanya, saya bikin blog ini di awal tahun 2009. Ini bermula sejak saya punya Colt T-120 di akhir 2008. Saya barharap, dengan blog ini, saya makin rajin menulis, terutama pengalaman-pengalaman saya bersama Colt T-120. Jadi, blog ini saya proyeksikan sebagai ‘diary’ khusus Mitsubishi Colt T-120 yang saya miliki.
Dalam rentang tahun 2009-2010, beberapa kali saya mencatat perjalanan dengan jarak lumayan jauh, yakni sekitar 800 hingga lebih 1000 kilometer. Saya pun tertarik untuk membuat catatan perjalanan. Meskipun perjalanan jauh tersebut hanya berkisar di Jawa Timur, lebih tepatnya hanya ke area Banyuwangi, Situbondo, dan Jember, namun saya tetap merasa perlu dan merasa penting untuk menuliskannya. Betapa pun remehnya, catatan perjalanan akan tetap dibutuhkan sebagai tambahan informasi bagi saya pribadi dan bagi para pembaca pada umumnya.Nah, ide muncul, lantas saya baca-baca lagi catatan perjalanan yang sudah saya posting di blog ini dengan rencana dicetak menjadi sebuah buku. Kebetulan, pamanda Zainur Rahman membuat lukisan apik bertema Colt. Inspirasinya adalah perjalanan Colt ke negeri asalnya, Jepang. Gambar itu kemudian diolah oleh sepupu saya yang bernama Ahmad Hassan (cek karya grafisnya di sini). Setelah jadi calon kover buku, atas bantuan kawan Alek Subairi, materi ditata dan diatak lalu jadilah sebuah buku catatan perjalanan dengan Colt T 120 ini. Ukurannya pun dibuat lanskap demi kemiripin dengan buku kepemilikan kendaraan bermotor, BPKB.
Tentu, saya belum kepikiran untuk mengajukan buku ini kepada penerbit mayor. Teman saya, Alek, yang tiba-tiba mencetaknya satu eksemplar setelah ia layout, dan menyerahkannya kepada saya. Sudah pasti, saya senang sekali. Keinginan saya berikutnya adalah mencetak buku ini dalam jumlah tertentu untuk selanjutnya dibagi-bagikan secara cuma-cuma kepada teman-teman saya yang terlibat langsung dalam catatan perjalanan ini dan kepada mereka yang benar-benar suka dengan Colt T-120. Saya masih menunggu kejutan dan keajaiban hingga saya punya uang untuk mewujudkan keinginan ini. Sambung doa, ya!T
M. FAIZI, penulis, pemilik Colt Pariwisata, blogger, tinggal di Guluk-Guluk, Sumenep
15 November 2011
Cerita Pendek Hari Ini
11 Oktober 2011
Pompa Oli
Pompa oli merupakan urat nadi setiap kendaraan. Setiap kendaraan berbahan bakar minyak selalu menggunakan oli sebagai pelumas mesinnya.
Nah, ini pengalaman yang mungkin Anda perlukan.
Suatu saat, saya menjalankan kendaraan saya. Mobil ini baru saya ganti pelumasnya. Tiba-tiba, saat belum jauh dari rumah, lampu merah “Oil” menyala. Saya tetap menjalankan kendaraan tersebut sambil menganggap: pertama, filter oli minta digarti; kedua, switch oli rusak.
Namun, tak sampai semenit, suara mesin tiba-tiba berubah, agak terdengar kasar. Nah, karena lampu merah tetap menyala, segera saya mematikan mesin. Untunglah. Ternyata, oli dari bawah (calter) tidak bisa sampai ke atas mesin dengan dua alasan:
1. filter oli kotor
2. pompa oli macet
Kami membuka calter atau wadah oli itu, mencopot pompa olinya, lalu menyekur (meratakan permukaannya) dengan amrin. Selesai. Pasang. Tapi, lampu tetap menyala dan mesin tetap kasar. Astaga. Oli belum naik juga.
Akhirnya, paman saya (karena kebetulan yang memperbaiki Colt T ini paman saya), berpikir keras. “Ini pasti ada penyumbatan. Pompa oli? Tak mungkin. Filter oli? Lebih tidak mungkin.” Katanya bicara sendiri.
Akhirnya, kami menemukannya. Ada penyumbatan di saluran ujung belakang silinderkop. Setelah mendatangkan kompresor dan menyemprotnya, mengalirlah oli itu, normal kembali. Dicurigai, kotoran berasal dari remah-remah lem karet yang dipasang secara tidak rapi.
13 September 2011
Colt Angkutan Lebaran
Setiap hari lebaran, saya selalu cabis (sowan) ke rumah mertua di Pamekasan. Jarak dari rumah saya ke Pamekasan ini kira-kira 33 kilometer. Namun, di tengah perjalanan, kami mesti mampir di rumah bibi, di desa Montok (memang begini nama desanya). Penumpang penuh dan bawaan biasanya juga berjibun.
Nah, dari Montok ini, kami melanjutkan perjalanan ke Pamekasan, pergi bersilaturrahmi pada keluarga di
Melawan Stereotip
Hari Sabtu kemarin (10 September 2011) saya mengantar temanten ke rumah mempelai pria. Dalam iring-iringan itu, saya mewanti-wanti agar rombongan berangkat bersama dari SPBU Talang, kira-kira `5 kilometer perjalanan dari Pamekasan menuju Sumenep.
Betul, kami memang berkumpul di SPBU tersebut karena berangkat tidak bersamaan. Dari
Akan tetapi, baru 1 kilometer meninggalkan SPBU, saya dihentikan oleh bapak polisi dan dia membiarkan 5 kendaraan lain yang saya sebut tadi begitu saja berlalu. Saya sakit hati. Apa yang membedakan colt saya dengan kendaraan lain itu? Penumpang sama-sama penuh, lampu hazard sama-sama dinyalakan. Untung tidak lama. Setelah mengeluarkan SIM dan STNK, colt T pun bergerak menyusul rombongan.
* * *
Dua hari setelah itu, Senin, lagi-lagi saya pergi bersam colt ini ke rumah H. Hisyam. Di sebuah tikungan yang tak jauh dari rumah, mobil saya terhenti karena terjebak taksi (L300 angkutan pedesaan) yang berhenti semena-mena sekitar 10 meter sebelum tikungan tajam. Saya melihat, kernet taksi tersebut sedang tawar-menawar dengan 3 orang penumpang. Kernet ngotot menjelaskan bahwa masih tersedia tempat duduk bagi mereka bertiga. Tetapi mereka rupanya ogah kalaupun muat namun harus berdeseak-desakan.
Entah mengapa, satu dari ketiga orang itu tiba-tiba menoleh ke arah mobil saya yang berada persis di belakang L300 plat kuning itu. Hebatnya, tanpa basa-basi dia langsung membuka pintu depan dan siap untuk duduk. Saya kaget. Saya melongo menatapnya. Dia tak kalah kaget, tercengang, lalu sadar kalau masuk ke mobil yang salah. Ia menutup pintu dan tertawa. Mereka bertiga tidak jadi naik colt, tidak pula naik taksi itu, tapi lari ke belakang bersama dua temannya.
* * *
Rupanya, sulit memang melepas image Colt T 120 sebagai taksi/angkutan umum jika mengingat masa jaya kendaraan jenis ini di masa lalu. Saya masih bingung, apa acara melawan stereotip agar Colt T “plat hitam” tidak secara rata dianggap sebagai angkutan “plat kuning”? Apakah dengan cara membuatnya full variasi, menggunakan ban lebar misalnya, atau sedikit dibuat mapa’ (ceper), ataukah dengan menambah sedikit moncong di depan agar seperti Alphard?
20 Juni 2011
Takziyah ke Basoka (via Bato Guluk)
29 Maret 2011
Undangan Ke Prancak
Tiba di rumah pada pukul 6.30, perjalanan pulang dari Jakarta, pukul 7.10, hari Ahad 27 Maret itu, saya harus pergi lagi ke Paojajar, Prancak, untuk menghadiri pernikahan Misbahul Ulum putra Bapak Moh. Nahrowi dan Istiqamatul Hasanah, putri Bapak Kamil Ma’mun. Tujuan itu, Paojajar, selama ini hanya saya dengar namanya saja. Konon, kondisi jalan ke arah sana, pada beberapa tempat seperti Dambir, kurang bersahabat bagi kendaraan non-Four-Wheel-Drive.
Hari itu saya juga tidak menduga kalau ternyata sisa hujan semalam akan mengakibatkan jalan tanah jadi berlumpur. Lubang di sana-sini dipenuhi genangan air. Tapi, apa lacur. Perjalanan harus dilakukan karena kepalang tanggung, sudah terlanjur.
Awalnya, saat memasuki kawasan Bragung, pemandangan indah tampak di depan mata. Jurang yang dalam, seperti ngarai dalam bentuk kecil, sangatlah mempesona. Saya membayangkan, para penggemar paralayang bisa mencoba tempat ini untuk terbang, meskipun tidak terlalu tinggi. Jalan yang sempit, rusak pada beberapa tempat, dipenuhi belukar di kanan-kiri, membuat saya harus selalu membunyikan klakson setiap bertemu tikungan. Ya, ini bukan Yungas, tapi Prancak.
Setelah melewati jalan beraspal yang lebih parah dari sebelumnya, akhirnya colt T -120 yang baru dicuci ini harus menerima nasib; menempuh jalan tanah berlumpur.
jalan berlumpur dimulai. saya berhenti, dikira mogok, padahal untuk sesi foto :-)
setang setir lurus tapi jalan mobil menyamping, "berjalan secara miring"
pulang: ada L300 bensin di depan
jalanan sepi dan lengang. perampok di zaman sekarang tidak membegal di tempat seperti ini :-)
eh, ternyata ada kawan sepermainan, Colt T pick up ("Kol Pikep" kata orang setempat)
sopir L300 itu tidak segera sadar kalau ban serepnya nyangkut ke tanah saat dua roda belakang mobilnya masuk ke kubangan dan bautnya lepas. Dia terus berjalan. Untung karena kendaraanku adalah "mobil yang bisa bicara", saya panggil dia dengan pengeras suara TOA, "Whoi... ban serepnya lepas!". Alhamdulillah, dia mendengar dan berhenti untuk memperbaiknya.
bukit itu kami rambah
ini salah satu jurang. Jangan tolah-toleh di sini, bahaya, kecuali mobil Anda menggunakan sayap.
17 Februari 2011
Kunci Ketinggalan
Dalam perjalanan pulang dari Pamekasan, tadi malam, seusai menjenguk bibi yang sakit, saya nyalakan lampu sein kiri, masuk pompa bensin Talang. Beruntung, mobil belum masuk antrean, saya cek, kunci lubang pengisian BBM tak ada, alias ketinggalan di rumah.
Dengan perasaan agak ragu, saya ngotot pulang. Alhamdulillah. BBM cukup sampai garasi. Ya, demikian memang jika kunci kontak dan kunci lubang pengisian BBM dipisahkan dan beda gantungan. Lupa merupakan bagian dari cerita sedih perjalananku, hampir terjadi sehari-hari.
22 Januari 2011
Knalpot Baru
Karena sudah tidak mempan lagi ditambal sulam, akhirnya knalpot colt Titos-ku ini diganti. Saya beli merek Matahari, produksi (Malang). Harganya Rp 130.000. Murah, bukan? Harga ini memang terhitung murah dibandingkan dengan knalpot produks yang sama untuk Suzuki Carry 1.0, yaitu Rp.190.000.

Setelah dipasangi muffler agar mirip knalpot Mercy, knalpot saya pasang. Nah, tadi malam, sewaktu kami bawa pergi untuk doa bersama/tahlilan, persis di tanjakan Panguray, kira-kira berjarak 1500 meter dari rumah, tersebar bau hangus masuk ke kabin. Kelihatannya kabel terbakar. Dengan sigap dan secepat saya tepikan mobil ke kiri dan mematikan mesin. Tapi, ternyata, bau hangus masih tetap ada. Maka, berdasarkan pengalaman yang lalu, segera saya ambil langkah paling aman: membuka jok pengemudi dan mencopot kelam/klem aki.
Agar tujuan pergi tahlil tetap terlaksana, mobil saya titipkan di rumah Haji Nahrawi, di sekitar situ, dan kami diangkut oleh Pak Jauhari dengan Carry-nya yang kala itu segera saya hubungi. Di atas mobil, saya ceritakan semua peristiwa itu kepada Pak Jauhari. Eh, malah dia tertawa, “Ya, itu karena knalpot baru. Memang begitu, cat knalpot yang terbakar itulah yang menyebabkan bau..” Saya ditertawakan oleh penumpang yang lain atas peristiwa tegang yang lucu ini.
Pagi tadi, saya ambil mobil di Haji Nahrawi (beliau adalah sopir mobil pesantren Annuqayah generasi awal; memiliki ciri unik dan antik, yaitu ke mana-mana selalu pakai terompah kayu, meskipun buat menginjak pedal gas, rem, dan kopling). Sebelum saya bawa pergi, mesin dinyalakan dan benar tidak ada apa-apa. Mungkin, kalau diperhatikan lebih dekat, hanya cat perak/silver knalpot yang tampaknya sedikit memudar warnanya.
Catatan: suara knalpot produksi "Matahari" ini agak mendengung, barangkali disebabkan oleh lapisan peredam yang kurang berlapis. Ya, maklum, harga juga murah
01 November 2010
Mobil yang Bisa Bicara
Pernahkan Anda naik kendaraan, atau dalam posisi hendak berangkat dari tempat parkir, tetapi tidak bisa bergerak karena terhalang oleh kendaraan lain?Jika pernah, barangkali Anda memerlukan seperangkat pengeras suara seperti ini. Speaker TOA (juga dilengkapi amplifier semerek; TOA) saya pasang sebagai bagian dari aksesoris, atau bahkan senjata, bagi Colt T-120 milikku. Pengalaman seperti di atas sering saya alami. Karena itu, saya membutuhkannya, baik untuk sekadar say hello dengan “Assalamualaikum” atau dalam bahasa Madura “pangapora” (permisi).
Suatu saat, saat saya pulang dari rumah seseorang di Pamekasan. Ketika tiba di bibir gang, saya melihat ada abang becak membiarkan becaknya menjorok ke tengah, sehingga jalan saya terhalang. Saya tidak membunyikan tuter (klakson), tetapi membiarkan colt-T 120 ini berbicara, “Permisi, Pak. Mohon mundur sebentar, saya gak bisa lewat nih.” Si Abang becak tersenyum. Ia memundurkan becaknya. Saya pun lewat. Mungkin, ekspresi seperti itu tidak akan terlihat andaikan saya membunykan tuter, apa lagi dengan mengklaksonnya sampai berkali-kali.
Tidak hanya itu, speaker ini terkadang saya gunakan juga untuk kepentingan yang lain, misalnya memanggil tukang bakso di kejauhan di saat parkir menunggu “penumpang” pulang dari pasar, atau pula menegur, dan ini seringkali, pengendara sepeda motor/mobil yang ada depan kendaraanku, yang membiarkan lampu belakangnya mati sementara mereka berjalan di malam hari, “Weleh, gimana ini kok pada gak pakai lampu whoi…”
Begitulah.
04 Oktober 2010
Ampere Meter

Apakah ada ampere meter (AM) di Colt T-120 Anda? Jika AM itu merupakan rekayasa sendiri dengan memotong arus (dari) dinamo ampere ke batere/aki, dan bukan AM dengan kabel min-plus, saya sarankan untuk dicopot saja!
Awalnya, di Colt T- saya juga ada. Namun, sejak 19 September yang lalu, sepulang perjalanan ziarah ke makam Syaikhona Kholil Bangkalan, AM itu telah hangus terbakar karena korsleting di sekitar jembatan Burneh, Bangkalan. Percikan api terlihat dengan jelas. Setelah itu, asap mengepul, semua penumpang panik karena mencium bau angus di dalam kabin. Mereka melompat keluar, menjauh dari mobil.
Kepanikan juga membuat saya bodoh. Tindakan pertama yang dilakukan adalah mematikan kunci kontak, lalu menarik paksa kabel arus ampere itu, lalu memereteli semua sekring, tetapi api terus memercik. Untunglah, dengan sigap saya turunkan jok sopir, dan secepat kilat pula saya buka kabel aki. Baru beres, aman!
Sejak saat itu, ampere meter dilepas dari mobil berikut lilitan kabelnya yang telah gosong. Dan sejak saat itu pula, cahaya lampu jadi lebih cerah, stater pun lebih bertenaga. Alasannya mungkin karena kabel AM itu cukup mengganggu arus suplai kelistrikan. Sebab, AM menjadi “terminal bayangan”. Arus dari dinamo ampere yang seharusnya langsung menyuntikkan strum ke batere (aki), masih mampir terlebih dahulu di ampere meter. Sekarang, status pengisian batere saya percayakan sepenuhnya pada kontrol “CHG” (charge) yang berwarna merah ketika dikontak dan terpampang di panel mobil itu.
17 Juli 2010
Pertamax
Saya berada di belakang kemudi Mitsubishi Colt T-120, datang dari arah Arjasa menuju kota Situbondo, mengekor Espass 1,6. Si Espass masuk ke SPBU, saya mengekornya. Ia parkir di sisi mesin pompa ke-3, dan saya pun memarkir Titos du Polo ini di mesin pompa ke-4 yang menyediakan Pertamax.
Petugas SPBU: “Bensin kosong, Pak. Ke sini saja!” (menunjuk ke pompa mesin ke-3)
Saya: “Pertamax!”
Petugas SPBU: “O, kalau pertamax-nya ada. Berapa?”
Saya: “Limapuluh ribu.”
Baru saja selesai diisi, switch dinamo stater tidak merespon kunci kontak, mati. Yah, apa daya. Baru isi pertamax, langsung dorong deh
26 Juni 2010
Kipas Radiator dan Panas Mesin
Karena alasan ingin kondisi mesin colt T 120 lebih dingin, saya mengganti kipas radiator yang standar (5 daun), dengan kipas modifikasi 7 daun. Maksudnya, dengan kipas berdaun 7, meskipun kerja mesin lebih sedikit berat, sirkulasi air dalam sarang tawon (radiator) akan lebih baik. Belakangan saya tahu, bahwa mesin sehat itu tidak identik dengan kondisi mesin akan selalu dingin. Sebab, panas mesin telah disesuaikan dengan fungsi pembakaran bensin.
Setelah kipas berdaun 7 itu saya pasang, ternyata hanya sedikit sekali pengaruhanya. Penunjuk temperatur mesin tetap panas. Jika menempuh jalanan menanjak selama 3 kilometer, temperatur menunjuk ke angka 80-90o celcius. Apakah karena switch temperatur yang rusak, radiator mampet, selang/ hose radiator yang kotor, water pump yang karatan, dan filter udara yang dekil? Saya terus mencari tahu. Belakangan ditemukan jawabannya. Yang menjadikan kondisi mesin kembali stabil adalah keseimbangan karburator dan setelan platinanya.
Namun, karena kipas imitasi yang saya beli seharga Rp15.000 dan berbahan
21 April 2010
Lampu Jauh
Belum terlalu gelap, tapi karena langit mendung dan gerimis mulai menebal, jalan tol Perak-Gempol menjadi sangat gelap-pekat. Saya segera memberikan aba-aba kepada Lutfi yang saat itu kebetulan berada di belakang kemudi,
"Lut, ayo nyalakan lampunya, sudah malam!" dengan intonasi setengah memaksa. Tapi, apa jawabannya?
"Sudah, sudah dinyalakan. Malah ini sedang pakai lampu (lampu jauh)."
Saya tertawa dalam hati. Betapa redupnya lampu colt ini.
30 Maret 2010
Arogan di Jalan
Tadi malam, habis Isya’…
Membuntuti dua pengendara sepeda motor: setelah melewati satu pengendara sepeda motor, kini giliran pengendara-berboncengan berikutnya. Namun, saat hendak kusalip, tanjakan di depan. Kuurungkan niat karena pandangan tidak bebas. “Setelah tanjakan, baru kudahului,” begitu pikirku.
Saat itu, persneling ada pada gigi terakhir. Laju Titos du Polo lumayan cepat. Dan setelah tanjakan, tiba di jalan datar, barulah aku mendahului pengendara sepeda motor dengan boncengan seorang ibu menggendong bayi dalam dekapannya. Sekilas kulihat begitu. Persis, ketika sedang menyalip, tiba-tiba, dari arah depan tampak bayangan: sebuah sepeda motor tanpa lampu. Betapa kaget diriku. Meneruskan menyalip tidak mungkin karena gugup. Kalau aku nekat, aku menjamin, dalam kecepatan segitu, pengendara motor tidak berlampu itu akan terpental beberapa meter dari jalan raya.
Kuinjak pedal rem, mantap dan dalam. Tiba-tiba, terjadilah keanehan itu: menjelang beberapa depa lagi sepeda motor dan kendaraanku nyaris adu-kambing, tiba-tba si pengendara motor—yang kutahu belakangan Suzuki Satria Merah 2 Tak—menyalakan lampu depananya. Maysa Allah. Ternyata sepeda motor ini ada lampunya. Kok ya belagu-belagu-nya mematikan lampu utama? Cari celaka! Dan hebatnya, saat kami berpapasan, si pengendara sepeda motor malah menarik gagang gasnya dalam-dalam, blayer sebanyak dua-tiga kali, menunjukkan sikap arogannya.
Tiba di rumah:
“Apa yang Anda pikirkan?” Kata Facebook.
“Selama 30-an menit, aku nyaris tetap tidak mempercayai kejadian yang telah aku alami itu. Betul, semkain banyak keanehan di sekelilingku.” Demikian, ingin kutuliskan hal itu, tapi tak jadi karena doa dalam hatiku berbunyi begini: “Semoga, orang-orang arogan seperti itu segera diberi kesadaran, atau penyadaran, oleh Allah Sang Pemilik Bumi dan Seisinya dan Juga Pemilik Jalan Raya dan Lalu Lintasnya, lewat apa pun bentuknya.
01 Februari 2010
Bersama Tamu
Mereka yang di bawah ini (dari kiri ke kanan) adalah Andy Fuller, Binhad Nurrohmat, Edu Badrus Saleh
kalau yang ini Binhad Nurrohmat. Lokasi di tebing Congapan, sejenis Grand Canyon-nya Guluk-Guluk
dan ini adalah Afrizal Malna yang saya antar pulang sehabis bertandang ke rumah.
25 Januari 2010
Tertib Lalu Lintas Masuk Kurikulum
Salah satu tujuanku memasang speaker di mobil bukan saja sekadar untuk menyapa teman yang kebetulan berpapasan, melainkan juga untuk menegur para pengguna jalan yang bertingkah-polah sembarangan. Cara ini rupanya lebih sopan dan “menyentuh hati” daripada boros tekan klakson bertubi-tubi.
Akan tetapi, pengalaman berulang kali melakukan perjalanan ulang-alik Guluk-Guluk-Pamekasan dengan Titos membuat aku berkesimpulan begini:
“Saatnya tertib berlalu lintas masuk kurikulum pendidikan atau perketat prosedur pengambilan SIM dengan betul-betul menguji kecakapan (serta wawasan) calon pengendara kendaraan bermotor.”
Masyarakat harus disadarkan bahwa akhlaqul karimah itu tidak saja sekadar menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, bukan pula sekadar menahan diri dari—meminjam istilah Gus Mus—membuang sampah di telinga orang lain, bukan pula sekadar menyingkirkan batu/aral yang melintang di tengah jalan, melainkan juga tidak belok mendadak, tidak menerobos lampu merah, dan juga tidak parkir seenaknya seolah-olah dunia ini milik dirinya sendiri dan yang lain cuma ngontrak.
Saya membayangkan ada lembaga atau institusi yang mau melakukan penelitian tingkat kecerdasan seseorang (baik kecerdasan spiritual ataupun kecerdasan emosional, dll.) dengan perilaku berkendara dan etiketnya di jalan raya sebagai tolok ukurnya. Betulkah masyarakat sudah tahu bahwa lampu sein itu BUKAN lampu disko dan spion itu BUKAN cermin untuk berdandan?
Keliling Madura Paket Lengkap
Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...
-
Colt Gen-1, 1969, Wida Tri Bowo Colt T120 adalah varian produk Mitsubishi yang angka penjualannya—di kala itu—terbilang fenomenal....
-
Keluhan yang kerap dirasakan oleh pemilik colt T 120 adalah soal konsumsi bahan bakar. Mereka mengeluhkan ini karena soal boros. Mengapa? J...
-
Ini gambar aslinya.... dan ini "Titos Modif" hasil rekayasa Ahmad Hassan: rasa nano-nano rasa es krim rasa cabai rasa pisang rasa ...





