Pembaca

Tampilkan postingan dengan label sumenepsitubondo. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sumenepsitubondo. Tampilkan semua postingan

04 November 2020

Bred...Dreb...Breb... (Situbondo - Sumenep)


SABTU, 31 OKTOBER 2020 

Hari ini, dalam buku diari saya, jadwal undangan banyak sekali. Ada undangan pernikahan Ely Sofiana; ada selamatan adiknya Fayyadl; ada undangan maulid di rumah H. Bahrus, dan semua undangna ini berlokasi di dekat rumah, di Madura, juga pada jam yang hampir bersamaan, siang. Tapi, hari ini, saya berada di Situbondo dalam rangka menghadiri pernikahan pamanda Aydi Ma’mun dengan istrinya, Ning Jayyidah binti Kiai Kholil Muhammad. 

Sebelum berangkat kondangan ke PP Sumber Bunga (baca: sombher bhunga; sumber kebahagiaan) Sletreng, saya masih sempat kembali ke Asembagus, mengambil kunci ring dan pulpen serta buku agenda yang tertinggal kemarin sore, serta main ke rumah Mukhlis untuk makan lupis dan ngopi, dll. 

ketemu sama Om Faqih dari Buleleng

Baru pukul 10.00 kurang seperampat, kami berangkat. Pergi ke acara inilah inti perjalanan ke Situbondo kali ini, meskipun bertandang ke rumah famili jauh lebih banyak memakan waktu. Intinya, menghadiri walimatul ursy pernikahan Pamanda Aydi Makmun bin Kiai Ahmad Sufyan ini punya bonus yang besar, khususnya buat saya. Mampir-mampir seperti dalam kisah di atas itu adalah di antaranya. 


Rangkaian acara pernikahan Kiai Aydi Ma’mun bin Kiai Ahmad Sufyan di PP Sumber Bunga, Sletreng, Situbondo, berarakhir setelah azan duhur berkumandang. Kiai Kholil Muhammad memungkasi acara dengan doa penutup. Ini kejadian jarang terjadi karena posisi beliau, saat itu, adalah sebagai besan yang lazimnya tidak ‘ngisi’ acara—seperti sambutan yang biasanya diwakilkan kepada orang lain, bahkan meskipun tugas itu ‘hanya’ sebagai pembaca doa. Jika ini terjadi berarti ada sesuatu yang istimewa. Barangkali karena tuan rumah memposisikan Kiai Kholil ini sangat terhormat karena putra dari Kiai Muhammad bin Imam yang notabene merupakan ‘rekan seperjuangan’-nya Kiai Ahmad Sufyan. 

Undangan berhamburan untuk pulang, siap di pintu dengan berkat, menunggu  mobil-mobil mereka datang dan melintas dari parkiran. 

Saya segera berkordinasi dengan istri agar pulang belakangan saja. Capek kalau rebutan. Undangan banyak sekali soalnya. “Sekalian ambil bonus, salam-salaman sama kenalan atau famili yang bertemu,” kata saya. Kapan lagi bisa bertemu dengan banyak orang dan banyak famili jika bukan di acara pernikahan seperti ini?

 Tiba-tiba, ada Kiai Mustofa Badri, berkata,

“Mampir rumah.”

“Terima kasih, saya sungkan!” Saya tertawa.

“Ndak apa apa. Hari ini saya tidak pergi ke mana-mana.”

“Insya Allah.”

Terus, istri beliau yang berada di belakangnya, Nyai Hafsoh, bilang; “Colt-nya mau ditukar, tah?” timpal beliau saat mau naik ke mobilnya, Velfire. Saya tahu, ini guyon asli, bukan sindiran. Maka, saya balas saja dengan guyon setimbang.

“Mmmm... masih mau saya pikir-pikir dulu!”

Beliau berdua tertawa.  

Dari lokasi, kami lanjut ke Klatakan ketika undangan sudah tinggal beberapa saja. Kami menuju ke rumah ipar sepupu daripada istri saya, rumah pertama yang kemarin kami singgahi di Situbondo. Di situ, kami mengantar dua ipar sepupu yang hendak singgah dan berencana bermalam. Mereka berdua itulah yang sebelumnya bareng mobil saya dari Madura. Jika begitu, berarti saya hanya akan pulang bertiga; dengan istri dan keponakan istri saya. Jadi, Colt yang ketika berangkat membawa penumpang lima orang akan balik dengan hanya 3 penumpang. 

Hujan deras mengguyur saat saya tiba di Klatakan. Saya mengantuk, tidur terjadi tak terencana. Dan tak terasa pula waktu menunjuk hampir asar. Saya pamit, tapi tuan rumah melarang, meminta kami agar berangkat setelah reda. Saya berkelit, “Berdasarkan warna langit yang pucat, hujan tak akan reda meskipun hingga maghrib tiba...” 

Terpaksa juga kami berangkat saat hujan masih deras-derasanya. 

Anam, sepupu saya, yang sekarang membawa kendali. Kami mengolesi kaca dengan shampo agar tidak ngembun. Berhasil, pandangan serlah ke depan meskipun hujan deras mengguyur. 

Jalan tidak sepadat biasanya. Maklum, banyak sepeda motor yang tidak berjalan kalau hujan. Jadi, ‘lawan’ kami hanya mobil kecil dan truk. Anam masih bisa membawa kendaraan hingga kecepatan 60 km/jam. Saya kira, untuk mobil Colt yang remnya masih pakai tromol, kecepatan segitu adalah batas maksimal dalam karegori aman mengingat rem kadang ngawur jikalau terkena air saat melewati genangan. 

Sementara itu, mesin relatif normal. Bredbet masih ada meskipun tak seberapa. Artinya, tutup delco itu memang bermasalah, tapi rupanya masalahnya bukan cuman di situ. Pengapian ada masalah yang lain. Saya memang sudah beli kabel busi meteran, tapi tidak dipasang. Ini cuman buat jaga-jaga saja. Selagi mobil masih bisa berjalan agak normal, biarkan saja, deh. Perbaiki di rumah saja. 

Pukul 16.16 kami tiba di PP Badridduja, Kraksaan. Kami mampir sebentar saja di rumah Kiai Mustofa. Kami bertamu secara formal, duduk-duduk, bercakap-cakap. Saya bilang kepad tuan rumah agar tidak disiapkan makanan, terus terang saja, takut tidak termakan soalnya karena di samping kami baru makan di kondangan, kami juga bawa sangu berkat  yang berisi roti dan nasi. 

Selepas azan maghrib, kami shalat, lalu berangkat. Tujuan berikutnya adalah Leces. Saya hendak menyambangi Heri, kawan di pondok, dulu. Rencana ini di luar agenda. Awal dia meminta agak memaksa untuk mampir karena tadi sempat nyambung telepon di jalan, padahal saya hanya nanya nomor ponsel kawan bersama kami, Taufik, sama dia, eh, yang terjadi malah begitu: mampir ke Heri, ke Taufik justru tidak. 

Kami tiba di sana pukul 19.00. bagi kami, perhitungan ini, satu jam perjalanan sudah dianggap cepat mengingat perjalanan dari Kraksaan sampai lokasi masih gerimis. Alhamdulillah, senang sekali rasanya bisa mampir ke rumah kawan yang lama tidak bertemu dan pertemuan tersebut di luar perencanaan. Sebetulnya, minggu lalu (24 Oktober), ketika saya datang dari Jember dan lewat Leces, saya memang berencana mampir, tapi gagal, dan ternyata terjadi seminggu kemudian. 

“Satu atau setengah?”

Begitulah cara Heri menyapa saya. Ini adalah sapaan kunci, ucapan yang dia biasa ajukan kepada saya saat mau makan, dulu, di pondok. Maklum, Heri adalah mantan penjaga kantin nasi milik kiai. Porsi satu adalah porsi standar. Porsi setengah ada porsi sedang. Kalau lapar, maka porsinya jadi satu-setengah. Malam itu, Heri menjamu kami dengan goreng. 

Pukul 20.30, karena tema obrolan masih ngawur dan ngalor-ngidul, saya harus potong, dan kami mesti pulang. Rumah masih jauh, masih sekitar 265 kilometer dari situ. Kami arahkan mobil masuk ke pintu tol. 

Mobil langsung masuk tol pintu tol Probolinggo Timur yang biasa diseput “Clarak” oleh penduduk sekitar, Leces. Masih tetap Anam yang bawa.

“Cukup ndak ini sampai Pandaan?” tanya dia sambil menunjukkan jarum penunjuk bensin.
“Sepertinya cukup, tapi mungkin cuman sampai Gempol.”
 

Jalan tol sepi, dan ini malam minggu, bahkan orang-orang yang biasanya pergi ngapel pun mungkin juga pilih ngumpet di rumah karena suasana yang dingin karena hujan seharian. Kami tetap kendali diri, tidak ngebut. Laju mobil masih standar saja, tidak sampai 80 km/jam. Agaknya, hujan merata ke seluruh daerah di Jawa, bahkan mungkin Indonesia. 

Sampai di Pasuruan, kami turun di Pintu Tol Kejayan. Pasalnya, saya ragu, BBM agaknya harus diisi dulu. Kami lewat—katanya daerah—Wukir sampai ke dekat pintu masuk pondok Sidogiri. Tapi ternyata ada macet. Anam turun dari kabin, melihat kondisi jalan ke arah depan. 

“Sepertinya macet panjang. Tak ada kendaraan datang dari arah barat.

Gimana? Balik, ya!”

“Wah, kita sudah jauh keluar dari tol, masak balik lagi?”

“Ya, ketimbang macet lama di sini dan tidak tahu sampai kapan?”

“Terserah kamu dah.” 

Kami putar balik, isi bahan bakar dulu di SPBU Karangketug, balik lagi ke tol Kajayan, masuk, lalu ngejos langsung Pandaan. Mungkin kami telah kehilangan jarak percuma sekitar 7 km x 2, atau kurang sedikit. Tapi, tak apa-apa ketimbang kami nunggu macet terurai dan itu entah seberapa lama. Kini, kami tenang karena bahan bakar hampir penuh setelah diisi pertamax 300.000. 


Sampai di percabangan batas akhir tol Leces-Gempol, sempat terpikir untuk lanjut ke Perak saja, pulang ke Madura, sudah mulai bosan melihat hujan terus sepanjang perjalanan. Tapi, saya lantas ingat si Agus yang dari tadi maksa-maksa agar kami ngopi dulu di kedainya, Akui Kopi, di Pandaan. Lokasinya di sebelah barat Masjid Laksamana Cheng Ho. Akhirnya, kami ambil haluan kiri, mengarah ke Malang, menuju Pandaan demi turun di pintu tol Taman Dayu.
 

Kami tiba di Akui Kopi hampir pukul 23.00. Di situ kami cuman ngopi dan makan gorengan. Waduh, kalau pakai pertimbangan waktu dan jarak serta ongkos tol, kayaknya gak cucuk. Tapi karena tuan rumahnya merasa sangat senang atas kedatanngan kami, maka nilai secangkir kopi dan sepiring gorengan sudah beda level dan kastanya, naik ke maqam tertinggi. Sungguh luar biasa apa itu yang disebut silaturahmi. 

Dari situ, setelah jam lewat pukul nol-nol, saya pulang dan giliran saya yang gantian mancal. Jalan pulangnya lewat arteri. Jalan sepi dan menurun. Saya genjot saja sampai kecepatan 80-90 km  per jam. Jalanan tak basah lagi, tak berasa basah tepatnya. Tiba tiba, mobil sudah mencapai Kejapanan. Saya lanjut terus ke utara, masuk Porong, lewat tengah kota, masuk Sidoarjo, terus ke Jalan A Yani, terus ke Ngagel hingga tiba di Kenjeran. 

Saya berpikir, andai tadi kami lewat tol, masuk di Kejapanan, mungkin durasi waktu perjalanan agak lebih singkat ditempuh. Tapi, saya lalu ragu, toh malam -malam begini tidak  ada kemactean di kota Surabaya. Lampu merahnya bahkan cuman saya jumpai beberapa kali saja, entah 3 atau 4 kali, Lagi pula, lewat tengah kota itu bisa menghemat jarak sekitar 7 kilometer jika dibandingkan dengan jalan tol yang memutar. 

Anam menggganti posisi kursi pengemudi lagi di SPBU Galis. Kabar tersiar kalau ada kemacetan di sana ternyata sudah terurai. Dua tronton yang tidak kuat menanjak di situ ternyata dalam evakulasi, dan tak ada kemacetan. 

Singkat cerita, kami mengakhiri perjalanan 838 kilometer ini di halaman musalla rumah pada pukul 04.20, masih nutut ngimami shalat subuh. Kami tiba dalam keadaan tidak kurang suatu apa, hanya jarum bensin yang kurang sedikit dari garis tengahnya.

Bred...Dreb...Breb...Breb...Bet...

KAMIS, 29 OKTOBER 2020

Naik Colt itu memang enaknya malam hari, tidak terlalu panas. Tapi, hukum ini tentu tidak berlaku bagi Colt yang sudah dipasangi AC. Bagi saya, perjalanan di malam hari untuk jarak jauh memang lebih diutamakan. Di samping karena memang suhu udara tidak begitu panas, jalanan juga tidak begitu padat.

Akan tetapi, persoalan akan berlipat jika mobilnya bermasalah: bengkel tidak ada, toko suku cadang jelas tutup. Dan itulah yang sedang saya alami dalam perjalanan kali ini, perjalanan ke Situbondo. Masalah pertama yang muncul adalah bret-bet, yaitu masalah pada sistem karburasi yang menyebabkan putaran mesin tersendat-sendat.

Ini sesungguhnya merupakan kelanjutan dari cerita perjalanan sebelumnya, yakni perjalanan pulang dari Jember, seminggu yang lalu. Waktu itu, gejala bret-bet sudah tampak sejak lewat Surabaya, setelah isi pertalite di sekitar Sedarum, Pasuruan.

Karena sebelum berangkat sudah saya kop (menutup-melepas karburator—sambil ngegas tinggi—dengan tangan untuk menyedot kotoran di dalamnya) dan mesin berasa normal, berani saja saya melakukan perjalanan malam itu. Akan tetapi, ia menjadi masalah serius karena perjalanan kali ini lebih jauh dari perjalanan sebelumnya, sekitar 400 kilometer sekali jalan.

Bret-bet mulai berasa sejak di Ambat, kira-kira 45 kilometer dari rumah, masih wilayah kabupaten tetangga, Pamekasan. Awalnya. saya curiga hal itu disebabkan oleh bahan bakar yang tercampur air; lalu mencurigai filter udara; lalu mencurigai koil. Dugaan-dugaan ini keluar begitu saja sembari saya mengendalikan stir.

Pukul 01.30, saya berspekulasi untuk melepas filter udara di Gunung Gigir, jarak 110-an km dari rumah. Saat itu, kami sedang kena macet karena ada kecelakaan lalu lintas di Rompeng, Paterongan, Galis, Kabupaten Bangkalan.

Sebuah mobil masuk ke ekor tronton yang sedang parkir di tengah jalan, yang mungkin mogok atau entah apa, tapi saya lihat rambu-rambunya sudah lengkap. Bisa jadi truk baru mogok atau sopir mobil yang mengantuk dan tidak sigap. Sehabis melepas filter, rasanya saja lumayan, tapi ternyata tidak begitu ngefek saat mobil kembali harus menghadapi tarikan gas panjang.

Kami berhenti lagi di masjid Al Ibrohimy, Galis. Waktu itu pukul 1 lewat seperempat. Kami parkir di halaman masjid bukan untuk tahajud, tapi untuk membuang sisa BBM di karburator; berharap akan bebas bret-bret; ternyata tetap saja. Hati mulai galau, tapi mobil tetap harus berjalan.

Sampai Suramadu pukul 02.00; terdengar letupan di bawah jok saat digas panjang dan RPM tinggi. Saat itu, saya mulai  menaruh curiga pada adanya ketidakberesan pada sistem pengapian, bukan pada sistem karburasi sebagaimana tadi. Sebab itulah, di samping memang karena cari top-up kartu tol gak dapat, akhirnya kami putuskan untuk menghindari jalan tol sama sekali. Saya pikir, jika kami nanti benar-benar macet di jalan tol, tak tahulah hendak berbuat apa, apalagi malam-malam. Andai di siang hari pun, mau cegat siapa? Masa harus panggil derek? Alangkah ribetnya untuk urusan ‘sesepele’ ini. Kami lewat jalan arteri atau Jalan Nasional saja, sehingga andaipun benar-benar mogok dan harus diperbaiki, saya pikir akan lebih mudah diatasi.

Hampir masuk kota Pasuruan, kami menepi, mencoba ngompres koil, menggunakan kain yang dibasahi. Saya berspekulasi, jangan-jangan koil lemah atau mau mati, lemah saat kepanasan, jadi harus didinginkan. Tapi, ternyata, dugaan salah lagi: bretbet tak hilang juga. Hingga pada akhirnya, kami menunaikan shalat subuh dan istirahat di masjid Raudlatul Muttaqin,Banjarsari, masjid yang minggu lalu juga saya singgahi, tiga kilometer sebelum kota Probolinggo dari arah Surabaya. Di situ, kami istriahat dan shalat sekitar 30 menit.

Sambil lalu menunggu penumpang lainnya beres, iseng-iseng saya bukan jok, cek tutup delco. Dan alamaaak! Tak sengaja, ketemulah masalahnya. Ternyata, pentilnya (yang bisa naik turun karena ada per berpilinnya [spiral], yang berfungsi menyalurkan api dari koil dan mendistribusikannya ke untuk empat) sudah aus, bahkan nyaris habis sama sekali. 

“Ini masalahnya, ketemu!” Saya bilang sama Anam, saudara saya yang ikut bantu mengemudi dalam perjalanan kali ini. “Tapi ini masih setengah lima. Toko baru buka pukul 8 atau 9.” 

Apa yang bisa dilakukan? Hanya mengamplas sisi-sisinya sehingga ia lebih muncul ke permukaan. Saya juga mengamplas ke empat sumbu penyalur distributor. Pasang, start, dan jreng. Gas panjang, normal. Wah, betapa bahagia pagi itu. 

Dari situ, lewat kota Probolinggo, lanjut ke Gending sampai Kraksaanm perjalanan normal. Saya tarik gas sampai kecepatan 80 km/jam pun tetap normal. Sesekali tersendat masih ada, tapi tidak seperti tadi. Perjalanan lancar jaya hingga kami istirahat sejenak untuk menurunkan penumpang di Klatakan, lalu lanjut lagi sampai ke Asembagus untuk menurunkan istri di rumah bibinya. Sementara itu, saya lanjut ke Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo (P2S3) (), untuk sowan ke Kiai Afiduddin Muhajir, salah seorang ahli usul fikih di Jawa Timur. 

“Masih ada waktu untuk cuci muka,” kata saya dalam hati karena khadam kasih waktu pukul 9 untuk pertemuan kami. 

Dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore, saya habiskan waktu di Sukorejo, berjumpa dengan Ustad Mukhlis, main ke Ustad Suwandi dan Erfah, bertandang ke Ustad Shanhaji dan Aisiyah, main ke Maulidi dan Nyai Muyassirah, bahkan setempat pula bertemu secara tak sengaja dengan Widodo (kawan saya yang berasal dari Kebumen tapi saat ini jadi panwas kecamatan) saat shalat Jumat di Masjid Sabilul Muhtadin, yang terletak di pinggir Jalan Nasional. Saya juga sempat mengunjungi rumah Pak Zainul Walid, tapi beliaunya sedang ke kota. 

Sepulang dari Sukorejo, saya membeli tutup delco di Asembagus, tapi sialnya, stok kosong. Yang ada cuman milik L300.

“Pak, sepertinya bukan kayak ini!”

“Ndak, Mas. Memang ini punya Colt.”

“Beda, kok.”

“Wis biasa kayak ini kok.” 

Saya agak heran dengan penjaga toko itu, meyakinkan saya akan suatu barang yang memang sedang saya perbaiki. Masa saya yang salah? Karena dia ngotot, saya pun memabawanya dan setelah dipasangkan, benar-benar ndak bisa masuk, kegedean, juga posisi kabel yang berbeda. Akhirnya, tutup delco saya kembalikan, tapi si penjual ngasih saran. 

 “Copot saja pentilnya, pasangkan ke tutup yang ada.”

Akhirnya, ide si penjual saya terima karena saya tidak mau berlama-lama lagi mencari sesuatu yang belum pasti ketersediannya, khawatir malah besok tidak bisa pulang ke Madura gara-gara cari suku cadang dan ternyata tidak ada (belakangan saya tahu kalau ternyata pentil tutup delco itu bisa diganti dengna arang baterai).

Setelah mobil saya ujicoba dan benar-benar kembali normal seperti sedia kala, muncul rencana bertandang ke Man Ali di Ramban juga ke rekan Colt, saudara Yudik a.k.a Ghazie Putra di Bondowoso, malam itu juga. Tapi, rupanya, tubuh tidak bisa kompromi. Saya tepar hanya setelah shalat isya.

>> cerita perjalanan pulangnya klik di sini!

Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...