Pembaca

Tampilkan postingan dengan label Tertib Lalu Lintas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tertib Lalu Lintas. Tampilkan semua postingan

02 Maret 2026

Akhlak di Jalan Raya di Acara Haul Ke-6 SUKMA

Dua malam berturut-turut di bulan Ramadan 1447 ini sangat menyenangkan bagi saya. Tadi malam dan nanti malam saya punya kesempatan untuk sosialisasi tentang penting dan mendesakknya pengetahuan Akhlak di Jalan Raya bagi komunitas masyarakat khusus, seperti komunitas sopir, komunitas santri. Tentu saja, pengetahuan dan kesadaran ini penting bagi semua orang, tapi itu tentu berat jika dilakukan sendirian. Kepolisian ambil peran di bidang ini. Saya hanya di bagian kecil dan pinggiran saja.

Pertama, Haul Ke-6 SUKMA (Supir Kiai Madura)

 


Sukma adalah sebuah paguyuban para sopir yang berkhidmah kepada kiai, khususnya yang berada di area Plat M (Madura). Mereka secara organisatoris berada di bawah SK (Sopir Kiai). Jika Sukma di Madura punya semboyan ngireng dhabu, maka di area Jatim luar-Madura semboyannya Sendiko Dawuh. Kedua frasa tersebut memiliki makna yang sama: ikut perintah (kiai). 

Kegiatan harlah SUKMA selalu diselenggarakan setiap bulan Ramadan. Lokasi dan penanggung jawabnya berpindah-pindah tempat di keempat kabupaten yang ada di Madura. Tahun ini giliran sektor Sumenep yang kebetulan diletakkan di PP Al-Ibrohimy, Sentol Daja, Pragaan, Sumenep. Mereka juga mengundang anggota SK yang lain. Untuk acara tadi malam, selain dari keempat kabupaten, ada juga anggota mereka yang datang dari Probolinggo, Jember, Bondowoso, dan area Tapal Kuda secara umum. Melihat tekad yang ditunjukkan, tampaknya mereka sangat bersemangat dalam menyelenggarakan acara hari lahir paguyuban mereka ini.

Acara dimulai secara formal dan normal sejak pukul 21.00. Akan tetapi, hadirin sudah banyak yang datang sejak lepas shalawat tarawih. Rangkaian acaranya adalah sebagaimana biasa: pembukaan tahlil, dan lainnya. Lora Amam (Ali Maimun Saedi) yang memberikan kata sambutan, mewakili pengasuh utama KH Hayatul Islam yang saat ini sedang umroh. Acara berikutnya adalah talkshow Fikih Lalu Lintas bersama saya (M. Faizi) dengan pemandu Kiai Imam Sutaji (sehari-hari, beliau ini adalah pendakwah). 

Saya sangat senang karena telah diberikan keleluasaan waktu untuk bicara panjang lebar tentang pengalaman berkendara, pengalaman menjadi sopir, pengalaman perjalanan. Saya juga menyampaikan visi-misi kesopiran terkait etiket dan akhlak di jalan raya. Tentu saja, saya tidak bicara pasal demi pasal karena itu wilayah kepolisian dan saya bukan polisi. Saya lebih banyak melihat kasus demi kasus pelanggaran di jalan raya dari perspektif hukum agama atau dalam tinjauan akhlak dan muamalah. Dengan pengetahuan ini diharapkan kita, para sopir khususnya dan masyarakat pada umumnya, dapat mengurangi pelanggaran demi pelanggaran yang dapat menjadi pemicu kecelakaan lalu lintas. 

Setelah sesi talkshow selesai, acara berikutnya adalah ceramah agama. Meteri disampaikan oleh KH Musleh Adnan. Sebelum beliau bicara, Kiai Karror Aschal selaku penasehat Sukma, mengawalinya dengan pembacaaan shalawat bersama kelompok rebana Banjari. Beliau pula yang menutup acara ceramah agama dengan shalawat bil qiyam sekaligus potong tumpeng sebagai penanda acara hari lahir. 

Kiai Musleh menyampaikan materi ceramah seperti biasa, dipenuhi dengan humor. Akan tetapi,  khusus tadi malam memang terasa berbeda, lebih banyak ger-gerannya. Kata beliau hal itu dikarenakan para hadirin yang menuntut ketidakformalan tersebut (dalam istilah lokal = ta’ serius). Salah satunya dibuktikan oleh kostum hadirin yang nyaris semuanya adalah kaos. Hanya satu dua orang saja yang menggunakan kemeja. Namun begitu, materi tentang ketertiban di jalan, ketaatan kepada kiai, kepada pemerintah, tetap fokus dalam pembahasan beliau. 

Sukses untuk SK, Sukma, Al-Ibrohimy, dan Sukma Sumenep. 

* * * 

Adapun acara yang kedua masih nanti malam di PP Nasyatul Mutaallimin, Gapura. Saya juga acara bicara soal lalu lintas dan bagaimana kita mesti dan tertib dalam menghadapi aturan itu dalam perspektif agama, wabil khusus saya akan membuat analogi-analogi sederhana menggunakan kaidah fikih. Saya tidak menulisnya sekarang karena acaranya masih nanti malam. 

13 November 2019

Empat Kilometer, Limabelas Menit, Banyak Kegalauan



Ini kisah perjalanan saya beberapa tahun yang lalu, kira-kira dua tahun yang lalu mungkin. Tanggal dan bulan persisnya saya lupa, lupa tidak dicatat. Sayang kalau tulisan ini ngendon di hardisk, saya publikasikan saja.

* * *

Selepas isya, saya dan istri pergi ke Ganding. Ini adalah kota kecamatan yang setingkat lebih ramai ketimbang 'kota' saya, Guluk-Guluk. Jika di LG (begitu Pak Agus Zainal Arifin menyingkatnya) hanya ada penjual bakso setelah isya (lainnya tutup sebelum maghrib), di Ganding lebih maju: ada ATM dan penjual lalapan, lapangan futsal, dan maret-maret gitu.

Baru 10 meter keluar pagar rumah, Colt saya dihadapkan pada cekungan jalan yang andai ada sepeda motor tanpa lampu melintasinya dengan kecepatan 50 km/jam, taruhannya adalah jatuh. Kubangan ini jelas disebabkan oleh truk molen tronton yang tempo hari wira-wiri di sini, buat ngecor proyek PLN 30 Kwh di Gardu Induk Guluk-Guluk. Kok menuduh dia? Lah, soalnya, sebelumnya, jalan ini baik-baik saja. Ia rusak persis setelah si bongsor itu mewira-wirinya. Hebatnya, habis merusak begitu, dia pergi begitu saja, kayak cowok tidak bertanggung jawab.

Maju sedikit lagi, kengawuran manusia meraja lele, eh, lela. . Saya kepergok Innova yang menyalakan lampu hazard, parkir,  tapi lampu utamanya dibiarkan menyala. Kejadian seperti ini sering terjadi. Sopirnya jelas tidak tahu aturan bagaimana cara parkir yang benar di badan jalan. Saya berburuk sangka, “SIM-nya hasil nembak, hasil beli, enggak pakai ujian.” Tapi, orang seperti ini tidak bisa disalahkan, karena dia akan menyalahkan balik dengan, misalnya, “Lah, aku dulu waktu dapat SIM-nya tidak diajarin begitu, kok!”. Maka, biarkan saja dia terkubur dalam egosentrismenya.

Sampai di pertigaan Berpenang, ada gerombolan anak muda nongkrong di got. Apa salahnya nongkrong? Salah, dong, jika... Begini saja...  Meskipun tidak menghadang atau mengganggu orang yang lewat di tengah jalan raya sebagaimana polisi tidur yang dibangun suka-suka oleh masyarakat di jalan umum, tapi kehadiran mereka secara bergerombol dan nongkrong itu sangat mungkin bisa membuat cemas orang yang mau melintas, lebih-lebih jika yang melintas adalah seorang perempuan, sendirian, naik Scoopy. Pasti keder dia menghadapi serombongan anak muda bergerombol begitu. Maka, akan semakin apes lagi kalau masih digoda-goda pula.

Sampai di Gurmate, kira-kira 1900 meter perjalanan dari rumah, saya berpapasan dengan sedan Timor. Oya, saya tiba-tiba ingat sesuatu. Cowok-cowok itu biasanya suka nyari “yang putih dan tinggi”. Tapi, kalau kalau dikasih lampu sedan Timor “yang putih dan tinggi” ini, pasti mereka bersungut-sungut dan maki-maki.

Tiba di Ganding, saya parkir di seberang rumah Huzaimi. Baru keluar dari mobil, ada Pak Amin menghampiri, mengelus-elus mobil Colt saya sambil memuji, “Ndak pernah mogok, ya, mobil ini?”. Ini contoh pujian yang berlebihan, pujian yang menyakitkan. Saya agak emosi, “Ini baru saya bawa ke Jogja, ndak ada masalah. Apalagi kalau cuman dibawa ke Jawa. Jogja itu lebih jauh dari Jawa” (Orang di sekitar kami biasa menyebut Jawa itu untuk Jember atau Situbondo, area Tapal Kuda).

Percakapan berlangsung beberapa menit. Dan selama rentang waktu saya bercakap dengannya itu, saya melihat banyak peristiwa menarik yang perlu saya tulis.
  1. Di depan toko H. Huzaimi ini, ada orang jualan Martabak Bandung. Namanya “Martabak 46” (angkat 46 pakai font Serpentine, seperti font Valentino Rossi). Saya langsung tertawa mengingat Huzaimi itu penggemar berat Marc Marquez, musuh bebuyutannya. Orang terlalu benci sesuatu terkadang memang suka disamperin sama yang dibencinya itu.
  2. Ketemu sama Amin Qutbi naik bebek otomatis,  agak ngebut. Gawat, ia ngerem mendadak hanya karena melihat saya berdiri di sana. Ternyata, cuman mau salaman, lalu mencelat lagi dengan begitu cepatnya. Coba kalau ada sepeda motor yang membuntutinya, pasti sudah dia kena tabrak.
  3. Saya melihat seseorang (masih famili) yang nyopir Suzuki Carry, belok kiri. Apakah dia hendak ke Prenduan atau ke Guluk-Guluk, itu tidak saya urus. Yang saya perhatikan hanya bahwa dia tidak menyalakan lampu sein. Coba bandingkan dengan Man Iyad yang menyusulnya beberapa detik sesudahnya, datang dari arah barat. Nah, beda sekali. Beliaunya ini selalu tertib berlalu lintas. Seinnya pasti menyala.
  4. Sesudah itu, ada mobil pikap penuh stiker bernuansakan cabai melintas, ngebut.  Apakah mobil pengangkut cabai itu memang harus ngebut meskipun di pertigaan yang tanpa lampu lalu lintas seperti di Ganding ini? Andai saja ada orang yang motong jalur dari selatan, pastilah satu atau keduanya langsung masuk Puskesmas yang letaknya persis di pojok perempatan itu.
  5. Sebuah Honda Mobilio datang lalu parkir di jalan, agak ke tengah, tidak turun dari aspal. Lampu depannya menyala, tanpa hazard. Sopirnya membunyikan klakson bertubi-tubi, berkali. Saya paham, klakson ini adalah isyarat panggilan, mungkin memanggil seseorang yang rumahnya ada di dekat situ dan sudah janjian. Tapi, coba pikir, kita-kita ini kan tidak tahu dia manggil siapa? Kok kita harus terima resiko menikmati kebisingannya? Andaikan ‘suara’ klaksonnya itu seperti suara Sundari Sukoco atau Melly Goeslaw kan mendingan. Lah, ini cempreng banget. 

Saya beridiri di situ mungkin hanya sekitar limabelas menit. Sudah begitu banyak yang saya saksikan. Saya berempati, andaikan ada pak pulisi lantas di sana, betapa stres dia harus menyaksikan peristiwa-peroista yang harus ditanganinya itu hanya dalam waktu sekejap saja. Maka, untunglah saya tidak ditakdikrn menjai pulisi lantas.

Saya tidak bisa menuliskan peristiwa-peristiwa lain yang terjadi setelah itu karena Pak Amin sudah pergi, Huzaimi enggak nongol-nongol, dan istri saya sudah selesai beli-beli. Kami pun pulang, kembali ke rumah, sembari saya berpikir betapa keributan yang berkecamuk di dalam pikiran barusan tadi harus dituliskan agar orang-orang pada tahu: begitu banyak hal yang menyebalkan di jalan raya ini kalau kita mau memperhatikannya.  Tapi, siapa mau peduli? Sudah bikin pening, tidak dibayar pula.


09 Januari 2018

Serasa Menjadi "Hunter"


Saya sudah melewati jalan menurut panjang Ketawang, kira-kira seperempatnya, ketika dari arah utara tampak Panther ijo Royal tampak terengah menanjak. Di belakangnya ada Hiace. Seorang ibu menyunggi keranjang berjalan di atas aspal karena ruang jalannya sudah habis. Tangannya yang melambai membuat saya ragu: saya harus mengalah, ngerem, dan membiarkan Panther terus berlalu.

Tiba-tiba, saat kami sudah begitu dekat, sebuah motor Shogun tuwek menyalip, dengan gaya menggunting, lalu terus meluncur ke bawah. Kaget saya bukan alang kepalang. Hati deg deg ser. Sopir Panther tak kalah kaget, bahkan sampai harus ngerem dalam posisi menanjak. Ternyata, pengemudinya Fahmi Amin. Saya melihatnya jelas karena ia terpaksa berhenti di tanjakan, hampir diseruduk mobil Hiace yang di belakang.
foto hanya pemanis, tidak berhubungan dengan cerita
Saya tersenyum, memberikan isyarat yang intinya bahwa "barusan itu anak ngawur banget, kayak setan. Enggak ikut berzina tapi berpotensi membuat sesama kendaraan ‘berzina’ antar bumper depan dan bumper belakangnya."

Lanjut...

Colt saya menggelinding cepat, mengikuti jalan menurun. Kali ini, lajunya tidak seperti tadi. Jika tadi cuma 40 km/jam, kini 60-65 km/jam. Bedanya, sekarang saya nawaitu mengejar kedua anak berseragam madrasah pondok yang saya kenal itu. Mereka harus diberi pelajaran di luar kelas.
Sayangnya, sebelum Gurmate, sebuah sepeda motor keluar dari mulut jalan, membonceng rumput, dan mengambil posisi di tengah, bahkan agak ke sisi kanan karena jalan sebelah kirinya penuh cekungan dan sangat bergelombang. Kami terpisah jauh dengan kedua anak itu sekarang.

Selepas Gurmate, saya menyalip sepeda motor dan melajukan Colt kembali. Jalan rusak dan bergelombang, hajar saja, saya tak peduli. Menjelang SDN Sumber Payung, jarak antara kami semakin dekat. "Entar saya pepet, saya hentikan!" Batin saya, mulai geram.

Lagi-lagi, sehabis SDN, ada jalan ke kanan. Dari situ, tiba-tiba nyelonong sepeda motor, kembali memisahkan jarak Colt saya dan sepeda motor tadi. Saya sudah mulai pesimis. Ganding tak jauh lagi, yang artinya kemungkinan tak terkejar itu sudah semakin tinggi.

Untungnya, kejutan datang: Deus ex Machina.

Di selatan jembatan besar Sumber Payung, sebuah truk besar Mercedes Benz tipe 1917 mundur. Akibatnya, semua kendaraan, dari dua arah, terhenti karena bodi truk yang panjang tersebut melintangi jalan. Walhasil, saya langsung pepet sepeda motor itu ke tepi kiri, buka pintu dan menyamperinya. Tanpa perlu babibu, saya langsung menginterogasinya. Saat itulah saya merasa kayak Rick Hunter yang dapat menangkap penjahat kaliber apapun dalam waktu kurang dari satu jam (sesuai jatah durasi tayang di serial televisi).

"Kamu ini bikin malu. Pake seragam madrasah, kelakuan gak berakhlak di jalanan. Enggak malu kamu?
Mereka menundukkan kepala, tanpa sepatah kata.
"Awas, jangan ulangi lagi. Saya laporkan nanti sama kepala madrasahmu!”
“Tapi, saya ini tadi kepepet.” Dia masih berkelit.
“Kepepet? Kepepet gimana wong saya pelan saja, kok.
Tiba-tiba, muncul seorang lelaki bersepeda motor matik. Ia menghampiri kami. Dia lalu berkata dan menghakhiri cerita di pagi Kamis itu.
“Heh, dari tadi saya ada di belakang kalian, kok. Jadi, saya tahu persis kelakuanmu di jalan.”
Adegan selesai. 

TAMAT

------------------------------------
peristiwa ini terjadi pada hari Kamis terakhir, 28 Desember 2017

04 September 2017

Mengapa Kita Gemar Melanggar?




Entah apa yang dipikirkan oleh orang-orang ini. Lampu lalin menyala merah, bahkan masih dilengkapi juga dengan pesan “sabar menunggu: HIJAU baru jalan” (mungkin karena terlalu sering dilanggar), tapi tetap saja mereka menerobosnya.

Kejadian ini di siang hari, lho. Soalnya, sebelumnya yang selalu saya perhatikan di malam harinya saja, di tempat yang sama. Awalnya saya kaget karena tidak ada satu pun yang ikut-ikutan berhenti di samping atau belakang saya. Semua kendaraan menerobos. Lama-kelamaan, rasanya diri ini kayak orang gila karena hanya sendirian yang diam begitu saja.

Lihat dalam video ini, tidak satu pun kendaraan yang berhenti di lajur sebelah kanan saya (karena saya berada di sisi kiri). Becak, sepeda motor, semuanya menerobos. Mengapa bisa begitu? Penyebabanya adalah; 1, jalan tidak terlalu ramai, dan; 2 tidak ada petugas yang berjaga-jaga.

Ini hanya contoh yang saya ambil di persimpangan jalan Jalan Kabupaten, kota Pamekasan, Madura, pada hari Sabtu, 2 September 2017. Saya yakin, di tempat lain, banyak kejadian serupa ini.

“Lampu merah” (sebutan singkat untuk lampu pengatur lalu lintas; APILL) itu sebetulnya dibikin agar kita lebih tertib, karena kita—umumnya—egois. Kalau saja kita bisa saling mengalah, mungkin kita tidak akan pernah butuh pada lampu pengatur lalu lintas itu. Di atas mimbar, seseorang bisa mengatakan sesuatu yang tidak dilakukannya, di depan gadis, seorang duda mungkin saja mengaku perjaka, tapi orang tidak akan pernah berbohong di jalan raya. Sifat dan watak aslinya akan tampak di sana.

Saya pernah mendengar cerita tentang Kiai As’ad Syamsul Arifin (beliau baru saja diangkat sebagai pahlawan nasional) yang menegur sopirnya pada suatu saat di persimpangan jalan. Ceritanya, pak sopir menerabas lampu merah karena menurut dia jalan sudah sepi, sudah malam. Alasan Kiai As’ad tetap melarang adalah karena "melanggar aturan yang sudah ditetapkan oleh forum, mungkin Dishub dengan Satlantas, dll. Dan mereka yang bikin aturan itu melakluan rapat, menggunakan dana rakyat yang diambil dari pajak, punya orang banyak, mengambil anggaran negara". Makanya, agar kita tidak bersalah kepada banyak pihak, ya, sudah, ikuti saja aturan itu. Begitu kira-kira urutan pemikirannya.

Jika Anda muslim, Anda pasti pernah mendengar sebuah hadis yang menyatakan “Takutlah  kamu kepada Allah di mana pun kamu berada (dan seterusnya)”. Hadis ini menyiratkan perintah takwa di manapun tempat. Mengapa ada orang mencuri? Karena mereka merasa tidak dipantau; mengapa ada orang melakukan korupsi? Karena mereka merasa aman dan tidak ada yang tahu? Jadi, orang yang mencuri dan sedang korupsi itu sedang tidak beriman. Maka, mengapa orang-orang itu menerobos lampu APILL? Karena tidak ada polisi dan CCTV. 

30 Maret 2010

Arogan di Jalan


Tadi malam, habis Isya’…

Membuntuti dua pengendara sepeda motor: setelah melewati satu pengendara sepeda motor, kini giliran pengendara-berboncengan berikutnya. Namun, saat hendak kusalip, tanjakan di depan. Kuurungkan niat karena pandangan tidak bebas. “Setelah tanjakan, baru kudahului,” begitu pikirku.

Saat itu, persneling ada pada gigi terakhir. Laju
Titos du Polo lumayan cepat. Dan setelah tanjakan, tiba di jalan datar, barulah aku mendahului pengendara sepeda motor dengan boncengan seorang ibu menggendong bayi dalam dekapannya. Sekilas kulihat begitu. Persis, ketika sedang menyalip, tiba-tiba, dari arah depan tampak bayangan: sebuah sepeda motor tanpa lampu. Betapa kaget diriku. Meneruskan menyalip tidak mungkin karena gugup. Kalau aku nekat, aku menjamin, dalam kecepatan segitu, pengendara motor tidak berlampu itu akan terpental beberapa meter dari jalan raya.

Kuinjak pedal rem, mantap dan dalam. Tiba-tiba, terjadilah keanehan itu: menjelang beberapa depa lagi sepeda motor dan kendaraanku nyaris adu-kambing, tiba-tba si pengendara motor—yang kutahu belakangan Suzuki Satria Merah 2 Tak—menyalakan lampu depananya. Maysa Allah. Ternyata sepeda motor ini ada lampunya. Kok ya
belagu-belagu-nya mematikan lampu utama? Cari celaka! Dan hebatnya, saat kami berpapasan, si pengendara sepeda motor malah menarik gagang gasnya dalam-dalam, blayer sebanyak dua-tiga kali, menunjukkan sikap arogannya.

Tiba di rumah:
“Apa yang Anda pikirkan?” Kata Facebook.
“Selama 30-an menit, aku nyaris tetap tidak mempercayai kejadian yang telah aku alami itu. Betul, semkain banyak keanehan di sekelilingku.” Demikian, ingin kutuliskan hal itu, tapi tak jadi karena doa dalam hatiku berbunyi begini: “Semoga, orang-orang arogan seperti itu segera diberi kesadaran, atau penyadaran, oleh Allah Sang Pemilik Bumi dan Seisinya dan Juga Pemilik Jalan Raya dan Lalu Lintasnya, lewat apa pun bentuknya.

25 Januari 2010

Tertib Lalu Lintas Masuk Kurikulum

Salah satu tujuanku memasang speaker di mobil bukan saja sekadar untuk menyapa teman yang kebetulan berpapasan, melainkan juga untuk menegur para pengguna jalan yang bertingkah-polah sembarangan. Cara ini rupanya lebih sopan dan “menyentuh hati” daripada boros tekan klakson bertubi-tubi.


Akan tetapi, pengalaman berulang kali melakukan perjalanan ulang-alik Guluk-Guluk-Pamekasan dengan Titos membuat aku berkesimpulan begini:

“Saatnya tertib berlalu lintas masuk kurikulum pendidikan atau perketat prosedur pengambilan SIM dengan betul-betul menguji kecakapan (serta wawasan) calon pengendara kendaraan bermotor.”


Masyarakat harus disadarkan bahwa akhlaqul karimah itu tidak saja sekadar menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda, bukan pula sekadar menahan diri dari—meminjam istilah Gus Mus—membuang sampah di telinga orang lain, bukan pula sekadar menyingkirkan batu/aral yang melintang di tengah jalan, melainkan juga tidak belok mendadak, tidak menerobos lampu merah, dan juga tidak parkir seenaknya seolah-olah dunia ini milik dirinya sendiri dan yang lain cuma ngontrak.


Saya membayangkan ada lembaga atau institusi yang mau melakukan penelitian tingkat kecerdasan seseorang (baik kecerdasan spiritual ataupun kecerdasan emosional, dll.) dengan perilaku berkendara dan etiketnya di jalan raya sebagai tolok ukurnya. Betulkah masyarakat sudah tahu bahwa lampu sein itu BUKAN lampu disko dan spion itu BUKAN cermin untuk berdandan?


juga terbit di Kormeddal

Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...