“Takziyah ke mertuanya-pamannya-Ifa….,” jawab Ibu begitu saya bertanya kepada siapakah saya akan pergi takziyah.
Secara rangkaian hubungan kekeluargaan, tujuan rumah duka ini sudah jauh. Bayangkan saja! Ifa ini ipar saya dan dia punya paman. Nah, si paman punya mertua. Saya akan takziyah ke orang di urutan terakhir ini. Sudah jauh, bukan? Dalam kultur keluarga kami, hal semacam ini bisa saja terjadi karena satu dan lain hal. Salah satunya adalah adanya perawatan hubungan sosial yang meskipun itu sudah ‘sangat jauh’ namun seringkali terhubung. Kebetulan juga, secara letak, rumah duka ini bertempat di Sumur Duko yang secara jarak juga jauh dari rumah saya, sekitar 55 kilometer.
Hari kawafatan Kiai Hasan Damiri sudah lama. Takziyah ini sudah telat karena baru hari ini ada kesempatan pergi ke sana. Alasannya adalah; pertama, hari ini kebetulan saya lowong, dan kedua; ada urusan sambang silaturahmi ke rumah keluarga lainnya yang letaknya tak jauh dari rumah duka, ketiga; ngetes pemasangan delco yang sudah lama saya copot dan baru saja diservis ulang oleh Mas Benta, delco modifikasi CDI Eterna.
Omong-omong, saya suka utak-atik kendaraan Colt T120. CDI Eterna ini sebelumnya pernah saya pakai di tahun 2020-2021. Karena kurang greget di tanjakan, akhirnya saya lepas dan saya ganti dengan TCI. Lalu, lama-kelamaan saya bosan dan saya ubah menggunakan platina kembali. Terakhir, saya menggunakan pengapian elektrik dari XP Power dari Pak Bambang. Sementara sudah bisa disebut enak. Namanya iseng, menggunakan CDI adalah coba-coba kembali setelah diperbaiki beberapa kompartemennya oleh Mas Benta yang katanya akan lebih asoy lagi.
Oleh sebab itu, demi pengujian, saya tidak melewati jalan yang sepenuhnya lurus dan normal, misalnya lewat jalan Nasional. Saya memilih jalan kelas kolektor dan residental yang bervariasi: ada jalan lurus, banyak tanjakan, dan juga penuh tikungan. Saya akan menguji, seberapa kuat tenaga CDI ini. Untuk rute berangkat, saya menempuh jalur; rumah, Bandungan, Pagantenan, Blumbungan, Angsana, Bugih (Pintu Gerbang - Dirgahayu), Proppo, Omben, Sumur Duko. Total jarak 60 km. Pulang dari Sumur Duko saya ke utara, melewati pertigaan Angsana Tlambah, terus ke Pagantenan, lewat Konyileh, tembus Pagantenan, lalu ke Bandungan menuju rumah. Jaraknya lebih pendek, yaitu 52 km.
Sebelum pergi takziyah, saya tilik bayi dulu. Bayi ini adalah keponakan istri saya di satu sisi, namun adik di jalur yang lain. Ayah si bayi adalah sepupu istri saya sedangkan ibunya adalah “bibi 4 x sepupu” bagi saya karena dia adalah “4 x sepupu” ibu saya. Dari satu Embah Wareng, sang ibu merupakan keturunan keempat sebagaimana begitu juga dengan ibu saya. Begini urutannya:
Bayi(5) – Nuril Izzah(4) – Fathurrahman(3) – Ali Wafa(2) – Abdul Majid(1) – RUHAM
Saya(5) – Wardah(4) – Arifah(3) – Shofiyah(2) – Munawwar(1) – RUHAM.
Hubungan kekerabatan seperti ini masih sangat hidup dalam tradisi sosial di Madura. Salah satu penyebabnya mungkin karena adanya banyak pertemuan bani-bani yang terkadang membuat satu keturunan bani tersambung antara embah wareng (atau bahkan di atasnya lagi) yang satu keturunan bani yang lain.
Walhasil, perjalanan berangkat dari rumah pukul 07.00 bisa tiba kembali setelah azan Duhur. Kesimpulannya saya telah merasakan nyamannya CDI Eterna. Mungkin masih perlu setel sedikit lagi agar ketemu ‘nikmat’-nya. Maklum, karena saya bukan bengkel dan hanya modal pengalaman otomotif yang cetek, yang dapat saya rasakan adalah nyaman saja, belum sampai ke level nikmat yang itu butuh ‘roso’. Sampai nanti saya bosan, bisa jadi ia akan kembali ke setingan asal, yaitu platina. Gonta-ganti pengapian seperti ini bukan hal baru bagi saya, bahkan sejak awal punya Colt di tahun 2008, saya sudah pernah pakai CDI Flash dari Bapak Tamrin Ishak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar