Pembaca

10 Agustus 2018

Merenungkan Mobil di Areal Parkir Sambil Menebak-nebak Pemiliknya


Saya masuk ke areal parkir dengan percikan peluh di dahi, meleleh di leher. Siang hari memang bikin gerah kalau ada di luar tapi bikin lupa pulang kalau sudah masuk ke mal. Cuman, ingat, keringat ini adalah simbol kerja keras seorang lelaki akibat pontang-panting membanting stir, maju-mundur beberapa kali karena menyiasati lahan parkir. Penyebab lainnya adalah karena indikasi masalah yang diduga berasal dari platina sehingga membuat mobil berangguk-angguk seperti sedang menari.

Patner saya melenggang menuju ke pertokoan. Apakah saya perlu menggandeng tanggannya? Tidak! Karena tangan saya sudah terlanjur belepotan, digunakan untuk menyelusup ke bawah jok, merogoh sistem karburasi yang tidak bekerja dengan baik dan pengapian yang tidak sempurna. Maklum, Colt T itu mesinnya ada di bawah jok, beda dengan Kijang dan Kuda yang ada di depan, angkutan zaman sekarang yang bahan pangannya bukan rumput dan daun, tapi bensin dan solar.

Start mesin, nyala, tapi bretbet. Cilaka. Ada apa ini? Bikin masalah kok siang-siang dan di tempat yang jauh dari bengkel lagi! Rutuk saya kepada mesin, penuh murka. Cling! Saya dapat ide (sebab Ida sudah digandeng si Ali): Masalah jadi ruwet itu karena dipikir, tho? Makanya, saya lalu melupakannya, tidak memikirkannya, dan hilanglah semua masalah tadi.

Kini saya berteduh, duduk di bawah pohon ketapang yang daunnya dapat dihitung dengan jari. Pohon itulah satu-satunya tempat berteduh—di tempat itu—yang secara sukarela menggratiskan oksigen di siang hari. Ada juga tempat berteduh yang lain yang menggratiskan wifi, tetapi harus bayar 5000 hanya untuk secangkir kopi sesat, eh, saset.

Setelah ngaso, mulailah saya iseng, memperhatikan orang-orang yang pulang belanja sembari menebak mobil yang akan mereka naiki. Pekerjaan ini sebetulnya tidaklah lebih iseng daripada; 1 duduk di tepi jalan, menebak-nebak nomor ganjil atau  genap pada mobil yang akan nongol, dan; 2  memperhatikan dua orang yang sedang duduk di kejauhan, lalu menebak, manakah di antara mereka yang berdiri lebih awal. Kedua tebak-tebakan tadi berpotensi judi amat tinggi, beda dengan tebakan keisengan saya.

Saya cermati: ada yang kucel, ada yang klimis, ada yang menor, ada yang cuek. Karena posisi saya dekat dengan pintu keluar, maka jelas saya dapat melihat mereka semua yang kinyis itu masuk ke mobil apa, mereka yang pucat biasanya masuk ke mobil apa, begitu seterusnya. Dari sinilah kemudian muncul praduga-praduga tidak ada salahnya.

Semula, saya mengamati sebuah Innova Venturer berwarna putih, 2,4. ‘Wuiw, mewah sekali ini mobil, pasti!’ kata saya di dalam hati. Ia bersisian dengan “Carry” di sampingnya. Inikah penyebabnya? Adakah persepsi saya berubah andai Innova tersebut bersisian dengan—cukup ubah satu huruf saja supaya menjadi—“Camry”, misalnya?

Spontan, saya membuat perbandingan: Yang kanan pake AC sebagai pengatur suhu, yang kiri pake AC sebagai “Angin Cendela”; yang kanan muat tujuh orang tapi wagu kalau diisi segitu; yang kiri muat satu tim kesebelasan dan masih dimaklumi oleh orang kebanyakan. Persamaannya; yang kanan irit, yang kiri juga irit. Bandingkan lagi; masih lebih irit yang kanan, kan? Yang Innova? Iya, tapi dia itu boros saat dibeli, beda dengan yang kiri: irit saat dibeli, irit saat dipakai, irit saat bayar pajak, tapi boros pada grudak-gruduknya di jalan berlubang. Bedanya lagi: yang kanan power streering; yang kiri power sepiring.

Enggak bakal habis kalau mau membanding-bandingkan kendaraan itu, apalagi memang enggak sebanding. Secara logika, pembandingan ini pun sudah cacat bahkan sebelum diajukan. Lagi pula, ngapain dibanding-bandingkan?

Seorang lelaki gempal dan besar datang membawa dua plastik kresek besar warna merah, diikuti seorang ibu-ibu yang bawa keranjang belanja, pake troli. Sepertinya mereka habis kulakan. Bersama mereka, beberapa langkah di belakangnya, seorang lelaki resik berbaju hem dengan ujung lengan baju dilipat seperempat, putih bergaris, berjalan seiring dengan seorang nyonya yang tidak terlalu tua. Dan manakala tinggal sepuluh langkah ke tempat mobil diparkir, lelaki gempal mengeluarkan kunci kontak dan tidak ada respon apa pun dari mobil, sedangkan lelaki perlente itu mengeluarkan kunci kontak dan langsung direspon oleh kedipan lampu sein secara bersamaan pada lampu Innova. Sudah sepantasnya pemandangan ini, kata saya dalam hati.

Sejurus kemudian, saya melihat: seorang bapak 65-an tahun dan pasangan 50-an masuk ke pelataran parkir. Lagi-lagi saya menebak: berdasarkan tongkrongan si ibu yang masih seger dan manja, dan lebih tampak sebagai anak tertua atau anak menantu daripada istrinya, ia menjinjing tas bermerek. Tas itu mungkin dibelinya di Orchard, Singapore, meskipun dia tidak tahu, ia adalah hasil produk kriya dari sekelompok ibu-ibu rukun PKK di Tanggul Angin, Pasuruan. Pas, tebakan saya tak meleset. Mereka masuk ke All New Accord.

Apa-apa itu memang sudah ada pantas-pantasnya. Ada juga, sih, yang dianggap pantas atau tidak itu hanya karena kungkungan stereotip. Tapi, intinya, ya, begitu. Ibarat kata, jika ada anak usia 15-an tahun naik sedan bongsor buatan Honda yang biasanya ditumpaki bupati atau rektor tersebut, jangan salah jika si anak langsung dituduh pakai mobil dinas bapaknya yang plat nomornya bergincu merah namun diubah sementara ke hitam supaya bebas buat jalan-jalan.

Sekali lagi, apa-apa itu ada pantas-pantasnya, bukan semata benar dan salah. Yang beli Avanza dan Xenia itu biasanya model bapak-bapak tanggung dan atau remaja dewasa. Yang bawa Swift biasanya anak muda bercelana ¾ dan berkaus T-Shirt dengan rambut tersisir ke belakang, atau jabrik, yang boleh jadi mereka pengen Mini Cooper tapi dilampiaskannya ke lain merek hanya karena mirip bentuknya. Yang agak tuwir tapi ingin tampak mudah, eh, muda, dan suka modif-modif boleh jadi pilih Genio atau sekelasnya.

***

foto hanya pemanis; RM Duta, Ngawi 
Beberapa saat kemudian, muncul seorang pemuda tigapuluhan tahun. Kulitnya tidak terurus, menandakan dia pekerja keras. Tubuhnya yang kerempeng menandakan kurang gizi. Ini bukan kata dokter, tapi kata hati saya atas dasar asumsi yang dibangun oleh wawasan yang entah itu wadag atau berisi, lahir dari verwachtung horizon saya sendiri (saya mohon ampun atas kekejaman persepsi ini). “Orang ini pasti bawa VIAR yang warna merah itu,” batin saya. Eh, ternyata dia melenggang terus, melewati parkiran, lanjut ke jalan. Ekor mata saya mengikutinya dan saya pun terbelalak manakala melihat dia masuk ke kabin sebuah tronton, Volvo FL, truk yang rodanya selusin dengan serepnya itu. Ia menyalakan mesin, menghidupkan sein, dan menjalankannya.

Oh, ampun, ampun, ampun. Tebakan yang dari tadi benar jadi hancur oleh kesalahan yang satu ini. Betapa menipunya pandangan fisikal itu. Astaga, saya tersedak dibuatnya. Saya tak mau tebak-tebakan lagi. Tapi, sialnya, muncul lagi seorang sepuh, oh, tidak, lelaki tua 55-an secara tampang. Kehadirannya membangkitkan kembali rasa iseng saya. Maka, saya pun menduga usianya malah di atas 60-an tahun secara KTP. Garis-garis kerutan di dahi dan ujung mata dapat memancarkan kematangan dalam pengalaman. Ini pasti orang penting, pikir saya. Mulai dari petugas parkir sampai tukang sunggi serta beberapa awak pertokoan itu tampak menjura saat ia melintas, atau sekurang-kurangnya menampakkan senyuman. Yang diperlakukan begini, kan, biasanya kiai atau ustad. Lah, ini? Makin heran saya karena ternyata dia tidak masuk ke Innova, tidak pula ke Camry, tidak ke CRV, tapi malah ke L300 pikap bulukan.

“Hei, dia itu siapa? Kayak orang biasa tapi semua orang menghormatnya? Ustad kalian?”
Dua orang petugas kebersihan yang menjawab, tanpa menoleh. “Bukan, dia pak bos, pemilik pertokoan ini.”
“Lah, kok mobilnya cuma L300 pikap?”
“Apa urusan? Kamu ini kurator pengadilan atau hansip? Ngurus harta orang kok segitu jelimetnya.”

Dibilangin begitu, saya pilih menghindar. Sumbu pendek kayak itu janganlah dilawan. Saya lalu duduk kembali di bawah pohon sembari berpikir, mengapa pikiran-pikiran seperti ini bisa muncul dari pikiran saya? Mengapa saya ada di sini dan memperhatikan orang-orang? Mengapa saya berpikir begitu dan mengapa mesti berpikir begitu?

Lagi asyik-asyiknya terpekur, tiba-tiba ada tepukan di pundak kanan.
“Mas!”
Saya menoleh, ternyata Yanto, jukir kenalan yang sudah lama kerja di situ dan enggak naik-naik juga pangkatnya. “Sampeyan mau terus di sini sampe sore? Atau malah sampai malam?”
“Wah, kaget aku, Yan. Ya, ndaklah, kalau bisa jangan sampai lah...”
“Kok kalau bisa?”
“Kayaknya, aku gak bisa pulang. Mobilku mojok, eh, mogok. Platinanya soak.”
“Sudah kuduga!”

M. Faizi (admin)
---------------------
CATATAN: esai ini rencana dikirimkan ke Mojok.co, tapi tidak dimuat-muat, akhirnya saya posting saja di blog ini. Mutung
Esai berlatar fakta, kecuali bagian “Apa urusan? Kamu ini kurator pengadilan atau hansip?” dan seterusnya. Bagian terakhir ini murni imajinasi saya



19 Juni 2018

Berjudi dengan Kecelakaan


Selepas shalat isya, Senin, 18 Juni 2018 ( 5 Syawal 1439) saya pergi ke Preduan. Berikut laporannya.
Di Sumber Kembar, dua kilometer perjalanan dari pintu rumah, saya berpapasan dengan Suzuki Carry yang lampu kanannya mati. Tentu saja saya kaget karena dari jauh ia tampak seperti sepeda motor.

Berjalan kurang dari 500 meter, dekat tanjakan Druksin, mata saya kesilauan ditempai motor Scoopy yang lampu LED-nya putih berkilat-kilat seperti petir. Maksudnya apa dia menggunakan lampu seperti itu, saya tidak tahu karena tidak saya cegat untuk kemudian mewawancarai pemiliknya. Lebih tidak paham lagi, untuk apa lampu jenis itu dijual bebas sehingga semua orang bisa (bukan boleh) menggunakannya di jalan raya.

Di Brumbung, tikungan sebelum Rong Cangka, seperti pengendara sepeda motor berhenti di badan jalan, telepon-teleponan. Masih mending dia berhenti untuk melakukan tindakan itu, mending daripada dia menelpon sambil menyetir pakai tangan kanan saja. Tapi, sialnya, saya saya melewatinya dan pada saat yang sama berpapasan dengan sepeda motor lain dari arah depan, tiba-tiba, wuuusss! Sebuah sepeda motor menyalip saja, hanya sepersekian detik ketika sepeda motor yang datang dari arah depan itu berpapasan dengan saya, kaget beneran.

Di selatan SD Pangilen, sampingnya rumah Amse, sebuah sedan—kalau tidak salah Honda Maestro—ngotot masuk duluan untuk melewati mobil Hiace yang parkir makan jalan di sisi barat, dengan cara kasih lampu jauh yang dikedip-kedipan secara cepat, padahal jarak saya sudah sangat dekat. Ya,enggak apa-apa. Saya mengalah saja.

Di Kaju Ojan, saya nyaris menyenggol seseorang yang berdiri di tepi jalan, masih di atas aspal. Sepertinya, dia hendak mengomando lalu lintas karena di sekitar situ ada perayaan pernikahan. Cuma karena dia tidak menggunakan rompi pantul dan/atau menggunakan tongkat berlampu, jadinya saya tidak tahu. Kelabakan lagi saya dibuatnya.

Sampai di Nagan, saat hendak masuk ke tikungan Bangkoare, jalan saya terhadang oleh sepasang bapak ibu yang dengan asyiknya menutup jalan di depan. Tampaknya mereka tengah berdiskusi tentang peliknya pembiayaan rumah tangganya. Itu benar dan penting, tapi kenapa diskusinya kok di tengah jalan raya, ya?

Nah, dan saat saya hendak melewati jalan menurun di Onggaan, sebuah Isuzu Elf hendak mundur dari parkiran, tanpa pengawalan. Posisinya berada persisi di ujung tanjakan/turunan dan tikungan.
Saya mulai tidak kaget lagi karena terlalu banyaknya kekagetan-kekagetan yang saya alami barusan, selama kurang lebih sepuluh menit saja padahal.


Nah, sekarang, saya sudah tiba di Partelon Prenduan. Mobil Colt Titos sudah tiba di bibir jalan. Saya menyalakan lampu sein kanan, hendak belok ke barat.  Dari arah kiri sudah kosong, hanya ada beberapa sepeda motor tapi masih jauh.  Sementara di kanan, datang sebuah APV, berjalan pelan. Saya menunggu dia melintas. Setelah dekat, eh, ternyata belok kiri tanpa lampu sein, ke arah jalan di mana saya datang. Di atas kaca depan, ada stiker Jetbus HD. Jetbus kok ngedabrus?

Itulah laporan perjalanan saya sejauh 7,5 kilometer dalam durasi waktu kira-kira 17 menit. Ada delapan kali kejadian yang bikin saya kaget. Saya tidak bisa bayangkan kalau per 7 km, saya akan kaget. Saya berpikir, barangkali situasi seperti inilah yang membuat manusia-manusia kita suka naik pitam.

Dosa-dosa kepada Allah baru saja ditebus dengan puasa dan istigfar, dosa-dosa sosial seperti yang saya ceritakan barusan, kapan dan bagaimana cara berharap ampunan?



07 April 2018

Colturer Sumenep - Jogjakarta



Selepas tahlilian, malam Selasa 19 Peb 2018, roda-roda Colt T120 ini menggelinding dari halaman rumah, tepatnya di angka 21.10 WIB. Saya mampir ke SPBU Talang dan langsung ngisi pertamax hingga nyaris penuh (sesekalilah). Uang terbayar 270.000.


Tiga jam persis, kami melintasi Suramadu. Kecepatan mobil saya atur sedemikian rupa, antara 60-75 km/jam (soalnya kalau lari 80 jadi berisik oleh buzzer-nya). Ketiga saya ragu membawa colt ini ke Jogja tempo hari, melalui SMS, Mas Alwi berpesan, bahwa Colt yang biasa dipakai tiap hari lebih meyakinkan daripada Colt yang sehat tetapi jarang dipakai. Maksud dia, kalau jarang dipakai, kita tidak dapat mengira-ngira, komponen atau onderdil yang mana yang akan bermasalah, beda dengan jika menggunakannya secara harian. Untuk itulah, saya berusaha agar tidak ngoyo bawa mobil ini tapi tetap stabil.
 
Ketika sudah melewati pintu tol Dupak dan berjalan jauh mendekati keluar-Medaeng, saya tawarkan.
“Mau lewat Krian atau tol?”
“Coba tol baru, Sumo (Surabaya-Mojokerto) saja,” kata suara dari belakang. Maka, kami pun melintasi tol yang masih baru tersebut.
Rencana nyopir sampai Pamekasan ternyata kebablasan sampai ke Braan, Kertosono. Anggota Colturer (saya, Khatir, Warid, dan Fatih, ingin nyangkruk sejenak sembari melihat Sumber - Eka - Mira menunjukkan kekuasaannya di jalan raya. Tepat pukul 02.00 kami tiba di sana.

Sebetulnya, saya sudah mulai mengantuk, tapi melek mendadak gara-gara harus membayar tol Rp82.000 yang semula saya taksir cuman 30 ribuan saja atau lebih sedikit. Enggak menyangka, sisa e-Toll tidak cukup sehingga kami harus bayar pakai uang ‘beneran’, uang kertas, bukan uang digital. 
Setelah ngopi sekitar 40 menitan, kami lanjut lagi, melaju sampai Ngawi. Masjid Baitul Islam, sebuah masjid di tepi jalan, di Padas, dipilih untuk subuhan. Lokasinya berada di area di lintasan Karangjati, sebelum kota. Masih Warid yang bawa, menggantikan saya. Colt lantas diarahkan ke kiri, persis setelah sub-terminal Gendingan, ke arah Walikukun. Kami mau bertamu ke 'saudara baru': Alwi Tri Nugroho. Tujuan kami adalah Widodaren.

Sebetulnya, saya sudah mewanti-wanti calon tuan rumah agar tidak disiapkan sarapan sebab kami sudah melibas rawon di RM Duta sepagi ini. Adalah Sidqi yang menghadang kami untuk kemudian membawanya ke sana, ke rumah makan itu. Katanya, kami hendak dijamu (bukan diberi jamu untuk diminum, lho).

"Emang cuma patas EKA yang bisa mampir ke RM Duta? Kami pun bisa."

Pukul 07.10 kami sudah duduk manis sebagai tamu di rumah bapak Maksum Hadi Santoso (MHS), ayahanda Mas Alwi dan Mas Fadli. Semua sudah sangat mirip dengan rumah sendiri: makan, mandi, tiduran, dlsb. Yang membedakan hanyalah bahwa kami tak perlu cuci piring setelah sarapan.

“Rumah Sampeyan itu tepi jalan atau masih masuk lagi, Mas?” tanya saya sebelum berangkat.

“Masih masuk ke selatan, sekitar 6 kilometer, dari jalan utama. Tapi, kalau Anda mau mampir ke rumah, saya janji, dari Ngawi sampai Jogja, saya yang akan mengemudi.”
“Wah, menarik ini,” balas saya.

Seperti janjinya, Mas Alwi yang pegang kemudi kali ini. Pukul 11.15, kami bertolak. Perhentian pertama adalah masjid di Pilangsari, Masjid Ukhuwah Islamiyah namanya. Masjid ini sangat enak buat disinggahi sebab airnya melimpah, bersih pula, lengkap dengan kantinnya.










Kami berangkat lagi seusai shalat, lewat 'by-pass' Sroyo, langsung Kartosuro dan ngisi BBM 200 ribu lebih di SPBU milik PO Rosalia Indah. Belum habis, sih, tapi buat jaga-jaga saja supaya janganlah mobil dibiarkan jadi bahan tontonan orang karena tanpa cat dan tanpa dempul, karena lebih mirip tong kotak beroda empat, masih pula harus menanggung malu sebab disorong karena kehabisan bahan bakar (banyak sekali 'karena'-nya).

Setelah singgah lagi di warung "Soto Segeer Boyolali Hj Sugiyarti" di dekat terminal Kartasura, kami tutup acara singgah-singgah di perjalanan berangkat ini di rumah Ncus alias Darmawan Budi Suseno yang terletak di Sanggir, Paulan, Colomadu. Berbeda dengan sebelumnya, hidangan di rumah kawan gendut ini adalah bass dan gitar dan kopi lengkap dengan amplifiernya. 

Ini anaknya Dharmo
Satu jam kami di sana sebelum akhirnya memutuskan lanjut ke Jogja. Kami tak mampir-mampir lagi karena—terutama saya—harus istirahat sejenak sebab mau cuap-cuap setelah isya. Kami tiba di Kafe Basabasi, Sorowajan Baru, setelah sinar matahari mulai terhalang daun-daun di sisi barat, menuju surup, mendekati maghrib (ini videonya). 

ACARA DISKUSI BUKU

Sebetulnya, acara inti saya di Jogja itu adalah menghadiri diskusi buku yang ditempatkan di Kafe Basabasi, Sorowajan Baru. Bawa Colt bukanlah target karena sebetulnya saya terbiasa naik bis. Nah, karena saya bawa Colt, maka saya ngajak-ngajak, sekalian pergi-pergi dan mampir-mampir. Itulah dia. Ketika saya membawa Colt, maka saya harus melakukan sesuatu yang susah dilakukan andai saja saya naik bis. Ketika saya naik bis, maka saya harus bisa melakukan yang tidak bisa dilakukan ketika naik Colt. Impas, deh, kalau begitu namanya.

Sungguh menyenangkan dan tak terkira! Itulah kesan saya untuk acara ini, diskusi buku saya, "Beauty & the Bis". Saya tandem dengan Odhie (ex. sopir PO Sumber Selamat/Sugeng Rahayu yang makin keren anaknya karena dia juga masih tercatat sebagai mahasiswa S2 FKM UNAIR). Dipandu oleh Prima Sulistya, petinggi Mojok Dotco yang kocak, acara sangat gayeng. Dua jam rasanya singkat sekali. Dan sebab sesi foto dan sesi tanda tanganlah saya jadi tahu, betapa banyak rekan komunitas "bismania" yang hadir, dari Semarang, Solo, Wonosobo, dan Jakarta.

Ada beberapa kejutan di sana. salah satunya adalah penampakan Plentong, lelaki bertato di sekujur tubuh yang salah satu tatonya adalah gambar bis sedang parkir di lengan kanannya. Heroik sekali orang ini kalau soal bis-bisan. Banyak kejutan pokoknya, juga kehadiran orang-orang yang tidak terduga, termasuk Mas Noviyanto, warga Boyolali yang justru baru saja saya kenal kurang dari seminggu, di rumah saya, di Madura, eh, kini sudah ketemu lagi di Jogja. Satu-satunya hal yang membuat saya deg-degan adalah karena harus tampil menyanyi, bukan tampil tahlilan atau orasi. Deg-degan itu tidak enak, beda dengan degan apalagi kopyor.

FOTO-FOTO DARI ACARA DISKUSI BUKU























Malam itu kami tidur di markas IAA (Ikatan Alumni Annuqayah), di Perum Polri, Gowok. Tentu tidak ada dana untuk tidur di hotel. Sebetulnya, panitian menyediakan kamar di kafe, tapi tak satu pun anggota saya yang mau. Mereka mau ikut saya, ya, naik Colt-nya, ya, nginapnya. Hanya Mas Alwi yang ngingap di Gamping.

RABU pagi, 21 Pebruari, esoknya, saya sowan ke rumah Mas Benta di Gamping. Selaku 'elite' CJI (Colt Jogja Istimewa), saya datang ke sana semacam membawa amanah untuk titip jempol sebagaimana PNS harus titip 'finger-print' di kantornya. Sambutannya luar daripada biasa. Kenapa? Suguhannya adalah kopi dan cemilan plus kunci ring 17/14 untuk mengontrol kerenggangan templar: servis yang sebenar-benar servis; ya orangnya, ya, mesinnya. Ternyata, ada dua pelatuk yang renggang sehingga bunyi mesin agak kasar. Mas Benta merapatkannya, dibikin sama dengan enam pelatuk yang lainnya: 10/15. Walhasil, mobil jadi enak. Andaikan bunyi mesin itu sejenis makanan, rasanya pengen saya makan, deh. 





Sebelum balik ke kafe demi memenuhi janji kencan dengan beberapa kawan yang tak sempat hadir di acara tadi malam, kami main ke rumah Mbah Tomy Aditama. Saya minta diterapi 'zamathera' agar tulang belakang saya kembali tepat ke posisinya, agar jangan mesin saja yang diurus dan diperbaiki, orangnya juga.

Sesi terakhir di Jogja adalah bertemu dengan kawan-kawan lama di Kafe Basabasi: Fitri, Yadi dari Kalsel, Mas Prast, dan mas bro Edi Mulyono. Banyak juga yang lain. Ada kawan yang harus disambangi tapi tidak semuanya mampu disinggahi. Itulah keterbatasan. Mau dilawan? Enggak bisa.

Kami meninggalkan Jogja menjelang pukul 17.00, mampir sejenak di rumah mbak Abidah el Khalieqy di Sambilegi, di kediamannya yang masih sangat bernuansa 'ndeso' meskipun berjarak hanya sepelemparan batu ketapel ke RS Hermina dan Lottemart. Seusai duduk-duduk dan seterusnya, ngeteh Turki dan seterusnya, shalat dan seterusnya, kami pun pamit pulang. Mas Alwi kembali yang mancal, seperti janjinya.





Perjalanan rombongan Colturer ini lancar jaya. Saya pilih duduk di kursi belakang, tidur-tiduran, kadang tidur beneran. Soalnya, Colt ini nyaris dipenuhi dengan bantal. Kami memang niat untuk itu.

Mungkin supaya kami tidak sombong, akhirnya Colt harus menunjukkan tanda-tanda ke-fana-annya di Masaran, dekat kota Sragen. Mobil mati mendadak akibat melabrak genangan air yang tingginya mampu menyelinap ke dalam kokpit. Mungkin businya sempat basah, atau delco kena percikan, itu dugaannya. Tak lama (katanya cuma 5 menit saja; saya tidur waktu itu) dan mobil sudah bisa menyala lagi, kembali menunjukkan ke-keladi-annya meskipun TOA, eh, tua. Kami bergerak kembali menuju Ngawi.

Kami istirahat sejenak di kediaman Mas Alwi, pipis-pipis, nyantai-nyantai sekitar satu jam, barulah kami lanjutkan perjalanan lagi. Kapan makan? Tadi, di Kafe Basabasi sebelum berangkat dan baru lalu di Warung Mbah Asih, beberapa kilometer saja sesudah Gontor Putri II, Mantingan, sekitar Pasar Kedungmiri.


Baru dari Widodaren inilah, kendali kemudi dipegang oleh Khatir. Saya berharap dia tidak ngantuk karena saya nawaitu mau tidur saja. Kami bertolak pukul 12.40 dari rumah Mas Alwi. Hujan sepanjang malam membuat kami harus berjalan pelan saja, ngesot bagaikan keong. Lampu tak mampu melawan kegelapan. Sempat berhenti sejenak di Caruban, saya nyari toko yang ada relief Colt-nya, tapi tidak ketemu. Belakangan saya sadar, saya mencari di tempat yang salah. Hal ini mirip dengan orang yang mencari-cari 'kebenaran' di tempat 'kekeliruan', pantas saja enggak ketemu.


Sewaktu saya berjalan kaki, saat melewati SPBU samping RSUD Caruban, saya pergoki sebuah mobil “plat M”, bergambar kakbah: PPP Pamekasan. Seketika itu pula saya membayangkan ada Ustad Muhsin Salim di dalamnya. Saya kenal beliau, dulu, sebagai aktivis literasi, bukan sebagai politisi. Mobil itu berlalu meskipun saya sempat melongokkan kepala ke dekat kacanya. 

Di tengah perjalanan, saya sempat berkirim pesan kepada Mas Muhsin, “Apakah Anda sedang melakukan perjalanan ke area Jawa Tengah?”
Sungguh kaget saya. Ternyata dia tahu terhadap pertanyaan atau pernyataan yang akan diajukan sesudah ini. Dia tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan foto, ya, foto Colt kami ini yang dijepret dari belakang. Itu pertanda, selepas mereka isi bahan bakar di Ngawi, mungkin sejenak mereka berhenti sehingga berada di belakang kami.

Subuh hari Kamis, 22 Pebruari, kami niatkan bershalat di Corogo, Peterongan, Jombang. Adapun bonus daripada shalat ini, sudah dapat pahala silaturrahim, masih pula dapat kopi dan sarapan. Akhirnya, kami baru bertolak berbarengan dengan tuan rumah, Haris, yang berangkat 'nyambut gawe' ke KUA.

Demikianlah perjalanan Colturer kali ini. Setelah rencana mampir lagi di Lomaer dan Sumber Anyar gagal karena alasan teknis, kami sempat mampir ke bengkel H. Fathor di Larangan Tokol, numpang pipis dan berbasa-basi dengan cara tanya-tanya soal mesin, soal ini dan itu-nya. Hatta perjalanan kami lanjutkan pulang, Colturer nambah soto dulu di Pasar Keppo supaya perut tidak kepo.





DATA-DATA PERJALANAN:

Jarak tempuh: 973 km
Total lama perjalanan: 88 jam
Bahan bakar: 680.000 (sekitar 79 liter)

Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...