Pembaca

09 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-PLus (Etape II: Semarang - Pekalongan - Cirebon - Bekasi)

Pagi hari Jumat, kami Jumat Kliwon, 1 Oktober, saya bangun pagi sekali, segera berkemas dan menggugah ketiga anggota yang lain: Habib,  Anam, Qudsi—berdasarkan ngoroknya, dia ini sepertinya begadang dan tidak segera tidur. Rencana pergi pagi sekali, tapi apa daya tuan rumah tidak mengizinkan: “pantang pulang sebelum makan”, begitu agaknya dia berpegang pesan. Akhirnya, saya putuskan untuk menyerah, menikmati sarapan yang tidak perlu bayar. 

Kami meninggalkan Beringin, Kecamatan Ngaliyan, itungannya masih relatif pagi. Peta digital Google Maps mengarahkan kami ke pintu tol Krapyak, tapi kami tolak. Kami pilih jalan arteri saja, yaitu Jalan Pantura, jalan yang penuh kenangan. Kami melintasi ruas jalan raya Mangkang. 


Perjalanan sejauh 75 km ke kota Pekalongan ditempuh kurang lebih satu jam lebih sedikit melalui jalan tol. Kami sudah tiba di sana sebelum pukul 9 pagi. Dalam perjalanan, saya sempat menjalin komunikasi dengan Bapak Bambang, menyampaikan kekhawatiran kampas kopling, kuat-tidaknya untuk bertahan dipakai sampai kembali pulang ke Madura. Pasalnya, perasaan cemas menggelayut sejak tadi malam, sejak kami melahap tanjakan panjang Ungaran ke arah Semarang.


“Buka saja di sini, nanti kalau sudah sampai Banten.”

“Ah, jangan begitu, Pak. Kami ini mau bertamu ke Banten, bukan untuk memperbaiki mobil.”

“Enggak apa-apa. Itu pekerjaan paling sebentar saja dikerjakan.  Atau, saya hubungi Pak Sikut saja, ya?” 

“Siapa beliau?”

“Kawan kita, sekitar Batang rumahnya.”

“Nah, itu lebih masuk akal. Senyampang beliau ngecek kopling mobil, sementara saya sowan ke Ndalem Habib Lutfi, ide yang cemerlang.”

Seperti permainan bola tika-tiki, oper-operan pendek nan singkat tapi cepat diekskusi, kami tiba di area sekitar Kanzus Sholawat, Kota Pekalongan, berbarengan dengan kedatangan Pak Sikut. Setelah salaman dan sesi foto, mobil kami langsung dibawanya dan kami berempat berjalan kami ke kediaman Habib Lutfi bin Yahya. 



* * *


Saya sama sekali tidak menyangka bahwa pada hari itu ada acara Jumat Kliwonan. Apa itu Jumat Kliwonan, saya juga bahkan tidak tahu. Orang-orang tumpek blek, banyak sekali, ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu, mungkin 10 atau bahkan 20 ribu. Entahlah, pokoknya ramai sekali. Hati langsung kecut, perasaan menciut. Bagaimana mungkin kami bisa sowan Habib—wabil khusus saya sendiri yang ingin—menyampaikan kepentingan khusus jika begitu banyaknya orang yang semuanya pasti ingin bersalaman juga?


Menurut informasi yang saya terima dari Anam, Habib tidak ada ada di rumah. Sementara Habib Bidin (Ali Zainal Abidin, menantu Habib Lutfi yang merupakan pimpinan kelompok Shalawat Azzahir yang notabene putra mutrib [penyanyi & pemain oud] nan masyhur Habib Seggaf As-Seggaf) malah tidak muncul sedari pagi. Informasi ini diperoleh Anam dari khadam Habib yang memang tinggal di situ. Pagi yang cerah rasanya sedikit murung. Perasaan mulai gundah.


“Yang penting niat kita sudah sampai di sini, perkara nanti tidak bisa sowan, harus kita terima. Perjalanan kita lanjutkan saja sampai Sunan Gunung Jati Cirebon, setelah itu kita ‘putar kepala’, pulang kembali ke Madura.” Demikian usul saya kepada rombongan. Tidak ada respon, agaknya semua anggota juga rada kecewa. 


Hamdalah, rombongan kami ternyata masih bisa sowan Habib Lutfi di Kanzus Sholawat setelah acara Kliwonan usai. Saya bisa salaman, dapat jatah dua atau entah tiga detik saja karena keburu didorong oleh orang yang ada di belakang saya yang jelas juga mau salaman.  


Di situ, saya dapat kejutan, bertemu dengan orang yang bernama Mahfud dan Andri Wikono yang konon tahu keberadaan saya di sana karena sebelumnya melihat penampakan Colt T120: mobilnya lebih ngetop daripada orangnya, kata saya dalam hati. Kejutan berikutnya, ternyata saya punya kesempatan ‘moy-tamoyan’ (bertamu dengan santai dengan Habib Soleh dan Habib Bidin (keduanya menantu Habib Lutfi) di rumah beliau masing-masing. Kejutan ketiganya, Habib Bidin menyarankan agar saya sowan kembali kepada Habib untuk menyampaikan maksud khusus tersebut, yakni minta ijazah Dalailul Khairat. Benarlah, habis Jumatan, kami dapat sowan lagi, dan kali ini lebih eksklusif karena peristiwanya berlangsung di kamar beliau sendiri. Kami datang bersama rombongan tamu yang lain. 


Sudah, ah, jangan terlalu detil tentang yang ini. Kita pindah tema, ke mobil, ke perjalanan...


Habis sowan, saya duduk-duduk santai sembari menanyakan kondisi kampas kopling Colt melalui pesan pendek. Kata Pak Sikut, “Sudah selesai dikontrol: kampas tebal, kuku macan yang tipis, dan sekarang sudah beres.” 


Bahagia sekali mendengarnya, akhirnya kami merapat tempat Mas Amin (kurang jelas, di mana alamatnya, nanti saya cari tahu dulu), rumah yang digunakan Mas Sikut untuk memperbaiki mobil saya karena rumah Mas Sikut (nama aslinya Kuhdiyono), konon, jauh dari tempat itu. Kami bertamu di situ, santai-santai, ngeteh dan ngopi sampai maghrib. Dan yang paling tidak masuk akal, sungguh bikin malu dan pekewuh, Mas Sikut sama sekali menolak semua pemberian saya, baik untuk ongkos maupun untuk membayar suku cadang. Beliau hanya  menerima buat tangan saya, berupa gula merah dan sejumput tembakau rajangan yang saya bawa.

 

Wah, kejutan macam apa pula ini? 

 

Habis Maghriban berjamaah di mushalla kampung, kami pamit, berangkat meneruskan perjalanan. Kali ini, tujuan berikutnya adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Habib—lengkapnya Habiburrahman—salah satu anggota kami, sudah pulang duluan ke Madura, naik bis. Sepertinya, dia sudah puas karena sudah bertemu Habib Lutfi dan tidak perlu ikut kami ke tempat-tempat berikutnya (“Habib” yang pertama adalah nama orang, “Habib” yang kedua adalah gelar: jangan salah paham, ya! He-he-he). 


Dalam perjalanan ke Cirebon, lagi-lagi kami masuk tol. Maka, rencana mampir ke rumah Shafei Pahlevi di Tegal, juga Peppi, gagal sudah, padahal rencana ini saya rencakan jauh hari sebelum berangkat. Pertama, gagal mampir karena kami tidak lewat Pantura; yang kedua gagal karena kami terlalu lama di Pekalongan, di luar perkiraan. Sepertinya, kedua orang ini harus disambangi di lain waktu, Desember tahun ini siapa tahu. 


Dalam perjalanan itu, melalui media sosial Facebook, saya minta tolong agar bisa bertemu kawan atau orang yang sudi mengantar saya ke makam Syekh Tolhah di Cirebon (karena kalau Sunan Gunung Jati kan sudah masyhur). Hamdalah, gayung bersambut. Tiba di parkiran komplek Makam Sunan Gunung Jati, jam menunjukkan pukul 21.30. Sambil menunggu Mas Jamal, Mas Baequni, dan Habib Bagir (yang datang bersama Fathan), saya makan nasi goreng di dekat parkiran. Ini adalah makan di warung untuk kedua kalinya (yang pertama tadi, di Pekalongan) sekaligus menjadi makan yang terakhir di warung dalam perjalanan satu minggu ini. Setelah makan di warung itu, kami tak pernah makan di warung lagi, melainkan dari suguhan-suguhan teman juga bekal yang kami bawa, dlsb. 

Setelah nyekar ke makam Syarif Hidayatullah, kami pindah ke Syekh Tolhah. Jaraknya tidak jauh, hanya berada di seberang jalan, di bukit sebelah. Dari situ, barulah kami pindah tempat, ngopi cantik di Kedai Perjuangan atau apalah namanya. Sepertinya, kedai ini digunakan aktivis atau orang-orang yang ngopinya adalah sampingan dan diskusinya lebih banyak menyita waktu, sepertinya, sih. Saya, Qudsi, Anam, juga Mas Jamal, Mas Baequni, Mas Fathan, serta Habib Bagir dan tuan rumah atau pemilik kedainya terlibat dalam percakapan aneka rupa, dari soal gitar, sastra, dan entah apa lagi. 

Rencana semula untuk menginap di Cirebon (meskipun saya belum tahu entah di mana tempatnya) pun gagal. Kami akhirnya mancal, lanjut ke barat, masuk tol lagi. Saya yang pegang kemudi sampai di KM 101 Cipali. Karena mata sudah sepat banget, ngantuk luar biasa, saya turun dan meregangkan otot dan syaraf. Kami ngopi di situ dan sebentar kemudian melanjutkan perjalanan menuju rumah Mas Moko di Tambun Utara, tepatnya di perumahan Griya Kota Bekasi II.


Tiba di rumah Mas Moko, azan subuh baru berkumandang. Kami shalat, lalu duduk-duduk, ngopi-ngopi. Mau ketawa-ketawa tidak plong rasanya karena meskipun saya sudah mandi air hangat, kantuknya tak tuntas juga. Akhirnya, saya tidur dulu, merehatkan tubuh di atas kasur berpegas, bawah hembusan sejuk pendingin ruangan. Sungguh ini Sabtu sempurna dari hari sebelumnya yang memang sudah sempurna.

 

Teman-teman, kalian semua, semuanya, sungguh luar biasa! 


08 Oktober 2021

Ziarah Walisongo Plus-Plus Naik Colt (Etape I : Sumenep - Semarang)

Kamis, 30 September  - 1 Oktober 2021

Melakukan perjalanan hampir 1000 km, seperti dari Sumenep ke Poris (Tangerang), bukanlah perjalanan jauh bagi yang tiap hari melakukannya, bahkan terasa biasa saja bagi bis-bis yang memang rutenya ulang-alik ke/dari sana, tiap hari pula. Akan tetapi, bagi saya, perjalanan dari Guluk-Guluk ke Pekalongan, akan menguras ketegangan dan keletihan sebab yang saya naiki adalah mobil tua, Colt T120, bukan Venturer atau Elgrand atau Caravelle, dan untuk pertama kalinya.

 

Hari Kamis pagi, 30 September 2021, saya berangkat menuju Sunan Ampel, Surabaya, via jalur utara pulau utara Madura. Mengapa lewat utara? Sebab saya menghampiri Qudsi, salah satu penumpang yang mendadak mau ikut karena menggantikan penumpang yang gagal berangkat. Qudsi sebetulnya juga tidak bisa ikut karena belum siap. Saya kasih pilihan, sambil dia berkemas, saya akan berangkat lewat utara. Cara ini akhirnya disepakati.

Dari Rubaru, kami berangkat bertiga (saya, Qudsi, dan Habib) ke arah barat, melewati Pasongsongan, Sotabar, Ketapang, Arosbaya, dan bergabung dengan Jalan Nasional 21 di Tangkel, akses ke jalan Suramadu. Kami bertemu dengan Anam di parkiran Sunan Ampel, Jalan Pegirian, parkiran sebelah timur.

Judul perjalanan kami kali ini adalah “Ziarah Walisongo ++” (baca plus-plus; artinya, perjalanan ziarah Walisongo ditambah sowan dan juga ziarah ke makam yang lain serta berkunjung ke rumah teman-teman untuk silaturahmi). Secara adab, tujuan pertama mestinya ke Maulana Malik Ibrahim sebagai wali tertua di antara sembilan lainnya. Tapi, karena secara teknis agak ribet, saya akhirnya memilih Raden Rahmatullah Sunan Ampel untuk menandai ziarah yang oertama.

Ziarah ini sudah lama terencana, tapi makin kuat pada saat mendiang istri saya, Almarhumah Makkiyah binti Ashim yang wafat 52 hari sebelum keberangkatan ini, menyatakan ingin ziarah walisongo bersama saya kalau saja masih diberi umur panjang. Tapi, takdir berkata lain. Ia wafat 10 Agustus yang lalu, bertepatan dengan malam hari Tahun Baru Hijriyah, 1443. Setelah mengatur jadwal dan mempersiapkan dana serta mobil, akhirnya, perjalanan ini baru terlaksana di penghujung September 2021


Perjalanan lewat tol Trans-Jawa kali ini adalah yang terjauh. Jika sebelumnya saya pernah masuk Waru Gunung dan turun di Colomadu, kali ini lebih jauh lagi, yaitu di Gerbang Tol Krapyak Semarang. Tujuannya adalah Marwini yang tinggal di Permata Puri, Ngaliyan. Beliau ada dosen di UNDIP dan istrinya dosen UIN Walisongo, pasangan yang pas.

 

Daerah Ungaran, jalan menanjak yang sangat panjang membuat saya sadar, sepertinya, kampas kopling Colt ini tidak sempurna. Derum mesin lebih besar daripada tenaga yang dihasilkan. Dari tadi, dari Sidoarjo, di trek yang lurus, mobil masih bisa lari kencang, tapi rata-rata kecepatan 80 kilometer per jam dan hanya sesekali mencapai 90 atau 100.


Kepada Anam yang tadi kebetulan ambil jatah mengemudi dari Surabaya sampai tempat peristirahatan 519-B di Ngawi, saya selalu mewanti-wanti agar kecepatan tidak lebih dari 80 km per jam saya, “Sayang, disayang-sayang, dieman-eman mobilnya. Saya masih mau pakai mobil ini lebih lama supaya tidak perlu membeli Venturer,” kata saya berkelakar.

 

“Jangan-jangan kampas kopling sudah aus,” kata saya

“Bisa jadi,” jawab Anam. “Kayaknya kalau sampai rumah, ini harus segera diganti, eman-eman.”

“Wajar, sih, sudah sangat lama dipakai melulu. Dan sialnya, saya lupa tidak dicek sebelum berangkat, soalnya saya tidak menyangka kita bakal menghadapai tanjakan-tanjaka panjang seperti ini,” balas saya memberikan alasan.

 

Tujuan di Semarang adalah rumah Marwini. Kepadanya, saya berpesan, pesan yang bersyarat.

“Saya mau mampir ke rumahmu asal kamu pijetin saya, kata saya bergurau, sehari sebelum berangkat.
Dan Marwini pun bersemangat, berjanji untuk menunaikannya, tapi mungkin karena pertemuan yang tidak diduga itu, bahagia luar biasa membuat dia maupun saya melupakan pijat-memijat tubuh. Kami sibuk pada urusan yang lain, santap-menyantap makanan.

Supaya sama-sama bisa dikunjungi, saya harap Jenengan bisa bermalam di rumah saya, kata Syamsul yang mengaku lebih dekat dengan jalan tol daripada Marwini. Maka, setelah mandi dan makan malam, kami pamit kepada tuan rumah dan bermalam di rumah Pak Syamsul yang tinggal di Beringin, Ngaliyan. Benar memang, rumahnya bersebelahan dengan jalan tol, bukan dengna pintu tol. Jadi, sama saja jauhnya dengan pintu tol. Ah, ada-ada saja guyunan mereka itu.

Malam itu, kami kecapekan. Habib dan Anam sudah tidur. Saya menyusul. Syamsul dan Munir masih menemani Qudsi bercakap-cakap. “Jangan keasyikan, kita harus punya energi untuk perjalanan besok pagi, ke Pekalongan dan lanjut Bekasi, kata saya mengingatkan.


28 Juni 2021

Thermostat pada Colt


Dulu, saya pernah mendengar seorang bengkel mobil berkata jumawa. “Dulu itu,” kata dia, “yang pertama kali mencopot thermostat-nya mobil itu saya, saat di sini orang pada belum tahu soal thermostat.”

“Sekitar tahun berapa itu, Pak?”
“Mungkin tahun 1978,” jawabnya.


Saya tidak tahu, thermostat pada mobil apa yang dimaksudkannya. Tapi, karena waktu itu saya sedang mengendarai Colt ke bengkelnya, maka anggap saja beliau sedang bicara soal thermostat yang nempel pada Colt. Saya juga tidak bertanya panjang lebar, untuk apa thermo dibuka dan untuk apa pabrikan memasang thermostat jika ujung-ujungnya mau dibuka juga. Mungkin, beliau akan berdalih, bahwa suhu alam di tempat mobil dibuat dengan alam Indonesia itu berbeda. Mungkin saja beliau akan menjawab begitu, tapi tentu saja saya tidak mau berdebat soal itu. 

 



Belakangan, dari hasil pembicaraan dengan banyak orang, saya berkesimpulan—tepatnya mengoreksi pandangan saya yang selama ini saya anggap menyeleweng—bahwa mobil itu tidak seperti bayi atau manusia. Artinya, mobil tidak berarti sehat jika tidak panas. Mobil tidak seperti manusia, mobil harus ‘demam’, bahkan ‘panas’. Dengan thermostat, suhu mesin akan stabil, tidak naik turun seperti selama ini: kalau hujan dingin, kalau terik jadi naik, dan kalau jalanan macet tambah panas. Dengan thermostat, suhu mesin akan sama saja pada ketiga kondisi tersebut.


Namun, sekitar tiga hari yang lalu, tiba-tiba suhu mobil saya naik mendadak. Setelah dicek air radiator, aman; cek yang lain, aman. Baru terpikir untuk ngecek thermostat (dilakukan oleh Dayat, teman saya, seorang montir) setelah dilakukan pengecekan pada radiator: air tidak berputar, padahal mesin sudah panas. Sementara lubang-lubang pada radiator tidak ada kerak karena radiator relatif baru. Maka, tuduhan biang masalah pun segera diarahkan pada thermostat.


Benar rupanya, setelah dicopot, mesin normal kembali. Thermostat sudah rusak, padahal baru beli 6 bulan yang lalu.


Untuk melakukan pengecekan secara langsung dan bisa dilihat dengan mata biasa (sebab kalau ada di dalam mesin, kita tidak bisa melihatnya), saya memasak air. Thermo-thermo tersebut (kebetulan saya punya 3 thermostat: satu beli, dua dikasih orang) saya masukkan ke dalam panci. Setelah air bergelembung tanda hampir mendidih, ternyata thermostat milik saya tidak membuka diri, sedangkan 2 thermo yang lain membuka katupnya. Pasti, thermostat saya rusak sedangkan dua yang lainnya tidak.

 

Pada dua thermostat tersebut, terdapat kode 76,5°C; sedangkan yang saya beli 82°C. Berapa ukuran thermo untuk Colt alias berapa ukuran suhu ideal untuk mesin Colt? Itu yang saya tidak tahu. Thermo yang saya pakai dan sudah rusak ini juga tidak diketahui untuk apa karena saat saya membeli, si penjual juga tidak tahu (agaknya universal; dipakai mobil apa pun bisa) sementara dua thermo yang saya dapat secara gratisan dari orang.




thormo suhu 76,5 derajat celcius

posisi thermostat (dikolongi merah)



Keliling Madura Paket Lengkap

Sudah berkali-kali janjian dengan Ali Wasik untuk pergi ke rumah (kita sebut kiai biar lebih afdal karena dia memang pemangku pesantren, yak...