Pembaca

18 Mei 2010

Di Pondok Pesantren Nurul Jadid


Saya tidak pernah membayangkan akan memarkir kendaraan ini di depan dalem (kediaman) guru saya, kiai saya, di depan patobin pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton. Hal ini terjadi karena tuntutan skenario: di dalam mobil colt ini, ikut bersama saya, Nyai Al-Batul, besan dari pengasuh. Karena itu, saya mengantar beliau ke tempat tersebut, dan terjadi pulalah pemotretan itu, malam Ahad, 10 April, 2010.

Cangkolang, mohon maaf jika lancang.

21 April 2010

Lampu Jauh




Belum terlalu gelap, tapi karena langit mendung dan gerimis mulai menebal, jalan tol Perak-Gempol menjadi sangat gelap-pekat. Saya segera memberikan aba-aba kepada Lutfi yang saat itu kebetulan berada di belakang kemudi,

"Lut, ayo nyalakan lampunya, sudah malam!" dengan intonasi setengah memaksa. Tapi, apa jawabannya?
"Sudah, sudah dinyalakan. Malah ini sedang pakai lampu (lampu jauh)."

Saya tertawa dalam hati. Betapa redupnya lampu colt ini.

31 Maret 2010

Kondangan



Siang tadi, kami menghadiri akad nikah sepupu istriku, di pelosok Desa Bilapora yang tak begitu jauh dari tempat tinggalku. Medan ke arah walimah itu lumayan sulit, terutama untuk kendaraan berbedan lebar.
Titos du Polo-ku juga tampil, menjadi sesepuh di antara mobil-mobil rombongan temanten yang rata-rata relatif baru.

Setelah tiba di tempat dan semua kendaraan telah diparkir, para penumpang turun membawa perangkat lamaran. Terjadilah peristiwa berikut, antara Ning Musfiroh dengan istriku.

Ning Musfiroh: “Kok gak bawa
Innova hitammu?”

Istriku hanya tersenyum, karena mengerti yang dimaksudkannya adalah Suzuki
Carry.

“Tapi, ya, ini acara temanten, wajar lah kalau engkau bawa
Alphard,” imbuhnya sambil melirik Titos du Polo ini.


Belajar Ngaji ke Sampang

Terkadang, kita mempertimbangkan jarak hanya berdasarkan prakiraan imajinasi yang diciptakan sendiri oleh pikiran. “Kayaknya, lebih dekat le...