Pembaca

04 Maret 2012

Dinamo Starter dan Nostalgia


Lama sekali saya mengalami masalah dengan dinamo starter. Puncaknya, dinamo starter tidak bisa berfungsi lagi ketika masin dalam keadaan panas. Ini merupakan tanda bahwa dinamo starter “asli” milik Colt T 120 ini tidak dapat dipakai lagi. Setelah dibongkar, ternyata benar. Keadaan dinamo sudah penuh dengan solderan dan tampaknya sangat sulit diperbaiki. Akhirnya, saya putuskan untuk membeli yang baru saja. Akan tetapi, mencari suku cadang “asli” milik colt tentu minta ampun sulitnya. Sementara kalau saya harus mencari dinamo bekas di pasar loak, bisa jadi nanti tidak akan bertahan lama seperti yang sudah saya lakukan sebelumnya.

Sebelum mengganti dengan yang baru ini, dari seseorang saya mendapatkan info bahwa dinamo starter Toyota Hiace bisa dipasangkan pada colt. Namun, setelah saya minta pendapat, diperoleh kesimpulan bahwa sebaiknya saya membeli dinamo starter baru “untuk colt” saja, meskipun tidak “asli”, yakni dinamo starter yang menggunakan klaher dan gerigi 8. Dinamo bergerigi 8 ini akan menghasilkan putaran lebih cepat sehingga mesin bisa lebih cepat menyala.

“Berapa harga?”
“Rp.350.000!”
“Wow, kok mahal?” keluh saya.
Si “konsultan” itu menjawab, “Jangan tukar harga diri colt dengan Rp.350.000. Biar tua, sekali start sekiranya langusng nyala, cek-greng, gak usah pake uwek-uwek-uwek lebih dulu,” jawabnya sambil tertawa.

Betul apa yang dikatakannya. Sekarang, saat saya menyalakan dinamo starter, mesin akan langsung menjawab, langsung menyala, seperti starter pada Suzuki Carry yang terdengar gahar itu. Hanya saja, ada satu hal yang kini hilang. Ya, bunyi starter. Bunyi dinamo starter khas Colt T 120 yang mirip ringkikan kuda belia itu kini tidak dapat saya dengarkan lagi.

Terkadang, saya menyesal telah mengganti dinamo starter lawas dengan yang baru. Mengapa? Tak ada lagi alasan selain karena suara khas dinamo starter colt itu membawa kesan nostalgia. Betapa mahal harga nostalgia itu. Demi hal ini, nanti setelah saya punya uang, saya akan berusaha memperbaiki ulang dinamo starter yang rusak itu hingga ia benar-benar bisa digunakan kembali secara aman dan tahan panas. Sungguh, nostalgia tidak dapat tergantikan, juga tidak dapat dibeli.



26 Februari 2012

Cat Velg


Karena ada kesempatan untuk mengecat velg, akhirnya semua velg si Titos ini saya copot dan bodi colt diganjal kayu. Kelima velg saya bawa ke bengkel untuk selanjutnya dicat warna perak (silver), yaitu cat seperti warna semula. Namun, pak tukang cat mengajukan usul agar velg dicat coklat muda, sedikit lebih cokelat dari warna colt T-120 pickup (kuning abu). Kok bisa? Kata saya keheranan. Dia bilang, itu cat warna dasar. Dia juga menjelaskan bahwa cat dasar colt pada bagian-bagian yang tidak mungkin dicat biasanya berwarna cokelat muda.


Setengah percaya setengah tidak kepadanya, saya pasrah saja akhirnya. Saya pun ingat, bahwa usia dia lebih tua dari saya sehingga dia lebih mungkin ingat warna dasar itu daripada saya semasa dia masih muda. Ya, dia mengaku juga pernah punya colt di zaman awal tahun 80-an dulu.

Setelah velg dibakar untuk menggelontorkan sisa cat yang lama, lalu diamplas pada bagian yang kurang rata karena nanti akan dipakaikan ban tubelees, velg dicat dan maka beginilah hasilnya…




09 Februari 2012

Dempul



“Apa jadi yang ke Rubaru?”

“Tidak sekarang, colt masih didempul.”

“O, mogok, ya?”

“Bukan, cuma didempul bagian-bagian yang keropos.”

“Jadi tidak mogok, ya?”

“Ya, tidaklah. Dempul itu sama dengan facial kalau buat manusia”

Ke Nyiloh Sampai Nyiloh

Nyiloh, dalam bahasa Madura (Sumenep), berarti linu-linu. Hari ini saya pergi ke desa Nyiloh di Sampang. Ternyata benar, jalannya bikin nyil...