Pembaca

21 September 2026

Ke Nyiloh Sampai Nyiloh



Nyiloh, dalam bahasa Madura (Sumenep), berarti linu-linu. Hari ini saya pergi ke desa Nyiloh di Sampang. Ternyata benar, jalannya bikin nyiloh pantat dan roda kendaraan. Ya,  hari ini, saya menghadiri pernikahan Zain dan Nadin di PP Al-Asyhary, Tarogan, Nyiloh, Sampang. Saya tidak kenal sama sekali dengan dua pasangan berbahagian ini, bahkan area lokasi resepsinya pun baru kali ini saya kunjungi. Ini semua terjadi karena “perintah ibu”. Mempelai putri adalah sepupu dari ipar saya. Hubungannya sudah terbilang jauh, sih, sebetulnya, baik itu secara jalur kekerabatan maupun sejarak jarak perjalanan. 

Di atas kertas, jarak dari rumah ke lokasi hanylah 70 km. Google Maps meramalkan durasi perjalanan hanya dua jam lebih sedikit. Praktiknya tidak demikian. Hampir 3 jam kami habis di jalan, dipotong shalat Duhur singkat saja di Masjid Ar-Rohmah, timurnya Pasar Omben. 

Sebetulnya, kontur jalan dari Guluk-Guluk sampai Omben sangat bagus, bahkan nyaris tanpa kubangan sama sekali. Akan tetapi, jalan dari Omben ke Kedungdung bukan lagi hancur, tapi juga lebur. Jalan masuknya bagus, tapi belum satu kilometer sudah rusak. Saya kena prank! Kurang lebih 5,5 kilometer rusak parah dari 9 kilometer jarak dari ujung timur di Jalan Raya Omben ke ujung barat di Jalan Raya Kedungdung. Versneling gigi Colt T120 hanya bermain  antara 2 dan 3 saja, di beberapa ruas harus masuk gigi 1. Begitu juga, jalan dari Pasar Kedundung ke arah barat, ke gapura pintu masuk Desa Nyiloh yang jaraknya 6 kilometer juga rusak. Banyak bagian jalan yang hancur meskipun tidak separah rute dari timur.

Pukul 13.45 belum juga sampai. Sudah dua setengah jam perjalanan. Terik matahari masuk ke dalam kabin. Sepanjang mata melihat hanya tampak tumbuhan yang kecokelatan, tanah yang memutih karena lama tidak diguyur hujan. Ini gambaran penderitaan yang sempurna: daerahnya tandus, jarang pemukiman, jalan rusak, dan rakyatnya disuruh swadaya memperbaiki jalannya sendiri. Betapa sempurna penderitaan ini. Anda yang datang dari arah Surabaya menuju Sumenep dan hanya melewati Jalan Nasional pasti hanya akan menjumpai kemeriahan lampu warna-warni di kota Sampang di malam hari. Kegelapannya ada di tempat yang jauh darinya.

Dalam perjalanan pulang, saya putar arah, ke arah selatan, mampir lebih dulu ke Bendungan Klampis yang debit airnya sangat rendah. Tidak ada tujuan apa pun pergi ke situ kecuali hanya klangenan saja, mengingat masa-masa kecil dulu waktu kami sering bermain ke situ. Untuk lanjut ke Sampang, saya tidak kembali ke jalan masuk, melainkan mengikuti jalan lanjutan sambil bertanya kepada orang-orang yang kami temui di sepanjang jalan. Saya diarahkan melewati jalan kecil di daerah Kanjar. Kami pun (saya dan istri) melakukan shalat Ashar di masjid Yayasan Pendidikan Islam dan Sosial An-Nur, lalu lanjut ke arah timur, melewati PP Hidayatul Mubtadien, dan tembus di jalan Raya Kedungdung. 

Setelah mampir di rumah Hasani Usman di Kacok, kota Sampang, menunaikan shalat Maghrib di situ, menjelang azan Isya’, kami pamit dan melanjutkan perjalanan pulang ke arah timur. Kami tiba  rumah sekitar pukul 20.00 lebih sedikit. Jarak pulang jauh berbeda dengan jarak ketika berangkat, 70 banding 90 kilometer. Penyebabnya adalah karena rute arah pulang memang rute menyampang, eh, menyimpang.














Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ke Nyiloh Sampai Nyiloh

Nyiloh, dalam bahasa Madura (Sumenep), berarti linu-linu. Hari ini saya pergi ke desa Nyiloh di Sampang. Ternyata benar, jalannya bikin nyil...